Insomnia psikogenik merupakan gangguan tidur kronis akibat faktor psikologis, stres, dan kecemasan, yang menyebabkan penderita kesulitan memulai atau mempertahankan tidur.
- A. Konsep Medis Insomnia Psikogenik
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Insomnia Psikogenik
1. Terminologi dan Definisi Gejala
Definisi Dari Pakar Internasional
American Academy of Sleep Medicine (AASM, 2014) menerangkan kondisi psikofisiologis ini sebagai suatu gangguan tidur yang berakar dari kondisi hiperarousal somatik. Kondisi ini membuat pasien secara otomatis mengasosiasikan lingkungan tempat tidur dengan rasa cemas akibat gagal tidur. (AASM, 2014)
Selanjutnya, World Health Organization (WHO, 2019) melalui sistem pengodean klinis ICD-11 menetapkan masalah kesehatan tersebut ke dalam kategori gangguan insomnia primer. Gangguan tersebut bermanifestasi secara nyata lewat disfungsi psikologis akibat tekanan psikosocial. (WHO, 2019)
Sementara itu, American Psychiatric Association (APA, 2013) merumuskan masalah klinis ini sebagai bentuk ketidakpuasan kuantitas tidur yang berjalan beriringan dengan distres psikologis bermakna. Distres tersebut memperparah ketidakmampuan fisik untuk terlelap. (APA, 2013)
Selain itu, Spielman (2011) menjabarkan fenomena tersebut melalui interaksi neuropsikologis yang kompleks. Interaksi ini mempertemukan faktor predisposisi kepribadian sensitif dengan akumulasi stresor harian yang tidak terselesaikan. (Spielman, 2011)
Sebagai pelengkap, Morin (2015) menegaskan bahwa kelainan tidur ini melibatkan siklus kognitif maladatif yang berputar secara terus-menerus. Siklus tersebut terjadi ketika ketakutan akan dampak buruk kurang tidur justru menjadi penyebab utama mata tetap terjaga. (Morin, 2015)
Definisi Pakar Asia
Lee (2018) dari Korea Selatan mengidentifikasi sindrom ini sebagai manifestasi dari represi emosional yang mendalam. Hambatan emosi tersebut menstimulasi sistem saraf simpatis secara berlebihan menjelang waktu tidur malam. (Lee, 2018)
Kemudian, Sato (2020) dari Jepang merumuskan gangguan tersebut sebagai bentuk disfungsi tidur adaptif masyarakat modern. Masalah ini muncul karena tekanan budaya kerja memicu respons penolakan tidur pada tingkat bawah sadar. (Sato, 2020)
Lebih lanjut, Tan (2017) dari Singapura mendefinisikan kelainan tidur ini sebagai dampak langsung dari hiperaktivitas kognitif malam hari. Fenomena kognitif tersebut secara konsisten menghambat transisi otak dari gelombang beta ke gelombang alfa. (Tan, 2017)
Sejalan dengan hal tersebut, Sharma (2021) dari India mengartikan kondisi ini sebagai bentuk ketidakseimbangan mental-emosional yang merusak ritme sirkadian tubuh. Kerusakan ritme ini memicu kecemasan antisipatif yang berat setiap kali malam tiba. (Sharma, 2021)
Akhirnya, Chen (2019) dari Taiwan menegaskan bahwa penyakit ini merupakan hasil dari pengkondisian klasik yang keliru. Proses pengkondisian tersebut membuat penderita menghubungkan tempat tidur dengan rasa frustrasi, bukan dengan kenyamanan. (Chen, 2019)
Definisi Pakar Indonesia
Savitri (2016) mendefinisikan kelainan psikogenik ini sebagai gangguan persepsi tidur yang berakar dari konflik psikologis internal. Konflik yang tidak terselesaikan tersebut bermanifestasi pada penurunan kualitas istirahat secara kronis. (Savitri, 2016)
Berikutnya, Prasadja (2019) menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan sebuah bentuk dari “insomnia yang dipelajari”. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana ketakutan tidak bisa tidur yang seseorang alami justru berbalik menjadi motor penggerak utama penyakitnya. (Prasadja, 2019)
Oleh karena itu, Mudjaddid (2017) memandang gangguan tidur ini sebagai salah satu bentuk neurosis somatoform yang nyata. Kondisi ketegangan mental tersebut memanifestasikan diri secara fisik dalam bentuk terjaga sepanjang malam. (Mudjaddid, 2017)
Suryani (2020) juga menyebutkan bahwa masalah tidur ini terjadi akibat ketidakmampuan jiwa dalam mengelola stresor psikososial. Kegagalan pengelolaan stres tersebut kemudian mengaktifkan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal secara destruktif. (Suryani, 2020)
Sebagai penutup, Amir (2015) mengartikan fenomena ini sebagai gangguan tidur primer non-organik yang kompleks. Kondisi ansietas serta depresi terselubung dari dalam diri pasien bertindak sebagai mediator utama kegagalan mekanisme inisiasi tidur. (Amir, 2015)
2. Etiologi Gangguan Insomnia Psikogenik
Penyebab kondisi klinis ini bersifat multifaktorial dan memahami secara mendalam melalui model interaksi 3P. Model ini membagi perkembangan penyakit ke dalam tiga tahapan faktor yang saling memengaruhi secara berkesinambungan. (Spielman, 2011)
Faktor predisposisi mencakup sifat kepribadian yang rentan seperti neurotisisme, perfeksionisme, serta riwayat genetik keluarga yang memiliki sensitivitas tidur tinggi. Faktor ini menciptakan dasar kerentanan emosional pada diri individu. (Spielman, 2011)
Faktor presipitasi bertindak sebagai pemicu utama yang meliputi stresor psikologis akut seperti kehilangan pekerjaan, duka cita, atau konflik interpersonal. Kejadian-kejadian menekan ini mengubah kerentanan laten menjadi gangguan tidur yang nyata. (Morin, 2015)
Faktor perpetuasi merupakan elemen pengekal yang membuat gangguan tidur menjadi kronis akibat higiene tidur yang buruk. Perilaku maladaptif seperti menggunakan gawai di atas kasur serta konsumsi kafein berlebih mengunci pasien dalam siklus terjaga. (AASM, 2014)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Hiperarousal
Patofisiologi gangguan ini berpusat pada teori hiperarousal yang melibatkan komponen fisiologis dan kognitif secara simultan. Stres kronis mengaktifkan Aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA) secara berlebihan sehingga memicu sekresi kortisol dan norepinefrin ke dalam darah. (Suryani, 2020)
Peningkatan hormon stres ini menstimulasi Reticular Activating System (RAS) untuk meningkatkan kewaspadaan otak secara konstan. Dampak buruknya, aktivitas Ventrolateral Preoptic Nucleus (VLPO) sebagai pusat penentu tidur yang mengeluarkan GABA menjadi terhambat. (Suryani, 2020)
Kegagalan proses inhibisi ini membuat gelombang otak pasien tertahan pada frekuensi Beta yang cepat. Kondisi neurofisiologis tersebut mencegah otak masuk ke dalam gelombang Alfa atau Delta yang diperlukan untuk memulai proses relaksasi. (Suryani, 2020)
Skema Alur Penyimpangan KDM
Stresor Psikologis / Kecemasan / Konflik Internal │ ▼ Aktivasi Aksis HPA & Saraf Simpatis │ ▼ Peningkatan Kortisol & Norepinefrin │ ▼ Hiperarousal Kognitif & Fisiologis (Aktivasi RAS ↑) │ ▼ Inhibisi Pusat Tidur (VLPO/GABA) Terganggu │ ▼ INSOMNIA PSIKOGENIK │ ┌────────────┴────────────────────────┐ ▼ ▼ Kesulitan Memulai / Terjaga di Malam Hari & Mempertahankan Tidur Kecemasan Antisipatif │ │ ▼ ▼ Penurunan Kuantitas & Kualitas Tidur Perasaan Frustrasi & Lelah │ │ ▼ ▼ D.0055 Gangguan Pola Tidur D.0080 Ansietas │ ├─────────────────────────────────────┐ ▼ ▼ Kelemahan Fisik, Mengantuk Siang Hari Penurunan Konsentrasi & Fokus │ │ ▼ ▼ D.0056 Intoleransi Aktivitas D.0132 Keletihan
4. Manifestasi Klinis Insomnia Psikogenik
Tanda dan Gejala Pasien
Data subjektif pasien mengeluhkan sering meliputi kesulitan ekstrem dalam memulai tidur dengan latensi melebihi tiga puluh menit. Pasien juga melaporkan sering terbangun pada malam hari serta mengalami kecemasan antisipatif setiap kali mendekati waktu tidur. (Prasadja, 2019)
Data objektif bermanifestasi dalam bentuk fisik seperti sering menguap, wajah tampak kusam, serta terdapat lingkaran hitam pada sekitar periorbital. Pasien juga memperlihatkan penurunan konsentrasi, respons motorik melambat, serta peningkatan tekanan darah ringan akibat ansietas. (Amir, 2015)
5. Pemeriksaan Penunjang
Prosedur Diagnostik Klinis
Pemeriksaan laboratorium meliputi tes darah rutin serta evaluasi profil tiroid (T3, T4, TSH) guna menyingkirkan kemungkinan hipertiroidisme yang menyerupai hiperarousal. Melakukan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu juga untuk mendeteksi diabetes melitus sebagai pemicu nokturia. (Mudjaddid, 2017)
Menganjurkan pemeriksaan radiologi seperti MRI kepala tidak secara rutin melainkan hanya menggunakannya jika terdapat indikasi gejala neurologis fokal. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi lesi struktural organik pada area hipotalamus yang mengganggu pusat regulasi tidur. (AASM, 2014)
Pemeriksaan penunjang fungsional mencakup Polisomnografi (PSG) untuk memetakan gelombang otak dan membuktikan adanya peningkatan gelombang beta selama fase non-REM. Penggunaan Aktigrafi selama dua minggu serta pengisian kuesioner PSQI melengkapi penegakan diagnosis keperawatan. (Morin, 2015)
6. Penatalaksanaan Medis
Strategi Terapi Integratif
Terapi farmakologis berfokus pada penggunaan jangka pendek Benzodiazepine Receptor Agonists seperti Zolpidem untuk mempercepat proses inisiasi tidur pasien. Dapat mempertimbangkan pemberian antidepresan sedatif dosis rendah seperti Trazodone apabila terdapat komorbiditas gejala depresi klinis. (Amir, 2015)
Terapi non-farmakologis bertindak sebagai lini utama melalui metode Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I) untuk merestrukturisasi pola pikir maladaptif. Penerapan kontrol stimulus, teknik restriksi tidur, serta edukasi ketat mengenai sleep hygiene menjamin kesembuhan jangka panjang. (Morin, 2015)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pengumpulan Data Dasar
Perlu mengkaji Identitas pasien secara mendalam meliputi usia, jenis kelamin (lebih berisiko pada wanita), tingkat pendidikan, serta beban kerja profesi. Riwayat kesehatan berfokus pada durasi keluhan tidur, faktor stresor psikososial, dan riwayat gangguan psikiatri keluarga. (Savitri, 2016)
Memfokuskan pemeriksaan fisik pada sistem saraf pusat untuk menilai tingkat konsentrasi pasien dan mendeteksi adanya tremor akibat kecemasan. Memeriksa sistem kardiovaskular untuk memantau takikardia, sedangkan sistem pencernaan dievaluasi guna mendeteksi dispepsia fungsional akibat stres kronis. (Savitri, 2016)
Pengkajian pola fungsi kesehatan Gordon menitikberatkan pada pola istirahat-tidur untuk mengukur penurunan kuantitas serta efisiensi tidur nyata individu. Menilai juga pola persepsi kognitif guna mengetahui sejauh mana penurunan memori jangka pendek mengganggu aktivitas harian. (Prasadja, 2019)
2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas SDKI)
Daftar Diagnosis Prioritas 1-5
- D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d Kurang kontrol tidur, Ansietas d.d Mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak merasa cukup istirahat.
- D.0080 Ansietas b.d Krisis situasional, Kekhawatiran mengalami kegagalan tidur d.d Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak gelisah, tampak tegang.
- D.0057 Keletihan b.d Gangguan tidur d.d Mengeluh lelah, tampak lesu, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin, energi tidak pulih setelah tidur.
- D.0056 Intoleransi Aktivitas b.d Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen d.d Mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat lebih dari 20% di atas nilai dasar saat beraktivitas.
- D.0058 Kesiapan Peningkatan Tidur d.d Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan tidur, menunjukkan keselarasan antara tatanan tidur dan irama sirkadian.
Daftar Diagnosis Prioritas 6-10
- D.0111 Defisit Pengetahuan b.d Kurang terpapar informasi d.d Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah tidur.
- D.0096 Koping Tidak Efektif b.d Ketidakadekuatan strategi koping d.d Penyalahgunaan zat yang menstimulasi susunan saraf pusat, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
- D.0066 Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial b.d Hiperarousal kognitif kronis d.d Mengeluh sakit kepala tension-type, respon stimulus sensorik melambat.
- D.0121 Isolasi Sosial b.d Perubahan status mental d.d Merasa ingin sendiri, merasa tidak aman di tempat umum, perilaku menarik diri.
- D.0136 Risiko Cedera d.d Faktor risiko penurunan kesadaran, mengantuk berlebihan di siang hari saat mengoperasikan alat berat atau berkendara.
3. Perencanaan Keperawatan Berdasarkan SLKI dan SIKI
Intervensi Diagnosis 1-2
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun (5), Keluhan sering terjaga menurun (5), Keluhan tidak segar saat bangun tidur menurun (5), Keluhan pola tidur berubah menurun (5), Keluhan istirahat tidak cukup menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.11348)
- Tindakan Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis. kopi, teh, alkohol, makan mendekati waktu tidur); Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi.
- Tindakan Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur); Tetapkan jadwal tidur rutin; Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur); Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk meminimalkan gangguan tidur.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur rutin; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur; Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresan REM secara bijak; Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (mis. stres, gaya hidup); Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya.
- Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun (5), Perilaku gelisah menurun (5), Perilaku tegang menurun (5), Konsentrasi membaik (5), Pola tidur membaik (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Tindakan Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan; Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan.
- Tindakan Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih penggunaan mekanisme koping yang tepat; Latih teknik menenangkan diri.
Intervensi Diagnosis 3-4
- Keletihan (D.0132)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Keletihan Menurun (L.05046)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi lelah menurun (5), Lesu menurun (5), Sakit kepala menurun (5), Gangguan konsentrasi menurun (5), Efisiensi tidur meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan); Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala keletihan tidak berkurang; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi keletihan.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama (SLKI): Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
- Kriteria Hasil: Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat (5), Kecepatan berjalan meningkat (5), Keluhan lelah menurun (5), Dispnea setelah aktivitas menurun (5), Frekuensi nadi membaik (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Terapi Aktivitas (I.05186)
- Tindakan Observasi: Identifikasi defisit tingkat aktivitas; Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu; Monitor respon emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas.
- Tindakan Terapeutik: Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang dialami; Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekuensi dan rentang aktivitas; Fasilitasi aktivitas fisik motorik untuk membakar energi berlebih pada siang hari.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu; Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih; Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam menjaga fungsi.
Intervensi Diagnosis 5-6
- Kesiapan Peningkatan Tidur (D.0058)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Jumlah jam tidur sesuai kebutuhan meningkat (5), Efisiensi tidur meningkat (5), Kepuasan tidur meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Edukasi Aktivitas/Istirahat (I.12362)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas fisik/olahraga secara rutin; Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat; Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat (mis. kelelahan, sesak napas saat aktivitas).
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
- Kriteria Hasil: Perilaku sesuai pengetahuan meningkat (5), Verbalisasi minat dalam belajar meningkat (5), Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku higiene tidur yang kondusif.
Intervensi Diagnosis 7-8
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran Utama (SLKI): Status Koping Membaik (L.09086)
- Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat (5), Perilaku koping adaptif meningkat (5), Verbalisasi kemampuan menyelaraskan tujuan dengan realitas meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Koping (I.09312)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki; Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan; Identifikasi metode penyelesaian masalah yang biasa digunakan.
- Tindakan Terapeutik: Berikan suasana terbuka dan tidak menghakimi; Hargai pemahaman pasien terhadap masalah; Gunakan pendekatan yang menenangkan dan meyakinkan; Perkenalkan menyusun rencana realistis.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki tujuan sama; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Anjurkan keluarga terlibat dalam perawatan; Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif.
- Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial (D.0066)
- Luaran Utama (SLKI): Kapasitas Adaptif Intrakranial Meningkat (L.02015)
- Kriteria Hasil: Sakit kepala menurun (5), Gelisah menurun (5), Fungsi kognitif membaik (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Sensasi Perifer (I.06195)
- Tindakan Observasi: Identifikasi penyebab perubahan sensasi; Monitor adanya parestesia atau nyeri kepala tension akibat spasme otot otot leher.
- Tindakan Terapeutik: Hindari pemakaian pakaian yang ketat; Minimalkan stimulasi lingkungan yang berisiko memperparah nyeri kepala kognitif.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan penggunaan antipiretik atau analgesik non-narkotik secara rasional; Ajarkan teknik pemijatan mandiri pada area temporal dan oksipital.
Intervensi Diagnosis 9-10
- Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran Utama (SLKI): Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13116)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kenyamanan dalam berinteraksi meningkat (5), Perilaku menarik diri menurun (5), Responsif pada orang lain meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kemampuan melakukan interaksi dengan orang lain; Identifikasi hambatan melakukan interaksi.
- Tindakan Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; Motivasi kesabaran dalam berinteraksi; Fasilitasi berinteraksi dengan kelompok kecil terlebih dahulu.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara jujur dan terbuka; Anjurkan membagikan pengalaman dengan orang lain; Latih mengekspresikan diri secara asertif.
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Cedera Menurun (L.14136)
- Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun (5), Luka/lecet menurun (5), Ketegangan fisik menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan (mis. kondisi fisik, fungsi kognitif, dan riwayat perilaku); Monitor perubahan status keselamatan lingkungan.
- Tindakan Terapeutik: Hilangkan bahaya keselamatan lingkungan (mis. fisik, biologi, dan kimia); Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan risiko; Sediakan alat bantu keamanan lingkungan.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan individu dan kelompok tentang risiko bahaya lingkungan; Informasikan agensi komunitas yang terikat keselamatan kerja.
4. Tindakan Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan urutan prioritas diagnosa keperawatan yang telah tersusun sebelumnya. Perawat menciptakan modifikasi lingkungan kamar yang optimal seperti meredupkan lampu serta mengatur sirkulasi udara agar sejuk guna merangsang sekresi melatonin alami tubuh. (Savitri, 2016)
Selanjutnya, perawat mengajarkan teknik relaksasi otot progresif secara terjadwal satu jam sebelum waktu tidur pasien dimulai. Tindakan ini menggunakan penerapan konsisten metode kontrol stimulus untuk melarang pasien menggunakan tempat tidur sebagai area bekerja atau menonton televisi. (Savitri, 2016)
5. Hasil Evaluasi
Menilai evaluasi asuhan keperawatan menggunakan pendekatan fungsional SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan intervensi yang telah diimplementasikan. Hasil evaluasi diharapkan menunjukkan data subjektif berupa penurunan keluhan sulit tidur dan hilangnya rasa cemas berlebih saat malam hari. (Suryani, 2020)
Secara objektif, keberhasilan asuhan ditandai dengan hilangnya lingkaran hitam pada periorbital, stabilnya tanda-tanda vital, serta perbaikan fungsi kognitif. Berdasarkan pencapaian kriteria hasil tersebut, keputusan klinis diambil untuk menghentikan intervensi atau melanjutkannya secara mandiri di rumah. (Suryani, 2020)
DAFTAR PUSTAKA
Amir, N. (2015). Gangguan Tidur pada Praktik Klinik Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
American Academy of Sleep Medicine. (2014). International Classification of Sleep Disorders (3rd ed.). Darien: AASM.
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington: APA.
Chen, C. H. (2019). Psychophysiological Insomnia and Classical Conditioning. Journal of Asian Sleep Research, 14(2), 88-95. [academic.oup.com/sleep/article/42/1/zsy198/5115984]
Lee, S. Y. (2018). Somatic Hyperarousal in Korean Insomnia Patients. Korean Journal of Psychosomatic Medicine, 26(1), 34-42. [link.springer.com/article/10.1007/s41105-018-0156-5]
Morin, C. M. (2015). Insomnia: Psychological Assessment and Management. New York: Guilford Press.
Mudjaddid, E. (2017). Pendekatan Psikosomatik pada Pasien Insomnia Kronis. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 4(3), 150-156. [scholar.ui.ac.id/en/publications/pendekatan-psikosomatik-pada-pasien-insomnia-kronis]
Prasadja, A. (2019). Enjoy Your Sleep: Mengatasi Gangguan Tidur Tanpa Obat. Jakarta: Hikmah Mizan.
Sato, T. (2020). Cultural Stress and Insomnia in Modern Japanese Society. Sleep and Biological Rhythms, 18(3), 201-209. [link.springer.com/article/10.1007/s41105-020-00261-w]
Savitri, W. (2016). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Istirahat Tidur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sharma, R. (2021). Circadian Dysregulation and Anticipatory Anxiety in Psychogenic Insomnia. Indian Journal of Psychiatry, 63(2), 112-118. [journals.lww.com/indianjpsychiatry/Fulltext/2021/63020/Circadian_dysregulation_in_insomnia.aspx]
Spielman, A. J. (2011). Assessment of Chronic Insomnia. Sleep Medicine Clinics, 6(1), 11-25.
Suryani, L. (2020). Aktivasi Aksis HPA pada Insomnia Non-Organik dan Manajemen Keperawatannya. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(2), 175-182. [jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/5890]
Tan, L. (2017). Cognitive Hyperactivity and Electroencephalographic Changes in Primary Insomnia. Singapore Medical Journal, 58(4), 190-196. [smj.org.sg/article/cognitive-hyperactivity-and-eeg-changes-primary-insomnia]
World Health Organization. (2019). ICD-11: International Classification of Diseases for Mortality and Morbidity Statistics (11th ed.). Geneva: WHO.

Tinggalkan Balasan