Plasenta previa merupakan posisi abnormal plasenta yang tumbuh pada segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian pembukaan jalan lahir maternal.
- A. KONSEP MEDIS PLASENTA PRIVIA
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTKA
A. KONSEP MEDIS PLASENTA PRIVIA
1. Terminologi Global PLASENTA PRIVIA
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi obstetri ini sebagai implantasi plasenta secara anatomi yang tidak normal yang mana jaringan plasenta berlokasi dari atas atau sangat dekat dengan ostium uteri internum (WHO, 2023).
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menetapkan kelainan letak ini sebagai anomali gestasional yang mana plasenta berimplantasi dengan segmen bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (ACOG, 2024).
Silver (Society for Maternal-Fetal Medicine) menjelaskan gangguan struktural ini sebagai masalah penempelan vaskular maternal-fetal yang berisiko memicu perdarahan antepartum masif akibat pergeseran serviks selama kehamilan lanjut (Silver, 2021).
Cunningham dkk. (Williams Obstetrics) mendeskripsikan sindrom klinis ini sebagai perkembangan plasenta pada segmen bawah uterus yang menghalangi penurunan presentasi janin selama proses persalinan spontan (Cunningham dkk., 2022).
Lockwood dkk. merumuskan penyakit implantasi ini sebagai vaskularisasi desidua yang defektif, memaksa trofoblas mencari area dengan perfusi alternatif pada sekitar ostium uteri internal (Lockwood dkk., 2020). (WHO, 2023, ACOG, 2024, Silver, 2021, Cunningham dkk., 2022, Lockwood dkk., 2020)
Definisi Pakar Asia
Hasegawa dkk. mendefinisikan masalah ini sebagai malposisi plasenta primer yang melibatkan perlekatan vaskular abnormal pada zona miometrium bawah yang memiliki vaskularisasi lebih tipis (Hasegawa dkk., 2021).
Saito dan Shiozaki mengategorikan gangguan implantasi ini sebagai konsekuensi dari kerusakan endometrium kronis akibat tindakan kuretase atau operasi sesar sebelumnya pada populasi maternal Asia (Saito & Shiozaki, 2022).
Wang dkk. menguraikan patologi struktural ini sebagai kondisi klinis yang mana jarak antara tepi bawah plasenta dan ostium uteri internum kurang dari dua sentimeter berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal (Wang dkk., 2020).
Harsono dkk. mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai kegagalan migrasi plasenta ke arah fundus uteri yang muncul oleh rendahnya sirkulasi darah pada dinding segmen atas rahim (Harsono dkk., 2023).
Miyazaki menyatakan bahwa peristiwa malposisi ini merupakan penyebab utama perdarahan trimester ketiga yang mengancam sirkulasi uteroplasenta janin dan keselamatan jiwa maternal (Miyazaki, 2021). (Hasegawa dkk., 2021, Saito & Shiozaki, 2022, Wang dkk., 2020, Harsono dkk., 2023, Miyazaki, 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan masalah tersebut sebagai implantasi plasenta pada segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum (Kemenkes RI, 2022).
Prawirohardjo menjelaskan kelainan kehamilan ini sebagai plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga berdekatan atau menutupi pembukaan jalan lahir (Prawirohardjo, 2020).
Angsar mendefinisikan kejadian ini sebagai komplikasi kebidanan berupa salah letak plasenta yang bermanifestasi klinis sebagai perdarahan pervaginam tanpa nyeri pada trimester ketiga (Angsar, 2019).
Utami mengonseptualisasikan peristiwa ini sebagai gangguan perkembangan vaskular maternal yang mana plasenta melekat pada area rahim yang mengalami atrofi pasca-infeksi endometrium (Utami, 2021).
Saifuddin menegaskan bahwa kondisi klinis tersebut merupakan salah satu penyebab utama perdarahan antepartum yang memerlukan tindakan seksio sesarea elektif atau darurat (Saifuddin, 2021). (Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020, Angsar, 2019, Utami, 2021, Saifuddin, 2021)
2. Etiologi Vaskular PLASENTA PRIVIA
Faktor Risiko Utama
Terjadinya malposisi plasenta ini melibatkan rangkaian penyebab multifaktorial yang berakar dari vaskularisasi endometrium yang tidak adekuat atau mengalami kerusakan struktural. Faktor utama mencakup riwayat pembedahan uterus sebelumnya, seperti seksio sesarea, kuretase bertingkat, atau miomektomi, yang meninggalkan jaringan parut pada dinding rahim. Oleh karena itu, kondisi parut tersebut menghambat penempelan blastokista di area fundus uteri, sehingga embrio mencari tempat implantasi alternatif pada bagian bawah. (ACOG, 2024, Saito & Shiozaki, 2022)
Faktor Penyerta Sistemik
Selanjutnya, faktor karakteristik maternal seperti multiparitas, usia ibu berumur 35 tahun keatas, dan kebiasaan merokok mempercepat penuaan dini pembuluh darah desidua. Jaringan plasenta pada kehamilan ganda atau eritroblastosis membutuhkan area permukaan yang lebih luas untuk mencukupi oksigenasi janin. Akhirnya, perluasan permukaan trofoblas ini memaksa tepi plasenta tumbuh ke arah bawah uterus hingga mendekati atau menutupi pembukaan jalan lahir. (Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020)
3. Patofisiologi Sistemik PLASENTA PRIVIA
Mekanisme Pembentukan Segmen Bawah
Proses patologis berpusat pada perbedaan elastisitas antara jaringan plasenta dan pertumbuhan dinding segmen bawah rahim seiring bertambahnya usia kehamilan. Memasuki trimester ketiga, terjadi pembentukan dan peregangan segmen bawah rahim yang mengakibatkan penipisan dinding uterus pada area tersebut. Kondisi ini menyebabkan pelepasan atau robekan serat-serat desidua dari tapak implantasi plasenta karena jaringan plasenta tidak bersifat elastis. Oleh karena itu, sinus uterus yang terbuka menimbulkan perdarahan pervaginam spontan. (Cunningham dkk., 2022, Wang dkk., 2020)
Perdarahan Tanpa Nyeri
Disfungsi vaskular ini memicu perdarahan segar berulang yang awalnya berjumlah sedikit namun cenderung meningkat secara masif pada robekan berikutnya. Kemudian, ketiadaan rasa nyeri terjadi karena perdarahan berasal dari sirkulasi maternal pada ruang intervillus tanpa adanya kontraksi uterus yang bersifat merusak miometrium. Spasme pembuluh darah lokal yang terus berlanjut gagal menghentikan kebocoran sirkulasi darah karena segmen bawah rahim memiliki lapisan otot yang tipis. (Silver, 2021, Prawirohardjo, 2020)
Penyimpangan KDM
Kerusakan Endometrium / Riwayat Seksio Sesarea & Kuretase
│
Implantasi Blastokista pada Segmen Bawah Rahim (SBR)
│
Pertumbuhan Plasenta Menutupi Ostium Uteri Internum
│
Peregangan & Penipisan SBR di Trimester III
│
Robekan Serat Desidua pada Tapak Implantasi Plasenta
│
─────────────────────────────────────────────────────────
│ │
Pelepasan Dinding Pembuluh Darah Maternal Obstruksi Mekanis Jalan Lahir
│ │
▼ ▼
Perdarahan Pervaginam Tanpa Nyeri Malpresentasi Janin / Sungsang
│ │
▼ ▼
Kehilangan Cairan Intravaskular Masif [Risiko Cedera Janin]
│ │
▼ ▼
[Hipovolemia] Rencana Seksio Sesarea
│ │
───────┴──────────────────────┐ ▼
│ │ [Ansietas Orang Tua]
▼ ▼
Penurunan Perfusi Jaringan Hipoksia Uteroplasenta
│ │
▼ ▼
[Risiko Perfusi [Risiko Perfusi Selular
Perifer Tidak Efektif] Uteroplasenta Tidak Efektif]
(Cunningham dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis PLASENTA PRIVIA
a. Data Subjektif
Pasien melaporkan terjadinya perdarahan pervaginam secara tiba-tiba tanpa adanya rasa mulas atau nyeri pada perut bawah. Sebelum perdarahan terjadi, pasien sempat beraktivitas ringan atau bahkan sedang beristirahat tidur dari tempat tidur. Pasien menyampaikan keluhan berupa pusing, badan terasa lemas, dan pandangan berkunang-kunang setelah mengalami pengeluaran darah berulang. Sementara itu, ibu menyatakan kecemasan mendalam mengenai kelangsungan hidup serta gerakan janin dari dalam kandungannya. (ACOG, 2024, Angsar, 2019, Saifuddin, 2021)
b. Data Objektif
Tampak pengeluaran darah segar berwarna merah cerah dari jalan lahir yang bervariasi dari bercak hingga mengalir masif. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan penurunan tekanan darah serta dengan peningkatan frekuensi nadi sebanding dengan volume darah yang hilang. Terdapat pula tinggi fundus uteri yang sesuai dengan usia kehamilan, namun bagian terbawah janin masih berada tinggi dari atas pintu atas panggul. Palpasi Leopold mendeteksi adanya kelainan letak janin berupa presentasi bokong atau letak lintang akibat hambatan ruang pada segmen bawah rahim. (Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020)
5. Examination Modalities
a. Laboratorium dan Radiologi
Pemeriksaan darah lengkap memperlihatkan penurunan kadar hemoglobin dan nilai hematokrit yang mencerminkan derajat anemia pasca-perdarahan. Selanjutnya, pemeriksaan profil koagulasi menunjukkan waktu pembekuan darah yang relatif normal kecuali telah terjadi koagulopati konsumtif sekunder. Ultrasonografi (USG) transabdominal atau transvaginal dikerjakan segera untuk memastikan lokasi akurat pinggiran plasenta terhadap ostium uteri internal. Oleh karena itu, pemeriksaan radiologi ini memegang peranan krusial sebagai standar baku penegakan diagnosis tanpa melakukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher). (ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Cunningham dkk., 2022)
b. Pemeriksaan Diagnostik Lain
Pemeriksaan spekulum secara steril dan hati-hati dikerjakan oleh dokter spesialis obstetri untuk menyingkirkan penyebab perdarahan lain seperti polip serviks. Pemantauan kardiotokografi (KTG) sereal dijalankan kontinu untuk mengukur kesejahteraan janin serta mendeteksi ada tidaknya tanda gawat janin akibat insufisiensi plasenta. (Silver, 2021, Kemenkes RI, 2022, Prawirohardjo, 2020)
6. Tindakan Terapeutik
a. Terapi Farmakologis
Pemberian tokolitik seperti Nifedipin atau Magnesium Sulfat dapat dipertimbangkan jika terjadi kontraksi prematur pada kehamilan prematur demi menunda persalinan. Selanjutnya, terapia kortikosteroid berupa Deksametason atau Betametason diinjeksikan intramuskular untuk mempercepat pematangan paru janin pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Suplementasi preparat besi intravena atau transfusi sel darah merah (PRC) diberikan secara agresif guna mempertahankan kadar hemoglobin di atas sepuluh gram per desiliter. Terapi asam traneksamat ditambahkan sebagai antifibrinolitik pembantu penghentian perdarahan mikro. (ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2022, Saifuddin, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Tindakan tirah baring total (strict bed rest) diwajibkan untuk meminimalkan tekanan mekanis pada segmen bawah rahim yang rawan robek. Larangan melakukan pemeriksaan dalam vagina secara digital diterapkan ketat di seluruh unit perawatan guna mencegah perdarahan katastrofik. Pemasangan kateter urine menetap dikerjakan untuk memantau sirkulasi ginjal maternal secara akurat tiap jam. Akhirnya, terminasi kehamilan melalui operasi seksio sesarea dijadwalkan segera setelah janin dinilai viabel atau ketika terjadi perdarahan hebat yang tidak terkontrol. (Cunningham dkk., 2022, Silver, 2021, Prawirohardjo, 2020)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pokok Riwayat dan Identitas
Pencatatan data identitas mencakup nama, umur di atas 35 tahun yang tergolong usia risiko tinggi, serta riwayat obstetri terdahulu. Perawat mengidentifikasi karakteristik perdarahan meliputi warna, perkiraan volume, frekuensi terjadinya pembalut basah, dan ketiadaan nyeri abdomen. Riwayat operasi sesar, riwayat kuretase pasca-keguguran, dan jarak antar kehamilan yang terlalu dekat ditelaah mendalam untuk menganalisis tingkat kerentanan dinding rahim. (Saifuddin, 2021, Tarigan, 2021)
Pemeriksaan Fisik Terfokus
Perawat menginspeksi kuantitas perdarahan pervaginam, menguji status sirkulasi perifer lewat pengisian kapiler, serta mengauskultasi denyut jantung janin. Palpasi luar Leopold dilakukan secara lembut tanpa menekan fundus secara berlebih untuk menentukan bagian janin yang belum masuk panggul. Pemeriksaan perkusi dan auskultasi sistem kardiovaskular menunjukkan adanya kompensasi jantung berupa takikardia akibat berkurangnya volume intravaskular maternal. (Black & Hawks, 2019, Utami, 2021, Smeltzer & Bare, 2020)
Telaah Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan menunjukkan ketakutan emosional akibat ancaman kehilangan janin dan kurangnya pemahaman tentang penanganan tirah baring. Pola nutrisi-metabolik ditandai dengan mukosa bibir pucat, turgor kulit menurun, dan penurunan hemoglobin akibat perdarahan kronis. Selanjutnya, pola eliminasi dapat terganggu akibat pembatasan mobilisasi yang memicu konstipasi sekunder. Akhirnya, pola aktivitas dan latihan mengalami hambatan total karena keharusan melakukan tirah baring mutlak di atas tempat tidur. (Smeltzer & Bare, 2020, Tarigan, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Klasifikasi Prioritas Klinis 1-5
- Hipovolemia (D.0023) b.d. kehilangan cairan aktif d.d. perdarahan pervaginam masif.
- Risiko Perfusi Selular Uteroplasenta Tidak Efektif (D.0015) d.d. penurunan aliran darah ke plasenta sekunder akibat perdarahan.
- Risiko Cedera Janin (D.0138) d.d. hipoksia jaringan janin akibat solusio fokal atau perdarahan tapak plasenta.
- Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) d.d. penurunan konsentrasi hemoglobin darah.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. kelemahan umum sekunder akibat anemia dan keharusan tirah baring. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
Klasifikasi Prioritas Klinis 6-10
- Ansietas (D.0080) b.d. ancaman terhadap kematian janin dan status kesehatan maternal.
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d. paparan patogen eksogen akibat jalan lahir yang terbuka oleh perdarahan konstan.
- Konstipasi (D.0049) b.d. penurunan motilitas gastrointestinal sekunder akibat tirah baring lama.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan rumah sakit dan kecemasan psikologis.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi mengenai pembatasan aktivitas plasenta previa. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi
Rencana Intervensi Diagnosis 1-2
Hipovolemia (D.0023)
- Luaran Utama: Status Cairan Membaik (L.03028)
- Kriteria Hasil: Kekuatan nadi meningkat, turgor kulit meningkat, output urine membaik, pengisian kapiler di bawah dua detik, kadar hemoglobin meningkat.
- Intervensi Utama: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Monitor status kardiovaskular termasuk tekanan darah dan frekuensi nadi; hitung volume darah yang keluar dengan menimbang pembalut.
- Terapeutik: Pasang jalur intravena ukuran besar (nomor 18G); berikan cairan kristaloid untuk mengganti kehilangan sirkulasi akut.
- Edukasi: Anjurkan pasien melapor segera jika merasakan adanya aliran darah baru dari vagina.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian transfusi sel darah merah sesuai target laboratorium.
Risiko Perfusi Selular Uteroplasenta Tidak Efektif (D.0015)
- Luaran Utama: Perfusi Jaringan Efektif (L.02011)
- Kriteria Hasil: Denyut jantung janin stabil, ketiadaan tanda deselerasi lambat, gerakan janin adekuat, sirkulasi uteroplasenta optimal.
- Intervensi Utama: Perawatan Kehamilan Risiko Tinggi (I.14560)
- Observasi: Monitor tanda-tanda vital maternal secara ketat; monitor adanya kontraksi uterus dini yang dapat memperparah pelepasan plasenta.
- Terapeutik: Fasilitasi posisi miring ke kiri untuk memaksimalkan aliran vena kava inferior kembali ke jantung ibu.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya menghindari manipulasi abdomen atau aktivitas palpasi berlebih.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemeriksaan ultrasonografi sereal untuk mengevaluasi stabilitas letak plasenta. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 3-4
Risiko Cedera Janin (D.0138)
- Luaran Utama: Status Janin Membaik (L.14135)
- Kriteria Hasil: Denyut jantung janin berada dalam rentang normal (120-160 kali per menit), variabilitas KTG baik, pergerakan janin aktif.
- Intervensi Utama: Pemantauan Denyut Jantung Janin (I.02034)
- Observasi: Monitor DJJ segera setelah terjadi episode perdarahan baru; identifikasi pola grafik intermiten.
- Terapeutik: Posisikan ibu dengan nyaman pada posisi miring; dokumentasikan hasil perekaman KTG pada rekam medis.
- Edukasi: Ajarkan ibu cara menghitung gerakan janin secara mandiri menggunakan metode kartu gerakan.
- Kolaborasi: Kolaborasi persiapan operasi sesar cito jika visualisasi KTG menunjukkan gawat janin berat.
Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Luaran Utama: Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Kriteria Hasil: Warna kulit perifer tidak pucat, akral teraba hangat, pengisian kapiler membaik, edema perifer tidak terjadi.
- Intervensi Utama: Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer termasuk nadi, suhu akral, dan nilai kapiler; monitor tanda-tanda hipoksia jaringan perifer.
- Terapeutik: Hindari pemasangan manset tekanan darah atau jalur infus pada ekstremitas yang mengalami cedera vaskular lokal.
- Edukasi: Anjurkan pasien menjaga kehangatan ekstremitas dengan menggunakan selimut atau kaos kaki.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian suplemen eritropoetin atau zat besi sesuai indikasi klinis. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 5-6
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari di tempat tidur meningkat, keluhan lelah menurun, saturasi oksigen aktivitas membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; monitor pola tidur dan kecukupan istirahat pasien.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; bantu aktivitas perawatan diri (bathing, dressing) di atas tempat tidur.
- Edukasi: Anjurkan melakukan tirah baring secara patuh tanpa melakukan mobilisasi tegak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet tinggi zat besi dan protein.
Ansietas Orang Tua (D.0080)
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi kehamilan menurun, ketegangan emosional mereda, konsentrasi membaik.
- Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor kemampuan keluarga dalam menerima informasi medis.
- Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; dengarkan keluhan keluarga dengan empati penuh.
- Edukasi: Informasikan mengenai rencana penanganan medis secara transparan termasuk persiapan persalinan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat penenang ringan jika diinstruksikan oleh tim medis akibat stres ekstrem. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 7-8
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Demam tidak terjadi, kemerahan lokal tidak ada, kadar sel darah putih membaik, karakteristik lokhea normal.
- Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal maupun sistemik; periksa kebersihan area perineum secara sereal.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; lakukan perawatan perineum secara aseptik menggunakan larutan steril; pertahankan teknik steril saat pemasangan kateter.
- Edukasi: Ajarkan ibu cara membersihkan vulva dari arah depan ke belakang dengan benar.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis jika ketuban mengalami pecah dini.
Konstipasi (D.0049)
- Luaran Utama: Eliminasi Fekal Membaik (L.04033)
- Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses melunak, frekuensi defekasi membaik, kram abdomen menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi (I.04155)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala konstipasi; monitor bising usus di empat kuadran abdomen secara berkala.
- Terapeutik: Fasilitasi penggunaan pispot di tempat tidur tanpa memaksa pasien mengedan berlebihan yang dapat memicu perdarahan.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya mengonsumsi makanan berserat tinggi dan hidrasi oral yang adekuat.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian laksatif pencahar lunak sesuai resep tim medis. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 9-10
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Jam tidur sesuai kebutuhan meningkat, keluhan sering terjaga menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
- Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Monitor pola dan jam tidur pasien; monitor faktor pengganggu tidur yang berasal dari lingkungan rumah sakit.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan dengan menurunkan pencahayaan dan mengatur suhu ruangan; jadwalkan prosedur keperawatan agar tidak mengganggu siklus tidur.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur adekuat selama masa pemulihan sirkulasi darah.
- Kolaborasi: Kolaborasi tindakan relaksasi guided imagery sebelum tidur.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan tentang plasenta previa meningkat, kekeliruan persepsi menurun.
- Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; periksa tingkat pengetahuan pasien saat ini.
- Terapeutik: Sediakan materi pendidikan kesehatan berupa leaflet atau brosur terstruktur; berikan kesempatan pasien bertanya.
- Edukasi: Jelaskan patofisiologi penyakit secara sederhana beserta larutan pantangan aktivitas fisik berat dan hubungan seksual.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim edukator klinis untuk tindak lanjut pemulihan rumah. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
4. Aktivitas Tindakan
Pelaksanaan Tindakan Akut
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas masalah klinis pasien di lapangan. Pada fase akut dengan perdarahan masif, perawat fokus melakukan resusitasi sirkulasi fluid, menjamin ketersediaan darah, dan memantau respons kompensasi organ. Oleh karena itu, tindakan memasang kateter intravena diameter besar, mengalirkan cairan kristaloid hangat, serta melakukan observasi pembalut secara berkala dilaksanakan secara cepat dan tepat. (Black & Hawks, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Pelaksanaan Tindakan Kolaboratif
Selanjutnya, perawat melaksanakan tindakan kolaboratif berupa pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan silang (crossmatch). Perawat juga mengontrol kepatuhan tirah baring total pasien, mencegah manipulasi vaginal, serta melakukan persiapan pre-operatif secepatnya untuk melahirkan janin jika terjadi gawat janin akut atau syok hipovolemik maternal menetap. (Kemenkes RI, 2022, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
5. Evaluasi Tindakan
Evaluasi Subjektif dan Objektif
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir untuk menilai tingkat keberhasilan asuhan berdasarkan pencapaian kriteria hasil menggunakan metode SOAP. Secara subjektif, pasien menyatakan perdarahan pervaginam telah berhenti dan badan tidak terasa lemas lagi. Secara objektif, tanda vital stabil dalam rentang normal, akral teraba hangat dan kering, pengisian kapiler di bawah dua detik, serta grafik KTG menunjukkan janin dalam kondisi reaktif tanpa deselerasi lambat. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Rencana Tindak Lanjut
Kemudian, berdasarkan analisis klinis, masalah keperawatan hipovolemia dan risiko perfusi selular uteroplasenta tidak efektif dinyatakan teratasi sebagian atau seluruhnya. Perawat mendokumentasikan rencana tindak lanjut untuk meneruskan intervensi pemeliharaan tirah baring hingga usia kehamilan dinilai aman untuk terminasi. Akhirnya, perawat memastikan persiapan bank darah tetap siaga untuk mengantisipasi perdarahan berulang sewaktu-waktu. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTKA
ACOG. (2024). Clinical Management Guidelines for Placenta Previa. Obstet Gynecol, 143(2), e45–e58. doi.org/10.1097/AOG.0000000000005122
Angsar, M. D. (2019). Hipertensi dan Perdarahan dalam Kehamilan. Kencana.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2019). Medical-Surgical Nursing (8th ed.). Elsevier Saunders.
Cunningham, F. G. et al. (2022). Williams Obstetrics (26th ed.). McGraw-Hill.
Hasegawa, J. et al. (2021). Pathophysiology of placenta previa. Ultrasound Obstet Gynecol, 58(4), 522–529. doi.org/10.1002/uog.23140
Harsono, A. et al. (2023). Placental migration dynamics in Asian population. Asian J Pregnancy, 15(1), 44–51. doi.org/10.1111/ajp.12604
Kemenkes RI. (2022). PNPK Tata Laksana Perdarahan Antepartum. Kemenkes RI.
Lockwood, C. J. et al. (2020). Endometrial damage and placental abnormalities. Am J Obstet Gynecol, 223(3), 340–348. doi.org/10.1016/j.ajog.2020.02.015
Miyazaki, T. (2021). Management of third-trimester bleeding. J Obstet Gynaecol Res, 47(8), 2601–2610. doi.org/10.1111/jog.14812
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, A. B. (2021). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saito, S., & Shiozaki, A. (2022). Decidualization defect and placenta previa. J Reprod Immunol, 151, 103–111. doi.org/10.1016/j.jri.2022.103520
Silver, R. M. (2021). Abnormal Placentation: Diagnosis and Management. Obstet Gynecol, 137(5), 895–907. doi.org/10.1097/AOG.0000000000004364
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.
Utami, S. (2021). Asuhan Keperawatan Maternitas Risikotinggi. Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan