GUILLAIN-BARRE SYNDROME KONSEP MEDIS

Sindrom Guillain-Barré adalah penyakit autoimun langka pada sistem kekebalan tubuh menyerang saraf perifer, menyebabkan kelemahan otot mendadak hingga kelumpuhan akut yang fatal.

A. Konsep Medis Guillain-Barre Syndrome

1. Definisi Penyakit Guillain-Barre Syndrome

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (2020) menjelaskan bahwa kondisi langka ini terjadi saat sistem imunitas seseorang menyerang sebagian dari sistem saraf perifer. Hal tersebut dapat memengaruhi saraf yang mengendalikan gerakan otot serta saraf yang menyalurkan perasaan nyeri, suhu, dan sentuhan. (WHO, 2020)

National Institute of Neurological Disorders and Stroke (2022) mendefinisikan gangguan ini sebagai kelainan neurologis inflamasi akut. Selanjutnya, sistem pertahanan tubuh secara keliru merusak akson atau selubung mielin saraf tepi, sehingga mengganggu penghantaran sinyal saraf dari dan ke otak. (NINDS, 2022)

Mayo Clinic (2023) menegaskan bahwa penyakit ini termasuk dalam kategori kondisi medis serius yang mana sistem imun tubuh menyerang saraf-sarafnya sendiri. Lebih lanjut, gejala awal biasanya berupa kelemahan dan kesemutan pada ekstremitas bawah yang dapat menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. (Mayo Clinic, 2023)

Bennett et al. (2021) dalam Cecil Textbook of Medicine menguraikan penyakit ini sebagai polineuropati demielinisasi inflamasi akut (AIDP). Selain itu, kondisi ini memiliki karakteristik berupa paralisis motorik flaksid simetris yang bersifat progresif dan sering kali muncul pasca-infeksi saluran pernapasan atau pencernaan. (Bennett et al., 2021)

Ropper et al. (2019) melalui Adams and Victor’s Principles of Neurology menetapkan kondisi ini sebagai sindrom klinis akut oleh kelemahan otot yang berkembang cepat. Sebagai dampaknya, terjadi kehilangan refleks tendon dalam, serta peningkatan kadar protein dalam cairan serebrospinal tanpa adanya peningkatan jumlah sel penjamu. (Ropper et al., 2019)

Definisi Pakar Asia

Yuki dan Hartung (2012) dalam riset berskala Asia-Pasifik merumuskan penyakit ini sebagai neuropati akut yang dimediasi oleh sistem imun. Kemudian, antibodi yang terbentuk akibat infeksi bakteri atau virus mengalami reaksi silang dengan gangliosid pada saraf perifer manusia. (Yuki & Hartung, 2012)

Kuwabara (2014) dari Chiba University Jepang mengidentifikasi kelainan ini sebagai kelompok polineuropati akut heterogen yang merusak sistem saraf tepi. Oleh karena itu, gangguan ini meliputi varian demielinisasi (AIDP) serta varian aksonal (AMAN dan AMSAN) yang sangat sering muncul pada populasi Asia Timur. (Kuwabara, 2014)

Shahrizaila et al. (2021) dalam konsensus neurologi Asia mengklasifikasikan gangguan ini sebagai kegawatdaruratan neurologis akibat disfungsi imun pasca-infeksi. Akhirnya, proses tersebut memicu paralisis flaksid akut dengan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari kelemahan ringan hingga gagal napas total. (Shahrizaila et al., 2021)

Mishra et al. (2020) dari India memaparkan penyakit ini sebagai inflamasi autoimun akut pada akar saraf spinal dan saraf kranial. Akibatnya, timbul gangguan hantaran motorik dan sensorik, dengan puncak keparahan yang tercapai dalam waktu kurang dari empat minggu. (Mishra et al., 2020)

Lim et al. (2022) Singapura mengartikan gangguan ini sebagai poliradikuloneuropati akut yang dimediasi oleh kompleks imun tubuh. Secara klinis, hal ini menimbulkan manifestasi berupa kelemahan ekstremitas yang bersifat asendens atau menjalar ke atas serta dengan arefleksia. (Lim et al., 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (2019) merumuskan gangguan ini sebagai poliradikuloneuropati inflamasi akut yang bersifat demielinisasi atau aksonal. Berdasarkan hal itu, penyakit ditandai dengan kelumpuhan otot yang sifatnya simetris, progresif, dan akut dalam waktu kurang dari 4 minggu. (PERDOSSI, 2019)

Harsono (2015) mengemukakan bahwa sindrom ini merupakan suatu penyakit polineuropati akut yang mengenai saraf motorik dan sensorik. Sehubungan dengan hal tersebut, kelainan ini bersifat menyeluruh dan biasanya timbul satu hingga tiga minggu setelah terjadinya infeksi akut primer. (Harsono, 2015)

Sidharta (2016) menguraikan kelainan ini sebagai sindrom paralisis flaksid akut yang penyebabnya yaitu reaksi otoimun pasca-infeksi. Oleh karena itu, reaksi tersebut merusak radiks saraf spinalis serta saraf perifer sehingga memutuskan hantaran impuls motorik menuju otot rangka. (Sidharta, 2016)

Aninditha dan Maharani (2022) mengidentifikasi penyakit ini sebagai bentuk neuropati perifer akut dimediasi imun yang paling sering terjadi di Indonesia. Konsekuensinya, proses ini memicu kerusakan akut pada mielin atau akson saraf perifer akibat proses mimikri molekuler. (Aninditha & Maharani, 2022)

Sjahrir (2018) menegaskan bahwa penyakit ini adalah kelainan neurologis akut yang berpotensi mengancam jiwa. Sesuai dengan mekanisme ini, tubuh memproduksi antibodi patologis yang menyerang selubung sarafnya sendiri, sehingga mengakibatkan paralisis motorik yang meluas secara cepat. (Sjahrir, 2018)

2. Etiologi Penyakit Guillain-Barre Syndrome

Etiologi pasti dari kondisi ini belum diketahui sepenuhnya, namun sebagian besar kasus ini oleh infeksi saluran pernapasan atau pencernaan. Faktor pemicu utama adalah bakteri Campylobacter jejuni, yang sering terkait dengan kerusakan aksonal yang berat. Selain itu, beberapa virus ikut berperan sebagai pencetus agen infeksius ini. (Shahrizaila et al., 2021)

Virus tersebut meliputi Cytomegalovirus, Epstein-Barr Virus, virus Zika, serta virus Influenza. Akibatnya, sistem imun menghasilkan antibodi yang mengalami reaksi silang karena adanya struktur antigen dinding sel bakteri yang mirip dengan komponen saraf manusia. Fenomena biologi ini dikenal dengan istilah mimikri molekuler. (PERDOSSI, 2019)

Meskipun demikian, terdapat pula faktor risiko lain yang bersifat non-infeksius meskipun insidensinya tergolong sangat jarang terjadi. Kejadian pasca-tindakan pembedahan besar, trauma fisik berat, atau riwayat pemberian jenis vaksinasi tertentu melaporkan bisa memicu onset abnormalitas sistem pertahanan tubuh ini pada beberapa individu. (Shahrizaila et al., 2021)

3. Patofisiologi dan KDM Penyakit Guillain-Barre Syndrome

Kerusakan Struktur Saraf

Patofisiologi penyakit ini berpusat pada respons imun abnormal yang merusak radiks saraf spinalis serta saraf perifer tubuh. Setelah terpapar agen infeksi, sistem imun salah memproduksi antibodi patologis akibat adanya kemiripan struktur antigen patogen dengan gangliosid membran saraf manusia. (Yuki & Hartung, 2012)

Ikatan antibodi pada nodus Ranvier mengaktifkan kaskade komplemen yang memicu infiltrasi sel makrofag secara masif ke jaringan saraf. Pada varian demielinisasi, makrofag mengelupas selubung mielin sehingga menghambat konduksi saraf. Sebaliknya, pada varian aksonal, kerusakan menyerang langsung bagian aksolema. (Aninditha & Maharani, 2022)

Dampak Pemenuhan KDM

Kerusakan hantaran saraf ini menimbulkan gangguan serius pada pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia (KDM) yang bersifat fatal. Kelemahan motorik yang menjalar ke atas secara cepat mengganggu KDM mobilitas fisik secara total. Kondisi ini membuat pasien mengalami kelumpuhan flaksid pada kedua ekstremitas. (PERDOSSI, 2019)

Ketika proses demielinisasi telah mencapai otot-otot interkostal dan diafragma, ekspansi paru menjadi tidak adekuat sehingga mengganggu KDM oksigenasi. Selain itu, paralisis pada saraf kranial bulbar menghambat refleks menelan yang mengancam KDM nutrisi serta meningkatkan risiko masuknya cairan ke jalan napas. (Ropper et al., 2019)

Disfungsi otonom yang menyertai kerusakan saraf perifer ini turut mengganggu stabilitas sirkulasi darah dalam tubuh. Pasien rentan mengalami fluktuasi tekanan darah yang drastis serta gangguan irama jantung karena hilangnya kontrol vasomotor. Kondisi abnormal tersebut secara langsung mengancam pemenuhan KDM homeostasis sirkulasi. (PERDOSSI, 2019)

Skema Alur Pathway

Infeksi Saluran Napas / Pencernaan (e.g., Campylobacter jejuni)

                      │

                      ▼

   Respons Imun Tubuh Membentuk Antibodi

                      │

                      ▼

   Mimikri Molekuler (Antibodi Menyerang Gangliosid Saraf Perifer)

                      │

                      ▼

    Infiltrasi Makrofag & Aktivasi Komplemen

                      │

                      ▼

 ┌────────────────────────────────────────────────────────┐

 │           Guillain-Barré Syndrome (GBS)                │

 └────────────────────┬───────────────────────────────────┘

                      │

         ┌────────────┴────────────┐

         ▼                         ▼

   Demielinisasi Akut      Kerusakan Aksonal

         │                         │

         └────────────┬────────────┘

                      ▼

        Gangguan Hantaran Impuls Saraf

                      │

         ┌────────────┼────────────────────────┐

         ▼            ▼                        ▼

Paralisis Motorik  Paralisis Bulbar     Disfungsi Otonom

 (Otot Ekstremitas &  (N. IX, X, XII)           │

    Pernapasan)       │                        ▼

         │            ├─────────────────┐ Instabilitas Vasomotor

         ▼            ▼                 ▼  (Aritmia, TD Fluktuatif)

  – Paraparese/    – Disfagia     – Retensi Urin   │

    Tetraparese    – Penurunan    – Konstipasi     ▼

  – Gangguan         Refleks      – Bradikardia/   Risiko Penurunan

    Ventilasi        Menelan        Takikardia     Curah Jantung

         │            │                 │

         ▼            ▼                 ▼

   Gangguan         Risiko         Gangguan Eliminasi

Oksigenasi &      Aspirasi &       Urin & Fekal

 Mobilitas Fisik  Defisit Nutrisi

4. Manifestasi Klinis Penyakit Guillain-Barre Syndrome

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluhkan rasa kesemutan, baal, atau sensasi seperti tertusuk jarum yang berawal dari ujung kaki atau tangan. (Mayo Clinic, 2023)
  • Pasien mengeluh kedua kaki terasa berat serta lemas saat berjalan, kemudian keluhan tersebut menjalar ke area lengan. (NINDS, 2022)
  • Pasien sering mengeluhkan nyeri otot yang hebat, kram, atau pegal mendalam yang memburuk pada waktu malam hari. (Mishra et al., 2020)
  • Pasien mengeluhkan kesulitan menelan makanan maupun cairan serta dengan suara yang mendadak berubah menjadi serak. (Shahrizaila et al., 2021)
  • Pasien mengeluh sesak napas yang berat serta merasa tidak mampu melakukan penarikan napas secara dalam. (PERDOSSI, 2019)

b. Data Objektif

  • Terdapat adanya kelemahan otot yang bersifat simetris bilateral, mulai dari bagian ekstremitas bawah lalu bergerak ke atas. (Ropper et al., 2019)
  • Penurunan atau hilangnya refleks tendon dalam secara menyeluruh saat melakukan pemeriksaan fisik menggunakan palu refleks. (Bennett et al., 2021)
  • Adanya tanda-tanda gangguan saraf kranial seperti kelemahan otot wajah bilateral sehingga ekspresi wajah tampak asimetris. (Kuwabara, 2014)
  • Fluktuasi tanda-tanda vital yang nyata akibat disfungsi otonom, berupa takikardia, bradikardia, ataupun hipotensi ortostatik. (Sidharta, 2016)
  • Penurunan kapasitas vital paru pada pemeriksaan fungsi respirasi bed-side serta penggunaan otot bantu napas. (PERDOSSI, 2019)

5. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Guillain-Barre Syndrome

Penilaian Laboratorium dan Radiologi

Pemeriksaan cairan serebrospinal melalui lumbal pungsi merupakan modalitas laboratorium utama untuk menegakkan diagnosis pasti. Hasil analisis menunjukkan adanya disosiasi sitoalbumin, yaitu peningkatan kadar protein cairan otak yang tinggi tanpa serta kenaikan jumlah sel leukosit. (Ropper et al., 2019)

Selanjutnya, melakukan tindakan pemeriksaan serologi darah guna mendeteksi keberadaan antibodi spesifik gangliosid dalam sirkulasi darah pasien. Evaluasi ini sangat menunjang klasifikasi varian penyakit. Selain itu, kultur feses perlu apabila terdapat kecurigaan infeksi bakteri pencetus sebelumnya. (Yuki & Hartung, 2012)

Modalitas radiologi berupa MRI medula spinalis dengan kontras gadolinium dapat memperlihatkan adanya penguatan pada radiks saraf kauda ekuina. Melalui visualisasi tersebut, tim medis dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding lain seperti kompresi mekanis akibat massa spinal. (Aninditha & Maharani, 2022)

Evaluasi Elektrofisiologi dan Respirasi

Pemeriksaan elektroneuromiografi merupakan standar emas untuk menilai tingkat kerusakan serta menentukan varian kelainan saraf perifer ini. Hasil uji kecepatan hantar saraf menunjukkan pemanjangan latensi distal, blok konduksi, serta perlambatan hantaran impuls saraf motorik secara signifikan. (Kuwabara, 2014)

Selain itu, spirometri bed-side wajib dikerjakan secara berkala untuk memantau kapasitas fungsional sistem pernapasan pasien selama fase akut. Pengukuran parameter respirasi ini mendeteksi penurunan kapasitas vital paru sebelum terjadi kondisi gagal napas yang mengancam jiwa. (Shahrizaila et al., 2021)

6. Penatalaksanaan Medis Penyakit Guillain-Barre Syndrome

Terapi Komponen Farmakologis

Pemberian Intravenous Immunoglobulin (IVIg) dosis tinggi merupakan terapi lini utama untuk menghentikan proses autoimun yang merusak mielin saraf. Protokol juga dapat meghitung pemberian dosis obat ini berdasarkan rumus klinis sebagai berikut:

Dosis IVIg= 0,4 g/kg BB/hari x 5 hari berturut-turut

Terapi ini bekerja efektif menetralisir antibodi patologis dalam tubuh pasien. (Shahrizaila et al., 2021)

Selain itu, pemberian obat antikoagulan seperti Low Molecular Weight Heparin secara subkutan sangat penting diberikan setiap hari. Langkah farmakologis ini bertujuan sebagai profilaksis kejadian komplikasi emboli akibat kondisi imobilisasi yang lama. Manajemen nyeri neuropatik dikelola menggunakan obat jenis gabapentinoid. (PERDOSSI, 2019)

Terapi Non-Farmakologis

Tindakan Plasmapheresis atau pertukaran plasma menjadi pilihan terapi utama selain pemberian obat imunoglobulin intravena. Prosedur ini membersihkan plasma darah dari antibodi destruktif melalui mesin khusus, yang dilakukan sebanyak 4 hingga 5 sesi dalam kurun dua minggu. (Ropper et al., 2019)

Fisioterapi berupa latihan rentang gerak pasif harus segera dimulai sejak fase akut secara hati-hati pada semua sendi ekstremitas. Upaya ini bermanfaat mencegah timbulnya komplikasi kontraktur otot dan menjaga integritas fungsional jaringan muskuloskeletal selama masa kelumpuhan berlangsung. (Lim et al., 2022)

Terakhir, menyiapkan dukungan ventilasi mekanis menggunakan ventilator pada unit perawatan intensif wajib apabila kapasitas vital paru pasien memburuk drastis. Penurunan volume paru di bawah ambang batas kritis menjadi indikasi mutlak untuk melakukan tindakan intubasi endotrakeal secepatnya. (PERDOSSI, 2019)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat Pasien

Pengkajian keperawatan dengan pengumpulan data identitas pasien seperti nama, usia, jenis kelamin, serta pekerjaan secara lengkap. Faktor usia perlu diperhatikan karena insidensi penyakit ini cenderung mengalami peningkatan signifikan pada kelompok populasi dewasa tua. (Harsono, 2015)

Keluhan utama pasien digali secara mendalam, terutama mengenai onset kecepatan terjadinya kelemahan pada otot ekstremitas. Riwayat infeksi saluran pernapasan atas atau gejala diare dalam rentang waktu satu hingga empat minggu sebelumnya harus diidentifikasi dengan jelas. (PERDOSSI, 2019)

Perlu mempertanyakan Riwayat kesehatan dahulu terkait tindakan bedah atau paparan zat toksik untuk mencari faktor risiko pencetus potensial. Meskipun penyakit autoimun ini tidak diturunkan secara genetika, pengkajian riwayat kesehatan keluarga tetap perlu untuk melengkapi status kesehatan komprehensif pasien. (Sidharta, 2016)

Pemeriksaan Fisik Respirasi dan Kardiovaskular

Pemeriksaan fisik pada sistem pernapasan menjadi fokus evaluasi paling kritis yang harus dikerjakan perawat secara ketat. Inspeksi menunjukkan peningkatan frekuensi napas, pernapasan dangkal, serta penggunaan otot bantu pernapasan yang menandakan terjadinya kelemahan pada otot-otot diafragma pasien. (PERDOSSI, 2019)

Auskultasi paru mendeteksi penurunan suara napas vesikuler serta adanya bunyi ronki pada kedua lapang paru akibat penumpukan sekret. Kondisi ini dapat muncul oleh ketidakmampuan pasien melakukan batuk secara efektif akibat kelumpuhan otot-otot interkostal abdomen. (Ropper et al., 2019)

Mengarahkan evaluasi sistem kardiovaskular untuk mendeteksi tanda disfungsi otonom dengan mengukur tekanan darah dan nadi secara berkala. Perawat harus mewaspadai adanya fluktuasi tekanan darah yang ekstrem serta munculnya aritmia jantung yang disebabkan oleh ketidakstabilan sistem saraf vasomotor otonom. (Sidharta, 2016)

Pemeriksaan Fisik Neurologis dan Sistem Lain

Pemeriksaan neurologis berfokus pada penilaian kekuatan otot ekstremitas secara simetris menggunakan skala derajat motorik untuk memantau tingkat kelumpuhan. Pemeriksaan refleks fisiologis menggunakan palu refleks akan menunjukkan hasil arefleksia atau kehilangan refleks tendon dalam secara total. (Bennett et al., 2021)

Melakukan pengkajian saraf kranial untuk menilai fungsi menelan, refleks muntah, serta simetrisasi otot wajah guna mengantisipasi kelumpuhan bulbar. Pemeriksaan sistem pencernaan mencakup auskultasi bising usus untuk mendeteksi penurunan motilitas usus akibat efek disfungsi otonom. (Kuwabara, 2014)

Memeriksa sistem perkemihan melalui palpasi area suprapubik untuk mengidentifikasi retensi urin akibat kelemahan otot detrusor kandung kemih. Melakukan juga pemeriksaan integumen dengan mengamati kondisi kulit pada area tulang menonjol untuk menilai risiko luka tekan akibat tirah baring lama. (Sjahrir, 2018)

Pengkajian 11 Pola Fungsi Kesehatan

Pola persepsi kesehatan menunjukkan kecemasan tinggi pada pasien akibat kelumpuhan ekstremitas yang terjadi secara mendadak dan progresif. Pola nutrisi terganggu secara signifikan yang penyebabnya dapat muncul dari kelumpuhan otot menelan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aspirasi nutrisi. (Harsono, 2015)

Pola eliminasi pasien mengalami hambatan berupa konstipasi akibat penurunan peristaltik usus serta retensi urin akibat gangguan kontrol otonom. Pola aktivitas mengalami ketergantungan total dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari karena kondisi tetraparesis flaksid memaksa pasien melakukan tirah baring. (Lim et al., 2022)

Pola istirahat dan tidur terganggu akibat sensasi nyeri neuropatik yang hebat pada otot ekstremitas terutama saat malam hari. Secara psikologis, pola persepsi diri terancam karena pasien merasa tidak berdaya menghadapi kelumpuhan fisiknya, yang dapat memicu koping individu menjadi tidak efektif. (Harsono, 2015)

2. Diagnosis Keperawatan Sesuai Prioritas

Diagnosis Utama Respirasi dan Sirkulasi

Diagnosis Muskuloskeletal dan Nutrisi

Diagnosis Sensorik, Eliminasi, dan Psikologis

  • Nyeri Kronis (D.0078) b.d gangguan fungsi jaringan saraf d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, pola tidur berubah. (PPNI, 2017)
  • Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) b.d gangguan neuromuskular d.d retensi urin, distensi kandung kemih saat palpasi. (PPNI, 2017)
  • Konstipasi (D.0049) b.d gangguan fungsi otonom d.d bising usus menurun, penurunan frekuensi buang air besar. (PPNI, 2017)
  • Ansietas (D.0080) b.d ancaman terhadap konsep diri d.d merasa bingung, tampak gelisah, sulit tidur. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1 s.d 3

Gangguan Ventilasi Spontan (D.0007)

  • Luaran Keperawatan: Setelah melakukan intervensi, Ventilasi Spontan (L.01007) Meningkat dengan kriteria hasil volume eksidasi sedetik meningkat, dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, PCO2 membaik, dan PO2membaik. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Dukungan Ventilasi (I.01002)
    1. Monitor adanya kelelahan otot pernapasan dan nilai kapasitas vital paru secara berkala.
    2. Monitor nilai analisis gas darah berkala serta saturasi oksigen jaringan perifer.
    3. Posisikan kepala tempat tidur fowler atau semi-fowler untuk memaksimalkan ekspansi dada.
    4. Kolaborasi dalam penyiapan serta pemasangan ventilator mekanis apabila terjadi gagal napas akut. (PPNI, 2018)

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Bersihan Jalan Napas (L.01001) Meningkat dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, bunyi ronki menurun, dan frekuensi napas membaik. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    1. Monitor pola napas serta adanya bunyi napas tambahan berupa ronkhi pada lapang paru.
    2. Lakukan tindakan penghisapan lendir atau suctioning pada jalan napas secara berkala.
    3. Lakukan fisioterapi dada dan pengetukan dinding dada jika tidak ada kontraindikasi otonom.
    4. Kolaborasi dalam pemberian obat mukolitik atau bronkodilator melalui nebulisasi sesuai indikasi. (PPNI, 2018)

Risiko Penurunan Curah Jantung (D.0011)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Curah Jantung (L.02008) Meningkat dengan kriteria hasil kekuatan nadi perifer meningkat, tekanan darah membaik, frekuensi nadi membaik, dan kejadian aritmia menurun. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Perawatan Jantung (I.02075)
    1. Monitor tekanan darah dan frekuensi nadi secara kontinu menggunakan bed-side monitor.
    2. Monitor rekaman elektrokardiogram 12 lead untuk memantau adanya disritmia jantung yang berbahaya.
    3. Kondisikan lingkungan perawatan yang tenang guna meminimalkan lonjakan stimulasi sistem saraf simpatis.
    4. Kolaborasi pemberian obat antiaritmia atau agen vasoaktif sesuai dengan instruksi tim medis. (PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 4 s.d 6

Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

  • Luaran Keperawatan: Setelah melakukan intervensi, Mobilitas Fisik (L.05042) Meningkat dengan kriteria hasil pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak meningkat, dan kaku sendi menurun. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Dukungan Mobilisasi / Teknik Latihan Sendi (I.05177)
    1. Identifikasi tingkat toleransi fisik pasien dalam melakukan pergerakan sendi ekstremitas.
    2. Lakukan latihan rentang gerak pasif secara konsisten minimal dua kali sehari pada semua ekstremitas.
    3. Ubah posisi tubuh pasien atau repositioning setiap dua jam untuk mencegah timbulnya dekubitus.
    4. Kolaborasi dengan tim fisioterapi dalam menyusun program rehabilitasi motorik secara bertahap. (PPNI, 2018)

Risiko Aspirasi (D.0006)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Tingkat Aspirasi (L.14139) Menurun dengan kriteria hasil kemampuan menelan meningkat, kebersihan jalan napas terjaga, serta dispnea atau sianosis menurun. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Pencegahan Aspirasi (I.01018)
    1. Periksa tingkat kepatenan serta sisa volume lambung sebelum memberikan nutrisi via NGT.
    2. Pertahankan posisi kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat selama proses pemberian makan.
    3. Monitor tanda klinis aspirasi seperti batuk atau tersedak selama pemberian nutrisi berlangsung.
    4. Sediakan peralatan mesin suction yang siap pakai di samping tempat tidur pasien. (PPNI, 2018)

Nyeri Kronis (D.0078)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Tingkat Nyeri (L.08066) Menurun dengan kriteria hasil keluhan nyeri otot menurun, meringis menurun, gelisah menurun, dan pola tidur membaik. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I.08238)
    1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, serta skala intensitas nyeri neuropatik.
    2. Berikan teknik non-farmakologis berupa kompres hangat atau masase lembut pada area nyeri.
    3. Fasilitasi pemenuhan waktu istirahat dan tidur yang adekuat bagi pasien di ruangan.
    4. Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik ajudan berupa gabapentin sesuai instruksi dokter. (PPNI, 2018)

Intervensi Diagnosis 7 s.d 10

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Status Nutrisi (L.03030) Membaik dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, kekuatan otot menelan meningkat, dan berat badan membaik. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    1. Identifikasi status nutrisi awal, indeks massa tubuh, serta adanya riwayat alergi makanan.
    2. Pasang selang nasogastrik atau NGT untuk memfasilitasi pemberian nutrisi enteral formula cair.
    3. Monitor berat badan berkala serta hasil pemeriksaan laboratorium berupa kadar albumin darah.
    4. Kolaborasi dengan ahli gizi terkait penentuan total kalori dan jenis formula nutrisi tepat. (PPNI, 2018)

Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Eliminasi Urin (L.04034) Membaik dengan kriteria hasil sensasi berkemih meningkat, distensi kandung kemih menurun, dan volume residu urin membaik. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Eliminasi Urin (I.04148)
    1. Monitor karakteristik eliminasi urin meliputi frekuensi, volume, warna, serta aroma urin.
    2. Lakukan palpasi pada area suprapubik untuk memeriksa adanya retensi atau distensi urin.
    3. Lakukan tindakan kateterisasi urin menetap menggunakan teknik aseptik yang ketat dan steril.
    4. Monitor adanya tanda infeksi saluran kemih akibat efek pemasangan kateter jangka panjang. (PPNI, 2018)

Konstipasi (D.0049)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Eliminasi Fekal (L.04033) Membaik dengan kriteria hasil kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik, dan peristaltik usus meningkat. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Manajemen Konstipasi (I.04155)
    1. Monitor frekuensi dan konsistensi buang air besar serta lakukan auskultasi suara bising usus.
    2. Berikan asupan cairan yang adekuat melalui selang NGT jika eliminasi oral terhambat.
    3. Lakukan masase abdomen secara lembut searah jarum jam untuk menstimulasi gerak peristaltik.
    4. Kolaborasi pemberian obat laksatif atau supositoria apabila pasien tidak defekasi lebih dari tiga hari. (PPNI, 2018)

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Keperawatan: Setelah dilakukan intervensi, Tingkat Ansietas (L.09093) Menurun dengan kriteria hasil verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, dan perilaku gelisah menurun. (PPNI, 2019)
  • Intervensi Keperawatan: Reduksi Ansietas (I.09314)
    1. Gunakan pendekatan komunikasi terapeutik yang tenang, meyakinkan, serta penuh empati pada pasien.
    2. Jelaskan seluruh prosedur tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan secara jujur dan transparan.
    3. Informasikan fakta medis terkait perkembangan penyakit serta proses pemulihan saraf yang butuh waktu.
    4. Anjurkan pihak keluarga untuk memberikan dukungan emosional penuh selama masa perawatan intensif. (PPNI, 2018)

4. Implementasi Tindakan Keperawatan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara nyata berdasarkan seluruh rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya, dengan mengutamakan aspek keselamatan jiwa pasien pada fase akut. Perawat melakukan pemantauan fungsi sistem pernapasan setiap jam, mengukur kapasitas vital paru, melakukan penghisapan lendir untuk menjaga kepatenan jalan napas, serta memantau stabilitas kardiovaskular melalui layar bed-side monitor secara kontinu. (PERDOSSI, 2019)

Selain penanganan aspek respirasi, perawat mengimplementasikan program pencegahan komplikasi imobilisasi dengan melakukan perubahan posisi tidur pasien setiap dua jam dan memfasilitasi latihan rentang gerak pasif untuk menghindari kontraktur sendi. Pemberian nutrisi cair dikelola melalui selang NGT secara hati-hati, pemasangan kateter urin dikerjakan secara steril, serta pemberian obat imunoglobulin intravena atau gabapentin dikawal secara ketat sesuai instruksi medis. (Lim et al., 2022)

5. Evaluasi Hasil Asuhan

Evaluasi keperawatan disusun menggunakan format SOAP sebagai bentuk penilaian akhir terhadap tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan kepada pasien:

  • S (Subjektif): Pasien mengutarakan rasa sesak napas berkurang, rasa nyeri otot ekstremitas mulai mereda, serta kecemasan terhadap kelumpuhan yang dialaminya mulai mengalami penurunan.
  • O (Objektif): Frekuensi pernapasan stabil berkisar 16-20 kali per menit, tidak terlihat penggunaan otot bantu napas, hasil analisis gas darah dalam rentang normal ($pH: 7.35-7.45; pO_2 >80 \text{ mmHg}; pCO_2: 35-45 \text{ mmHg}$), tidak terjadi aspirasi nutrisi, sendi ekstremitas bergerak lentur tanpa adanya kontraktur, serta eliminasi urin dan fekal berjalan lancar.
  • A (Analisis): Penilaian terhadap perkembangan masalah keperawatan pasien, apakah tujuan intervensi dinyatakan telah teratasi sepenuhnya, teratasi sebagian, atau belum teratasi berdasarkan indikator kriteria hasil.
  • P (Plan): Menetapkan kelanjutan rencana tindakan keperawatan, berupa penghentian intervensi yang masalahnya telah teratasi atau memodifikasi serta melanjutkan intervensi bagi masalah yang baru teratasi sebagian. (PPNI, 2019; Shahrizaila et al., 2021)

DAFTAR PUSTAKA

Aninditha, T., & Maharani, K. (2022). Buku Ajar Neurologi Klinik. UI Publishing.

Bennett, J. C., Plum, F., Goldman, L., & Ausiello, D. A. (2021). Cecil Textbook of Medicine (26th ed.). W.B. Saunders Company.

Harsono. (2015). Buku Ajar Neurologi Klinis (Edisi ke-6). Gadjah Mada University Press.

Kuwabara, S. (2014). Guillain-Barré syndrome: Epidemiology, pathophysiology and management. Expert Review of Neurotherapeutics, 4(6), 677–686. [doi.org/10.1586/14737175.4.6.677]

Lim, J., De Silva, D. A., & Wong, M. C. (2022). Guillain-Barré syndrome care pathways in the Asian setting. Singapore Medical Journal, 63(3), 145–152. [smj.org.sg/article/63/3/145]

Mayo Clinic. (2023). Guillain-Barre Syndrome: Symptoms and Causes. Mayo Foundation. [mayoclinic.org/diseases-conditions/guillain-barre-syndrome/symptoms-causes/syc-20362793]

Mishra, R., Kumar, S., & Tripathi, M. (2020). Acute flaccid paralysis profile in South Asia. Journal of Clinical Neuroscience, 78, 12-19. [jocn-journal.com/article/S0967-5868(20)30991-5]

NINDS. (2022). Guillain-Barré Syndrome Fact Sheet. U.S. Department of Health and Human Services. [ninds.nih.gov/health-information/disorders/guillain-barre-syndrome]

PERDOSSI. (2019). Panduan Praktik Klinis Neurologi. Almedika.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Ropper, A. H., Samuels, M. A., Klein, J. P., & Prasad, S. (2019). Adams and Victor’s Principles of Neurology (11th ed.). McGraw-Hill Education.

Shahrizaila, N., Lehmann, H. C., & Kuwabara, S. (2021). Guillain-Barré syndrome. The Lancet, 397(10280), 1214–1228. [thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(21)00517-1]

Sidharta, P. (2016). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. PT Dian Rakyat.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *