RISIKO HIPOTERMIA PERIOPERATIF (D.0141)

RISIKO HIPOTERMIA PERIOPERATIF (D.0141)

by

in

DIAGNOSA RISIKO HIPOTERMIA PERIOPERATIF (D.0141)

A DEFINISI 

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), risiko hipotermia perioperatif didefinisikan sebagai risiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 36°C secara tiba-tiba yang terjadi satu jam sebelum induksi anestesi sampai dengan 24 jam setelah pembedahan. Kondisi ini difokuskan pada kerentanan individu akibat prosedur invasif dan lingkungan operatif.
  2. Association of periOperative Registered Nurses (AORN) Definisi menurut organisasi ini menekankan pada “Unplanned Perioperative Hypothermia” (UPH), yaitu suatu kondisi tidak disengaja di mana suhu inti tubuh pasien turun di bawah 36°C ($96.8^{\circ}F$) selama salah satu dari tiga fase perioperatif. AORN menitikberatkan pada kegagalan mempertahankan normotermia akibat paparan lingkungan ruang operasi dan efek farmakologis.
  3. American Society of PeriAnesthesia Nurses (ASPAN) ASPAN mendefinisikan diagnosa ini sebagai ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan suhu inti yang optimal akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang dipicu oleh tindakan anestesi (baik umum maupun regional) yang disertai dengan paparan suhu ruangan yang rendah, penggunaan cairan irigasi dingin, dan prosedur pembedahan yang lama.
  4. Daniel I. Sessler (Pakar Termoregulasi Global) Menurut Sessler, risiko ini merupakan fenomena fisiologis yang didorong oleh redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Hal ini terjadi karena anestesi menyebabkan vasodilatasi yang kuat dan menekan ambang batas vasokonstriksi di hipotalamus, sehingga panas tubuh berpindah ke jaringan yang lebih dingin tanpa adanya kompensasi metabolisme yang memadai.
  5. Jane C. Rothrock (Pakar Keperawatan Perioperatif) Dalam literatur asuhan keperawatan perioperatif, diagnosa ini dijelaskan sebagai status kerentanan pasien bedah terhadap kehilangan panas tubuh melalui proses radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi selama berada di lingkungan ruang terkendali, yang jika tidak dimitigasi akan mengganggu proses pemulihan dan stabilitas hemodinamik pascaoperasi.

B. RISIKO HIPOTERMIA PERIOPERATIF (D.0141)

Definisi Ilmiah

Risiko hipotermia perioperatif merupakan kondisi kerentanan individu terhadap penurunan suhu inti tubuh secara tidak sengaja di bawah 36°C. Fase ini mencakup periode preoperatif (satu jam sebelum induksi), intraoperatif, hingga 24 jam pascaoperatif. Fenomena ini sering terjadi akibat gangguan termoregulasi yang dipicu oleh agen anestesi, paparan lingkungan ruang operasi yang dingin, serta prosedur pembedahan yang lama.

C. FAKTOR RISIKO

Penegakan diagnosis risiko ini didasarkan pada keberadaan faktor-faktor berikut yang meningkatkan probabilitas ketidakseimbangan termal:

  1. Prosedur Pembedahan: Durasi operasi yang panjang meningkatkan paparan organ dalam terhadap suhu lingkungan.
  2. Intervensi Anestesi: Penggunaan kombinasi anestesi regional dan umum menekan vasokonstriksi perifer dan ambang batas menggigil.
  3. Kondisi Fisiologis Pre-eksis: Skor American Society of Anesthesiologists (ASA) > 1, suhu awal pra-operasi yang sudah rendah (< 36°C), serta indeks massa tubuh yang ekstrem.
  4. Komorbiditas: Adanya neuropati diabetik atau gangguan kardiovaskular yang menghambat respon kompensasi termal tubuh.
  5. Transfer Panas Konduktif & Konvektif: Penggunaan cairan infus volume tinggi atau irigasi (> 2 liter) yang tidak dihangatkan, serta suhu ruangan operasi yang rendah.

C. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Ekspektasi klinis yang diharapkan adalah Termoregulasi Membaik (L.14134), yang ditandai dengan:

  1. Stabilitas Suhu Tubuh: Suhu inti berada dalam rentang 36,5°C – 37,5°C.
  2. Reduksi Respon Autonom: Menurunnya frekuensi menggigil (shivering) dan akral dingin.
  3. Keseimbangan Metabolik: Tekanan darah dan frekuensi nadi stabil sebagai indikator fungsi termoregulasi pusat yang adekuat.

D. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Tindakan pembedahan 

E. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Manajemen harus dilakukan secara proaktif melalui dua pendekatan utama:

  1. Manajemen Hipotermia (I.14507)
  • Penghangatan Aktif Eksternal: Penggunaan forced-air warming (FAW) dianggap sebagai standar emas oleh banyak organisasi keperawatan perioperatif internasional untuk mempertahankan normotermia.
  • Penghangatan Aktif Internal: Pemberian cairan intravena dan gas anestesi yang dihangatkan menggunakan perangkat fluid warmer.
  • Monitor Suhu Kontinu: Pemantauan suhu inti (misalnya melalui esofagus, membran timpani, atau rektal) selama prosedur berlangsung.
  1. Pemantauan Hemodinamik Invasif (I.02058)
  • Pemantauan parameter tekanan dan oksigenasi untuk menilai respon kardiovaskular terhadap stres dingin, terutama pada pasien dengan risiko tinggi atau pembedahan mayor.

F.  TINJAUAN PAKAR: EFEK FISIOLOGIS HIPOTERMIA

Menurut literatur keperawatan perioperatif (AORN & ASPAN), hipotermia yang tidak terencana dapat menyebabkan konsekuensi klinis yang serius, termasuk peningkatan risiko infeksi area sayatan operasi (SSI), gangguan koagulasi yang memicu perdarahan meningkat, serta perlambatan metabolisme obat anestesi yang memperlama waktu pemulihan di ruang PACU.

DAFTAR PUSTAKA

American Society of PeriAnesthesia Nurses (ASPAN). (2020). Clinical Practice Guideline for the Promotion of Perioperative Normothermia. Cherry Hill: ASPAN.

Association of periOperative Registered Nurses (AORN). (2021). Guideline for Prevention of Unplanned Patient Hypothermia. Denver: AORN, Inc.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Rothrock, J. C. (2018). Alexander’s Care of the Patient in Surgery. St. Louis: Elsevier.

Sessler, D. I. (2016). Perioperative Thermoregulation and Heat Balance. The Lancet, 387(10038), 2655-2664.