KONSEP MEDIS DEPRESI MAYOR

Depresi mayor merupakan gangguan suasana hati berat yang ditandai oleh kesedihan mendalam, kehilangan minat aktivitas, serta penurunan energi secara persisten.

(Sadock et al., 2017)

A. Konsep Medis Depresi Mayor

1. Deskripsi Fenomena Gangguan Mood

Definisi dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mengidentifikasi depresi mayor sebagai suatu sindrom klinis yang melibatkan penurunan suasana hati, hilangnya minat atau kesenangan (anhedonia), serta gangguan fungsi vegetatif yang berlangsung minimal selama dua minggu berturut-turut.

Sementara itu, World Health Organization (2023) merumuskan gangguan ini sebagai kondisi kesehatan mental umum yang memicu perasaan sedih berkelanjutan, mudah tersinggung, dan kekosongan emosional yang secara signifikan mengganggu aktivitas harian individu.

Selanjutnya, Sadock et al. (2017) mendeskripsikan depresi mayor sebagai gangguan psikologis yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan pasien, termasuk fungsi kognitif, perilaku motorik, dan regulasi somatik.

Selain itu, Stahl (2021) menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang neurobiologis sebagai disregulasi sirkuit otak berbasis monoamina yang bermanifestasi pada kombinasi gejala emosional dan fisik yang melumpuhkan.

Sebagai pelengkap, Beck & Alford (2009) mendefinisikan kondisi ini dari perspektif kognitif sebagai sebuah distorsi sistematis dalam cara pandang individu terhadap diri sendiri, dunia masa kini, dan masa depan mereka.

(American Psychiatric Association, 2013, World Health Organization, 2023, Sadock et al., 2017, Stahl, 2021, Beck & Alford, 2009)

Definisi dari Pakar Asia

Chen et al. (2020) dari Tiongkok menegaskan bahwa gangguan afektif ini memunculkan manifestasi klinis berupa penderitaan psikologis berat yang sering kali tersamarkan oleh keluhan somatik akibat pengaruh budaya lokal.

Oleh karena itu, Park & Kim (2021) dari Korea Selatan mengategorikan masalah ini sebagai disfungsi emosional kronis yang berakar dari interaksi stresor psikososial tingkat tinggi dengan kerentanan genetik populasi usia produktif.

Alhasil, Uchida et al. (2018) dari Jepang mengartikan kondisi klinis tersebut sebagai keadaan hilangnya vitalitas psikologis individu yang berdampak langsung pada penarikan diri dari lingkungan sosial dan penurunan produktivitas kerja secara drastis.

Sebaliknya, Gupta & Sharma (2022) dari India menandai sindrom neuropsikiatri kompleks ini sebagai pemicu penurunan kualitas hidup akibat kegagalan mekanisme koping terhadap tekanan lingkungan.

Terakhir, Zainal et al. (2019) dari Malaysia mengonseptualisasikan penyakit ini sebagai gangguan mood berat yang memerlukan intervensi multimodalitas karena tingginya risiko disabilitas fungsional jangka panjang.

(Chen et al., 2020, Park & Kim, 2021, Uchida et al., 2018, Gupta & Sharma, 2022, Zainal et al., 2019)

Definisi dari Pakar Indonesia

Maramis & Maramis (2014) mendefinisikan gangguan afektif unipolar tersebut sebagai suatu kemunduran fungsi mental yang terdominasi oleh rasa sedih mendalam, keputusasaan, dan perlambatan psikomotor yang nyata.

Kemudian, Kementerian Kesehatan RI (2019) menggarisbawahi masalah kesehatan jiwa serius ini sebagai kondisi yang mengganggu keseimbangan emosi, pola pikir, dan perilaku, sehingga menurunkan produktivitas masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, Amir (2015) menjelaskan kondisi ini sebagai gangguan mood unipolar yang bersifat episodik atau berulang, yang mana terjadi penurunan transmisi neurokimiawi pada sistem saraf pusat.

Maka dari itu, Elvira & Hadisukanto (2018) menguraikan sindrom tersebut sebagai kumpulan gejala klinis yang memenuhi kriteria PPDGJ-III, yang muncul oleh afek depresif, kehilangan minat, dan berkurangnya energi secara signifikan.

Secara ringkas, Suryani (2021) merumuskan masalah ini sebagai manifestasi dari distres psikologis mendalam yang memicu disregulasi emosional dan ketidakmampuan beradaptasi dengan realitas kehidupan sehari-hari.

(Maramis & Maramis, 2014, Kementerian Kesehatan RI, 2019, Amir, 2015, Elvira & Hadisukanto, 2018, Suryani, 2021)

2. Etiologi Faktor Risiko Multifaktorial

Penyebab kondisi ini bersifat multifaktorial, meliputi interaksi komponen biologis dan lingkungan. Pada faktor biologis, terjadi penurunan ketersediaan neurotransmiter monoamina (serotonin, norepinefrin, dopamin) pada celah sinaps otak. Faktor genetik juga berperan, yang mana individu dengan anggota keluarga tingkat pertama yang menderita gangguan mood memiliki risiko 2 hingga 4 kali lebih tinggi.

Oleh karena itu, faktor neuroendokrin ikut berkontribusi melalui disregulasi aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA) yang memicu hipersekresi kortisol secara kronis. Akibatnya, faktor psikososial seperti stresor kehidupan yang berat, kehilangan, trauma masa kanak-kanak, kekerasan fisik, dan kesulitan finansial berkepanjangan dapat mempercepat onset terjadinya serangan emosional.

Sebagai tambahan, faktor kepribadian tertentu ikut memengaruhi kerentanan individu. Seseorang dengan tipe kepribadian neurotisisme tinggi, dependen, obsesif-kompulsif, serta memiliki pola pikir kognitif negatif cenderung menggunakan mekanisme koping yang maladaptif saat menghadapi tekanan hidup yang berat.

(Sadock et al., 2017, Stahl, 2021)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Mekanisme Biologi Saraf

Secara patofisiologis, gangguan ini terjadi akibat ketidakseimbangan neurokimia pada otak. Hipotesis monoamina menyatakan adanya defisiensi fungsional neurotransmiter serotonin (5-HT), norepinefrin (NE), dan dopamin (DA). Penurunan serotonin memicu gejala kecemasan, iritabilitas, dan gangguan tidur. Penurunan norepinefrin dan dopamin berdampak pada kelelahan ekstrem, penurunan motivasi, dan anhedonia.

Oleh karena itu, hiperaktivitas aksis HPA yang muncul oleh stres kronis meningkatkan kadar kortisol darah. Tingginya kadar kortisol ini merusak sel-sel neuron pada hipokampus, menurunkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), dan mengganggu plastisitas sinaps, yang akhirnya bermanifestasi sebagai penurunan fungsi kognitif dan gangguan regulasi emosi.

(Stahl, 2021, Sadock et al., 2017)

Skema Alur Penyimpangan KDM

Stresor Psikososial / Genetik / Faktor Biologis

                    |

        Aktivasi Aksis HPA Meningkat & Defisit Monoamina (5-HT, NE, DA)

                    |

     ————————————————————————-

     |                               |                                       |

Penurunan Serotonin (5-HT)      Penurunan Norepinefrin & Dopamin       Kerusakan Sel Hipokampus & Penurunan BDNF

     |                               |                                       |

Gangguan tidur & Ansietas       Anhedonia, Kelelahan, Motivasi ↓         Distorsi Kognitif & Ide Bunuh Diri

     |                               |                                       |

 GANGGUAN POLA TIDUR              ISOLASI SOSIAL                         RISIKO BUNUH DIRI

                                     |                                       |

                        Apatis & Keengganan Merawat Diri         Merasa Tidak Berharga & Putus Asa

                                     |                                       |

                            DEFISIT PERAWATAN DIRI                   KOPING TIDAK EFEKTIF

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Stahl, 2021)

4. Manifestasi Klinis Batasan Karakteristik

a. Data Subjektif

  • Pasien mengungkapkan perasaan sedih, kosong, atau hampa yang menetap.
  • Pasien mengeluh kehilangan minat atau kesenangan pada semua aktivitas (anhedonia).
  • Pasien melaporkan keletihan luar biasa dan kekurangan energi (fatigue).
  • Pasien menyatakan perasaan tidak berharga, bersalah yang berlebihan, atau putus asa.
  • Pasien mengeluhkan sulit berkonsentrasi, sulit mengingat sesuatu, atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
  • Adanya keluhan verbal mengenai pikiran tentang kematian atau ide bunuh diri.

(American Psychiatric Association, 2013, Elvira & Hadisukanto, 2018)

b. Data Objektif

  • Wajah tampak murung, sedih, afek datar, atau tumpul.
  • Retardasi psikomotor (gerakan tubuh dan bicara melambat) atau agitasi psikomotor (gelisah, meremas-remas tangan).
  • Kontak mata yang buruk atau sering menunduk saat berinteraksi.
  • Perubahan berat badan yang signifikan (menurun atau meningkat >5% dalam satu bulan) tanpa diet.
  • Insomnia (terutama early morning awakening) atau hipersomnia hampir setiap hari.
  • Penurunan kebersihan diri dan penampilan yang tidak rapi.

(American Psychiatric Association, 2013, Maramis & Maramis, 2014)

5. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

Skrining Laboratorium dan Radiologi

Tidak ada pemeriksaan laboratorium spesifik untuk menetapkan diagnosis gangguan mood unipolar ini, namun tes dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding medis lain. Pemeriksaan fungsi tiroid (TSH, Free T3, Free T4) berguna menyingkirkan hipotiroidisme yang gejalanya menyerupai keadaan lesu. Pemeriksaan kadar Vitamin B12 dan Asam Folat dilakukan untuk mengidentifikasi defisiensi vitamin yang memicu gangguan mood.

Oleh karena itu, darah rutin dan elektrolit serum perlu untuk menilai status kesehatan umum. Skrining toksikologi urin memastikan gejala bukan efek samping zat. Pada pemeriksaan radiologi, dapat melakukan CT Scan atau MRI Kepala jika terdapat kecurigaan adanya lesi struktural, stroke, tumor otak, atau atrofi serebral yang memicu gejala afektif sekunder pada lansia.

(Sadock et al., 2017, Amir, 2015)

Evaluasi Psikometrik dan Penunjang Lain

Pemeriksaan instrumen skala psikologis menjadi modalitas utama penegakan kriteria klinis. Evaluasi ini menggunakan instrumen baku seperti Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D), Beck Depression Inventory (BDI), atau Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9). Melalui skor instrumen tersebut, derajat keparahan sindrom afektif dapat dikuantifikasi secara objektif untuk menentukan langkah terapi.

Selanjutnya, dapat pula menambahkan pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) pada kondisi tertentu. Melakukan tindakan tersebut jika terdapat kecurigaan adanya epilepsi lobus temporal atau gangguan kejang organik lain yang bermanifestasi pada perubahan perilaku, mood, dan gangguan kognitif yang menyerupai kelainan psikiatris primer.

(Sadock et al., 2017, Kementerian Kesehatan RI, 2019)

6. Penatalaksanaan Terintegrasi

Modalitas Farmakoterapi

  • Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs): Pilihan utama karena efek samping minimal. Contoh: Fluoxetine (10-40 mg/hari), Sertraline (50-150 mg/hari), Escitalopram (10-20 mg/hari).
  • Serotonin-Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs): Tepat untuk gejala somatik berat. Contoh: Venlafaxine (75-225 mg/hari), Duloxetine (40-60 mg/hari).
  • Antidepresan Atipikal: Membantu memulihkan pola tidur dan nafsu makan. Contoh: Mirtazapine (15-45 mg/hari), Bupropion (150-300 mg/hari).
  • Antidepresan Trisiklik (TCA): Digunakan jika lini pertama gagal karena ada efek kardiotoksisitas. Contoh: Amitriptyline (75-150 mg/hari).

(Stahl, 2021, Amir, 2015)

Modalitas Non-Farmakologi

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Mengubah pola pikir negatif dan distorsi kognitif pasien.
  • Interpersonal Psychotherapy (IPT): Memperbaiki hubungan interpersonal dan penyelesaian konflik sosial.
  • Electroconvulsive Therapy (ECT): Terapi kejang listrik untuk kondisi berat dengan risiko bunuh diri akut atau katatonia.
  • Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS): Stimulasi magnetik non-invasif pada korteks prefrontal untuk memodulasi aktivitas saraf.

(Sadock et al., 2017, Beck & Alford, 2009)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Komprehensif

Riwayat dan Pemeriksaan Fisik

Pengkajian identitas mencakup usia produktif dan jenis kelamin perempuan yang memiliki prevalensi lebih tinggi. Keluhan utama berpusat pada rasa sedih, putus asa, dan keinginan mencederai diri. Riwayat penyakit mengidentifikasi durasi serangan minimal dua minggu serta adanya stresor psikososial. Riwayat keluarga ditapis untuk menemukan adanya kerentanan genetik serupa.

Pada pemeriksaan fisik (B1-B6), sistem persarafan (B3) menunjukkan afek datar, kontak mata buruk, dan perlambatan kognitif. Sistem pencernaan (B5) memperlihatkan penurunan berat badan drastis akibat anoreksia dan penurunan bising usus yang memicu konstipasi. Sistem muskuloskeletal (B6) menunjukkan retardasi psikomotor, postur membungkuk, dan kelemahan fisik akibat inaktivitas.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Maramis & Maramis, 2014)

Pengkajian Pola Gordon

  • Pola Persepsi & Manajemen Kesehatan: Pasien merasa tidak berdaya dan menganggap kondisinya sebagai hukuman.
  • Pola Nutrisi-Metabolik: Penurunan nafsu makan ekstrem mengakibatkan porsi makan tidak dihabiskan dan penurunan berat badan.
  • Pola Eliminasi: Konstipasi akibat penurunan motilitas usus dan kurangnya asupan serat serta cairan.
  • Pola Aktivitas-Latihan: Keletihan kronis, kelemahan otot, dan ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas harian.
  • Pola Istirahat-Tidur: Insomnia tipe early morning awakening atau hipersomnia sebagai bentuk pelarian diri.
  • Pola Kognitif-Perseptual: Berpikir lambat, penurunan konsentrasi, sulit mengambil keputusan, dan distorsi kognitif.
  • Pola Persepsi Diri: Harga diri rendah, merasa gagal, tidak berharga, dan putus asa.
  • Pola Peran-Hubungan: Penarikan diri dari lingkungan sosial, penurunan komunikasi verbal, dan gangguan fungsi peran.
  • Pola Seksualitas-Reproduksi: Penurunan libido dan dorongan seksual yang signifikan.
  • Pola Koping-Toleransi Stres: Koping maladaptif, merusak diri sendiri, dan ketidakmampuan memecahkan masalah.
  • Pola Nilai-Keyakinan: Merasa ditinggalkan oleh Tuhan dan kehilangan harapan spiritual.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Maramis & Maramis, 2014)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Sesuai 3S

Intervensi Diagnosis 1 s.d 3

Rencana Risiko Bunuh Diri (D.0135)

  • Luaran Utama: Kontrol Diri (L.09076)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, verbalisasi isyarat bunuh diri menurun, perilaku merencanakan bunuh diri menurun, alam perasaan depresi menurun.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
    • Observasi: Identifikasi adanya ide, rencana, atau isyarat bunuh diri; periksa lingkungan dari benda-benda berbahaya.
    • Terapeutik: Jauhkan alat/benda berbahaya; berikan lingkungan dengan keamanan tinggi; lakukan pengawasan ketat (one-on-one) jika risiko tinggi.
    • Edukasi: Ajarkan strategi koping konstruktif; edukasi keluarga untuk menciptakan lingkungan rumah yang aman.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antidepresan atau rujukan untuk terapi kejang listrik (ECT) jika diperlukan.

Rencana Koping Tidak Efektif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Perilaku koping adaptif meningkat, verbalisasi kemampuan memecahkan masalah meningkat, verbalisasi pengakuan masalah meningkat, keluhan kelelahan menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan koping yang dimiliki pasien; identifikasi dampak situasi terhadap hubungan interpersonal.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang tenang dan mendukung; fasilitasi dalam mengidentifikasi tujuan hidup yang realistis; dengarkan dengan penuh empati.
    • Edukasi: Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif; anjurkan mengungkapkan perasaan secara verbal.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog/psikiater untuk terapi kognitif perilaku (CBT).

Rencana Isolasi Sosial (D.0121)

  • Luaran Utama: Keterlibatan Sosial (L.13116)
    • Kriteria Hasil: Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi kenyamanan dalam situasi sosial meningkat, perilaku menarik diri menurun, respons afek membaik.
  • Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498)
    • Observasi: Identifikasi hambatan berinteraksi dengan orang lain; identifikasi kemampuan bersosialisasi.
    • Terapeutik: Berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan interaksi; motivasi untuk meningkatkan keterlibatan dalam hubungan; ikutsertakan pasien dalam terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi.
    • Edukasi: Ajarkan berinteraksi secara bertahap; anjurkan berbagi pengalaman dengan orang lain.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi sosial.

Intervensi Diagnosis 4 s.d 6

Rencana Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, berjalan menunduk menurun, perasaan tidak berharga menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Identifikasi pernyataan negatif tentang diri sendiri; monitor tingkat harga diri pasien dari waktu ke waktu.
    • Terapeutik: Motivasi pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan yang dimiliki; berikan pujian yang realistis atas pencapaian pasien; hindari memberikan penilaian negatif.
    • Edukasi: Latih kemampuan positif yang telah dipilih; anjurkan mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan konselor untuk penguatan konsep diri.

Rencana Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • Luaran Utama: Perawatan Diri (L.11103)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan meningkat, penampilan rapi meningkat, kebersihan diri membaik.
  • Intervensi Utama: Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Observasi: Identifikasi kebiasaan perawatan diri sesuai usia; monitor kemampuan perawatan diri secara mandiri.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman; siapkan keperluan pribadi; dampingi dalam melakukan perawatan diri hingga mandiri.
    • Edukasi: Ajarkan melakukan perawatan diri secara konsisten; anjurkan melapor jika mengalami kesulitan merawat diri.
    • Kolaborasi: Tidak memerlukan kolaborasi khusus, fokus pada stimulasi aktivitas fisik secara mandiri.

Rencana Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, keluhan terjaga malam hari menurun.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik atau psikologis).
    • Terapeutik: Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur; modifikasi lingkungan (pencahayaan, suhu, kebisingan); batasi waktu tidur siang.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; ajarkan relaksasi otot autogenik atau teknik napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antidepresan sedatif pada malam hari.

Intervensi Diagnosis 7 s.d 10

Rencana Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tissue (IMT) membaik, nafsu makan membaik.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan; monitor asupan makanan dan berat badan secara berkala.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan dalam kondisi hangat; berikan porsi makan kecil tapi sering (small frequent feedings).
    • Edukasi: Ajarkan diet yang diprogramkan untuk pemulihan fisik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.

Rencana Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun, konsentrasi membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non-verbal).
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; gunakan pendekatan yang tenang.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan termasuk sensasi yang mungkin dialami; ajarkan teknik relaksasi distraksi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diperlukan dalam jangka pendek.

Rencana Ketidakberdayaan (D.0092)

  • Luaran Utama: Keberdayaan (L.09071)
    • Kriteria Hasil: Pernyataan mampu melakukan aktivitas meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, perasaan tertekan menurun, frustrasi menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Pengendalian Diri (I.09307)
    • Observasi: Identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan ketidakberdayaan.
    • Terapeutik: Libatkan pasien secara aktif dalam merencanakan perawatan diri sendiri; berikan kesempatan untuk mengambil keputusan kecil.
    • Edukasi: Informasikan hak-hak pasien dalam proses perawatan; sadarkan bahwa pasien memiliki kendali atas respons emosinya sendiri.
    • Kolaborasi: Rujuk ke kelompok pendukung sebaya jika diperlukan untuk berbagi pengalaman.

Rencana Keputusasaan (D.0108)

  • Luaran Utama: Harapan (L.09068)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi adanya harapan meningkat, minat komunikasi meningkat, inisiatif bertindak meningkat, keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat.
  • Intervensi Utama: Dukungan Keyakinan (I.09259)
    • Observasi: Identifikasi keyakinan, harapan, dan makna hidup pasien.
    • Terapeutik: Fasilitasi mengidentifikasi area harapan dalam kehidupan; berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan nilai-nilai spiritualnya.
    • Edukasi: Ajarkan cara menemukan makna di setiap situasi sulit yang dihadapi; anjurkan fokus pada pencapaian kecil yang positif.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan pemuka agama atau konselor spiritual atas permintaan pasien.

(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

4. Implementasi Tindakan Keperawatan Nyata

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya. Langkah awal diwujudkan melalui pembinaan hubungan saling percaya (BHSP) menggunakan teknik komunikasi terapeutik yang empati. Tindakan ini krusial untuk menurunkan resistensi pasien yang apatis.

Selanjutnya, perawat melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital serta memodifikasi lingkungan sekitar pasien. Langkah taktis ini bertujuan menyingkirkan semua benda tajam, tali, atau zat kimia berbahaya guna meminimalkan celah terjadinya tindakan bunuh diri.

Sebagai tambahan, perawat mendampingi dan melatih aktivitas perawatan diri secara bertahap mulai dari mandi hingga merapikan penampilan. Proses pemulihan fisik ini diimbangi dengan pemberian asupan nutrisi porsi kecil tapi sering serta pemberian terapi farmakologi sesuai advis medis.

(Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)

5. Evaluasi Hasil Asuhan

Evaluasi keperawatan didokumentasikan menggunakan metode SOAP sebagai parameter keberhasilan tindakan. Pada aspek subjektif, perawat mendokumentasikan pernyataan pasien yang melaporkan perasaan sedih berkurang serta hilangnya dorongan untuk mengakhiri hidup.

Pada komponen objektif, perawat memvalidasi perubahan perilaku melalui pengamatan klinis yang nyata. Hasil pengamatan menunjukkan afek pasien lebih responsif, kontak mata mulai adekuat, porsi makan dihabiskan, dan kebersihan diri terjaga dengan baik.

Berdasarkan data tersebut, perawat merumuskan analisis bahwa masalah keperawatan risiko bunuh diri dan defisit perawatan diri telah teratasi. Rekomendasi perencanaan selanjutnya diarahkan pada pemeliharaan koping adaptif serta persiapan program perencanaan pulang (discharge planning).

(Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Washington DC: American Psychiatric Publishing.

Amir, N. (2015). Skizofrenia dan Gangguan Mood Unipolar: Pendekatan Klinis dan Neurobiologis. Jakarta: FKUI.

Beck, A. T., & Alford, B. A. (2009). Depression: Causes and Treatment. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

Chen, R. et al. (2020). Depression and its somatic manifestations in Asian populations. Journal of Affective Disorders, 274, 112-119. j.jad.2020.04.032

Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2018). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Gupta, S., & Sharma, M. (2022). Neuropsychiatric syndromes and coping mechanism in severe depressive disorders. Indian Journal of Psychiatry, 64(2), 145-152. indianjpsychiatry.org/article.asp?issn=0019-5545;year=2022;volume=64;issue=2

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Balitbangkes.

Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2014). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Park, J. H., & Kim, K. W. (2021). Psychosocial stressors and genetic vulnerability in South Korean population. Psychiatry Investigation, 18(5), 389-398. psychiatryinvestigation.org/journal/view.php?doi=10.30773/pi.2021.0024

Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2017). Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. Philadelphia: Wolters Kluwer.

Stahl, S. M. (2021). Stahl’s Essential Psychopharmacology. Cambridge: Cambridge University Press.

Suryani, S. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien dengan Gangguan Alam Perasaan. Bandung: Refika Aditama.

Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *