Asma bronkial merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang menyebabkan mengis, sesak napas, dan batuk akibat hiperresponsivitas bronkus.
A. KONSEP MEDIS ASMA BRONKIAL
1. DEFINISI PENYAKIT ASMA BRONKIAL
Definisi Dari Pakar Internasional
Global Initiative for Asthma (GINA, 2024) menjelaskan bahwa asma merupakan penyakit heterogen dengan inflamasi kronis saluran napas. selain itu, kondisi ini melibatkan riwayat gejala respiratorik seperti mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu, beserta keterbatasan arus udara ekspirasi yang variabel.
Selanjutnya, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI, 2020) menegaskan bahwa gangguan inflamasi kronis tersebut dapat menyebabkan hiperresponsivitas saluran napas, sehingga menimbulkan episode mengi berulang, sesak napas, dada sesak, dan batuk, terutama pada malam atau pagi hari.
Selain itu, World Health Organization (WHO, 2023) mengategorikan asma sebagai penyakit kronis utama yang menyerang anak-anak dan orang dewasa, peradangan dan penyempitan otot-otot pada bagian saluran napas kecil memicu gejala khas berupa kesulitan bernapas.
Kemudian, British Thoracic Society (BTS, 2019) mendefinisikan gangguan ini sebagai kondisi klinis yang timbul akibat inflamasi saluran napas kronis dengan karakteristik berupa obstruksi aliran udara yang intermiten, hiperresponsivitas bronkus, dan gejala respiratorik yang reversible, baik secara spontan maupun dengan pengobatan.
Akhirnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2021). Menguraikan asma sebagai penyakit yang menyerang paru-paru secara kronis dan menyebabkan episode mengi, sesak napas, dada sesak, serta batuk pada waktu malam atau pagi hari akibat penyempitan saluran napas sementara.
(GINA, 2024, NHLBI, 2020, WHO, 2023, BTS, 2019, CDC, 2021)
Definisi Dari Pakar Asia
Sementara itu, Asia-Pacific Association of Allergy, Asthma and Clinical Immunology (APAAACI, 2022) merumuskan asma sebagai sindrom klinis kompleks dengan karakteristik berupa inflamasi mukosa saluran napas persisten yang menghasilkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai pemicu lingkungan pada kawasan Asia-Pasifik.
Lebih lanjut, Japanese Society of Allergology (JSA, 2020) mengartikan penyakit ini sebagai gangguan inflamasi kronis saluran napas yang melibatkan banyak seluler, kondisi tersebut menginduksi keterbatasan aliran udara yang fluktuatif dan hipereaktivitas trakeobronkial.
Oleh karena itu, Chinese Thoracic Society (CTS, 2020) menetapkan asma sebagai inflamasi kronis jalan napas yang memicu obstruksi aliran udara reversibel, hiperresponsivitas saluran napas, dan remodeling struktural dinding bronkus pada populasi Asia Timur.
Sejalan dengan hal tersebut, Saudi Thoracic Society (STS, 2021) memandang penyakit respirasi ini sebagai inflamasi kronis saluran napas yang bermanifestasi sebagai episode batuk dan sesak napas berulang akibat interaksi faktor genetik dan paparan debu gurun yang tinggi.
Oleh karena itu, Indian Chest Society (ICS, 2022) mendeskripsikan asma sebagai kelainan heterogen paru yang merupajan indikasi dari peradangan kronis saluran napas, keterbatasan arus udara ekspirasi variabel, dan respons berlebihan bronkus terhadap polutan udara perkotaan.
(APAAACI, 2022, JSA, 2020, CTS, 2020, STS, 2021, ICS, 2022)
Definisi Dari Pakar Indonesia
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI, 2020) merumuskan asma sebagai gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemen selular, peradangan kronik ini menyebabkan peningkatan hiperresponsivitas jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang.
Selanjutnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2019) menyatakan bahwa asma pada anak merupakan penyakit saluran napas dengan karakteristik inflamasi kronik, hiperresponsivitas bronkus, dan obstruksi saluran napas yang bersifat reversibel secara spontan atau dengan tata laksana medis.
Selain itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2022) mendefinisikan asma sebagai penyakit heterogen yang terkait dengan adanya inflamasi kronis pada saluran napas, yang bermanifestasi berupa mengi, sesak napas, dan batuk yang timbul akibat penyempitan lumen bronkus.
Lebih lanjut, Soemantri (2018) memaparkan asma bronkial sebagai suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran napas secara luas dan derajatnya dapat berubah secara spontan atau dengan terapi.
Akibatnya, Muttaqin (2019) menjelaskan asma sebagai penyakit paru obstruktif difus reversibel yang ditandai oleh penyempitan jalan napas akibat spasme otot polos bronkus, edema mukosa, dan hipersekresi mukus yang kental.
(PDPI, 2020, IDAI, 2019, Kemenkes RI, 2022, Soemantri, 2018, Muttaqin, 2019)
2. ETIOLOGI ASMA BRONKIAL
Faktor Risiko Genetik
Faktor genetik memegang peranan krusial bagi perkembangan asma. Selanjutnya, atopi atau kecenderungan memproduksi IgE berlebih menjadi fondasi dasar utama hiperresponsivitas. Riwayat keluarga yang positif asma meningkatkan risiko anak mengalaminya. Tambahan pula, variasi genetik memengaruhi respons terhadap terapi obat bronkodilator.
Faktor Pemicu Lingkungan
Lingkungan luar menyediakan pemicu instan bagi otot polos bronkus. Kemudian, debu rumah, bulu binatang, dan polusi udara mengiritasi dinding respiratorik secara masif. Infeksi virus pernapasan akut juga memperparah derajat keparahan inflamasi kronis tersebut. Akhirnya, perubahan cuaca dingin ekstrem sering kali menginduksi serangan asma malam hari secara mendadak.
(GINA, 2024, PDPI, 2020)
3. PATOFISIOLOGI DAN PENYIMPANGAN KDM
Mekanisme Destruksi Saluran Napas
Paparan alergen memicu pelepasan histamin dan leukotrien dari sel mast secara masif. Seterusnya, pembuluh darah kapiler mengalami peningkatan permeabilitas yang berujung pada edema mukosa bronkus. Otot polos bronkus berkontraksi hebat, sehingga lumen saluran napas menyempit drastis. Kondisi ini menurunkan ventilasi udara alveolar secara signifikan.
Implikasi KDM (Pathway)
Alergen, Infeksi, Polusi, Udara Cold/Dingin
│
▼
Masuk ke Saluran Pernapasan
│
▼
Reaksi Hipersensitivitas Tipe I
│
▼
Sel Mast Melepaskan Mediator (Histamin, Leukotrien)
│
┌────────┴────────┬────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Bronkospasme Edema Mukosa Hipersekresi Mukus
│ │ │
▼ ▼ ▼
Penyempitan Lumen Penebalan Dinding Sputum Kental &
Saluran Napas Saluran Napas Banyak
│ │ │
└────────┬────────┘ ▼
▼ Penyumbatan Jalan
Obstruksi Jalan Napas Napas
│ │
┌────────┴────────┐ ▼
▼ ▼ [BERSIHAN JALAN
Peningkatan Penyempitan NAPAS TIDAK EFEKTIF]
Resistensi Aliran Lumen saat
Udara Ekspirasi
│ │
▼ ▼
Sesak Napas Air Trapping
│ (Udara Terjebak)
▼ ▼
Penggunaan Hiperinflasi Paru
Otot Bantu Napas │
│ ▼
▼ Gangguan Ventilasi
[POLA NAPAS Alveolar
TIDAK EFEKTIF] │
▼
Hipoksia Jaringan
│
┌────────┴────────┐
▼ ▼
Metabolisme [GANGGUAN
Anaerob PERTUKARAN GAS]
│
▼
Produksi ATP
Menurun
│
▼
Kelemahan
│
▼
[INTOLERANSI
AKTIVITAS]
(Muttaqin, 2019, Soemantri, 2018)
4. GAMBARAN KLINIS
Data Subjektif Pasien
Pasien secara subjektif mengeluhkan sesak napas yang berat saat beraktivitas ringan. Di samping itu, mereka mengadukan sensasi dada terikat kencang yang menyiksa keperawatan. Batuk kering berulang pada dini hari sering dikeluhkan mengganggu waktu tidur pasien. Kesulitan mengeluarkan dahak kental menjadi keluhan sekunder utama pasien.
Data Objektif Klinis
Secara objektif terlihat retraksi dinding dada suprasternal yang jelas selama inspirasi. Sementara itu, auskultasi menunjukkan suara mengi (wheezing) ekspirasi yang dominan di semua lapang paru. Takipnea nyata dengan frekuensi pernapasan melebihi batas normal terpantau konstan. Sianosis perifer dan diaphoresis masif melambangkan derajat serangan yang berat.
(GINA, 2024, PDPI, 2020)
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium Terkait
Analisis gas darah menunjukkan gambaran asidosis respiratorik akut pada stadium lanjut serangan. Sebaliknya, pemeriksaan darah rutin mengonfirmasi adanya eosinofilia yang konsisten dengan proses alergi. Kadar IgE total serum meningkat tajam mendukung diagnosis asma atopik ekstrinsik. Sputum mengandung kristal Charcot-Leyden hasil degenerasi eosinofil.
Pemeriksaan Radiologi dan Fungsi Paru
Foto toraks menyingkapkan tanda hiperinflasi paru berupa diafragma yang mendatar dan rendah. Lebih lanjut, spirometri mencatat penurunan tajam nilai FEV1 di bawah angka prediksi normal. Uji reversibilitas bronkodilator menunjukkan perbaikan FEV1 sebesar minimal dua belas persen pasca-inhalasi. Peak flow meter mendeteksi variabilitas harian arus ekspirasi.
(GINA, 2024, PDPI, 2020, NHLBI, 2020)
6. TINDAKAN TERAPEUTIK
Terapi Farmakologis Utama
Pemberian inhalasi Short-Acting Beta-2 Agonist (SABA) bekerja cepat melonggarkan jalan napas akut. Di sisi lain, kortikosteroid inhalasi (ICS) diaplikasikan sebagai agen pengontrol inflamasi harian. Kombinasi ICS dan LABA direkomendasikan guna menstabilkan hiperresponsivitas bronkus kronis. Aminofilin intravena dicadangkan untuk kasus status asmatikus refrakter.
Terapi Non-Farmakologis Medis
Terapi oksigen kanul nasal bertujuan menjaga saturasi hemoglobin tetap di atas batas kritis. Bersamaan dengan itu, hidrasi cairan intravena yang adekuat mencegah pengentalan sekret saluran pernapasan. Edukasi modifikasi lingkungan rumah difokuskan demi menyingkirkan paparan alergen utama. Latihan pernapasan senam asma meningkatkan efisiensi otot respiratorik.
(GINA, 2024, PDPI, 2020)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Klinis
Riwayat dan Identitas Pasien
Pengkajian identitas mendata faktor usia, jenis kelamin, serta riwayat paparan polusi lingkungan industri tempat kerja. Evaluasi riwayat kesehatan meneliti onset terjadinya serangan, durasi, serta frekuensi penggunaan obat inhaler pelonggar napas secara mandiri oleh pasien di rumah.
Pemeriksaan Fisik Sistem Respirasi
Inspeksi mengamati pola pernapasan cepat, dangkal, disertai penggunaan otot bantu napas yang sinkron. Palpasi meraba penurunan taktil fremitus di kedua basal paru secara simetris. Perkusi menghasilkan bunyi hipersonor akibat fenomena jebakan udara alveolar. Auskultasi mendeteksi ronkhi kering serta mengi ekspirasi bernada tinggi.
Pengkajian Fisik Sistem Non-Respirasi
Sistem kardiovaskular menunjukkan takikardia kompensatorik sekunder akibat kondisi hipoksia sistemik tubuh. Pemeriksaan sistem integumen mendeteksi pengeluaran keringat dingin berlebih serta pembuluh darah perifer menyempit. Pola fungsi Gordon mendeteksi gangguan pola tidur akibat batuk malam hari serta penurunan nafsu makan yang signifikan.
(PPNI, 2017, Muttaqin, 2019)
2. Formulasi Masalah
Diagnosis Respirasi Utama
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d. spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas.
- Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) b.d. hambatan upaya napas, kelelahan otot pernapasan.
- Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) b.d. ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
Diagnosis Aktivitas dan Psikososial
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
- Ansietas (D.0080) b.d. krisis situasional, threat kematian akibat gangguan respirasi.
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d. hambatan lingkungan sekunder akibat batuk obstruktif.
Diagnosis Nutrisi dan Edukasi
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. peningkatan kebutuhan metabolisme dan dispnea saat makan.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d. kurang terpapar informasi manajemen kondisi mandiri.
- Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027) b.d. efek samping terapi kortikosteroid sistemik.
- Risiko Cedera (D.0136) f.d. disfungsi autoimun dan hipoksia serebral akut.
(PPNI, 2017)
Intervensi Asuhan
Rencana Diagnosis 1 s.d. 3
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran: Bersihan Jalan Napas Meningkat (L.01001) dengan kriteria hasil: Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, mengi menurun, frekuensi napas membaik ($16-20\text{ kali/menit}$).
- Intervensi: Manajemen Jalan Napas (I.01011)
- Observasi: Monitor pola napas; monitor bunyi napas tambahan; monitor sputum.
- Terapeutik: Pertahankan kepatenan jalan napas; posisikan semi-Fowler atau Fowler; berikan minum hangat.
- Edukasi: Anjurkan asupan cairan $2000\text{ mL/hari}$; ajarkan teknik batuk efektif.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik.
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Luaran: Pola Napas Membaik (L.01004) dengan kriteria hasil: Dispnea menurun, penggunaan otot bantu napas menurun, pemanjangan fase ekspirasi menurun.
- Intervensi: Pemantauan Respirasi (I.01014)
- Observasi: Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas; auskultasi bunyi napas.
- Terapeutik: Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien; dokumentasikan hasil.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan.
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003)
- Luaran: Pertukaran Gas Meningkat (L.01003) dengan kriteria hasil: Dispnea menurun, PCO membaik membaik, saturasi oksigen meningkat.
- Intervensi: Terapi Oksigen (I.01026)
- Observasi: Monitor kecepatan aliran oksigen; monitor posisi alat terapi; monitor tanda hipoventilasi.
- Terapeutik: Bersihkan sekret pada hidung dan mulut; pertahankan kepatenan jalan napas; berikan oksigen tambahan.
- Edukasi: Ajarkan pasien dan keluarga cara menggunakan oksigen di rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi penentuan dosis oksigen.
Rencana Diagnosis 4 s.d. 6
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran: Toleransi Aktivitas Meningkat (L.05047) dengan kriteria hasil: Frekuensi nadi membaik, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun.
- Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
- Observasi: Monitor kelelahan fisik dan emosional; monitor pola dan jam tidur.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman; lakukan latihan rentang gerak pasif/aktif.
- Edukasi: Anjurkan tirah baring; anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) dengan kriteria hasil: Perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun, frekuensi nadi membaik.
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
- Observasi: Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
- Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; dengarkan dengan penuh perhatian.
- Edukasi: Jelaskan prosedur tindakan; informasikan secara faktual mengenai diagnosis; ajarkan teknik relaksasi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu.
Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur Membaik (L.05045) dengan kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun.
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
- Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur.
- Terapeutik: Modifikasi lingkungan; batasi waktu tidur siang jika perlu.
- Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup; ajarkan relaksasi otot autogenik.
Rencana Diagnosis 7 s.d. 10
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi Membaik (L.03030) dengan kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik.
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Identifikasi status nutrisi; monitor asupan makanan; monitor berat badan.
- Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan; berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
- Edukasi: Anjurkan posisi duduk tegak saat makan.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Luaran: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) dengan kriteria hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat.
- Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383)
- Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
- Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi; berikan kesempatan bertanya.
- Edukasi: Jelaskan pemicu kekambuhan; ajarkan penggunaan alat inhalasi secara mandiri.
Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0027)
- Luaran: Kestabilan Kadar Glukosa Darah Meningkat (L.03022) dengan kriteria hasil: Kadar glukosa darah membaik.
- Intervensi: Manajemen Hiperglikemia (I.03115)
- Observasi: Monitor kadar glukosa darah; monitor tanda hiperglikemia.
- Terapeutik: Berikan asupan cairan oral yang cukup.
- Edukasi: Anjurkan kepatuhan terhadap diet.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian insulin jika diperlukan.
Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera Menurun (L.14136) dengan kriteria hasil: Kejadian cedera menurun.
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537)
- Observasi: Monitor perubahan status kognitif atau fisik.
- Terapeutik: Gunakan pengaman tempat tidur; atur posisi tempat tidur pada posisi terendah.
- Edukasi: Jelaskan alasan intervensi pencegahan jatuh kepada keluarga.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan Kedaruratan Utama
keperawatan dilaksanakan secara simultan berdasarkan prioritas masalah kedaruratan sistem respiratorik. Perawat menempatkan posisi Fowler tinggi demi meringankan kerja paru pasien. Selanjutnya, pemantauan ketat frekuensi napas dan saturasi oksigen dikerjakan konstan.
Tindakan Tindak Lanjut
Pemberian inhalasi obat SABA difasilitasi dengan teknik masker nebulizer yang presisi. Perawat melatihkan pengeluaran sekret lewat modifikasi teknik batuk efektif secara berkala. Manajemen lingkungan dijalankan dengan mensterilkan ruangan perawatan dari polutan udara eksternal.
(Muttaqin, 2019)
5. Evaluasi Hasil
Penilaian Jalan Napas
Evaluasi format SOAP mendokumentasikan respon subjektif pasien yang menyatakan sesak napas berkurang drastis. Pemeriksaan objektif membuktikan suara mengi ekspirasi menghilang sepenuhnya dari trakeobronkial. Status bersihan jalan napas dinyatakan teratasi sehingga intervensi dihentikan perawat.
Penilaian Pola dan Gas Darah
Pola pernapasan kembali stabil menyentuh rentang frekuensi normal fisiologis manusia. Hasil pemantauan laboratorium gas darah mengonfirmasi saturasi oksigen menetap di atas batas normal. Kerangka perencanaan diposisikan pada status selesai rawat inap untuk dilanjutkan pengobatan mandiri.
(Soemantri, 2018)
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Muttaqin, A. (2019). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Soemantri, I. (2018). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Jurnal:
APAAACI. (2022). Asia-Pacific Asthma Guidelines. Allergy, 77(4), 1110-1125. [allergy.org/apaaaci]BTS. (2019). British Guideline on Management of Asthma. Thorax, 74(3), 1-140. [bmi.com/content/74]
CDC. (2021). Asthma Surveillance Data. MMWR, 70(5), 145-160. [cdc.gov/mmwr]
CTS. (2020). Asthma Prevention in China. Chinese Medical Journal, 133(20), 2440-2453. [journals.lww.com/cmj]
GINA. (2024). Global Strategy for Asthma. GINA Report, 1-230. [ginasthma.org]
ICS. (2022). Indian Guidelines for Asthma. Indian Journal of Chest, 64(2), 85-98. [ijcd.org]
JSA. (2020). Japanese Guidelines for Adult Asthma. Allergology International, 69(4), 512-526. [sciencedirect.com]
NHLBI. (2020). Asthma Management Guidelines. JACI, 146(6), 1217-1270. [jacionline.org]
PDPI. (2020). Pedoman Diagnosis Asma Indonesia. Jurnal Respirologi Indonesia, 40(3), 185-200. [jurnalrespirologi.org]
WHO. (2023). Chronic Respiratory Diseases Report. WHO Press, 12(2), 75-89. [who.int]

Tinggalkan Balasan