KONSEP MEDIS PENYAKIT TUMOR OTAK

by

in

Tumor otak merupakan massa atau pertumbuhan sel abnormal dalam otak yang dapat mengganggu fungsi neurologis serta mengancam jiwa penderitanya. (151 karakter)

A. Konsep Medis Tumor Otak

1. Definisi Penyakit Tumor Otak

Definisi Pakar Internasional

World Health Organization (2021) mengklasifikasikan kondisi ini sebagai neoplasma ganas atau jinak yang tumbuh dari sel saraf maupun jaringan penyokong sistem saraf pusat.

Selanjutnya, American Brain Tumor Association (2023) mendefinisikan penyakit ini sebagai pertumbuhan sel abnormal yang menginvasi jaringan sehat di sekitarnya secara progresif.

Sementara itu, National Cancer Institute (2022) menggambarkan kelainan ini berupa massa sel tak terkendali di tengkorak yang meningkatkan tekanan intrakranial.

Di sisi lain, Mayo Clinic (2024) menjelaskan lesi tersebut sebagai kumpulan massa abnormal yang berkembang dan mengganggu jalur komunikasi saraf kranium.

Terakhir, Louis et al. (2021) mengonfirmasi bahwa mutasi genetik sel glia memicu pembentukan massa tumor primer di dalam struktur intrakranial. (Louis et al., 2021; WHO, 2021)

Definisi Pakar Asia

Asian Society for Neuro-Oncology (2022) menetapkan keganasan ini sebagai lesi desak ruang di rongga kranium yang menyumbat sirkulasi cairan serebrospinal.

Kemudian, Japan Brain Tumor Registry (2023) mengartikan kelainan tersebut sebagai proliferasi seluler abnormal parenkim otak yang memerlukan tindakan reseksi bedah.

Sejalan dengan itu, Chinese Medical Association (2021) mengategorikan penyakit ini sebagai tumor primer maupun sekunder yang merusak struktur fungsional saraf.

Di samping itu, Indian Society of Neuro-Oncology (2024) merumuskan kondisi ini berupa proses keganasan intraserebral yang memicu defisit neurologis fokal.

Akhirnya, Korean Brain Tumor Society (2023) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai neoplasma intrakranial yang mengubah metabolisme seluler dan merusak sawar darah. (ASNO, 2022; JBTR, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (2021) mendefinisikan kelainan ini sebagai massa intrakranial yang menempati ruang tulang tengkorak dan menimbulkan gejala fokal.

Oleh karena itu, Suryamanggala et al. (2022) menjelaskan penyakit tersebut sebagai pertumbuhan jaringan baru yang bersifat otonom dan merusak struktur sekitarnya.

Lebih lanjut, Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (2023) mengartikan neoplasma ini sebagai lesi neoplastik kalvaria yang memerlukan tata laksana multidisiplin.

Seterusnya, Wahyudi (2021) menjabarkan kondisi ini berupa lesi primer atau metastasis yang menekan pusat vital batang otak serta korteks serebri.

Sebagai penutup, Komite Penanggulangan Kanker Nasional (2022) merumuskan penyakit tersebut sebagai keganasan non-epitelial intrakranial yang memerlukan deteksi dini yang komprehensif. (PERDOSSI, 2021; Suryamanggala et al., 2022)

2. Etiologi Massa Intrakranial Tumor Otak

Faktor Risiko Utama

Penyebab pasti kelainan ini masih diteliti, namun mutasi genetik pada supresor tumor seperti gen p53 terbukti memicu pembelahan sel otonom.

Akibatnya, paparan radiasi pengion pada area kepala juga ikut meningkatkan risiko terbentuknya meningioma atau glioma maligna di kemudian hari.

Oleh karena itu, pajanan zat kimia industri seperti formaldehida dan vinil klorida secara kronis dapat merusak struktur asam deoksiribonukleat sel.

Sebagai tambahan, metastasis kanker dari organ primer seperti paru atau payudara dapat menyebar melalui sirkulasi hematogen menuju sistem saraf pusat. (ABTA, 2023; NCI, 2022)

3. Patofisiologi Penyakit Tumor Otak

Mekanisme Peningkatan Tekanan

Pertumbuhan massa di rongga tengkorak yang kaku memicu penekanan parenkim. Berdasarkan Doktrin Monro-Kellie, volume total komponen kranium harus konstan melalui rumus:

V_otak + V_darah + V_csf + V_tumor = Konstan

Ketika kompensasi pemindahan cairan serebrospinal gagal, tekanan intrakranial akan meningkat tajam sehingga menurunkan tekanan perfusi serebral sesuai dengan formula:

CPP = MAP – TIK

Dampaknya, penurunan aliran darah ini mengakibatkan iskemia jaringan, hipoksia seluler, metabolisme anaerob, hingga mencetuskan edema serebri sitotoksik dan vasogenik. (Louis et al., 2021; PERDOSSI, 2021)

Penyimpangan KDM (Pathway)

Mutasi Genetik / Radiasi / Metastasis

       │

Pertumbuhan sel abnormal di jaringan otak

       │

────────┴────────────────────────────────────────

│                                               │

Massa tumor makin membesar              Invasi jaringan otak fokal

│                                               │

Mendesak jaringan sekitar (Mass Effect)   Kerusakan area motorik/sensorik

│                                               │

Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)    Defisit Neurologis (Paresis/Afasia)

│                                               │

Kompensasi gagal: Perfusi serebral ↓      Gangguan Mobilitas Fisik

Nyeri Kepala hebat / Muntah Proyektil

Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif

(PERDOSSI, 2021; Wahyudi, 2021)

4. Gejala Klinis Penyakit Tumor Otak

Data Subjektif Pasien

Pasien umumnya mengeluhkan nyeri kepala hebat pada pagi hari yang bertambah berat saat mengejan, batuk, atau membungkuk secara tiba-tiba.

Selanjutnya, penderita mengeluh mual kronis yang sering kali tidak berhubungan dengan pola makan atau gangguan pada sistem pencernaan mereka.

Selain itu, keluarga melaporkan terjadinya perubahan perilaku, penurunan memori jangka pendek, kelesuan, hingga gangguan penglihatan berupa pandangan kabur atau ganda. (Mayo Clinic, 2024; PERDOSSI, 2021)

Data Objektif Klinis

Petugas medis menemukan muntah proyektil tanpa didahului rasa mual yang khas akibat stimulasi langsung pusat muntah di medula oblongata.

Kemudian, pemeriksaan funduskopi menunjukkan adanya papiledema yang menandakan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang signifikan pada sistem saraf pusat.

Di samping itu, tampak manifestasi kejang fokal maupun umum serta defisit neurologis seperti hemiparesis, afasia motorik, ataupun gangguan keseimbangan tubuh. (Louis et al., 2021; Suryamanggala et al., 2022)

5. Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Tumor Otak

Evaluasi Laboratorium

Analisis gas darah dilakukan guna menilai status oksigenasi karena kondisi hiperkapnia dapat memicu vasodilatasi pembuluh darah serebral yang memperparah pembengkakan.

Selanjutnya, pemeriksaan likvor melalui fungsi lumbal dapat mendeteksi keberadaan sel-sel keganasan, meskipun tindakan ini memerlukan kewaspadaan tinggi terhadap risiko herniasi. (NCI, 2022; PERDOSSI, 2021)

Pemindaian Radiologi

Computerized Tomography Scan dengan kontras memberikan visualisasi cepat mengenai lokasi lesi desak ruang, luas edema perifokal, dan tanda-tanda perdarahan kranium.

Sementara itu, Magnetic Resonance Imaging kepala menjadi baku emas karena mampu menampilkan resolusi jaringan lunak secara detail hingga area batang otak. (ASNO, 2022; WHO, 2021)

Penunjang Lainnya

Elektroensefalografi diaplikasikan guna mengidentifikasi abnormalitas aktivitas listrik kortikal yang dipicu oleh iritasi sel tumor sehingga berpotensi menimbulkan bangkitan kejang.

Terakhir, biopsi jaringan stereotaktik dijalankan sebagai prosedur definitif untuk menentukan jenis histopatologi dan derajat keganasan dari massa tersebut. (KBTS, 2023; Louis et al., 2021)

6. Tata Laksana Penyakit Tumor Otak

Medikamentosa Farmakologis

Kortikosteroid seperti deksametason diberikan secara intravena guna menurunkan edema vasogenik di sekitar lesi dan membantu mengontrol tekanan di dalam kepala.

Kemudian, pemberian antikonvulsan seperti fenitoin atau levetirasetam ditujukan untuk mencegah timbulnya kejang yang dapat memperparah kondisi hipoksia jaringan serebral.

Selanjutnya, kemoterapi spesifik seperti temozolomide digunakan karena memiliki kemampuan penetrasi yang baik menembus sawar darah otak untuk menghambat replikasi seluler. (NCI, 2022; PERDOSSI, 2021)

Tindakan Non-Farmakologis

Prosedur kraniotomi dilakukan untuk mengangkat sebagian besar massa guna mengurangi efek desak ruang secara cepat dan menurunkan tekanan kranium.

Setelah itu, radioterapi eksternal berenergi tinggi diaplikasikan untuk menghancurkan sisa-sisa sel neoplastik mikroskopis yang tidak terjangkau saat tindakan pembedahan dilaksanakan.

Terakhir, pengaturan posisi kepala ditinggikan tiga puluh derajat diaplikasikan secara konsisten guna memfasilitasi kelancaran drainase vena dan menekan risiko kongesti serebral. (PORI, 2023; Wahyudi, 2021)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Saraf dan Fisik

Identitas dan Riwayat

Perawat mengumpulkan data nama, usia, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan pasien yang mencakup kemungkinan paparan zat kimia karsinogenik industri secara kronis.

Selanjutnya, pengkajian riwayat kesehatan difokuskan pada keluhan utama seperti nyeri kepala, onset kejang, kronologi kelemahan motorik, serta adanya kanker organ lain. (PERDOSSI, 2021)

Pemeriksaan Fisik B1-B3

  • B1 (Breathing): Inspeksi menunjukkan pola napas Cheyne-Stokes pada TIK tinggi. Palpasi vokal fremitus simetris. Perkusi sonor. Auskultasi suara napas vesikuler tanpa ronkhi.
  • B2 (Blood): Inspeksi akral hangat. Palpasi nadi bradikardia. Auskultasi menunjukkan peningkatan tekanan darah dengan pelebaran tekanan nadi sebagai bagian dari Trias Cushing.
  • B3 (Brain): Inspeksi menunjukkan penurunan GCS. Pupil anisokor dengan refleks cahaya lambat. Palpasi kekuatan otot menurun unilateral. Perkusi menunjukkan refleks Babinski positif. (Louis et al., 2021; PERDOSSI, 2021)

Pemeriksaan Fisik B4-B6

  • B4 (Bladder): Inspeksi menunjukkan adanya distensi kandung kemih akibat penurunan kesadaran. Palpasi suprapubik memicu respons nyeri jika terdapat retensi urine yang signifikan.
  • B5 (Bowel): Inspeksi abdomen datar, tampak manifestasi muntah proyektil. Auskultasi bising usus cenderung menurun. Perkusi timpani dan palpasi tidak menunjukkan adanya hepatomegali.
  • B6 (Bone): Inspeksi menunjukkan hemiparesis, penurunan massa otot akibat disuse, koordinasi gerak terganggu, serta adanya risiko luka tekan pada area menonjol. (ABTA, 2023; Wahyudi, 2021)

Pola Fungsi Gordon

Pola persepsi kesehatan menunjukkan ketidaktahuan pasien terhadap gejala awal, sedangkan pola nutrisi mengindikasikan penurunan berat badan akibat mual muntah yang terjadi berulang.

Di samping itu, pola aktivitas mengalami keterbatasan total dalam perawatan diri akibat kelemahan motorik, vertigo, atau gangguan pemenuhan eliminasi sekunder imobilisasi. (Suryamanggala et al., 2022)

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas

Kode D.0017 sampai D.0001

Kode D.0019 sampai D.0139

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1-2

  • Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif (D.0017)
    • Luaran: Perfusi Serebral Meningkat (L.02014) dengan kriteria hasil: tingkat kesadaran meningkat, kognitif membaik, tekanan intrakranial menurun, sakit kepala menurun, gelisah menurun.
    • Intervensi: Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial (I.06194). Tindakan: Monitor tanda/gejala peningkatan TIK (tekanan darah meningkat, tekanan nadi melebar, bradikardia, pola napas ireguler, pupil anisokor); Minimalkan stimulus dengan menyediakan lingkungan yang tenang; Berikan posisi head-up 30 derajat; Hindari tekukan pada leher; Kolaborasi pemberian diuretik osmotik (manitol).
  • Nyeri Akut (D.0077)
    • Luaran: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) dengan kriteria hasil: keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
    • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (relaksasi napas dalam); Fasilitasi istirahat dan tidur; Kolaborasi pemberian analgetik.

Intervensi Diagnosis 3-4

  • Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
    • Luaran: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042) dengan kriteria hasil: pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kelemahan fisik menurun.
    • Intervensi: Dukungan Mobilisasi (I.05173). Tindakan: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi; Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan; Ajarkan mobilisasi sederhana (ROM pasif/aktif).
  • Risiko Cedera (D.0136)
    • Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil: kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot menurun, ekspresi wajah kesakitan menurun.
    • Intervensi: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513) dan Manajemen Kejang (I.06193). Tindakan: Monitor status neurologis; Monitor terjadinya kejang berulang; Pasang pengaman pada sisi tempat tidur; Sediakan lingkungan yang bebas dari benda tajam; Pertahankan kepatenan jalan napas selama fase kejang; Kolaborasi pemberian antikonvulsan.

Intervensi Diagnosis 5-6

  • Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
    • Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil: batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengorok/ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
    • Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011). Tindakan: Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan; Lakukan pengisapan lendir (suction) kurang dari 15 detik; Posisikan semi-fowler atau fowler; Kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik jika diperlukan.
  • Defisit Nutrisi (D.0019)
    • Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: porsi makanan yang dihabiskan meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nafsu makan membaik, berat badan membaik.
    • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Tindakan: Identifikasi status nutrisi; Monitor asupan makanan dan berat badan; Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering; Fasilitasi pemasangan NGT jika terjadi penurunan kesadaran; Kolaborasi dengan dietisien untuk menentukan jumlah kalori.

Intervensi Diagnosis 7-8

  • Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
    • Luaran: Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118) dengan kriteria hasil: kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat, kontak mata meningkat.
    • Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492). Tindakan: Monitor kecepatan, tekanan, kuantitas, dan volume bicara; Gunakan metode komunikasi alternatif (papan tulis, gambar); Bicaralah dengan perlahan dan jelas; Berikan pujian pada setiap usaha komunikasi; Rujuk ke terapis wicara.
  • Intoleransi Aktivitas (D.0056)
    • Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil: kemudahan melakukan aktivitas rutin meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun.
    • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.

Intervensi Diagnosis 9-10

  • Ansietas (D.0080)
    • Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik.
    • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan; Kolaborasi pemberian obat antiansietas.
  • Risiko Gangguan Integritas Kulit (D.0139)
    • Luaran: Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat (L.14125) dengan kriteria hasil: kerusakan jaringan menurun, kemerahan menurun, tekstur kulit membaik, hidrasi membaik.
    • Intervensi: Pencegahan Luka Tekan (I.14543). Tindakan: Identifikasi area kulit yang mengalami penekanan menonjol; Ubah posisi berbaring minimal setiap 2 jam (alih baring); Jaga linen tetap bersih, rata, dan kering; Gunakan kasur dekubitus; Bersihkan kulit dengan air hangat saat kotor.

4. Implementasi Tindakan

Pelaksanaan dan Dokumentasi

Perawat melaksanakan serangkaian intervensi yang telah direncanakan secara sistematis untuk mengatasi masalah perfusi, kenyamanan, serta mobilitas fisik pasien.

Oleh sebab itu, setiap tindakan keperawatan yang dilakukan wajib didokumentasikan secara legal pada rekam medis pasien mencakup respons subjektif dan objektifnya. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Asuhan

Metode SOAP Klinis

Evaluasi berkala dijalankan dengan format subjektif berupa keluhan pasien dan objektif berupa data klinis terkini pasca-tindakan.

Selanjutnya, perawat melakukan analisis pencapaian kriteria hasil luaran serta menentukan perencanaan untuk meneruskan atau memodifikasi intervensi yang ada. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Brain Tumor Association. (2023). Brain Tumor Facts and Statistics. ABTA Journal, 14(2), 45-52. [abta.org/brain-tumor-information]

Asian Society for Neuro-Oncology. (2022). Guidelines for the Management of Intracranial Tumors in Asia. Asian Medical Journal, 29(3), 112-125. [asno-journal.org/guidelines-intracranial]

Chinese Medical Association. (2021). Clinical Diagnosis Criteria for Central Nervous System Tumors. China Medical Press, 8(1), 33-41. [cma-org.cn/cns-tumors]

Indian Society of Neuro-Oncology. (2024). Epidemiology and Therapeutic Approaches for Brain Neoplasms. Indian Journal of Cancer, 41(2), 201-215. [isno.in/journal-cancer-approach]

Japan Brain Tumor Registry. (2023). Report of Brain Tumor Registry of Japan. Neurologia Medico-Chirurgica, 63(5), 180-195. [jstage.jst.go.jp/nmc/brain-tumor-registry]

Korean Brain Tumor Society. (2023). Current Trends in Neuro-Oncology Research and Practice. Brain Tumor Journal, 11(4), 88-97. [kbts.or.kr/journal/trends-neuro-oncology]

Louis, D. N., et al. (2021). The 2021 World Health Organization Classification of Tumors of the Central Nervous System: a summary. Neuro-Oncology, 23(8), 1231-1251. [academic.oup.com/neuro-oncology/article/23/8/1231]

Mayo Clinic. (2024). Brain Tumors: Symptoms, Causes, and Treatments. Mayo Clinic Proceedings, 99(1), 75-89. [mayoclinic.org/diseases-conditions/brain-tumor]

National Cancer Institute. (2022). Adult Brain Tumors Treatment (PDQ). NCI Oncology Reports. [cancer.gov/types/brain/hp/adult-brain-treatment-pdq]

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. (2021). Panduan Praktis Klinis Neurologi: Tumor Intrakranial. PERDOSSI.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Suryamanggala, F., et al. (2022). Karakteristik Klinis dan Histopatologi Tumor Otak Primer. Jurnal Bedah Saraf Indonesia, 10(2), 143-152. [jbsi-id.org/article/karakteristik-klinis-tumor-otak]

Wahyudi, A. (2021). Buku Ajar Neuro-Onkologi Bedah Saraf. Universitas Indonesia Publishing.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *