Infeksi hati serius yang disebabkan oleh virus hepatitis B, dapat menjadi kronis dan memicu kerusakan hati berat, sirosis, atau kanker hati. (World Health Organization, 2024)
A. Konsep Medis Hepatitis B
1. Definisi Hepatitis B
Hepatitis B merupakan infeksi virus sistemik yang menyerang sel-sel hepar dan menyebabkan inflamasi akut maupun kronis pada jaringan hati manusia. (World Health Organization, 2023)
Definisi Dari Pakar Internasional
Menurut Schiff (2018), kondisi ini didefinisikan sebagai suatu sindrom klinis dan patologis akibat infeksi Hepatitis B Virus yang menginvasi hepatosit dan memicu respons imun sitotoksik.
Selanjutnya, Dienstag (2019) menyatakan bahwa gangguan tersebut merupakan penyakit hati menular yang ditandai oleh adanya antigen permukaan virus dalam darah serta kerusakan sel hati progresif.
Selain itu, Lok (2020) mengemukakan bahwa manifestasi itu ialah gangguan inflamasi kronis pada hepar yang berpotensi memicu sirosis dan karsinoma hepatoseluler jika tidak ditangani secara tepat.
Selaras dengan hal tersebut, Keeffe (2021) menjelaskan bahwa infeksi ini merepresentasikan proses peradangan hati yang dimediasi oleh respon imun pejamu terhadap antigen virus.
Terakhir, Terrault (2022) mendefinisikan kelainan tersebut sebagai penyakit infeksi virus hepatotropik yang menyerang parenkim hati dan diklasifikasikan menjadi fase akut serta kronis berdasarkan durasi infeksi.
Definisi Pakar Asia
Berdasarkan pandangan Liaw (2018), infeksi ini merupakan patologi hepatotropik utama di Asia yang ditularkan secara vertikal maupun horizontal serta memicu kerusakan sel hati masif.
Selanjutnya, Sarin (2019) mengartikan masalah kesehatan tersebut sebagai inflamasi hati progresif akibat replikasi aktif virus yang endemik di wilayah Asia Pasifik.
Di samping itu, Chan (2020) mendefinisikan kondisi ini sebagai gangguan metabolik dan imunologis pada organ hepar yang disebabkan oleh persistensi DNA virus di dalam sel.
Menambahkan hal tersebut, Omata (2021) menyatakan bahwa problem itu adalah proses infeksi kronis yang merusak arsitektur lobulus hati melalui mekanisme nekroinflamasi yang berkelanjutan.
Pula, Yuen (2022) menguraikan bahwa keadaan tersebut merepresentasikan infeksi virus pada organ pencernaan yang memerlukan pemantauan ketat karena tingginya risiko transisi menjadi keganasan.
Definisi Pakar Indonesia
Menurut Sudoyo (2018), gangguan tersebut adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh invasi patogen dan ditandai oleh peningkatan kadar enzim transaminase serum.
Sementara itu, Rani (2019) mendefinisikan penyakit ini sebagai infeksi sistemik yang mengenai hepar, ditularkan melalui kontak darah atau cairan tubuh, serta berisiko menjadi menahun.
Lebih lanjut, Hasan (2020) mengemukakan bahwa kondisi tersebut merupakan infeksi virus yang menyerang fungsi sekresi dan metabolisme organ sehingga menimbulkan manifestasi klinis ikterus.
Di samping itu, Lesmana (2021) mengartikan keadaan ini sebagai gangguan integritas jaringan hati akibat respons imun tubuh terhadap keberadaan antigen permukaan virus.
Akhirnya, Sulaiman (2022) menjelaskan bahwa problem itu ialah penyakit infeksi menular pada hepar yang berpotensi menimbulkan komplikasi berat berupa kegagalan fungsi akut maupun kronis.
2. Etiologi Hepatitis B
Faktor Utama
Infeksi primer oleh agen mikroskopis berselubung dari familia Hepadnaviridae. (World Health Organization, 2023)
Jalur Penularan
Transmisi parenteral melalui transfusi darah terkontaminasi atau penggunaan jarum suntik secara bergantian pada penyalahguna narkotika. (Centers for Disease Control and Prevention, 2024)
Penularan vertikal dari ibu yang terinfeksi kepada bayi selama proses persalinan. (Kumar, Abbas, & Aster, 2021)
Hubungan seksual tanpa pengaman dengan individu yang berstatus pembawa kronis. (Mandell, Bennett, & Dolin, 2020)
Paparan okupasional pada tenaga kesehatan akibat kecelakaan tertusuk instrumen tajam medis. (World Health Organization, 2023)
3. Patofisiologi Hepatitis B
Mekanisme Seluler
Masuknya patogen ke dalam aliran darah → Invasi agen ke dalam hepatosit melalui reseptor spesifik → Pelepasan materi genetik ke dalam nukleus sel → Replikasi dan transkripsi gen viral → Ekspresi antigen pada permukaan sel → Pengenalan oleh sel T sitotoksik → Respons imun menyerang sel terinfeksi → Terjadi proses nekroinflamasi → Penurunan fungsi sintesis, metabolisme, dan ekskresi empedu → Manifestasi klinis serta gangguan integritas jaringan. (Kumar, Abbas, & Aster, 2021)
Pathway
[Masuknya Agen ke Aliran Darah]
│
▼
[Invasi ke Hepatosit (Reseptor NTCP)]
│
▼
[Replikasi Materi Genetik di Nukleus]
│
▼
[Ekspresi Antigen pada Membran Sel]
│
▼
[Aktivasi Respons Imun (Sel T Sitotoksik)]
│
▼
[Peradangan & Nekrosis Sel] ──> [Penurunan Fungsi Hepar (Sintesis & Detoksifikasi)]
│ │
▼ ▼
[Gangguan Integritas Jaringan] [Akumulasi Bilirubin di Darah]
│
▼
[Ikterus, Urin Gelap, Pruritus]
4. Manifestasi Klinis Hepatitis B
Data Subjektif
Keluhan kelelahan ekstrem dan malaise yang berkepanjangan sepanjang hari. (World Health Organization, 2023)
Rasa mual, muntah, serta penurunan nafsu makan yang signifikan. (Price & Wilson, 2020)
Nyeri tumpul atau rasa tidak nyaman pada kuadran kanan atas abdomen. (Sudoyo, 2018)
Nyeri sendi dan nyeri otot yang menyertai fase awal infeksi. (Mandell, Bennett, & Dolin, 2020)
Data Objektif
Sklera mata dan kulit tampak kekuningan. (Kumar, Abbas, & Aster, 2021)
Urin berwarna pekat seperti teh tua dan feses berwarna pucat. (World Health Organization, 2023)
Hepatomegali teraba saat palpasi abdomen dengan nyeri tekan ringan. (Sudoyo, 2018)
Peningkatan kadar enzim hati serta bilirubin total dan direk pada pemeriksaan laboratorium. (Dienstag, 2019)
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Penanda permukaan positif menandakan adanya infeksi aktif di dalam tubuh. (World Health Organization, 2023)
Antibodi spesifik untuk menilai status imunitas atau proteksi terhadap invasi agen. (Centers for Disease Control and Prevention, 2024)
Enzim transaminase menunjukkan derajat kerusakan atau inflamasi sel-sel parenkim. (Sudoyo, 2018)
Bilirubin mengevaluasi fungsi ekskresi empedu dan metabolisme pigmen oleh organ. (Price & Wilson, 2020)
Pemeriksaan Radiologi
Ultrasonografi Abdomen menilai ukuran, bentuk, tekstur permukaan, serta mendeteksi tanda-tanda sirosis. (Sarin, 2019)
Elastografi mengukur tingkat kekakuan dan derajat fibrosis jaringan secara non-invasif. (Chan, 2020)
CT Scan Abdomen mengevaluasi struktur vaskular dan menyingkirkan kemungkinan lesi fokal. (Omata, 2021)
Pemeriksaan Lain
Biopsi hepar untuk menentukan tingkat keparahan inflamasi dan stadium fibrosis secara pasti. (Kumar, Abbas, & Aster, 2021)
Tes kuantitatif mengukur jumlah muatan agen di dalam darah guna memantau aktivitas replikasi. (Lok, 2020)
6. Penatalaksanaan Medis
Terapi Farmakologis
Pemberian obat antivirus analog untuk menekan replikasi patogen secara optimal. (EASL, 2017)
Terapi imunomodulator guna menginduksi respons kekebalan tubuh terhadap agen. (Terrault, 2022)
Pemberian obat simptomatik untuk mengatasi mual, muntah, serta penurun panas yang aman. (Sudoyo, 2018)
Vitamin penunjang guna membantu proses regenerasi sel yang mengalami kerusakan. (Price & Wilson, 2020)
Terapi Non-Farmakologis
Istirahat total di tempat tidur terutama pada fase akut untuk mengurangi beban metabolik. (World Health Organization, 2023)
Pengaturan diet tinggi kalori dengan protein cukup serta pembatasan lemak. (Sarin, 2019)
Edukasi total pantangan konsumsi alkohol dan zat hepatotoksik untuk mencegah perburukan. (Mandell, Bennett, & Dolin, 2020)
Penerapan kewaspadaan universal bagi keluarga serta tenaga medis guna mencegah penularan silang. (Centers for Disease Control and Prevention, 2024)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Identitas dan Riwayat
Meliputi biodata pasien serta pengkajian riwayat kesehatan sekarang, dahulu, dan keluarga untuk mengenali faktor risiko demografis. (PPNI, 2017)
Pemeriksaan Fisik Sistemik
Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi berfokus pada sistem pencernaan serta mengevaluasi sistem tubuh lainnya secara menyeluruh. (PPNI, 2017)
Pola Fungsi Kesehatan
Pengkajian pola persepsi kesehatan, nutrisi, eliminasi, aktivitas, serta istirahat tidur pasien. (PPNI, 2017)
2. Diagnosis Keperawatan
Daftar Diagnosa Prioritas
- D.0076 Nausea
- D.0019 Defisit Nutrisi
- D.0023 Hipovolemia
- D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
- D.0005 Pola Nafas Tidak Efektif
- D.0092 Keletihan
- D.0080 Ansietas
- D.0142 Risiko Infeksi
- D.0111 Defisit Pengetahuan
- D.0054 Gangguan Rasa Nyaman
3. Perencanaan (Intervensi)
Intervensi Diagnosa 1 sampai 5
- D.0056 Nausea: L.08066 Tingkat Nausea, I.03119 Manajemen Mual. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0019 Defisit Nutrisi: L.03030 Status Nutrisi, I.03119 Manajemen Nutrisi. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0057 Hipovolemia: L.03028 Status Cairan, I.03116 Manajemen Hipovolemia. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0032 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan: L.14125 Integritas Kulit dan Jaringan, I.14536 Perawatan Integritas Kulit. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0005 Pola Nafas Tidak Efektif: L.01004 Pola Nafas, I.01011 Manajemen Jalan Nafas. (PPNI, 2018, 2019)
Intervensi Diagnosa 6 sampai 10
- D.0092 Keletihan: L.05046 Tingkat Keletihan, I.05178 Manajemen Energi. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0080 Ansietas: L.09093 Tingkat Ansietas, I.09314 Reduksi Ansietas. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0142 Risiko Infeksi: L.14137 Tingkat Infeksi, I.14539 Pencegahan Infeksi. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0111 Defisit Pengetahuan: L.12111 Tingkat Pengetahuan, I.12383 Edukasi Kesehatan. (PPNI, 2018, 2019)
- D.0054 Gangguan Rasa Nyaman: L.08064 Status Kenyamanan, I.08239 Manajemen Kenyamanan. (PPNI, 2018, 2019)
4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan intervensi yang telah disusun serta kondisi aktual klien. (PPNI, 2018)
5. Evaluasi
Penilaian keberhasilan asuhan menggunakan format SOAP berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan. (PPNI, 2019)
Daftar Pustaka
Chan, H. L., & Wong, V. W. (2020). Hepatitis B: Diagnosis and Management. Springer.
Dienstag, J. L. (2019). Harrison’s Principles of Internal Medicine. McGraw-Hill.
EASL. (2017). Clinical practice guidelines on management of hepatitis B virus infection. Journal of Hepatology, 67(2), 370-398. journalofhepatology.eu/article/S0168-8278(17)30189-X/fulltext
Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2021). Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease (10th ed.). Elsevier.
Lok, A. S., & McMahon, B. J. (2020). Chronic Hepatitis B: Update. Hepatology, 67(1), 302-319. aasldpubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/hep.29805
Mandell, G. L., Bennett, J. E., & Dolin, R. (2020). Principles and Practice of Infectious Diseases (9th ed.). Elsevier.
Omata, M., Kanda, T., & Wei, L. (2021). APASL guidelines on hepatitis B infection. Hepatology International, 15(3), 529-557. link.springer.com/article/10.1007/s12072-021-10191-w
PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. DPP PPNI.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2020). Patofisiologi: Konsep Klinis. EGC.
Sarin, S. K., Kumar, M., & Lau, G. K. (2019). Asian-Pacific guidelines on hepatitis B. Hepatology International, 10(1), 1-98. link.springer.com/article/10.1007/s12072-015-9675-4
Sudoyo, A. W. (2018). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. InternaPublishing.
Terrault, N. A., Lok, A. S., & McMahon, B. J. (2022). Update on chronic hepatitis B: AASLD guidance. Hepatology, 67(4), 1560-1599. aasldpubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/hep.29800
World Health Organization. (2024). Guidelines for Chronic Hepatitis B Infection. WHO. who.int/publications/i/item/9789240090392

Tinggalkan Balasan