Tingkat Aspirasi (L.01006)

Tingkat Aspirasi (L.01006)

by

in

I. Hierarki Luaran Keperawatan (SLKI)

Diagnosis Keperawatan
Luaran Utama
Luaran Tambahan
Risiko Aspirasi
Tingkat Aspirasi (L.01006)
Kontrol Mual/Muntah, Kontrol Risiko, Status Menelan, Status Neurologis

Definisi Luaran Utama (Tingkat Aspirasi): Tingkat masuknya partikel cair atau padat ke dalam saluran trakeobronkial akibat disfungsi mekanisme menelan.

Ekspektasi: Menurun.


II. Intervensi Keperawatan (SIKI) Terkait

Berdasarkan kebutuhan untuk mencegah masuknya partikel ke saluran napas, berikut adalah tiga intervensi utama dengan format OTEK:

1. Pencegahan Aspirasi (I.01018)

  • Observasi:
    • Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah, dan kemampuan menelan.
    • Monitor status pernapasan dan bunyi napas tambahan (mis. ronkhi) setelah makan.
    • Periksa residu gaster sebelum pemberian makanan melalui pipa lambung (NGT).
  • Terapeutik:
    • Posisikan tempat tidur 30 hingga 45 derajat (fowler/semi-fowler) saat makan dan 30—60 menit setelah makan.
    • Hindari memberikan makanan melalui pipa lambung jika residu gaster tinggi.
    • Sediakan alat penghisap lendir (suction) di samping tempat tidur sebagai antisipasi.
  • Edukasi:
    • Anjurkan makan dalam porsi kecil dan sering.
    • Ajarkan cara membersihkan mulut setelah makan untuk mencegah penumpukan sisa makanan.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan konsistensi makanan yang tepat (mis. makanan lunak atau kental).

2. Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum (I.11351)

  • Observasi:
    • Identifikasi diet yang dianjurkan (mis. cair, bubur saring).
    • Identifikasi kemampuan menelan dan refleks muntah (gag reflex).
  • Terapeutik:
    • Ciptakan lingkungan yang menyenangkan dan tenang saat makan.
    • Berikan bantuan makan jika perlu, namun tetap dorong kemandirian sesuai batas kemampuan.
    • Pastikan makanan diletakkan pada sisi mulut yang tidak mengalami gangguan motorik (jika ada parese).
  • Edukasi:
    • Anjurkan duduk tegak saat makan dan minum untuk memudahkan proses menelan.
  • Kolaborasi:
    • Rujuk ke terapis wicara untuk evaluasi mekanisme menelan jika terjadi disfagia.

3. Manajemen Jalan Napas (I.01011)

  • Observasi:
    • Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas).
    • Monitor adanya bunyi napas tambahan (gurgling) yang menandakan adanya sekret atau partikel di jalan napas.
  • Terapeutik:
    • Lakukan penghisapan lendir (suction) jika terdapat akumulasi sekret di jalan napas.
    • Pertahankan kepatenan jalan napas dengan teknik yang tepat.
  • Edukasi:
    • Ajarkan keluarga cara melakukan pertolongan pertama jika terjadi tersedak (mis. Heimlich maneuver pada kondisi sadar).
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi pemberian bronkodilator atau mukolitik jika diperlukan untuk menjaga kebersihan jalan napas.

III. Referensi Literatur

  1. PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  2. PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
  3. Brunner & Suddarth (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer.
  4. Ackley, B. J., Ladwig, G. B., Flynn Makic, M. B., Martinez-Kratz, M. L., & Zanotti, M. (2019). Nursing Diagnosis Handbook: An Evidence-Based Guide to Planning Care. Elsevier.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *