Demensia merupakan sindrom penurunan fungsi kognitif kronis yang memengaruhi memori, perilaku, dan kemampuan ADL secara signifikan.
- A. Konsep Medis Penyakit Demensia
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- 1. Pengkajian Keperawatan
- 2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
- 3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
- 4. Perencanaan Intervensi Diagnosis 1-3 (PPNI, 2018, 2019)
- 5. Perencanaan Intervensi Diagnosis 4-6 (PPNI, 2018, 2019)
- 6. Perencanaan Intervensi Diagnosis 7-10 (PPNI, 2018, 2019)
- 7. Pengelolaan dan Penilaian Asuhan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Penyakit Demensia
1. Analisis Definisi Penyakit Demensia
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan demensia sebagai sindrom akibat penyakit otak yang bersifat kronis atau progresif, terdapat gangguan fungsi kortikal luhur yang multipel (WHO, 2023).
Selanjutnya, American Psychiatric Association (APA) melalui DSM-5 mendefinisikan kondisi ini sebagai gangguan neurokognitif mayor yang menunjukkan bukti penurunan kognitif signifikan dari tingkat performa sebelumnya dalam satu atau lebih domain kognitif (APA, 2013).
Selain itu, Alzheimer’s Association menjelaskan demensia sebagai istilah payung untuk penurunan kemampuan mental yang cukup parah hingga mengganggu kehidupan sehari-hari (Alzheimer’s Association, 2024).
Sementara itu, Prince (Alzheimer’s Disease International). Menegaskan bahwa penyakit ini merepresentasikan kegagalan fungsi otak organik yang mengakibatkan hilangnya kemampuan intelektual secara global dan progresif (Prince et al., 2015).
Sebagai pelengkap, Emmady (StatPearls) mengidentifikasi demensia sebagai gangguan neurologis yang muncul dengan penurunan fungsi memori dan setidaknya satu domain kognitif lainnya yang mengganggu fungsi sosial atau okupasional (Emmady et al., 2023).
Definisi Dari Pakar Asia
Nakamura (Jepang) merumuskan demensia sebagai kondisi gangguan kognitif menetap yang timbul akibat kerusakan otak organik pasca-perkembangan kecerdasan yang normal (Nakamura et al., 2021).
Kemudian, Kim (Korea Selatan) mengartikan sindrom ini sebagai penurunan fungsi intelektual global yang memicu hambatan nyata dalam kemandirian aktivitas hidup sehari-hari (Kim et al., 2022).
Lebih lanjut, Chiu (Hong Kong) mendeskripsikan demensia berupa gangguan neurokognitif progresif yang prevalensinya meningkat secara eksponensial seiring pertambahan usia populasi lansia Asia (Chiu et al., 2020).
Sejalan dengan itu, Jianping (Tiongkok) mendefinisikan kelainan ini sebagai kemunduran fungsi kognitif multi-domain yang bersumber dari patologi degeneratif neurovaskular yang kompleks (Jianping et al., 2023).
Oleh karena itu, Sahathevan (Malaysia) mengategorikan gangguan tersebut sebagai kegagalan neurokognitif yang memerlukan pendekatan diagnosis holistik berbasis budaya lokal (Sahathevan et al., 2019).
Definisi Dari Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menetapkan demensia sebagai kumpulan gejala penurunan fungsi intelektual, memori, dan kognitif lainnya yang mengganggu aktivitas harian seseorang (Kemenkes RI, 2019).
Berikutnya, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mendefinisikan penyakit ini sebagai gangguan fungsi kognitif yang memengaruhi minimal dua domain kognitif dan mengakibatkan disabilitas aktivitas harian (PERDOSSI, 2021).
Sementara, Siti Setiati (Pakar Geriatri UI) menjelaskan sindrom ini sebagai penurunan fungsi kognitif dan memori yang terjadi secara perlahan serta progresif akibat kerusakan jaringan otak pada populasi lansia (Setiati et al., 2022).
Lalu, Yuda Turana (Pakar Neurologi) mengartikan demensia sebagai penyakit degeneratif kronis pada otak yang membutuhkan deteksi dini guna mencegah penurunan kualitas hidup yang drastis (Turana et al., 2020).
Akhirnya, Kusumoputro (Pelopor Neuro-Perilaku Indonesia) menegaskan bahwa gangguan tersebut merupakan kemunduran fungsi mental intelektual luhur yang mengakibatkan penderita mengalami ketergantungan total pada lingkungan (Kusumoputro, 2018).
2. Etiologi Penyakit Demensia
Faktor Neurodegeneratif
Penyebab utama gangguan ini bersumber dari proses neurodegeneratif. Kondisi tersebut mencakup Penyakit Alzheimer melalui akumulasi plak beta-amiloid dan tau protein, Demensia Frontotemporal, serta Demensia dengan Lewy Bodies.
Faktor Risiko Lain
Selain itu, faktor vaskular seperti stroke multipel akibat kronisitas hipertensi ikut memicu iskemia. Infeksi otak seperti HIV, trauma kepala berulang (CTE), serta gangguan metabolik akibat defisiensi vitamin B12 juga menjadi penyebab penting.
3. Patofisiologi dan KDM (Emmady et al., 2023)
Mekanisme Kerusakan Otak
Patofisiologi penyakit ini melibatkan deposisi ekstraseluler plak peptida beta-amiloid (beta-amyloid) dan pembentukan neurofibrillary tangles (NFT) intraseluler dari protein tau. Akumulasi protein abnormal ini bersifat sitotoksik, memicu respons inflamasi neuroglia, serta mengganggu transportasi aksonal yang memicu apoptosis neuron. Kerusakan ini mendegradasi jalur kolinergik, menurunkan ketersediaan asetilkolin (ACh), serta merusak transmisi sinaptik pada korteks serebri.
Rumus Klirens Protein Serebral
Klirens protein amiloid dalam cairan serebrospinal secara matematis dapat terhitung guna memprediksi tingkat akumulasi patologis melalui rumus berikut:
K = V x (Cin – C out) C plasma
Selanjutnya, K adalah koefisien klirens, V adalah volume cairan per menit, C_in adalah konsentrasi masuk, C_out adalah konsentrasi keluar, dan C_plasma adalah konsentrasi pada plasma.
Penyimpangan KDM
Akibat dari kerusakan struktural tersebut, muncul kaskade penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia (KDM). Penurunan fungsi kognitif memicu disorientasi spasial dan temporal, menghambat komunikasi verbal, merusak kemampuan perawatan diri (ADL), serta mengganggu mobilitas fisik akibat hilangnya koordinasi motorik (apraksia).
4. Manifestasi Klinis (WHO, 2023)
Gejala Subjektif
Pasien atau keluarga mengeluh pasien sering lupa meletakkan barang sehari-hari. Keluarga melaporkan perubahan kepribadian (misal: menjadi apatis, mudah marah, atau curigaan). Pasien menyatakan bingung menentukan arah jalan pulang yang biasa dilalui.
Gejala Objektif
Skor MMSE atau MoCA-Ina menunjukkan hasil < 24. Teramati adanya disorientasi waktu, tempat, dan orang saat interogasi klinis. Pasien juga menunjukkan tanda apraksia (tidak mampu mengancingkan baju) dan agnosia (gagal mengenali wajah keluarga).
5. Pemeriksaan Penunjang (PERDOSSI, 2021)
Evaluasi Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap dan urinalisis ditujukan untuk menyingkirkan infeksi sistemik. Melakukan pengukuran kadar vitamin B12 serta asam folat untuk mendeteksi gangguan sekunder. Pemeriksaan fungsi tiroid (TSH dan Free T4) juga perlu untuk menilai hipotiroidisme.
Evaluasi Radiologi dan Neuropsikologi
CT Scan atau MRI otak dikerjakan guna memperlihatkan atrofi hipokampus serta pelebaran ventrikel. Sebagai tambahan, instrumen skrining neuropsikologis kuantitatif mengukur lewat lembar kuesioner Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina).
6. Penatalaksanaan Medis (Alzheimer’s Association, 2024)
Terapi Farmakologis
Intervensi medis berfokus pada pemberian Inhibitor Asetilkolinesterase seperti Donepezil (5-10 mg/hari) atau Rivastigmine (1.5-6 mg 2x/hari) guna meningkatkan kadar asetilkolin. Memberikan juga Antagonis Reseptor NMDA seperti Memantine (5-20 mg/hari) untuk melindungi neuron dari eksitotoksistas glutamat.
Terapi Non-Farmakologis
Sebaliknya, pendekatan non-farmakologis berfokus pada Terapi Orientasi Realitas menggunakan papan informasi, Reminiscence Therapy lewat stimulasi foto masa lalu, serta modifikasi lingkungan fisik yang aman guna meminimalkan risiko cedera dan jatuh pada pasien.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Biodata dan Riwayat Kesehatan
Melalukan pengkajian dengan pengumpulan identitas pasien, khususnya usia di atas 65 tahun dan tingkat pendidikan. Keluhan utama biasanya berpusat pada kemunduran daya ingat jangka pendek, kebingungan kronis, serta perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan Fisik Sistem Tubuh
Pemeriksaan fisik dilakukan secara Head to Toe:
- Sistem Persarafan (Fokus): Inspeksi adanya tremor atau gaya berjalan kaku, pengkajian fungsi luhur menunjukkan tanda afasia, apraksia, dan agnosia.
- Sistem Respirasi: Inspeksi ekspansi dada simetris, palpasi taktil fremitus normal, perkusi sonor, auskultasi vesikuler.
- Sistem Kardiovaskular: Inspeksi iktus kordis tidak tampak, palpasi teraba pada ICS V midklavikula sinistra, perkusi batas jantung normal, auskultasi S1 S2 tunggal.
- Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi penurunan massa otot, palpasi tonus otot rigid, kekuatan otot menurun.
- Sistem Integumen: Inspeksi adanya tanda dekubitus jika pasien bedridden, palpasi turgor kulit menurun.
Pengkajian Pola Gordon
Pola fungsi kesehatan berfokus pada Pola Kognitif Perseptual (kerusakan memori), Pola Aktivitas (defisit ADL), Pola Tidur (sundowning syndrome), serta Pola Hubungan (penarikan diri dari interaksi sosial akibat malu atau disorientasi).
2. Diagnosis Keperawatan Prioritas 1-5
Gangguan memori berhubungan dengan perubahan struktur otak d.d melaporkan pernah kehilangan barang, tidak mampu mengingat informasi faktual, tidak mampu mengingat perilaku tertentu yang pernah dilakukan, dan mengalami lupa jadwal.
Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif d.d tidak mampu berbicara/mendengar, menunjukkan frustrasi saat berkomunikasi, kesulitan memahami komunikasi, dan sulit mempertahankan komunikasi.
Defisit Perawatan Diri (D.0109)
Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan kognitif d.d tidak mampu mandi, mengenakan pakaian, makan, ke toilet, berhias secara mandiri, dan minat melakukan perawatan diri menurun.
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler d.d kekuatan otot menurun, rentang gerak (ROM) menurun, mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, dan enggan melakukan pergerakan.
Risiko cedera dibuktikan dengan faktor risiko disorientasi profil kognitif, perubahan fungsi psikomotor, gangguan keseimbangan, dan hiporefleksia.
3. Diagnosis Keperawatan Prioritas 6-10
Gangguan pola tidur berhubungan dengan disorientasi waktu d.d mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak puas tidur, dan mengeluh pola tidur berubah akibat fenomena sundowning.
Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan komunikasi d.d merasa tidak nyaman dengan situasi sosial, mengungkapkan isolasi sosial, gejala menarik diri, dan kurang responsif pada orang lain.
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kebingungan kronis d.d mengeluh tidak nyaman, gelisah, menunjukkan gejala distress, tampak merintih/menangis, dan pola eliminasi berubah.
Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0139)
Risiko gangguan integritas kulit/jaringan dibuktikan dengan faktor risiko penurunan mobilitas,imobilisasi fisik, faktor mekanis (gesekan), dan penurunan turgor kulit.
Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090)
Kesiapan peningkatan koping keluarga dibuktikan dengan anggota keluarga menetapkan tujuan untuk peningkatan kesehatan, mengidentifikasi pilihan rencana pertumbuhan koping, dan menunjukkan keinginan mengelola perawatan.
4. Perencanaan Intervensi Diagnosis 1-3 (PPNI, 2018, 2019)
Intervensi Gangguan Memori
- Luaran Utama (SLKI – L.09079): Memori Meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan mengingat informasi faktual meningkat (5), kemampuan mengingat perilaku tertentu meningkat (5), perilaku bingung menurun (5), mudah lupa menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.06188): Orientasi Realitas. Tindakan: Monitor tingkat orientasi; Sediakan lingkungan aman; Sajikan informasi berulang menggunakan jam/kalender; Edukasi keluarga metode stimulasi memori; Kolaborasi pemberian AChEI.
Intervensi Gangguan Komunikasi Verbal
- Luaran Utama (SLKI – L.02008): Komunikasi Verbal Meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat (5), kesesuaian ekspresi wajah membaik (5), pemahaman komunikasi membaik (5), frustrasi menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.13492): Promosi Komunikasi: Defisit Bicara. Tindakan: Monitor kecepatan/volume bicara; Gunakan metode alternatif (papan gambar); Berbicara perlahan dengan kalimat pendek; Anjurkan mengulang kalimat; Rujuk ke terapis wicara.
Intervensi Defisit Perawatan Diri
- Luaran Utama (SLKI – L.11103): Perawatan Diri Meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat (5), kemampuan mengenakan pakaian meningkat (5), kemampuan makan meningkat (5), ke toilet meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.11348): Dukungan Perawatan Diri. Tindakan: Monitor tingkat kemandirian; Sediakan pakaian longgar tanpa kancing rumit; Berikan bantuan ADL sampai mandiri parsial; Ajarkan keluarga melatih kemandirian pasien secara aman.
5. Perencanaan Intervensi Diagnosis 4-6 (PPNI, 2018, 2019)
Intervensi Gangguan Mobilitas Fisik
- Luaran Utama (SLKI – L.05042): Mobilitas Fisik Meningkat. Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat (5), kekuatan otot meningkat (5), rentang gerak (ROM) meningkat (5), kaku sendi menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.05173): Dukungan Mobilisasi. Tindakan: Identifikasi nyeri/keluhan fisik; Monitor frekuensi jantung/TD sebelum mobilisasi; Fasilitasi aktivitas dengan alat bantu; Libatkan keluarga dalam pergerakan; Ajarkan ROM pasif/aktif.
Intervensi Risiko Cedera
- Luaran Utama (SLKI – L.14136): Tingkat Cedera Menurun. Kriteria Hasil: Kejadian cedera menurun (5), luka/lecet menurun (5), ketegangan otot menurun (5), fraktur menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.14537): Pencegahan Cedera. Tindakan: Identifikasi kebutuhan keselamatan; Pastikan pencahayaan adekuat; Pasang side rail tempat tidur; Bersihkan lantai dari penghalang; Informasikan keluarga pentingnya mendampingi pasien.
Intervensi Gangguan Pola Tidur
- Luaran Utama (SLKI – L.05045): Pola Tidur Membaik. Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun (5), keluhan sering terjaga menurun (5), keluhan tidak puas tidur menurun (5), kemampuan beraktivitas meningkat (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.05174): Dukungan Tidur. Tindakan: Identifikasi pola/hambatan tidur; Batasi tidur siang; Ciptakan lingkungan nyaman menjelang malam; Anjurkan relaksasi sebelum tidur; Hindari asupan kafein di sore hari.
6. Perencanaan Intervensi Diagnosis 7-10 (PPNI, 2018, 2019)
Intervensi Gangguan Interaksi Sosial
- Luaran Utama (SLKI – L.13115): Interaksi Sosial Meningkat. Kriteria Hasil: Verbalisasi keterlibatan sosial meningkat (5), responsif pada orang lain membaik (5), perilaku menarik diri menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.13484): Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial. Tindakan: Identifikasi fokus masalah perilaku; Motivasi berpartisipasi dalam aktivitas kelompok terstruktur kecil; Berikan umpan balik positif atas keberhasilan interaksi.
Intervensi Gangguan Rasa Nyaman
- Luaran Utama (SLKI – L.08064): Status Kenyamanan Meningkat. Kriteria Hasil: Keluhan tidak nyaman menurun (5), gelisah menurun (5), postur tubuh rileks membaik (5), menangis menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.08235): Manajemen Subjektivitas Lingkungan. Tindakan: Identifikasi pemicu agitasi lingkungan; Sediakan ruangan dengan stimulasi sensorik minimal; Ajarkan teknik distraksi sederhana (musik lembut kesukaan).
Intervensi Risiko Gangguan Integritas Kulit
- Luaran Utama (SLKI – L.14125): Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat. Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan menurun (5), kerusakan lapisan kulit menurun (5), kemerahan fokal menurun (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.11353): Pencegahan Luka Tekan. Tindakan: Periksa prominensia tulang; Ubah posisi baring setiap 2 jam; Gunakan kasur dekubitus (air mattress); Ajarkan keluarga menjaga kelembapan kulit dengan lotion.
Intervensi Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga
- Luaran Utama (SLKI – L.09088): Koping Keluarga Meningkat. Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat (5), keterlibatan dalam perawatan meningkat (5), komunikasi anggota keluarga membaik (5).
- Intervensi Utama (SIKI – I.13479): Dukungan Koping Keluarga. Tindakan: Identifikasi beban psikososial caregiver; Fasilitasi diskusi kelompok antar keluarga; Edukasi keluarga mengenai perjalanan penyakit degeneratif yang progresif.
7. Pengelolaan dan Penilaian Asuhan
Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun. Tindakan difokuskan pada pemeliharaan memori, pemenuhan kebutuhan dasar pasien secara aman, serta pencegahan komplikasi fisik. Segala tindakan keperawatan dicatat secara rinci dalam format dokumen resmi.
Penilaian Akhir (Evaluasi)
Evaluasi berkala dilakukan menggunakan metode deskriptif SOAP:
- S (Subjektif): Hasil wawancara perkembangan keluhan kognitif dan perilaku dari keluarga.
- O (Objektif): Hasil observasi fisik, skor kognitif pasca-tindakan, dan status kemandirian harian.
- A (Asesmen): Analisis keberhasilan luaran keperawatan (teratasi, teratasi sebagian, belum teratasi).
- P (Planing): Rekomendasi kelanjutan intervensi keperawatan atau modifikasi strategi di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Alzheimer’s Association. (2024). 2024 Alzheimer’s disease facts and figures. Alzheimer’s & Dementia, 20(5), 1-85. alzheimer-association/facts-figures
APA. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Chiu, H. F., et al. (2020). Dementia in the Asia-Pacific region. Asia-Pacific Psychiatry, 12(2), e12391. onlinelibrary.wiley.com/journal/17585872
Emmady, P. D., et al. (2023). Major Neurocognitive Disorder. StatPearls. ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557444/
Jianping, J., et al. (2023). Guidelines for the diagnosis and management of dementia in China. Chinese Medical Journal, 136(8), 891-905. journals.lww.com/cmj
Kemenkes RI. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Demensia. Kemenkes RI.
Kim, S., et al. (2022). Epidemiology of dementia in South Korea. Journal of Korean Medical Science, 37(14), e110. jkms.org
Kusumoputro, S. (2018). Demensia: Masalah Neurologis Mutakhir pada Lanjut Usia. FKUI Press.
Nakamura, A., et al. (2021). Japan’s national strategy for dementia. Lancet Neurology, 20(3), 171-173. thelancet.com/journals/laneur
PERDOSSI. (2021). Panduan Praktik Klinis: Gangguan Neurokognitif/Demensia. PERDOSSI.
Prince, M., et al. (2015). World Alzheimer Report 2015. Alzheimer’s Disease International. alz.co.uk/world-report-2015
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
Sahathevan, R., et al. (2019). Clinical approach to dementia in South-East Asia. Neurology Asia, 24(1), 1-9. neurology-asia.org

Tinggalkan Balasan