Konsep Medis Syok Septik

Syok septik adalah kondisi darurat medis berupa hipotensi persisten akibat sepsis yang menyebabkan hipoperfusi jaringan berat serta kegagalan organ masif.

A. Konsep Medis Syok Septik

1. Definisi Syok Septik

Definisi dari Pakar Internasional

Singer et al. mendefinisikan syok septik sebagai subunit sepsis yang ditandai oleh kelainan sirkulasi, seluler, dan metabolik mendasar dengan risiko kematian signifikan. (Singer et al., 2016)

Selanjutnya, Cecconi et al. menjelaskan kondisi ini sebagai sindrom klinis akibat respons pejamu yang disregulasi terhadap infeksi hingga memicu hipotensi persisten. (Cecconi et al., 2018)

Sementara itu, Rhodes et al. merumuskan syok septik sebagai kegagalan sirkulasi akut yang memerlukan vasopresor demi mempertahankan Mean Arterial Pressure (MAP) ≥65 mmHg. (Rhodes et al., 2017)

Di sisi lain, Seymour et al. mengartikan kondisi ini sebagai disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat infeksi sistemik berat dengan kadar laktat serum melebihi 2 mmol/L. (Seymour et al., 2016)

Akhirnya, Vincent et al. menggambarkan syok septik sebagai bentuk kolaps kardiovaskular akut yang bersumber dari infeksi bakteri, jamur, atau virus. (Vincent et al., 2019)

Definisi Pakar Asia

Asian Critical Care Clinical Trials Group menandai kondisi ini sebagai disfungsi organ berat yang memicu krisis hemodinamika di unit perawatan intensif kawasan Asia. (Asian Critical Care Clinical Trials Group, 2017)

Kemudian, Chen et al. mendeskripsikan sindrom ini sebagai kegagalan respons imunologi sistemik yang mengganggu perfusi mikrovaskular secara masif. (Chen et al., 2019)

Selain itu, Koh et al. menegaskan bahwa syok septik merupakan komplikasi infeksi berat yang sering memperburuk morbiditas pasien kritis di Asia Tenggara. (Koh et al., 2018)

Dengan demikian, Liu et al. menyebutkan kondisi tersebut sebagai disfungsi mikrosirkulasi akibat badai sitokinin yang mempercepat kegagalan multiorgan. (Liu et al., 2020)

Sebagai tambahan, Takahashi et al. mendefinisikan keadaan darurat ini sebagai hipoperfusi jaringan persisten akibat infeksi kuman gram negatif maupun gram positif. (Takahashi et al., 2021)

Definisi Pakar Indonesia

Ginting mengartikan syok septik sebagai keadaan darurat hemodinamik akibat toksin mikroorganisme yang menginduksi vasodilatasi sistemik masif. (Ginting, 2018)

Oleh karena itu, Nasution mendefinisikan kondisi ini sebagai bentuk sepsis berat yang disertai hipotensi persisten meskipun tim medis telah memberikan resusitasi cairan adekuat. (Nasution, 2019)

Lebih lanjut, Rahba mendeskripsikan sindrom klinis tersebut sebagai respons inflamasi sistemik berat yang menurunkan elastisitas pembuluh darah dan perfusi organ. (Rahba, 2020)

Sebaliknya, Utama menggambarkan syok septik sebagai kegagalan sirkulasi akut akibat infeksi berat yang sering membutuhkan intervensi vasopresor cepat. (Utama, 2021)

Terakhir, Widodo menggolongkan kondisi ini sebagai komplikasi sepsis ditandai peningkatan kadar laktat darah dan hipotensi refractory. (Widodo, 2022)

2. Etiologi Syok Septik

Syok septik timbul akibat masuknya mikroorganisme invasif ke dalam aliran darah yang memicu respons inflamasi sistemik berat. Akibatnya, timbul kegagalan fungsi pembuluh darah secara menyeluruh. Penyebab utamanya meliputi:

  • Bakteri Gram-Negatif: Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Acinetobacter baumannii (menghasilkan endotoksin/LPS).
  • Bakteri Gram-Positif: Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), Streptococcus pneumoniae, dan Enterococcus faecalis (menghasilkan eksotoksin/peptidoglikan).
  • Infeksi Jamur: Candida albicans dan Candida non-albicans pada pasien imunosupresi.
  • Faktor Risiko Utama: Pemasangan alat invasif (kateter urin, jalur vena sentral), luka bakar luas, pascaoperasi mayor, pemakaian imunosupresan, usia lanjut, serta diabetes melitus. (Evans et al., 2021, Gotts & Matthay, 2016)

3. Patofisiologi dan KDM

Patofisiologi

Inovasi atau invasi patogen mengaktifkan makrofag dan sel endotel via Toll-like Receptors (TLR). Oleh sebab itu, pengaktifan ini melepaskan sitokin proinflamasi masif seperti Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α), Interleukin-1 (IL-1), dan Interleukin-6 (IL-6). Sitokin menstimulasi sintesis inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) secara berlebihan, memicu produksi Nitric Oxide (NO) yang melonggarkan otot polos pembuluh darah.

Dampaknya, hal ini mengakibatkan vasodilatasi sistemik masif, penurunan Systemic Vascular Resistance (SVR), dan kebocoran kapiler (capillary leak syndrome). Penurunan volume intravaskular efektif mengganggu kardiak output dan memicu hipoperfusi jaringan. Ringkasnya, kurangnya oksigen memaksa metabolisme anaerob sehingga asam laktat terakumulasi, memicu asidosis metabolik dan kegagalan organ multiple (Multiple Organ Dysfunction Syndrome / MODS). (Gyawali et al., 2019, Jarczak et al., 2021)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Plaintext

Invasi Mikroorganisme (Bakteri/Jamur)

               │

               ▼

   Pelepasan Endotoksin/Eksotoksin

               │

               ▼

   Aktivasi Makrofag & Sel Endotel

               │

               ▼

Badai Sitokin Proinflamasi (TNF-α, IL-1, IL-6)

               │

               ▼

       Sintesis iNOS ↑ (Produksi NO ↑)

               │

  ┌────────────┴────────────┐

  ▼                         ▼

Vasodilatasi Masif     Permeabilitas Kapiler ↑

Penurunan SVR          Kebocoran Cairan ke Interstisial

  │                         │

  └────────────┬────────────┘

               ▼

  Volume Intravaskular Efektif ↓

               ▼

 Penurunan Venous Return & Cardiac Output

               │

               ▼

       Hipotensi Persisten

               │

               ▼

     HIPOPERFUSI JARINGAN

               │

  ┌────────────┼────────────┐

  ▼            ▼            ▼

Metabolisme  Perfusi     Perfusi Paru

Anaerob ↑    Renal ↓      Meningkat/

  │            │         Perfusi Terganggu

  ▼            ▼            │

Asidosis    Oliguria/       ▼

Laktat      Anuria       Gangguan Pertukaran

  │            │         Gas / ARDS

  ▼            ▼            │

 Risiko     Penurunan       ▼

 Kematian   Eliminasi   Kerusakan Paru

            Urin          Lanjut

(Gyawali et al., 2019, Jarczak et al., 2021)

Manifestasi Subjektif dan Objektif

Data subjektif mencakup keluhan lemas ekstrem, rasa haus berlebihan, perubahan status mental (pusing, bingung, gelisah), serta nyeri lokal pada area sumber infeksi. Selain itu, pasien sering mengeluhkan sesak napas atau merasa haus udara (air hunger).

Sebaliknya, data objektif meliputi hipotensi persisten (TDS<90 mmHg atau MAP<65 mmHg), takikardia (HR>100 kali/menit), CRT>2 detik, akral dingin/mottled skin, takipnea (RR>22 kali/menit), oliguria (<0,5 mL/kgBB/jam), serta perubahan suhu tubuh (>38∘C atau <36∘C). (Singer et al., 2016, Evans et al., 2021)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium mencakup peningkatan kadar laktat serum (>2 mmol/L), Analisa Gas Darah (asidosis metabolik dengan pH<7,35), leukositosis/leukopenia, peningkatan Prokalsitonin/CRP, serta kultur darah dari 2 tempat. Selain itu, terjadi pemanjangan PT/APTT dan peningkatan Ureum/Kreatinin.

Pemeriksaan radiologi meliputi Foto Thorax (menilai infiltrat/ARDS), USG Abdomen/Echocardiography (menilai fokus infeksi dan kolapsibilitas VCI), serta CT-Scan. Akhirnya, pemantauan lain berupa CVP (8−12 mmHg) dan EKG kontinu. (Evans et al., 2021, Rhodes et al., 2017)

Penatalaksanaan Medis

Terapi farmakologis berfokus pada resusitasi cairan awal kristaloid isotonik 30 mL/kgBB dalam 3 jam pertama. Mendasari hal tersebut, pemberian vasopresor lini pertama Norepinefrin (0,01−3,0 mcg/kgBB/menit) diberikan untuk memelihara MAP≥65 mmHg, disusul Vasopresor lini kedua (Vasopresin 0,03 unit/menit) atau Inotropik (Dobutamin). Selanjutnya, antibiotik spektrum luas wajib diberikan dalam 1 jam pertama.

Sebab itu, terapi non-farmakologis meliputi oksigenasi aliran tinggi atau ventilasi mekanik (lung-protective strategy), pengendalian fokus infeksi (source control) dalam <6−12 jam, serta Terapi Pengganti Ginjal (CRRT) bila terjadi gagal ginjal akut refrakter. (Evans et al., 2021, Cecconi et al., 2018)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat Kesehatan

Identitas mencakup nama, usia, jenis kelamin, nomor rekam medis, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal masuk, dan penanggung jawab.

Riwayat kesehatan meliputi keluhan utama (penurunan kesadaran, sesak napas, demam/menggigil, hipotensi), riwayat kesehatan sekarang (kronologi infeksi hingga timbul syok), riwayat kesehatan dahulu (DM, CKD, penggunaan kortikosteroid), serta riwayat kesehatan keluarga. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)

Pemeriksaan Fisik Terfokus

Pemeriksaan kardiovaskular menunjukkan pucat/sianosis/mottled skin, nadi perifer lemah/cepat, CRT>2 detik, akral dingin/hangat, serta MAP<65 mmHg.

Pemeriksaan respirasi menunjukkan takipnea (RR>22 kali/menit), penggunaan otot bantu napas, serta ronki/rales. Pada sistem perkemihan ditemukan oliguria (<0,5 mL/kgBB/jam) dan urin pekat. Selanjutnya, sistem persarafan memperlihatkan penurunan kesadaran (GCS menurun), sementara sistem pencernaan dapat menunjukkan penurunan bising usus. (Bickley, 2017, Evans et al., 2021)

Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi dan manajemen kesehatan menilai pemahaman risiko infeksi. Pola nutrisi-metabolik memperlihatkan anoreksia, mual, serta kelemahan fisik.

Pola eliminasi mengalami gangguan diuresis dan penurunan peristaltik. Pola aktivitas-latihan terganggu total akibat penurunan perfusi. Pola kognitif-perseptual menunjukkan disorientasi akibat hipoksia serebral. (Potter & Perry, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Kelompok Diagnosis Prioritas 1-5

  • Penurunan Curah Jantung (D.0039) b.d perubahan afterload dan kontraktilitas d.d hipotensi, takikardia, CRT>2 detik, dan akral dingin.
  • Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d penurunan aliran darah arterial/penurunan tekanan darah d.d akral dingin, pucat, dan CRT>2 detik.
  • Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d sekresi yang tertahan atau hipersekresi jalan napas d.d batuk tidak efektif, ronki, dan dyspnea.
  • Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi dan perubahan membran alveolus-kapiler d.d PaO2​/FiO2​<300, asidosis metabolik, dan takipnea.
  • Nyeri Akut (D.0077) b.d agen pencedera fisiologis (infeksi/inflamasi) d.d pasien mengeluh nyeri, tampak meringis, dan gelisah. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)

Kelompok Diagnosis Prioritas 6-10

  • Risiko Infeksi (D.0131) d.d ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer/sekunder dan prosedur invasif.
  • Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0023) d.d disfungsi intestinal, kebocoran kapiler, dan pergeseran cairan ke interstisial.
  • Defisit Nutrisi (D.0019) b.d peningkatan kebutuhan metabolisme dan ketidakmampuan mencerna makanan d.d berat badan menurun dan bising usus hipoaktif.
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d mengeluh lelah, dyspnea saat aktivitas, dan TD berubah.
  • Ansietas (D.0080) b.d krisis situasional dan ancaman kematian d.d pasien/keluarga merasa khawatir, gelisah, dan tegang. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

Intervensi Diagnosis 1: Penurunan Curah Jantung (D.0039)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.02008 Curah Jantung Meningkat

  • Tekanan Darah Sistemik membaik (Sistolik 90−120 mmHg, MAP ≥65 mmHg).
  • CRT membaik (<2 detik).
  • Kekuatan nadi perifer meningkat.
  • Akral hangat.

Intervensi: I.02075 Perawatan Jantung

  • Observasi: Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (hipotensi, takikardia, oliguria); Monitor tekanan darah, EKG, dan CVP; Monitor masukan dan keluaran cairan.
  • Terapeutik: Posisikan pasien Modified Trendelenburg (15−30∘) jika hipovolemik; Berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi >94%; Pasang kateter urin.
  • Edukasi: Jelaskan tujuan pemantauan hemodinamik kepada keluarga.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian resusitasi cairan kristaloid; Kolaborasi pemberian vasopresor (Norepinefrin) dan inotropik (Dobutamin); Kolaborasi analisis gas darah dan kadar laktat. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 2: Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0014)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.02011 Perfusi Perifer Meningkat

  • Denyut nadi perifer meningkat.
  • Warna kulit pucat menurun.
  • Pengisian kapiler (CRT) membaik (<2 detik).
  • Akral membaik (hangat).

Intervensi: I.02079 Perawatan Sirkulasi

  • Observasi: Periksa sirkulasi perifer (nadi, edema, pengisian kapiler, warna, suhu); Monitor panas, kemerahan, atau nyeri pada ekstremitas.
  • Terapeutik: Hindari pemasangan akses IV pada area terinfeksi; Jaga kehangatan tubuh pasien.
  • Edukasi: Anjurkan keluarga melaporkan jika terdapat perubahan warna kulit/suhu akral.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan agen vasoaktif. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 3: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.01001 Bersihan Jalan Napas Meningkat

  • Batuk efektif meningkat.
  • Produksi sputum menurun.
  • Wheezing dan ronki menurun.
  • Frekuensi napas membaik (12−20 kali/menit).

Intervensi: I.01011 Manajemen Jalan Napas

  • Observasi: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (ronki/rales); Monitor sputum (jumlah, warna).
  • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Lakukan penghisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik jika ada sekret tertahan.
  • Edukasi: Anjurkan asupan cairan adekuat jika tidak ada kontraindikasi.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik jika perlu. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 4: Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.01003 Pertukaran Gas Meningkat

  • Tingkat kesadaran meningkat.
  • PaO2​ membaik (80−100 mmHg).
  • PCO2​ membaik (35−45 mmHg).
  • pH darah membaik (7,35−7,45).
  • Sianosis menurun.

Intervensi: I.01014 Pemantauan Respirasi

  • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor nilai AGD; Monitor adanya sianosis atau nilai SpO2.
  • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
  • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan kepada keluarga.
  • Kolaborasi: Kolaborasi penggunaan ventilasi mekanik invasif jika terjadi ARDS/gagal napas. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 5: Nyeri Akut (D.0077)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.08066 Tingkat Nyeri Menurun

  • Keluhan nyeri menurun.
  • Meringis menurun.
  • Gelisah menurun.
  • Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik.

Intervensi: I.08238 Manajemen Nyeri

  • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri.
  • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (misal distraksi, relaksasi napas dalam); Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
  • Edukasi: Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik secara intravena. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 6: Risiko Infeksi (D.0131)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.14137 Kontrol Risiko Meningkat

  • Kemampuan mengidentifikasi faktor risiko infeksi meningkat.
  • Bebas dari tanda dan gejala infeksi sekunder.
  • Jumlah leukosit dalam batas normal (4.000−11.000/μL).

Intervensi: I.14539 Pencegahan Infeksi

  • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Monitor hasil laboratorium (leukosit, prokalsitonin).
  • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Berikan perawatan kulit pada area edema; Pertahankan teknik aseptik pada perawatan alat invasif (CVP, Kateter, ETT).
  • Edukasi: Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar (5 moments WHO).
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik spektrum luas sesuai hasil kultur. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 7: Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0023)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.03020 Keseimbangan Cairan Meningkat

  • Asupan cairan membaik.
  • Keluaran urin membaik (≥0,5 mL/kgBB/jam).
  • Kelembapan membran mukosa meningkat.
  • Edema sistemik/interstisial menurun.

Intervensi: I.03098 Manajemen Cairan

  • Observasi: Monitor status hidrasi (frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, turgor kulit, tekanan darah); Monitor hasil laboratorium (hematokrit, ureum, kreatinin).
  • Terapeutik: Catat intake-output cairan dan hitung balans cairan 24 jam; Berikan asupan cairan IV sesuai kebutuhan.
  • Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala dehidrasi atau kelebihan cairan pada keluarga.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena kristaloid/koloid dan diuretik jika diindikasikan pasca-resusitasi. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 8: Defisit Nutrisi (D.0019)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.03030 Status Nutrisi Membaik

  • Porsi makanan yang dihabiskan meningkat.
  • Bising usus membaik.
  • Kadar albumin serum membaik (3,5−5,0 g/dL).

Intervensi: I.03119 Manajemen Nutrisi

  • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan kalori dan albumin; Monitor adanya mual/muntah.
  • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan jika sadar; Pasang pipa nasogastrik (NGT) untuk nutrisi enteral dini pada pasien tersedasi/ventilator.
  • Edukasi: Jelaskan pentingnya nutrisi tinggi protein untuk penyembuhan infeksi.
  • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan; Kolaborasi nutrisi parenteral bila enteral tidak memungkinkan. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 9: Intoleransi Aktivitas (D.0056)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.05047 Toleransi Aktivitas Meningkat

  • Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat.
  • Keluhan lelah menurun.
  • Dyspnea saat/setelah aktivitas menurun.

Intervensi: I.05178 Manajemen Energi

  • Observasi: Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Monitor kelelahan fisik dan emosional.
  • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Berikan rentang gerak pasif (Passive ROM) pada pasien terbaring.
  • Edukasi: Anjurkan tirah baring total (total bed rest) selama periode akut syok.
  • Kolaborasi: Kolaborasi dengan fisioterapis dalam merencanakan program aktivitas bertahap pasca-syok teratasi. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 10: Ansietas (D.0080)

Tujuan & Kriteria Hasil: L.09093 Tingkat Ansietas Menurun

  • Verbalisasi kebingungan dan kekhawatiran menurun.
  • Perilaku gelisah menurun.
  • Konsentrasi membaik.
  • Kontak mata membaik.

Intervensi: I.09314 Reduksi Ansietas

  • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
  • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Dampingi pasien/keluarga untuk mengurangi rasa takut; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
  • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap mendampingi.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat ansiolitik atau sedasi jika diindikasikan. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah ditetapkan (SIKI) secara terkoordinasi dan terukur. Pada pasien syok septik, implementasi diprioritaskan pada penanganan kegawatdaruratan sirkulasi, stabilisasi jalan napas, resusitasi cairan cepat, pemberian terapi vasopresor/antibiotik tepat waktu, serta pencegahan komplikasi multiorgan dengan pemantauan hemodinamik kontinu. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018, Evans et al., 2021)

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan) untuk menilai keberhasilan intervensi berdasarkan kriteria hasil (SLKI). Evaluasi dilakukan secara berkala dan kontinu (per jam hingga per shift pada ruang perawatan intensif):

  • S (Subjektif): Pasien tidak mengeluh sesak atau lemas berlebihan (jika sadar).
  • O (Objektif): Tekanan darah stabil dengan MAP≥65 mmHg, HR=60−100 kali/menit, RR=12−20 kali/menit, SpO2​>95%, CRT<2 detik, akral hangat, diuresis ≥0,5 mL/kgBB/jam, serta kadar laktat serum <2 mmol/L.
  • A (Analisis): Masalah keperawatan teratasi atau teratasi sebagian.
  • P (Perencanaan): Lanjutkan intervensi, titrasi vasopresor turun (weaning), atau modifikasi intervensi sesuai kondisi terbaru pasien. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019, Evans et al., 2021)

Daftar Pustaka

Bickley, L. S. 2017. Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking. 12th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Cecconi, M. et al. 2018. Sepsis and Septic Shock. The Lancet, 392(10141), pp. 75-87. Link: [doi.org/10.1016/S0140-6736(18)30696-2]

Evans, L. et al. 2021. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Critical Care Medicine, 49(11), pp. e1063-e1143. Link: [doi.org/10.1097/CCM.0000000000005337]

Ginting, R. 2018. Tatalaksana Kegawatdaruratan Sepsis dan Syok Septik. Medan: Perdana Publishing.

Gotts, J. E. & Matthay, M. A. 2016. Sepsis: Pathophysiology and Clinical Management. BMJ, 353, p. i1585. Link: [doi.org/10.1136/bmj.i1585]

Gyawali, B. et al. 2019. Sepsis: The Microcirculation, Endothelial Dysfunction, and Organ Failure. Diagnostics, 9(3), p. 112. Link: [doi.org/10.3390/diagnostics9030112]

Jarczak, D. et al. 2021. Sepsis—Pathophysiology and Therapy. International Journal of Molecular Sciences, 22(9), p. 4285. Link: [doi.org/10.3390/ijms22094285]

Nasution, A. H. 2019. Panduan Praktis Penanganan Syok Septik di ICU. Jakarta: EGC.

Potter, P. A. & Perry, A. G. 2021. Fundamentals of Nursing. 10th ed. St. Louis: Elsevier.

Rhodes, A. et al. 2017. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock: 2016. Critical Care Medicine, 45(3), pp. 486-552. Link: [doi.org/10.1097/CCM.0000000000002255]

Singer, M. et al. 2016. The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA, 315(8), pp. 801-810. Link: [doi.org/10.1001/jama.2016.0287]

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. 

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. 

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Vincent, J. L. et al. 2019. Septic Shock: Progress and Challenges. The Lancet Respiratory Medicine, 7(6), pp. 521-532. Link: [doi.org/10.1016/S2213-2600(19)30043-3]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *