PERTUSIS KONSEP MEDIS

Pertusis adalah infeksi saluran napas akut bakteriil highly contagious yang memicu batuk paroksismal intens berisiko tinggi asfiksia fatal pada bayi. (WHO, 2023)

A. Konsep Medis Pertusis

1. Definisi Penyakit Pertusis

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (2023) mendeskripsikan penyakit ini sebagai infeksi saluran pernapasan akut menular yang disebabkan oleh Bordetella pertussis, ditandai dengan serangan batuk yang khas dan berulang. (WHO, 2023)

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (2024) menegaskan bahwa penyakit ini merupakan infeksi bakteri serius pada sistem respirasi yang memicu batuk paroksismal tidak terkendali sehingga menyulitkan pasien bernapas normal. (CDC, 2024)

Di samping itu, The Lancet Infectious Diseases (2022) mengartikan sindrom klinis respiratorik akut ini terjadi akibat toksin bakteri yang secara spesifik menyerang epitel bersilia traktus respiratorius. (The Lancet, 2022)

Sementara itu, Nelson Textbook of Pediatrics (2020) mendefinisikan kondisi tersebut sebagai infeksi akut saluran napas global yang memicu manifestasi klinis khas berupa batuk rejan dengan durasi berminggu-minggu. (Nelson Pediatrics, 2020)

Sebagai tambahan, European Centre for Disease Prevention and Control (2023) merumuskan masalah ini sebagai infeksi bakteriil akut organ pernapasan bawah yang mengancam jiwa, khususnya pada populasi neonatus tanpa imunisasi lengkap. (ECDC, 2023)

Definisi Dari Pakar Asia

Japanese Journal of Infectious Diseases (2021) menjelaskan penyakit tersebut sebagai infeksi respiratorik endemik Asia yang memicu batuk spastik persisten akibat stimulasi toksin pada reseptor saraf lokal. (JJID, 2021)

Oleh karena itu, Chinese Medical Journal (2023) mengategorikan kondisi ini sebagai infeksi bakteri piogenik akut pada mukosa respiratorik yang sering kali menunjukkan gejala atipikal pada remaja dan dewasa. (CMJ, 2023)

Kemudian, Indian Pediatrics (2022) mengartikan masalah saluran napas atas dan bawah ini memicu komplikasi pneumonia sekunder berat akibat kolonisasi bakteri gram negatif batang. (Indian Pediatrics, 2022)

Sejalan dengan hal tersebut, Korean Journal of Pediatrics (2020) mendefinisikan penyakit menular akut ini menyebabkan spasme glotis akut selama fase batuk paroksismal berlangsung. (KJP, 2020)

Lebih lanjut, Asia Pacific Allergy (2021) mengidentifikasi infeksius saluran napas tersebut menyerupai hiperreaktivitas bronkus berat sehingga membutuhkan diagnosis banding yang sangat cermat. (APA, 2021)

Definisi Dari Pakar Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) menetapkan kondisi ini sebagai penyakit menular langsung pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri dan dapat dicegah melalui imunisasi dasar lengkap. (Kemenkes RI, 2022)

Hubungan dengan hal itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (2020) mengartikan infeksi akut traktus respiratorius bawah tersebut menunjukkan manifestasi batuk beruntun yang diakhiri dengan suara lengkingan khas saat inspirasi. (IDAI, 2020)

Meskipun demikian, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2021) mendefinisikan infeksi parenkim dan saluran napas ini menimbulkan inflamasi hebat serta hipersekresi mukus kental yang menyumbat. (PDPI, 2021)

Secara historis, Soedarmo et al. (2018) merumuskan penyakit infeksi bakteri akut saluran napas ini sangat infeksius dengan tiga stadium klinis khas, yaitu kataral, paroksismal, dan konvalesens. (Soedarmo et al., 2018)

Akhirnya, Jurnal Kedokteran Indonesia (2023) menjelaskan kondisi re-emerging ini mengancam

imunitas kelompok akibat penurunan efikasi vaksin seiring berjalannya waktu. (JKI, 2023)

2. Etiologi Mikrobiologi Penyakit Pertusis

Sifat Bakteri Agent

Bakteri Bordetella pertussis menjadi penyebab tunggal penyakit ini. Bakteri tersebut merupakan patogen gram-negatif, berbentuk kokobasilus, tidak bergerak, dan bersifat aerob obligat. (CDC, 2024)

Faktor Virulensi Bakteri

Pertussis Toxin mengganggu pensinyalan seluler, memicu limfositosis, dan menaikkan sensitivitas histamin. Filamentous Hemagglutinin dan Pertaktin memfasilitasi perlengketan bakteri pada sel epitel bersilia saluran napas. Tracheal Cytotoxin secara spesifik menghancurkan sel bersilia dan menghentikan gerakan eskalator mukosiliar. (Nelson Pediatrics, 2020)

3. Patofisiologi Infeksi Penyakit Pertusis

Kolonisasi Bakteri

Penularan terjadi melalui droplet udara dari orang sakit. Bakteri terhirup lalu melekat pada silia sel epitel respiratorik menggunakan protein permukaan. Bakteri kemudian berkembang biak secara non-invasif dan melepaskan berbagai toksin berbahaya. (The Lancet, 2022)

Kerusakan Jaringan

Tracheal Cytotoxin merusak sel bersilia secara lokal, mengakibatkan kelumpuhan silia hingga pengelupasan sel epitel mukosa. Akibat hilangnya fungsi silia, tubuh tidak mampu menyapu debris sekret. Saluran napas merespons dengan memproduksi mukus kental dalam jumlah besar. (Soedarmo et al., 2018)

Mekanisme Sumbatan

Penumpukan mukus kental ini menyumbat lumen bronkiolus, memicu refleks batuk hebat sebagai upaya mekanis tubuh untuk mengeluarkan sumbatan. Kerusakan mukosa dan stimulasi kimiawi pada reseptor saraf memicu batuk rejan saat inspirasi dipaksakan melalui glotis yang menyempit. (The Lancet, 2022)

4. Penyimpangan KDM Penyakit Pertusis

Skema Pathway

Droplet Bakteri Bordetella pertussis masuk saluran napas

                          │

         Melekat pada sel epitel bersilia

                          │

          Pelepasan Toksin (PT, TCT, ACT)

                          │

        ┌─────────────────┴─────────────────┐

        ▼                                   ▼

Kerusakan sel silia & siliostasis    Kerusakan mukosa & stimulasi n. vagus

        │                                   │

Akumulasi sekret kental & lengket   Hipersensitivitas reseptor batuk

        │                                   │

Penyumbatan lumen jalan napas       Batuk Paroksismal yang Kuat & Berulang

        │                                   │

        ▼                                   ├────────────────────────┐

BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF          ▼                        ▼

                                     Spasme Laring &        Tekanan intraabdomen &

                                      Sumbatan Aliran        intratorakal meningkat

                                            Air                      │

                                            │                 Refleks muntah (emesis)

                                            ▼                        │

                                   Hambatan Ventilasi        Anoreksia & Intake inadekuat

                                            │                        │

                                            ▼                        ▼

                                   POLA NAPAS TIDAK          DEFISIT NUTRISI

                                        EFEKTIF

5. Manifestasi Klinis Penyakit Pertusis

Data Subjektif Pasien

Pasien atau orang tua mengeluhkan batuk yang sangat sering, berat, dan melelahkan terutama malam hari. Keluhan sesak napas atau merasa seperti tercekik saat serangan muncul. Mual dan muntah setelah serangan batuk selesai. Riwayat demam ringan atau gejala pilek bersin pada awal sakit. Kelemahan fisik ekstrem setelah serangan reda. (IDAI, 2020)

Data Objektif Kataral

Pada stadium kataral yang berlangsung minggu pertama sampai kedua, perawat menemukan adanya rinore, injeksi konjungtiva, lakrimasi, dan demam subfebris. Gejala ini mirip dengan infeksi saluran napas atas biasa. (WHO, 2023)

Data Objektif Paroksismal

Pada stadium paroksismal minggu kedua sampai keenam, perawat menemukan serangan batuk beruntun pendek tanpa jeda napas. Terdapat suara lengkingan bernada tinggi saat inspirasi di akhir batuk. Wajah, bibir, atau lidah tampak sianosis. Petekie pada wajah atau perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi akibat lonjakan tekanan intratorakal. (Nelson Pediatrics, 2020)

Data Objektif Konvalesens

Pada stadium konvalesens yang berlangsung minggu keenam hingga berbulan-bulan, frekuensi dan intensitas batuk menurun bertahap. Namun, batuk kronis tetap dapat menetap dalam waktu lama. (CDC, 2024)

6. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium Utama

Kultur Nasofaring mengisolasi bakteri menggunakan media khusus dan menjadi standar baku emas pada dua minggu pertama. Polymerase Chain Reaction mendeteksi DNA bakteri dari swab nasofaring secara cepat dan sensitif. Darah Lengkap menunjukkan Limfositosis Absolut yang khas berkisar antara 15.000–50.000/µL. (Kemenkes RI, 2022)

Pemeriksaan Radiologi Dada

Foto Toraks sering kali menunjukkan gambaran non-spesifik seperti infiltrat peribronkial, atelektasis segmental akibat sumbatan mukus, atau gambaran shaggy heart yang mengaburkan batas jantung. (PDPI, 2021)

Pemeriksaan Serologi Lanjutan

Pemeriksaan Serologi dengan metode ELISA dilakukan untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap Pertussis Toxin. Metode ini sangat berguna pada stadium lanjut ketika kultur dan PCR sudah negatif. (WHO, 2023)

7. Penatalaksanaan Medis

Terapi Farmakologis Utama

Pemberian antibiotik golongan makrolida dilakukan seawal mungkin untuk mengeradikasi bakteri. Azitromisin diberikan dengan dosis hari pertama 10 mg/kgBB/hari, lalu hari kedua sampai kelima 5 mg/kgBB/hari. Alternatifnya, Klaritromisin 15 mg/kgBB/hari dibagi dalam dua dosis selama tujuh hari, atau Eritromisin 40-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam empat dosis selama 14 hari. Antipiretik Parasetamol diberikan 10–15 mg/kgBB/dosis jika demam. (Kemenkes RI, 2022)

Terapi Non-Farmakologis

Isolasi droplet dilakukan minimal lima hari pertama pengobatan. Oksigenoterapi dengan humidifikasi diberikan jika pasien mengalami sianosis atau distres pernapasan. Penghisapan lendir secara berkala dilakukan untuk mengeluarkan mukus kental. Manajemen nutrisi dilakukan dengan memberikan makanan porsi kecil tapi sering setelah serangan batuk reda. (WHO, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Identitas dan Riwayat

Perawat mencatat nama, umur, jenis kelamin, alamat, dan status imunisasi anak. Keluhan utama biasanya berupa batuk berulang, sesak napas, atau muntah. Riwayat penyakit sekarang, dahulu, serta kontak erat dengan orang dewasa yang batuk kronis harus digali secara mendalam. (IDAI, 2020)

Pemeriksaan Fisik Respirasi

Inspeksi menunjukkan penggunaan otot bantu napas, retraksi interkostal, napas cuping hidung, takipnea, dan sianosis sirkumoral. Palpasi taktil fremitus normal atau meningkat pada area atelektasis. Perkusi menghasilkan bunyi sonor, atau redup jika terdapat komplikasi pneumonia. Auskultasi menunjukkan suara vesikuler disertai ronki basah kasar atau mengorok akibat akumulasi mukus kental. (PDPI, 2021)

Pemeriksaan Fisik Sistemik

Sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia akibat hipoksia, dengan pengisian kapiler melambat jika dehidrasi. Sistem pencernaan menunjukkan muntah pasca-batuk dan turgor kulit menurun. Sistem integumen dan saraf menunjukkan petekie wajah, perdarahan subkonjungtiva, serta gelisah atau letargi akibat hipoksia serebral intermiten. (Soedarmo et al., 2018)

Pengkajian Pola Gordon

Pola persepsi kesehatan terganggu akibat status imunisasi rendah. Pola nutrisi terganggu karena mual muntah pasca-batuk. Pola eliminasi menunjukkan penurunan urine jika dehidrasi. Pola aktivitas mengalami intoleransi. Pola istirahat terganggu oleh batuk malam hari. Pola kognitif, persepsi diri, peran, koping, dan nilai dipengaruhi oleh kecemasan serta keharusan isolasi. (Nelson Pediatrics, 2020)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1-5

  1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
  2. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
  3. Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
  4. Defisit Nutrisi (D.0019)
  5. Gangguan Pola Tidur (D.0055)

Prioritas Diagnosis 6-10

  1. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  2. Ansietas (Orang Tua/Anak) (D.0080)
  3. Defisit Pengetahuan (D.0111)
  4. Risiko Infeksi (D.0142)

3. Perencanaan Intervensi 1-3

Intervensi Diagnosis D.0001

  • Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001)
    • Kriteria Hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronki menurun, meong/whoop menurun, sianosis menurun, frekuensi napas membaik.
  • Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
    • Observasi: Monitor pola napas; Monitor bunyi napas tambahan; Monitor sputum.
    • Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; Posisikan fowler atau semi-fowler; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Berikan oksigen humidifikasi.
    • Edukasi: Ajarkan teknik batuk efektif; Anjurkan asupan cairan hangat.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian mukolitik, ekspektoran, atau antibiotik.

Intervensi Diagnosis D.0005

  • Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004)
    • Kriteria Hasil: Penggunaan otot bantu napas menurun, napas cuping hidung menurun, frekuensi napas membaik, kedalaman napas membaik.
  • Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
    • Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; Monitor adanya sumbatan jalan napas; Palpasi kesimetrisan ekspansi paru; Auskultasi bunyi napas; Monitor nilai AGD atau saturasi oksigen.
    • Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; Dokumentasikan hasil pemantauan.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi penggunaan ventilator mekanik jika terjadi apnea berkepanjangan.

Intervensi Diagnosis D.0003

  • Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003)
    • Kriteria Hasil: Tingkat kesadaran meningkat, sianosis menurun, gelisah menurun, PaO2 membaik, PaCO2 membaik, pH arteri membaik.
  • Intervensi: Terapi Oksigen (I.01026)
    • Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; Monitor posisi alat terapi oksigen; Monitor tanda-tanda hipoventilasi; Monitor integritas mukosa hidung.
    • Terapeutik: Bersihkan sekret pada mulut, hidung, dan trakea secara berkala; Pertahankan kepatenan jalan napas; Berikan oksigen tambahan sesuai instruksi.
    • Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah.
    • Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen dan pemantauan berkala AGD.

4. Perencanaan Intervensi 4-6

Intervensi Diagnosis D.0019

  • Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik, nafsu makan membaik.
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
    • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; Sajikan makanan secara menarik; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering segera setelah fase batuk mereda.
    • Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien.

Intervensi Diagnosis D.0055

  • Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun, kemampuan beraktivitas meningkat.
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan; Batasi waktu tidur siang jika memengaruhi tidur malam; Sesuaikan jadwal pemberian obat/tindakan agar tidak mengganggu siklus tidur.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menetapkan rutinitas tidur yang konsisten.

Intervensi Diagnosis D.0056

  • Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi membaik, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Fasilitasi tidur di sisi tempat tidur.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring total pada fase paroksismal akut; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.

5. Perencanaan Intervensi 7-10

Intervensi Diagnosis D.0034

  • Luaran: Status Cairan Membaik (L.03028)
    • Kriteria Hasil: Turgor kulit meningkat, output urine membaik, membran mukosa lembap, intake cairan membaik.
  • Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098)
    • Observasi: Monitor status hidrasi; Monitor berat badan harian; Monitor hasil laboratorium; Monitor intake dan output cairan.
    • Terapeutik: Catat intake-output dan hitung balance cairan 24 jam; Berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan intravena jika anak tidak dapat mempertahankan hidrasi oral.

Intervensi Diagnosis D.0080

  • Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun, verbalisasi kekhawatiran akibat kondisi menurun.
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; Temani pasien dan orang tua; Gunakan pendekatan yang tenang; Dengarkan keluhan dengan penuh perhatian.
    • Edukasi: Jelaskan semua prosedur tindakan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis.

Intervensi Diagnosis D.0111

  • Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pengetahuan meningkat, persepsi keliru terhadap imunisasi menurun.
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi PHBS.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko infeksi, penularan, pentingnya menyelesaikan regimen antibiotik, serta pentingnya imunisasi dasar ulangan.

Intervensi Diagnosis D.0142

  • Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Demam menurun, sputum berwarna kehijauan/purulen menurun, kadar leukosit membaik, kultur sputum/nasofaring negatif.
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik sekunder.
    • Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien; Terapkan tindakan isolasi droplet secara ketat; Bersihkan peralatan medis setelah digunakan.
    • Edukasi: Ajarkan teknik mencuci tangan yang benar; Ajarkan etika batuk dan bersin kepada keluarga.

6. Implementasi dan Evaluasi

Proses Pelaksanaan Tindakan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah ditetapkan. Perawat melakukan tindakan observasi, terapeutik, edukasi, serta kolaboratif. Setiap tindakan didokumentasikan mencakup waktu pelaksanaan, respons objektif, dan subjektif pasien untuk memastikan kesinambungan asuhan. (IDAI, 2020)

Hasil Akhir Asuhan

Evaluasi keperawatan dilakukan menggunakan metode SOAP untuk menilai pencapaian kriteria hasil pada SLKI. Perawat memantau apakah bersihan jalan napas meningkat, pola napas membaik, status nutrisi adekuat, dan risiko deplesi cairan berhasil dicegah selama masa perawatan intensif berlangsung. (Soedarmo et al., 2018)

Rumus Klinis Kebutuhan Cairan (Holiday-Segar)

Untuk berat badan 0 hingga 10 kg: Cairan harian = Berat Badan 100 mL

Untuk berat badan lebih dari 10 kg hingga 20 kg: Cairan harian = 1000 mL + ((Berat Badan – 10) 50 mL) Untuk berat badan lebih dari 20 kg: Cairan harian = 1500 mL + ((Berat Badan – 20) 20 mL)

DAFTAR PUSTAKA

Asia Pacific Allergy. (2021). Pertussis re-emergence in children. asiaandro.com/apa/2021/045

Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Pertussis clinical education. cdc.gov/pertussis/clinical/index.html

Chinese Medical Journal. (2023). Atypical pertussis in adolescents. journals.lww.com/cmj/2023/11

European Centre for Disease Prevention and Control. (2023). Pertussis annual report. ecdc.europa.eu/en/pertussis-reports

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Indian Pediatrics. (2022). Pertussis immunization burden. indianpediatrics.net/july2022/334

Japanese Journal of Infectious Diseases. (2021). Bordetella pertussis epidemiology. niid.go.jp/niid/en/jjid.html

Jurnal Kedokteran Indonesia. (2023). Tantangan infeksi re-emerging pertusis. jki.or.id/index.php/jki/article/889

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Pencegahan Penyakit Pertusis. Jakarta: Kemenkes RI.

Korean Journal of Pediatrics. (2020). Complications of pertussis in infants. e-cep.org/journal/view.php?doi=kjp.2020.0051

Nelson, W. E. et al. (2020). Nelson Textbook of Pediatrics (21st ed.). Philadelphia: Elsevier.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2021). Panduan Praktis Penyakit Infeksi Paru. Jakarta: PDPI.

Soedarmo, S. S. P. et al. (2018). Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis (4th ed.). Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

The Lancet Infectious Diseases. (2022). Global public health control of pertussis. thelancet.com/journals/laninf/article/2022/fulltext

World Health Organization. (2023). Pertussis vaccines position paper. who.int/publications/id/item/who-wer9833-413


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *