DEFISIT PERAWATAN DIRI (D.0109)

DEFISIT PERAWATAN DIRI (D.0109)

by

in

DIAGNOSA DEFISIT PERAWATAN DIRI (D.0109)

A. DEFINISI

  1. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Defisit Perawatan Diri adalah ketidakmampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian, makan, ke toilet, berhias) secara mandiri.
  2. NANDA International (Herdman & Kamitsuru) Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi, berpakaian, makan, atau eliminasi untuk diri sendiri.
  3. Dorothea Orem Suatu kedaan yang terjadi ketika seorang individu memiliki keterbatasan untuk memberikan perawatan diri secara kontinu yang efektif, di mana self-care agency tidak mampu memenuhi therapeutic self-care demand.
  4. World Health Organization (WHO) Dalam konteks International Classification of Functioning (ICF), defisit perawatan diri didefinisikan sebagai keterbatasan fungsional dalam merawat diri sendiri, termasuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan fisik melalui aktivitas harian.
  5. Lynda Juall Carpenito Suatu kondisi di mana individu mengalami gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri sendiri, seperti mandi, berpakaian, makan, dan kegiatan toileting, yang sering kali berhubungan dengan gangguan mobilitas atau kognitif.

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Secara patofisiologis dan psikologis, defisit perawatan diri dipicu oleh berbagai faktor kompleks:

  1. Gangguan Muskuloskeletal & Neuromuskuler: Keterbatasan mobilitas fisik, hilangnya koordinasi gerak, atau kelumpuhan.
  2. Kelemahan Generalisata: Keletihan kronis atau penurunan cadangan energi untuk aktivitas fisik.
  3. Hambatan Psikologis/Psikotik: Adanya gangguan persepsi, depresi berat, atau penurunan kognitif yang mengganggu motivasi serta kesadaran akan kebersihan diri.
  4. Penurunan Motivasi: Kurangnya minat atau dorongan internal untuk merawat diri, sering ditemukan pada pasien dengan gangguan mental atau penyakit terminal.

C. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA)

Tanda dan Gejala Mayor

Subjektif:

  • Menolak melakukan perawatan diri.

Objektif:

  • Tidak mampu mandi/menjemput alat mandi secara mandiri.
  • Tidak mampu mengenakan pakaian secara mandiri.
  • Tidak mampu makan/minum secara mandiri.
  • Tidak mampu ke toilet (BAB/BAK) secara mandiri.
  • Tidak mampu berhias/berdandan secara mandiri.

Tanda dan Gejala Minor

Subjektif:

  • (Tidak tersedia)

Objektif:

  • Minat melakukan perawatan diri kurang.
  • Penampilan tidak rapi.
  • Kebersihan diri kurang (misal: badan bau, kotor, kuku panjang).

D. KONDISI KLINIS TERKAIT 

  1. Stroke. 
  2. Cedera medula spinalis (tulang belakang).
  3. Cerebral Palsy.
  4. Sklerosis multipel (Multiple Sclerosis).
  5. Penyakit Parkinson.
  6. Artritis Rheumatoid.
  7. Demensia (mis. Alzheimer).
  8. Skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya.
  9. Gangguan depresi berat.
  10. Kondisi pasca operasi besar.
  11. Trauma fisik (fraktur atau cedera jaringan lunak).
  12. Retardasi mental.
  13. Penyakit terminal.
  14. Kelemahan generalisata (mis. akibat gagal jantung atau PPOK berat).
  15. Gangguan penglihatan atau pendengaran berat.

E. LUARAN KEPERAWATAN (TARGET HASIL)

Tujuan utama intervensi adalah Perawatan Diri Meningkat (L.11103). Keberhasilan diukur melalui kriteria:

  1. Kemampuan melakukan aktivitas spesifik (mandi, makan, dll.) meningkat secara bertahap.
  2. Verbalisasi keinginan untuk merawat diri meningkat.
  3. Penerapan rutinitas kebersihan diri yang konsisten.

F. INTERVENSI STRATEGIS

Intervensi dirancang untuk memulihkan kemandirian pasien melalui pendekatan bio-psiko-sosial:

  1. Dukungan Perawatan Diri (I.11348): Memfasilitasi kebutuhan alat bantu, menciptakan lingkungan yang mendukung privasi, dan memberikan bantuan sesuai tingkat ketergantungan.
  2. Dukungan Makan/Minum: Mengatur posisi nyaman, memonitor status hidrasi, dan memberikan bantuan fungsional saat makan.
  3. Edukasi Keluarga: Memberdayakan sistem pendukung (keluarga) untuk membantu tanpa menghilangkan kesempatan pasien melatih kemandiriannya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2017). Handbook of Nursing Diagnosis. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2021). NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2021-2023 (12th ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.

Orem, D. E. (2001). Nursing: Concepts of Practice. St. Louis: Mosby.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.

World Health Organization (WHO). (2022). International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF): Self-care and Daily Living Activities. Geneva: WHO.