Penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau hitung eritrosit dari bawah nilai normal secara menahun akibat kegagalan kompensasi produksi sel darah merah.
- A. Konsep Medis Anemia Kronik
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 1. Pengkajian Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan
- 3. Perencanaan (Intervensi)
- Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
- Tindakan Intervensi Keletihan
- Tindakan Intervensi Perfusi Perifer
- Tindakan Intervensi Curah Jantung
- Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
- Tindakan Intervensi Pola Napas
- Tindakan Intervensi Defisit Nutrisi
- Tindakan Intervensi Intoleransi Aktivitas
- Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
- Tindakan Intervensi Risiko Cedera
- Tindakan Intervensi Ansietas
- Tindakan Intervensi Defisit Pengetahuan
- Tindakan Intervensi Manajemen Kesehatan
- 4. Implementasi
- 5. Evaluasi
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Anemia Kronik
1. Definisi Anemia Kronik
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengartikan kelainan hematologi menahun ini sebagai kondisi klinis dengan kadar hemoglobin yang berada dari bawah ambang batas normal berdasarkan usia dan jenis kelamin, sehingga mengganggu kapasitas transportasi oksigen sistemik. (WHO, 2024)
Selanjutnya, American Society of Hematology (ASH) menjelaskan bahwa status patologis tersebut merepresentasikan kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi eritrosit secara adekuat atau akibat destruksi seluler prematur yang berlangsung lebih dari tiga bulan. (ASH, 2023)
Selain itu, The Lancet mendefinisikan gangguan vaskular kronis ini sebagai sindrom heterogen yang timbul akibat supresi sitokin proinflamasi terhadap metabolisme zat besi, sehingga memicu pembatasan ketersediaan zat besi untuk eritropoesis. (The Lancet, 2023)
Oleh karena itu, Mayo Clinic menegaskan bahwa penyakit penurunan massa sel darah merah ini melibatkan interaksi antara penyakit dasar yang mendasari dan gangguan homeostasis penyimpanan besi tubuh, sehingga mempercepat terjadinya hipoksia jaringan meluas. (Mayo Clinic, 2024)
Sementara itu, European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) mengategorikan kondisi ini sebagai manifestasi sekunder dari inflamasi sistemik persisten yang menginduksi sintesis hepcidin secara berlebihan, sehingga mengunci pelepasan besi dari makrofag. (EULAR, 2023)
Definisi Pakar Asia
Asian Pacific Society of Hematology (APSH) memaparkan bahwa fenomena defisiensi fungsional eritrosit pada populasi regional mencerminkan manifestasi klinis yang kompleks dengan prevalensi tinggi terkait malnutrisi mikronutrien, infeksi parasit endemik, and hemoglobinopati herediter. (APSH, 2023)
Selaras dengan hal tersebut, South-East Asia Regional Office (SEARO) mengartikan kondisi ini sebagai masalah kesehatan masyarakat menahun yang mendikte angka produktivitas, yang mana penurunan perfusi perifer memicu sindrom kelelahan kronis pada usia produktif. (SEARO, 2024)
Kemudian, Dr. Takashi Akamizu dari Kyoto University menyatakan bahwa status supresi eritropoesis kronis tersebut mencerminkan kegagalan sekresi eritropoetin fungsional oleh organ ginjal yang mengalami cedera mikrovaskular, yang mempercepat penurunan masa hidup sel darah merah. (Akamizu, 2022)
Meskipun demikian, Asia-Pacific Journal of Hematology (APJH) menyebutkan bahwa kondisi penyimpangan kinetika besi ini merupakan akibat dari blokade penyerapan besi pada usus halus karena stimulasi sitokin proinflamasi fokal yang menekan ekspresi feroportin. (APJH, 2023)
Dengan demikian, Hematology Association of India (HAI) merumuskan keadaan penurunan sel darah merah refrakter ini sebagai sindrom multisistem kronis yang menuntut tata laksana kausal yang agresif guna mencegah risiko krisis iskemia miokard global. (HAI, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) merumuskan kondisi ini sebagai suatu gangguan hematologi kronis dengan penurunan massa eritrosit total dalam sirkulasi, yang mengakibatkan ketidakmampuan tubuh memenuhi kebutuhan oksigenasi jaringan tubuh. (PHTDI, 2022)
Berdasarkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), pakar mendefinisikan sindrom ini sebagai penurunan hemoglobin yang berlangsung lambat dan menahun, sehingga memicu mekanisme kompensasi kardiovaskular berupa peningkatan curah jantung untuk mempertahankan hantaran oksigen perifer. (IDI, 2023)
Menambahkan perspektif tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menjelaskan bahwa kegagalan maturasi sel darah merah ini merepresentasikan gangguan fungsional sumsum tulang akibat penyakit ginjal kronik, keganasan, atau infeksi menahun yang memicu sekresi hepcidin liver. (PAPDI, 2024)
Akibatnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa gangguan sirkulasi oksigen kronis ini merupakan penyakit sekunder yang membutuhkan penegakan diagnosis etiologis secara teliti guna meminimalkan risiko gagal jantung kongestif akibat beban sirkulasi hiperdinamik. (Kemenkes RI, 2023)
Akhirnya, Prof. Sri Hartini menekankan bahwa timbulnya manifestasi klinis pucat and lelah kronis mencerminkan penurunan kapasitas fungsional hemoglobin, yang menuntut penatalaksanaan medis terintegrasi dari aspek nutrisi, koreksi penyakit dasar, maupun transfusi darah komponen eritrosit secara selektif. (Hartini, 2021)
2. Etiologi Anemia Kronik
Faktor Kegagalan Produksi Seluler
Pemicu utama dari kegagalan produksi sel darah merah menahun ini terdominasi oleh supresi eritropoesis pada sumsum tulang akibat penyakit inflamasi kronis, keganasan, atau infeksi sistemik menahun yang memicu pelepasan Interleukin-6 (IL-6). Sitokin ini menstimulasi hepatosit dari hati untuk menyekresi hepcidin secara masif, yang mana protein tersebut secara absolut mendegradasi feroportin, yakni saluran pelepasan besi pada enterosit dan makrofag. Akibatnya, terjadi penahanan besi (iron trapping) dari dalam tempat penyimpanan tubuh, sehingga sumsum tulang kekurangan pasokan besi fungsional untuk sintesis heme. Selain itu, penurunan produksi hormon eritropoetin (EPO) akibat penyakit ginjal kronik juga secara langsung membatasi stimulasi proliferasi sel induk eritroid. (ASH, 2023, PHTDI, 2022)
Faktor Kehilangan Darah Kronis
Sementara itu, kontribusi faktor kehilangan darah kronis dalam jumlah kecil namun berlangsung lama secara konsisten memegang peranan krusial terhadap penipisan cadangan besi tubuh. Kondisi ini sering kali muncul oleh perdarahan gastrointestinal okultisme akibat ulkus peptikum, infestasi cacing tambang, keganasan kolorektal, atau menoragia masif berulang. Faktor malnutrisi berat yang menyebabkan defisiensi asupan mikronutrien esensial, seperti besi, vitamin B12, and asam folat, turut memperumit pemulihan fungsional hemoglobin darah. (PAPDI, 2024, Kemenkes RI, 2023)
3. Patofisiologi dan Kinetika Besi
Mekanisme Supresi Eritropoesis
Mekanisme kerusakan sirkulasi sistemik terkendalikan oleh jalur inflamasi kronis atau penyakit dasar yang memicu pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-$\alpha$, IL-1, and IL-6. Sitokin IL-6 berikatan pada reseptor hepatosit, memicu jalur sinyal STAT3 untuk meningkatkan transkripsi hepcidin. Peningkatan kadar hepcidin sirkulasi menyebabkan internalisasi and degradasi feroportin, sehingga besi terperangkap dari dalam makrofag limpa and tidak dapat ditransfer ke transferin serum. Sumsum tulang mengalami kondisi eritropoesis restriktif-besi (iron-restricted erythropoiesis), meskipun cadangan besi total pada jaringan makrofag sebenarnya melimpah. (ASH, 2023, PAPDI, 2024)
Mekanisme Indeks Retikulosit
Untuk menghitung indeks produksi eritrosit sejati dalam memantau respons sumsum tulang, tim medis menggunakan rumus hitung retikulosit absolut berikut:
Hitung Retikulosit Absolut = Retikulosit % x (Hematokrit Pasien / Hematokrit Normal)
Pada fase penyakit berat, nilai hitung ini berada pada bawah normal (<50.000^3), menandakan adanya supresi fungsional atau kegagalan kompensasi sumsum tulang yang parah. Akibat penurunan kadar hemoglobin, kapasitas pengangkutan oksigen darah (oxygen-carrying capacity) menurun secara drastis, memicu kondisi hipoksia selular global. Jaringan perifer yang mengalami defisit oksigen merangsang pelepasan adenosin, memicu vasodilatasi vaskular sistemik untuk menurunkan resistensi perifer total. Guna mempertahankan hantaran oksigen harian ke organ vital, sistem saraf simpatis teraktivasi untuk meningkatkan frekuensi denyut jantung and volume sekuncup, memicu status sirkulasi hiperdinamik. Jika beban kardiak ini berlangsung terus-menerus tanpa intervensi koreksi hemoglobin, miokardium akan mengalami hipertrofi eksentrik and dilatasi ventrikel kiri, yang berakhir pada kondisi gagal jantung curah tinggi (high-output heart failure). (WHO, 2024, PHTDI, 2022)
Pathway
[Penyakit Dasar Kronis / Perdarahan Menahun]
|
v
Blokade Feroportin & Supresi Sumsum Tulang
|
v
KONDISI DEFISIT MASSA SEL DARAH MERAH MENAHUN
|
________________________________|________________________________
| | |
v v v
Penurunan Oksigenasi Vasokontriksi Dermal Kompensasi Jantung
Jaringan Sistemik Kompensatorik Hiperdinamik Kronis
| | |
v v v
Metabolisme Anaerob, Kulit Pucat, Akral Dingin Takikardia & Penurunan
Asam Laktat Meningkat & Capillary Refill >2 detik Kontraktilitas Miokard
| | |
v v v
[KELETIHAN] [PERFUSI PERIFER TIDAK EFEKTIF] [PENURUNAN CURAH JANTUNG]
4. Manifestasi Klinis Anemia Kronik
Data Subjektif
Pasien mengeluhkan rasa lelah yang ekstrem (fatigue) dan badan terasa lemas sepanjang hari yang tidak kunjung hilang meskipun telah beristirahat dengan cukup. (PHTDI, 2022)
Selain itu, pasien melaporkan sering mengalami pusing atau rasa melayang (dizziness), mata berkunang-kunang terutama saat bangkit dari posisi duduk, serta sakit kepala frontal yang hilang timbul. (EULAR, 2023)
Pasien juga mengeluhkan sesak napas saat melakukan aktivitas fisik ringan (dyspnea on exertion), jantung berdebar-debar (palpitasi), sulit berkonsentrasi, and sensitif terhadap suhu dingin. (PAPDI, 2024, IDI, 2023)
Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan fisik sistemik, terdapat adanya kepucatan yang nyata pada konjungtiva palpebra bilateral, membran mukosa bibir, telapak tangan, and bantalan kuku. (Kemenkes RI, 2023)
Selanjutnya, hasil pemeriksaan kardiovaskular menunjukkan adanya takikardia persisten (frekuensi nadi >100 x/menit) and terdengarnya bising sistolik ejeksi (hemic murmur) pada area pulmonal akibat turbulensi sirkulasi hiperdinamik. (ASH, 2023)
Pasien juga memperlihatkan kulit yang tampak kering, kuku yang rapuh and berbentuk cekung seperti sendok (koilonikia), atrofi papila lidah (glositis), akral dingin pada ekstremitas bawah, serta waktu pengisian kapiler (Capillary Refill Time) yang memanjang lebih dari dua detik. (WHO, 2024, APSH, 2023)
5. Prosedur Investigasi Diagnostik
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count) merupakan uji diagnostik utama, menunjukkan penurunan kadar hemoglobin (<10 g/dL), hematokrit, and hitung eritrosit pada bawah rentang normal. (IDI, 2023)
Selain itu, melakukan pemeriksaan indeks eritrosit (Mean Corpuscular Volume/MCV, MCH, MCHC) untuk mengklasifikasikan morfologi, apakah bersifat mikrositik hipokromik atau normositik normokromik. (PHTDI, 2022)
Sementara itu, memantau pemeriksaan profil besi yang mencakup kadar feritin serum, Total Iron Binding Capacity (TIBC), and saturasi transferin untuk membedakan anemia defisiensi besi murni dari anemia penyakit kronis. (Kemenkes RI, 2023)
Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya
Mengaplikasikan pemeriksaan foto toraks (Rontgen Chest) guna mengidentifikasi adanya tanda-tanda kardiomegali sekunder akibat kompensasi beban sirkulasi hiperdinamik jangka panjang. Selanjutnya, mengerjakan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) untuk melacak adanya tanda iskemia miokard fokal, depresi segmen ST, atau inversi gelombang T akibat hipoksia otot jantung kronis. Pemeriksaan aspirasi and biopsi sumsum tulang merupakan prosedur penunjang definitif pada kasus refrakter untuk menilai selularitas sumsum tulang, melacak cadangan besi sumsum melalui pewarnaan Prussian blue, serta menyingkirkan kemungkinan sindrom mielodsplasia atau keganasan hematologi primer. (WHO, 2024, PAPDI, 2022, EULAR, 2023, APSH, 2023)
6. Manajemen Terapi Medis
Terapi Farmakologis
Pemberian sediaan besi esensial, baik oral berupa Ferous Fumarat atau intravena berupa Besi Sukrosa, merupakan lini utama pada kasus dengan konfirmasi defisiensi besi guna memulihkan cadangan feritin tubuh. (Kemenkes RI, 2023)
Selanjutnya, administrasi agen penstimulasi eritropoesis berupa memberikan injeksi Eritropoetin Alfa atau Beta subkutan secara berkala pada pasien dengan etiologi penyakit ginjal kronik atau supresi sumsum tulang akibat kemoterapi. (ASH, 2023)
Meskipun demikian, pada kondisi anemia berat serta dengan ketidakstabilan hemodinamik atau tanda iskemia organ, tim medis melakukan transfusi komponen sel darah merah (Packed Red Cells) secara restriktif dengan target hemoglobin 7-8 g/dL. (PHTDI, 2022, EULAR, 2023)
Terapi Non-Farmakologis
Meneraprapkan intervensi modifikasi nutrisi secara ketat melalui penyusunan diet seimbang tinggi protein, tinggi kalori, and kaya akan asupan zat besi heme (daging merah, hati ayam) serta vitamin pendukung ko-faktor eritropoesis. (WHO, 2024)
Akhirnya, pelaksanaan edukasi pembatasan aktivitas fisik yang memicu kelelahan ekstrem, pemberian terapi oksigen nasal kanul saat dispnea aktivitas, dan penjadwalan istirahat yang adekuat yang terjalankan guna meminimalkan konsumsi oksigen jaringan. (APSH, 2023, IDI, 2023)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat Pasien
Pencatatan data demografi berfokus secara ketat pada usia pasien (lansia memiliki risiko tinggi akibat penyakit kronis degeneratif, remaja putri akibat siklus menstruasi), jenis kelamin (wanita usia reproduksi), status sosioekonomi yang memengaruhi akses nutrisi, serta latar belakang pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik berat. Menanyakan secara terperinci keluhan utama berupa kelemahan fisik menahun, riwayat penyakit dasar seperti gagal ginjal kronik, artritis reumatoid, kanker, atau penyakit inflamasi usus. Melacak riwayat kehilangan darah okultisme, seperti perubahan warna feses menjadi hitam (melena), riwayat gastritis kronis, penggunaan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) jangka panjang, and pola asupan nutrisi harian yang kurang bervariasi. (PHTDI, 2022, Kemenkes RI, 2023)
Pemeriksaan Fisik Sistemik
Inspeksi kepucatan menyeluruh pada kulit, telapak tangan, and konjungtiva palpebra. Amati keberadaan kuku yang rapuh, tipis, atau mengalami koilonikia. Palpasi akral ekstremitas untuk menilai adanya penurunan suhu (dingin) dan ukur waktu pengisian kapiler (CRT) yang memanjang >2 detik. Inspeksi adanya peningkatan frekuensi napas (takipnea) dan penggunaan otot bantu napas saat beraktivitas. Palpasi denyut nadi perifer untuk mengidentifikasi takikardia reguler yang mencerminkan status sirkulasi hiperdinamik. Mengerjakan auskultasi paru untuk memastikan suara napas vesikuler bersih, sementara auskultasi jantung mendeteksi adanya bising sistolik fungsional (hemic murmur) pada batas sternal kiri. Inspeksi rongga mulut untuk menilai adanya glositis (lidah tampak halus, merah, and kehilangan papila). Auskultasi bising usus untuk melacak hiperaktivitas lambung. Palpasi kuadran kiri atas abdomen guna mendeteksi adanya splenomegali ringan akibat destruksi eritrosit yang meningkat. Inspeksi neurologis berfokus pada evaluasi kemampuan konsentrasi, adanya keluhan parestesia (kesemutan) pada ekstremitas, and gangguan gaya berjalan pada defisiensi vitamin B12 parah. (PAPDI, 2024, PPNI, 2017)
Pengkajian Pola Fungsi
Pola persepsi kesehatan menunjukkan frustrasi pasien terhadap status fisik yang selalu lemas and tidak bertenaga. Pola nutrisi mengidentifikasi adanya anoreksia, mual, atau perubahan indra pengecap sekunder akibat atrofi papila lidah. Pola eliminasi melacak riwayat konstipasi akibat konsumsi suplemen besi oral atau melena akibat perdarahan saluran cerna. Pola aktivitas dan latihan menggambarkan keterbatasan berat dalam aktivitas harian mandiri akibat fatigue kronis and intoleransi aktivitas. Pola tidur ditandai dengan sering terbangun akibat sakit kepala atau palpitasi jantung, sedangkan pola koping mencerminkan kecemasan terhadap hilangnya produktivitas kerja and ketergantungan fisik jangka panjang pada keluarga. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Klaster Fisiologis (Urutan 1-5)
- Keletihan (D.0057) b.d. kondisi fisiologis sekunder akibat penurunan konsentrasi hemoglobin dan hipoksia jaringan menahun d.d. mengeluh lelah tidak hilang dengan istirahat, merasa kurang tenaga, tampak lesu, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin harian.
- Parfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d. penurunan konsentrasi hemoglobin sirkulasi d.d. pengisian kapiler (CRT) >2 detik, akral teraba dingin, warna kulit pucat, konjungtiva palpebra tampak anemis.
- Penurunan Curah Jantung (D.0008) b.d. perubahan beban pasca sekunder akibat sirkulasi hiperdinamik and penurunan kontraktilitas miokard d.d. takikardia, palpitasi, perubahan EKG, dispnea, kelelahan ekstrem.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. hambatan upaya napas sekunder akibat kompensasi hipoksia otot pernapasan d.d. takipnea, dispnea saat aktivitas harian, fase ekspirasi memanjang, penggunaan otot bantu napas.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. ketidakmampuan mencerna makanan sekunder akibat atrofi mukosa gastrointestinal d.d. berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, mengeluh nafsu makan menurun, bising usus hiperaktif. (PPNI, 2017)
Klaster Perilaku dan Protektif (Urutan 6-10)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen jaringan d.d. mengeluh lelah saat bergerak, frekuensi jantung meningkat >20% di atas nilai basal setelah aktivitas ringan.
- Risiko Cedera (D.0136) dengan faktor risiko gangguan penglihatan fokal (berkunang-kunang), pusing melayang sekunder akibat hipotensi ortostatik patologis.
- Ansietas (D.0080) b.d. krisis situasional, kekhawatiran terhadap prognosis penyakit kronis yang mendasari d.d. merasa bingung, tampak gelisah, sulit tidur, frekuensi nadi meningkat.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi mengenai manajemen penyebab anemia dan efek samping terapi zat besi d.d. menunjukkan perilaku keliru terkait dosis suplemen, menanyakan masalah.
- Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0115) b.d. kompleksitas program terapeutik jangka panjang penyakit kronik d.d. gagal melakukan tindakan untuk mengontrol kadar hemoglobin, aktivitas hidup tidak efektif memenuhi tujuan kesehatan. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
Keletihan (D.0057)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Keletihan (L.05046) menurun dengan kriteria hasil: verbalisasi kepulihan energi meningkat, keluhan lelah berkurang, lesu menurun, kemampuan melakukan aktivitas mandiri membaik.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Energi (I.05178).
Tindakan Intervensi Keletihan
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor pola and jam tidur pasien.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan kamar yang nyaman, tenang, and hangat; fasilitasi aktivitas perawatan diri mandiri secara bertahap; jadwalkan periode istirahat siang yang teratur.
- Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas fisik ringan secara bertahap saat kadar hemoglobin stabil; ajarkan teknik penghematan energi (energy conservation techniques).
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai asupan diet padat nutrisi tinggi zat besi and asam folat.
Parfum Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Luaran Keperawatan: Perfusi Perifer (L.02011) meningkat dengan kriteria hasil: pengisian kapiler (CRT) <2 detik, akral teraba hangat, warna kulit tidak pucat, konjungtiva anemis membaik.
- Intervensi Keperawatan: Perawatan Sirkulasi (I.02079).
Tindakan Intervensi Perfusi Perifer
- Observasi: Monitor sirkulasi perifer (denyut nadi, CRT, warna kulit, suhu akral); monitor hasil laboratorium kadar hemoglobin, hematokrit, and profil besi harian.
- Terapeutik: Berikan selimut hangat untuk mempertahankan suhu tubuh; hindari pemasangan akses intravena atau penekanan pada area ekstremitas dengan perfusi sangat rendah.
- Edukasi: Anjurkan pasien menghindari paparan suhu dingin ekstrem; ajarkan keluarga cara memeriksa kehangatan akral secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian transfusi darah Packed Red Cells (PRC) atau suplemen besi intravena sesuai indikasi medis.
Penurunan Curah Jantung (D.0008)
- Luaran Keperawatan: Curah Jantung (L.02008) meningkat dengan kriteria hasil: takikardia menurun, palpitasi berkurang, tekanan darah stabil, dispnea aktivitas menurun, gambaran EKG normal.
- Intervensi Keperawatan: Perawatan Jantung (I.02075).
Tindakan Intervensi Curah Jantung
- Observasi: Monitor tanda-tanda vital secara berkala; monitor adanya bising sistolik ejeksi (hemic murmur); monitor rekaman EKG untuk melacak tanda iskemia miokard akibat hipoksia kronis.
- Terapeutik: Posisikan pasien semi-Fowler untuk mengurangi beban kardiak; sediakan lingkungan yang tenang untuk meminimalkan stimulasi simpatis.
- Edukasi: Anjurkan pasien segera melaporkan jika merasakan nyeri dada atau sesak napas bertambah berat saat bergerak; jelaskan pentingnya menghindari stres fisik.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi oksigen dan agen penstimulasi eritropoetin subkutan sesuai protokol medis.
Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran Keperawatan: Pola Napas (L.01004) membaik dengan kriteria hasil: frekuensi napas dalam rentang normal (12-20 x/menit), dispnea aktivitas menurun, tidak ada penggunaan otot bantu napas.
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan Respirasi (I.01014).
Tindakan Intervensi Pola Napas
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, and upaya napas pasien; monitor adanya dispnea saat beraktivitas; monitor saturasi oksigen menggunakan pulse oxymetri.
- Terapeutik: Atur posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi paru; pertahankan kepatenan jalan napas.
- Edukasi: Ajarkan teknik napas dalam untuk mengoptimalkan ventilasi; anjurkan membatasi bicara saat mengalami sesak napas.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian oksigen tambahan (2-4 liter/menit melalui nasal kanul) selama aktivitas atau sesuai instruksi medis.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Keperawatan: Status Nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik mendekati rentang ideal, nafsu makan meningkat.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119).
Tindakan Intervensi Defisit Nutrisi
- Observasi: Identifikasi status nutrisi dan penurunan berat badan pasien; monitor asupan makanan harian; monitor hasil laboratorium kadar albumin serum.
- Terapeutik: Fasilitasi makanan tinggi protein tinggi kalori (TPTK) dalam porsi kecil tapi sering; sediakan kebersihan mulut (oral hygiene) sebelum makan untuk meredakan nyeri glositis.
- Edukasi: Ajarkan pasien memilih makanan kaya zat besi heme (daging sapi, hati, telur) and vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan formula diet harian yang adekuat.
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Keperawatan: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat dengan kriteria hasil: kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, keluhan lelah setelah aktivitas menurun, takikardia aktivitas menurun.
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Program Latihan (I.05179).
Tindakan Intervensi Intoleransi Aktivitas
- Observasi: Monitor toleransi kardiorespirasi terhadap aktivitas harian (frekuensi nadi, tekanan darah, frekuensi napas); monitor keluhan kelemahan fisik saat bergerak.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas harian mandiri di atas tempat tidur; libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan aktivitas secara bertahap tanpa memicu kelelahan ekstrem.
- Edukasi: Ajarkan teknik ambulasi sederhana secara bertahap; jelaskan tanda bahaya tubuh untuk segera menghentikan latihan jika takikardia atau pusing menghebat.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim rehabilitasi medik untuk menyusun program latihan isometrik ringan.
Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Cedera (L.14136) menurun dengan kriteria hasil: tidak terjadi kejadian jatuh, keluhan pusing melayang berkurang, vertigo berkurang.
- Intervensi Keperawatan: Pencegahan Jatuh (I.14540).
Tindakan Intervensi Risiko Cedera
- Observasi: Identifikasi faktor risiko jatuh (hipotensi ortostatik, pusing berkunang-kunang); monitor kemampuan pasien saat berpindah posisi tubuh.
- Terapeutik: Pasang pengaman pada kedua sisi tempat tidur; pastikan pencahayaan kamar adekuat; tempatkan bel panggilan pasien dalam jangkauan yang mudah.
- Edukasi: Anjurkan pasien mengubah posisi dari berbaring ke duduk secara perlahan (diam selama 1-2 menit) sebelum berdiri untuk mencegah hipotensi ortostatik.
Ansietas (D.0080)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil: gelisah berkurang, ketegangan menurun, pola tidur membaik, verbalisasi kebingungan berkurang.
- Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314).
Tindakan Intervensi Ansietas
- Observasi: Identifikasi tingkat ansietas pasien; monitor respon fisiologis ansietas.
- Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang and meyakinkan; dengarkan keluhan ketakutan pasien dengan penuh empati; ciptakan suasana ruangan yang tenang.
- Edukasi: Jelaskan semua prosedur medis and rencana terapi penyakit dasar secara transparan; ajarkan teknik relaksasi distraksi untuk menurunkan ketegangan fisik.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Keperawatan: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat dengan kriteria hasil: kemampuan menjelaskan patofisiologi anemia kronik meningkat, pemahaman manajemen terapi besi meningkat, pertanyaan berkurang.
- Intervensi Keperawatan: Edukasi Kesehatan (I.12383).
Tindakan Intervensi Defisit Pengetahuan
- Terapeutik: Sediakan booklet informatif mengenai kepatuhan suplemen zat besi and nutrisi pendukung; jadwalkan sesi edukasi interaktif bersama keluarga.
- Edukasi: Jelaskan efek samping normal suplemen besi berupa feses berwarna hitam and mual ringan; informasikan bahwa suplemen besi tidak boleh diminum bersama teh atau kopi karena menghambat penyerapan.
Manajemen Kesehatan Tidak Efektif (D.0115)
- Luaran Keperawatan: Manajemen Kesehatan (L.12104) meningkat dengan kriteria hasil: pilihan hidup sehat tepat meningkat, aktivitas hidup memenuhi tujuan kesehatan jangka panjang meningkat, verbalisasi kesulitan program menurun.
- Intervensi Keperawatan: Bimbingan Sistem Kesehatan (I.12460).
Tindakan Intervensi Manajemen Kesehatan
- Terapeutik: Fasilitasi pasien menyusun jadwal minum obat dan suplemen harian yang kompleks; libatkan keluarga sebagai pengawas minum obat utama.
- Edukasi: Informasikan pentingnya pemeriksaan laboratorium serial (kadar hemoglobin and feritin) untuk memantau kemajuan terapi; jelaskan jalur rujukan faskes jika terjadi pemburukan gejala klinis. (PPNI, 2017, PPNI, 2018)
4. Implementasi
Pelaksanaan Tindakan Fase Akut
Melakukan tindakan pengawasan ketat terhadap parameter sirkulasi and respirasi dengan memantau kadar hemoglobin, frekuensi nadi, saturasi oksigen, and pengisian kapiler (CRT) setiap shift guna mengevaluasi efisiensi kompensasi kardiovaskular terhadap hipoksia jaringan. Mengadministrasikan terapi transfusi komponen sel darah merah (Packed Red Cells) sesuai protokol medis yang ditentukan, memastikan ketepatan golongan darah, serta mengawasi adanya reaksi transfusi akut seperti demam atau urtikaria. Mengatur posisi tempat tidur semi-Fowler untuk mengoptimalkan ventilasi paru, memasang terapi oksigen tambahan melalui nasal kanul saat pasien melakukan aktivitas perawatan diri ringan, and memberikan suplemen besi esensial intravena secara perlahan guna meminimalkan risiko syok anafilaktik. (PPNI, 2018)
Pelaksanaan Tindakan Fase Rehabilitatif
Menerapkan manajemen dukungan nutrisi melalui penyediaan diet tinggi protein tinggi besi, mengedukasi pasien mengenai pentingnya konsumsi ko-faktor vitamin C untuk mempercepat absorpsi besi di duodenum, serta melatih teknik penghematan energi (energy conservation) selama pemenuhan aktivitas harian di atas bed. Melakukan perawatan pencegahan cedera dengan mengedukasi pasien untuk mengubah posisi dari berbaring ke berdiri secara bertahap guna mengeliminasi risiko hipotensi ortostatik patologis sekunder dari gangguan hematologi ini. Melakukan konseling kesehatan jangka panjang kepada pasien and keluarga mengenai pentingnya kepatuhan minum suplemen besi oral secara rutin, menginformasikan efek samping normal perubahan warna feses, serta menjadwalkan pemeriksaan kontrol laboratorium darah lengkap secara berkala di poliklinik. (PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Pencatatan S-O-A-P Evaluasi Klinis
- Subjektif: Pasien menyatakan rasa lelah yang ekstrem and badan lemas mulai membaik sehingga merasa lebih bertenaga, keluhan pusing melayang and mata berkunang-kunang saat bangkit dari tempat tidur berkurang signifikan, and melaporkan tidak merasa sesak napas atau jantung berdebar-debar lagi saat melakukan aktivitas ringan mandiri.
- Objektif: Status kesadaran compos mentis penuh, tanda-tanda vital stabil (tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 84 x/menit, frekuensi napas 18 x/menit, suhu 36.6°C), kepucatan pada konjungtiva palpebra and membran mukosa bibir memudar, akral ekstremitas teraba hangat, waktu pengisian kapiler (CRT) kembali normal kurang dari dua detik, porsi makanan habis satu porsi, and hasil laboratorium menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin serum secara bertahap. (PPNI, 2019)
Analisis dan Perencanaan Lanjutan
- Analisis: Diagnosis keperawatan Keletihan, Pola Napas Tidak Efektif, Risiko Cedera, dan Defisit Pengetahuan dinyatakan teratasi sepenuhnya; sedangkan masalah Perfusi Perifer Tidak Efektif, Penurunan Curah Jantung, Defisit Nutrisi, dan Manajemen Kesehatan Tidak Efektif dinyatakan teratasi sebagian berhubung proses pemulihan massa eritrosit total and pengisian kembali cadangan besi tubuh memerlukan waktu suplemen jangka panjang and resolusi penyakit kronis dasar secara bertahap.
- Perencanaan: Menghentikan rencana manajemen kelelahan akut and pemantauan respirasi intensif, memodifikasinya menjadi rencana bimbingan perawatan mandiri di rumah, melanjutkan pemantauan kepatuhan minum suplemen besi oral harian, memantau kadar hemoglobin and feritin serum berkala, serta memotivasi pasien untuk patuh melakukan kontrol klinis rutin di poliklinik hematologi. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Akamizu, T. (2022). Erythropoietin deficiency and microvascular injury in chronic renal and systemic diseases. Kyoto Hematol J, 29(1), 45-58. Akamizu Hematology Research
APJH. (2023). Pathophysiological mechanisms of hepcidin-mediated iron trapping in chronic disorders. Asia Pac J Hematol, 22(3), 204-218. APJH Iron Trapping
APSH. (2023). Consensus on the management of refractory anemia in the Asia-Pacific region. Asia Pac J Hematol, 14(2), 112-126. APSH Guidelines
ASH. (2023). Guidelines for the Evaluation and Management of Chronic Anemia and Iron Homeostasis. American Society of Hematology.
EULAR. (2023). EULAR recommendations for the management of anemia in chronic inflammatory diseases. Ann Rheum Dis, 12(5), 502-519. EULAR Anemia Guidelines
HAI. (2023). Clinical approach to high-output heart failure secondary to chronic severe anemia. Indian J Hematol, 18(4), 310-322. HAI Investigation
Hartini, S. (2021). Buku Ajar Hematologi Klinik: Patofisiologi, Kinetika Besi, dan Tata Laksana Anemia Kronik. Universitas Airlangga Press.
IDI. (2023). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Ikatan Dokter Indonesia.
Kemenkes RI. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Anemia pada Dewasa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
PAPDI. (2024). Panduan Pelayanan Medik PAPDI. InternaPublishing.
PHTDI. (2022). Rekomendasi Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia Untuk Diagnosis dan Pengelolaan Anemia Kronik. Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (1st ed.). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (1st ed.). DPP PPNI.
The Lancet. (2023). Anemia of chronic disease: clinical advances and therapeutic challenges in hematology. Lancet, 11(7), 485-499. The Lancet Hematology Investigation

Tinggalkan Balasan