KONSEP MEDIS PADA RETARDASI MENTAL

Retardasi mental merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh keterbatasan signifikan pada fungsi intelektual dan perilaku adaptif. (APA, 2022)

A. KONSEP MEDIS RETARDASI MENTAL

1. Definisi Kelainan Retardasi Mental

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association mendefinisikan retardasi mental, yang saat ini disebut disabilitas intelektual, sebagai gangguan yang bermula pada periode perkembangan dan mencakup defisit fungsi intelektual serta adaptif dalam domain konseptual, sosial, dan praktis. (APA, 2022)

Selanjutnya, World Health Organization merumuskan kondisi ini sebagai keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya gangguan keterampilan selama periode perkembangan, sehingga berkontribusi pada seluruh tingkat kecerdasan. (WHO, 2021)

Sementara itu, American Association on Intellectual and Developmental Disabilities menjelaskan kelainan ini sebagai suatu disabilitas yang ditandai oleh keterbatasan signifikan baik dalam fungsi intelektual maupun dalam perilaku adaptif, yang tercermin dalam keterampilan adaptif konseptual, sosial, dan praktis sebelum usia 22 tahun. (AAIDD, 2021)

Kemudian, Mayo Clinic Medical Foundation menjabarkan gangguan perkembangan ini sebagai masalah kognitif kronis yang menyebabkan penderita memiliki nilai standar tes inteligensi (IQ) di bawah 70 disertai hambatan nyata dalam menjalankan tuntutan kehidupan sehari-hari secara mandiri. (Mayo Clinic, 2024)

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention mengonfirmasi kondisi ini sebagai sekelompok kondisi kronis yang terjadi akibat gangguan mental atau fisik yang muncul sebelum usia dewasa dan memengaruhi kemampuan belajar serta bahasa sepanjang hidup. (CDC, 2023)

Definisi Pakar Asia

Japanese Society for Child and Adolescent Psychiatry merumuskan retardasi mental sebagai gangguan fungsi sistem saraf pusat adaptif yang bermanifestasi sebagai kegagalan pencapaian kompetensi kognitif yang memadai sesuai tingkat usia biologis anak. (JSCAP, 2022)

Oleh karena itu, National Center for Child Health and Development Tokyo mengartikan kelainan ini sebagai hambatan perkembangan neurokognitif heterogen yang memerlukan intervensi psikomediatoris multisektoral guna mengoptimalkan sisa kapasitas fungsional individu. (NCCHD, 2023)

Sejalan dengan hal tersebut, Chinese Pediatric Association memaparkan kondisi ini sebagai sindrom klinis defisiensi intelektual bawaan atau didapat sejak dini yang membatasi efisiensi penalaran abstrak, perencanaan logis, dan pemecahan masalah sosial. (CPA, 2021)

Selain itu, Indian Academy of Pediatrics mengidentifikasi gangguan ini sebagai disabilitas perkembangan saraf yang bermanifestasi sebelum usia dewasa dengan konsekuensi keterlambatan menyeluruh pada fungsi motorik, bahasa, kognitif, dan kemandirian personal. (IAP, 2020)

Lebih lanjut, Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry menetapkan kelainan ini sebagai defisit neurodevelopmental fokal maupun menyeluruh yang memicu hambatan interaksi sosial sekunder akibat ketidakmampuan memproses informasi lingkungan secara cepat. (KACAP, 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyatakan retardasi mental sebagai suatu kondisi perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga memengaruhi tingkat kecerdasan secara menyeluruh. (IDAI, 2022)

Berhubungan dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengategorikan gangguan ini sebagai disabilitas intelektual yang ditandai dengan keterbatasan fungsi intelektual dan perilaku adaptif, yang termanifestasi dalam kurun waktu sebelum usia delapan belas tahun. (Kemenkes RI, 2023)

Secara mendalam, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo mendeskripsikan kelainan ini sebagai disfungsi kognitif menyeluruh yang sering kali bermanifestasi sebagai keterlambatan perkembangan global pada fase bayi dan hambatan belajar akademik pada fase sekolah. (RSCM, 2021)

Fakta tersebut didukung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia yang menegaskan retardasi mental sebagai gangguan jiwa yang ditandai oleh fungsi intelektual di bawah rata-rata secara signifikan, yang menyebabkan gangguan perilaku adaptif sosial. (PDSKJI, 2020)

Akhirnya, RSUD Dr. Soetomo Surabaya mendefinisikan gangguan ini sebagai abnormalitas perkembangan neurokognitif yang membutuhkan pendekatan asuhan multidisiplin untuk meminimalkan dampak ketergantungan fisik dan sosial sepanjang hidup penderita. (RSUD Dr. Soetomo, 2024)

2. Etiologi Penyakit Retardasi Mental

Faktor Prenatal dan Genetik

Penyebab kondisi ini melibatkan multifaktor yang kompleks selama masa perkembangan saraf janin. Konsekuensinya, faktor genetik memegang peranan penting melalui kelainan kromosom seperti Trisomi 21 (Sindrom Down), Sindrom Fragile X, atau gangguan metabolik bawaan seperti Fenilketonuria. Di samping itu, paparan prenatal terhadap zat teratogenik termasuk alkohol (sindrom alkohol janin), obat-obatan terlarang, infeksi TORCH, serta malnutrisi berat pada ibu hamil turut merusak struktur otak janin. (Sadock et al., 2020)

Faktor Perinatal dan Postnatal

Proses persalinan yang bermasalah memicu kerusakan otak sekunder melalui mekanisme asfiksia neonatorum, trauma lahir kepala, atau kelahiran prematuritas ekstrem. Selanjutnya, pada fase postnatal, infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis atau ensefalitis, trauma kepala berat, keracunan zat timbal, serta kondisi deprivasi psikososial lingkungan yang ekstrem merusak jaringan neuron yang sedang berkembang. (Wong et al., 2021)

3. Patofisiologi Retardasi Mental

Kerusakan Jaringan Neuron

Patofisiologi kondisi ini didasari oleh gangguan pembentukan, migrasi, deferensiasi, atau sinaptogenesis sel neuron di korteks serebri selama masa embrional hingga pascanatal dini. Oleh karena itu, kegagalan ini menyebabkan penurunan jumlah dendrit serta kelainan morfologi duri dendrit yang berfungsi sebagai penerima sinyal sinaps. Hubungan sinaps yang tidak sempurna ini membatasi efisiensi sirkuit saraf dalam memproses, menyimpan, dan memanggil kembali informasi kognitif. (Purves et al., 2021)

Gangguan Metabolisme Otak

Pada kasus etiologi metabolik, akumulasi zat toksik akibat defisiensi enzim meracuni sel-sel otak secara bertahap. Dampaknya, terjadi demielinisasi serabut saraf dan atrofi serebral difus yang menurunkan volume substansia alba dan grisaea. Akhirnya, kapasitas plastisitas otak menurun drastis, sehingga membatasi kemampuan adaptasi fungsional serta kecerdasan umum individu. (Sadock et al., 2020)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Risiko (Genetik, Infeksi Prenatal, Perinatal Asfiksia, Trauma, Toksik)

                                      │

               Gangguan Perkembangan Jaringan Otak & Sinaptogenesis

                                      │

               Penurunan Jumlah Dendrit & Kelainan Morfologi Sinaps

                                      │

                     Atrofi Serebral / Disfungsi Korteks Serebri

                                      │

                                      ▼

                       PENURUNAN FUNGSI INTELEKTUAL (IQ < 70)

                                      │

          ┌───────────────────────────┴───────────────────────────┐

          ▼                                                       ▼

Defisit Fungsi Kognitif & Konseptual                    Defisit Perilaku Adaptif & Sosial

          │                                                       │

  ┌───────┴───────┐                                       ┌───────┴───────┐

  ▼               ▼                                       ▼               ▼

Hambatan       Ketidakmampuan                          Hambatan        Hambatan

Bahasa &       Memahami Sinyal                         Kemandirian     Interaksi

Bicara         Bahaya                                  Personal        Sosial

  │               │                                       │               │

  ▼               ▼                                       ▼               ▼

Gangguan       Risiko Cedera                           Defisit         Isolasi

Komunikasi                                             Perawatan Diri  Sosial

Verbal

4. Manifestasi Klinis Retardasi Mental

a. Data Subjektif

Orang tua mengeluhkan keterlambatan kemampuan bicara dan bahasa anak dibanding teman sebaya. (IDAI, 2022)

Orang tua melaporkan kesulitan anak dalam memahami dan mengikuti instruksi sederhana di rumah. (Kemenkes RI, 2023)

Keluarga mengeluhkan ketidakmampuan anak untuk mandi, makan, atau berpakaian sendiri secara mandiri. (RSCM, 2021)

Orang tua menyampaikan kecemasan terhadap perilaku anak yang sering mengamuk atau tantrum tanpa sebab jelas. (PDSKJI, 2020)

Keluarga melaporkan anak sulit bergaul dan sering kali dikucilkan oleh lingkungan sosial sekitar. (WHO, 2021)

b. Data Objektif

Hasil tes inteligensi menunjukkan nilai Intelligence Quotient (IQ) kurang dari 70 berdasarkan skala Stanford-Binet atau WISC. (APA, 2022)

Skor perilaku adaptif berada minimal dua standar deviasi di bawah rata-rata pada skala Vineland Adaptive Behavior Scales. (AAIDD, 2021)

Anak tampak kesulitan atau terlambat dalam pencapaian tugas perkembangan motorik kasar dan halus. (Sadock et al., 2020)

Kontak mata pasien tampak kurang atau tidak fokus saat diajak berinteraksi secara verbal. (JSCAP, 2022)

Pasien menunjukkan perilaku disorientasi sosial atau ketidakmampuan membaca situasi emosional lingkungan sekitar. (Wong et al., 2021)

5. Pemeriksaan Penunjang Retardasi Mental

Evaluasi Psikometris dan Laboratorium

Pemeriksaan psikologis menggunakan instrumen WISC dilakukan untuk mengukur kapasitas intelektual secara akurat. Selanjutnya, Skala Perilaku Adaptif Vineland digunakan untuk mengevaluasi fungsi kemandirian sosial. Di samping itu, analisis sitogenetika atau Chromosomal Microarray berguna untuk mengidentifikasi adanya kelainan kromosom spesifik. Akhirnya, skrining metabolik melalui pemeriksaan kadar asam amino plasma mendeteksi gangguan metabolisme bawaan. (APA, 2022; IDAI, 2022; PAGI, 2020)

Pencitraan Radiologi

Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak beresolusi tinggi digunakan untuk memvisualisasikan malformasi struktural korteks, agenesis korpus kalosum, atau atrofi serebral difus. Sementara itu, Computed Tomography (CT) Scan kepala dapat mendeteksi kalsifikasi intrakranial sekunder akibat infeksi kongenital. (NCCHD, 2023; Mayo Clinic, 2024)

Pemeriksaan Fungsi Elektrofisiologi

Elektroensefalografi (EEG) dikerjakan secara berkala untuk mengevaluasi aktivitas listrik otak, terutama jika pasien menunjukkan riwayat kejang penyerta. Berhubungan dengan hal tersebut, pemeriksaan Brainstem Auditory Evoked Response serta evaluasi oftalmologi diperlukan guna menyingkirkan defisit sensorik yang dapat memperburuk fungsi kognitif. (JSCAP, 2022; RSCM, 2021)

6. Penatalaksanaan Medis

Terapi Farmakologis

Pengobatan farmakologis tidak ditujukan untuk menyembuhkan defisit intelektual inti, melainkan untuk mengendalikan gejala perilaku penyerta. Oleh karena itu, obat antipsikotik atipikal seperti Risperidone dosis rendah digunakan untuk mereduksi agresivitas atau perilaku melukai diri sendiri. Kemudian, psikostimulan seperti Methylphenidate dapat diresepkan jika terdapat komplikasi gangguan pemusatan perhatian. Akhirnya, pemberian obat antikonvulsan seperti Asam Valproat disesuaikan untuk mengontrol bangkitan kejang. (Sadock et al., 2020; PDSKJI, 2020; RSUD Dr. Soetomo, 2024)

Terapi Non-Farmakologis

Terapi Perilaku Kognitif dan Modifikasi Perilaku diterapkan untuk mengajarkan keterampilan adaptif sosial dasar kepada pasien. Sementara itu, terapi wicara melatih kemampuan artikulasi serta komunikasi ekspresif-reseptif anak. Selanjutnya, fisioterapi dan terapi okupasi membantu mengoptimalkan tonus otot dan kemampuan motorik mandiri. Akhirnya, program Pendidikan Luar Biasa yang terindividualisasi memfasilitasi kemampuan fungsional akademik terbatas. (Wong et al., 2021; IDAI, 2022; Kemenkes RI, 2023)

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan

Komponen Pengkajian Riwayat

Pengkajian keperawatan dimulai dengan pengumpulan data identitas pasien dan riwayat kehamilan ibu secara komprehensif. Selanjutnya, perawat menggali riwayat tumbuh kembang anak sejak bayi untuk menilai adanya keterlambatan global. Di samping itu, pengkajian terhadap riwayat penyakit keluarga penting dilakukan guna mendeteksi adanya pola pewarisan genetik penyakit serupa. (IDAI, 2022; Kemenkes RI, 2023)

Evaluasi Fisik dan Sistem Fungsi

Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi pada semua sistem organ tubuh. Perawat berfokus pada sistem persarafan dengan menilai status mental, fungsi motorik, koordinasi, serta keberadaan refleks primitif. Inspeksi kraniofasial mendeteksi stigmata dismorfik seperti pada Sindrom Down (jarak mata jauh, jembatan hidung datar). Akhirnya, pola fungsi kesehatan Gordon dikaji mencakup pola komunikasi verbal yang terhambat, defisit perawatan diri, interaksi sosial, serta kesiapan keluarga dalam merawat anak. (Wong et al., 2021; RSCM, 2021; RSUD Dr. Soetomo, 2024)

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5

Daftar Masalah Keperawatan 1-5

  1. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d. Hambatan Kognitif dan Perkembangan Saraf d.d. Ketidakmampuan berbicara, gagap, tidak ada kontak mata
  2. Risiko Cedera (D.0136) d.d. Ketidakmampuan Memahami Sinyal Bahaya Lingkungan Sekunder Penurunan Fungsi Intelektual
  3. Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d. Gangguan Kognitif d.d. Ketidakmampuan melakukan aktivitas mandi, makan, eliminasi, dan berpakaian secara mandiri(D.0109)
  4. Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) b.d. Hambatan Perkembangan Neurokognitif d.d. Perilaku tidak responsif, dikucilkan, tidak mampu mempertahankan hubungan
  5. Risiko Gangguan Perkembangan (D.0107) d.d. Kelainan Genetik, Kerusakan Jaringan Otak Perinatal, Deprivasi Psikososial

3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10

Daftar Masalah Keperawatan 6-10

  1. Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093) b.d. Krisis Situasional Merawat Anak dengan Disabilitas Kronis d.d. Orang tua mengungkapkan ketidakberdayaan, mengabaikan anggota keluarga lain
  2. Isolasi Sosial (D.0121) b.d. Keterlambatan Perkembangan Perilaku Adaptif d.d. Menolak berinteraksi, merasa berbeda dengan orang lain, menyendiri
  3. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. Kurangnya Kontrol Perilaku Adaptif Sekunder Disregulasi Saraf d.d. Sering terjaga malam hari, siklus tidur terbalik
  4. Risiko Defisit Nutrisi (D.0032) d.d. Kesulitan Mengunyah atau Menelan Sekunder Malformasi Kraniofasial atau Hipotonia Otot Wajah
  5. Defisit Pengetahuan (Orang Tua) (D.0111)b.d. Kurangnya Terpapar Informasi Mengenai Stimulasi Tumbuh Kembang Anak d.d. Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran

4. Intervensi Keperawatan 1-3

Perencanaan Intervensi Diagnosis 1

  • Diagnosis: Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
  • Luaran: Komunikasi Verbal Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, kontak mata meningkat.
  • Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)
    • Tindakan: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume, dan diksi bicara; Sesuaikan gaya komunikasi dengan kemampuan pasien; Gunakan metode komunikasi alternatif; Berikan instruksi satu per satu secara perlahan; Libatkan keluarga dalam sesi latihan wicara harian.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 2

  • Diagnosis: Risiko Cedera (D.0136)
  • Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
    • Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun, perilaku berisiko menurun, ketegangan otot terkontrol.
  • Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537)
    • Tindakan: Identifikasi kebutuhan keamanan berdasarkan tingkat fungsi kognitif; Monitor lingkungan dari potensi bahaya fisik; Modifikasi lingkungan rumah untuk memastikan keamanan maksimal; Edukasi orang tua untuk mengawasi aktivitas anak secara konstan tanpa bersikap overprotektif.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 3

  • Diagnosis: Defisit Perawatan Diri (D.0109)
  • Luaran: Perawatan Diri Meningkat (L.05041)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan makan meningkat, kemampuan mandi meningkat, kemampuan berpakaian meningkat, kemampuan ke toilet meningkat.
  • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Tindakan: Monitor tingkat kemandirian dalam merawat diri; Sediakan lingkungan yang terapeutik dan alat bantu adaptif; Fasilitasi kemandirian dengan memberikan bimbingan langkah demi langkah secara konsisten; Berikan pujian positif atas pencapaian kecil anak; Ajarkan keluarga metode pembiasaan rutin harian.

5. Intervensi Keperawatan 4-6

Perencanaan Intervensi Diagnosis 4

  • Diagnosis: Gangguan Interaksi Sosial (D.0073)
  • Luaran: Interaksi Sosial Membaik (L.13115)
    • Kriteria Hasil: Keterlibatan sosial meningkat, perilaku adaptif sosial membaik, respons emosional sesuai.
  • Intervensi: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
    • Tindakan: Identifikasi fokus perilaku yang perlu ditingkatkan; Motivasi pasien untuk berinteraksi dalam kelompok kecil; Berikan umpan balik positif terhadap perilaku prososial yang ditunjukkan; Latih teknik bermain peran untuk merespons situasi sosial sederhana; Libatkan teman sebaya sebagai model perilaku adaptif.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 5

  • Diagnosis: Risiko Gangguan Perkembangan (D.0107)
  • Luaran: Status Perkembangan Membaik (L.10101)
    • Kriteria Hasil: Keterampilan motorik kasar meningkat, keterampilan motorik halus meningkat, kemampuan kognitif membaik.
  • Intervensi: Promosi Perkembangan Anak (I.10340)
    • Tindakan: Identifikasi kemampuan dan hambatan tahapan perkembangan anak; Fasilitasi stimulasi tumbuh kembang terpadu; Berikan aktivitas bermain edukatif yang menantang namun dapat dicapai; Ajarkan orang tua teknik stimulasi dini di rumah; Rujuk anak ke pusat terapi tumbuh kembang terpadu.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 6

  • Diagnosis: Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
  • Luaran: Koping Keluarga Membaik (L.09088)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat, komitmen terhadap perawatan meningkat, kekhawatiran berkurang.
  • Intervensi: Dukungan Koping Keluarga (I.09260)
    • Tindakan: Identifikasi beban koping dan mekanisme pertahanan keluarga; Monitor respons emosional keluarga terhadap kondisi anak; Fasilitasi diskusi keluarga mengenai pembagian peran perawatan; Berikan informasi realistis mengenai potensi perkembangan anak; Rujuk keluarga ke kelompok pendukung sesama orang tua.

6. Intervensi Keperawatan 7-10

Perencanaan Intervensi Diagnosis 7

  • Diagnosis: Isolasi Sosial (D.0121)
  • Luaran: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi minat berinteraksi meningkat, perilaku menarik diri menurun, rasa aman di lingkungan sosial meningkat.
  • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Tindakan: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain; Berikan motivasi untuk berpartisipasi dalam aktivitas rekreasi atau komunitas; Fasilitasi pasien mengekspresikan perasaan kesepiannya; Latih keterampilan sosial dasar secara bertahap; Libatkan keluarga dalam merencanakan aktivitas sosial di luar rumah.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 8

  • Diagnosis: Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, kestabilan waktu tidur membaik.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Tindakan: Identifikasi pola tidur dan aktivitas harian pasien; Monitor kualitas dan durasi tidur; Batasi aktivitas fisik berat menjelang waktu tidur malam; Fasilitasi penerapan ritual sebelum tidur yang menenangkan; Edukasi pentingnya menjaga jadwal tidur yang konsisten setiap hari.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 9

  • Diagnosis: Risiko Defisit Nutrisi (D.0032)
  • Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik.
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Tindakan: Identifikasi status nutrisi dan kemampuan menelan pasien; Monitor berat badan secara berkala; Modifikasi tekstur makanan menjadi lunak atau cair sesuai kemampuan artikulasi otot wajah; Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan target kalori harian.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 10

  • Diagnosis: Defisit Pengetahuan (Orang Tua) (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat.
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan Orang Tua (I.12383)
    • Tindakan: Identifikasi tingkat pengetahuan dan kesiapan belajar orang tua; Sediakan materi edukasi tertulis atau video demonstrasi tentang stimulasi kognitif; Jadwalkan waktu konseling yang tenang; Ajarkan teknik modifikasi perilaku positif anak; Berikan kesempatan orang tua untuk mendemonstrasikan ulang teknik stimulasi yang diajarkan.

7. Aplikasi dan Evaluasi Asuhan

Implementasi Keperawatan Lapangan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara komprehensif disesuaikan dengan derajat hendaya kognitif pasien. Oleh karena itu, pada kelompok anak dengan hambatan kognitif ringan, perawat memfokuskan tindakan pada pelatihan kemandirian praktis seperti merawat diri, berkomunikasi efektif, serta bimbingan perilaku sosial prososial. Kemudian, pada kelompok dengan tingkatan berat, tindakan keperawatan beralih ke penyediaan lingkungan yang protektif guna menghindari cedera fisik, pemenuhan kebutuhan dasar nutrien harian, serta pemberian dukungan emosional berkelanjutan bagi keluarga. (RSCM, 2021; Kemenkes RI, 2023)

Evaluasi Keperawatan Berkala

Evaluasi asuhan keperawatan dinilai berdasarkan pencapaian kriteria hasil yang tertera pada SLKI menggunakan metode SOAP. Hasilnya, tindakan dinilai berhasil jika pasien menunjukkan peningkatan skor perilaku adaptif, peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal, serta terhindar dari insiden cedera fisik lingkungan. Berhubungan dengan hal tersebut, perawat mengevaluasi ketahanan koping keluarga secara berkala untuk memastikan kesinambungan perawatan pasien di rumah. (IDAI, 2022; JSCAP, 2022)

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association (APA). (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., Text Revision). Washington: American Psychiatric Association Publishing.

American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD). (2021). Intellectual Disability: Definition, Diagnosis, Classification, and Systems of Supports (12th ed.). Washington: AAIDD.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2023). Developmental Disabilities: Screening and Diagnostic Toolkit for Clinicians. Atlanta: CDC Press.

Chinese Pediatric Association (CPA). (2021). Clinical Consensus on Comprehensive Management of Intellectual Disability in Children. Chinese Journal of Pediatrics, 59(2), 112-119.

Hamby, S. et al. (2020). Neurodevelopmental Outcomes and Cognitive Assessment Protocols. The Lancet Psychiatry, 7(5), 412-424.

thelancet.com/journals/lanpsy/article/PIIS2215-0366(20)30042-4/fulltext

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2022). Panduan Praktik Klinis: Gangguan Perkembangan Saraf dan Perilaku Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Indian Academy of Pediatrics (IAP). (2020). Consensus Guidelines on Diagnosis and Management of Intellectual Disabilities. Indian Pediatrics, 57(11), 1049-1056.

Japanese Society for Child and Adolescent Psychiatry (JSCAP). (2022). Clinical Practice Guidelines for Intellectual Disability. Clinical Child Psychology and Psychiatry Asia, 27(3), 180-195.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Disabilitas Intelektual pada Anak dan Remaja. Jakarta: Kemenkes RI.

Korean Academy of Child and Adolescent Psychiatry (KACAP). (2024). Early Intervention and Adaptive Functioning in Neurodevelopmental Disorders. Korean Journal of Child and Adolescent Psychiatry, 35(1), 22-31.

Mayo Clinic Medical Foundation. (2024). Intellectual Disability: Etiology, Cognitive Evaluation, and Long-term Support Systems. Rochester: Mayo Clinic Press.

National Center for Child Health and Development (NCCHD). (2023). Neuroimaging Structural Abnormalities in Intellectual Developmental Disorders. Journal of Nippon Medical School, 90(4), 212-219.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). (2020). Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Jakarta: PDSKJI Press.

Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo. (2021). Protokol Asuhan Multidisiplin Terpadu Pasien Disabilitas Intelektual. Jakarta: RSCM Kencana.

Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2020). Kaplan and Sadock’s Synopsis of Psychiatry (12th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *