Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125)

Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125)

by

in

I. Definisi dan Penjelasan Ilmiah

Ikterik Neonatus adalah kondisi klinis pada bayi baru lahir yang ditandai dengan pewarnaan kuning pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi di dalam darah. Secara fisiologis, hal ini terjadi karena imaturitas fungsi hati bayi dalam memproses bilirubin. Dalam tata laksana keperawatan, menjaga Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) menjadi luaran utama karena intervensi medis seperti fototerapi berisiko menyebabkan kerusakan jaringan kulit, dehidrasi, dan gangguan termoregulasi. Pemantauan terhadap Adaptasi Neonatus dan Eliminasi Fekal sangat krusial, mengingat ekskresi bilirubin dilakukan melalui urin dan feses, sehingga kecukupan hidrasi dan nutrisi bayi menjadi faktor penentu keberhasilan pemulihan.


II. Tabel Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

Diagnosis: Ikterik Neonatus

Jenis LuaranLabel Luaran Keperawatan
Luaran UtamaIntegritas Kulit dan Jaringan (L.14125)
Luaran Tambahan1. Adaptasi Neonatus (L.10098)
2. Berat Badan (L.03018)
3. Eliminasi Fekal (L.04033)
4. Organisasi Perilaku Bayi (L.13120)
5. Status Nutrisi Bayi (L.03031)

III. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)

Berikut adalah 3 intervensi utama dengan komponen OTEK (Observasi, Terapeutik, Edukasi, Kolaborasi):

1. Fototerapi Neonatus (I.03091)

  • Observasi:
    • Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi.
    • Monitor suhu tubuh setiap 4 jam sekali untuk mencegah hipertermia akibat lampu fototerapi.
  • Terapeutik:
    • Siapkan lampu fototerapi dan inkubator atau kotak bayi.
    • Lepaskan pakaian bayi kecuali popok, dan tutup mata menggunakan penutup mata (opaque mask).
    • Ganti posisi bayi setiap 3 jam untuk memastikan paparan cahaya merata.
  • Edukasi:
    • Anjurkan ibu menyusui bayi sesering mungkin (minimal setiap 2-3 jam).
    • Jelaskan prosedur dan tujuan fototerapi kepada orang tua.
  • Kolaborasi:
    • Kolaborasi pemeriksaan darah vena bilirubin total, direk, dan indirek.

2. Perawatan Bayi (I.10335)

  • Observasi:
    • Monitor tanda-tanda vital bayi (suhu, nadi, pernapasan).
    • Monitor adanya tanda-tanda dehidrasi (mis. turgor kulit buruk, ubun-ubun cekung).
  • Terapeutik:
    • Mandikan bayi dengan suhu ruangan yang tepat (21-24°C).
    • Ganti popok segera setelah bayi BAK atau BAB untuk menjaga integritas kulit.
  • Edukasi:
    • Ajarkan ibu cara merawat tali pusat dan menjaga kebersihan kulit bayi.
    • Ajarkan orang tua mengenali tanda-tanda kuning yang bertambah berat.
  • Kolaborasi:
    • (Dapat berkolaborasi dengan ahli gizi jika memerlukan suplementasi nutrisi).

3. Pemantauan Tanda Vital Bayi (I.02060)

  • Observasi:
    • Monitor suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah bayi jika perlu.
    • Monitor warna kulit, kelembapan, dan suhu perifer.
  • Terapeutik:
    • Atur interval pemantauan sesuai kondisi klinis bayi.
    • Dokumentasikan hasil pemantauan secara rutin pada lembar observasi.
  • Edukasi:
    • Informasikan hasil pemantauan kepada orang tua atau keluarga secara berkala.
  • Kolaborasi:
    • (Bersifat mandiri perawat untuk pemantauan rutin di ruang neonatus).

IV. Literatur Referensi

  1. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  2. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  3. Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong’s Nursing Care of Infants and Children. Elsevier Health Sciences.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *