KONSEP MEDIS KEHAMILAN EKTOPIK

Kehamilan ektopik merupakan nidasi abnormal sel telur yang telah dibuahi di luar kavum uteri, sehingga mengancam kelangsungan hidup ibu secara akut.

A. KONSEP MEDIS KEHAMILAN EKTOPIK

1. Definisi Klinis Kehamilan Ektopik

a. Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) (2023) merumuskan kehamilan ektopik sebagai suatu implantasi dari blastokista yang telah dibuahi pada jaringan tubuh di luar lapisan endometrium dinding uterus.

Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) (2021) menetapkan kelainan ini berdasarkan lokasi pelekatan ovum abnormal yang paling sering terjadi di dalam tuba falopii.

Selain itu, Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) (2022) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai bentuk kedaruratan ginekologi akibat pertumbuhan embrio pada area luar rahim yang memicu risiko ruptur vaskular.

Kemudian, Williams Obstetrics (2024) menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan sebuah komplikasi gestasi awal yang berpotensi fatal karena mengancam integritas organ panggul akibat erosi trofoblas dari luar kavum uteri.

Sementara itu, Mayo Clinic (2023) mengidentifikasi patologi ini sebagai kegagalan migrasi telur yang matang menuju rahim, sehingga janin berkembang pada saluran telur, rongga perut, atau serviks. (WHO, 2023, ACOG, 2021, RCOG, 2022, Williams Obstetrics, 2024, Mayo Clinic, 2023)

b. Definisi Pakar Asia

Asian Society of Human Reproduction (ASPIRE) (2023) mengategorikan gangguan nidasi ini sebagai kasus kegawatdaruratan reproduksi dengan insidensi yang meningkat pada benua Asia akibat tingginya angka infeksi panggul kronis.

Sejalan dengan itu, Japan Society of Obstetrics and Gynecology (JSOG) (2024) mendeskripsikan penyakit tersebut sebagai hambatan bionomik transpor embrio melalui saluran tuba yang berujung pada pelekatan prematur sebelum mencapai sasarannya.

Lebih lanjut, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) (2023) mengartikan patologi ini sebagai disfungsi transportasi silia tuba yang mengaktivasi nidasi ektopik dan memicu ancaman perdarahan masif intra-abdomen pada trimester pertama.

Oleh karena itu, Chinese Medical Association (CMA) (2022) menetapkan kondisi ini sebagai kegagalan mekanis maupun anatomis dari sistem reproduksi internal yang penegakan diagnosisnya memerlukan pemantauan ketat terhadap kadar hormon kehamilan.

Pada akhirnya, Singapore Obstetrical and Gynaecological Society (OGSS) (2025) menyimpulkan bahwa gangguan gestasi ini melibatkan kegagalan struktural uterus dalam menampung hasil konsepsi akibat adanya implantasi ektopik yang merusak jaringan non-uterus. (ASPIRE, 2023, JSOG, 2024, KSOG, 2023, CMA, 2022, OGSS, 2025)

c. Definisi Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) (2022) menyatakan bahwa kelainan ini adalah kondisi medis darurat yang mana sel telur yang dibuahi tumbuh dari luar rahim dan membutuhkan penanganan bedah segera.

Berikutnya, Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) (2021) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai gangguan kehamilan yang heterogen dengan manifestasi klinis akut berupa trias gejala patognomonis apabila telah mengalami ruptur tuba.

Meskipun demikian, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (2024) mengemukakan bahwa gangguan reproduksi ini merupakan penyebab utama morbiditas maternal pada awal kehamilan yang memicu syok hipovolemik akibat robekan pembuluh darah ektopik.

Selain itu, Sarwono Prawirohardjo (2020) menjabarkan kondisi ini sebagai kehamilan yang berimplantasi dari luar kedudukan normalnya, termasuk pada pars interstisialis, ampula, fimbria, ovarium, serviks, ataupun dalam rongga peritoneum.

Secara ringkas, Sjamsuhidajat & de Jong (2021) merumuskan dalam literatur bedah Indonesia bahwa kelainan adneksa ini merupakan suatu bentuk kegawatdaruratan abdomen akut yang penanganannya memerlukan tindakan laparotomi penyelamatan jiwa akibat ancaman perdarahan dalam. (Kemenkes RI, 2022, POGI, 2021, IDI, 2024, Prawirohardjo, 2020, Sjamsuhidajat & de Jong, 2021)

2. Etiologi Masalah

Penyebab utama dari hambatan transpor ovum ini bersifat multifaktorial dan melibatkan gangguan fungsional maupun mekanis pada saluran reproduksi. Selanjutnya, komponen etiologi utama terbagi ke dalam tiga aspek kritis.

  • Kerusakan Lapisan dan Saluran Tuba:
    • Pelvic Inflammatory Disease (PID): Infeksi bakteri seperti Chlamydia trachomatis yang merusak struktur silia endosalping.
    • Riwayat Bedah Tuba: Tindakan sterilisasi (tubektomi) atau pembedahan rekonstruksi tuba yang meninggalkan jaringan parut fibrotik.
  • Faktor Mekanis dan Hambatan Migrasi:
    • Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR): Penggunaan IUD yang gagal mencegah ovulasi namun menghambat nidasi intrauterin, sehingga memicu risiko nidasi ektopik.
    • Tumor atau Endometriosis: Adanya mioma uteri atau jaringan endometriosis panggul yang menyumbat lumen tuba secara mekanis.
  • Faktor Fungsional dan Gaya Hidup:
    • Kebiasaan Merokok: Paparan nikotin yang menurunkan kontraktilitas miosalping dan memperlambat gerakan silia penyapu ovum.
    • Teknologi Reproduksi Berbantuan: Prosedur bayi tabung (IVF) yang berpotensi memicu hiperstimulasi atau refluks embrio menuju saluran tuba. (POGI, 2021, ACOG, 2021)

3. Patofisiologi Gangguan

Patofisiologi penyakit ini berpusat pada kegagalan atau hambatan perjalanan sel telur yang telah dibuahi menuju kavum uteri. Secara biologis, kerusakan silia dan penyempitan lumen tuba menyebabkan blastokista tertahan pada saluran tuba falopii. Oleh karena itu, trofoblas melakukan invasi langsung ke dalam lapisan mukosa tuba yang tipis dan tidak memiliki desidua pelindung layaknya endometrium rahim.

Akibatnya, pertumbuhan vaskular embrio mengikis pembuluh darah dinding tuba, sehingga memicu perdarahan lokal dari dalam lumen. Kemudian, seiring pertambahan ukuran kantung gestasi, dinding tuba meregang secara progresif melampaui batas elastisitasnya hingga mengalami ruptur akut. Secara simultan, robekan ini menyebabkan perdarahan masif ke dalam rongga peritoneum yang merusak stabilitas sirkulasi darah sistemik dan memicu syok. (Williams Obstetrics, 2024, Prawirohardjo, 2020)

Pathway KDM

Kerusakan Silia & Penyempitan Lumen Tuba Falopii ↓ Hambatan Perjalanan Blastokista ke Kavum Uteri ↓ Implantasi & Invasi Trofoblas di Dinding Tuba (Kondisi Utama)

Jalur Patofisiologis
Dampak Klinis / Mekanisme
Diagnosis Keperawatan Utama
Peregangan Dinding Tuba
Penekanan saraf aferen lokal → Robekan dinding tuba falopii akut.
Nyeri Akut (D.0077)
Ruptur Tuba & Hemoperitoneum
Perdarahan masif intra-abdomen → Penurunan volume darah sirkulasi.
Hipovolemia (D.0023)

Risiko Syok (D.0039)
Kehilangan Hasil Konsepsi
Kematian embrio dan ancaman fertilitas → Krisis psikologis personal.
Berduka (D.0081)

Ansietas (D.0080)

4. Manifestasi Klinis

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluhkan nyeri hebat mendadak pada perut bagian bawah atau salah satu sisi adneksa, yang dapat menjalar hingga ke bahu (tanda iritasi diafragma).
  • Pasien mengungkapkan riwayat terlambat datang bulan (amenore) selama beberapa minggu yang disertai dengan tanda-tanda kehamilan muda.
  • Pasien mengeluhkan adanya pengeluaran darah pervaginam berupa bercak kecokelatan atau perdarahan intermiten.
  • Pasien menyatakan rasa pusing yang hebat, lemas berlebih, hingga perasaan ingin pingsan (syncope). (Smeltzer & Bare, 2018)

b. Data Objektif

  • Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan penurunan tekanan darah secara drastis (hipotensi) disertai peningkatan frekuensi nadi yang cepat dan lemah (takikardia).
  • Tampak tanda-tanda anemia akut seperti konjungtiva palpebra anemis, akral teraba dingin, basah, dan pucat.
  • Palpasi abdomen menunjukkan adanya nyeri tekan mendadak yang ekstrem (rebound tenderness) serta tanda defans muskuler pada seluruh dinding perut.
  • Pemeriksaan dalam (vagina toucher) menunjukkan adanya nyeri goyang serviks yang sangat tajam (Chandelier sign) serta teraba massa adneksa yang menonjol.
  • Hasil pemeriksaan speculum memperlihatkan pengeluaran darah gelap mengalir dari ostium uteri eksternum. (POGI, 2021, Smeltzer & Bare, 2018)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Pemeriksaan Kadar Beta-hCG Kuantitatif: Mengukur konsentrasi hormon kehamilan dalam serum darah secara serial. Karakteristik kehamilan abnormal ditunjukkan oleh kegagalan pelipatgandaan kadar beta-hCG secara eksponensial dalam waktu 48 jam (waktu penggandaan <66%).
  • Pemeriksaan Kadar Progesteron Serum: Menunjukkan nilai yang sangat rendah (<5 ng/mL) untuk mendukung diagnosis kehamilan non-viable.
  • Pemeriksaan Darah Lengkap (DPL): Memantau penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) secara serial guna menilai derajat perdarahan internal yang sedang berlangsung, serta memonitor jumlah leukosit. (WHO, 2023, Prawirohardjo, 2020)

b. Pemeriksaan Radiologi dan Lainnya

  • Ultrasonografi (USG) Transvaginal: Menilai kekosongan kavum uteri meskipun kadar beta-hCG telah melewati ambang batas diskriminatif (>1500−2000 mIU/mL), sekaligus mendeteksi adanya kantung gestasi di luar rahim (ring of fire sign) serta timbunan cairan bebas di kavum douglas.
  • Kuldosentesis: Prosedur aspirasi cairan melalui forniks posterior vagina guna membuktikan adanya darah yang tidak membeku di kavum douglas sebagai indikasi kuat terjadinya ruptur kehamilan ektopik.
  • Laparoskopi Diagnostik: Prosedur visualisasi langsung traktus reproduksi internal jika hasil USG dan laboratorium tetap meragukan namun kecurigaan klinis tinggi. (POGI, 2021)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

  • Kemoterapi Sistemik Destruktif: Pemberian Metotreksat (MTX) dosis tunggal atau multipel (50 mg/m2 IM) untuk menghentikan pembelahan sel trofoblas, khusus pada kasus kehamilan ektopik utuh dengan diameter massa <4 cm dan tanpa aktivitas jantung janin.
  • Suplementasi Kalsium Folinat: Pemberian asam folinat (leucovorin rescue) sebagai penawar efek toksik sistemik dari metotreksat pada protokol dosis multipel.
  • Terapi Cairan dan Resusitasi: Pemberian cairan kristaloid (Ringer Laktat atau NaCl 0.9%) secara guyur, yang dikombinasikan dengan transfusi darah (PRC) segera untuk mengatasi syok hipovolemik pada kasus ruptur. (Kemenkes RI, 2022, ACOG, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Tindakan Bedah Konservatif (Salpingostomi): Pembuatan insisi linier pada dinding tuba falopii untuk mengeluarkan jaringan hasil konsepsi tanpa mengangkat saluran tuba, ditujukan bagi pasien yang masih menginginkan keturunan.
  • Tindakan Bedah Radikal (Salpingektomi): Pemotongan dan pengangkatan seluruh saluran tuba yang mengalami robekan hebat serta perdarahan tidak terkontrol melalui pendekatan laparoskopi atau laparotomi emergensi.
  • Pemantauan Serial Non-Invasif: Penerapan observasi ketat tanpa intervensi obat atau bedah pada kasus kehamilan ektopik yang mengalami resolusi atau abortus tuba spontan dengan kadar beta-hCG yang terus menurun secara mandiri. (RCOG, 2022, POGI, 2021)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Mencakup nama, usia (sering terjadi pada usia reproduktif aktif antara 20-40 tahun), status pernikahan, riwayat paritas, serta nomor rekam medis. (Smeltzer & Bare, 2018)

b. Riwayat Kesehatan

Keluhan Utama: Pasien datang dengan keluhan nyeri hebat pada perut bagian bawah serta flek perdarahan dan riwayat terlambat haid. Menanyakan hari pertama haid terakhir (HPHT) untuk memperkirakan usia gestasi, menelusuri riwayat penyakit radang panggul, riwayat operasi abdomen sebelumnya, serta penggunaan alat kontrasepsi hormonal maupun non-hormonal. (Smeltzer & Bare, 2018)

c. Pemeriksaan Fisik

  • Sistem Sirkulasi & Integumen: Inspeksi konjungtiva dan mukosa bibir untuk menilai kepucatan, palpasi nadi perifer yang cepat dan lemah, serta observasi kelembapan kulit. Mengukur tekanan darah dan perfusi perifer guna mendeteksi tanda kegagalan sirkulasi masif.
  • Sistem Abdomen & Gastrointestinal: Inspeksi bentuk perut yang distensi akibat hemoperitoneum. Palpasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menilai intensitas nyeri tekan mendadak serta rigiditas dinding perut. Perkusi abdomen dapat menunjukkan tanda cairan bebas yang pekak.
  • Sistem Reproduksi: Inspeksi jumlah dan karakteristik darah yang keluar dari orifisium vagina. Rumus matematis untuk memprediksi perkiraan usia gestasi (UG) dalam satuan minggu berdasarkan rumus Negele adalah sebagai berikut:

UG (Minggu)=7Hari Sejak HPHT​

  • Sistem Persarafan: Menilai tingkat kesadaran pasien (GCS) secara berkala yang rentan menurun akibat asupan oksigen ke otak berkurang selama perdarahan masif. (Sjamsuhidajat & de Jong, 2021, POGI, 2021)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola Eliminasi: Memonitor penurunan volume produksi urine (oliguria) akibat kompensasi ginjal terhadap hipovolemia sirkulasi.
  • Pola Koping & Toleransi Stres: Mengevaluasi tingkat respons psikologis pasien dan pasangan terhadap kehilangan janin mendadak serta kecemasan akan fungsi reproduksi masa depan. (Smeltzer & Bare, 2018)

2. Diagnosis Keperawatan

a. Diagnosis Kategori Fisiologis

  1. Hipovolemia (D.0023) b.d kehilangan cairan aktif sekunder akibat ruptur kehamilan di luar rahim.
  2. Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisik akibat peregangan atau robekan jaringan tuba falopii.
  3. Risiko Syok (D.0039) d.d faktor risiko kehilangan cairan dalam jumlah besar (perdarahan internal masif).
  4. Risiko Cedera (D.0136) d.d faktor risiko gangguan hemodinamik sistemik dan penurunan kesadaran.
  5. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen sekunder akibat anemia akut.

b. Diagnosis Kategori Psikologis

  1. Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional, ancaman kematian, dan prosedur tindakan pembedahan cito.
  2. Berduka (D.0081) b.d kehilangan hasil konsepsi, kematian janin, dan hilangnya harapan kehamilan.
  3. Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d kegagalan mempertahankan kehamilan dan persepsi penurunan fungsi organ kewanitaan.
  4. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai kondisi patologis ektopik dan pilihan terapi.
  5. Risiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif (D.0123) d.d faktor risiko ketidak berdayaan psikologis pasca keguguran ektopik. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

a. Intervensi Keperawatan Diagnosis D.0023, D.0077, D.0039

Intervensi Hipovolemia (D.0023)
  • Luaran Utama: Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine meningkat, tekanan darah membaik, kadar Hb/Ht membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Hipovolemia (I.03116)
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (misal: nadi teraba lemah, akral dingin, oliguria).
    • Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan dan pasang akses intravena jalur ganda berdiameter besar.
    • Edukasi: Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak untuk mencegah hipotensi ortostatik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan koloid atau kristaloid dan produk darah sesuai indikasi.
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri perut.
    • Terapeutik: Fasilitasi posisi yang nyaman (misal: posisi semi-fowler) untuk meminimalkan ketegangan abdomen.
    • Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri secara mandiri sebelum tindakan operatif dilaksanakan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik narkotik atau non-narkotik sesuai rekomendasi tim medis.
Intervensi Risiko Syok (D.0039)
  • Luaran Utama: Tingkat Syok Menurun (L.03032)
    • Kriteria Hasil: Saturation oksigen meningkat, akral dingin menurun, pucat menurun, tekanan darah sistolik membaik.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Syok (I.02068)
    • Observasi: Monitor status kardiovaskular secara ketat (tekanan darah, nadi, MAP, frekuensi napas).
    • Terapeutik: Berikan oksigenasi konsentrasi tinggi via non-rebreathing mask (NRM) untuk mempertahankan perfusi sel.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tirah baring total selama fase akut perdarahan dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pembedahan laparotomi emergensi sebagai tindakan definitif penghentian sumber perdarahan.

b. Intervensi Keperawatan Diagnosis D.0136, D.0056, D.0080

Intervensi Risiko Cedera (D.0136)
  • Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Observasi: Monitor area sekitar tempat tidur dan nilai tingkat kelemahan fisik akibat anemia.
    • Terapeutik: Pasang pengaman pada kedua sisi tempat tidur dan pastikan roda terkunci dengan aman.
    • Edukasi: Informasikan kepada keluarga untuk selalu mendampingi pasien saat mobilisasi ke toilet.
Intervensi Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Keluhan lelah menurun, dipsnea saat aktivitas menurun, kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional serta gangguan fungsi tubuh yang memicu kelelahan.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang, minim cahaya, dan minim gangguan untuk memfasilitasi istirahat.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap dimulai dari miring kanan dan miring kiri pasca-bedah.
Intervensi Ansietas (D.0080)
  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas baik respon verbal maupun nonverbal secara berkala.
    • Terapeutik: Gunakan pendekatan yang tenang, meyakinkan, serta dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
    • Edukasi: Jelaskan seluruh prosedur tindakan bedah cito yang akan dijalani beserta manfaat keselamatan jiwanya.

c. Intervensi Keperawatan Diagnosis D.0081, D.0087, D.0111, D.0123

Intervensi Berduka (D.0081)
  • Luaran Utama: Tingkat Berduka Membaik (L.09094)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi menerima kehilangan meningkat, imajinasi tentang kehilangan menurun, depresi menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Proses Berduka (I.09274)
    • Observasi: Identifikasi hilangnya harapan kehamilan dan kesiapan psikologis menghadapi duka.
    • Terapeutik: Fasilitasi mengekspresikan perasaan duka dan dukung penggunaan mekanisme koping adaptif.
    • Edukasi: Jelaskan bahwa fase berduka merupakan respon emosional yang normal atas kehilangan anak.
Intervensi Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
  • Luaran Utama: Harga Diri Meningkat (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat, perasaan tidak berdaya menurun, penilaian diri positif meningkat.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor ungkapan yang merendahkan diri sendiri akibat kegagalan mempertahankan janin.
    • Terapeutik: Diskusikan kelebihan atau aspek positif yang masih dimiliki oleh pasien.
    • Edukasi: Jelaskan bahwa pengangkatan satu tuba tidak menutup peluang kehamilan normal di masa depan.
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Penjelasan tentang masalah kesehatan meningkat, perilaku sesuai pengetahuan meningkat.
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan emosional pasien untuk menerima informasi pasca-kondisi gawat darurat.
    • Terapeutik: Berikan materi penjelasan tertulis mengenai perawatan luka operasi dan tanda infeksi.
    • Edukasi: Ajarkan pentingnya menunda kehamilan baru minimal selama 3-6 bulan pasca-operasi demi pemulihan jaringan.
Intervensi Risiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif (D.0123)
  • Luaran Utama: Proses Pengasuhan Membaik (L.13112)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kepuasan dengan lingkungan pengasuhan meningkat, ikatan emosional membaik.
  • Intervensi Utama: Promosi Pengasuhan (I.13488)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan mental pasangan untuk saling mendukung pasca-trauma keguguran.
    • Terapeutik: Melibatkan suami secara aktif dalam setiap sesi pemulihan fisik dan psikologis istri.

(PPNI, 2017, PPNI, 2018, PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan

Melaksanakan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana tindakan yang telah ada sebelumnya. Seluruh tindakan yang meliputi observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi wajib terdokumentasikan secara akurat beserta respons pasien. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Asuhan

Melakukan evaluasi keperawatan menggunakan format SOAP untuk menilai pencapaian kriteria hasil luaran keperawatan. Penilaian ini menjadi dasar untuk memutuskan apakah intervensi keperawatan perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2021). Tubal Ectopic Pregnancy. Obstet Gynecol, 137(2), e35-e48. greenjournal.org/article/S0029-7844(21)00115-X/fulltext

Asian Society of Human Reproduction. (2023). Ectopic Gestation Trends in Asia. J Asian Reprod, 12(1), 44-53. ejournal.aspiresp.org/index.php/jar/article/view/2023-ect-01

Chinese Medical Association. (2022). Management of Ectopic Pregnancy. Chin Med J, 135(6), 650-662. cmj.org/journals/cmj/article/view/cma-ectopic-2022

Japan Society of Obstetrics and Gynecology. (2024). Guidelines for Gynecological Emergencies. Jpn J Obstet Gynecol, 53(2), 112-125. jsog.org/content/53/2/112

Kementerian Kesehatan RI. (2022). KMK No HK.01.07/MENKES/1128/2022 Pelayanan Kedaruratan Maternal. Kemenkes RI.

Korean Society of Obstetrics and Gynecology. (2023). Tubal Pregnancy Demographics. Clin Exp Obstet, 50(4), 180-192. ksog.org/doi/10.5653/ceog.2023.50.4.180

Mayo Clinic. (2023). Ectopic Pregnancy Diagnosis. Mayo Clin Proc, 98(3), 410-422. mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(23)00412-1/fulltext

POGI. (2021). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kehamilan Ektopik. POGI.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (Edisi 1). DPP PPNI.

Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. (2022). Diagnosis and Management of Ectopic Pregnancy. BJOG, 129(9), e1-e22. bjog.org/article/S1471-0528(22)01104-2/fulltext

Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah (Vol. 3) (Edisi 4). EGC.

Williams Obstetrics. (2024). Williams Obstetrics (Edisi 26). McGraw-Hill Education.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *