RISIKO GANGGUAN PERTUMBUHAN (D.0108)

RISIKO GANGGUAN PERTUMBUHAN (D.0108)

by

in

RISIKO GANGGUAN PERTUMBUHAN (D.0108)

A. DEFINISI

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Beresiko mengalami gangguan pertumbuhan atau hambatan fisik (seperti berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala) yang tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan menurut kelompok usia dan jenis kelamin.
  2. Hockenberry & Wilson Suatu kondisi kerentanan pada anak untuk gagal mencapai potensi pertumbuhan fisik optimalnya yang diukur melalui parameter antropometri primer, seringkali dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik, kesehatan kronis, dan lingkungan psikososial.
  3. Marilynn E. Doenges Kondisi di mana individu memiliki risiko tinggi mengalami kegagalan untuk tumbuh subur (failure to thrive) yang ditandai dengan ketidakmampuan mempertahankan kecepatan pertumbuhan yang konsisten sesuai dengan standar pertumbuhan nasional atau internasional.
  4. World Health Organization (WHO) Kerentanan terhadap penyimpangan pertumbuhan fisik yang meliputi kondisi stunting (pendek), wasting (kurus), atau hambatan pertumbuhan linear lainnya akibat akumulasi dari defisiensi nutrisi yang berulang, infeksi, serta stimulasi psikososial yang tidak adekuat.
  5. Black & Hawks Suatu risiko ketidaksesuaian perkembangan fisik tubuh terhadap standar normal yang diharapkan, yang berkaitan dengan kegagalan fungsi fisiologis tubuh dalam menyerap nutrisi atau adanya tuntutan metabolik yang tinggi akibat kondisi patologis tertentu.

B. FAKTOR RISIKO

Penegakan diagnosis risiko ini didasarkan pada keberadaan faktor-faktor yang dapat menghambat pertumbuhan optimal, yang meliputi:

  1. Faktor Ibu/Maternal
  • Ibu dengan riwayat malnutrisi saat kehamilan.
  • Paparan teratogen (alkohol, obat-obatan terlarang, atau infeksi TORCH).
  • Kematian maternal atau gangguan kesehatan mental ibu (misalnya depresi pascapersalinan) yang mengganggu pola asuh.

2. Faktor Anak

  • Prematuritas atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
  • Penyakit kronis (misalnya penyakit jantung bawaan atau gangguan ginjal).
  • Kelainan genetik atau kromosom (seperti Down Syndrome).
  • Nafsu makan rendah atau kesulitan menyusu/makan.

3. Faktor Lingkungan dan Psikososial

  • Ketidakadekuatan asupan nutrisi secara kualitas maupun kuantitas.
  • Kemiskinan atau keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan gizi.
  • Stimulasi yang tidak memadai dari lingkungan keluarga.

C. KONDIS KLINIS TERKAIT 

  1. Prematuritas.
  2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
  3. Kelainan jantung bawaan.
  4. Penyakit infeksi kronis (mis. Tuberkulosis/TBC, HIV/AIDS).
  5. Kelainan genetik (mis. Down Syndrome, Turner Syndrome).
  6. Penyakit ginjal kronis.
  7. Gangguan endokrin (mis. Hipotiroidisme, Defisiensi Hormon Pertumbuhan).
  8. Penyakit gastrointestinal (mis. Celiac disease, Inflammatory Bowel Disease, Sindrom Malabsorbsi).
  9. Cerebral Palsy.
  10. Kanker pada anak.
  11. Bibir sumbing atau palatoskisis.
  12. Failure to Thrive (Gagal tumbuh).
  13. Anemia defisiensi besi.
  14. Stunting atau Wasting.
  15. Gangguan makan pada bayi atau anak.

D. LUARAN KEPERAWATAN (SLKI)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Status Pertumbuhan (L.10102) membaik dengan kriteria hasil: 

  1. Berat badan sesuai usia meningkat.
  2. Panjang/tinggi badan sesuai usia meningkat.
  3. Lingkar kepala sesuai usia dalam batas normal.
  4. Indeks Massa Tubuh (IMT) membaik. e. Nafsu makan meningkat.

D. INTERVENSI KEPERAWATAN (SIKI)

Tindakan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko gangguan pertumbuhan meliputi:

  1. Skrining Kesehatan (I.14581)
  • Melakukan identifikasi populasi target yang berisiko (misalnya balita dengan BBLR).
  • Melakukan pengukuran antropometri secara rutin (BB, TB/PB, LiLA, dan Lingkar Kepala).
  • Memantau hasil pengukuran pada kurva pertumbuhan (KMS/WHO Chart).

2. Manajemen Nutrisi (I.03119)

  • Identifikasi status nutrisi dan kebutuhan kalori harian.
  • Berikan edukasi kepada orang tua mengenai pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi seimbang.
  • Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet khusus jika terdapat penyakit penyerta.

3. Promosi Perkembangan (I.10340)

  • Memberikan motivasi pada orang tua untuk melakukan stimulasi tumbuh kembang.
  • Memantau pencapaian milestones perkembangan anak seiring dengan pertumbuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (8th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier Saunders.

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2019). Nursing Care Plans: Guidelines for Individualizing Patient Care Across the Life Span (10th ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children (11th ed.). St. Louis, Missouri: Elsevier.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

World Health Organization (WHO). (2023). Levels and Trends in Child Malnutrition: WHO / UNICEF / World Bank Group Joint Child Malnutrition Estimates. Geneva: WHO Press.