Tabel Integrasi SLKI dan SIKI: Gangguan Sirkulasi Spontan
| Diagnosa | Luaran Utama (SLKI) | Luaran Tambahan (SLKI) | Intervensi Terkait (SIKI) |
| Gangguan Sirkulasi Spontan | Sirkulasi Spontan (L.02015) | Keseimbangan Asam-Basa, Perfusi Gastrointestinal, Perfusi Miokard, Perfusi Perifer, Perfusi Renal, Perfusi Serebral, Status Sirkulasi | 1. Kode Manajemen Henti Jantung (I.02031) 2. Kode Manajemen Jalan Napas Buatan (I.01012) 3. Kode Perawatan Pasca Henti Jantung (I.02071) |
Rincian Intervensi SIKI (OTEK)
Berikut adalah rincian tindakan intervensi dalam situasi kegawatdaruratan sirkulasi:
1. Manajemen Henti Jantung (I.02031)
- Observasi: Periksa keberadaan nadi dan napas secara cepat (tidak lebih dari 10 detik); monitor irama jantung pada monitor EKG; identifikasi penyebab reversibel (6H dan 5T).
- Terapeutik: Lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) berkualitas tinggi; berikan defibrilasi (DC Shock) sesuai indikasi irama (shockable); minimalkan interupsi saat kompresi dada.
- Edukasi: Informasikan keluarga mengenai kondisi kritis dan tindakan resusitasi yang sedang dilakukan; ajarkan bantuan hidup dasar kepada keluarga jika diperlukan di masa mendatang.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian epinefrin, amiodaron, atau obat resusitasi lainnya sesuai protokol ACLS.
2. Manajemen Jalan Napas Buatan (I.01012)
- Observasi: Monitor posisi selang endotrakeal (ETT); periksa pengembangan dada simetris; auskultasi bunyi napas pada kedua lapang paru dan lambung; monitor tekanan balon ETT secara berkala.
- Terapeutik: Lakukan fiksasi selang ETT agar tidak bergeser; berikan oksigenasi 100% sebelum dan sesudah penghisapan lendir (suction); lakukan perawatan mulut secara rutin.
- Edukasi: Jelaskan kepada keluarga tujuan penggunaan alat bantu napas buatan untuk mendukung sirkulasi spontan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis dalam pemasangan dan verifikasi posisi ETT melalui foto toraks.
3. Perawatan Pasca Henti Jantung (I.02071)
- Observasi: Monitor stabilitas hemodinamik (tekanan darah, MAP, nadi); monitor tingkat kesadaran (GCS); monitor output urine untuk menilai Perfusi Renal; monitor saturasi oksigen dan hasil analisa gas darah.
- Terapeutik: Pertahankan suhu tubuh optimal (misal: Targeted Temperature Management); posisikan kepala tempat tidur 30° untuk menjaga Perfusi Serebral; berikan lingkungan yang tenang.
- Edukasi: Jelaskan prosedur perawatan intensif pasca-kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) kepada pihak keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian inotropik atau vasopresor untuk mempertahankan curah jantung dan status sirkulasi sistemik.
Definisi Ilmiah Gangguan Sirkulasi Spontan
Gangguan Sirkulasi Spontan secara ilmiah didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi darah yang adekuat guna mendukung kehidupan secara mandiri, yang ditandai dengan henti jantung atau kegagalan fungsi pompa jantung yang kritis. Secara fisiopatologis, kondisi ini mengakibatkan hipoksia jaringan global dan akumulasi metabolit toksik yang mengganggu Keseimbangan Asam-Basa. Luaran Sirkulasi Spontan (L.02015) berfokus pada kembalinya nadi perifer, frekuensi jantung yang stabil, serta pemulihan perfusi pada organ vital termasuk Perfusi Miokard dan Perfusi Serebral. Intervensi keperawatan diarahkan pada tindakan resusitasi segera serta pemeliharaan stabilitas hemodinamik pasca-resusitasi untuk mencegah kerusakan organ sekunder.
Literatur
- PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan