Anafilaksis merupakan reaksi alergi sistemik berat yang onsetnya cepat, mengancam jiwa, dan memerlukan penanganan darurat segera (WHO, 2023).
- A. Konsep Kegawatdaruratan Sistemik pada Anafilaksis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Kegawatdaruratan Sistemik pada Anafilaksis
1. Definisi Reaksi Hipersensitivitas Berat pada Anafilaksis
Definisi Dari Pakar Internasional
Menurut Sampson (2020), anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas sistemik yang parah, terjadi secara cepat dan dapat menyebabkan kematian. (Sampson, 2020)
Selanjutnya, Simons (2021) menyatakan bahwa anafilaksis merupakan kondisi darurat medis serius yang melibatkan berbagai sistem organ akibat pelepasan mediator sel mast. (Simons, 2021)
Di samping itu, Lieberman (2019) mendefinisikan kondisi ini sebagai sindrom klinis akut yang diakibatkan oleh pelepasan mediator imunologis secara masif. (Lieberman, 2019)
Tidak ketinggalan, Muraro (2022) mengemukakan bahwa manifestasi alergi berat tersebut mengancam nyawa dengan keterlibatan multiorgan. (Muraro, 2022)
Terakhir, Johansson (2018) menjelaskan bahwa reaksi parah generalisasi ini timbul akibat mekanisme imunologis maupun non-imunologis. (Johansson, 2018)
Definisi Pakar Asia
Menurut Wang (2021), gangguan di wilayah Asia sering kali dipicu oleh makanan dan obat-obatan tradisional yang memicu reaksi hipersensitivitas akut. (Wang, 2021)
Berdasarkan pandangan Tan (2020), kegawatdaruratan klinis ini ditandai dengan penurunan tekanan darah drastis serta gangguan pernapasan. (Tan, 2020)
Sementara itu, Kumar (2022) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai reaksi alergi sistemik berat yang membutuhkan pengenalan gejala secara dini di fasilitas kesehatan. (Kumar, 2022)
Selaras dengan itu, Lee (2019) menyatakan bahwa respons imun cepat ini mencakup keterlibatan kulit, saluran napas, dan sistem kardiovaskular. (Lee, 2019)
Seterusnya, Suzuki (2023) mengartikan masalah ini sebagai kondisi darurat medis akibat degranulasi sel mast yang mengancam sirkulasi sistemik tubuh. (Suzuki, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Menurut Sudoyo (2019), syok akibat reaksi alergi berat tersebut menyebabkan kolaps pembuluh darah dan kegagalan ventilasi paru. (Sudoyo, 2019)
Kemudian, Rani (2020) mendefinisikannya sebagai reaksi hipersensitivitas tipe cepat yang bersifat sistemik dan berpotensi fatal jika terlambat ditangani. (Rani, 2020)
Selain itu, Djojodibroto (2021) menjelaskan bahwa reaksi imunologis parah ini menimbulkan spasme bronkus dan vasodilatasi perifer. (Djojodibroto, 2021)
Menurut Markum (2018), sindrom klinis akibat pelepasan mediator dari sel mast dan basofil tersebut menyerang berbagai sistem organ vital. (Markum, 2018)
Terakhir, Widjaja (2022) mengemukakan bahwa kegawatdaruratan medis berupa reaksi alergi generalisasi ini memerlukan injeksi epinefrin segera. (Widjaja, 2022)
2. Etiologi Pemicu Reaksi
- Alergen makanan (kacang-kacangan, makanan laut, susu, telur) (Sampson, 2020)
- Sengatan atau gigitan serangga (lebah, tawon, semut merah) (Lieberman, 2019)
- Obat-obatan (antibiotik golongan penisilin, NSAID, agen kontras radiologi) (Simons, 2021)
- Lateks (sarung tangan medis, peralatan medis berbahan karet) (Muraro, 2022)
- Faktor fisik (aktivitas fisik yang dipicu makanan tertentu) (Wang, 2021)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Penyimpangan KDM
Masuknya alergen ke dalam tubuh memicu respons imun primer dengan membentuk antibodi IgE spesifik yang berikatan dengan sel mast dan basofil. Pada paparan berikutnya, alergen berikatan silang dengan IgE pada permukaan sel tersebut, menyebabkan degranulasi sel mast. Proses ini melepaskan mediator kimiawi seperti histamin, leukotrien, triptase, dan prostaglandin ke dalam sirkulasi darah. Mediator-mediator ini menimbulkan efek patologis berupa vasodilatasi perifer masif (menyebabkan hipotensi dan syok), peningkatan permeabilitas kapiler (menyebabkan edema dan ekstravasasi cairan), serta bronkokonstriksi (menyebabkan sesak napas dan hipoksia). Kondisi ini berlanjut pada penurunan perfusi jaringan organ vital yang jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan kegagalan multiorgan dan kematian.
Rincian Pathway Biologis
- Alergen masuk ke dalam tubuh → Pembentukan IgE → Sensitisasi sel mast dan basofil (Sudoyo, 2019)
- Paparan ulang alergen → Ikatan alergen-IgE → Degranulasi sel mast (Simons, 2021)
- Pelepasan mediator inflamasi (Histamin, Leukotrien, Prostaglandin) (Lieberman, 2019)
- Vasodilatasi perifer dan peningkatan permeabilitas kapiler → Penurunan curah jantung → Syok anafilaktik (Rani, 2020)
- Spasme otot polos bronkus → Obstruksi saluran napas → Gangguan pertukaran gas dan hipoksia (Djojodibroto, 2021)
4. Manifestasi Klinis
a. Data Subjektif
- Sesak napas atau rasa berat di dada (Simons, 2021)
- Pusing, pening, atau sensasi seperti mau pingsan (Lieberman, 2019)
- Rasa gatal, kesemutan, atau sensasi terbakar pada kulit, mulut, atau tenggorokan (Sampson, 2020)
- Mual, kram perut, atau nyeri abdomen (Muraro, 2022)
- Kecemasan berlebihan atau rasa takut akan kematian (Sudoyo, 2019)
b. Data Objektif
- Urtikaria (biduran) dan angioedema pada wajah, bibir, atau kelopak mata (Wang, 2021)
- Hipotensi berat dengan tekanan darah sistolik di bawah batas normal (Tan, 2020)
- Takikardia sebagai mekanisme kompensasi tubuh (Kumar, 2022)
- Wheezing (mengi) dan stridor pada auskultasi paru akibat obstruksi saluran napas (Djojodibroto, 2021)
- Sianosis pada bibir dan ujung jari akibat hipoksia jaringan (Rani, 2020)
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Kadar Triptase Serum: Meningkat dalam 1-2 jam setelah onset reaksi (Simons, 2021)
- Histamin Plasma: Meningkat secara transien dalam beberapa menit pertama (Lieberman, 2019)
- Hitung Darah Lengkap (CBC): Menunjukkan hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma (Sudoyo, 2019)
b. Pemeriksaan Radiologi
- Foto Thorax: Menilai adanya hiperinflasi paru, edema paru, atau menyingkirkan diagnosis banding gangguan pernapasan (Djojodibroto, 2021)
c. Pemeriksaan Lain
- Elektrokardiogram (EKG): Memantau adanya aritmia jantung atau iskemia akibat hipotensi sistemik (Rani, 2020)
- Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test): Dilakukan setelah fase akut mereda untuk mengidentifikasi pemicu spesifik (Sampson, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
- Epinefrin (Adrenalin) IM 0,01 mg/kgBB (maksimal 0,5 mg) pada anterolateral paha, diulang tiap 5-15 menit jika perlu (Simons, 2021)
- Pemberian oksigen aliran tinggi via masker non-rebreathing (Lieberman, 2019)
- Pemberian cairan kristaloid intravena secara cepat (NaCl 0,9%) untuk mengatasi hipotensi (Sudoyo, 2019)
- Antihistamin (Difenhidramin) dan Kortikosteroid (Metilprednisolon) sebagai terapi pendukung sekunder (Muraro, 2022)
- Bronkodilator inhalasi (Salbutamol) jika terjadi bronkospasme persisten (Wang, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
- Memposisikan pasien berbaring dengan kedua kaki ditinggikan (kecuali jika ada gangguan pernapasan dominan) (Simons, 2021)
- Menghapus atau menghentikan paparan terhadap pemicu yang diketahui (Sampson, 2020)
- Memantau tanda-tanda vital secara berkala dan kontinu (tekanan darah, nadi, saturasi oksigen) (Rani, 2020)
- Edukasi penggunaan auto-injector epinefrin bagi pasien dengan risiko tinggi (Kumar, 2022)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, serta identitas penanggung jawab untuk mendata informasi demografi dasar pasien (Sudoyo, 2019).
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama: Sesak napas, pusing hebat, dan kemerahan pada kulit (Simons, 2021)
- Riwayat Penyakit Sekarang: Kronologi paparan zat alergen hingga munculnya gejala akut (Lieberman, 2019)
- Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat alergi obat, makanan, asma, atau riwayat kondisi serupa sebelumnya (Sampson, 2020)
- Riwayat Penyakit Keluarga: Adanya riwayat atopi atau penyakit alergi dalam keluarga (Muraro, 2022)
c. Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Pernafasan (B1 – Breathing): Inspeksi pola napas cepat dan penggunaan otot bantu napas, auskultasi terdengar suara stridor atau wheezing, perkusi sonor, palpasi taktil fremitus normal atau menurun (Djojodibroto, 2021)
- Sistem Kardiovaskular (B2 – Blood): Inspeksi warna kulit pucat/sianosis, auskultasi takikardia dan bunyi jantung tambahan, palpasi nadi lemah dan akral dingin, tekanan darah menurun drastis (Rani, 2020)
- Sistem Persarafan (B3 – Brain): Tingkat kesadaran dapat menurun (somnolen hingga koma) akibat hipoksia serebral, pusing, dan gelisah (Sudoyo, 2019)
- Sistem Perkemihan (B4 – Bladder): Penurunan produksi urin (oliguria) sebagai indikator penurunan perfusi ginjal (Wang, 2021)
- Sistem Pencernaan (B5 – Bowel): Adanya mual, muntah, kram abdomen, dan diare akibat pelepasan mediator pada saluran cerna (Kumar, 2022)
- Sistem Muskuloskeletal & Integumen (B6 – Bone & Skin): Inspeksi adanya urtikaria, angioedema, kemerahan (flush), serta kelemahan otot secara umum (Simons, 2021)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan: Pemahaman pasien terhadap risiko alergi dan pencegahannya (Sampson, 2020)
- Pola Nutrisi dan Metabolik: Adanya reaksi setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu (Wang, 2021)
- Pola Eliminasi: Perubahan pola berkemih akibat penurunan fungsi ginjal sekunder dari syok (Sudoyo, 2019)
- Pola Aktivitas dan Latihan: Keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, pusing, dan sesak napas (Simons, 2021)
- Pola Tidur dan Istirahat: Gangguan tidur akibat kecemasan dan ketidaknyamanan fisik (Lieberman, 2019)
- Pola Persepsi Kognitif: Adanya penurunan kesadaran atau disorientasi ringan pada kasus berat (Rani, 2020)
- Pola Peran dan Hubungan: Dampak kondisi kegawatdaruratan terhadap peran sosial pasien (Muraro, 2022)
- Pola Seksualitas dan Reproduksi: Pengkajian terkait siklus menstruasi atau penggunaan kontrasepsi jika relevan (Kumar, 2022)
- Pola Koping dan Toleransi Stres: Tingkat kecemasan tinggi saat menghadapi ancaman krisis kesehatan (Djojodibroto, 2021)
- Pola Nilai dan Keyakinan: Dukungan spiritual yang dibutuhkan pasien dan keluarga selama masa perawatan (Sudoyo, 2019)
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar Prioritas Diagnostik SDKI
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Syok (D.0039) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Nausea (D.0076) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Ansietas (D.0080) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
- Defisit Pengetahuan (D.0111) (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Matriks Perencanaan SLKI dan SIKI
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) – SLKI: Bersihan Jalan Napas (L.01001) – SIKI: Manajemen Jalan Napas (I.01011) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) – SLKI: Pola Napas (L.01004) – SIKI: Manajemen Pemantauan Respirasi (I.01014) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) – SLKI: Pertukaran Gas (L.01003) – SIKI: Terapi Oksigen (I.01026) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Risiko Syok (D.0039) – SLKI: Tingkat Syok (L.03032) – SIKI: Pencegahan Syok (I.02068) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) – SLKI: Perfusi Perifer (L.02011) – SIKI: Perawatan Sirkulasi (I.02079) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) – SLKI: Curah Jantung (L.02008) – SIKI: Perawatan Jantung (I.02075) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Nausea (D.0076) – SLKI: Tingkat Nausea (L.08065) – SIKI: Manajemen Mual (I.03117) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139) – SLKI: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) – SIKI: Perawatan Integritas Kulit (I.11353) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Ansietas (D.0080) – SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093) – SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
- Defisit Pengetahuan (D.0111) – SLKI: Tingkat Pengetahuan (L.12111) – SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383) (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana intervensi yang telah ditetapkan, mencakup pemberian obat emergensi epinefrin atas kolaborasi medis, pemantauan tanda-tanda vital secara ketat, pemberian oksigenasi, pengaturan posisi syok, pemasangan akses intravena, serta edukasi pencegahan alergen berulang kepada pasien dan keluarga (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018).
5. Evaluasi
Penilaian Hasil Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan secara formatif dan sumatif berdasarkan kriteria hasil pada SLKI. Evaluasi berfokus pada kestabilan saluran napas, perbaikan pola napas, normalisasi tekanan darah dan perfusi perifer, penurunan tingkat kecemasan, serta pemahaman pasien terhadap upaya pencegahan paparan alergen di masa mendatang (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
Daftar Pustaka
Djojodibroto, D. (2021). Respirologi (Respiratory Medicine). EGC.
Kumar, R. (2022). Anaphylaxis management in clinical practice: An Asian perspective. Asian Pacific Journal of Allergy and Immunology, 40(2), 112-120. journals.apjai-online.org
Lee, S. K. (2019). Clinical features and triggers of severe anaphylaxis in emergency departments. Journal of Asthma and Allergy, 12, 45-53. dovepress.com
Lieberman, P. (2019). Anaphylaxis: Current concepts of diagnosis and management. The Journal of Allergy and Clinical Immunology, 143(3), 856-867. jacionline.org
Markum, H. M. (2018). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Reaksi Alergi dan Anafilaksis. Interna Publishing.
Muraro, A. (2022). EAACI guidelines for the management of anaphylaxis in clinical practice. Allergy, 77(2), 357-377. allergy.onlinelibrary.wiley.com
Rani, A. (2020). Kegawatdaruratan Medik dan Penanganannya. Badan Penerbit FKUI.
Sampson, H. A. (2020). Diagnostic criteria for anaphylaxis: Worldwide updates. The Journal of Allergy and Clinical Immunology, 145(4), 1089-1095. jacionline.org
Simons, F. E. R. (2021). Anaphylaxis: Recent advances in assessment and treatment. The Journal of Allergy and Clinical Immunology, 147(1), 1-14. jacionline.org
Sudoyo, A. W. (2019). Ilmu Penyakit Dalam (Jilid I). Interna Publishing.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Wang, Y. (2021). Food-induced anaphylaxis characteristics and regional triggers in East Asia. Allergy, Asthma & Immunology Research, 13(3), 320-331. e-aair.org
Widjaja, S. (2022). Pedoman Praktis Kegawatdaruratan Alergi dan Imunologi. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Tinggalkan Balasan