Fraktur adalah kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya terjadi akibat trauma, tekanan berlebih, atau kondisi patologis tertentu. (Smeltzer & Bare, 2018)
- A. Konsep Medis Fraktur
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Fraktur
1. Definisi Fraktur
Definisi Dari Pakar Internasional
Lewis et al. (2014) menjelaskan bahwa fraktur merupakan suatu gangguan pada kontinuitas struktur tulang yang sebagian besar terjadi akibat cedera traumatis.
Sementara itu, Brunner & Suddarth (2018) mendefinisikan kondisi ini sebagai diskontinuitas jaringan tulang yang menimbulkan gangguan fungsi pergerakan dan nyeri hebat pada area yang terdampak.
Selain itu, Solomon et al. (2010) menegaskan bahwa fraktur bukan sekadar patah tulang, melainkan suatu cedera jaringan lunak sekitar yang kompleks dan melibatkan kerusakan pembuluh darah serta saraf.
Selanjutnya, Buckley et al. (2020) merumuskan fraktur sebagai kegagalan mekanis jaringan tulang dalam menahan beban mekanis eksternal yang melebihi batas elastisitasnya.
Lebih lanjut, Salter (1999) mengartikan fraktur sebagai hilangnya kontinuitas struktural tulang yang dapat bersifat lengkap maupun tidak lengkap, yang selalu serta kerusakan jaringan lunak sekitarnya.
Definisi Pakar Asia
Choon (2015) dari Malaysia memaparkan bahwa fraktur merupakan cedera muskuloskeletal yang mengakibatkan fragmentasi tulang akibat gaya puntir, kompresi, atau benturan langsung.
Kemudian, Kim & Chang (2019) dari Korea Selatan mengidentifikasi fraktur sebagai kerusakan struktural tulang kortikal dan kanselus yang memicu respons inflamasi lokal serta instabilitas biomekanis.
Selain itu, Sato et al. (2017) dari Jepang mengemukakan bahwa fraktur patologis maupun traumatis merepresentasikan diskontinuitas tulang yang memerlukan immobilisasi segera demi memfasilitasi proses remodeling tulang yang optimal.
Berikutnya, Agarwal (2018) dari India menyatakan bahwa fraktur melibatkan pemisahan linear komponen tulang akibat trauma mekanis yang sering kali merusak integritas periosteum.
Seterusnya, Li & Zhang (2021) dari Tiongkok menyimpulkan bahwa fraktur mencakup segala bentuk patah atau retak pada tulang yang mengganggu sistem pengungkit mekanis tubuh manusia.
Definisi Pakar Indonesia
Mansjoer (2010) mengartikan fraktur sebagai pemisahan kontinuitas tulang yang menghasilkan fragmen tulang abnormal dan menimbulkan manifestasi klinis yang khas.
Berikutnya, Muttaqin (2011) menjabarkan fraktur sebagai rusaknya kontinuitas tulang yang menyebabkan tekanan eksternal yang melebihi daya serap tulang tersebut.
Adapun Rasjad (2012) merumuskan fraktur sebagai suatu diskontinuitas jaringan tulang, korteks, maupun tulang rawan yang disebabkan oleh trauma langsung maupun tidak langsung.
Sementara itu, Noor (2016) menguraikan fraktur sebagai patahnya tulang yang bervariasi dalam tingkat keparahan, mulai dari retakan ringan hingga pergeseran fragmen yang meluas.
Terakhir, Sjamsuhidajat & de Jong (2017) mendefinisikan fraktur sebagai diskontinuitas jaringan tulang yang umumnya timbul akibat trauma mekanis tunggal yang masif atau trauma berulang.
2. Etiologi Fraktur
Fraktur dapat terjadi akibat berbagai faktor penyebab yang melebihi kapasitas beban maksimum tulang. (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017)
- Trauma Langsung (Direct Force): Benturan keras pada area tulang tertentu, seperti kecelakaan lalu lintas atau pukulan benda tumpul, yang langsung mematahkan tulang pada area benturan.
- Trauma Tidak Langsung (Indirect Force): Gaya puntir atau tarikan yang disalurkan dari area lain, misalnya terjatuh dengan tangan menumpu sehingga menyebabkan fraktur klavikula.
- Fraktur Kompresi (Stress Fracture): Tekanan berulang-ulang yang terjadi dalam jangka waktu lama, sering dialami oleh atlet atau militer akibat aktivitas fisik berat.
- Fraktur Patologis: Kerapuhan tulang akibat penyakit dasar seperti osteoporosis, osteosarkoma, osteomielitis, atau metastasis kanker yang membuat tulang patah bahkan oleh trauma minimal.
3. Patofisiologi dan KDM Fraktur
Mekanisme Cedera Tulang
Ketika tulang mengalami beban berlebih, integritas strukturnya terputus. Kerusakan ini merobek periosteum, pembuluh darah pada kanal Havers, serta jaringan lunak sekitar. Terjadilah perdarahan hebat yang membentuk hematoma dalam waktu 24 jam pertama. Sel-sel tulang pada sekitar garis patahan akan mati akibat iskemia. Kondisi ini memicu respons inflamasi akut, yang mana leukosit dan makrofag menginfiltrasi area untuk membersihkan debris seluler. Secara bertahap, jaringan granulasi terbentuk, diikuti oleh pembentukan kalus fibrokartilago, kalus tulang, dan berahir dengan proses remodeling menjadi tulang lamelar yang matang selama berbulan-bulan. (Muttaqin, 2011, Price & Wilson, 2012)
Dampak Kebutuhan Dasar
Penyimpangan KDM terjadi karena kerusakan jaringan saraf lokal memicu pelepasan mediator kimia (prostaglandin, histamin, bradikinin), menstimulasi nosiseptor, dan menghasilkan persepsi nyeri akut. Adanya fragmen tulang yang tidak stabil dan pemasangan gips/traksi membatasi pergerakan fisik pasien, yang secara langsung memicu gangguan mobilitas fisik. Perdarahan internal maupun eksternal akibat rusaknya pembuluh darah berisiko menyebabkan penurunan volume intravaskular (risiko syok). Selain itu, terputusnya kontinuitas kulit pada jenis terbuka membuka jalur masuk patogen, sehingga memicu risiko infeksi. (Price & Wilson, 2012, PPNI, 2017)
Bagan Alur Klinis
Trauma Langsung / Tidak Langsung / Kondisi Patologis
│
▼
FRAKTUR (Diskontinuitas Tulang)
│
┌──────────┴────────────────────────┐
▼ ▼
Pergeseran Fragmen Tulang Kerusakan Pembuluh Darah
│ │
├────────────────────────┐ ├────────────────────────┐
▼ ▼ ▼ ▼
Spasme Otot Cedera Saraf Perdarahan Kulit Robek
│ │ │ │
▼ ▼ ▼ ▼
Nyeri Tekan/Regang Mediator Kimia Hematoma Fraktur Terbuka
│ │ │ │
└──────────┬─────────────┘ ▼ ▼
▼ Risiko Syok Kuman Masuk
NYERI AKUT │
│ ▼
▼ RISIKO INFEKSI
Deformitas & Instabilitas
│
▼
GANGGUAN MOBILITAS FISIK
(Muttaqin, 2011, Moorhouse et al., 2014)
4. Manifestasi Klinis Fraktur
(Brunner & Suddarth, 2018)
Gejala Subjektif Pasien
Pasien mengeluhkan nyeri hebat yang menusuk atau berdenyut pada area cedera, yang semakin memburuk saat area tersebut saat menggerakkan atau ditekan. Pasien menyatakan ketidakmampuan atau ketakutan untuk menggerakkan ekstremitas yang sakit (kehilangan fungsi). Pasien mengungkapkan rasa baal, kesemutan, atau kebas pada area distal jika terjadi kompresi saraf.
Tanda Objektif Klinis
- Deformitas: Terlihat perubahan bentuk visual seperti pemendekan ekstremitas, rotasi, atau angulasi abnormal dibandingkan dengan sisi tubuh yang sehat.
- Bengkak (Edema) & Ekimosis: Tampak pembengkakan lokal dan kebiruan akibat ekstravasasi darah ke jaringan subkutan.
- Krepitasi: Terdengar atau teraba derik tulang saat fragmen tulang bergeser (jangan sengaja diperiksa karena memicu trauma lanjut).
- Spasme Otot: Terlihat atau teraba kontraksi otot involunter pada sekitar area sebagai upaya protektif tubuh.
5. Pemeriksaan Penunjang Fraktur
(Doenges et al., 2010, Smeltzer & Bare, 2018)
Evaluasi Laboratorium
- Darah Lengkap: Penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) mengindikasikan kehilangan darah; peningkatan Leukosit menandakan adanya infeksi atau respons inflamasi masif.
- Profil Koagulasi: Pemeriksaan Masa Perdarahan (Bleeding Time) dan Masa Pembekuan (Clotting Time) untuk persiapan operatif.
- Kimia Darah: Peningkatan kadar Kalsium serum dan Fosfor serum selama fase penyembuhan tulang.
Evaluasi Radiologi dan Lainnya
- X-Ray (Foto Polos): Dilakukan minimal dengan prinsip rule of twos (dua posisi: AP/Lateral, dua sendi berdekatan, dua ekstremitas untuk komparasi) untuk menentukan lokasi, garis, dan jenis patahan.
- CT-Scan / MRI: Digunakan untuk mengidentifikasi kasus kompleks, pelvis, kompresi vertebra, atau mendeteksi kerusakan jaringan lunak, tendon, dan ligamen yang tidak terlihat pada X-ray biasa.
- Arteriografi: Dilakukan jika dicurigai ada kerusakan pembuluh darah perifer utama (misal pada area suprakondiler humerus atau dislokasi lutut).
6. Penatalaksanaan Medis Fraktur
(Black & Hawks, 2014, Sjamsuhidajat & de Jong, 2017)
Intervensi Farmakologis
- Analgetik: Pemberian opioid (seperti Morfin atau Fentanil) untuk nyeri hebat fase akut, atau NSAID (seperti Ketorolak, Ibuprofen) untuk meredakan nyeri dan inflamasi.
- Antibiotik: Pemberian antibiotik profilaksis IV (golongan Sefalosporin seperti Sefazolin) sangat krusial pada kasus terbuka untuk mencegah osteomielitis.
- Toksoid Tetanus: Diberikan pada pasien luka terbuka yang terkontaminasi kotoran atau tanah.
Intervensi Non-Farmakologis
- Imobilisasi dengan Gips (Casting) atau Bidai (Splinting): Berfungsi mempertahankan posisi fragmen tulang dan meminimalkan pergerakan ekstremitas yang cedera.
- Traksi (Skin/Skeletal Traction): Penggunaan beban untuk menarik ekstremitas guna menyejajarkan fragmen tulang dan mengurangi spasme otot.
- Reduksi Terbuka dan Fiksasi Internal (ORIF): Prosedur bedah untuk menyatukan kembali fragmen tulang menggunakan sekrup, pen, plat, atau paku intramedular.
- Fiksasi Eksternal (OREF): Pemasangan pin transfiksasi ke dalam tulang atas dan bawah area cedera, yang kemudian terhubung dengan kerangka luar tubuh.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
(Moorhouse et al., 2014, PPNI, 2017)
Data Identitas dan Riwayat
Mencakup nama, umur (mempengaruhi kecepatan kalsifikasi tulang), jenis kelamin, pekerjaan, alamat, tanggal masuk, dan diagnosa medis.
- Keluhan Utama: Biasanya nyeri hebat pada area cedera, deformitas, atau ketidakmampuan beraktivitas.
- Riwayat Kesehatan Sekarang: Menggunakan pendekatan PQRST (Pemicu nyeri, Kualitas nyeri, Regio/lokasi, Skala nyeri, dan Waktu/durasi) serta kronologi mekanis terjadinya trauma.
- Riwayat Kesehatan Dahulu: Menanyakan adanya riwayat cedera sebelumnya, penyakit metabolik (osteoporosis, diabetes), atau konsumsi obat kortikosteroid jangka panjang.
- Riwayat Kesehatan Keluarga: Mengkaji adanya penyakit keturunan seperti osteogenesis imperfekta atau keganasan.
Pemeriksaan Fisik Sistemik
- Sistem Muskuloskeletal (Fokus Utama): Look (Inspeksi) amati deformitas, angulasi, pemendekan, bengkak, luka terbuka, perdarahan, atau bone expose. Feel (Palpasi) raba nyeri tekan lokal, peningkatan suhu kulit pada sekitar luka, serta raba pulsasi arteri distal (Arteri Dorsalis Pedis/Arteri Radialis) untuk menilai Capillary Refill Time (CRT < 2 detik). Move (Gerakan) nilai kemampuan gerakan aktif dan pasif sendi pada distal area cedera. Catat jika terdapat keterbatasan gerak akibat nyeri.
- Sistem Persarafan: Kaji fungsi sensorik (mati rasa, kesemutan) dan motorik pada bagian distal untuk mendeteksi tanda awal Sindrom Kompartemen.
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis, palpasi denyut nadi (frekuensi, irama, kekuatan), auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 tunggal. Pantau tanda syok hipovolemik (takikardia, hipotensi).
- Sistem Pernapasan: Inspeksi ekspansi dada, auskultasi suara napas (vesikuler, ronki, wheezing), hitung frekuensi napas (takipnea dapat terjadi akibat nyeri atau emboli lemak).
- Sistem Pencernaan, Eliminasi, Integumen: Auskultasi bising usus, palpasi distensi abdomen, kaji pola BAB dan BAK (imobilisasi lama berisiko memicu konstipasi dan retensi urine). Inspeksi keutuhan kulit, turgor kulit, dan adanya luka lecet atau laserasi pada sekitar area cedera.
Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Aktivitas/Istirahat: Mengalami keterbatasan aktivitas total/parsial, gangguan pola tidur akibat nyeri menusuk pada malam hari.
- Pola Nutrisi/Metabolik: Penurunan nafsu makan akibat nyeri hebat atau stres pasca trauma.
- Pola Eliminasi: Penurunan frekuensi defekasi (konstipasi) sekunder akibat imobilisasi fisik.
- Pola Koping/Toleransi Stres: Muncul kecemasan terkait prosedur pembedahan atau ancaman kecacatan permanen.
2. Diagnosis Keperawatan Fraktur
(PPNI, 2017)
Diagnosis Prioritas 1-5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Cedera Fisik (mis. Trauma, Fraktur)
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) b.d Kerusakan Integritas Struktur Tulang dan Nyeri
- Risiko Syok (D.0039) d.d Kekurangan Volume Cairan Akibat Perdarahan Tulang/Jaringan
- Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) b.d Faktor Mekanis (Fragmen Tulang Menembus Kulit, Trauma)
- Risiko Infeksi (D.0142) d.d Efek Prosedur Invasif (ORIF/OREF) atau Kerusakan Integritas Kulit (Fraktur Terbuka)
Diagnosis Prioritas 6-10
- Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009) b.d Kurangnya Terpapar Informasi tentang Faktor Pemberat (mis. Penekanan Pembuluh Darah Akibat Gips/Edema)
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d Gangguan Muskuloskeletal dan Kelemahan Fisik
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurangnya Kontrol Tidur (Nyeri Sekunder)
- Ansietas (D.0080) b.d Krisis Situasional, Rencana Operasi, atau Ancaman Kehilangan Fungsi Tubuh
- Risiko Disfungsi Neurovaskular Perifer (D.0067) d.d Cedera Ekstremitas, Kompresi Jaringan Mekanis (Gips Terlalu Ketat)
3. Perencanaan (Intervensi)
(PPNI, 2018a, PPNI, 2018b)
Intervensi Diagnosis 1-3
1. Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Nyeri Menurun (L.08066)
- Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
- Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respons nyeri non verbal.
- Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain); Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan); Fasilitasi istirahat dan tidur.
- Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
2. Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Luaran Utama (SLKI): Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042)
- Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, nyeri menurun, kecemasan menurun, gerakan tidak terkoordinasi menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
- Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi; Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. pagar tempat tidur); Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Anjurkan melakukan mobilisasi dini; Ajarkan juga untuk melakukan mobilisasi sederhana (mis. duduk pada tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).
3. Risiko Syok (D.0039)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Syok Menurun (L.03032)
- Kriteria Hasil: Kekuatan nadi meningkat, output urin meningkat, tingkat kesadaran meningkat, akral dingin menurun, pucat menurun, tekanan darah membaik, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Syok (I.02068)
- Observasi: Monitor status kardiovaskular (nadi, tekanan darah, MAP); Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD); Monitor status cairan (intake, output, turgor kulit, CRT); Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil.
- Terapeutik: Berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%; Pasang jalur IV, jika perlu; Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine, jika perlu; Tempatkan pada posisi supine dengan kaki ditinggikan (posisi syok), jika tidak ada kontraindikasi.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala awal syok; Anjurkan melapor jika menemukan tanda dan gejala awal syok; Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral, jika tidak ada kontraindikasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV (kristaloid/koloid), jika perlu; Kolaborasi pemberian transfusi darah, jika perlu; Kolaborasi pemberian antiinfeksi, jika perlu.
Intervensi Diagnosis 4-6
4. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
- Luaran Utama (SLKI): Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125)
- Kriteria Hasil: Elastisitas meningkat, hidrasi meningkat, kerusakan jaringan menurun, kerusakan lapisan kulit menurun, perdarahan menurun, kemerahan menurun, hematoma menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Perawatan Luka (I.14564)
- Observasi: Monitor karakteristik luka (mis. drainase, warna, ukuran, bau); Monitor tanda-tanda infeksi lokal.
- Terapeutik: Lepaskan balutan dan plester secara perlahan; Cukur rambut pada sekitar daerah luka, jika perlu; Bersihkan dengan cairan NaCl 0,9% atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan; Bersihkan jaringan nekrotik; Berikan salep yang sesuai ke kulit/lesi, jika perlu; Pasang balutan sesuai jenis luka; Pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka; Ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Anjurkan mengonsumsi makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP); Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu; Kolaborasi prosedur debridement, jika perlu.
5. Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
- Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak menurun, kadar sel darah putih membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
- Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
- Edukasi: Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan etika batuk; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi; Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi; Anjurkan meningkatkan asupan cairan.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian imunisasi atau antibiotik, jika perlu.
6. Gangguan Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
- Luaran Utama (SLKI): Perfusi Perifer Meningkat (L.02011)
- Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, penyembuhan luka meningkat, sensasi meningkat, warna kulit pucat menurun, edema perifer menurun, nyeri ekstremitas menurun, parastesia menurun, pengisian kapiler membaik, akral membaik, turgor kulit membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Perawatan Sirkulasi (I.02079)
- Observasi: Periksa sirkulasi perifer (mis. nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, suhu, anklem-brachial index); Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi (mis. diabetes, perokok, orang tua, hipertensi, kadar kolesterol tinggi); Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas.
- Terapeutik: Hindari pemasangan gips atau balutan yang terlalu ketat; Lakukan hidrasi.
- Edukasi: Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu; Anjurkan minum obat pengontrol tekanan darah secara teratur; Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta; Anjurkan melakukan perawatan kulit yang tepat; Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi; Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan (mis. rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa).
Intervensi Diagnosis 7-10
7. Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran Utama (SLKI): Perawatan Diri Meningkat (L.11103)
- Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan meningkat, kemampuan ke toilet (BAB/BAK) meningkat, verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat, mempertahankan kebersihan diri meningkat.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
- Observasi: Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia; Monitor tingkat kemandirian; Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang terapeutik (mis. suasana nyaman, rileks, privasi); Siapkan keperluan pribadi (mis. parfum, sikat gigi, dan sabun mandi); Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri; Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri; Jadwalkan rutinitas perawatan diri.
- Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan.
8. Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran Utama (SLKI): Pola Tidur Membaik (L.05045)
- Kriteria Hasil: Kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar setelah tidur menurun, keluhan pola tidur berubah menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.
- Intervensi Utama (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Monitor pola tidur dan lamanya tidur pasien.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur); Tetapkan jadwal tidur rutin; Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur); Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur; Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur (mis. psikologis, gaya hidup, sering berubah shift kerja); Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya.
9. Ansietas (D.0080)
- Luaran Utama (SLKI): Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
- Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan; Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan; Mendiskusikan perencanaan realistis tentang masa depan.
- Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin pasien alami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat; Latih teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
10. Risiko Disfungsi Neurovaskular Perifer (D.0067)
- Luaran Utama (SLKI): Neurovaskular Perifer Efektif (L.02014)
- Kriteria Hasil: Denyut nadi perifer meningkat, sensasi membaik, pergerakan sendi membaik, warna kulit pucat menurun, edema menurun, nyeri menurun, suhu tubuh membaik.
- Intervensi Utama (SIKI): Pemantauan Neurovaskular Perifer (I.02074)
- Observasi: Periksa ukuran dan bentuk ekstremitas bilateral (komparasi kiri dan kanan); Monitor sirkulasi perifer (denyut nadi, pengisian kapiler/CRT, warna dan suhu kulit pada distal cedera); Monitor adanya nyeri hebat yang menetap atau tidak hilang dengan analgesik standar; Monitor adanya parastesia (kesemutan, baal, kebas); Monitor fungsi motorik distal ekstremitas (kemampuan menggerakkan jari tangan/kaki).
- Terapeutik: Pertahankan imobilisasi ekstremitas yang cedera sesuai indikasi; Hindari penekanan lokal langsung pada area saraf perifer; Atur posisi ekstremitas yang cedera (elevasi jika tidak ada kontraindikasi, atau sejajar jantung); Sesuaikan kelonggaran balutan atau gips jika terdapat tanda kompresi sirkulasi.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan neurovaskular; Anjurkan pasien dan keluarga segera melapor jika merasakan perubahan sensasi (kebas, kesemutan) atau kedinginan pada area distal; Ajarkan cara memeriksa pengisian kapiler secara mandiri bagi keluarga.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis jika menemukan tanda awal Sindrom Kompartemen (nyeri hebat, pucat, hilangnya nadi, parastesia, paralisis) untuk tindakan dekompresi darurat (mis. eskarotomi atau fasiotomi).
4. Implementasi
Melakukan implementasi keperawatan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun secara terstruktur. Tindakan mencakup pelaksanaan manajemen nyeri (mengajarkan teknik relaksasi napas dalam, memantau skala nyeri, memberikan analgesik), memantau sirkulasi perifer lewat penilaian berkala CRT dan denyut nadi distal, merawat luka dengan prinsip steril, memberikan dukungan penuh dalam mobilisasi bertahap, serta mendampingi pasien guna meminimalkan ansietas menjelang tindakan operatif. Mendokumentasikan seluruh tindakan keperawatan secara rinci mencakup jam, respons pasien, dan paraf perawat. (Moorhouse et al., 2014)
5. Evaluasi
Melaksanakan evaluasi keperawatan dengan metode penulisan format SOAP yang mengacu pada
pencapaian kriteria hasil pada perencanaan: (PPNI, 2018a)
- S (Subjektif): Pasien mengungkapkan keluhan yang dirasakannya secara langsung, seperti “Nyeri yang saya rasakan sudah mulai berkurang dari skala 7 menjadi skala 3”.
- O (Objektif): Hasil pemantauan klinis oleh perawat, seperti “Pasien tampak lebih tenang, tidak meringis lagi, CRT distal ekstremitas < 2 detik, nadi 84 kali per menit, dan luka bersih tanpa tanda pus”.
- A (Analisis): Penilaian status pencapaian masalah keperawatan, misalnya “Masalah Nyeri Akut teratasi sebagian, Masalah Risiko Infeksi tidak terjadi”.
- P (Planning): Arahan rencana tindak lanjut keperawatan, misalnya “Lanjutkan intervensi manajemen nyeri secara mandiri dan optimalkan jadwal perawatan luka steril”.
Rumus Perhitungan Kebutuhan Cairan (Resusitasi Trauma/Syok)
Jika pasien mengalami syok hipovolemik akibat perdarahan fraktur pelvis atau femur, kebutuhan resusitasi cairan kristaloid hitung berdasarkan perkiraan kehilangan darah (Estimated Blood Loss / EBL):
EBL = Estimasi Persentase Kehilangan Darah x Total Blood Volume (TBV)
Keterangan: TBV orang dewasa berkisar antara 70 mL/kgBB.
Memberikan cairan pengganti kristaloid yang menggunakan rasio 3:1 (3 mL kristaloid untuk setiap 1 mL darah yang hilang):
Kebutuhan Cairan Resusitasi = 3 x EBL
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, A. (2018). Textbook of Orthopedics. New Delhi: Jaypee Brothers.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th ed.). Singapore: Elsevier.
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing (14th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Buckley, R., Moran, C., & Apivatthakakul, T. (2020). AO Principles of Fracture Management (3rd ed.). Stuttgart: Thieme.
Choon, S. K. (2015). Management of Open Fractures in Malaysia. Malaysian Orthopaedic Journal, 9(2), 1-7. Malaysian Orthopaedic Journal
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2010). Nursing Care Plans (8th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.
Kim, J. W., & Chang, J. S. (2019). Current Concepts in the Management of Fractures in South Korea. Journal of the Korean Orthopaedic Association, 54(3), 185-194. Journal of the Korean Orthopaedic Association
Lewis, S. L., Dirksen, S. R., Heitkemper, M. M., & Bucher, L. (2014). Medical-Surgical Nursing (9th ed.). St. Louis: Mosby Elsevier.
Li, Y., & Zhang, R. (2021). Musculoskeletal Fractures in China. Chinese Journal of Traumatology, 24(4), 210-215. Chinese Journal of Traumatology
Moorhouse, M. F., Doenges, M. E., & Murr, A. C. (2014). Nursing Diagnosis Manual (4th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.
Muttaqin, A. (2011). Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018a). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018b). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. (2017). Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 4). Jakarta: EGC.

Tinggalkan Balasan