KONSEP MEDIS PADA KANKER PROSTAT

Kanker prostat merupakan keganasan pada sel-sel kelenjar prostat pria yang tumbuh secara abnormal serta berisiko bermetastasis ke organ lain. (Kurniawan, 2024)

A. Konsep Medis Kanker Prostat

1. Definisi Keganasan Kanker Prostat

Definisi Dari Pakar Internasional

National Cancer Institute (NCI) mendefinisikan penyakit ini sebagai pertumbuhan sel-sel ganas yang terbentuk di dalam jaringan parenkim kelenjar prostat pada sistem reproduksi pria. (NCI, 2021)

Oleh karena itu, European Association of Urology (EAU) menjelaskan bahwa kondisi tersebut merujuk pada neoplasma epitelial maligna yang umumnya berkembang lambat namun memiliki potensi penyebaran vaskular. (EAU, 2023)

Selanjutnya, American Urological Association (AUA) menegaskan bahwa penyakit ini melibatkan perubahan arsitektur seluler glandular yang dapat dinilai menggunakan sistem penjenjangan skor Gleason secara histopatologis. (AUA, 2022)

Di samping itu, World Health Organization (WHO) mengategorikan keganasan ini sebagai salah satu jenis kanker non-kulit yang menempati mortalitas tinggi pada populasi pria global. (WHO, 2021)

Sementara itu, Dr. Tom Lue dari University of California menyatakan bahwa mutasi somatik interseluler serta hilangnya kontrol apoptosis mendasari perkembangan klon sel maligna pada kelenjar tersebut. (Lue, 2019)

Definisi Pakar Asia

Asian Journal of Andrology memaparkan bahwa keganasan ini di kawasan Asia menunjukkan peningkatan insidensi yang signifikan seiring transisi menuju gaya hidup kebarat-baratan. (AJA, 2022)

Selaras dengan hal tersebut, Japanese Urological Association mengartikan patologi ini sebagai karsinoma glandular perineal yang memerlukan skrining antigen spesifik guna mereduksi angka mortalitas lanjut. (JUA, 2021)

Kemudian, Korean Society for Sexual Medicine and Andrology menyebutkan bahwa manifestasi klinis ini melibatkan interaksi antara kerentanan genetik rasial Asia dan paparan karsinogen lingkungan sekitar. (KSSMA, 2023)

Meskipun demikian, Dr. Colin Teo mengungkapkan bahwa tumor ganas prostat pada pria Asia cenderung menunjukkan sifat biologis yang lebih agresif saat terdiagnosis pertama kali. (Teo, 2024)

Dengan demikian, Malaysian Society of Andrology mendefinisikan keluhan tersebut sebagai adenokarsinoma sistem urogenital yang memicu destruksi jaringan stroma uretra sehingga menyumbat jalan keluar urin. (MSA, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI) merumuskan kanker prostat sebagai tumor ganas yang berasal dari sel epitel asinus atau duktus kelenjar prostat pada pria dewasa. (IAUI, 2021)

Berdasarkan Buku Ajar Urologi, Purnomo mendefinisikan gejala ini sebagai proliferasi seluler otonom tak terkendali pada zona perifer organ yang memicu penekanan parenkim sehat. (Purnomo, 2019)

Menambahkan perspektif tersebut, Prof. Wimpie Pangkahila menjelaskan bahwa keganasan kelenjar kemih ini dapat menghambat fungsi ereksi akibat invasi tumor ke pleksus saraf kavernosus. (Pangkahila, 2020)

Akibatnya, Departemen Urologi FKUI/RSCM mengartikan fenomena ini sebagai lesi ganas primer yang menuntut pendekatan terapi multimodalitas seperti prostatektomi radikal atau radioterapi eksterna. (FKUI, 2022)

Akhirnya, Dr. Nugroho Setiawan menegaskan bahwa peningkatan persisten nilai penanda tumor darah menjadi fondasi awal kecurigaan klinis terhadap keganasan reproduksi pria ini. (Setiawan, 2025)

2. Etiologi Penyakit Kanker Prostat

Faktor Risiko Genetik

Rancangan etiologi gangguan ini melibatkan perubahan genetik herediter maupun paparan eksternal. Faktor genetik bawaan mencakup adanya riwayat keluarga dekat yang menderita tumor ganas, serta mutasi pada gen supresor tumor BRCA1 atau BRCA2. (AUA, 2022)

Selain itu, faktor pertambahan usia ikut memicu lewat peningkatan akumulasi kerusakan DNA seluler yang terjadi secara signifikan pada pria di atas usia lima puluh tahun. (Purnomo, 2019)

 

Faktor Gaya Hidup

Di sisi lain, faktor diet tinggi lemak jenuh dan obesitas mendominasi pemicu metabolik kanker. Faktor tersebut meliputi asupan daging merah berlebih, kekurangan vitamin D, serta paparan hormon androgen endogen yang merangsang poliferasi sel. (IAUI, 2021)

Akhirnya, faktor lingkungan akibat paparan zat kimia berbahaya seperti logam berat kadmium atau kebiasaan merokok aktif terbukti mempermudah proses karsinogenesis stroma prostat. (EAU, 2023)

3. Patofisiologi

Proses Karsinogenesis

Perubahan genetik akibat mutasi DNA menyebabkan inaktivasi gen supresor tumor dan aktivasi onkogen pada sel epitel kelenjar prostat. (Lue, 2019)

Oleh karena itu, terjadi proliferasi seluler otonom yang tidak terkendali di dalam zona perifer kelenjar prostat, membentuk massa tumor lokal. (Kurniawan, 2024)

Obstruksi dan Metastasis

Selanjutnya, pembesaran massa neoplastik tersebut menekan jaringan uretra pars prostatika, sehingga menimbulkan sumbatan mekanis aliran keluar urin dari kandung kemih. (Purnomo, 2019)

Namun, pada stadium lanjut, sel-sel kanker melepaskan diri dari tumor primer, menginvasi pleksus vena santorini, dan bermetastasis menuju tulang pelvis serta kolumna vertebralis. (AJA, 2022)

Akibatnya, terjadi destruksi struktur tulang trabekular oleh sel osteoblastik neoplastik, yang memicu timbulnya nyeri tulang berat serta risiko fraktur patologis pada pasien. (Lue, 2019)

                                                                      Pathway

           [Faktor Risiko: Usia, Genetik BRCA2, Diet Tinggi Lemak]

                                      |

                                      v

                    Mutasi Epitel Kelenjar Prostat Perifer

                                      |

                                      v

                      Pertumbuhan Adenokarsinoma Prostat

                                      |

            __________________________|__________________________

           |                                                     |

           v                                                     v

 Pembesaran Massa Tumor Local                          Metastasis ke Tulang Vertebra

           |                                                     |

           v                                                     v

  Penyumbatan Uretra                                    Destruksi Jaringan Tulang

           |                                                     |

      _____|_____                                                v

     |           |                                         [NYERI KRONIS]

     v           v                                               |

 Gangguan     Retensi                                            v

 Eliminasi     Urin                                        [NYERI AKUT]

   Urin          |

     |           v

     v     [RETENSI URIN]

[GANGGUAN ELIMINASI URIN]

4. Manifestasi Klinis Kanker Prostat

a. Data Subjektif

Secara umum, pasien mengeluhkan aliran urine yang melemah, pancaran terputus-putus, serta perasaan tidak lampias setelah selesai berkemih. (IAUI, 2021)

Selain itu, pasien melaporkan peningkatan frekuensi buang air kecil pada malam hari yang mengganggu waktu istirahat tidur. (AUA, 2022)

Di samping itu, pasien mengeluhkan nyeri punggung bawah, nyeri panggul menetap, atau linu pada tulang-tulang ekstremitas. (Setiawan, 2025)

Akhirnya, pasien menyatakan adanya darah pada air kemih (hematuria) atau pada cairan sperma (hematospermia) setelah aktivitas seksual. (EAU, 2023)

b. Data Objektif

Berdasarkan pemeriksaan, colok dubur memperlihatkan nodul prostat yang keras, asimetris, berbenjol-benjol, dan kehilangan sulkus medianus. (EAU, 2023)

Selanjutnya, ditemukan peningkatan kadar serum Prostate Specific Antigen (PSA) di atas rentang nilai rujukan normal empat nanogram per mililiter. (Setiawan, 2025)

     Akhirnya, hasil biopsi jaringan prostat menegaskan adanya keganasan berupa nilai skor Gleason berkisar antara enam hingga sepuluh. (AUA, 2022)

 5. Pemeriksaan Penunjang

Evaluasi Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium mencakup pengukuran kadar Prostate Specific Antigen (PSA) serum guna melakukan penapisan serta pemantauan efektivitas terapi kanker. (FKUI, 2022)

Di samping itu, pemeriksaan alkali fosfatase serum berguna mendeteksi tanda keterlibatan metastasis sekunder pada sistem skeletal tubuh pasien. (AJA, 2022)

Evaluasi Radiologi

Sementara itu, Multi-Parametric Magnetic Resonance Imaging (mpMRI) Prostat bermanfaat menilai perluasan tumor ke kapsul prostat maupun ke vesikula seminalis. (Lue, 2019)

Akhirnya, prosedur Bone Scan seluruh tubuh menggunakan teknesium sembilan puluh sembilan wajib dijalankan demi mengevaluasi lokasi metastasis tulang secara komprehensif. (EAU, 2023)

6. Penatalaksanaan Medis

Terapi Farmakologis

Pemberian Androgen Deprivation Therapy (ADT) menggunakan agonis LHRH seperti leuprolide diaplikasikan guna menekan pasokan hormon testosteron yang memicu pertumbuhan tumor. (AUA, 2022)

Selanjutnya, regimen kemoterapi berbasis docetaxel diresepkan pada kasus kanker yang telah mencapai stadium metastasis resisten kastrasi. (FKUI, 2022)

Meskipun demikian, penggunaan analgesik narkotik atau bifosfonat diindikasikan demi meminimalkan nyeri tulang serta mencegah komplikasi fraktur patologis. (IAUI, 2021)

Terapi Non-Farmakologis

Selain itu, opsi operatif melibatkan tindakan Radical Prostatectomy untuk mengangkat seluruh kelenjar prostat beserta vesikula seminalis pada stadium terlokalisasi. (Purnomo, 2019)

Akhirnya, aplikasi External Beam Radiation Therapy (EBRT) atau brakiterapi efektif menghancurkan sel-sel kanker lewat pancaran gelombang radiasi dosis tinggi. (EAU, 2023)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Klinis

Pengumpulan Data Dasar

Pengkajian identitas pasien mencakup usia lanjut, riwayat kanker dalam silsilah keluarga, pekerjaan, serta kebiasaan diet harian kaya lemak. (PPNI, 2017)

Selain itu, riwayat kesehatan berfokus pada durasi keluhan obstruksi urin, riwayat retensi urine akut, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. (IAUI, 2021)

Di samping itu, pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular menuntut inspeksi iktus kordis, auskultasi bunyi jantung, dan monitoring tekanan darah sistemik. (Purnomo, 2019)

Evaluasi Sistem Tubuh

Sementara itu, fokus sistem urogenital melibatkan inspeksi distensi abdomen bawah, palpasi massa suprapubik, serta pelaksanaan colok dubur prostat yang teraba keras. (FKUI, 2022)

Akhirnya, pemeriksaan muskuloskeletal berupa palpasi nyeri tekan vertebrae serta uji kekuatan ekstremitas mendeteksi potensi kompresi sumsum tulang akibat metastasis. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas 1 Sampai 5

  1. Retensi Urin (D.0050) b.d. peningkatan tekanan uretra akibat desakan massa tumor   
  2. Nyeri Kronis (D.0078) b.d. infiltrasi tumor ke struktur tulang panggul/vertebra d.d. mengeluh nyeri, bersikap protektif.
  3. Gangguan Eliminasi Urin (D.0040) b.d. penurunan kapasitas kandung kemih d.d. urin menetes, frekuensi meningkat, nokturia.
  4. Ansietas (D.0080) b.d. ancaman terhadap kematian/prognosis kanker d.d. merasa bingung, tampak gelisah.
  5. Disfungsi Seksual (D.0069) b.d. perubahan fungsi tubuh akibat invasi tumor atau efek samping terapi d.d. aktivitas seksual berubah. (PPNI, 2017)

Prioritas 6 Sampai 10

  1. Nyeri Akut (D.0077) b.d. agen pencedera fisik (prosedur operatif prostatektomi) d.d. mengeluh nyeri, tampak meringis.
  2. Risiko Infeksi (D.0142) d.d. faktor risiko efek imunosupresi dari terapi sitostatika/kemoterapi.
  3. Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d. efek tindakan pengobatan (alopesia pasca-kemoterapi atau disfungsi ereksi) d.d. mengungkapkan kecemasan.
  4. Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d. krisis situasional d.d. menggunakan mekanisme koping maladaptif.
  5. Defisit Nutrisi (D.0019) b.d. ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien akibat efek samping kemoterapi d.d. berat badan menurun. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi

Intervensi Diagnosis 1-3

Retensi Urin (D.0050)
  • Luaran: Eliminasi Urin (L.04034) membaik (Distensi kandung kemih menurun, volume residu urin berkurang, dysuria menurun).
  • Intervensi: Kateterisasi Urine (I.04148). Observasi: Periksa adanya distensi kandung kemih melalui inspeksi dan palpasi suprapubik. Terapeutik: Lakukan pemasangan kateter uretra atau fasilitasi pemasangan kateter suprapubik secara steril. Edukasi: Jelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur pemasangan kateter urine. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat penghambat alfa untuk melancarkan miksi.
     Nyeri Kronis (D.0078)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri berkurang, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat, meringis menurun).
  • Intervensi: Perawatan Nyeri Kronis (I.08242). Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan intensitas nyeri tulang. Terapeutik: Fasilitasi posisi tidur yang nyaman menggunakan kasur dekubitus atau bantal penyangga. Edukasi: Anjurkan penggunaan teknik non-farmakologis (mis. terapi musik, imajinasi terbimbing). Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgesik opioid dan bifosfonat sesuai protokol medis.
    Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
  • Luaran: Eliminasi Urin (L.04034) membaik (Urin menetes menurun, frekuensi berkemih membaik, nokturia berkurang).
  • Intervensi: Manajemen Eliminasi Urin (I.04152). Observasi: Monitor pola eliminasi urin termasuk frekuensi, volume, dan warna. Terapeutik: Catat waktu haluaran berkemih. Edukasi: Ajarkan pasien mengenai latihan otot dasar panggul (Kegel exercise) jika pasca-operasi.

Intervensi Diagnosis 4-6

Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi kebingungan berkurang, perilaku gelisah menurun).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah. Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik yang menumbuhkan rasa percaya, dengarkan keluhan dengan penuh empati. Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai pilihan pengobatan kanker prostat.
Disfungsi Seksual (D.0069)
  • Luaran: Fungsi Seksual (L.07055) membaik (Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun).
  • Intervensi: Edukasi Seksualitas (I.12447). Observasi: Identifikasi kesiapan pasien dan pasangan menerima informasi. Terapeutik: Sediakan lingkungan yang privat untuk diskusi. Edukasi: Jelaskan dampak terapi hormonal atau prostatektomi terhadap ereksi, diskusikan alternatif keintiman non-koital.
Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Meringis menurun, sikap protektif menurun).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi: Monitor intensitas nyeri luka operasi secara berkala. Terapeutik: Kontrol faktor lingkungan yang memperberat nyeri. Edukasi: Ajarkan teknik napas dalam untuk meredakan nyeri akut saat bergerak. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik pasca-bedah melalui Patient-Controlled Analgesia (PCA).

 Intervensi Diagnosis 7-10

 Risiko Infeksi (D.0142)
  • Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun (Demam menurun, tidak ada tanda kemerahan atau purulen pada luka/jalur infus).
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539). Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal serta sistemik. Terapeutik: Batasi jumlah pengunjung, pertahankan teknik aseptik selama perawatan luka atau kateter.
Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
  • Luaran: Citra Tubuh (L.09067) meningkat (Verbalisasi perasaan negatif tentang tubuh berkurang, adaptasi tubuh membaik).
  • Intervensi: Promosi Citra Tubuh (I.09305). Terapeutik: Diskusikan perubahan penampilan fisik akibat efek samping terapi secara objektif, dukung mekanisme koping positif.
Koping Tidak Efektif (D.0096)
  • Luaran: Status Koping (L.09086) membaik (Perilaku koping adaptif meningkat, kemampuan memenuhi peran meningkat).
  • Intervensi: Pelatihan Koping (I.09312). Edukasi: Bantu pasien mengidentifikasi strategi koping yang berhasil di masa lalu, libatkan kelompok pendukung sesama penyintas kanker (cancer support group).
Defisit Nutrisi (D.0019)
  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Terapeutik: Berikan makanan kesukaan pasien dalam porsi kecil namun sering, sajikan dalam kondisi hangat yang menarik.

4. Implementasi Tindakan

Eksekusi Rencana Keperawatan

Perawat melaksanakan tindakan keperawatan nyata berpedoman pada SIKI, seperti mengosongkan kantung urine kateter secara berkala serta mencatat volume cairan haluaran. (PPNI, 2018)

Selain itu, perawat menginjeksikan terapi hormonal androgen sesuai jadwal, mengompres luka pasca-bedah secara aseptik, serta memonitor hitung leukosit darah tepi pasien. (PPNI, 2018)

5. Evaluasi Asuhan

Penilaian Hasil Akhir

Perawat mengevaluasi respons perkembangan kesehatan pasien menggunakan indikator evaluasi objektif berbasis format perkembangan SOAP secara periodik. (PPNI, 2019)

Oleh karena itu, keberhasilan intervensi terukur dari tuntasnya masalah retensi urin, terkontrolnya nyeri metastasis tulang, serta adaptasi koping psikologis yang adaptif. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

American Urological Association (AUA). (2022). Advanced Prostate Cancer: AUA/ASTRO/SUO Guideline. AUA Digital Library. Advanced Prostate Cancer Guideline

Asian Journal of Andrology (AJA). (2022). Trends in prostate cancer incidence and mortality in Asian countries. AJA, 24(5), 450-456. Prostate Cancer Trends

European Association of Urology (EAU). (2023). EAU Guidelines on Prostate Cancer. EAU Guidelines Office. EAU Prostate Cancer Guidelines

FKUI. (2022). Protokol Penatalaksanaan Multimodalitas Karsinoma Prostat. Departemen Urologi FKUI/RSCM.

IAUI. (2021). Panduan Tata Laksana Kanker Prostat. Ikatan Ahli Urologi Indonesia.

Kurniawan, A. (2024). Buku Ajar Andrologi Klinik. Universitas Indonesia Publishing.

Lue, T. F. (2019). Neoplasms of the prostate gland. Smith and Tanagho’s General Urology. McGraw-Hill.

Pangkahila, W. (2020). Disfungsi Seksual Iatrogenik Pasca Terapi Onkologi Urogenital. Penerbit Kompas.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

Purnomo, B. B. (2019). Dasar-dasar Urologi (Edisi ke-4). Sagung Seto.

Setiawan, N. (2025). Aplikasi klinis penanda tumor PSA dalam penapisan keganasan prostat. Jurnal Kedokteran Indonesia, 76(1), 12-19. Penapisan Keganasan Prostat


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *