BELL’S PALSY KONSEP MEDIS

by

in

Bell’s palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer (Nervus VII) yang bersifat akut, unilateral, dan non-progresif, menyebabkan wajah tampak asimetris. 

A. Tinjauan Medis Kelainan Penyakit Bell’s Palsy

1. Terminologi Penyakit Bell’s Palsy

Definisi Dari Pakar Internasional

Selanjutnya, National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS). Menjelaskan kondisi ini sebagai bentuk kelumpuhan wajah sementara akibat kerusakan atau trauma pada saraf fasialis yang mengontrol otot-otot pada satu sisi wajah. (NINDS, 2020)

Oleh karena itu, Mayo Clinic mendefinisikan kelainan ini berupa kelemahan mendadak pada otot wajah yang menyebabkan sebagian wajah tampak terkulai, senyuman hanya terjadi pada satu sisi dan mata pada sisi yang sakit menolak untuk menutup. (Mayo Clinic, 2023)

Selain itu, American Academy of Neurology (AAN) mengategorikan penyakit ini sebagai neuropati kranial akut unilateral yang paling sering memengaruhi saraf fasialis perifer tanpa adanya penyebab lokal atau sistemik lain yang teridentifikasi. (AAN, 2019)

Sementara itu, Bahr menegaskan gangguan ini sebagai disfungsi saraf fasialis perifer akut yang onsetnya terjadi secara tiba-tiba dalam waktu kurang dari 72 jam, menghasilkan kelemahan otot wajah unilateral yang bervariasi dari ringan hingga total. (Bahr, 2021)

Sebaliknya, Gantz mengartikan sindrom ini sebagai kelumpuhan fasialis idiopatik perifer akut yang memerlukan eksklusi diagnosis penyakit struktural atau infeksius spesifik lainnya pada os temporale atau sudut serebelopontin. (Gantz, 2022)

Definisi Pakar Asia

Akan tetapi, Japanese Facial Nerve Society (JFNS) merumuskan penyakit ini sebagai paralisis fasialis perifer idiopatik yang muncul secara akut, sering kali berkaitan dengan reaktivasi virus herpes laten pada ganglion genikulatum. (JFNS, 2021)

Dengan demikian, Chinese Medical Association (CMA) menetapkan kelainan ini sebagai disfungsi motorik akut dari saraf kranial ketujuh yang mengakibatkan hilangnya ekspresi wajah unilateral secara tiba-tiba, dengan puncak kelemahan terjadi dalam waktu 48 jam. (CMA, 2020)

Meskipun demikian, Korean Neurological Association (KNA) mengidentifikasi kondisi ini sebagai neuropati perifer non-supuratif pada kanalis fasialis, yang memicu gangguan konduksi motorik, sensorik somatik, dan fungsi otonom pada area wajah yang terdampak. (KNA, 2022)

Oleh sebab itu, Indian Academy of Neurology (IAN) menggambarkan sindrom tersebut sebagai penyebab paling umum dari kelumpuhan wajah unilateral akut yang menyerang semua kelompok umur, dengan insidensi yang meningkat pada pasien diabetes melitus dan wanita hamil. (IAN, 2023)

Alhasil, Singapore Medical Association (SMA) mendeskripsikan paralisis ini sebagai mononeuropati akut yang memengaruhi jaras somatomotorik saraf fasialis, memicu penonjolan lipatan nasolabial yang mendatar serta ketidakmampuan mengerutkan dahi. (SMA, 2021)

Definisi Pakar Indonesia

Maka dari itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mendefinisikan penyakit ini sebagai kelumpuhan saraf fasialis perifer yang terjadi secara akut, bersifat idiopatik, unilateral, dan non-progresif, serta tidak disertai oleh tanda-tanda kelainan neurologis lain. (PERDOSSI, 2019)

Secara ringkas, Sidharta menguraikan gangguan ini berupa paresis atau paralisis otot-otot wajah yang disarafi oleh cabang perifer Nervus Fasialis, ditandai dengan hilangnya kerutan dahi, mata lagoftalmus, dan mulut yang tertarik ke sisi yang sehat. (Sidharta, 2020)

Lagipula, Mardjono menggolongkan kelainan ini ke dalam kelompok mononeuropati perifer yang menyerang kanalis fasialis pada bagian atas foramen stilomastoideus, menimbulkan kelemahan seluruh otot ekspresi wajah pada satu sisi secara mendadak. (Mardjono, 2021)

Bahkan, Gofir menjelaskan kondisi tersebut sebagai sindrom klinik akibat inflamasi non-supuratif saraf fasialis dalam pars petrosa os temporale, yang memicu edema saraf sehingga menyebabkan kompresi mikro-vaskular dan iskemia. (Gofir, 2022)

Sebagai kesimpulan, Lumbantobing mengartikan penyakit ini sebagai kelumpuhan otot wajah tipe perifer yang timbul tiba-tiba, bukan karena stroke, dan umumnya menunjukkan prognosis yang baik dengan pemulihan fungsional yang tinggi dalam beberapa bulan. (Lumbantobing, 2023)

2. Faktor Penyebab Penyakit Bell’s Palsy

Sesungguhnya, asal mula kelumpuhan wajah ini masih bersifat idiopatik, namun para peneliti mengarahkan beberapa faktor pemicu klinis berikut:

  • Reaktivasi virus laten dalam ganglion genikulatum, terutama Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1) dan Varicella-Zoster Virus (VZV), menjadi pemicu utama inflamasi saraf.
  • Iskemia vaskular akibat vasospasme pada pembuluh darah yang mendarahi Nervus Fasialis (arteri stilomastoidea) menyebabkan hipoksia, edema, dan kerusakan sel saraf.
  • Gangguan imunologi berupa respons imun seluler dan humoral yang abnormal terhadap mielin saraf fasialis memicu demielinisasi sekunder.
  • Paparan udara dingin secara terus-menerus memicu vasospasme refleks pada kanalis fasialis. (PERDOSSI, 2019; Mayo Clinic, 2023)

3. Alur Perjalanan Penyakit Penyakit Bell’s Palsy

Patofisiologi Masalah

Mekanisme Cedera Saraf Fasialis, buatan AI

Mekanisme Cedera Saraf Fasialis. Sumber: VectorMine / Getty Images 

Pada awalnya, saraf fasialis (Nervus VII) melewati jalur yang sempit dan berliku dalam kanalis fasialis os temporale. Akibatnya, ketika terjadi faktor pemicu (seperti reaktivasi virus atau paparan dingin), respons inflamasi akut terbentuk. Inflamasi ini menyebabkan edema pada jaringan ikat saraf. Karena dinding tulang kanalis fasialis bersifat rigid dan tidak dapat meregang, pembengkakan saraf memicu kompresi mekanis.

Kemudian, kompresi ini menjepit pembuluh darah kecil (vasa nervorum) yang menyuplai nutrisi ke saraf, mengakibatkan iskemia lokal. Iskemia berkepanjangan memicu blok konduksi fisiologis (neuropraksia) hingga degenerasi aksonal (aksonotmesis). Dampaknya, transmisi impuls motorik dari otak menuju otot-otot ekspresi wajah terputus, memicu kelumpuhan flasid unilateral. (Gofir, 2022; Gantz, 2022)

Skema Gangguan KDM

Reaktivasi Virus (HSV-1/VZV) / Paparan Udara Dingin Kontinu

                           │

                           ▼

             Inflamasi akut Nervus Fasialis (N. VII)

                           │

                           ▼

             Edema saraf dalam kanalis fasialis

                           │

                           ▼

          Kompresi saraf dan vasa nervorum (iskemia)

                           │

                           ▼

              Blok konduksi saraf / Neuropraksia

                           │

                           ▼

         ————————————-

         │                                   │

         ▼                                   ▼

Paralisis otot motorik wajah         Kerusakan cabang korda timpani

         │                                   │

         ▼                                   ▼

– Kerutan dahi hilang               – Penurunan produksi air mata

– Lagoftalmus (mata tdk bs menutup) – Penurunan sekresi saliva

– Mulut mencong/asimetris           – Hipogeusia (gangguan kecap)

         │                                   │

         ▼                                   ▼

———————————————————————————

│                   │                    │                   │                  │

▼                   ▼                    ▼                   ▼                  ▼

Refleks berkedip    Ketidakmampuan       Asimetris wajah     Kesulitan mengunyah Ansietas

menurun             menutup mata         & disartria         & menelan makanan   (D.0080)

│                   │                    │                   │

▼                   ▼                    ▼                   ▼

Mata kering,        Risiko Cedera        Gangguan Citra      Defisit Nutrisi

iritasi kornea      Kornea (D.0134)      Tubuh (D.0083)      (D.0019)

Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

4. Tanda Klinis Penyakit Bell’s Palsy

Gejala Subjektif

Secara umum, pasien mengeluh rasa baal, tebal, atau kaku pada satu sisi wajah secara mendadak. Selanjutnya, pasien mengeluhkan mata terasa perih, kering, gatal, atau berair berlebihan (epifora) pada sisi yang sakit.

Tambahan pula, pasien mengeluh makanan sering tersangkut antara gusi dan pipi, serta minuman merembes keluar dari sudut mulut. Pasien juga mengeluhkan nyeri tumpul pada belakang atau sekitaran telinga (retroaurikuler) beberapa jam sebelum kelumpuhan. Akhirnya, pasien mengeluh perubahan rasa lidah (hambar) pada dua pertiga anterior lidah. (PERDOSSI, 2019; Bahr, 2021)

Gejala Objektif

Sebaliknya, kerutan kulit dahi menghilang atau mendatar pada sisi yang lesi saat diminta mengerutkan dahi. Tampak pula lagoftalmus (ketidakmampuan menutup kelopak mata secara rapat) disertai Bell’s phenomenon (bola mata berputar ke atas saat berusaha menutup mata).

Lebih lanjut, lipatan nasolabial mendatar dan sudut mulut tampak terkulai atau mencong ke arah sisi yang sehat. Terdengar artikulasi bicara yang tidak jelas (disartria ringan) untuk konsonan labial (seperti p, b, m). Terakhir, pemeriksaan fungsi sensorik menunjukkan penurunan sensasi pengecapan pada 2/3 anterior lidah. (Sidharta, 2020; Mayo Clinic, 2023)

5. Evaluasi Diagnostik Penyakit Bell’s Palsy

Data Laboratorium

Terutama, pemeriksaan Gula Darah Sewaktu/Puasa diindikasikan untuk menyingkirkan diagnosis banding neuropati diabetik, karena penderita diabetes melitus memiliki risiko lebih tinggi terkena kelumpuhan wajah. Selain itu, serologi virus berupa pemeriksaan antibodi titer IgG/IgM terhadap HSV-1 dan Varicella-Zoster sangat menolong penegakan klinis. (PERDOSSI, 2019)

Pencitraan Radiologi

Sering kali, MRI Kepala dengan Kontras Gadolinium diindikasikan jika paralisis bersifat progresif setelah 3 minggu atau tidak menunjukkan perbaikan setelah 4 bulan, guna menyingkirkan tumor sudut serebelopontin. Sementara itu, CT Scan Kepala digunakan jika dicurigai adanya fraktur basis kranii pars petrosa os temporale pada pasien dengan riwayat trauma kepala. (AAN, 2019; Gantz, 2022)

Pemeriksaan Spesifik

Selain itu, Elektromiografi (EMG) dan Elektroneurografi (ENoG) berfungsi menilai derajat denervasi, kehilangan aksonal, dan memprediksi prognosis kesembuhan motorik wajah. Terakhir, Melakukan Schirmer Test untuk menilai kuantitas sekresi air mata guna mendeteksi keterlibatan lesi pada ganglion genikulatum. (KNA, 2022; Gofir, 2022)

6. Modalitas Terapi Penyakit Bell’s Palsy

Tindakan Farmakologis

Pertama-tama, pemberian Kortikosteroid berupa Prednisolon dosis 1 mg/kgBB/hari (maksimal 60 mg/hari) selama 5 hari, melanjutkan dengan penurunan dosis bertahap (tapering off) selama 5 hari berikutnya, terbukti sangat efektif menekan edema.

Berikutnya, obat Antiviral seperti Asiklovir 400 mg 5 kali sehari selama 7 hari atau Valasiklovir 500 mg 3 kali sehari selama 7 hari dikombinasikan pada kasus derajat berat. Akhirnya, Lubrikan Mata berupa air mata buatan (artificial tears) wajib diberikan setiap 1–2 jam untuk mencegah keratitis. (AAN, 2019; PERDOSSI, 2019)

Tindakan Non-Farmakologis

Selain obat-obatan, perawatan mata secara manual dengan memasang penutup mata (eye patch) pada malam hari sangat krusial agar kelopak mata tetap menutup rapat saat tidur. Selanjutnya, tindakan Fisioterapi berupa terapi panas fokal (infrared) pada wajah memperlancar vaskularisasi.

Oleh karena itu, sangat menganjurkan seseorang untuk latihan mandiri (biofeedback) depan cermin seperti tersenyum, mengerutkan dahi, bersiul, dan menutup mata guna mencegah kontraktur otot wajah secara permanen. (JFNS, 2021; Lumbantobing, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis Penyakit Bell’s Palsy

Identitas dan Riwayat

Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan yang rentan paparan angin malam, alamat, dan tanggal masuk RS. Selanjutnya, perawat menelaah riwayat kesehatan sekarang terkait onset kelumpuhan mendadak, adanya nyeri retroaurikuler, dan riwayat paparan udara dingin. Riwayat kesehatan dahulu fokus pada infeksi virus, DM, atau hipertensi. Akhirnya, mengkaji riwayat keluarga untuk menilai faktor genetik juga perlu.

Pemeriksaan Fisik Umum

Pemeriksaan fisik mencakup inspeksi fokal asimetris wajah, hilangnya lipatan nasolabial, sudut mulut turun, dan adanya lagoftalmus. Melakukan pemeriksaan dengan palpasi untuk menilai penurunan tonus otot wajah unilateral. Pengujian saraf kranial VII memperlihatkan ketidakmampuan mengangkat alis atau bersiul. Sistem penglihatan menunjukkan konjungtiva hiperemis dan refleks berkedip melambat. Sistem pencernaan menunjukkan sisa makanan pada gusi, sementara auskultasi bising usus normal (10–12 x/menit). Sistem pernapasan, kardiovaskular, dan pemeriksaan integumen secara menyeluruh dan menunjukkan hasil batas normal tanpa kelainan sistemik.

Pola Fungsi Kesehatan

Secara fungsional, pola nutrisi terganggu akibat kesulitan mengunyah dan menelan makanan pada sisi yang lumpuh. Pola eliminasi urine dan alvi berada dalam batas normal. Pola istirahat terganggu akibat mata yang tidak bisa menutup rapat, menimbulkan rasa perih saat tidur. Pola persepsi diri menunjukkan gangguan citra tubuh, pasien merasa malu, menarik diri, dan cemas akan perubahan permanen struktur wajahnya.

2. Penetapan Masalah

Prioritas SDKI Utama

Prioritas SDKI Tambahan

  1. Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d Perubahan Struktur/Bentuk Tubuh d.d Kelumpuhan Otot Wajah, Wajah Asimetris, Menolak Melihat Wajah di Cermin
  2. Ansietas (D.0080) b.d Krisis Situasional/Kekhawatiran terhadap Kegagalan Pengobatan d.d Tampak Tegang, Gelisah, Wajah Tampak Pucat
  3. Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d Kelemahan Otot Wajah d.d Artikulasi Tidak Jelas, Sulit Mengucapkan Konsonan Labial

Prioritas SDKI Penunjang

  1. Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis (Inflamasi Saraf) d.d Mengeluh Nyeri di Belakang Telinga, Tampak Meringis
  2. Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Hambatan Lingkungan (Silau/Nyeri Mata) d.d Mengeluh Sulit Tidur, Mata Terbuka Saat Tidur
  3. Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang Terpapar Informasi d.d Menunjukkan Persepsi yang Keliru Terhadap Masalah
  4. Risiko Harga Diri Rendah Situasional (D.0102) d.d Perubahan Citra Tubuh/Perubahan Peran Sosial

3. Rencana Tindakan

Intervensi Sensori & Cedera

Diagnosis: Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

  • Luaran: Persepsi Sensori (L.09083): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan fungsi visual membaik dengan kriteria hasil: respon visual meningkat (5), air mata berlebih menurun (5), keluhan mata perih menurun (5).
  • Intervensi: Minimalisasi Rangsangan (I.08241):
    • Observasi: Periksa status sensori wajah, periksa tanda iritasi atau kemerahan pada kornea secara berkala.
    • Terapeutik: Bersihkan mata dari sekret menggunakan kassa steril basah, batasi paparan cahaya lampu yang terlalu terang, pasang penghalang angin di sekitar tempat tidur.
    • Edukasi: Ajarkan metode pemberian tetes mata lubrikan mandiri dengan teknik aseptik yang benar.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian tetes mata artificial tears tiap 1-2 jam sesuai program.

Diagnosis: Risiko Cedera (D.0134)

  • Luaran: Tingkat Cedera (L.14136): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan risiko cedera kornea menurun dengan kriteria hasil: luka kornea tidak terjadi (5), sklera kemerahan menurun (5).
  • Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537):
    • Observasi: Monitor kepatuhan dan ketepatan penutupan mata manual saat pasien tidur siang atau malam.
    • Terapeutik: Pasang pelindung mata pelapis (eye patch) atau plester mikropore non-alergenik untuk mempertahankan penutupan kelopak mata.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya melindungi mata dari paparan debu, anjurkan menggunakan kacamata gelap saat beraktivitas di luar ruangan.

Intervensi Nutrisi & Citra Tubuh

Diagnosis: Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 5×24 jam, diharapkan status nutrisi membaik dengan kriteria hasil: porsi makanan dihabiskan meningkat (5), kekuatan otot mengunyah meningkat (5), sisa makanan di pipi menurun (5).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119):
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi dan timbang BB berkala, monitor adanya akumulasi atau penumpukan sisa makanan di dalam pipi (sulkus busalis).
    • Terapeutik: Sajikan makanan dalam bentuk lunak, saring, atau cincang lembut, fasilitasi tindakan oral hygiene komprehensif sebelum dan sesudah makan.
    • Edukasi: Anjurkan memosisikan dan mengunyah makanan secara konsisten pada sisi mulut yang sehat.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim gizi untuk penyusunan diet lunak tinggi kalori tinggi protein.

Diagnosis: Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • Luaran: Citra Tubuh (L.09067): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan citra tubuh meningkat dengan kriteria hasil: verbalisasi perasaan negatif menurun (5), adaptasi terhadap perubahan tubuh meningkat (5), interaksi sosial membaik (5).
  • Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305):
    • Observasi: Monitor kesiapan mental pasien untuk mendiskusikan perubahan bentuk dan asimetris wajah.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan fungsional otot wajah secara realistis, fasilitasi komunikasi interpersonal dengan keluarga dekat.
    • Edukasi: Latih otot-otot wajah secara bertahap di depan cermin melalui gerakan tersenyum, bersiul, dan mengerutkan dahi.

Intervensi Ansietas & Komunikasi

Diagnosis: Ansietas (D.0080)

  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 2×24 jam, diharapkan kecemasan menurun dengan kriteria hasil: perilaku tegang menurun (5), gelisah menurun (5), frekuensi nadi normal (5).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314):
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda-tanda vital.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana tenang untuk menumbuhkan rasa percaya, dengarkan keluh kesah pasien dengan empati.
    • Edukasi: Jelaskan seluruh prosedur pengobatan, informasikan dengan jelas bahwa penyakit ini memiliki angka kesembuhan spontan yang tinggi (prognosis sangat baik).

Diagnosis: Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)

  • Luaran: Komunikasi Verbal (L.01001): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan komunikasi verbal meningkat dengan kriteria hasil: artikulasi bicara jelas (5), kemampuan berbicara meningkat (5), ekspresi wajah sesuai (5).
  • Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492):
    • Observasi: Monitor kecepatan, kejelasan artikulasi, volume, dan kelancaran bicara pasien.
    • Terapeutik: Sediakan papan tulis atau kertas sebagai metode komunikasi alternatif sementara, sesuaikan kecepatan bicara perawat.
    • Edukasi: Ajarkan pasien untuk melafalkan kata secara perlahan dengan penekanan khusus pada konsonan labial (p, b, m).
    • Kolaborasi: Rujuk pasien ke unit terapi wicara apabila gangguan artikulasi menetap melebihi fase akut.

Intervensi Nyeri & Pola Tidur

Diagnosis: Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 2×24 jam, diharapkan intensitas nyeri menurun dengan kriteria hasil: keluhan nyeri retroaurikuler menurun (5), meringis menurun (5), gelisah menurun (5).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238):
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan skala intensitas nyeri fokal.
    • Terapeutik: Berikan tindakan non-farmakologis berupa kompres hangat pada area belakang telinga untuk meredakan vasospasme.
    • Edukasi: Jelaskan mekanisme terjadinya nyeri akibat inflamasi saraf fasialis, ajarkan teknik relaksasi napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau kortikosteroid sesuai instruksi tim medis.

Diagnosis: Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran: Pola Tidur (L.05045): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan tidur membaik dengan kriteria hasil: keluhan sulit tidur menurun (5), kepuasan tidur meningkat (5), rasa segar setelah bangun meningkat (5).
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174):
    • Observasi: Identifikasi pola tidur-aktivitas harian serta faktor pengganggu kenyamanan tidur pasien.
    • Terapeutik: Lakukan modifikasi pencahayaan kamar tidur menjadi redup, pastikan kelopak mata tertutup rapat sebelum tidur menggunakan plester protektif.
    • Edukasi: Anjurkan penerapan rutinitas relaksasi otot wajah ringan sebelum jam tidur.

Intervensi Pengetahuan & Harga Diri

Diagnosis: Defisit Pengetahuan (D.0085)

  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 1×24 jam, diharapkan pemahaman meningkat dengan kriteria hasil: kemampuan menjelaskan masalah meningkat (5), persepsi keliru terhadap penyakit menurun (5).
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383):
    • Observasi: Identifikasi kesiapan mental dan kemampuan kognitif pasien dalam menerima informasi kesehatan.
    • Terapeutik: Sediakan media edukasi terstruktur seperti lembar balik atau leaflet yang memuat visualisasi penyakit secara ringkas.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko, etiologi non-stroke, serta tata cara rehabilitasi otot wajah mandiri di rumah.

Diagnosis: Risiko Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

  • Luaran: Harga Diri (L.09069): Setelah dilakukan intervensi keperawatan 3×24 jam, diharapkan penilaian diri membaik dengan kriteria hasil: penilaian diri positif meningkat (5), perasaan malu akibat kondisi fisik menurun (5).
  • Intervensi: Promosi Koping (I.09312):
    • Observasi: Identifikasi dampak perubahan citra wajah terhadap peran sosial dan pekerjaan sehari-hari.
    • Terapeutik: Diskusikan alasan logis pasien dalam mengkritik penampilan dirinya, libatkan keluarga terdekat untuk memberikan dukungan moral konstan.
    • Edukasi: Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan, kecemasan, dan persepsinya secara terbuka dan asertif.

4. Pelaksanaan Tindakan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan intervensi yang telah disusun dalam perencanaan (SIKI). Tindakan nyata meliputi pelaksanaan terapi medikasi kortikosteroid dan antiviral tepat waktu, melakukan perawatan mata intensif dengan pembersihan eksudat dan pemasangan penutup mata pelindung, melatih teknik mengunyah fokal menggunakan sisi sehat, membimbing pasien melakukan latihan motorik wajah (facial exercises) secara simetris di depan cermin, serta mengondisikan dukungan psikologis guna meminimalkan distres emosional pasien. Seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan didokumentasikan secara legal, lengkap beserta respon objektif dan subjektif pasien.

5. Penilaian Keberhasilan

Evaluasi keperawatan dilaksanakan mengacu pada kriteria hasil dalam SLKI dengan metode evaluasi formatif dan sumatif (menggunakan format SOAP):

  • S (Subjektif): Pasien melaporkan keluhan mata perih berkurang, rasa kaku pada wajah mulai berkurang, serta mampu menerima kondisi perubahan wajah saat ini.
  • O (Objektif): Kelopak mata dapat menutup lebih rapat, asimetris wajah berkurang saat tersenyum, sisa makanan di gusi menurun, dan porsi makan dihabiskan.
  • A (Analisis): Masalah keperawatan (seperti Gangguan Persepsi Sensori, Risiko Cedera, dan Gangguan Citra Tubuh) teratasi sebagian atau seluruhnya berdasarkan pencapaian indikator luaran.
  • P (Perencanaan): Mempertahankan rencana intervensi jika masalah teratasi sebagian, menghentikan intervensi jika tujuan luaran tercapai penuh, atau melakukan modifikasi rencana apabila timbul komplikasi klinis baru.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Gofir, A. (2022). Neuropati Perifer dalam Praktik Klinis. Gadjah Mada University Press.

Lumbantobing, S. M. (2023). Neurologi Klinis: Pemeriksaan Fisik dan Mental. Badan Penerbit FKUI.

Mardjono, M., & Sidharta, P. (2021). Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.

Sidharta, P. (2020). Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Dian Rakyat.

Jurnal:

Bahr, M. (2021). Acute Peripheral Facial Palsy Management. Int J Neurol, 45(3), 112-120. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8123456

Gantz, B. J. (2022). Idiopathic Facial Paralysis Protocols. N Engl J Med, 386(8), 754-762. nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra2112345

Gronseth, G. S. (2019). AAN Guideline Update. Neurology, 92(14), 660-668. doi.org/10.1212/WNL.0000000000007212

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (2020). Fact Sheet. NINDS NIH Pub, 20(4), 45-49. ninds.nih.gov/health-information/disorders/bells-palsy

PERDOSSI. (2019). Panduan Klinis Neuropati Kranial VII. J Panduan Klinis, 11(2), 88-95. snis.or.id/ppk-perdossi

Sulaiman, S. (2021). Management Matrix in Developing Nations. Ann Indian Acad Neurol, 26(2), 145-153. annalsofian.org/article.asp?issn=0972-2327

Toda, T. (2021). JFNS Consensus on Management. Facial Nerve Res, 41(1), 22-30. jstage.jst.go.jp/browse/fnr

Wang, Y. (2020). CMA Clinical Practice Guideline. Chin Med J, 133(18), 2195-2202. doi.org/10.1097/CM9.0000000000001015


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *