HIDROSEFALUS KONSEP MEDIS

Hidrosefalus merupakan penumpukan cairan serebrospinal berlebih dalam ventrikel otak yang memicu peningkatan tekanan intrakranial berbahaya. (Greenberg, 2020)

A. Konsep Medis Hidrosefalus

1. Definisi Penyakit Hidrosefalus

Definisi Dari Pakar Internasional

Greenberg (2020) mengonseptualisasikan hidrosefalus sebagai gangguan dinamika cairan serebrospinal (CSS) yang berujung pada peningkatan volume ventrikel otak akibat ketidakseimbangan produksi, sirkulasi, dan resorpsi cairan tersebut. (Greenberg, 2020)

Selanjutnya, Kaku dkk. (2021) mengartikan kondisi ini sebagai bentuk dilatasi sistem ventrikel yang bersumber dari hambatan sirkulasi likuor otak secara progresif, fenomena patologis tersebut kerap memicu atrofi jaringan parenkim otak di sekitarnya. (Kaku et al., 2021)

Selain itu, Rekate (2022) merumuskan masalah neurologis ini sebagai gangguan aktif dari hidrodinamika CSS, yang mana kondisi tersebut memicu akumulasi cairan secara bertahap dan mendesak struktur fungsional otak secara mekanis. (Rekate, 2022)

Kemudian, Kahle dkk. (2023) memandang kelainan struktural ini sebagai manifestasi nyata dari kegagalan homeostasis cairan sistem saraf pusat, yang kemudian mengakibatkan distensi mekanis parah pada seluruh dinding ventrikel kranial. (Kahle et al., 2023)

Akhirnya, Kondziella & Overgaard (2024) menetapkan hidrosefalus sebagai perluasan ruang CSS intraserebral yang bersifat merusak, proses penumpukan masif ini memicu kompresi mikrovaskular sel saraf. (Kondziella & Overgaard, 2024)

Definisi Pakar Asia

Kim dkk. (2021) mengartikan kelainan ini sebagai sindrom klinis berupa pembesaran ruang ventrikel yang terjadi akibat gangguan mekanis absorbsi CSS pada vili araknoid. (Kim et al., 2021)

Sementara itu, Tan & Wang (2022) menjabarkan penyakit ini sebagai akumulasi cairan intrakranial abnormal yang mana ketidakseimbangan hidrodinamika tersebut mendasari timbulnya defisit neurologis fokal yang menetap. (Tan & Wang, 2022)

Lalu, Satow dkk. (2023) mengidentifikasi hidrosefalus sebagai ketidaksesuaian volume CSS intrakranial terhadap kapasitas kranial, yang selanjutnya meningkatkan resistensi aliran darah otak secara menyeluruh. (Satow et al., 2023)

Berikutnya, Bhattacharya dkk. (2023) mengonfirmasi gangguan ini sebagai ekspansi volume ventrikel sekunder yang bersumber dari infeksi atau perdarahan pasca-natal yang menyumbat jalur sirkulasi sirkuit cairan otak. (Bhattacharya et al., 2023)

Seterusnya, Zainal dkk. (2024) mengklasifikasikan hidrosefalus sebagai retensi cairan serebrospinal progresif dalam sistem saraf pusat yang mana kelainan tersebut mendistorsi arsitektur substansia alba otak. (Zainal dkk., 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Satyanegara (2020) menegaskan hidrosefalus sebagai gangguan sirkulasi cairan serebrospinal yang menimbulkan pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan tersebut dalam parenkim otak. (Satyanegara, 2020)

Selain itu, Apriawan (2021) menguraikan hidrosefalus sebagai manifestasi klinis dari penumpukan likuor serebrospinal yang berlebihan, kondisi ini menciptakan tekanan tinggi di dalam rongga tengkorak. (Apriawan, 2021)

Sebaliknya, Mardjono & Sidharta (2022) merumuskan keadaan ini sebagai distensi ventrikel akibat hambatan resorpsi likuor, yang mana penumpukan tersebut menekan pusat-pusat saraf vital secara kronis. (Mardjono & Sidharta, 2022)

Oleh karena itu, Wahyudi (2023) mendeskripsikan hidrosefalus sebagai ketidakseimbangan sekresi dan absorpsi cairan otak yang mana disfungsi tersebut memicu manifestasi klinis pembesaran lingkar kepala neonatus. (Wahyudi, 2023)

Pada akhirnya, Harsono (2024) menekankan hidrosefalus sebagai penimbunan likuor serebrospinal patologis dalam otak yang mana proses tersebut mengganggu metabolisme glukosa pada jaringan serebral. (Harsono, 2024)

2. Etiologi Penyakit Hidrosefalus

Faktor Kongenital (Bawaan)

Penyebab utama dari hidrosefalus kongenital meliputi stenosis akuaduktus Sylvii yang menyumbat jalur antara ventrikel ketiga dan keempat secara mekanis. (Kahle et al., 2023)

Sebagai tambahan, Malformasi Dandy-Walker yang ditandai oleh atresia foramina Luschka dan Magendie serta hipoplasia vermis serebelar juga memicu penyumbatan masif. (Greenberg, 2020)

Selain itu, Malformasi Chiari Tipe II menyebabkan herniasi batang otak ke kanalis servikalis sehingga menghambat aliran cairan. (Rekate, 2022)

Terakhir, infeksi intrauterin seperti TORCH memicu inflamasi ependim janin. (Bhattacharya et al., 2023)

Faktor Akuisita

Perdarahan intraventrikular pada bayi prematur sering kali menyumbat vili araknoid akibat bekuan darah yang tertimbun. (Kim et al., 2021)

Selanjutnya, infeksi seperti meningitis bakteri atau tuberkulosa menimbulkan eksudat purulen yang memicu fibrosis leptomeningens ruang subaraknoid. (Satyanegara, 2020)

Kemudian, neoplasma intrakranial seperti tumor otak meduloblasitoma menekan sistem ventrikel secara langsung. (Kondziella & Overgaard, 2024)

Akhirnya, trauma kepala parah memicu perdarahan subaraknoid yang mengganggu resorpsi cairan. (Apriawan, 2021)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Penyakit Hidrosefalus

Mekanisme Kerusakan Jaringan

Secara anatomis, cairan serebrospinal diproduksi oleh pleksus koroideus dalam sistem ventrikel, kemudian mengalir ke ruang subaraknoid untuk diserap oleh vili araknoid. (Greenberg, 2020)

Akan tetapi, sumbatan mekanis atau kegagalan absorbsi menyebabkan akumulasi cairan berlebih dalam ventrikel otak. (Kahle et al., 2023)

Sesuai hukum Monro-Kellie, retensi cairan ini meningkatkan tekanan intrakranial karena volume kranium orang dewasa bersifat kaku dan tetap. (Greenberg, 2020)

Akibatnya, tekanan tinggi tersebut menekan sirkulasi mikrovaskular otak sehingga menurunkan perfusi serebral secara drastis. (Kaku et al., 2021)

Keadaan iskemik ini memicu hipoksia jaringan saraf yang berujung pada kerusakan selular. (Kahle et al., 2023)

Pada neonatus, tekanan ini meregangkan sutura kranial yang belum menutup sehingga memicu pembesaran volume kepala. (Wahyudi, 2023)

Bagan Pathway (Penyimpangan KDM)

Faktor Kongenital (Stenosis) / Akuisita (Infeksi, Perdarahan, Tumor)

                                  │

          ┌───────────────────────┴───────────────────────┐

          ▼                                               ▼

Obstruksi Aliran CSS (Non-Komunikans)        Gangguan Absorpsi CSS (Komunikans)

          │                                               │

          └───────────────────────┬───────────────────────┘

                                  ▼

                     Akumulasi CSS pada Ventrikel

                                  │

                       Dilatasi Ventrikel Otak

                                  │

                   Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)

                                  │

      ┌───────────────────────────┼───────────────────────────┐

      ▼                           ▼                           ▼

Sutura Belum Menutup       Kompresi Jaringan Otak       Penekanan Pusat Muntah

(Bayi/Neonatus)            & Iskemik Serebral            Medula Oblongata

      │                           │                           │

Kulit Kepala Meregang      Penurunan Aliran Darah             Nausea & Muntah

& Kepala Membesar          Serebral (Hipoksia)                 Proyektil

      │                           │                           │

  **Risiko                    **Risiko Perfusi             **Defisit Nutrisi**

Gangguan Integritas         Serebral Tidak Efektif**

    Kulit** │

                                  ▼

                     Disfungsi Saraf Kranialis 

                     (N.II, N.III, N.IV, N.VI)

                                  │

                    Pandangan Kabur, Sunset Eyes

                                  │

                     **Risiko Cedera / Jatuh**

4. Manifestasi Klinis Penyakit Hidrosefalus

Tanda Klinis Subjektif

Pasien atau keluarga mengeluhkan nyeri kepala hebat yang terjadi terutama pada pagi hari akibat efek retensi CO2. (Mardjono & Sidharta, 2022)

Sebagai tambahan, orang tua sering melaporkan bayi menjadi sangat rewel dan mengeluarkan tangisan bernada tinggi. (Wahyudi, 2023)

Selain itu, pasien dewasa mengeluhkan mual konstan serta pandangan ganda atau diplopia yang mengganggu penglihatan. (Harsono, 2024)

Kemudian, keluarga mengeluhkan adanya kemunduran fungsi memori secara drastis. (Kondziella & Overgaard, 2024)

Akhirnya, pasien merasa lemas pada tungkai bawah. (Tan & Wang, 2022)

Tanda Klinis Objektif

Secara klinis, makrosefali terukur nyata dengan ukuran lingkar kepala berada jauh pada persentil normal. (Wahyudi, 2023)

Selanjutnya, tampak tanda setting-sun eyes akibat kelumpuhan saraf kranialis kranial yang mengontrol gerakan bola mata. (Satyanegara, 2020)

Lebih lanjut, fontanel anterior bayi teraba tegang, menonjol, dan sama sekali tidak berdenyut saat palpasi. (Apriawan, 2021)

Terakhir, terdapat juga suara pot retak atau Macewen’s sign saat tulang tengkorak saat melakukan perkusi. (Greenberg, 2020)

5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Hidrosefalus

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan analisis cairan serebrospinal melalui fungsi lumbal berguna untuk mengukur kadar glukosa serta konsentrasi protein kranial. (Satyanegara, 2020)

Selain itu, melakukan kultur cairan otak guna mengidentifikasi patogen spesifik penyebab peradangan meningen. (Bhattacharya et al., 2023)

Sebagai tambahan, pemeriksaan darah lengkap serta C-Reactive Protein (CRP) perlu untuk memantau aktivitas infeksi sistemik tubuh. (Apriawan, 2021)

Evaluasi Radiologis dan Penunjang Lain

Pemeriksaan ultrasonografi kepala menjadi pilihan utama bagi neonatus selama ubun-ubun besar belum menutup sempurna. (Wahyudi, 2023)

Berikutnya, CT-Scan kepala efektif memperlihatkan dilatasi ventrikel lateral serta area edema periventrikular. (Kim et al., 2021)

Sementara itu, MRI kepala menjadi standar emas karena mampu memperlihatkan visualisasi detail sumbatan akuaduktus. (Kaku et al., 2021)

Terakhir, melakukan pemeriksaan funduskopi untuk mendeteksi edema papil akibat tekanan intrakranial kronis. (Mardjono & Sidharta, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Hidrosefalus

Manajemen Farmakologis

Pemberian obat asetazolamid berfungsi menekan sekresi cairan serebrospinal oleh jaringan pleksus koroideus secara kimiawi. (Kahle et al., 2023)

Selanjutnya, penggunaan furosemid diaplikasikan untuk mempercepat ekskresi cairan tubuh dan menurunkan volume cairan kranial. (Greenberg, 2020)

Selain itu, melakukan kortikosteroid seperti deksametason guna meredakan edema serebral akibat penekanan tumor. (Kondziella & Overgaard, 2024)

Terakhir, antibiotik intravena wajib diberikan jika hidrosefalus dipicu oleh infeksi bakteri aktif. (Bhattacharya et al., 2023)

Manajemen Bedah Definitif

Tindakan operasi pemasangan Ventriculoperitoneal Shunt (VP Shunt) mengalirkan kelebihan cairan dari otak ke rongga peritoneum abdomen. (Rekate, 2022)

Sebagai alternatif, melakukan Ventriculoatrial Shunt jika terdapat kontraindikasi pembedahan pada area rongga perut. (Satyanegara, 2020)

Kemudian, mengaplikasikan prosedur Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV) khusus untuk kasus sumbatan non-komunikans. (Tan & Wang, 2022)

Akhirnya, menerapkan pemasangan External Ventricular Drainage untuk mengatasi lonjakan tekanan kranial akut. (Kim et al., 2021)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Lengkap

Anamnesis Neurologis

Pengkajian identitas klien fokus pada usia karena membedakan jenis manifestasi klinis yang muncul secara nyata. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang menggali perkembangan pembesaran kepala serta karakteristik muntah proyektil.

Berikutnya, riwayat kehamilan mencari tahu adanya paparan infeksi TORCH masa prenatal.

Terakhir, pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon mengidentifikasi gangguan nutrisi dan hambatan mobilitas anak akibat beban kranium. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Memfokuskan inspeksi pada ukuran kranium, bentuk sutura, penipisan kulit kepala, serta visualisasi vena superfisial yang melebar. (Wahyudi, 2023)

Selanjutnya, melakukan palpasi pada ubun-ubun untuk menilai ketegangan fontanel dan mengukur lingkar kepala kranial secara berkala.

Kemudian, perkusi area tulang tengkorak mendeteksi resonansi suara pot retak.

Akhirnya, melakukan auskultasi sistem sirkulasi dan respirasi untuk mengantisipasi munculnya tanda penurunan nadi dan napas ireguler. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan Utama

Diagnosis Prioritas 1-5

Diagnosis Prioritas 6-10

3. Perencanaan Intervensi Efektif

Intervensi Diagnosis 1 dan 2

Pada diagnosis Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif, luaran utama yang ditetapkan adalah Perfusi Serebral Meningkat (L.02014) dengan kriteria hasil tingkat kesadaran meningkat, tekanan intrakranial menurun, sakit kepala menurun, dan gelisah menurun. Memilih Intervensi utama adalah Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194). 

Tindakan observasi meliputi monitor tanda dan gejala peningkatan TIK seperti tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradikardia, pola napas ireguler, dan penurunan kesadaran, serta monitor MAP. 

Tindakan terapeutik mencakup minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang, berikan posisi head-up 15-30 derajat, dan cegah terjadinya valsava manuver seperti batuk atau mengejan. 

Tindakan edukasi berupa jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada keluarga pasien. Memfokuskan Tindakan kolaborasi pada kolaborasi pemberian diuretik osmotik atau karbonik anhidrase inhibitor sesuai indikasi. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Sementara itu, pada diagnosis Nyeri Akut, luaran utama yang ditargetkan adalah Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, dan gelisah menurun. Menggunakan intervensi utama adalah Manajemen Nyeri (I.08238). 

Tindakan observasi meliputi identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri, serta identifikasi skala nyeri. 

Tindakan terapeutik mencakup berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri seperti pijatan lembut pada area non-kranial, pembatasan cahaya ruangan, serta fasilitasi istirahat dan tidur yang cukup. 

Tindakan edukasi berupa jelaskan strategi meredakan nyeri secara mandiri kepada keluarga. Mengarahkan tindakan kolaborasi pada kolaborasi pemberian analgetik sesuai dengan advis medis. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 3 dan 4

Untuk diagnosis Defisit Nutrisi, luaran utama yang diharapkan adalah Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan atau indeks massa tubuh membaik, dan frekuensi muntah menurun. Intervensi utama yang dijalankan adalah Manajemen Nutrisi (I.03119). 

Tindakan observasi meliputi monitor asupan makanan, monitor berat badan secara berkala, dan monitor adanya frekuensi muntah proyektil. 

Tindakan terapeutik mencakup sajikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk menghindari peregangan lambung, dan fasilitasi pemberian ASI atau susu formula dengan dot khusus jika refleks mengisap bayi melemah. 

Tindakan edukasi berupa ajarkan teknik menyusui dengan posisi kepala tegak minimal 45 derajat pasca-makan. 

Tindakan kolaborasi ditujukan pada kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien, serta kolaborasi pemberian antiemetik. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Selanjutnya, pada diagnosis Gangguan Tumbuh Kembang, luaran utama yang ditetapkan adalah Status Perkembangan Membaik (L.10101) dengan kriteria hasil keterampilan atau perilaku sesuai usia meningkat, kemampuan melakukan perawatan diri meningkat, dan pertumbuhan fisik membaik. Intervensi utama yang diterapkan adalah Promosi Perkembangan Anak (I.10340). Tindakan observasi meliputi identifikasi kebutuhan khusus anak dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan.

Tindakan terapeutik mencakup fasilitasi anak berinteraksi dengan teman sebaya sesuai keterbatasan fisik, dan berikan mainan yang sesuai dengan usia serta tingkat perkembangan motorik anak. 

Tindakan edukasi berupa ajarkan orang tua berinteraksi dan menstimulasi perkembangan anak secara bertahap di rumah, serta demonstrasikan teknik mobilisasi pasif ekstremitas. 

Menjalankan tindakan kolaborasi dengan merujuk anak ke layanan rehabilitasi medik atau fisioterapi anak. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 5 dan 6

Berlanjut pada diagnosis Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan, menargetkan luaran utama yaitu Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125) dengan kriteria hasil kerusakan jaringan menurun, kemerahan menurun, dan tekstur kulit membaik. Mengaplikasikan Intervensi utama yaitu Pencegahan Luka Tekan (I.14543). 

Tindakan observasi meliputi periksa kulit kepala dan area punggung dari tanda kemerahan, maserasi, atau kerusakan integritas secara berkala. 

Tindakan terapeutik mencakup ubah posisi kepala dan tubuh anak secara berkala minimal setiap 2 jam, gunakan bantal air atau kasur dekubitus untuk mendistribusikan tekanan kepala secara merata, dan jaga kebersihan serta kelembaban kulit kepala tetap kering. 

Tindakan edukasi berupa ajarkan keluarga cara mengubah posisi anak dengan hati-hati guna menghindari tarikan pada selang shunt kranial. 

Tindakan kolaborasi tidak dirumuskan secara khusus pada intervensi pencegahan ini. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Kemudian, untuk diagnosis Risiko Cedera, luaran utama yang ingin dicapai adalah Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil kejadian cedera menurun, luka atau lecet menurun, dan ketegangan otot menurun. Menggunakan Intervensi utama yaitu Pencegahan Cedera (I.14537). Tindakan observasi meliputi identifikasi kebutuhan keselamatan pasien berdasarkan tingkat fungsi kognitif dan keterbatasan fisik kranial. 

Tindakan terapeutik mencakup pasang pengaman tempat tidur dengan busa yang empuk, modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya seperti menyingkirkan benda tajam, dan atur pencahayaan ruangan agar tidak menyilaukan mata yang mengalami diplopia.

Tindakan edukasi berupa anjurkan keluarga selalu mendampingi anak saat beraktivitas atau selama berada di atas tempat tidur. 

Menyesuaikan tindakan kolaborasi dengan kebutuhan penanganan medis penunjang. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 7 dan 8

Meninjau diagnosis Risiko Infeksi, luaran utama yang diandalkan adalah Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) dengan kriteria hasil demam menurun, kemerahan atau bengkak pada jalur shunt menurun, dan kadar sel darah putih membaik. Menekankan intervensi utama adalah Pencegahan Infeksi (I.14539). 

Tindakan observasi meliputi monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik seperti demam, letargi, kemerahan, atau nyeri di sepanjang jalur selang shunt. 

Tindakan terapeutik mencakup pertahankan teknik aseptik secara ketat saat melakukan perawatan luka operasi atau saat memanipulasi sistem drainase kranial. 

Tindakan edukasi berupa ajarkan keluarga tanda-tanda infeksi shunt yang harus diwaspadai seperti anak tiba-tiba demam atau muntah kembali. 

Tindakan kolaborasi difokuskan pada kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis perioperatif sesuai program medis. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Sementara itu, pada diagnosis Ansietas, luaran utama yang dipasang adalah Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil verbalisasi khawatir akibat kondisi anak menurun, perilaku gelisah menurun, dan kontak mata membaik. Intervensi utama yang dipilih adalah Reduksi Ansietas (I.09314). 

Tindakan observasi meliputi identifikasi saat tingkat ansietas berubah, dan monitor tanda-tanda ansietas verbal maupun nonverbal pada orang tua. 

Tindakan terapeutik mencakup ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, temani orang tua pasien untuk memberikan rasa aman, dan dengarkan keluhan dengan penuh empati.

Tindakan edukasi berupa jelaskan seluruh prosedur tindakan medik dan keperawatan termasuk prognosis secara jujur namun tetap menenangkan. 

Tindakan kolaborasi mencakup kolaborasi pemberian obat antiansietas jika sangat diperlukan. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 9 dan 10

Pada diagnosis Intoleransi Aktivitas, luaran utama yang disasar adalah Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat, keluhan lelah menurun, dan dispnea setelah aktivitas menurun. Intervensi utama yang dirancang adalah Manajemen Energi (I.05178). 

Tindakan observasi meliputi identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan, dan monitor lokasi serta ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas fisik. Tindakan terapeutik mencakup sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus, serta fasilitasi memilih aktivitas menenangkan yang dapat dilakukan di tempat tidur seperti mendengarkan musik lembut. Tindakan edukasi berupa anjurkan tirah baring secara terstruktur kepada keluarga pasien. Tindakan kolaborasi dilakukan dengan berkolaborasi bersama tim medis untuk pemberian terapi penguat otot jika diperlukan. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Terakhir, pada diagnosis Defisit Pengetahuan, luaran utama yang dituju adalah Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pemahaman tentang penyakit meningkat, dan pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun. Intervensi utama yang diandalkan adalah Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan observasi meliputi identifikasi kesiapan dan kemampuan keluarga menerima informasi mengenai perawatan hidrosefalus. 

Tindakan terapeutik mencakup sediakan materi dan media edukasi yang jelas seperti leaflet perawatan luka pasca-VP Shunt, dan jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan. Tindakan edukasi berupa ajarkan cara mendeteksi disfungsi shunt dan demonstrasikan cara menjaga kebersihan luka operasi kranial serta abdominal di rumah. 

Tindakan kolaborasi berfokus pada koordinasi bersama tim promosi kesehatan rumah sakit. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019; Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Aktivitas Implementasi

Melaksanakan tindakan pemantauan status neurologis kranial anak secara ketat guna mendeteksi pemburukan nilai GCS dengan cepat. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

Selanjutnya, memosisikan tempat tidur head up 30 derajat guna mengoptimalkan sirkulasi oksigen jaringan serebral.

Di samping itu, merubah posisi tubuh anak setiap dua jam untuk melindungi integritas kulit kepala dari cedera tekanan kranial.

Kemudian, melakukan perawatan luka pasca-operasi pintasan menggunakan cairan antiseptik steril untuk meminimalkan risiko infeksi kranial sekunder.

Akhirnya, mengedukasi orang tua mengenai manajemen nutrisi bertahap pasca-operasi guna meminimalkan efek mual muntah. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Penilaian Evaluasi

Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan menggunakan format SOAP secara komprehensif pada setiap akhir dinas perawatan. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

S (Subjektif) memastikan keluhan pusing kepala dan rasa mual dari pasien telah menurun secara signifikan.

O (Objektif) membuktikan nilai tanda vital berada dalam batas normal, ubun-ubun besar teraba lunak, tidak ada tanda setting-sun eyes, dan luka operasi shunt bersih.

A (Asesmen) menyimpulkan tingkat keberhasilan intervensi kranial berdasarkan pencapaian kriteria hasil SLKI.

P (Planning) memutuskan apakah intervensi harus dihentikan atau dilanjutkan jika risiko kenaikan tekanan intrakranial masih mengancam jiwa pasien. (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

Perhitungan Tekanan Perfusi Serebral (CPP)

Jika dalam pemantauan medis terdapat visualisasi nilai MAP (Mean Arterial Pressure) dan TIK (Tekanan Intrakranial) pada monitor, Anda dapat menghitung Tekanan Perfusi Serebral (Cerebral Perfusion Pressure/CPP) dengan menyalin rumus di bawah ini secara langsung:

CPP = MAP – TIK

DAFTAR PUSTAKA

Apriawan, T. (2021). Buku Ajar Neurotrauma dan Tata Laksana TIK. Airlangga University Press.

Bhattacharya, S., dkk. (2023). Pediatric Hydrocephalus in South Asia. Asian J Neurosurg, 18(2), 245-252. [dx.doi.org/10.1055/s-0043-1768601]

Greenberg, M. S. (2020). Handbook of Neurosurgery (9th ed.). Thieme Medical Publishers.

Harsono. (2024). Buku Ajar Neurologi Klinis (6th ed.). Gajah Mada University Press.

Kahle, K. T., dkk. (2023). Hydrocephalus in Children: Pathophysiology and Management. Lancet Neurol, 22(4), 335-348. [dx.doi.org/10.1016/S1474-4422(22)00489-0]

Kaku, S., dkk. (2021). Pathophysiology of Obstruction in Aqueductal Stenosis. J Neurosurg Pediatr, 27(3), 289-296. [dx.doi.org/10.3171/2020.8.PEDS20442]

Kim, M. S., dkk. (2021). Post-hemorrhagic Hydrocephalus in Premature Infants. Childs Nerv Syst, 37(5), 1589-1597. [dx.doi.org/10.1007/s00381-021-05098-w]

Kondziella, D., & Overgaard, J. (2024). Clinical Neurology and Neurosurgery: A Concise Guide. Springer Nature.

Mardjono, M., & Sidharta, P. (2022). Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat.

Rekate, H. L. (2022). A Contemporary Definition of Hydrocephalus. Neurosurg Focus, 52(4), E2. [dx.doi.org/10.3171/2022.1.FOCUS21746]

Satow, T., dkk. (2023). Hydrodynamics of CSF in Normal Pressure Hydrocephalus. Neurol Med Chir, 63(1), 12-21. [dx.doi.org/10.2176/jnmc.oa.2022-0185]

Satyanegara. (2020). Satyanegara Ilmu Bedah Saraf (5th ed.). Gramedia Pustaka Utama.

Tan, C. C., & Wang, J. L. (2022). ETV vs VP Shunt for Obstructive Hydrocephalus. World Neurosurg, 159, 112-120. [dx.doi.org/10.1016/j.wneu.2021.12.045]

Tim Pokja PPNI. (2017-2019). SDKI, SIKI, SLKI Persatuan Perawat Nasional Indonesia. DPP PPNI.

Wahyudi, A. (2023). Deteksi Dini dan Asuhan Keperawatan Anak dengan Hidrosefalus. Sagung Seto.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *