Daftar Isi
I. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
Termoregulasi (L.14134)
Definisi: Pengaturan suhu tubuh agar tetap berada pada rentang normal.
- Ekspektasi: Membaik
Tabel Kriteria Hasil Luaran Keperawatan
Kriteria Hasil | Meningkat (1) | Cukup Meningkat (2) | Sedang (3) | Cukup Menurun (4) | Menurun (5) |
Menggigil | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kulit merah | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kejang | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Akrosianosis | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pucat | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Takikardi | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Kriteria Hasil | Memburuk (1) | Cukup Memburuk (2) | Sedang (3) | Cukup Membaik (4) | Membaik (5) |
Suhu tubuh | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Suhu kulit | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
Pengisian kapiler | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
II. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Berikut adalah 3 intervensi utama yang dipilih secara spesifik untuk mengintervensi Termoregulasi (L.14134):
1. Manajemen Hipertermia (I.14506)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola peningkatan suhu tubuh akibat disfungsi termoregulasi.
- Observasi (O):
- Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator, infeksi).
- Monitor suhu tubuh secara berkala untuk memantau penurunan atau kenaikan ekstrim.
- Monitor kadar elektrolit serum jika dicurigai ada gangguan cairan.
- Monitor adanya komplikasi akibat hipertermia (mis. kejang, takikardi, penurunan kesadaran).
- Terapeutik (T):
- Sediakan lingkungan yang dingin dan sirkulasi udara yang baik.
- Longgarkan atau lepaskan pakaian pasien untuk membantu proses evaporasi.
- Basahi dan kipasi permukaan tubuh pasien, atau berikan kompres hangat pada aksila, dahi, dan lipatan paha.
- Berikan cairan oral yang cukup untuk mengganti kehilangan cairan akibat penguapan.
- Edukasi (E):
- Anjurkan tirah baring (bed rest) total untuk menurunkan laju metabolisme basal yang memproduksi panas tubuh.
- Ajarkan keluarga cara melakukan kompres hangat yang benar secara mandiri.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena jika asupan oral tidak adekuat.
- Kolaborasi pemberian obat antipiretik atau antikonvulsan (jika terjadi kejang) sesuai instruksi medis.
2. Manajemen Hipotermia (I.14507)
Definisi: Mengidentifikasi dan mengelola penurunan suhu tubuh di bawah rentang normal.
- Observasi (O):
- Monitor suhu tubuh menggunakan termometer yang sesuai (mis. termometer aksila atau rektal).
- Identifikasi penyebab hipotermia (mis. terpapar suhu lingkungan rendah, pakaian basah, kerusakan hipotalamus).
- Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia (mis. menggigil, akrosianosis, pucat, pengisian kapiler memburuk/lambat).
- Terapeutik (T):
- Pindahkan pasien ke lingkungan yang lebih hangat dan kering.
- Ganti pakaian yang basah atau lembap dengan pakaian yang kering dan hangat.
- Lakukan penghangatan pasif (mis. memberikan selimut tebal, menutup bagian kepala).
- Lakukan penghangatan aktif eksternal jika diperlukan (mis. menggunakan lampu penghangat, botol air hangat, atau radiant warmer pada neonatus).
- Edukasi (E):
- Jelaskan tanda-tanda awal hipotermia (seperti tubuh menggigil dan kulit pucat/dingin) kepada pasien atau keluarga.
- Anjurkan mengonsumsi minuman hangat untuk membantu meningkatkan suhu inti tubuh dari dalam, jika pasien sadar penuh.
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi pemberian cairan intravena yang telah dihangatkan (warmed IV fluids) jika terdapat indikasi dehidrasi atau hipotermia berat.
3. Regulasi Temperatur (I.14578)
Definisi: Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal untuk mencegah komplikasi sistemik.
- Observasi (O):
- Monitor suhu tubuh anak/pasien secara konstan sampai mencapai kondisi stabil.
- Monitor warna kulit, kelembapan, dan tanda-tanda akrosianosis atau kulit merah.
- Monitor dan catat tanda-tanda vital lainnya (frekuensi nadi/takikardi, pernapasan, tekanan darah).
- Monitor pengisian kapiler (capillary refill time) untuk menilai kualitas perfusi jaringan perifer selama fluktuasi suhu.
- Terapeutik (T):
- Pasang alat pemantau suhu kontinu (temperature probe), jika tersedia pada pasien kritis atau neonatus.
- Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien (mis. mengatur suhu ruangan atau inkubator).
- Pertahankan kelembapan inkubator di atas 50% untuk mengurangi kehilangan panas secara evaporasi pada neonatus.
- Edukasi (E):
- Demonstrasikan teknik perawatan metode kangguru (kangaroo mother care) untuk mempertahankan termoregulasi bayi baru lahir.
- Informasikan kepada orang tua/keluarga mengenai pentingnya meminimalkan paparan udara dingin langsung (mis. tiupan angin dari kipas angin atau AC).
- Kolaborasi (K):
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi spesifik jika fluktuasi suhu tubuh disebabkan oleh infeksi sistemik (seperti pemberian antibiotik).
III. Literatur / Referensi
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Persatuan Perawat Nasional Indonesia / PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
- Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing, 14th Edition. Philadelphia: Wolters Kluwer. (Referensi keperawatan medikal bedah untuk prinsip-prinsip homeostasis, penanganan demam, syok sirkulasi, dan pemulihan pengisian kapiler).
- Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children, 11th Edition. St. Louis: Elsevier. (Referensi pediatrik klinis untuk manajemen kejang demam dan regulasi temperatur inkubator pada neonatus).


Tinggalkan Balasan