Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang dapat disertai atau tanpa infeksi, umumnya melanda ibu menyusui dan memicu nyeri hebat serta bengkak.
A. KONSEP MEDIS MASTITIS
- Definisi pada Mastitis
a. Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) (2022) merumuskan mastitis sebagai suatu kondisi inflamasi pada payudara yang dapat disertai atau tanpa infeksi bakteri, yang mana tersumbatnya saluran susu menjadi pemicu awal pembengkakan jaringan parenkim.
Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) (2023) menegaskan bahwa kelainan ini bermanifestasi sebagai infeksi parenkim payudara yang umumnya menyerang wanita menyusui dalam kurun waktu enam minggu pertama pasca-melahirkan.
Selain itu, Mayo Clinic (2024) mendefinisikan kondisi ini sebagai bentuk peradangan jaringan payudara yang menimbulkan rasa sakit, bengkak, kemerahan, dan rasa hangat pada payudara, serta sering kali melibatkan gejala sistemik berupa demam dan menggigil.
Kemudian, Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) (2022) menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan sebuah spektrum peradangan yang bermula dari kongesti duktus, hiperinflamasi jaringan, hingga berlanjut pada infeksi bakteri sediaan air susu ibu.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (2023) mengidentifikasi patologi ini sebagai peradangan akut kelenjar susu yang berisiko memicu komplikasi abses payudara jika tenaga kesehatan terlambat memberikan penanganan klinis secara komprehensif. (WHO, 2022, ACOG, 2023, Mayo Clinic, 2024, ABM, 2022, CDC, 2023)
b. Definisi Pakar Asia
Asian Oncology Society (AOS) (2023) mengategorikan kelainan non-maligna ini sebagai inflamasi akut lobular payudara yang prevalensinya cukup tinggi pada ibu menyusui pada wilayah Asia akibat kurangnya teknik pengosongan payudara secara berkala.
Sejalan dengan itu, National Cancer Center Japan (NCCJ) (2024) mendeskripsikan penyakit tersebut sebagai gangguan inflamasi non-neoplastik pada payudara yang memicu infiltrasi sel-sel radang akut ke dalam stroma payudara dan mengganggu kenyamanan laktasi.
Lebih lanjut, Korean Breast Cancer Society (KBCS) (2023) mengartikan patologi ini sebagai infeksi supuratif akut atau kronis pada parenkim kelenjar susu yang membutuhkan diferensiasi klinis ketat terhadap karsinoma payudara inflamatorik melalui evaluasi fisik.
Oleh karena itu, Chinese Anti-Cancer Association (CACA) (2024) menetapkan kondisi ini sebagai lesi inflamasi payudara yang bermanifestasi berupa massa padat nyeri, yang mana faktor higienitas puting susu memegang peranan penting pada populasi regional Asia.
Pada akhirnya, Singapore Cancer Society (SCS) (2025) menyimpulkan bahwa gangguan laktasi ini melibatkan bendungan air susu yang berlanjut menjadi invasi bakteri patogen, sehingga merusak arsitektur jaringan kelenjar payudara dan menginduksi respons imun lokal. (AOS, 2023, NCCJ, 2024, KBCS, 2023, CACA, 2024, SCS, 2025)
c. Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) (2022) menyatakan bahwa kelainan ini adalah infeksi atau peradangan pada payudara dengan adanya gejala lokal berupa payudara bengkak, mengeras, merah, dan sangat nyeri serta dengan demam tinggi.
Berikutnya, Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) (2023) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai proses inflamasi akut parenkim kelenjar payudara yang penegakan diagnosisnya berdasar pada temuan klinis berupa tanda-tanda radang lokal tanpa komponen malignansi.
Meskipun demikian, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (2024) mengemukakan bahwa gangguan laktasi merupakan kejadian infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, pada jaringan payudara yang masuk melalui celah atau fisura puting susu yang mengalami lecet.
Selain itu, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) (2023) menjabarkan kondisi ini sebagai penyakit radang payudara jinak yang timbul akibat pengosongan ASI yang tidak sempurna, sehingga memicu bendungan dan memberikan media ideal bagi pertumbuhan kuman patogen.
Secara ringkas, Sjamsuhidajat & de Jong (2021) merumuskan dalam literatur bedah Indonesia bahwa inflamasi ini merupakan karsinoma non-spesifik berupa infeksi akut yang mengenai sistem duktus laktiferus, umumnya dialami oleh wanita pada masa nifas. (Kemenkes RI, 2022, PERABOI, 2023, IDI, 2024, YKI, 2023, Sjamsuhidajat & de Jong, 2021)
- Etiologi pada Mastitis
Penyebab utama dari peradangan ini bersifat multifaktorial, namun mekanisme pemicunya berakar pada bendungan ASI dan invasi bakteri patogen ke dalam parenkim payudara.
- Stasis ASI (Bendungan Laktasi): Kegagalan pengosongan payudara secara efektif akibat teknik menyusui yang salah, pelekatan bayi yang tidak sempurna, atau penyumbatan saluran susu (clogged duct) menyebabkan akumulasi ASI di dalam alveoli.
- Invasi Bakteri: Mikroorganisme patogen, dengan Staphylococcus aureus dan Streptococcus sebagai agen tersering, masuk menembus pertahanan kulit melalui celah luka atau fisura pada puting susu yang lecet saat proses menyusui.
- Faktor Risiko Tambahan: Tekanan mekanis eksternal (seperti penggunaan bra yang terlalu ketat), kelelahan fisik yang ekstrem pada ibu nifas, penurunan status imun tubuh, serta riwayat menderita gangguan laktasi sejenis pada persalinan sebelumnya. (ACOG, 2023, Kemenkes RI, 2022)
- Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Proses patofisiologi dengan stasis ASI yang memicu peningkatan tekanan intra-alveolar yang dalam lobulus payudara. Akibatnya, terjadi distensi duktus yang mendorong komponen ASI merembes keluar menembus epitel pembuluh darah menuju stroma jaringan sekitarnya.
Oleh karena itu, keberadaan protein ASI dari luar saluran laktasi ini merangsang respons imun lokal dan memicu inflamasi non-infeksi jaringan. Jika terdapat fisura pada puting susu, bakteri komensal kulit akan bermigrasi ke dalam stroma payudara yang mengalami bendungan tersebut.
Perkembangan kuman patogen memicu pelepasan mediator inflamasi sitokin, menyebabkan vasodilatasi vaskular dan pembengkakan hebat. Akibatnya, timbul nyeri terlokalisasi, eritema kulit payudara, serta respons sistemik berupa demam tinggi akibat pirogen endogen. (ABM, 2022, Smeltzer & Bare, 2018)
Pathway KDM
Stasis ASI (Teknik Menyusui Salah) & Fisura Puting Susu
↓
Peningkatan Tekanan Intra-alveolar / Invasi Bakteri S. aureus
↓
Infiltrasi Kuman ke Stroma Payudara & Inflamasi Akut
↓
Peradangan Parenkim Kelenjar Susu
Jalur Patofisiologis | Dampak Klinis / Mekanisme | Diagnosis Keperawatan Utama |
|---|---|---|
Pelepasan Mediator Inflamasi | Pelepasan histamin, bradikinin → Merangsang nosiseptor → Transmisi impuls nyeri ke otak. | Nyeri Akut (D.0077) |
Pembengkakan & Eritema Lokal | Vasodilatasi kapiler → Akumulasi cairan interstisial → Pembengkakan payudara, kulit tegang. | Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) |
Bendungan ASI & Nyeri Hebat | Ibu membatasi proses menyusui → ASI tidak keluar → Kegagalan laktasi secara efektif. | Menyusui Tidak Efektif (D.0029) |
- Manifestasi Klinis Mastitis
a. Data Subjektif
Pasien umumnya mengeluhkan rasa nyeri yang tajam, berdenyut, dan menetap pada salah satu bagian payudara. Keluhan payudara terasa sangat kencang, penuh, berat, dan panas menyengat sering kali terlaporkan secara mandiri oleh pasien.
Selanjutnya, pasien melaporkan adanya gejala sistemik berupa demam mendadak, menggigil, badan terasa linu (malaise), serta sakit kepala. Ibu juga kerap mengeluhkan kesulitan dan ketakutan mendalam saat hendak menyusui bayinya karena rasa sakit. (Smeltzer & Bare, 2018)
b. Data Objektif
Secara klinis, tampak area eritema berbentuk baji (wedge-shaped) yang kemerahan, hangat saat palpasi, dan bengkak pada jaringan parenkim payudara. Teraba adanya massa padat, keras, berbatas tidak tegas, dengan nyeri tekan yang sangat hebat.
Lebih jauh lagi, dapat muncul juga adanya celah luka atau fisura yang lecet pada area puting susu. Akhirnya, pengukuran tanda-tanda vital menegaskan adanya peningkatan suhu tubuh 38°C keatas dan takikardia sebagai bentuk respons inflamasi sistemik. (Kemenkes RI, 2022, Smeltzer & Bare, 2018)
- Pemeriksaan Penunjang Mastitis
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count) berguna untuk mengevaluasi adanya leukositosis (peningkatan sel darah putih) dengan pergeseran ke kiri yang menandakan infeksi bakteri akut. Sementara itu, melakukan pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) untuk menilai derajat inflamasi sistemik.
Selanjutnya, melakukan kultur sampel air susu ibu (ASI) dari payudara yang sakit guna mengidentifikasi jenis bakteri penyebab dan menentukan sensitivitas antibiotik. Langkah ini sangat krusial jika infeksi bersifat rekuren atau tidak responsif terhadap terapi lini pertama. (WHO, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi (USG) payudara menjadi metode pemeriksaan radiologis utama untuk membedakan inflamasi selulitis biasa dengan pembentukan abses payudara (koleksi cairan hipoekoik terlokalisasi). Sangat merekomendasikan pemeriksaan ini jika teraba massa fluktuatif.
Kemudian, melakukan mamografi tidak pada fase akut karena kompresi payudara akan memicu nyeri yang sangat ekstrem bagi pasien. Namun, dapat menjadwal pemeriksaan ini pasca-inflamasi mereda jika terdapat kecurigaan klinis ke arah keganasan payudara yang mendasari sumbatan. (PERABOI, 2023)
c. Pemeriksaan Lain
Melakukan pemeriksaan sitologi atau biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) khusus pada kasus non-laktasi atau lesi kronis yang menetap setelah pemberian antibiotik penuh. Langkah ini bertujuan untuk menyingkirkan kemungkinan Inflammatory Breast Cancer (IBC). (Kemenkes RI, 2022)
- Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian antibiotik oral yang resisten terhadap penisilinase, seperti Dikloxasilin (500 mg setiap 6 jam) atau Sefaleksin (500 mg setiap 6 jam) selama 10-14 hari, bertujuan untuk mengeradikasi kuman Staphylococcus aureus. Jika pasien alergi terhadap penisilin, Eritromisin dapat diberikan.
Sementara itu, terapi analgesik dan antipiretik seperti Ibuprofen (400 mg setiap 6-8 jam) diberikan secara rutin. Obat antiinflamasi nonsteroid ini terbukti efektif menurunkan demam, mengurangi pembengkakan jaringan, serta meredakan nyeri tanpa mengganggu keamanan bayi yang disusui. (ACOG, 2023, Kemenkes RI, 2022)
b. Terapi Non-Farmakologis
Tindakan pengosongan payudara secara kontinu melalui peningkatan frekuensi menyusui atau penggunaan pompa ASI menjadi pilar non-farmakologis yang paling utama. Kompres hangat diaplikasikan pada payudara sesaat sebelum menyusui untuk melancarkan aliran ASI di dalam duktus.
Selain itu, kompres dingin dipasang pasca-menyusui guna mengurangi edema lokal dan meredakan sensasi panas. Pasien diwajibkan melakukan tirah baring penuh, meningkatkan asupan hidrasi cairan, menghindari penggunaan bra ketat, serta mendapat dukungan psikologis laktasi. (ABM, 2022, Smeltzer & Bare, 2018)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Mencakup nama, jenis kelamin (hampir seluruhnya wanita, namun dapat terjadi pada pria), usia, status pernikahan, paritas (lebih sering pada primipara), hari ke-berapa pasca-melahirkan, pekerjaan, pendidikan, agama, alamat, dan nomor rekam medis. (PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
Pasien biasanya datang dengan keluhan utama berupa nyeri hebat dan bengkak kemerahan pada salah satu payudara disertai demam tinggi menggigil. Kronologi pembengkakan dan penurunan pengeluaran ASI dikaji mendalam pada riwayat kesehatan sekarang.
Selanjutnya, riwayat kesehatan dahulu berfokus pada riwayat keluhan serupa pada anak sebelumnya, riwayat operasi payudara, atau diabetes melitus. Riwayat kesehatan keluarga mengidentifikasi kondisi higienitas lingkungan dan dukungan sosiokultural keluarga dalam masa nifas. (Smeltzer & Bare, 2018)
c. Pemeriksaan Fisik
Sistem Integumen & Payudara (Fokus Utama):
- Inspeksi: Mengamati asimetri payudara, adanya pembengkakan terlokalisir, eritema berbentuk baji pada kulit, adanya lecet, fisura, atau inversi pada puting susu, serta memantau ada tidaknya pengeluaran pus (nanah) dari pori puting.
- Palpasi: Menilai peningkatan suhu lokal (kulit terasa panas), konsistensi jaringan (keras, indurasi, atau fluktuatif jika sudah terbentuk abses), mengukur batas tegas massa, serta mengevaluasi derajat nyeri tekan. Palpasi kelenjar getah bening aksila ipsilateral untuk mendeteksi limfadenopati reaktif.
Sistem Respirasi: Inspeksi frekuensi napas (dapat meningkat akibat nyeri atau demam),
auskultasi suara napas vesikuler normal di seluruh lapang paru.
Sistem Kardiovaskular: Palpasi denyut nadi (takikardia ringan seiring peningkatan
suhu tubuh), monitoring tekanan darah, auskultasi bunyi jantung tunggal S1 dan S2
tanpa murmur.
Sistem Pencernaan: Inspeksi abdomen flat, bising usus normal, tidak ada pembesaran organ hati maupun limpa saat dilakukan palpasi.
Sistem Muskuloskeletal: Menilai rentang gerak ekstremitas atas sisi payudara yang sakit (pasien cenderung membatasi gerakan lengan akibat tarikan nyeri jaringan ketiak dan dada).
Sistem Persarafan: Menilai tingkat kesadaran compos mentis, tidak ada kaku kuduk, fungsi sensorik dan motorik perifer tetap intak. (Sjamsuhidajat & de Jong, 2021, Smeltzer & Bare, 2018)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Pola nutrisi dan metabolik menunjukkan peningkatan kebutuhan metabolisme akibat demam, terkadang disertai penurunan nafsu makan ringan. Pola aktivitas dan latihan mengalami gangguan sekunder akibat keletihan nifas dan hambatan mobilitas lengan karena rasa nyeri.
Sementara itu, pola tidur terganggu secara signifikan akibat kombinasi nyeri berdenyut pada payudara dan jadwal menyusui bayi baru lahir. Pola koping dan persepsi diri menunjukkan tingginya tingkat ansietas serta rasa bersalah ibu karena tidak mampu memberikan ASI secara optimal. (Smeltzer & Bare, 2018)
3. Diagnosis Keperawatan
- Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi parenkim payudara).
- Menyusui Tidak Efektif (D.0029) b.d hambatan pada payudara ibu (nyeri, pembengkakan, puting lecet).
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d faktor mekanis (fisura/lecet pada puting susu).
- Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit (infeksi bakteri akut pada kelenjar susu).
- Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional (kesulitan laktasi, ancaman kegagalan menyusui).
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d hambatan lingkungan (nyeri menetap, perawatan bayi).
- Keletihan (D.0057) b.d kondisi fisiologis (periode pasca-melahirkan, inflamasi sistemik).
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi (teknik menyusui dan perawatan payudara yang benar).
- Risiko Hipovolemia (D.0034) d.d faktor risiko evaporasi berlebihan akibat hipertermia prolong.
- Risiko Infeksi (Perluasan/Abses) (D.0142) d.d pertahanan tubuh primer tidak adekuat (stasis laktasi, kerusakan jaringan kulit). (PPNI, 2017)
4. Perencanaan (Intervensi)
a. Intervensi Diagnosis 1 s.d 3
Perencanaan Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri pada payudara.
- Terapeutik: Berikan kompres dingin pada payudara pasca-menyusui untuk mengurangi edema lokal dan nyeri.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik antiinflamasi (Ibuprofen sesuai instruksi medis).
Perencanaan Menyusui Tidak Efektif (D.0029)
- Luaran Utama: Status Menyusui Membaik (L.03029)
- Kriteria Hasil: Perlekatan bayi pada payudara meningkat, kemantapan menghisap meningkat, pengosongan payudara meningkat, kecemasan ibu menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Menyusui (I.12393)
- Observasi: Identifikasi kesiapan, kemampuan menerima informasi, dan struktur puting susu ibu.
- Terapeutik: Sediakan materi edukasi posisi menyusui, demonstrasikan teknik pelekatan yang benar (areola masuk seluruhnya ke mulut bayi).
- Edukasi: Ajarkan ibu menyusui sesering mungkin dimulai dari payudara yang sakit untuk memastikan pengosongan maksimal. Jelaskan tanda ASI mengalir lancar.
Perencanaan Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- Luaran Utama: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125)
- Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit pada puting susu menurun, nyeri tekan menurun.
- Intervensi Utama: Perawatan Luka (I.14564)
- Observasi: Monitor karakteristik kerusakan kulit pada puting susu (adanya fisura, perdarahan, atau eksudat).
- Terapeutik: Oleskan beberapa tetes ASI akhir (hindmilk) pada area puting susu yang lecet pasca-menyusui sebagai agen protektif alami.
- Edukasi: Ajarkan cara membersihkan payudara dengan air hangat secara lembut, hindari penggunaan sabun antiseptik yang mengeringkan kulit puting.
b. Intervensi Diagnosis 4 s.d 6
Perencanaan Hipertermia (D.0130)
- Luaran Utama: Termoregulasi Membaik (L.14134)
- Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik dalam batas normal (36.5°C – 37.5°C), takikardia menurun, kulit merah menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia (I.15506)
- Observasi: Monitor suhu tubuh sesering mungkin, monitor kadar cairan, hitung nadi, dan frekuensi napas.
- Terapeutik: Longgarkan pakaian pasien, berikan kompres hangat pada area aksila atau dahi untuk merangsang vasodilatasi sentral.
- Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral untuk mencegah dehidrasi sekunder akibat penguapan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antipiretik dan terapi antibiotik oral sesuai program medis.
Perencanaan Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Monitor tanda-tanda kecemasan verbal dan nonverbal secara berkala selama interaksi.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik yang mendukung, temani ibu, dan dengarkan keluhannya mengenai ketakutan menyusui dengan penuh empati.
- Edukasi: Jelaskan secara jujur bahwa mastitis dapat disembuhkan dan ASI tetap aman serta bermanfaat bagi bayi meskipun payudara meradang.
Perencanaan Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga akibat nyeri menurun, keluhan tidak segar menurun.
- Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola tidur, jam tidur harian, dan faktor pengganggu utama seperti nyeri payudara atau cemas.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (atur pencahayaan redup, kendalikan kebisingan ruangan, sinkronisasikan waktu pemberian obat dengan jam istirahat).
- Edukasi: Ajarkan teknik relaksasi otot progresif menjelang tidur. Anjurkan ibu tidur saat bayi sedang tidur untuk mencukupi kuota istirahat.
c. Intervensi Diagnosis 7 s.d 10
Perencanaan Keletihan (D.0057)
- Luaran Utama: Tingkat Keletihan Menurun (L.05046)
- Kriteria Hasil: Tenaga meningkat, keluhan lelah menurun, keluhan lesu menurun, kemampuan melakukan aktivitas meningkat.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan keletihan, monitor lokasi dan tingkat ketidaknyamanan selama beraktivitas.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman yang rendah stimulus. Fasilitasi pembagian peran dalam keluarga untuk perawatan bayi baru lahir.
- Edukasi: Anjurkan melakukan tirah baring penuh (bedrest) selama fase akut peradangan payudara.
Perencanaan Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang laktasi meningkat, perilaku sesuai pengetahuan meningkat, kekeliruan menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi serta faktor-faktor yang menghambat pemahaman.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi yang menarik mengenai perawatan payudara pasca-persalinan.
- Edukasi: Ajarkan teknik menjaga higienitas payudara, cara melakukan pijat oksitosin, serta tanda-tanda bahaya bendungan ASI yang harus segera dilaporkan.
Perencanaan Risiko Hipovolemia (D.0034)
- Luaran Utama: Status Cairan Membaik (L.03028)
- Kriteria Hasil: Turgor kulit membaik, membran mukosa lembab meningkat, rasa haus menurun, kadar Hb membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Cairan (I.03098)
- Observasi: Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, kekuatan nadi, turgor kulit, kelembaban mukosa, pengisian kapiler).
- Terapeutik: Catat asupan cairan masuk dan haluaran urin secara akurat. Berikan cairan oral sesuai kebutuhan hidrasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat akibat mual atau lemas ekstrem.
Perencanaan Risiko Infeksi (Perluasan/Abses) (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan lokal menurun, bengkak payudara menurun, kadar leukosit membaik.
- Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal (pantau adanya fluktuasi massa, perubahan warna kulit menjadi keunguan) dan sistemik.
- Terapeutik: Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Pertahankan teknik aseptik ketat saat merawat puting lecet.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan dokter meskipun gejala klinis telah mereda. (PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)
- Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seluruh tindakan yang meliputi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi wajib didokumentasikan secara akurat beserta respons pasien. (PPNI, 2018)
- Evaluasi
Evaluasi keperawatan dilakukan menggunakan format SOAP untuk menilai pencapaian kriteria hasil luaran yang diharapkan. Penilaian ini menjadi dasar untuk memutuskan apakah intervensi keperawatan perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Academy of Breastfeeding Medicine. (2022). Mastitis Spectrum. Breastfeed Med, 17(5), 360-376. liebertpub.com/doi/10.1089/bfm.2022.29002.abm
American College of Obstetricians and Gynecologists. (2023). Clinical Guidance: Mastitis Practice. Obstet Gynecol, 141(3), 620-632. journals.lww.com/greenjournal/fulltext/2023/03000/mastitis_management.aspx
Asian Oncology Society. (2023). Benign Breast Disorders. J Asian Oncol, 15(2), 140-151. ejournal.asianoncology.org/index.php/jao/article/view/2023-mb-02
Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Breastfeeding Complications and Care. CDC.
Chinese Anti-Cancer Association. (2024). Inflammatory Breast Lesions. Chin Med J, 137(4), 480-492. cmj.org/journals/cmj/article/view/caca-mastitis-2024
Kementerian Kesehatan RI. (2022). KMK No HK.01.07/MENKES/1128/2022 Tata Laksana Radang Payudara. Kemenkes RI.
Korean Breast Cancer Society. (2023). Suppurative Mastitis Review. J Breast Cancer, 26(3), 230-242. jbreastcancer.org/doi/10.4048/jbc.2023.26.3.230
Mayo Clinic. (2024). Mastitis: Symptoms, Causes, and Clinical Interventions. Mayo Press.
National Cancer Center Japan. (2024). Non-Neoplastic Inflammatory Profiles. Jpn J Clin Oncol, 54(1), 50-62. jjco.oxfordjournals.org/content/54/1/50
Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia. (2023). Protokol Penyakit Payudara Jinak PERABOI. PERABOI.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.
Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah (Vol. 2) (Edisi 4). EGC.
World Health Organization. (2022). Mastitis: Causes and Management. WHO.

Tinggalkan Balasan