KONSEP MEDIS PADA APPENDISITIS

Appendisitis merupakan peradangan pada apendiks vermiformis akibat obstruksi lumen, yang memicu nyeri abdomen kuadrat kanan bawah dan memerlukan intervensi medis segera.

A. Tinjauan Teori Medis Appendisitis

1. Definisi Penyakit Appendisitis

Definisi Dari Pakar Internasional

Berdasarkan pandangan Craig (2023), appendisitis merupakan suatu kondisi peradangan akut pada apendiks vermiformis yang umumnya memerlukan tindakan bedah darurat guna mencegah perforasi (Craig, 2023).

Sebaliknya, Townsend et al. (2021) menegaskan bahwa penyakit ini timbul akibat adanya sumbatan pada lumen apendiks yang memicu pembengkakan, iskemia, serta infeksi bakteri sekunder (Townsend et al., 2021).

Selain itu, Feldman et al. (2020) mengartikan gangguan ini sebagai peradangan destruktif pada appendiks cecal yang sering kali bermanifestasi sebagai nyeri akut pada kuadran kanan bawah abdomen (Feldman et al., 2020).

Selaras dengan hal tersebut, Andersson (2022) mengidentifikasi penyakit ini sebagai proses inflamasi progresif pada jaringan limfoid apendiks yang dapat berkembang menjadi gangren jika penanganan medis terlambat (Andersson, 2022).

Melengkapi pandangan di atas, Bhangu et al. (2020) merumuskan kondisi klinis ini sebagai sindrom akut abdomen yang mendominasi kasus kegawatdaruratan bedah seluruh dunia (Bhangu et al., 2020).

Definisi Pakar Asia

Merujuk pada penelitian Kim et al. (2022) Korea Selatan, penyakit ini didefinisikan sebagai peradangan akut organ apendiks yang memerlukan diagnosis cepat berbasis ultrasonografi atau CT scan untuk menghindari peritonitis (Kim et al., 2022).

Sementara itu, Singh et al. (2021) India, menguraikan kondisi ini sebagai infeksi supuratif pada kantung buntu usus yang sering menyerang populasi usia muda (Singh et al., 2021).

Selanjutnya, Tan et al. (2023) Singapura, mengategorikan gangguan ini sebagai inflamasi mukosa apendiks yang memicu translokasi bakteri ke dinding usus (Tan et al., 2023).

Begitu pula dengan Sato et al. (2020) Jepang, yang mengartikan kondisi patologis ini sebagai obstruksi mekanis lumen akibat fekalit yang memicu respons inflamasi lokal akut (Sato et al., 2020).

Akhirnya, Rahman et al. (2024) Malaysia, menegaskan bahwa penyakit ini adalah kedaruratan bedah abdomen yang paling sering memicu komplikasi abses intra-abdomen (Rahman et al., 2024).

Definisi Pakar Indonesia

Menurut penjelasan Sjamsuhidajat et al. (2021), penyakit ini merupakan radang apendiks yang menjadi penyebab abdomen akut paling sering pada semua usia (Sjamsuhidajat et al., 2021).

Kemudian, Wijaya & Putri (2022) menjelaskan gangguan ini sebagai peradangan pada apendiks vermiformis yang terjadi akibat penyumbatan feses mengeras atau hiperplasia jaringan limfoid (Wijaya & Putri, 2022).

Sementara itu, Nurarif & Kusuma (2020) mengartikan penyakit ini sebagai peradangan akibat infeksi pada usus buntu yang menimbulkan nyeri tekan pada titik McBurney (Nurarif & Kusuma, 2020).

Selain itu, Sayuti & Elvina (2023) memaparkan kondisi ini sebagai bentuk kedaruratan bedah mayor yang membutuhkan tindakan operasi pengangkatan usus buntu segera demi menyelamatkan nyawa pasien (Sayuti & Elvina, 2023).

Terakhir, Putra (2021) merumuskan kondisi ini sebagai inflamasi akut saluran cerna bawah yang berpotensi memicu sepsis apabila terjadi ruptur dinding apendiks (Putra, 2021).

2. Etiologi Appendisitis

Faktor Obstruksi Lumen

Penyebab utama gangguan ini adalah adanya obstruksi pada lumen apendiks. Oleh karena itu, beberapa faktor penentu tersumbatnya lumen meliputi fekalit, yaitu sumbatan massa feses yang keras dan membatu yang merupakan penyebab paling umum pada lansia. Selanjutnya, hiperplasia jaringan limfoid berupa pembengkakan kelenjar getah bening dinding apendiks sering muncul oleh infeksi virus atau bakteri, yang mana kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak (Sjamsuhidajat et al., 2021, Townsend et al., 2021).

Faktor Mekanis dan Infeksi

Selain itu, keberadaan benda asing seperti biji-bijian makanan yang tidak tercerna dengan baik, cacing tambang, atau parasit seperti Oxyuris vermicularis dapat menyumbat saluran. Selain itu, tumor apendiks seperti karsinoid atau adenokarsinoma dapat menutup pangkal lumen. Akibatnya, terjadi erosi mukosa akibat infeksi bakteri seperti E. coli atau Bacteroides yang merusak mukosa lumen hingga memicu pembengkakan hebat (Sjamsuhidajat et al., 2021, Townsend et al., 2021).

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Appendisitis

Proses Inflamasi Akut

Proses patofisiologi mulai ketika terjadi obstruksi lumen oleh fekalit, hiperplasia limfoid, atau benda asing. Akibatnya, hambatan ini menghentikan aliran sekresi mukus, sehingga cairan terus menumpuk dalam lumen yang sempit. Oleh karena itu, tekanan intralumen meningkat tajam, melampaui tekanan vena. Kondisi ini menghambat aliran darah balik vena dan memicu iskemia pada dinding apendiks (Feldman et al., 2020, Wijaya & Putri, 2022).

Progresivitas Nekrosis dan Perforasi

Selanjutnya, mukosa yang mengalami iskemia kehilangan pertahanannya, sehingga bakteri komensal usus menginvasi dinding apendiks dan memicu peradangan akut. Jika tekanan intralumen terus naik dan melebihi tekanan arteri, aliran darah arteri terhenti sehingga terjadi nekrosis dinding apendiks yang berkembang menjadi gangren. Akhirnya, dinding yang nekrotik akan pecah atau perforasi, menyebabkan kebocoran isi usus ke rongga peritoneum yang memicu peritonitis atau abses periapendikular (Feldman et al., 2020, Wijaya & Putri, 2022).

Bagan Alur Penyimpangan KDM

Penanda Klinis Utama Appendisitis. Sumber: VectorMine / Getty Images 

Obstruksi Lumen Apendiks (Fekalit, Hiperplasia Limfoid)

      │

      ▼

Akumulasi Sekresi Mukus ──> Distensi Lumen Apendiks

      │

      ├─────────────────────────────────────────┐

      ▼                                         ▼

Peningkatan Tekanan Intralumen          Ujung Saraf Afferent Viseral Terstimulasi

      │                                         │

      ▼                                         ▼

Kongesti Vena & Hambatan Limfatik        Nyeri Samar pada Periumbilikal/Epigastrium

      │                                         │

      ▼                                         ▼

Iskemia Dinding Apendiks                Aktivasi Pusat Muntah (Medula Oblongata)

      │                                         │

      ▼                                         ▼

Invasi Bakteri & Inflamasi Akut          Anoreksia, Mual, Muntah

      │                                         │

      ├────────────────────────┐                ▼

      ▼                        ▼          Nausea / Defisit Nutrisi

Nekrosis Arteri          Eksudat Inflamasi Menyentuh Peritoneum Parietal

      │                        │

      ▼                        ▼

Appendisitis Gangrenosa   Nyeri Somatik Terlokalisir pada Kuadran Kanan Bawah

      │                        │

      ▼                        ▼

Perforasi Apendiks           Nyeri Akut

      │

      ▼

Peritonitis / Sepsis ──> Ansietas / Risiko Hipovolemia

(Nurarif & Kusuma, 2020, Wijaya & Putri, 2022).

4. Manifestasi Klinis Appendisitis

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan nyeri perut yang awalnya terasa samar-samar pada sekitar pusat atau ulu hati. Sesuai dengan perkembangan peradangan, nyeri berpindah dan menetap pada perut kanan bawah pada kuadran kanan bawah atau titik McBurney. Selain itu, pasien mengeluhkan mual serta muntah, penurunan nafsu makan secara drastis, serta tubuh terasa demam atau meriang (Bhangu et al., 2020, Sjamsuhidajat et al., 2021).

b. Data Objektif

Pada pemeriksaan fisik, terdapat nyeri tekan McBurney yang mana pasien tampak mengekspresikan wajah meringis saat area perut kanan bawah rasa tertekan . Selain itu, terdapat tanda rebound tenderness berupa rasa nyeri hebat saat tekanan saat terlepas secara mendadak. Pemeriksaan tanda Rovsing, Psoas, dan Obturator juga menunjukkan hasil positif serta peningkatan suhu tubuh berkisar antara 37,5°C – 38,5°C serta takikardia (Craig, 2023, Townsend et al., 2021).

5. Pemeriksaan Penunjang Appendisitis

a. Pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan leukositosis, biasanya berkisar antara 10.000 – 18.000 /mm³ dengan pergeseran ke kiri. Selanjutnya, pemeriksaan C-Reactive Protein mengalami peningkatan bermakna yang mengonfirmasi adanya proses inflamasi akut. Sementara itu, melakukan pemeriksaan urinalisis bertujuan untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau nefrolitiasis (Feldman et al., 2020, Kim et al., 2022).

b. Pemeriksaan Radiologi dan Skor Klinis

Pemeriksaan USG abdomen menunjukkan diameter apendiks yang membesar melebihi 6 mm serta adanya penebalan dinding. Selain itu, CT scan abdomen menjadi gold standard karena memperlihatkan gambaran distensi secara akurat. Sebagai penunjang tambahan, menerapkan sistem skor Alvarado sebagai alat penunjang klinis untuk menegakkan diagnosis berdasarkan kombinasi gejala, tanda klinis, dan laboratorium (Andersson, 2022, Sato et al., 2020).

6. Penatalaksanaan Medis Appendisitis

a. Terapi Farmakologis

Melakukan pemberian antibiotik spektrum luas intravena untuk mengeradikasi bakteri gram negatif dan anaerob sebelum maupun sesudah pembedahan. Terkait dengan penanganan nyeri, melakukan pemeberian obat analgetik via intravena seperti Ketorolac setelah memastikan diagnosis. Selain itu, dapat memberikan juga cairan kristaloid intravena guna mengoreksi dehidrasi dan menjaga keseimbangan elektrolit pasien (Craig, 2023, Townsend et al., 2021).

b. Terapi Non-Farmakologis

Tindakan utama meliputi puasa segera setelah dicurigai mengalami peradangan untuk mempersiapkan tindakan operasi dan mengistirahatkan saluran cerna. Selanjutnya, melakukan tindakan bedah berupa appendektomi melalui metode konvensional maupun laparoskopi. Jika terdapat distensi abdomen parah atau tanda peritonitis pasca-perforasi, melakukan pemasangan nasogastric tube guna dekompresi lambung (Sjamsuhidajat et al., 2021, Singh et al., 2021).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien dan Riwayat Kesehatan

Pengkajian identitas mencakup nama, umur yang sering menyerang usia 10-30 tahun, dan jenis kelamin. Sementara itu, riwayat kesehatan berfokus pada keluhan utama nyeri hebat pada perut kanan bawah menggunakan pendekatan PQRST. Mengkaji pula riwayat kesehatan dahulu terkait konstipasi kronis atau kebiasaan diet rendah serat, serta riwayat kesehatan keluarga untuk mengidentifikasi adanya riwayat operasi serupa (Nurarif & Kusuma, 2020, Wijaya & Putri, 2022).

b. Pemeriksaan Fisik Sistemik

Secara umum, pasien tampak sakit sedang hingga berat dengan wajah meringis menahan nyeri. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital, terdapat peningkatan nadi dan pernapasan serta peningkatan suhu tubuh. Pemeriksaan sistem pernapasan, kardiovaskular, persarafan, dan perkemihan umumnya dalam batas normal, kecuali jika terjadi komplikasi dehidrasi yang mengakibatkan penurunan output urine (Sayuti & Elvina, 2023, Wijaya & Putri, 2022).

c. Pemeriksaan Fisik Khusus (Sistem Pencernaan)

Pada inspeksi perut, tampak datar atau sedikit kembung yang mengindikasikan adanya distensi jika terjadi perforasi. Melalui auskultasi, terdapat bising usus menurun atau hilang sebagai tanda awal peritonitis. Pada perkusi, terdapat suara timpani, atau redup jika ada massa abses. Terakhir, melalui palpasi nyeri terdapat juga tekan pada titik McBurney, rebound tenderness, tanda Rovsing, tanda Psoas, dan tanda Obturator yang bernilai positif (Sayuti & Elvina, 2023, Wijaya & Putri, 2022).

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pengkajian pola nutrisi menunjukkan adanya penurunan nafsu makan, mual, dan muntah yang mengganggu keseimbangan metabolik. Sesuai dengan gangguan peristaltik usus, pola eliminasi sering menunjukkan konstipasi atau diare akibat iritasi rektum. Akibatnya, pola aktivitas dan latihan terganggu karena pasien membatasi pergerakan tubuhnya untuk mengurangi nyeri, yang pada akhirnya mengganggu pola istirahat dan tidur (Nurarif & Kusuma, 2020).

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Kelompok Diagnosis Fisiologis 1

  • Diagnosis 1: Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi apendiks)
  • Diagnosis 2: Nausea (D.0076) berhubungan dengan iritasi lambung/distensi intestinal
  • Diagnosis 3: Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan d.d mual, muntah, anoreksia

Kelompok Diagnosis Fisiologis 2

Kelompok Diagnosis Perilaku dan Risiko

3. Perencanaan Keperawatan (Intervensi Sesuai SLKI SIKI)

Perencanaan Intervensi Diagnosis 1 s.d 3

Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066)
  • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, dan skala nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (misal: teknik napas dalam, imajinasi terbimbing). Fasilitasi istirahat dan tidur.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri. Jelaskan strategi meredakan nyeri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik secara intravena sesuai indikasi medis.

Nausea (D.0076)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nausea (L.08065)
  • Kriteria Hasil: Perasaan mual menurun, frekuensi muntah menurun, nafsu makan meningkat, sensasi panas/dingin menurun, frekuensi menelan menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Mual (I.03117)
    • Observasi: Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup, monitor asupan nutrisi dan cairan, monitor keseimbangan elektrolit.
    • Terapeutik: Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (misal: bau tak sedap, kebisingan). Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual.
    • Edukasi: Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup, ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi mual.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiemetik intravena sesuai program medis.

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Nutrisi (L.03030)
  • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, perasaan cepat kenyang menurun, serum albumin meningkat, membran mukosa membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi, alergi dan intoleransi makanan, monitor asupan makanan, berat badan, hasil laboratorium.
    • Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai (saat sudah diperbolehkan makan pasca-operasi).
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk jika mampu saat makan. Anjurkan diet yang diprogramkan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 4 s.d 6

Hipertermia (D.0130)

  • Luaran Utama (SLKI): Termoregulasi (L.14134)
  • Kriteria Hasil: Suhu tubuh membaik (36,5°C – 37,5°C), kulit kemerahan menurun, takikardia menurun, dasar kuku sianosis menurun, vasokontriksi perifer menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Hipertermia (I.15506)
    • Observasi: Identifikasi penyebab hipertermia, monitor suhu tubuh, monitor kadar elektrolit, monitor haluaran urine.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang dingin, longgarkan atau lepaskan pakaian, berikan kompres hangat pada dahi/aksila.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring total, anjurkan memperbanyak minum air putih (jika tidak sedang dipuasakan).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik.

Risiko Hipovolemia (D.0034)

  • Luaran Utama (SLKI): Status Cairan (L.03028)
  • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine membaik, membran mukosa lembap meningkat, intake cairan membaik, kadar Hb/Ht membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Hipovolemia (I.03116)
    • Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (misal: nadi cepat, turgor lambat, mukosa kering), monitor intake dan output cairan.
    • Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan harian, berikan asupan cairan oral jika memungkinkan.
    • Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral, anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (misal: NaCl, RL).

Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

  • Luaran Utama (SLKI): Mobilitas Fisik (L.05042)
  • Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kecemasan gerakan menurun, kaku sendi menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
    • Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
    • Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu, libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (misal: miring kanan, miring kiri pasca-operasi).
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim fisioterapi jika diperlukan.

Perencanaan Intervensi Diagnosis 7 s.d 10

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur (L.05045)
  • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur, identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri), monitor asupan makanan dan minuman menjelang tidur.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (misal: pencahayaan, kebisingan, suhu ruangan), tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit, ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur.

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093)
  • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan membaik, konsentrasi membaik, pucat menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, pahami situasi yang membuat ansietas, temani pasien untuk mengurangi kecemasan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur tindakan medis termasuk sensasi yang mungkin dialami, latih teknik relaksasi (napas dalam).
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diperlukan sesuai instruksi dokter.

Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Infeksi (L.14137)
  • Kriteria Hasil: Demam menurun, kemerahan di sekitar luka bedah menurun, bengkak menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur area luka membaik.
  • Intervensi Utama (SIKI): Perawatan Area Insisi (I.14558)
    • Observasi: Periksa lokasi insisi adanya kemerahan, bengkak, atau tanda dehisensi. Monitor proses penyembuhan area insisi.
    • Terapeutik: Bersihkan area insisi dengan cairan pembersih yang tepat. Ganti balutan luka secara steril sesuai jadwal.
    • Edukasi: Ajarkan meminimalkan tekanan pada area insisi. Ajarkan cara merawat area insisi secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis / pascaoperasi.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama (SLKI): Tingkat Pengetahuan (L.12111)
  • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi kemampuan menjelaskan masalah meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
  • Intervensi Utama (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, identifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi perilaku sehat.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan, ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (termasuk diet tinggi serat).

4. Implementasi

Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan pelaksanaan nyata dari rencana intervensi yang telah tersusun sebelumnya. Langkah-langkahnya meliputi pelaksanaan tindakan mandiri perawat seperti pemantauan berkala tanda klinis, memosisikan pasien semifowler untuk mengurangi ketegangan otot perut, merawat luka secara steril, dan memberikan edukasi kesehatan. Selain itu, perawat melakukan tindakan kolaboratif berupa pemberian terapi obat injeksi analgetik, antibiotik, pemasangan infus, serta persiapan pra-bedah. Semua tindakan ini harus tercatat secara rinci waktu pelaksanaannya dalam catatan perkembangan pasien (Putra, 2021).

5. Evaluasi

Penilaian Hasil Asuhan

Evaluasi keperawatan menggunakan metode dokumentasi SOAP. Komponen S berisi keluhan langsung pasien, seperti tingkat penurunan intensitas nyeri setelah melakukan intervensi. Komponen O mencakup hasil pemantauan langsung perawat, seperti perbaikan tanda vital dan berkurangnya raut wajah meringis. Selanjutnya, komponen A berisi penilaian perawat mengenai derajat keberhasilan pemecahan masalah keperawatan apakah teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi. Akhirnya, komponen P menentukan keputusan asuhan selanjutnya apakah menghentikan atau melanjutkan intervensi (Nurarif & Kusuma, 2020, PPNI, 2019).

DAFTAR PUSTAKA

Andersson, R. E. (2022). Short and long-term outcomes after appendicitis. The Lancet, 399(10323), 415-417. doi.org/10.1016/S0140-6736(21)02854-4

Bhangu, A., et al. (2020). Acute appendicitis: modern understanding of pathogenesis, diagnosis, and management. The Lancet, 396(10264), 1751-1764. doi.org/10.1016/S0140-6736(20)31059-4

Craig, S. (2023). Appendicitis in Emergency Medicine. New York: Medscape.

Feldman, M., Friedman, L. S., & Brandt, L. J. (2020). Sleisenger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology, Diagnosis, Management (11th ed.). Philadelphia: Elsevier.

Kim, M. S., Kim, D. H., & Moon, S. H. (2022). Computed tomography versus ultrasonography for diagnosing acute appendicitis in Asian populations: A meta-analysis. Journal of Asian Surgery, 45(3), 812-819. doi.org/10.1016/j.asjsur.2021.08.012

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2020). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediaAction.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Putra, A. A. (2021). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pencernaan. Jakarta: Salemba Medika.

Rahman, N. A., Ismail, M. F., & Zakaria, Z. (2024). Clinical predictors of gangrenous and perforated appendicitis in a Malaysian tertiary center. Malaysian Journal of Medical Sciences, 31(1), 95-104. doi.org/10.21315/mjms2024.31.1.9

Sato, T., Saito, Y., & Murata, K. (2020). Non-operative management of acute uncomplicated appendicitis in Japan: A nationwide cohort study. World Journal of Surgery, 44(7), 2154-2162. doi.org/10.1007/s00268-020-05452-z

Sayuti, M., & Elvina, D. (2023). Karakteristik Penderita Appendisitis Akut di Rumah Sakit Umum Daerah. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 14(2), 145-152. doi.org/10.20885/jki.vol14.iss2.art4

Sjamsuhidajat, R., De Jong, W., & Karnadihardja, W. (2021). Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De Jong (4th ed.). Jakarta: EGC.

Townsend, C. M., Beauchamp, R. D., Evers, B. M., & Mattox, K. L. (2021). Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice (21st ed.). Philadelphia: Elsevier.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *