Gangguan penyesuaian merupakan reaksi emosional atau perilaku berlebihan terhadap stresor kehidupan yang signifikan dan mengganggu fungsi harian individu.
- A. Konsep Medis Gangguan Penyesuaian
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- Daftar Pustaka
A. Konsep Medis Gangguan Penyesuaian
1. Definisi Gangguan Penyesuaian
Definisi Dari Pakar Internasional
American Psychiatric Association mendefinisikan gangguan ini sebagai kemunculan gejala emosional atau perilaku yang berkembang sebagai respons terhadap stresor yang dapat teridentifikasi, terjadi dalam kurun waktu tiga bulan sejak paparan stresor tersebut (American Psychiatric Association, 2013).
Selain itu, World Health Organization mengartikan kondisi ini sebagai keadaan distress subjektif dan gangguan emosional yang menghambat fungsi sosial serta kinerja, biasanya timbul selama periode adaptasi terhadap perubahan hidup yang signifikan (World Health Organization, 2019).
Selanjutnya, Benjamin J. Sadock dan Virginia A. Sadock menjelaskan bahwa kondisi ini mencakup respons maladaptif terhadap stresor psikososial pendek maupun berkepanjangan yang memicu ketidakmampuan individu mengatasi tekanan (Sadock & Sadock, 2015).
Sementara itu, Michael B. First menegaskan bahwa kondisi ini karena adanya kecemasan atau depresi yang timbul akibat stresor spesifik dan melebihi intensitas reaksi normal masyarakat pada umumnya (First, 2014).
Selain itu, Glen O. Gabbard menggambarkan kondisi ini sebagai reaksi emosional sementara yang muncul ketika mekanisme pertahanan diri individu mengalami kegagalan saat menghadapi krisis kehidupan (Gabbard, 2014).
(American Psychiatric Association, 2013, World Health Organization, 2019, Sadock & Sadock, 2015, First, 2014, Gabbard, 2014)
Definisi Pakar Asia
A. K. Shah menyatakan bahwa krisis psikososial memicu ketidakseimbangan emosional sementara pada pasien yang tidak memiliki riwayat gangguan jiwa berat (Shah, 2016).
Sementara itu, T. Kurihara menggambarkan fenomena ini sebagai bentuk ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sosial atau pekerjaan yang cepat, memicu disfungsi interpersonal (Kurihara, 2017).
Kemudian, R. Ray mendefinisikan fenomena ini sebagai manifestasi stres akut akibat tekanan sosiokultural yang mengganggu pola tidur, konsentrasi, serta produktivitas harian (Ray, 2018).
Selanjutnya, S. Parthasarathy menyebutkan bahwa kondisi ini mencerminkan kegagalan mekanisme koping individu dalam menghadapi tuntutan kehidupan yang meningkat pada lingkungan perkotaan (Parthasarathy, 2019).
Akhirnya, Y. C. Shen mengartikan fenomena ini sebagai gangguan afektif sementara akibat peristiwa hidup negatif yang berdampak langsung pada keharmonisan keluarga dan lingkungan kerja (Shen, 2020).
(Shah, 2016, Kurihara, 2017, Ray, 2018, Parthasarathy, 2019, Shen, 2020)
Definisi Pakar Indonesia
Willy F. Maramis mengartikan fenomena ini sebagai reaksi maladaptif terhadap stres psikososial karena adanya kecemasan, rasa tertekan, atau gangguan tingkah laku yang sifatnya sementara (Maramis, 2009).
Lebih lanjut, Dadang Hawari mendefinisikan kondisi ini sebagai bentuk stresor psikososial yang melampaui ambang toleransi individu sehingga menimbulkan simptom somatik dan emosional (Hawari, 2013).
Berikutnya, Rusdi Maslim menegaskan bahwa diagnosis ini merujuk pada distres subjektif yang mengganggu fungsi sosial dan timbul dalam masa adaptasi terhadap perubahan hidup mendadak (Maslim, 2013).
Oleh karena itu, Sasanto Wibisono menjelaskan fenomena ini sebagai ketidakmampuan psikologis dalam mengintegrasikan peristiwa traumatik atau stresor kronis ke dalam kehidupan sehari-hari (Wibisono, 2015).
Sebagai pelengkap, Sylvia D. Elvira menguraikan kondisi ini sebagai respons emosional yang muncul akibat kegagalan strategi koping adaptif terhadap tekanan lingkungan atau pekerjaan (Elvira, 2018).
(Maramis, 2009, Hawari, 2013, Maslim, 2013, Wibisono, 2015, Elvira, 2018)
2. Etiologi dan Faktor Risiko Gangguan Penyesuaian
Etiologi kondisi ini bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor lingkungan, biologis, dan psikologis:
Faktor Stresor Psikososial
- Perubahan status pernikahan (perceraian, perpisahan, kematian pasangan).
- Konflik finansial atau masalah ekonomi yang mendadak.
- Masalah pekerjaan (pemutus hubungan kerja, penurunan jabatan, beban kerja berlebih).
- Masalah akademik atau penyesuaian lingkungan sekolah/kuliah baru.
- Penyakit fisik kronis atau diagnosis penyakit mematikan pada diri sendiri/keluarga.
Faktor Predisposisi dan Neurobiologis
- Riwayat trauma masa kanak-kanak.
- Keterampilan koping yang tidak adekuat.
- Kepribadian imatur atau imunitas psikologis yang rendah.
- Disfungsi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) yang menyebabkan pelepasan kortisol berlebihan.
- Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinefrin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
(American Psychiatric Association, 2013, Sadock & Sadock, 2015, Hawari, 2013)
3. Mekanisme Patofisiologi dan KDM
Patofisiologi
Ketika individu terpapar stresor psikososial yang signifikan, amigdala mengidentifikasi stresor tersebut sebagai ancaman dan mengaktifkan aksis HPA serta sistem saraf simpatis. Akibatnya, pengaktifan ini memicu pengeluaran Corticotropin-Releasing Hormone (CRH) dari hipotalamus yang merangsang korteks adrenal memproduksi kortisol dan katekolamin secara berlebihan. Hypercortisolemia yang berlangsung berulang atau kronis mengganggu regulasi umpan balik negatif di otak, menurunkan sensitivitas reseptor serotonin (5−HT) dan norepinefrin pada sistem limbik. Hal ini berdampak pada penurunan kontrol persepsi, disregulasi emosi, serta perubahan perilaku adaptif. Secara bersamaan, peningkatan tonus simpatis memicu respon kardiovaskuler dan gastrointestinal (seperti palpitasi, ketegangan otot, dan insomnia), yang memanifestasikan gejala somatik.
Penyimpangan KDM (Kebutuhan Dasar Manusia)
Oleh sebab itu, penurunan kemampuan koping adaptif akibat disregulasi sistem saraf dan hormon mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar manusia, antara lain:
- Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan Psikologis: Terganggu akibat persepsi ancaman konstan, memicu ansietas mendalam.
- Kebutuhan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang: Terganggu akibat isolasi sosial dan penarikan diri dari lingkungan.
- Kebutuhan Istirahat dan Tidur: Terganggu akibat hiperarousal sistem saraf simpatis.
Pathway
Plaintext
Stresor Psikososial (Perceraian, PHK, Penyakit Kronis, Masalah Finansial)
│
▼
Ketiadaan/Kegagalan Mekanisme Koping Adaptif
│
▼
Aktivasi Amigdala & Aksis HPA (Hipotalamus)
│
▼
Peningkatan Hormon Stres (Kortisol & Adrenalin)
│
┌─────────────────────────┴─────────────────────────┐
▼ ▼
Disregulasi Neurotransmiter (Serotonin & GABA) Hiperaktivitas Sistem Saraf Simpatis
│ │
├─────────────────────────┐ ├─────────────────────────┐
▼ ▼ ▼ ▼
Distres Emosional Perubahan Perilaku Ketegangan Otot Ganguan Pola Tidur
(Kecemasan, Depresi) (Isolasi, Agresi) & Palpitasi (Insomnia/Arousal)
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
ANSIETAS (D.0080) / KOPING TIDAK ADEKUAT GANGGUAN RASA AMAN GANGGUAN POLA TIDUR
RISIKO BUNUH DIRI (D.0096) / ISOLASI / NYERI ANKITAR (D.0055)
(D.0138) SOSIAL (D.0121) (D.0077)
(Sadock & Sadock, 2015, Maramis, 2009, Elvira, 2018)
4. Manifestasi Klinis Gangguan Penyesuaian
Data Subjektif
- Mengeluh cemas, khawatir berlebihan, dan tidak tenang.
- Menyatakan perasaan sedih, putus asa, atau hampa.
- Mengungkapkan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau mengambil keputusan.
- Mengeluh sulit tidur (insomnia) atau sering terbangun pada malam hari.
- Mengaku merasa lelah secara fisik dan mental secara terus-menerus.
- Menyatakan keinginan untuk menyendiri dan menghindari interaksi sosial.
Data Objektif
- Tampak gelisah, tegang, dan tidak dapat rileks.
- Menangis secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas pada tempat umum.
- Penurunan produktivitas kerja atau prestasi akademik.
- Terjadinya perubahan pola makan (anoreksia atau makan berlebihan).
- Tanda-tanda vital menunjukkan peningkatan frekuensi nadi dan tekanan darah ringan.
- Perilaku merusak atau impulsif (misalnya penyalahgunaan zat atau pelanggaran aturan).
(American Psychiatric Association, 2013, Maslim, 2013)
5. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Penyesuaian
Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan Fungsi Tiroid (TSH, Free T3, Free T4): Untuk menyingkirkan kemungkinan hipertiroidisme yang dapat menyerupai gejala ansietas.
- Kadar Kortisol Darah/Urin: Evaluasi respons stres sistem endokrin.
- Pemeriksaan Toksikologi Urin: Menyingkirkan penyalahgunaan zat atau alkohol sebagai pemicu primer gejala emosional.
- Darah Lengkap dan Elektrolit: Menyingkirkan etiologi organik seperti anemia atau gangguan elektrolit yang memicu kelelahan dan penurunan mood.
Pemeriksaan Radiologi dan Psikometri
- CT Scan atau MRI Kepala: Dilakukan jika terdapat dugaan gangguan struktural otak atau indikasi defisit neurologis fokal untuk menyingkirkan kelainan organik.
- Pemeriksaan Psikometri:
- Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) untuk mengukur tingkat kecemasan.
- Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D) atau Beck Depression Inventory (BDI) untuk menilai derajat depresi.
- Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) untuk mengukur tingkat penurunan fungsi kehidupan harian.
(Sadock & Sadock, 2015, Elvira, 2018)
6. Tatalaksana Medis
Terapi Farmakologis
Sebagai langkah intervensi medis, terapi obat bersifat simptomatis dan diberikan dalam jangka pendek (umumnya < 3 bulan) untuk mencegah ketergantungan:
- Antiansietas (Golongan Benzodiazepin):
- Alprazolam 0,25–0,5 mg per oral 2–3 kali sehari.
- Lorazepam 1–2 mg per oral 1–2 kali sehari.
- Antidepresan (Golongan SSRI – Selective Serotonin Reuptake Inhibitor):
- Sertraline 25–50 mg per oral sekali sehari (pagi atau malam).
- Escitalopram 10 mg per oral sekali sehari.
- Sedatif/Hipnotik (Jika Terdapat Insomnia Berat):
- Zolpidem 5–10 mg per oral sebelum tidur.
Terapi Non-Farmakologis
- Psikoterapi Individu (Cognitive Behavioral Therapy / CBT): Membantu pasien mengidentifikasi pikiran maladaptif dan mengubah pola respons terhadap stresor.
- Psikoterapi Suportif: Memberikan dorongan emosional, ventilisasi perasaan, dan penguatan mekanisme koping.
- Terapi Krisis: Intervensi singkat berfokus pada penyelesaian masalah utama secara cepat.
- Teknik Relaksasi dan Manajemen Stres: Latihan napas dalam, progressive muscle relaxation, dan meditasi.
(American Psychiatric Association, 2013, Sadock & Sadock, 2015, Hawari, 2013)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat Kesehatan
- Identitas Pasien: Mencakup nama, usia, jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, pekerjaan, alamat, serta identitas penanggung jawab.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Perasaan cemas berlebih, sedih berkepanjangan, kronologis munculnya gejala, waktu terjadinya stresor utama, durasi timbulnya respons maladaptif, dan sejauh mana gejala mengganggu aktivitas.
- Riwayat Kesehatan Dahulu & Keluarga: Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya, riwayat penyakit fisik kronis, trauma masa lalu, serta riwayat gangguan jiwa dalam keluarga.
Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Kardiovaskuler: Inspeksi dinding dada simetris; palpasi iktus kordis di ICS V linea midklavikularis kiri, nadi meningkat (takikardia ringan); perkusi batas jantung normal; auskultasi bunyi jantung I/II tunggal, reguler.
- Sistem Respirasi: Inspeksi bentuk dada simetris, frekuensi napas meningkat (hiperventilasi ringan); palpasi tactile fremitus sama; perkusi sonor; auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi/wheezing.
- Sistem Gastrointestinal: Inspeksi abdomen datar; auskultasi bising usus dapat meningkat/menurun; perkusi tympani; palpasi tidak teraba hepatomegali, nyeri tekan ringan epigastrium akibat asam lambung tinggi.
- Sistem Persarafan & Integumen: Inspeksi tremor halus pada ekstremitas superior, akral dingin, diaphoresis pada telapak tangan; palpasi ketegangan otot leher dan bahu meningkat.
Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)
- Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan: Persepsi pasien terhadap penyakitnya dan upaya penanganan yang pernah pasien lakukan.
- Pola Nutrisi dan Metabolik: Penurunan atau peningkatan nafsu makan sejak timbulnya stresor.
- Pola Eliminasi: Terjadinya perubahan frekuensi defekasi atau berkemih akibat respons stres simpatis.
- Pola Aktivitas dan Latihan: Kelesuan fisik, kelemahan, atau ketidakmampuan menjalankan rutinitas harian.
- Pola Istirahat dan Tidur: Kesulitan memulai tidur, sering terbangun, tidur tidak nyenyak.
- Pola Kognitif dan Perseptual: Penurunan daya ingat jangka pendek, gangguan konsentrasi, dan penurunan kemampuan mengambil keputusan.
- Pola Persepsi Diri dan Konsep Diri: Perasaan ketidakmampuan, harga diri rendah situasional, atau kehilangan kontrol diri.
- Pola Peran dan Hubungan: Penarikan diri dari interaksi keluarga atau masyarakat, konflik peran.
- Pola Seksualitas dan Reproduksi: Penurunan libido atau gangguan fungsi seksual akibat stres.
- Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Stres: Penggunaan mekanisme koping yang tidak efektif.
- Pola Nilai dan Kepercayaan: Perubahan dalam menjalankan ibadah atau krisis spiritual.
(Elvira, 2018, Hawari, 2013)
2. Diagnosis Keperawatan (SDKI)
Berikut adalah urutan prioritas diagnosis keperawatan berdasarkan SDKI:
- Risiko Bunuh Diri (D.0135)
- Ansietas (D.0080)
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Keputusasaan (D.0088)
- Disfungsi Proses Keluarga (D.0120)
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
3. Perencanaan Keperawatan (SLKI & SIKI)
Prioritas 1 Sampai 3
1. Risiko Bunuh Diri (D.0138)
- Luaran (SLKI): Kontrol Diri (L.09093) membaik.
- Kriteria Hasil: Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, verbalisasi isyarat bunuh diri menurun, perilaku melukai diri sendiri menurun, verbalisasi keinginan mati menurun.
- Intervensi (SIKI): Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
- Observasi: Identifikasi gejala risiko bunuh diri; periksa lingkungan dari benda berbahaya; monitor ketat kondisi emosional pasien.
- Terapeutik: Fasilitasi membicarakan perasaan tentang ide bunuh diri; libatkan keluarga dalam pengawasan; batasi akses ke tempat atau alat berbahaya.
- Edukasi: Informasikan sumber bantuan sosial atau medis; anjurkan koping adaptif; latih strategi pengalihan pikiran negatif.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas atau antidepresan; rujukan ke psikiater jika diperlukan.
2. Ansietas (D.0080)
- Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093) menurun.
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik, frekuensi nadi menurun.
- Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); identifikasi kemampuan mengambil keputusan.
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; pahami situasi yang membuat ansietas; dengarkan dengan penuh perhatian; dampingi pasien untuk mengurangi kecemasan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; latih teknik relaksasi napas dalam.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
3. Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran (SLKI): Status Koping (L.09086) membaik.
- Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, perilaku adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat, komunikasi efektif meningkat.
- Intervensi (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Observasi: Identifikasi kegiatan jangka pendek dan panjang sesuai tujuan; identifikasi kemampuan yang dimiliki; monitor pola penyelesaian masalah.
- Terapeutik: Diskusikan perubahan peran yang dialami; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; anjurkan membuat tujuan yang realistis; latih keterampilan pemecahan masalah secara bertahap.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan mental atau konselor.
Prioritas 4 Sampai 6
4. Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran (SLKI): Harga Diri (L.09083) meningkat.
- Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat, ungkapan rasa tidak berdaya menurun, membuat keputusan meningkat.
- Intervensi (SIKI): Promosi Harga Diri (I.09308)
- Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; monitor alasan mengkritik diri sendiri; identifikasi budaya dan keyakinan terkait harga diri.
- Terapeutik: Motivasi menerima tantangan atau peran baru; berikan umpan balik positif atas pencapaian; tingkatkan kepercayaan diri dalam mengekspresikan emosi.
- Edukasi: Anjurkan membuka diri terhadap respon orang lain; anjurkan mengevaluasi perilaku sendiri; latih kekuatan diri yang dimiliki.
- Kolaborasi: Kolaborasi dalam terapi kelompok terarah.
5. Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran (SLKI): Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat.
- Kriteria Hasil: Minat interaksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun, perilaku menarik diri menurun, kontak mata membaik.
- Intervensi (SIKI): Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Observasi: Identifikasi hambatan melakukan interaksi dengan orang lain; identifikasi kesiapan meningkatkan keterlibatan sosial.
- Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; tingkatkan interaksi dengan orang lain secara bertahap; fasilitasi kegiatan bersama kelompok.
- Edukasi: Anjurkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap; anjurkan berbagi pengalaman dengan orang lain; latih teknik menyapa orang lain.
- Kolaborasi: Kolaborasi kelompok pendukung (support group).
6. Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran (SLKI): Pola Tidur (L.05045) membaik.
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terbangun menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik/psikologis); monitor waktu tidur dan bangun.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu); tetapkan jadwal tidur rutin; lakukan prosedur pembatasan tidur jika perlu.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menepati kebiasaan tidur; ajarkan teknik relaksasi sebelum tidur.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat tidur jenis sedatif jika perlu.
Prioritas 7 Sampai 10
7. Keputusasaan (D.0088)
- Luaran (SLKI): Harapan (L.09068) meningkat.
- Kriteria Hasil: Keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat, verbalisasi keputusasaan menurun, inisiatif beraktivitas meningkat, pola tidur membaik.
- Intervensi (SIKI): Dukungan Emosional (I.09256)
- Observasi: Identifikasi fungsi marah, frustrasi, dan amuk bagi pasien; identifikasi hal yang memicu emosi; monitor tingkat keputusasaan.
- Terapeutik: Rangkul pasien untuk mendukung ekspresi perasaan; lakukan sentuhan terapeutik jika memungkinkan; fasilitasi pengungkapan perasaan.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan yang pasien alami; ajarkan penggunaan mekanisme koping yang sehat; ajarkan mengenali aspek positif kehidupan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog atau konselor spiritual.
8. Disfungsi Proses Keluarga (D.0120)
- Luaran (SLKI): Proses Keluarga (L.13123) membaik.
- Kriteria Hasil: Adaptasi keluarga terhadap perubahan meningkat, komunikasi antar anggota keluarga membaik, dukungan keluarga meningkat.
- Intervensi (SIKI): Promosi Proses Keluarga (I.13496)
- Observasi: Identifikasi interaksi antara keluarga dan pasien; monitor adanya konflik antar anggota keluarga.
- Terapeutik: Fasilitasi diskusi kelompok keluarga; fasilitasi keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien; dukung strategi koping keluarga.
- Edukasi: Informasikan rencana perawatan kepada keluarga; ajarkan keterampilan koping keluarga; latih komunikasi asertif antar keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan konselor keluarga.
9. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Luaran (SLKI): Interaksi Sosial (L.13115) meningkat.
- Kriteria Hasil: Kepekaan terhadap orang lain meningkat, responsif pada orang lain meningkat, kooperatif dalam interaksi meningkat.
- Intervensi (SIKI): Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
- Observasi: Identifikasi penyebab kurangnya keterampilan sosial; monitor respons emosional saat berinteraksi.
- Terapeutik: Berikan umpan balik positif pada keterampilan sosial adaptif; fasilitasi bermain peran keterampilan sosial; bantu pasien mengenali batas personal.
- Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara asertif; latih kontak mata dan bahasa tubuh yang baik.
- Kolaborasi: Terapi kelompok keterampilan sosial.
10. Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat.
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
- Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; monitor respons pemahaman.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; berikan kesempatan bertanya.
- Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; terangkan pencegahan kekambuhan.
- Kolaborasi: Kolaborasi tim kesehatan lain dalam pemberian edukasi spesifik.
4. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
Implementasi Keperawatan
Melaksanakan tindakan keperawatan secara konsisten berdasarkan perencanaan yang telah terumuskan. Setiap intervensi mencakup kegiatan mandiri (observasi, terapeutik, dan edukasi) serta tindakan kolaboratif. Dalam pelaksanaannya, perawat berfokus pada pencegahan cedera, pengurangan tingkat kecemasan, penguatan strategi koping, serta peningkatan dukungan keluarga dan lingkungan.
Evaluasi Keperawatan
Melakukan evaluasi secara berkala menggunakan prinsip SOAP:
- Subjektif (S): Ungkapan persepsi emosional dan fisik dari pasien setelah menerima intervensi.
- Objektif (O): Hasil pengamatan perilaku, tanda-tanda vital, serta respon non-verbal pasien.
- Analisis (A): Penilaian sejauh mana kriteria hasil pada SLKI telah tercapai.
- Perencanaan (P): Tindak lanjut intervensi, baik melanjutkan, memodifikasi, atau menghentikan intervensi yang sudah teratasi.
Daftar Pustaka
Buku
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2018). Buku Ajar Psikiatri (Edisi 3). Badan Penerbit FKUI.
Hawari, D. (2013). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Badan Penerbit FKUI.
Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi 2). Airlangga University Press.
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.
World Health Organization. (2019). International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (11th ed.). World Health Organization.
Jurnal
First, M. B. (2014). Adjustment Disorders. World Psychiatry, 13(3), 211-219. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4219066
Gabbard, G. O. (2014). Psychotherapy for Adjustment Disorders. Am J Psychother, 68(2), 145
158. doi.org/10.1176/appi.psychotherapy.2014.68.2.145
Kurihara, T. (2017). Adjustment Disorders in Asian Populations. Asian J Psychiatr, 28(1), 89-94.
doi.org/10.1016/j.ajp.2017.03.021
Parthasarathy, S. (2019). Stressors in Urban Environments. Indian J Psychol Med, 41(4), 302-309
doi.org/10.4103/IJPSYM.IJPSYM_412_18
Ray, R. (2018). Adjustment Disorders in Clinical Settings. J Clin Psychiatry India, 12(2), 112-118.
Shah, A. K. (2016). Adjustment Disorder in Developing Countries. Asian J Med Sci, 7(3), 45-51.
doi.org/10.3126/ajms.v7i3.13890\
Shen, Y. C. (2020). Psychosocial Stressors in Asian Contexts. J Asian Health Psychol, 15(1), 22-29.
Wibisono, S. (2015). Penatalaksanaan Stresor di Indonesia. J Psikiatri Indonesia, 42(1), 15-23.

Tinggalkan Balasan