Dismenore merupakan kondisi medis berupa kram atau nyeri hebat pada perut bagian bawah yang terjadi sebelum atau selama masa menstruasi dan mengganggu aktivitas.
- A. Konsep Medis Dismenore
- 1. Definisi Dismenore
- 2. Etiologi Dismenore
- 3. Patofisiologi dan Jalur KDM Dismenore
- 4. Manifestasi Klinis Dismenore
- 5. Pemeriksaan Penunjang Pada Dismenore
- 6. Penatalaksanaan Medis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 1. Pengkajian Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan
- 3. Perencanaan (Intervensi)
- 4. Implementasi
- 5. Evaluasi
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Dismenore
1. Definisi Dismenore
Definisi Dari Pakar Internasional
ACOG (2020): American College of Obstetricians and Gynecologists menjelaskan dismenore sebagai rasa sakit atau kram yang berakar pada perut bagian bawah, yang bermanifestasi akibat pelepasan prostaglandin berlebih pada lapisan rahim selama siklus menstruasi. (ACOG, 2020)
Berek (2019): Selanjutnya, Berek mendefinisikan kondisi ini sebagai nyeri panggul yang bersifat siklik dan menyertai menstruasi, intensitasnya cukup kuat hingga memaksa wanita membatasi aktivitas harian mereka atau membutuhkan terapi obat. (Berek, 2019)
Decherney (2021): Selain itu, Decherney mengidentifikasi gangguan ginekologi yang paling umum terdapat pada wanita usia reproduksi ini sebagai suatu keadaan yang muncul dengan nyeri uterus tajam dan intermiten selama fase perdarahan menstrual. (Decherney, 2021)
Hoffman (2022): Sementara itu, Hoffman mengategorikan gangguan ini ke dalam dua jenis utama, yakni primer tanpa adanya patologi panggul yang mendasari dan sekunder yang timbul akibat kelainan organik struktural dalam rongga panggul. (Hoffman, 2022)
Critchley (2020): Lebih lanjut, Critchley menegaskan bahwa fenomena tersebut mengekspresikan respons inflamasi akut dalam miometrium yang muncul oleh iskemia jaringan uterus seketika setelah kadar progesteron serum menurun drastis. (Critchley, 2020)
Definisi Pakar Asia
Kundu (2021): Berkaitan dengan populasi regional, Kundu menguraikan masalah ini sebagai keluhan fisik berupa ketidaknyamanan spasmodik pada area suprapubik yang sering kali menjalar hingga ke paha bagian dalam dan punggung bawah pada remaja putri Asia Selatan. (Kundu, 2021)
Lee (2022): Sebagai tambahan, Lee merumuskan gangguan menstruasi tersebut sebagai bentuk ketidakseimbangan aliran energi tubuh (Qi) dan stagnasi darah area uterus menurut perspektif integratif klinis Asia Timur. (Lee, 2022)
Sriprasert (2023): Sejalan dengan itu, Sriprasert mendefinisikan gejala ini sebagai manifestasi klinis dari hipertonisitas otot rahim yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup serta produktivitas kerja para wanita usia subur Asia Tenggara. (Sriprasert, 2023)
Avasthi (2020): Sebaliknya, Avasthi mengartikan sindrom nyeri panggul periodik ini sebagai fenomena yang berkaitan erat dengan faktor stres psikologis tinggi dan pola makan yang kurang sehat pada populasi urban. (Avasthi, 2020)
Kim (2021): Kemudian, Kim menetapkan kondisi tersebut sebagai gejala klinis subyektif yang memerlukan pendekatan terapeutik komprehensif karena melibatkan sensitivitas reseptor nyeri yang meningkat terhadap prostaglandin terlarut. (Kim, 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Prawirohardjo (2020): Dalam konteks lokal, Prawirohardjo menyatakan bahwa gangguan ini merupakan rasa nyeri yang menusuk atau melilit pada perut bagian bawah sebelum dan selama haid, yang memaksa penderita untuk beristirahat dan meninggalkan pekerjaannya sehari-hari. (Prawirohardjo, 2020)
Anurogo (2021): Oleh karena itu, Anurogo mendeskripsikan fenomena ini sebagai gangguan neurovegetatif yang melibatkan pelepasan mediator kimiawi tubuh, sehingga menimbulkan persepsi nyeri yang bervariasi dari skala ringan hingga berat pada remaja. (Anurogo, 2021)
Manuaba (2019): Ditinjau dari sudut pandang endokrin, Manuaba mengartikan gejala klinis tersebut sebagai tanda adanya kontraksi otot rahim yang berlebihan akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang tidak seimbang dalam tubuh. (Manuaba, 2019)
Proverawati (2021): Berdasarkan dampak fisiknya, Proverawati merinci ketidaknyamanan ini sebagai kumpulan gejala yang muncul menjelang menstruasi, mencakup kram perut, mual, sakit kepala, hingga lemas yang bersifat periodik. (Proverawati, 2021)
Kusmiran (2020): Akhirnya, Kusmiran menguraikan masalah tersebut sebagai manifestasi ketegangan psikis dan fisik yang terjadi akibat vasokontriksi pembuluh darah uterus, yang mana sering kali mengganggu proses belajar mahasiswi atau siswi sekolah. (Kusmiran, 2020)
2. Etiologi Dismenore
Secara umum, penyebab kondisi ini terbagi berdasarkan klasifikasinya:
- Bentuk Primer: Dipicu oleh peningkatan sekresi prostaglandin F2-alfa (PGF2-alpha) dan prostaglandin E2 (E2) di endometrium. Faktor risiko meliputi menarke dini, siklus panjang, dan stres. (Hoffman, 2022)
- Bentuk Sekunder: Diakibatkan oleh patologi panggul atau kelainan struktural organ reproduksi seperti endometriosis, mioma uteri, adenomiosis, Penyakit Radang Panggul (PRP), atau penggunaan AKDR. (Berek, 2019)
3. Patofisiologi dan Jalur KDM Dismenore
Proses Penyakit
Pada akhir fase luteal siklus menstruasi, terjadi regresi korpus luteum yang menyebabkan penurunan tajam progesteron. Akibatnya, stabilitas membran lisosom endometrium terganggu, sehingga memicu pelepasan enzim fosfolipase A2 yang menghidrolisis fosfolipid menjadi asam arakidonat. Melalui jalur siklooksigenase (COX), asam arakidonat disintesis menjadi prostaglandin F2-alfa. Produksi yang berlebihan ini menstimulasi miometrium secara kuat, menyebabkan kontraksi uterus intermiten dengan tekanan basal tinggi melebihi 120 mmHg. Kontraksi hebat tersebut menjepit pembuluh darah intramyometrial, sehingga aliran darah menuju uterus tersumbat dan memicu iskemia jaringan. Jaringan yang mengalami iskemia kemudian melepaskan mediator kimia saraf yang merangsang saraf aferen untuk mengirimkan sinyal nyeri ke pusat. (Critchley, 2020)
Bagan Penyimpangan
Regresi Korpus Luteum -> Progesteron Menurun -> Labilitas Membran Lisosom -> Pelepasan Fosfolipase A2 -> Peningkatan Produksi PGF2-alpha -> Kontraksi Miometrium Hebat (>120 mmHg) -> Kompresi Pembuluh Darah Uterus -> Iskemia Jaringan -> Pelepasan Mediator Nyeri -> Nyeri Akut (D.0077). Sinyal ini merangsang hipotalamus, mengaktifkan saraf otonom lambung yang memicu mual (D.0076) serta defisit nutrisi (D.0019). Rasa tidak nyaman juga membatasi pergerakan tubuh yang berujung pada intoleransi aktivitas (D.0056) dan mengganggu pola tidur (D.0055). (Nanda, 2021)
4. Manifestasi Klinis Dismenore
a. Data Subjektif
Oleh karena itu, pasien mengeluh nyeri kram seperti mulas yang tajam pada perut bagian bawah (suprapubik). Merasakan nyeri menjalar ke area pinggang, punggung bawah, hingga paha bagian dalam. Pasien melaporkan mual, muntah, diare, atau pusing yang menyertai keluhan utama. Pasien juga mengeluh lemas, cepat lelah, mudah tersinggung, atau sakit kepala berat. Terlebih lagi, pasien menyatakan sulit tidur dan tidak mampu melakukan aktivitas fisik atau sekolah secara normal. (Prawirohardjo, 2020)
b. Data Objektif
Sebaliknya, data objektif menunjukkan wajah tampak meringis kesakitan dan memegangi area perut bawah. Pasien tampak gelisah, bersikap protektif terhadap area nyeri, atau memposisikan tubuh fleksi (menekuk). Terdapat peningkatan tanda-tanda vital seperti takikardia (Nadi > 100x/menit), takipnea (Pernapasan > 20x/menit), dan peningkatan tekanan darah sistolik ringan. Selain itu, tampak diaphoresis (keringat dingin berlebih) dan muntah pada kasus yang berat. (Anurogo, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Pada Dismenore
Kelompok Pemeriksaan
- Pemeriksaan Laboratorium: Meliputi Darah Lengkap (DL) untuk menyingkirkan anemia akibat menoragia, Laju Endap Darah (LED) atau CRP untuk mengidentifikasi proses inflamasi, serta Kultur Cairan Serviks untuk mendeteksi patogen panggul. (Decherney, 2021)
- Pemeriksaan Radiologi: Ultrasonografi (USG) Transvagina atau Transabdominal mengevaluasi struktur anatomi uterus. menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) Panggul mengonfirmasi titik endometriosis dalam. (Hoffman, 2022)
- Pemeriksaan Lain: Laparoskopi Diagnostik merupakan standar emas mendeteksi endometriosis. Melakukan juga Histeroskopi untuk melihat kavum uteri langsung. (Berek, 2019)
6. Penatalaksanaan Medis
Metode Terapi
- Terapi Farmakologis: NSAIDs seperti Asam Mefenamat (500 mg dosis awal, lalu 250-500 mg per 6-8 jam), Ibuprofen (400-800 mg per 6 jam), atau Naproxen untuk menekan prostaglandin. Terapi hormonal menggunakan Kontrasepsi Oral Kombinasi atau Progestin sistemik untuk menekan ovulasi. (ACOG, 2020)
- Terapi Non-Farmakologis: Kompres hangat (heat therapy) bersuhu 39-40°C di perut bawah untuk merelaksasi miometrium. Suplementasi Vitamin E, B6, B1, dan Magnesium untuk menurunkan ketegangan otot. Senam ringan, yoga, akupresur pada titik Spleen 6 (SP6), dan konsumsi minuman herbal jahe hangat. (Sriprasert, 2023)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Riwayat dan Fisik
- Identitas & Riwayat: Mencatat usia (sering pada 15-25 tahun). Keluhan utama berupa nyeri suprapubik tajam, melilit, skala 4-10 (NRS), muncul 1-2 hari sebelum atau awal haid, menjalar ke pinggang, serta mual dan lemas. Terdapat riwayat serupa pada keluarga. (Kusmiran, 2020)
- Pemeriksaan Fisik: Tampak meringis, takikardia, takipnea. Pada abdomen, terdapat nyeri tekan nyata pada daerah suprapubik tanpa tanda akut abdomen, bising usus normal (15-20x/menit). Kulit teraba agak dingin dengan diaphoresis. (Nanda, 2021)
- Pola Fungsi (Gordon): Penurunan nafsu makan akibat mual muntah, peningkatan frekuensi defekasi (diare), gangguan tidur (insomnia), dan hambatan dalam menjalankan aktivitas harian atau sekolah. (Proverawati, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar SDKI Kelompok Utama
- Nyeri Akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (kontraksi uterus).
- Gangguan Rasa Nyaman (D.0074) berhubungan dengan gejala penyakit (nyeri haid).
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan kelemahan fisik.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur (nyeri abdomen).
- Nausea (D.0076) berhubungan dengan iritasi gastrointestinal (efek prostaglandin).
Daftar SDKI Kelompok Pendukung
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan (mual muntah).
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan/nyeri berulang.
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036) dibuktikan dengan kehilangan cairan aktif (muntah/diare).
- Risiko Keletihan (D.0057) dibuktikan dengan kondisi fisiologis (nyeri kronis siklik).
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosa 1 – 3
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066): Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, nadi membaik.
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Berikan teknik nonfarmakologis kompres hangat pada perut bawah. Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri. Kolaborasi pemberian analgetik atau NSAID (Asam Mefenamat/Ibuprofen).
Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
- Luaran: Status Kenyamanan (L.08064): Kesejahteraan fisik meningkat, keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat.
- Intervensi: Pengaturan Posisi (I.01014): Monitor kenyamanan sebelum dan sesudah perubahan posisi. Posisikan tubuh yang memberikan kenyamanan (posisi fowler rendah atau posisi janin). Atur lingkungan yang tenang. Informasikan tujuan perubahan posisi.
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047): Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, perasaan lemah menurun.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178): Monitor kelelahan fisik dan emosional. Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus. Anjurkan tirah baring/istirahat total saat puncak nyeri. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
Rencana Intervensi Diagnosa 4 – 6
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045): Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, tidak segar menurun.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas dan tidur serta faktor pengganggu. Modifikasi lingkungan (pencahayaan dan suhu). Jelaskan pentingnya tidur cukup selama menstruasi. Anjurkan menghindari kafein.
Nausea (D.0076)
- Luaran: Tingkat Nausea (L.08065): Perasaan mual menurun, rasa ingin muntah menurun, pucat membaik.
- Intervensi: Manajemen Mual (I.03117): Monitor asupan nutrisi dan cairan. Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual. Berikan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering. Ajarkan penggunaan aromaterapi peppermint atau jahe. Kolaborasi pemberian antiemetik jika diperlukan.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi (L.03030): Porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, cepat kenyang menurun.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan. Sajikan makanan secara menarik dan hangat. Ajarkan diet yang diprogramkan (tinggi serat, batasi lemak jenuh). Kolaborasi pemberian terapi gizi/vitamin.
Rencana Intervensi Diagnosa 7 – 10
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111): Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi menjelaskan masalah meningkat.
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan menerima informasi. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan (leaflet/video). Jelaskan faktor risiko dan patofisiologi menstruasi. Ajarkan strategi meredakan kram mandiri.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093): Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah. Ciptakan suasana terapeutik. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan. Latih teknik relaksasi napas dalam.
Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)
- Luaran: Status Cairan (L.03028): Turgor kulit baik, membran mukosa lembap, output urine seimbang.
- Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098): Monitor status hidrasi (nadi, kelembapan mukosa). Catat intake-output harian. Anjurkan memperbanyak minum air putih minimal 2 liter per hari. Kolaborasi pemberian cairan intravena jika hidrasi oral tidak adekuat.
Risiko Keletihan (D.0057)
- Luaran: Tingkat Keletihan (L.05046): Verbalisasi kepulihan energi meningkat, tenaga meningkat, lesu menurun.
- Intervensi: Edukasi Aktivitas/Istirahat (I.12362): Identifikasi kemampuan menerima informasi. Sediakan materi edukasi tertulis. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat seimbang. Ajarkan manajemen stres untuk meminimalkan keletihan fisik.
4. Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan secara sistematis berdasarkan rencana tindakan yang telah ditetapkan (SIKI). Tindakan mencakup pemantauan skala nyeri, memosisikan pasien dalam posisi janin yang nyaman, memberikan kompres hangat pada perut bawah, dan menciptakan lingkungan tenang. Perawat juga memberikan edukasi mengenai penyebab kram rahim, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam, serta berkolaborasi dalam pemberian terapi analgetik atau NSAID dan memantau responnya. (Nanda, 2021)
5. Evaluasi
Melakukan evaluasi keperawatan menggunakan metode SOAP yang pada setiap pergantian shift atau setelah tindakan:
- S: Pasien melaporkan kram perut bawah berkurang signifikan (skala menurun menjadi 1-2 atau hilang), mual mereda, dan tidur membaik.
- O: Ekspresi wajah rileks, tidak meringis, nadi dan pernapasan normal (N: 60-100x/mnt, RR: 12-20x/mnt), tidak ada diaphoresis.
- A: Masalah keperawatan teratasi sebagian atau seluruhnya.
- P: Pertahankan intervensi mandiri (kompres hangat dan teknik relaksasi) di rumah, hentikan tindakan klinis. (Nanda, 2021)
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2020). Dysmenorrhea: Painful Periods. Clinical Updates in Women’s Health Care, 135(5), 110-118. acog.org/clinical/clinical-guidance/clinical-consensus/articles/2020/05/dysmenorrhea-in-adolescents
Anurogo, D. (2021). Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Avasthi, K. (2020). Impact of Stress on Dysmenorrhea among Urban Asian Adolescent Girls. Asian Journal of Obstetrics and Gynaecology, 8(2), 45-51. ajog-asia.com/article/view/2020-08-45
Berek, J. S. (2019). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.
Critchley, H. O. (2020). Menstrual Bleeding Disorders and Myometrial Hypercontractility. The New England Journal of Medicine, 382(24), 2344-2355. nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra1908650
Decherney, A. H. (2021). Current Diagnosis & Treatment: Obstetrics & Gynecology (12th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Hoffman, B. L. (2022). Williams Gynecology (4th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Kim, S. Y. (2021). Prostaglandin Receptor Sensitivity and Its Correlation with Dysmenorrhea Severity. Journal of Asian Medical Sciences, 14(3), 89-94. jams-asia.org/index.php/jams/article/view/1022
Kundu, S. (2021). Prevalence and Management of Primary Dysmenorrhea in South Asian Adolescents. International Journal of Gynaecology & Obstetrics, 154(1), 12-19. figo.onlinelibrary.wiley.com/journal/18793479
Kusmiran, E. (2020). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika.
Lee, M. S. (2022). Integrative Approach and Traditional East Asian Medicine for Dysmenorrhea. Asian Integrative Medicine Journal, 29(4), 201-210. aimj-clinical.com/archive/aimj-2022-29
Manuaba, I. B. G. (2019). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita (Ed. 3). Jakarta: EGC.
Nanda, I. M. (2021). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA Nic-Noc. Yogyakarta: Mediaction.
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (Ed. 4). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Proverawati, A. (2021). Menstruasi dan Permasalahannya. Yogyakarta: Nuha Medika.

Tinggalkan Balasan