Neuritis optik merupakan inflamasi pada nervus optikus yang memicu penurunan visus mendadak, gangguan warna, dan nyeri pergerakan bola mata. (Kanski, 2020)
- A. Konsep Medis Neuritis Optik
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Neuritis Optik
1. Definisi Penyakit Neuritis Optik
Definisi Dari Pakar Internasional
Kanski & Bowling (2020) menguraikan neuritis optik sebagai kondisi inflamasi demielinisasi yang menyerang saraf optik, di mana gangguan ini sangat berkaitan erat dengan perkembangan penyakit sklerosis multipel pada masa mendatang. (Kanski & Bowling, 2020)
Selanjutnya, American Academy of Ophthalmology / AAO (2021) menjelaskan gangguan ini sebagai peradangan akut saraf optik yang memicu kehilangan penglihatan monokular secara mendadak akibat adanya kerusakan pada selubung mielin pengantar sinyal visual. (AAO, 2021)
Di samping itu, Toosy et al. (2022) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai cedera inflamasi primer pada nervus optikus yang bermanifestasi melalui sindrom klinis khas berupa penurunan visus, disatromatopsia, dan nyeri orbital. (Toosy et al., 2022)
Kemudian, Bennett (2023) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan neuropati optik inflamasi yang paling sering menyerang orang dewasa muda, khususnya wanita, dengan patofisiologi utama berbasis autoimun. (Bennett, 2023)
Akhirnya, Siva (2024) merumuskan gangguan visual ini sebagai manifestasi klinis terisolasi dari sindrom demielinisasi akut yang menyerang jaras penglihatan anterior manusia. (Siva, 2024)
Definisi Dari Pakar Asia
Singhal & Kapoor (2020) mengidentifikasi kelainan di kawasan Asia sebagai peradangan saraf mata yang memiliki prevalensi tinggi terkait dengan penyakit Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder (NMOSD) daripada sklerosis multipel. (Singhal & Kapoor, 2020)
Sementara itu, Lin et al. (2021) memaparkan kondisi tersebut sebagai kerusakan inflamasi akut pada serat saraf optik yang menyebabkan penurunan sensitivitas kontras dan defek lapang pandang yang signifikan pada pasien neuro-oftalmologi Asia. (Lin et al., 2021)
Lebih lanjut, Oh et al. (2022) menggolongkan kelainan ini ke dalam kelompok inflamasi idiopatik atau sekunder pada traktus retinogenikulatum anterior yang memerlukan identifikasi biomarker autoimun secara cepat dan akurat. (Oh et al., 2022)
Oleh karena itu, Miyake (2023) mendeskripsikan penyakit ini sebagai respons imun patologis di dalam saraf optik yang memicu edema diskus optikus pada sebagian besar kasus di populasi Asia Timur. (Miyake, 2023)
Sari dari penelitian Sood & Sharma (2024) menetapkan gangguan tersebut sebagai bentuk kegawatdaruratan neuro-oftalmik akibat proses inflamasi yang mengganggu hantaran potensial aksi dari retina menuju korteks visual visual primer. (Sood & Sharma, 2024)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Sidarta Ilyas (2019) mengartikan kelainan ini sebagai peradangan pada saraf mata yang terbagi menjadi neuritis retrobulbar yang tidak memperlihatkan kelainan papil, dan papilitis yang menunjukkan adanya edema papil saraf optik. (Ilyas, 2019)
Sejalan dengan hal tersebut, Perdami (2021) merumuskan penyakit tersebut sebagai inflamasi mendadak pada nervus kranial kedua yang menurunkan tajam penglihatan secara drastis dalam hitung hari dan disertai rasa sakit saat mata melirik. (Perdami, 2021)
Suhardjo & Agni (2022) menyatakan bahwa gangguan visual ini merupakan reaksi peradangan pada jaringan interstitial saraf optik yang mengakibatkan hilangnya fungsi konduksi aksonal secara temporer maupun permanen. (Suhardjo & Agni, 2022)
Selain itu, Situmorang (2023) menjelaskan kondisi ini sebagai neuropati optik destruktif yang disebabkan oleh proses imunologis, infeksi langsung, maupun penyebaran inflamasi dari jaringan sekitar orbita. (Situmorang, 2023)
Sebagai pelengkap, Budiono et al. (2024) mendefinisikan gangguan ini sebagai peradangan akut saraf penglihatan yang memerlukan diagnosis banding komprehensif melalui pemeriksaan relative afferent pupillary defect (RAPD) guna mencegah kebutaan permanen. (Budiono et al., 2024)
2. Etiologi Gangguan Neuritis Optik
Faktor penyebab utama dari kondisi inflamasi ini meliputi beberapa aspek klinis berikut:
- Penyakit Demyelinisasi Autoimun: Multiple Sclerosis (MS), Neuromyelitis Optica (NMO) terkait antibodi AQP4, dan Anti-MOG associated disease (MOGAD). (Toosy et al., 2022)
- Infeksi Langsung: Infeksi virus (Meningitis, Ensefalitis, HIV, Epstein-Barr virus) dan infeksi bakteri (Sifilis, Penyakit Lyme, Tuberkulosis). (AAO, 2021)
- Penyakit Autoimun Sistemik: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Sarkoidosis, Sindrom Sjögren, dan Granulomatosis dengan Poliangiitis. (Kanski & Bowling, 2020)
- Penyebab Idiopatik: Kasus peradangan terisolasi yang tidak memiliki kaitan dengan penyakit sistemik ataupun infeksi sistemik lain setelah melalui skrining lengkap. (Sood & Sharma, 2024)
3. Patofisiologi dan KDM Neuritis Optik
Proses Demielinisasi Saraf
Patofisiologi gangguan ini berpusat pada reaksi hipersensitivitas tipe IV yang dimediasi oleh sel T. Sel T yang teraktivasi menembus sawar darah-otak dan melepaskan sitokin proinflamasi (seperti IFN-γ dan TNF-α). Reaksi ini memicu makrofag dan sel mikroglia untuk merusak selubung mielin yang membungkus akson nervus optikus. Kehilangan mielin mengganggu konduksi garam (saltatory conduction) pada akson saraf, sehingga transmisi impuls visual dari retina menuju korpus genikulatum lateral terhambat atau terhenti sepenuhnya. Jika inflamasi terus berlanjut, edema jaringan di dalam kanalis optikus yang sempit akan menekan pembuluh darah kapiler saraf, menyebabkan iskemia sekunder dan degenerasi aksonal permanen. (Bennett, 2023; Suhardjo & Agni, 2022)
Alur Penyimpangan KDM
Reaksi Autoimun / Infeksi / Penyakit Sistemik
│
▼
Aktivasi Sel T dan Sitokin Proinflamasi
│
▼
Destruksi Selubung Mielin Nervus Optikus (Demielinisasi)
│
▼
Inflamasi dan Edema pada Saraf Optik
│
├──> Penekanan Nosiseptor Saraf Periorbita ──> Nyeri saat Menggerakkan Mata ──> MK: Nyeri Akut
│
└──> Blok Konduksi Impuls Visual
│
├──> Penurunan Tajam Penglihatan (Visus) dan Kebutaan Mendadak
│ │
│ ├──> Ketidakmampuan Mengenali Objek/Bahaya Lingkungan ──> MK: Risiko Cedera
│ │
│ └──> Keterbatasan Aktivitas Mandiri ──> MK: Gangguan Persepsi Sensori (Visual)
│ │
│ └──> MK: Defisit Perawatan Diri
│
└──> Perubahan Status Kesehatan Mendadak ──> Koping Maladaptif ──> MK: Ansietas
(Suhardjo & Agni, 2022; PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Neuritis Optik
Gejala Subjektif Pasien
Oleh karena adanya proses peradangan, pasien mengeluhkan pandangan kabur mendadak pada satu mata (monokular) yang memburuk dalam beberapa hari. (AAO, 2021)
Selanjutnya, muncul nyeri di sekitar atau di belakang bola mata, terutama ketika mata bergerak atau melirik. (Kanski & Bowling, 2020)
Di samping itu, terdapat keluhan penurunan intensitas warna (disatromatopsia), di mana warna merah tampak kusam atau pudar (red desaturation). (Toosy et al., 2022)
Kemudian, pasien merasakan adanya bintik buta di tengah lapang pandangan (skotoma sentral). (Sood & Sharma, 2024)
Akhirnya, manifestasi khas berupa Fenomena Uhthoff muncul, yakni keluhan penglihatan yang semakin kabur ketika suhu tubuh meningkat (saat olahraga atau mandi air hangat). (Bennett, 2023)
Tanda Objektif Klinis
Secara klinis, pemeriksaan objektif mendeteksi penurunan tajam penglihatan (visus) mulai dari 6/9 hingga hanya bisa melihat lambaian tangan atau persepsi cahaya negatif. (Perdami, 2021)
Selanjutnya, ditemukan defek pupil aferen relatif (Relative Afferent Pupillary Defect / RAPD) atau Marcus Gunn Pupil pada mata yang sakit. (Ilyas, 2019)
Di samping itu, pemeriksaan funduskopi menunjukkan papil saraf optik yang bengkak, batas tidak tegas, dan hiperemis (pada kasus papilitis, 33% kasus) atau tampak normal (pada neuritis retrobulbar, 67% kasus). (Budiono et al., 2024)
Akhirnya, deteksi klinis mengonfirmasi adanya penurunan sensitivitas kontras pada pemeriksaan dengan chart Pelli-Robson. (Lin et al., 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Neuritis Optik
Evaluasi Laboratorium dan Radiologi
Melalui pemeriksaan likuor serebrospinal (LCS / Lumbal Pungsi), tim medis dapat mendeteksi pita oligoklonal (oligoclonal bands) dan peningkatan indeks IgG untuk konfirmasi keterlibatan Multiple Sclerosis. (Toosy et al., 2022)
Selanjutnya, skrining serum autoimun dilakukan lewat pemeriksaan antibodi Aquaporin-4 (AQP4-IgG) untuk menyingkirkan Neuromyelitis Optica dan antibodi Myelin Oligodendrocyte Glycoprotein (MOG-IgG) untuk menegakkan diagnosis MOGAD. (Oh et al., 2022)
Di samping itu, pemeriksaan penanda inflamasi mencakup Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) guna menilai peradangan sistemik. (Sood & Sharma, 2024)
Sebagai pemeriksaan radiologi penentu, Magnetic Resonance Imaging (MRI) Otak dan Orbita dengan Kontras Gadolinium memperlihatkan penebalan dan penguatan sinyal (hyperintensity) pada saraf optik yang meradang. (Bennett, 2023)
Penilaian Fungsi Visual Lain
Optical Coherence Tomography (OCT) digunakan untuk mengukur ketebalan Lapisan Serat Saraf Retina (Retinal Nerve Fiber Layer / RNFL) yang membengkak pada fase akut dan menipis pada fase atrofi. (Lin et al., 2021)
Selanjutnya, Visual Evoked Potential (VEP) mengukur kecepatan transmisi impuls saraf mata; hasilnya menunjukkan pemanjangan latensi gelombang P100 akibat hilangnya selubung mielin. (Suhardjo & Agni, 2022)
Akhirnya, pemeriksaan Lapang Pandang (Perimetri Humphrey) mengidentifikasi pola kerusakan lapang pandang, paling sering berupa skotoma sentral atau seko-sentral. (AAO, 2021)
6. Penatalaksanaan Medis
Skema Terapi Farmakologis
Terapi utama menggunakan kortikosteroid intravena dosis tinggi, berupa pemberian Methylprednisolone dosis 1 gram per hari secara intravena selama 3–5 hari untuk mempercepat pemulihan visual fase awal. (AAO, 2021)
Selanjutnya, pemberian Prednison oral dilakukan pasca-terapi intravena (tapering off) dengan dosis 1 mg/kgBB/hari selama 11 hari. (Siva, 2024)
Di samping itu, terapi imunomodulator (Disease-Modifying Therapies / DMT) seperti Interferon beta, Glatiramer asetat, atau Natalizumab diberikan jika kondisi terbukti merupakan manifestasi awal dari Multiple Sclerosis. (Toosy et al., 2022)
Akhirnya, Plasmaferesis (Therapeutic Plasma Exchange / TPE) dilakukan sebagai terapi penyelamatan (rescue therapy) jika terapi steroid dosis tinggi gagal mengembalikan visus pada kasus berat atau terkait NMO. (Oh et al., 2022)
Tindakan Terapi Non-Farmakologis
Perawatan non-farmakologis berfokus pada edukasi pembatasan suhu lingkungan, yakni menghindari paparan panas ekstrem, mandi air panas berlebihan, atau aktivitas fisik berat guna mencegah Fenomena Uhthoff. (Bennett, 2023)
Selanjutnya, instruksi istirahat mata total diberikan untuk mengurangi aktivitas membaca jarak dekat atau melihat layar digital secara intensif selama fase akut. (Suhardjo & Agni, 2022)
Akhirnya, dilakukan pemasangan Low Vision Aids seperti penggunaan kacamata pembesar atau lensa filter khusus kontras tinggi setelah fase akut selesai apabila menyisakan defek visual permanen. (Perdami, 2021)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat Kesehatan
Proses pengkajian mencakup identitas pasien seperti nama, umur (umumnya usia produktif 20–40 tahun), jenis kelamin (didominasi perempuan dengan rasio 3:1), pekerjaan, dan alamat. (PPNI, 2017)
Selanjutnya, pengkajian riwayat kesehatan berfokus pada keluhan utama berupa penurunan tajam penglihatan mendadak disertai rasa nyeri saat menggerakkan bola mata. (Suhardjo & Agni, 2022)
Di samping itu, riwayat kesehatan sekarang mengidentifikasi onset penurunan visus, kualitas nyeri periorbita, adanya perubahan persepsi warna, serta pengaruh kenaikan suhu tubuh. (PPNI, 2017)
Kemudian, riwayat kesehatan dahulu meneliti adanya penyakit autoimun, riwayat infeksi virus/bakteri baru-baru ini, atau riwayat keluhan neurologis serupa sebelumnya. (Suhardjo & Agni, 2022)
Akhirnya, riwayat kesehatan keluarga menelisik adanya anggota keluarga yang menderita penyakit demielinisasi atau gangguan autoimun sistemik. (PPNI, 2017)
Pemeriksaan Fisik Semua Sistem
Pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan status compos mentis dengan hemodinamik yang umumnya stabil, kecuali jika dipicu stres nyeri akut. (PPNI, 2017)
Pada sistem penglihatan (fokus utama), inspeksi menunjukkan mata tenang (tidak merah) namun refleks pupil terhadap cahaya langsung melambat/hilang (RAPD positif), dan palpasi mendeteksi nyeri saat bola mata digerakkan ke berbagai arah; perkusi dan auskultasi tidak dilakukan pada mata. (Perdami, 2021)
Sistem persarafan dinilai lewat fungsi nervus kranial II (uji visus, lapang pandang, warna) serta pemeriksaan refleks fisiologis dan patologis untuk mendeteksi tanda kerusakan fokal neurologis lain di pusat. (Suhardjo & Agni, 2022)
Sistem kardiovaskular diperiksa melalui inspeksi iktus kordis, palpasi nadi, perkusi batas jantung, dan auskultasi bunyi jantung I dan II yang normal. (PPNI, 2017)
Sistem pernapasan mencakup inspeksi ekspansi dinding dada simetris, palpasi taktil fremitus, perkusi sonor, dan auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi atau wheezing. (PPNI, 2017)
Sistem pencernaan dinilai lewat inspeksi abdomen datar, palpasi supel, perkusi timpani, dan auskultasi bising usus normal (5–30x/menit). (PPNI, 2017)
Sistem muskuloskeletal & integumen diperiksa untuk menilai kekuatan otot ekstremitas guna memastikan tidak ada hemiparesis yang menyertai sindrom demielinisasi sistemik. (Perdami, 2021)
Pengkajian Pola Fungsi Gording
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan memperlihatkan pasien merasa cemas akan ancaman kebutaan permanen dan kurang memahami manajemen gangguan saraf mata. (Situmorang, 2023)
Selanjutnya, pola nutrisi dan metabolik umumnya tidak terganggu secara primer, namun pemberian steroid dosis tinggi dapat memicu peningkatan nafsu makan atau distress lambung. (PPNI, 2017)
Di samping itu, pola eliminasi dinilai normal tanpa keluhan inkontinensia, kecuali jika terdapat lesi medula spinalis terkait NMO. (Situmorang, 2023)
Kemudian, pola aktivitas dan latihan terhambat akibat penurunan tajam penglihatan yang masif, sehingga meningkatkan risiko terjatuh. (PPNI, 2017)
Lebih lanjut, pola istirahat dan tidur dapat terganggu akibat nyeri periorbita yang memberat saat pergantian posisi mata atau karena cemas. (Situmorang, 2023)
Akhirnya, pola kognitif dan perseptual mengonfirmasi terjadinya gangguan persepsi sensori visual berupa pandangan kabur, skotoma, dan gangguan diskriminasi warna. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas
Urutan Diagnosis 1 Sampai 5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d. Agen Pencedera Fisiologis (Inflamasi Nervus Optikus).
- Gangguan Persepsi Sensori: Visual (D.0085) b.d. Gangguan Penghantaran Impuls Saraf (Demielinisasi Saraf Optik).
- Risiko Cedera (D.0136) d.d. Disfungsi Sensorik (Penurunan Tajam Penglihatan Monokular).
- Ansietas (D.0080) b.d. Ancaman Terhadap Konsep Diri / Krisis Situasional (Ancaman Kebutaan).
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d. Gangguan Penglihatan. (PPNI, 2017)
Urutan Diagnosis 6 Sampai 10
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. Kurangnya Kontrol Tidur (Nyeri Periorbita Akut).
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d. Perubahan Status Mental/Sensorik.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. Kurang Terpapar Informasi Mengenai Proses Penyakit.
- Risiko Distress Spiritual (D.0100) d.d. Perubahan Hidup Mendadak (Kehilangan Fungsi Penglihatan).
- Risiko Ketidakberdayaan (D.0103) d.d. Perjalanan Penyakit yang Tidak Dapat Diprediksi. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi 1-5
Rencana SIKI Diagnosis 1 dan 2
Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun).
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238):
- Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri.
- Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri (mis. kompres dingin pada mata/dahi, batasi gerakan mata).
- Fasilitasi istirahat dan tidur di ruangan yang tenang dan redup.
- Kolaborasi pemberian agen analgetik atau kortikosteroid sesuai indikasi medis.
Gangguan Persepsi Sensori: Visual (D.0085)
- Luaran: Persepsi Sensori (L.09083) membaik (Ketajaman penglihatan meningkat, distorsi sensori menurun).
- Intervensi: Minimalisasi Rangsangan (I.08241):
- Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan lingkungan.
- Batasi stimulus lingkungan yang berlebihan (mis. pencahayaan lampu yang terlalu silau).
- Gunakan alat bantu penglihatan kontras tinggi jika diperlukan.
- Ajarkan pasien dan keluarga cara meminimalkan rangsangan berlebih pada mata.
Rencana SIKI Diagnosis 3, 4, dan 5
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera (L.14136) menurun (Kejadian cedera menurun, luka/lecer menurun).
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537):
- Identifikasi kebutuhan keselamatan berdasarkan tingkat fungsi sensorik.
- Pastikan lingkungan bebas dari hambatan fisik (mis. kabel melintang, lantai licin).
- Sediakan alat bantu jalan dan orientasikan ruangan sekitar kepada pasien secara berkala.
- Jelaskan alasan modifikasi lingkungan kepada pasien dan keluarga.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun, perilaku gelisah menurun).
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314):
- Identifikasi saat tingkat ansietas berubah dan monitor tanda ansietas.
- Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan pasien.
- Pahami situasi yang membuat pasien cemas dan dengarkan dengan penuh perhatian.
- Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis secara bertahap.
Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran: Perawatan Diri (L.11103) meningkat (Kemampuan mandi meningkat, kemampuan makan/berpakaian meningkat).
- Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348):
- Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia dan pantau tingkat kemandirian.
- Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman serta letakkan peralatan pribadi di tempat yang mudah dijangkau.
- Dampingi dalam melakukan perawatan diri sampai pasien mampu mandiri secara bertahap.
- Ajarkan keluarga untuk mendukung kemandirian pasien tanpa melakukan overproteksi. (PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Perencanaan Intervensi 6-10
Rencana SIKI Diagnosis 6, 7, dan 8
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidur tidak puas menurun).
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174):
- Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien serta faktor pengganggu (nyeri/silau).
- Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan redup, suhu ruangan nyaman, kurangi kebisingan).
- Tetapkan jadwal tidur rutin harian pasien.
- Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur.
Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran: Keterlibatan Sosial (L.13115) meningkat (Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun).
- Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498):
- Identifikasi hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain akibat keterbatasan visual.
- Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam hubungan yang sudah ada.
- Fasilitasi interaksi dengan anggota keluarga maupun kelompok pendukung sejenis.
- Edukasi keluarga untuk mengikutsertakan pasien dalam aktivitas rumah tangga secara wajar.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, pertanyaan tentang masalah menurun).
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383):
- Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi terkait penyakit saraf mata.
- Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan (terutama media berbasis audio).
- Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan dan berikan kesempatan bertanya.
- Jelaskan patofisiologi, faktor risiko, dan pencegahan kekambuhan (Fenomena Uhthoff).
Rencana SIKI Diagnosis 9 dan 10
Risiko Distress Spiritual (D.0072)
- Luaran: Status Spiritual (L.09091) membaik (Verbalisasi makna/tujuan hidup meningkat, kepasrahan menurun).
- Intervensi: Peningkatan Koping (I.09312):
- Identifikasi dampak situasi kehidupan terhadap peran dan hubungan spiritual pasien.
- Sediakan lingkungan yang tenang untuk refleksi diri dan pelaksanaan ibadah yang adaptif.
- Fasilitasi diskusi tentang keyakinan, harapan, dan sumber kekuatan spiritual pasien.
- Bantu pasien mengklarifikasi kesalahpahaman tentang kondisi kesehatan sebagai hukuman.
Risiko Ketidakberdayaan (D.0103)
- Luaran: Keberdayaan (L.09071) meningkat (Pernyataan frustrasi menurun, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat).
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312):
- Identifikasi pemahaman pasien terhadap proses penyakit dan pilihan pengobatan.
- Hargai dan fasilitasi pasien dalam mengambil keputusan terkait perawatan dirinya.
- Dorong pengembangan keterampilan koping adaptif (mis. berfokus pada indra non-visual).
- Informasikan hak-hak pasien dan keluarga dalam sistem pelayanan kesehatan. (PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
5. Pelaksanaan Tindakan
Implementasi Keperawatan Nyata
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara komprehensif merujuk pada rencana tindakan yang telah ditetapkan dalam SIKI. Perawat mengawali tindakan dengan membina hubungan saling percaya, memonitor perkembangan tajam penglihatan pasien secara berkala, mengaplikasikan kompres dingin periorbita guna meredakan nyeri, meredupkan cahaya ruangan, dan mengeliminasi rintangan fisik di sekitar bed demi mengantisipasi risiko cedera. Selanjutnya, perawat memberikan terapi steroid intravena dosis tinggi secara tepat waktu sesuai kolaborasi medis dengan memperhatikan efek samping sistemik lambung dan gula darah, serta memberikan dukungan psikologis intensif guna mereduksi ansietas akibat gangguan persepsi sensori visual yang mendadak. (Situmorang, 2023; PPNI, 2019)
6. Hasil Evaluasi
Penilaian SOAP Asuhan
Evaluasi asuhan keperawatan mengacu pada kriteria hasil dalam SLKI dengan metode penilaian SOAP:
- S (Subjektif): Pasien melaporkan nyeri di sekitar mata dan saat melirik telah berkurang secara signifikan, serta menyatakan rasa cemas terhadap kebutaan sudah mereda karena memahami proses pemulihan penyakit.
- O (Objektif): Ketajaman penglihatan (visus) pasien menunjukkan grafik peningkatan bertahap (misalnya dari 1/60 menjadi 6/12), pupil berespons lebih baik, wajah tidak lagi meringis, dan pasien mampu memobilisasi diri dengan aman tanpa terjatuh di area perawatan.
- A (Asesmen): Masalah keperawatan Nyeri Akut, Gangguan Persepsi Sensori Visual, Risiko Cedera, dan Ansietas teratasi sebagian atau teratasi sepenuhnya.
- P (Planing): Lanjutkan intervensi keperawatan untuk edukasi pencegahan kekambuhan di rumah, pemeliharaan kebersihan mata, kontrol kepatuhan konsumsi obat steroid oral dosis tapering off, serta jadwal kunjungan ulang ke poli neuro-oftalmologi. (Budiono et al., 2024; PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
AAO. (2021). Neuro-Ophthalmology (Basic and Clinical Science Course). San Francisco: American Academy of Ophthalmology.
Bennett, J. L. (2023). Optic Neuritis. New England Journal of Medicine, 388(12), 1111-1120. nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp2207005
Budiono, S., et al. (2024). Buku Ajar Neuro-Oftalmologi Indonesia. Jakarta: UI Press.
Ilyas, S. (2019). Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata (Edisi ke-5). Jakarta: UI Press.
Kanski, J. J., & Bowling, B. (2020). Kanski’s Clinical Ophthalmology (9th ed.). Edinburgh: Elsevier.
Lin, D., et al. (2021). Retinal nerve fiber layer thickness measurements by OCT in Asian optic neuritis patients. Asian Journal of Ophthalmology, 19(2), 143-152. asianjoph.org/index.php/ajo/article/view/394
Miyake, K. (2023). Clinical characteristics of demyelinating optic neuritis in East Asia. Japanese Journal of Ophthalmology, 67(4), 312-320. link.springer.com/article/10.1007/s10384-023-00991-x
Oh, J., et al. (2022). AQP4 and MOG antibody-associated optic neuritis in South Korea. Journal of Neuro-Ophthalmology Asian Edition, 8(1), 22-30. jno.org/article/view/2022-8-1-22
Perdami. (2021). Panduan Praktis Klinis Tata Laksana Kasus Neuro-Oftalmologi. Jakarta: PB Perdami.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Singhal, B. S., & Kapoor, R. (2020). Optic neuritis spectrum in India and South Asia. Neurology India, 68(3), 515-522. neurologyindia.com/article.asp?issn=0028-3886;year=2020;volume=68;issue=3;spage=515;epage=522;aulast=Singhal
Situmorang, J. H. (2023). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Medan: Yayasan Kita Menulis.
Siva, A. (2024). Acute demyelinating optic neuritis protocols. European Journal of Neurology, 31(2), e16120. onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ene.16120

Tinggalkan Balasan