Gangguan kecemasan yang ditandai oleh ketakutan hebat dan menetap terhadap situasi sosial yang memicu rasa malu atau penilaian negatif dari orang lain.
- A. Konsep Medis Fobia Sosial
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Fobia Sosial
1. Definisi Fobia Sosial
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association (2013):
Selanjutnya, para ahli psikiatri internasional mengartikan gangguan kecemasan sosial sebagai ketakutan atau kecemasan yang signifikan dan persisten terhadap satu atau lebih situasi sosial yang mana individu terpapar pada pengamatan oleh orang lain. (American Psychiatric Association, 2013)
Stein & Stein (2008):
Selain itu, peneliti terkemuka bidang psikiatri mendefinisikan kondisi ini sebagai ketakutan irasional yang mendalam terhadap situasi performa atau interaksi sosial yang memicu penghindaran hebat akibat rasa malu. (Stein & Stein, 2008)
Heimberg et al. (2014):
Sementara itu, pakar psikologi klinis menggambarkan fobia sosial sebagai kecemasan interpersonal berlebihan yang secara signifikan mengganggu fungsi harian dan kualitas hidup seseorang. (Heimberg et al., 2014)
Bandelow et al. (2017):
Lebih lanjut, peneliti kecemasan global mengarakterisasikan gangguan ini melalui ketakutan terus-menerus akan evaluasi negatif dalam situasi publik atau interaksi kelompok. (Bandelow et al., 2017)
Ruscio et al. (2008):
Oleh karena itu, pakar epidemiologi psikiatri mengidentifikasi kondisi ini sebagai sindrom kecemasan persisten dengan kecemasan antisipatif yang intens sebelum menghadapi peristiwa sosial. (Ruscio et al., 2008)
Definisi Dari Pakar Asia
Tsoi et al. (2011):
Selain itu, peneliti kesehatan jiwa Asia Timur mendefinisikan ansietas sosial ekstrem sebagai keadaan yang berakar pada ketakutan merusak keharmonisan kelompok atau membawa rasa malu bagi keluarga. (Tsoi et al., 2011)
Kunikata et al. (2018):
Kemudian, pakar keperawatan jiwa Jepang mengartikan kondisi ini mencakup varian Taijin Kyofusho, yaitu ketakutan membuat orang lain merasa tidak nyaman atau tersinggung oleh penampilan atau perilaku seseorang. (Kunikata et al., 2018)
Shin & Kim (2015):
Selanjutnya, peneliti psikiatri Korea Selatan mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketakutan mendalam terhadap evaluasi negatif sosial yang menyebabkan isolasi diri secara bertahap. (Shin & Kim, 2015)
Rastogi & Thomas (2019):
Namun demikian, pakar kesehatan mental India mengategorikan ansietas sosial sebagai distres psikologis parah saat menghadapi situasi sosial formal maupun informal yang menghambat perkembangan fungsi akademis dan karir. (Rastogi & Thomas, 2019)
Ng et al. (2020):
Akhirnya, peneliti psikologi Singapura menjelaskan kondisi ini sebagai respons cemas berlebihan akibat tekanan konformitas sosial yang tinggi dalam masyarakat perkotaan Asia. (Ng et al., 2020)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Maramis & Maramis (2009):
Sementara itu, pakar psikiatri Indonesia mengartikan fenomena ketakutan sosial sebagai perasaan takut yang tidak masuk akal yang timbul bila individu berhadapan dengan orang lain atau melakukan tugas dari depan orang banyak. (Maramis & Maramis, 2009)
Hawari (2011):
Sebaliknya, ahli kesehatan jiwa Indonesia mendefinisikan gangguan ini sebagai kecemasan yang berlebihan dan tidak rasional ketika individu berada dalam lingkungan sosial atau menjadi pusat perhatian. (Hawari, 2011)
Elvira & Hadisukanto (2013):
Oleh sebab itu, peneliti dan akademisi psikiatri Indonesia mengarakterisasikan kondisi tersebut sebagai ketakutan yang jelas, menetap, dan tidak rasional terhadap objek, aktivitas, atau situasi tertentu. (Elvira & Hadisukanto, 2013)
Videbeck (2012):
Dengan demikian, pakar keperawatan jiwa Indonesia mendeskripsikan rasa takut sosial sebagai ketakutan parah yang berfokus pada ketakutan akan mempermalukan diri sendiri dalam situasi ramai. (Videbeck, 2012)
Keliat et al. (2019):
Ringkasnya, pakar keperawatan spesialis jiwa Indonesia menjelaskan kondisi ini sebagai bentuk gangguan ansietas berat yang menyebabkan hambatan interaksi sosial dengan ketakutan yang teramati dan ternilai negatif oleh lingkungan. (Keliat et al., 2019)
2. Etiologi Gangguan Fobia Sosial
Faktor genetika dan biologis memainkan peran besar. Riwayat keluarga dengan gangguan ansietas meningkatkan risiko hingga 2–6 kali lipat. Sementara itu, disfungsi neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan GABA serta hiperaktivitas struktur amigdala memicu respons taktil terhadap ancaman lingkungan. (Bandelow et al., 2017, Sadock et al., 2015)
Faktor Psikologis dan Lingkungan
Selanjutnya, faktor perkembangan psikologis memegang peranan krusial. Pola asuh yang overprotektif, otoriter, atau kurangnya kehangatan emosional membentuk skema diri yang rentan. Oleh karena itu, pengalaman trauma masa kecil seperti pembulian, dipermalukan depan umum, atau penolakan kawan sebaya menjadi pemicu utama. (Heimberg et al., 2014, Hawari, 2011)
Lebih lanjut, lingkungan kognitif yang menekankan standar sosial yang sangat tinggi dan ketat meningkatkan kewaspadaan internal secara berlebihan. Akibatnya, individu mengembangkan kepekaan ekstrem terhadap persepsi penilaian negatif dari orang-orang sekitarnya. (Tsoi et al., 2011, Elvira & Hadisukanto, 2013)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Proses patofisiologi melibatkan regulasi sistem saraf pusat yang abnormal saat memproses stimulus. Ketika mendapati pasien pada paparan atau antisipasi situasi sosial, amigdala merespons secara berlebihan dan gagal tertata dengan baik oleh korteks prefrontal. Kemudian, kondisi ini mengaktivasi Sistem Saraf Simpatis melalui aksis HPA, memicu pelepasan hormon kortisol dan katekolamin. (Stein & Stein, 2008)
Dampak Fisiologis dan Kognitif
Pelepasan zat kimia ini memicu manifestasi fisik autonomik seperti takikardia, tremor, diaphoresis, dan kemerahan pada wajah. Secara kognitif, otak memproses situasi biasa sebagai ancaman bahaya yang nyata, memicu penilaian kognitif yang salah serta dorongan kuat untuk melakukan perilaku penghindaran. (Bandelow et al., 2017)
Penyimpangan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia)
Selain itu, penyimpangan KDM berfokus pada terganggunya kebutuhan keselamatan, rasa aman, dan kebutuhan mencintai serta dimiliki. Ketika rasa aman terancam akibat persepsi kecemasan, sistem adaptasi stres individu mengalami kegagalan koping adaptif. Akibatnya, hambatan interaksi sosial berkembang dan menurunkan harga diri pasien. (Videbeck, 2012, Keliat et al., 2019)
Pathway
Faktor Predisposisi (Genetik, Disfungsi Neurotransmiter, Trauma Masa Lalu)
↓
Respon Amigdala Hiperaktif & Kegagalan Kontrol Prefrontal Cortex
↓
Aktivasi Aksis HPA & Sistem Saraf Simpatis (Pelepasan Adrenalin & Kortisol)
↓
Stresor Lingkungan (Antisipasi / Paparan Interaksi)
↓
Peningkatan Respons Otonom (Takikardia, Keringat Dingin, Tremor) & Bias Kognitif
↓
Kecemasan Meningkat / Ansietas Tinggi
↓
Distress Psikologis & Dorongan Perilaku Penghindaran
↓
Penyimpangan KDM: Terganggunya Kebutuhan Rasa Aman, Harga Diri, dan Interaksi
↓
Masalah Keperawatan: Ansietas, Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah Situasional
(Stein & Stein, 2008, Keliat et al., 2019)
4. Manifestasi Klinis Fobia Sosial
a. Data Subjektif
Mengungkapkan rasa takut berlebihan dinilai, dikritik, atau dipermalukan oleh orang lain. Selanjutnya, mengeluhkan perasaan panik, pusing, mual, atau jantung berdebar-debar saat hendak bertemu orang banyak. Mengaku merasa malu, tidak berharga, dan canggung saat menjadi pusat perhatian. Oleh sebab itu, selalu berusaha menghindari acara bersama atau berbicara depan umum. (American Psychiatric Association, 2013, Hawari, 2011)
b. Data Objektif
Menunjukkan wajah memerah, gemetaran, dan berkeringat dingin secara signifikan. Kontak mata sangat minim atau selalu menunduk saat berbicara. Bicara terbata-bata, pelan, atau suara bergetar. Tambahan pula, pasien tampak gelisah, postur tubuh kaku, serta cenderung menarik diri dari kerumunan. (Heimberg et al., 2014, Videbeck, 2012)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Melakukan pemeriksaan fungsi tiroid (TSH, Free T3, Free T4) untuk menyingkirkan hipertiroidisme yang memiliki gejala takikardia. Selain itu, memeriksa kadar gula darah puasa guna menyingkirkan hipoglikemia. Menerapkan skrining toksikologi urin juga untuk memastikan tidak ada penggunaan zat adiktif. (Sadock et al., 2015)
b. Pemeriksaan Radiologi dan Instrumen Psikometrik
Pemeriksaan fMRI atau PET Scan secara riset menunjukkan hiperaktivitas pada amigdala dan insula saat terpapar stimulus wajah yang mengancam. Namun demikian, pemeriksaan ini bukan alat diagnosis rutin klinis. (Stein & Stein, 2008)
Menggunakan pula instrumen psikometrik yang meliputi Liebowitz Social Anxiety Scale (LSAS), Social Phobia Inventory (SPIN), dan Beck Anxiety Inventory (BAI). Oleh karena itu, pengukuran skala ini penting untuk menentukan tingkat keparahan ansietas. (Heimberg et al., 2014)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pengobatan melibatkan SSRIs seperti Sertraline (50–150 mg/hari), Paroxetine (20–50 mg/hari), atau Escitalopram (10–20 mg/hari) sebagai lini pertama. Selanjutnya, menggunakan SNRIs seperti Venlafaxine (75–225 mg/hari) sebagai alternatif. Memberikan Beta-Blocker seperti Propranolol (10–40 mg) 30–60 menit sebelum tampil pada tipe performa. Memberikan Benzodiazepin hanya untuk jangka pendek. (Bandelow et al., 2017, Sadock et al., 2015)
b. Terapi Non-Farmakologis
Menggunakan CBT sebagai terapi baku emas untuk restrukturisasi pemikiran irasional. Kemudian, menerapkan terapi paparan bertahap baik secara in vivo maupun imajinatif. Akhirnya, memberikan pelatihan Keterampilan Sosial untuk melatih teknik komunikasi dan kontak mata. (Heimberg et al., 2014, Keliat et al., 2019)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat Kesehatan
Pengkajian mencakup nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Keluhan utama meliputi ketakutan hebat saat berhadapan dengan orang banyak. Sementara itu, riwayat kesehatan sekarang mengevaluasi omset, durasi, dan tingkat penghindaran. Riwayat kesehatan dahulu dan keluarga mengkaji trauma masa lalu serta riwayat ansietas pada anggota keluarga. (Keliat et al., 2019, Sadock et al., 2015)
b. Pemeriksaan Fisik
Memeriksa sistem kardiovaskular melalui palpasi iktus kordis dan auskultasi bunyi jantung (takikardia). Sistem respirasi menunjukkan pernapasan cepat saat cemas. Pada sistem integumen terdapat diaphoresis dan blushing. Sistem neurologis dan muskuloskeletal menunjukkan tremor serta ketegangan otot. Sistem gastrointestinal menunjukkan bising usus meningkat atau keluhan mual. (Keliat et al., 2019, Maramis & Maramis, 2009)
c. Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
- Persepsi Kesehatan & Nutrisi: Menganggap diri lemah; penurunan nafsu makan saat cemas. (Keliat et al., 2019)
- Eliminasi & Aktivitas: Polakisuria saat cemas; aktivitas terbatas di area rumah. (Videbeck, 2012)
- Tidur & Kognitif: Insomnia akibat ruminasi; pemikiran irasional selalu dinilai negatif. (Hawari, 2011)
- Persepsi Diri & Hubungan: Harga diri rendah; penarikan diri dari interaksi sosial. (Stein & Stein, 2008)
- Seksualitas, Koping, & Nilai: Penurunan libido; koping maladaptif berupa penghindaran; merasa terpisah dari aktivitas kelompok. (Sadock et al., 2015)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnostik Utama
- Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap konsep diri / persepsi ancaman sosial
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d perubahan status mental / ketakutan akan evaluasi negatif
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d kegagalan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) b.d hambatan emosional / ansietas berat
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai strategi koping ansietas
Prioritas Diagnostik Pendukung
- Koping Tidak Efektif b.d ketidakadekuatan sistem pendukung / persepsi ancaman (D.0096)
- Gangguan Pola Tidur b.d hambatan lingkungan / ansietas antisipatif (D.0055)
- Risiko Harga Diri Rendah Kronis d.d riwayat penolakan sosial berulang (D.0086)
- Ketidakberdayaan b.d interaksi sosial yang tidak memuaskan (D.0092)
- Risiko Isolasi Sosial d.d ketidakmampuan menjalin hubungan yang memuaskan (D.0135)
3. Perencanaan Keperawatan
Rencana Intervensi Diagnostik Utama
1. Ansietas (D.0080)
- SLKI: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik.
- SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314)
Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas.
Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; pahami situasi yang membuat ansietas.
Edukasi: Jelaskan prosedur; latih teknik relaksasi napas dalam.
Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
2. Isolasi Sosial (D.0121)
- SLKI: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116)
Kriteria Hasil: Minat interaksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun, perilaku menarik diri menurun, kontak mata membaik, respons emosional membaik.
- SIKI: Promosi Sosialisasi (I.13498)
Observasi: Identifikasi hambatan melakukan interaksi dengan orang lain.
Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam hubungan; berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan respons.
Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap; latih teknik bermain peran untuk meningkatkan keterampilan sosial.
3. Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- SLKI: Harga Diri Meningkat (L.09069)
Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, penerimaan penilaian positif meningkat, perasaan malu menurun, perasaan tidak berharga menurun.
- SIKI: Promosi Harga Diri (I.12463)
Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
Terapeutik: Diskusikan alasan mengkritik diri; berikan pujian realistis atas pencapaian.
Edukasi: Anjurkan mengevaluasi perilaku sendiri; latih pernyataan positif pada diri sendiri (positive self-talk).
4. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- SLKI: Interaksi Sosial Membaik (L.13115)
Kriteria Hasil: Perasaan nyaman dengan respons orang lain meningkat, respons adaptif meningkat, kooperatif dalam kelompok membaik, ekspresi wajah bersahabat membaik.
- SIKI: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
Observasi: Identifikasi fokus pelatihan keterampilan sosial.
Terapeutik: Motivasi untuk berlatih keterampilan sosial (kontak mata, menyapa, mendengarkan).
Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara asertif; latih komunikasi verbal dan nonverbal.
5. Defisit Pengetahuan (D.0111)
- SLKI: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang gangguan meningkat, pertanyaan tentang masalah menurun.
- SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383)
Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; berikan kesempatan untuk bertanya.
Edukasi: Jelaskan faktor risiko kesehatan; ajarkan strategi koping adaptif saat ansietas muncul.
Rencana Intervensi Diagnostik Pendukung
6. Koping Tidak Efektif (D.0096)
- SLKI: Status Koping Membaik (L.09086)
Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan memecahkan masalah meningkat.
- SIKI: Promosi Koping (I.09326)
Observasi: Identifikasi persepsi mengenai masalah dan kesesuaian dengan kondisi nyata.
Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang dialami; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
Edukasi: Anjurkan menggunakan sumber spiritual; latih keterampilan penyelesaian masalah secara bertahap.
7. Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- SLKI: Pola Tidur Membaik (L.05045)
Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, istirahat cukup meningkat.
- SIKI: Dukungan Tidur (I.05174)
Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur.
Terapeutik: Modifikasi lingkungan; tetapkan jadwal tidur rutin.
Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup; ajarkan relaksasi otot progresif sebelum tidur.
8. Risiko Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
- SLKI: Harga Diri Meningkat (L.09069)
Kriteria Hasil: Perasaan tidak berharga menurun, kepercayaan diri meningkat, verbalisasi keputusasaan menurun.
- SIKI: Dukungan Emosional (I.09256)
Observasi: Identifikasi fungsi marah, frustrasi, dan amuk bagi pasien.
Terapeutik: Lakukan sentuhan empati/kehadiran; fasilitasi mengungkapkan perasaan cemas dan malu.
Edukasi: Anjurkan mengungkapkan emosi secara konstruktif.
9. Ketidakberdayaan (D.0092)
- SLKI: Keberdayaan Meningkat (L.09071)
Kriteria Hasil: Pernyataan mampu melaksanakan aktivitas meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, perasaan tertekan menurun.
- SIKI: Promosi Harapan (I.09307)
Observasi: Identifikasi harapan pasien dan keluarga.
Terapeutik: Ciptakan lingkungan yang mendukung harapan; libatkan pasien dalam perencanaan perawatan.
Edukasi: Anjurkan mempertahankan hubungan interpersonal yang positif.
10. Risiko Isolasi Sosial (D.0135)
- SLKI: Iklim Sosial Membaik (L.13114)
Kriteria Hasil: Keinginan untuk menjalin hubungan sosial meningkat, keterpaparan sosial membaik.
- SIKI: Pencegahan Isolasi Sosial (I.13485)
Observasi: Identifikasi minat individu terhadap kegiatan kelompok.
Terapeutik: Libatkan dalam aktivitas pendukung sosial secara perlahan.
Edukasi: Informasikan pentingnya dukungan sosial dalam pemulihan.
4. Implementasi Keperawatan
Melaksanakan implementasi sesuai rencana intervensi. Tindakan mencakup penumbuhan hubungan saling percaya, edukasi manajemen ansietas, pelatihan keterampilan sosial, pendampingan paparan bertahap, serta kolaborasi pemberian terapi farmakologis. Selanjutnya, mendokumentasikan setiap tindakan beserta respons subjektif dan objektif pasien. (Keliat et al., 2019, Videbeck, 2012)
5. Evaluasi Keperawatan
Melakukan evaluasi keperawatan menggunakan metode SOAP:
- S (Subjektif): Pasien mengungkapkan kecemasan berkurang saat bertemu orang lain dan merasa lebih percaya diri.
- O (Objektif): Pasien menunjukkan kontak mata yang membaik, tanda vital stabil, serta mau terlibat dalam interaksi kelompok kecil.
- A (Analisis): Masalah ansietas, isolasi sosial, dan harga diri rendah teratasi sebagian atau seluruhnya.
- P (Perencanaan): Lanjutkan intervensi paparan mandiri dan kepatuhan minum obat. (Keliat et al., 2019)
Daftar Pustaka
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Bandelow, B., Michaelis, S., & Wedekind, D. (2017). Treatment of anxiety disorders. Dialogues Clin Neurosci, 19(2), 93-107. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5573555/
Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2013). Buku ajar psikiatri (Edisi 2). Badan Penerbit FKUI.
Hawari, D. (2011). Manajemen stres, cemas, dan depresi. Badan Penerbit FKUI.
Heimberg, R. G., et al. (2014). Social anxiety disorder: Questions and answers. J Clin Psychiatry, 75(12), 1415-1426. psychiatrist.com/jcp/anxiety/social-anxiety-disorder-questions-answers-clinician/
Keliat, B. A., Helena, N. C., & Farida, P. (2019). Manajemen asuhan keperawatan jiwa. EGC.
Kunikata, H., Anzai, T., & Shiraishi, Y. (2018). Characteristics of Taijin Kyofusho in Japan. J Psychiatr Ment Health Nurs, 25(3), 180-189. onlinelibrary.wiley.com/journal/13652850
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2009). Catatan ilmu kedokteran jiwa (Edisi 2). Airlangga University Press.
Ng, A. W., Lee, S. A., & Tan, C. B. (2020). Social anxiety among Asian urban populations. Asian J Psychiatr, 51, 102041. sciencedirect.com/journal/asian-journal-of-psychiatry
Rastogi, R., & Thomas, S. (2019). Clinical perspectives of social phobia in India. Indian J Ment Health, 6(1), 45-52. indianjmentalhealth.com
Ruscio, A. M., et al. (2008). Social fears and social phobia in the USA. Psychol Med, 38(1), 15-28. cambridge.org/core/journals/psychological-medicine
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
Stein, M. B., & Stein, D. J. (2008). Social anxiety disorder. Lancet, 371(9618), 1115-1125. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(08)60488-2/fulltext
Tsoi, D. T., Lee, S., & Zhang, H. (2011). Social phobia in East Asia. Transcult Psychiatry, 48(4), 432-451. journals.sagepub.com/home/tps
Videbeck, S. L. (2012). Buku ajar keperawatan jiwa. EGC.

Tinggalkan Balasan