Disrefleksia Otonom (L.06053)

Disrefleksia Otonom (L.06053)

by

in

Tabel Integrasi SLKI dan SIKI: Disrefleksia Otonom

DiagnosaLuaran Utama (SLKI)Luaran Tambahan (SLKI)Intervensi Terkait (SIKI)
Disrefleksia OtonomStatus Neurologis (L.06053)Eliminasi Fekal, Eliminasi Urine, Fungsi Sensori, Integritas Kulit dan Jaringan, Kinerja Pengasuhan, Status Sirkulasi, Tingkat Nyeri1. Manajemen Disrefleksia (I.06190)
2. Kateterisasi Urine (I.04148)
3. Manajemen Eliminasi Fekal (I.04151)

Rincian Intervensi SIKI (OTEK)

Berikut adalah rincian tindakan untuk 3 intervensi utama yang bersifat krusial dalam menangani kondisi disrefleksia otonom:

1. Manajemen Disrefleksia (I.06190)

  • Observasi: Identifikasi faktor pencetus (mis. distensi kandung kemih, impaksi fekal, luka tekan), monitor tanda dan gejala disrefleksia (mis. hipertensi mendadak, sakit kepala hebat, bradikardia, diaporesis di atas level cedera).
  • Terapeutik: Posisikan pasien duduk tegak untuk menurunkan tekanan darah intrakranial, longgarkan pakaian yang ketat, dan segera hilangkan stimulus pencetus.
  • Edukasi: Jelaskan tanda, gejala, dan faktor pemicu disrefleksia otonom kepada pasien serta keluarga sebagai langkah antisipasi mandiri.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antihipertensi intravena jika tekanan darah tetap tinggi setelah stimulus dihilangkan.

2. Kateterisasi Urine (I.04148)

  • Observasi: Periksa adanya distensi kandung kemih yang sering menjadi pemicu utama disrefleksia otonom.
  • Terapeutik: Gunakan teknik aseptik yang ketat saat pemasangan, pastikan drainase urine lancar dan tidak ada tekukan pada selang kateter (kinking).
  • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter kepada pasien/keluarga.
  • Kolaborasi: Lakukan irigasi kandung kemih secara berkala jika terjadi penyumbatan sedimen atau bekuan darah.

3. Manajemen Eliminasi Fekal (I.04151)

  • Observasi: Identifikasi masalah usus dan penggunaan obat pencahar, monitor buang air besar (warna, konsistensi, frekuensi).
  • Terapeutik: Lakukan evakuasi feses secara manual jika terdapat impaksi (gunakan anestesi topikal untuk mencegah stimulasi lebih lanjut yang memicu disrefleksia).
  • Edukasi: Anjurkan diet tinggi serat dan asupan cairan yang cukup untuk menjaga konsistensi feses.
  • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian supositoria atau enema jika diperlukan.

Definisi Ilmiah Disrefleksia Otonom

Disrefleksia Otonom adalah suatu kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi akibat respons berlebihan dari sistem saraf simpatis terhadap stimulus sensorik di bawah level cedera medula spinalis (biasanya pada level T6 atau lebih tinggi). Secara patofisiologis, stimulus noksius (seperti kandung kemih yang penuh) memicu refleks vasokonstriksi masif yang menyebabkan hipertensi paroksismal yang ekstrem. Karena adanya blokade pada medula spinalis, sinyal penghambat dari pusat yang lebih tinggi tidak dapat mencapai area di bawah cedera, sehingga tubuh gagal menormalkan tekanan darah secara sistemik. Keberhasilan intervensi diukur melalui Status Neurologis (L.06053), dengan fokus pada stabilisasi tekanan darah, hilangnya nyeri kepala, dan regulasi denyut jantung.


Literatur

  1. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
  3. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *