I. Analisis Definisi Ilmiah: Nausea
Nausea (Mual) merupakan fenomena subjektif berupa perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorok atau lambung yang dapat mengakibatkan muntah. Secara patofisiologis, nausea melibatkan aktivasi pusat muntah di medula oblongata oleh berbagai input aferen, termasuk dari saluran gastrointestinal (melalui saraf vagus), sistem vestibular (keseimbangan), maupun korteks serebri (psikologis/antisipatori). Pengelolaan nausea dalam keperawatan bertujuan untuk meningkatkan status kenyamanan, menjaga keseimbangan cairan-elektrolit, serta memastikan asupan nutrisi tetap adekuat melalui intervensi farmakologis maupun non-farmakologis.
II. Tabel Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Diagnosis: Nausea
Luaran Utama: Tingkat Nausea (L.08065)
Luaran Tambahan: Fungsi Gastrointestinal, Keseimbangan Cairan, Keseimbangan Elektrolit, Kontrol Mual/Muntah, Nafsu Makan, Status Kenyamanan, Status Menelan, Status Nutrisi, Tingkat Ansietas.
Indikator | Menurun (1) | Cukup Menurun (2) | Sedang (3) | Cukup Meningkat (4) | Meningkat (5) |
Nafsu makan | ✔ |
Indikator | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Perasaan ingin muntah | ✔ | ||||
Perasaan mual | ✔ | ||||
Sensasi panas/dingin | ✔ | ||||
Frekuensi menelan | ✔ | ||||
Diaphoresis | ✔ | ||||
Pucat | ✔ |
III. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
1. Manajemen Mual (I.03117)
Observasi:
- Identifikasi karakteristik mual (mis. frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan).
- Identifikasi faktor penyebab mual (mis. makanan, bau, obat-obatan, atau faktor psikologis).
- Monitor asupan nutrisi dan cairan untuk mencegah dehidrasi.
Terapeutik:
- Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis. bau tidak sedap, suara bising, cahaya yang terlalu terang).
- Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik.
- Berikan kebersihan mulut (oral hygiene) untuk mengurangi sensasi mual.
Edukasi:
- Anjurkan makan sedikit tapi sering.
- Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologis untuk mengatasi mual (mis. relaksasi, imajinasi terbimbing, atau kompres dingin).
Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian antiemetik (obat anti mual) sesuai indikasi medis.
2. Manajemen Muntah (I.03118)
Observasi:
- Identifikasi karakteristik muntah (mis. warna, konsistensi, adanya darah, waktu, dan seberapa banyak).
- Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit akibat pengeluaran cairan saat muntah.
Terapeutik:
- Atur posisi untuk mencegah aspirasi (mis. posisi miring atau kepala lebih tinggi).
- Bersihkan mulut dan hidung setelah muntah untuk menjaga kenyamanan.
- Sediakan kantong muntah di tempat yang mudah dijangkau.
Edukasi:
- Anjurkan membawa kantong muntah saat bepergian.
- Ajarkan penggunaan teknik relaksasi untuk meminimalkan rangsangan muntah.
Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian cairan intravena (infus) jika terjadi dehidrasi berat.
3. Manajemen Hipovolemia (I.03116)
Observasi:
- Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, turgor kulit menurun, mukosa bibir kering).
- Monitor intake dan output cairan secara ketat.
Terapeutik:
- Berikan asupan cairan oral (mis. sedikit demi sedikit agar tidak memicu mual kembali).
- Hitung kebutuhan cairan berdasarkan berat badan dan derajat kehilangan cairan.
Edukasi:
- Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral jika mual sudah mulai mereda.
- Jelaskan tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai pasien/keluarga.
Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian produk darah atau cairan koloid/kristaloid sesuai instruksi dokter.
IV. Literatur
- PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Tomey, A. M., & Alligood, M. R. (2014). Nursing Theorists and Their Work. Elsevier (Digunakan sebagai landasan teori kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia).


Tinggalkan Balasan