Katarak merupakan kekeruhan pada lensa mata yang menghalangi jalannya cahaya, menyebabkan penurunan tajam penglihatan secara progresif, dan menjadi penyebab utama kebutaan dunia.
- A. Konsep Medis Penyakit Katarak
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Penyakit Katarak
1. Definisi Penyakit Katarak
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa gangguan ini terjadi ketika lensa mata yang normalnya jernih mengalami kekeruhan, sehingga menghalangi jalannya cahaya menuju retina dan mengakibatkan penurunan fungsi penglihatan yang signifikan (WHO, 2021).
Selanjutnya, American Academy of Ophthalmology (AAO) menegaskan bahwa penyakit ini muncul akibat degradasi protein dalam lensa mata yang mengubah transparansi lensa secara bertahap, sehingga pasien mengalami pandangan kabur seperti melihat melalui kaca berembun (AAO, 2022).
Selain itu, Mayo Clinic mendefinisikan gangguan struktural ini sebagai area padat dan keruh yang terbentuk secara perlahan dalam lensa mata, yang mana kondisi tersebut umumnya berkembang akibat proses penuaan atau cedera jaringan organ penglihatan (Mayo Clinic, 2023).
Sementara itu, National Eye Institute (NEI) menguraikan kelainan visual tersebut sebagai gangguan pada pengumpulan protein molekuler dalam lensa menciptakan kekeruhan, sehingga mencegah lensa mengirimkan gambar yang tajam ke pusat saraf retina (NEI, 2022).
Sebagai pelengkap, Kanski’s Clinical Ophthalmology memaparkan kelainan opasitas ini sebagai segala bentuk kekeruhan pada lensa kristalina bawaan maupun didapat, yang secara langsung mengganggu media refraksi mata dan menurunkan sensitivitas kontras visual (Bowling, 2016).
Definisi Pakar Asia
Asian Journal of Ophthalmology (AzO) merumuskan kelainan opasitas lensa okular progresif ini sebagai kondisi yang prevalensinya meningkat tajam pada populasi lansia Asia akibat faktor paparan sinar ultraviolet tinggi dan penyakit diabetes melitus (AzO, 2020).
Kemudian, Singapore National Eye Centre (SNEC) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai hilangnya transparansi alami lensa kristalina yang secara bertahap mengurangi ketajaman visual dan membutuhkan intervensi bedah fakoemulsifikasi jika mengganggu aktivitas harian (SNEC, 2021).
Sejalan dengan hal itu, Chinese Medical Journal (CMJ) menjelaskan kelainan tersebut sebagai degenerasi jaringan lensa mata unilateral atau bilateral yang bermanifestasi sebagai penurunan tajam penglihatan tanpa rasa nyeri, yang mana faktor metabolik sangat mempengaruhinya (CMJ, 2022).
Lebih lanjut, Indian Journal of Ophthalmology (IJO) mengklasifikasikan opasitas ini sebagai kekeruhan media refraksi intraokular yang menginduksi hambatan mekanis pada jalur cahaya, sehingga memicu kebutaan fungsional yang dapat sembuh melalui prosedur ekstraksi (IJO, 2023).
Akhirnya, Japanese Journal of Ophthalmology (JJO) mengonseptualisasikan kelainan mata ini sebagai gangguan struktur mikrofibril dan penurunan kadar air dalam lensa yang menyebabkan hamburan cahaya, sehingga menurunkan kualitas penglihatan senja pada pasien (JJO, 2021).
Definisi Pakar Indonesia
Ilyas & Yulianti mengartikan patologi ini sebagai setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi atau penambahan cairan lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat kedua-duanya (Ilyas & Yulianti, 2019).
Berikutnya, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menyatakan bahwa kelainan okular ini adalah kekeruhan pada lensa kristalina yang menyebabkan hidrasi abnormal dan agregasi protein, sehingga mengganggu fungsi penglihatan secara parsial hingga total (PERDAMI, 2020).
Tambahan pula, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan gangguan mata tersebut sebagai penyakit yang muncul dengan kekeruhan lensa secara perlahan, sehingga penglihatan menjadi buram dan menjadi penyebab tertinggi angka kebutaan domestik (Kemenkes RI, 2022).
Sementara itu, Tamsuri menjelaskan kondisi patologis ini sebagai perubahan lensa berupa hilangnya kejernihan struktural, yang mengakibatkan gangguan transmisi cahaya ke organ reseptor penglihatan secara progresif (Tamsuri, 2018).
Sebagai penutup, Istiantoro dkk. menegaskan bahwa gangguan visual ini merupakan proses degeneratif fungsional lensa yang merusak indeks refraksi normal mata, sehingga memerlukan tindakan operatif penanaman lensa intraokular untuk memulihkan fungsi visual (Istiantoro dkk., 2021).
2. Etiologi Degeneratif Penyakit Katarak
Penyebab utama gangguan ini sangat bervariasi, namun secara klinis dikelompokkan menjadi beberapa faktor predisposisi.
Faktor Internal
Faktor paling umum adalah proses penuaan atau senilis, seiring bertambahnya usia, protein dalam lensa mengalami denaturasi dan beragregasi secara alami. Selain itu, penyakit sistemik dan gangguan metabolik seperti diabetes melitus dapat mempercepat pembentukan opasitas akibat akumulasi sorbitol dalam lensa melalui jalur aldose reduktase (Ilyas & Yulianti, 2019).
Faktor Eksternal
Faktor eksternal mencakup trauma mata, baik cedera tembus maupun tumpul yang merusak kapsul lensa. Selanjutnya, faktor toksik akibat penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang dan paparan lingkungan berupa radiasi sinar ultraviolet (UV-B) kronis serta sinar-X turut berkontribusi merusak struktur protein kristalin lensa (AAO, 2022).
3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Katarak
Mekanisme Kerusakan Lensa
Lensa mata normal terdiri dari air dan protein kristalin yang tersusun rapi untuk menjaga transparansinya. Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan aktivitas enzim antioksidan seperti glutation dalam lensa. Akibatnya, radikal bebas merusak struktur protein kristalin, memicu proses denaturasi dan agregasi protein yang mengubah warna lensa menjadi keruh (Tamsuri, 2018).
Dampak Tekanan Osmotik
Oleh karena itu, terjadi gangguan pompa natrium-kalium aktif yang memicu hidrasi lensa atau akumulasi air dalam serat lensa. Tekanan osmotik yang terganggu menyebabkan lensa membengkak, yang dapat mempersempit sudut bilik mata depan. Secara mekanis, kekeruhan ini menghalangi berkas cahaya sehingga tidak dapat terfokuskan dengan tepat pada retina (Smeltzer & Bare, 2018).
Bagan Penyimpangan KDM
Proses Penuaan / DM / Trauma / Sinar UV
│
▼
Denaturasi Protein Lensa
│
▼
Agregasi Protein & Hidrasi pada Lensa
│
▼
LENSA KERUH
│
┌────────────┴────────────────────────┐
▼ ▼
Membendung Jalan Cahaya Lensa Membengkak
│ │
▼ ▼
Penurunan Tajam Penglihatan Penyempitan Bilik Depan
│ │
├───────────────────┐ ▼
▼ ▼ Aliran Aqueous Terhambat
Pandangan Kabur Kurang Informasi │
│ │ ▼
▼ ▼ TIO Meningkat
Ggn Persepsi Sensori Ansietas │
│ ▼
▼ Nyeri Akut
Risiko Cedera
4. Manifestasi Klinis Penyakit Katarak
a. Data Subjektif
Pasien mengeluhkan pandangan kabur, berkabut, atau seperti terhalang asap secara bertahap tanpa adanya rasa nyeri. Oleh karena itu, mereka juga sering mengeluhkan silau saat melihat cahaya terang atau lampu mobil pada malam hari. Selain itu, pasien melaporkan penglihatan ganda pada satu mata dan merasa warna dan sekitarnya tampak memudar atau menguning (PERDAMI, 2020).
b. Data Objektif
Berdasarkan pemeriksaan, terdapat penurunan ketajaman penglihatan saat uji Snellen Chart. Selain itu, tampak kekeruhan pada lensa berwarna putih keabu-abuan saat inspeksi. Pemeriksaan shadow test menunjukkan hasil positif pada stadium imatur, sementara refleks fundus terlihat berwarna hitam atau redup akibat terhalangnya jalan cahaya (Ilyas & Yulianti, 2019).
5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Katarak
a. Pemeriksaan Laboratorium
Melakukan pemeriksaan gula darah sewaktu dan HbA1c untuk menskrining adanya penyakit diabetes melitus yang dapat mempercepat progresi penyakit. Selanjutnya, pemeriksaan darah rutin yang mencakup hemoglobin, leukosit, trombosit, serta profil koagulasi (PT/APTT) wajib dilaksanakan sebagai standar persiapan pre-operasi guna memastikan keamanan pasien (PERDAMI, 2020).
b. Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi (USG) mata atau B-Scan perlu jika kekeruhan pada lensa sudah sangat padat atau stadium matur. Akibatnya, struktur segmen posterior tidak dapat terevaluasi dengan funduskopi, sehingga menggunakan USG untuk menyingkirkan kemungkinan adanya ablasi retina atau massa tumor intraokular sebelum operasi. (Bowling, 2016).
c. Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan Slit Lamp digunakan untuk mengevaluasi lokasi spesifik opasitas lensa. Selain itu, Tonometri Schiotz dilakukan untuk mengukur tekanan intraokular guna mendeteksi komplikasi glaukoma sekunder. Terakhir, pemeriksaan Biometri (A-Scan) diterapkan untuk mengukur panjang aksial bola mata dan menghitung kekuatan lensa intraokular yang akan ditanam (AAO, 2022).
6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Katarak
a. Terapi Farmakologis
Hingga saat ini, tidak ada obat-obatan yang terbukti secara klinis dapat membalikkan proses kekeruhan lensa. Namun, terapi farmakologis suportif diberikan berupa tetes mata midriatikum untuk melebarkan pupil pre-operasi. Pasca-operasi, pasien diberikan tetes mata antibiotik profilaksis dan kortikosteroid anti-inflamasi untuk mencegah komplikasi infeksi intraokular (PERDAMI, 2020).
b. Terapi Non-Farmakologis
Satu-satunya terapi definitif adalah tindakan pembedahan jika penurunan penglihatan telah mengganggu aktivitas harian. Teknik modern fakoemulsifikasi menghancurkan lensa yang keruh dengan gelombang ultrasonik melalui insisi kecil tanpa jahitan. Alternatif lainnya adalah teknik SICS, yaitu ekstraksi manual melalui insisi terowongan sklera yang relatif kecil (SNEC, 2021).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas dan Riwayat
Pengkajian bio-psiko-sosial diawali dengan mengumpulkan identitas pasien, keluhan utama berupa pandangan berkabut, serta riwayat penyakit dahulu seperti diabetes. Selanjutnya, perawat menggali riwayat kesehatan keluarga dan riwayat paparan lingkungan kronis terhadap sinar matahari untuk menentukan faktor risiko yang relevan (Tamsuri, 2018).
b. Pemeriksaan Fisik Terfokus
Pemeriksaan fisik fokus pada sistem penglihatan menunjukkan adanya leukokoria, penurunan visus, dan shadow test positif. Namun demikian, pemeriksaan sistem lain tetap dilakukan secara komprehensif, seperti memeriksa sistem pernapasan untuk memastikan tidak ada batuk kronis, dan sistem pencernaan untuk memastikan tidak ada konstipasi yang dapat meningkatkan tekanan pasca-operasi (Smeltzer & Bare, 2018).
c. Pola Fungsi Fungsi
Pengkajian pola aktivitas menunjukkan hambatan fungsional dalam membaca atau berjalan akibat keterbatasan visual. Di sisi lain, pengkajian pola persepsi diri seringkali mengungkap adanya kecemasan, perasaan tidak berdaya, serta ketakutan menghadapi kebutaan permanen atau kegagalan prosedur pembedahan yang direncanakan (Tamsuri, 2018).
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas 1 sampai 5
- D.0085 Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan b.d. gangguan penerimaan sensori (kekeruhan lensa mata).
- D.0136 Risiko Cedera d.d. faktor risiko gangguan penglihatan (pandangan kabur).
- D.0080 Ansietas b.d. kurang terpapar informasi, ancaman terhadap status kesehatan.
- D.0111 Defisit Pengetahuan b.d. kurang terpapar informasi mengenai perawatan perioperatif.
- D.0077 Nyeri Akut b.d. agen pencedera fisik (prosedur bedah atau peningkatan TIO).
Prioritas 6 sampai 10
- D.0142 Risiko Infeksi d.d. faktor risiko efek prosedur invasif (insisi bedah mata).
- D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d. kecemasan perioperatif, ketidaknyamanan lingkungan.
- D.0056 Intoleransi Aktivitas b.d. kelemahan fisik sekunder akibat pembatasan visual.
- D.0121 Isolasi Sosial b.d. perubahan status sensori (menurunnya tajam penglihatan).
- D.0109 Defisit Perawatan Diri b.d. gangguan penglihatan. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Diagnosis 1 (D.0085)
Luaran Utama: Persepsi Sensori Membaik (L.09083) Kriteria Hasil: Verbalisasi melihat bayangan jernih meningkat, distorsi sensori menurun, ketajaman penglihatan meningkat. Intervensi Utama: Minimalisasi Rangsangan (I.08241)
- Tindakan Observasi: Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan.
- Tindakan Terapeutik: Diskusikan tingkat kelainan penglihatan, pastikan pencahayaan ruangan adekuat tanpa silau.
- Tindakan Edukasi: Ajarkan cara meminimalisasi stimulus lingkungan.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi dalam penjadwalan tindakan operasi.
Intervensi Diagnosis 2 (D.0136)
Luaran Utama: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) Kriteria Hasil: Kejadian cedera jatuh menurun, ketegangan otot menurun, luka/lecet menurun. Intervensi Utama: Pencegahan Jatuh (I.14540)
- Tindakan Observasi: Identifikasi faktor risiko jatuh (gangguan penglihatan, lingkungan).
- Tindakan Terapeutik: Orientasikan ruangan pada pasien, pasang handrail tempat tidur dan kamar mandi.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan menggunakan alat bantu penglihatan atau kacamata, anjurkan memanggil perawat jika butuh bantuan mobilisasi.
Intervensi Diagnosis 3 (D.0080)
Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir berkurang, perilaku gelisah menurun, nadi normal. Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Tindakan Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda ansietas.
- Tindakan Terapeutik: Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan prosedur tindakan operasi secara rinci termasuk sensasi yang akan dialami, latih teknik relaksasi napas dalam.
Intervensi Diagnosis 4 (D.0111)
Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, pertanyaan tentang masalah menurun. Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi kesehatan.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi perawatan mata pasca-operasi.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan pembatasan aktivitas (larangan membungkuk, batuk, mengejan), ajarkan cara menggunakan tetes mata steril dengan teknik benar.
Intervensi Diagnosis 5 (D.0077)
Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah berkurang. Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
- Tindakan Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
- Tindakan Terapeutik: Berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (kompres dingin/relaksasi).
- Tindakan Edukasi: Jelaskan penyebab dan periode nyeri.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau tetes mata penurun tekanan intraokular.
Intervensi Diagnosis 6 (D.0142)
Luaran Utama: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) Kriteria Hasil: Kemerahan menurun, cairan eksudat/pus tidak ada, nyeri lokal menurun. Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539)
- Tindakan Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal pada area mata pasca-bedah.
- Tindakan Terapeutik: Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan, pertahankan teknik aseptik selama perawatan mata.
- Tindakan Edukasi: Jelaskan tanda gejala infeksi, ajarkan menjaga kebersihan area wajah.
- Tindakan Kolaborasi: Kolaborasi pemberian tetes mata antibiotik.
Intervensi Diagnosis 7 (D.0055)
Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045) Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun. Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
- Tindakan Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur pasien, identifikasi faktor pengganggu tidur.
- Tindakan Terapeutik: Modifikasi lingkungan (atur pencahayaan, batasi kebisingan, sesuaikan suhu ruangan).
- Tindakan Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit, ajarkan faktor kontribusi gangguan tidur.
Intervensi Diagnosis 8 (D.0056)
Luaran Utama: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) Kriteria Hasil: Kemudahan melakukan aktivitas harian meningkat, perasaan lemah menurun. Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
- Tindakan Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan.
- Tindakan Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus, lakukan rentang gerak pasif/aktif.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan tirah baring, anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Intervensi Diagnosis 9 (D.0121)
Luaran Utama: Keterlibatan Sosial Meningkat (L.13115) Kriteria Hasil: Verbalisasi isolasi menurun, minat berinteraksi meningkat. Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498)
- Tindakan Observasi: Identifikasi hambatan berinteraksi dengan orang lain (gangguan visual).
- Tindakan Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam hubungan yang sudah ada, berikan umpan balik positif pada interaksi.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap, anjurkan berbagi pengalaman dengan orang lain.
Intervensi Diagnosis 10 (D.0109)
Luaran Utama: Perawatan Diri Meningkat (L.11103) Kriteria Hasil: Kemampuan makan, mandi, dan ke toilet secara mandiri meningkat. Intervensi Utama: Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
- Tindakan Observasi: Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia pasien.
- Tindakan Terapeutik: Siapkan keperluan pribadi (baju, handuk, alat makan) di tempat yang mudah dijangkau.
- Tindakan Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan visual yang ada. (PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi Tindakan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun (SIKI). Tindakan nyata meliputi aktivitas mandiri seperti memasang pembatas tempat tidur, memodifikasi pencahayaan ruangan, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam, serta memberikan edukasi intensif mengenai pembatasan fisik pasca-operasi. Di samping itu, dilaksanakan tindakan kolaboratif berupa pemberian obat tetes mata perioperatif dan persiapan teknis ruang bedah (Smeltzer & Bare, 2018).
5. Evaluasi Hasil
Evaluasi keperawatan dirumuskan menggunakan pendekatan SOAP secara berkala. Perawat mengevaluasi respon subjektif pasien terkait kejelasan penglihatan serta tingkat kenyamanan pasca-tindakan. Secara objektif, dilakukan penilaian ketajaman visual terbaru dan pemantauan tanda radang lokal. Akhirnya, perawat menganalisis perkembangan status pasien berdasarkan kriteria hasil SLKI untuk memutuskan apakah rencana intervensi perlu dilanjutkan atau dihentikan (Tamsuri, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
AAO. (2022). Lens and Cataract: BCSC Section 11. San Francisco: American Academy of Ophthalmology.
Asian Journal of Ophthalmology. (2020). Epidemiology and Impact of Cataract in Asia. AsJO, 17(2), 124-135. [doi.org/10.35119/asjo.v17i2.645]
Bowling, B. (2016). Kanski’s Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach (8th ed.). Edinburgh: Elsevier.
Chinese Medical Journal. (2022). Pathogenesis of Age-Related Cataract in East Asia. CMJ, 135(8), 911-920. [journals.lww.com/cmj]
Ilyas, S., & Yulianti, S. R. (2019). Ilmu Penyakit Mata (Edisi ke-5). Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Indian Journal of Ophthalmology. (2023). Manual Small Incision Cataract Surgery Options. IJO, 71(3), 745-752. [ijo.in]
Istiantoro, S., dkk. (2021). Panduan Komprehensif Bedah Katarak Modern dan Implan Lensa. Jakarta: UI Publishing.
Japanese Journal of Ophthalmology. (2021). Light Scattering in Early Stage Nuclear Cataract. JJO, 65(4), 482-490. leb
Kemenkes RI. (2022). Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Mayo Clinic. (2023). Cataracts: Symptoms, Causes, and Diagnosis. Rochester: Mayo Foundation.
National Eye Institute. (2022). Cataract Data and Statistics. Bethesda: NEI-NIH.
PERDAMI. (2020). Panduan Praktis Klinis Kedokteran Spesialis Mata: Katarak Senilis. Jakarta: PB PERDAMI.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

Tinggalkan Balasan