DIAGNOSA RISIKO HARGA DIRI RENDAH KRONIS (D.0101)
A. Definisi
- PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Berisiko mengalami evaluasi diri atau perasaan negatif tentang diri sendiri atau kemampuan diri yang berlangsung dalam waktu lama (minimal 3 bulan). Kondisi ini menekankan pada kerentanan individu dalam mempertahankan penilaian diri yang positif terhadap fungsi psikis dan sosial.
- Mary C. Townsend Suatu kerentanan terhadap penilaian diri negatif yang menetap, di mana individu berisiko merasakan ketidakberdayaan, tidak berharga, dan ketidakmampuan untuk mengatasi tantangan hidup. Townsend menekankan bahwa kondisi ini sering kali berakar pada kegagalan integrasi ego yang kuat di masa lalu.
- Gail W. Stuart Individu yang berisiko mengalami gangguan pada aspek evaluatif dari konsep diri, yang merupakan akumulasi dari perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Stuart memandang risiko ini sebagai ancaman terhadap integritas psikologis yang dapat memicu mekanisme koping maladaptif.
- NANDA International Rentan terhadap pengembangan persepsi negatif tentang keberhargaan diri, kemampuan, atau signifikansi diri yang telah berlangsung secara kronis. Fokus utamanya adalah pada faktor risiko yang dapat mengubah penilaian diri subjektif menjadi pola keputusasaan yang menetap.
- Sheila L. Videbeck Sebuah kondisi di mana seseorang berisiko kehilangan keyakinan akan nilai pribadinya akibat umpan balik negatif dari lingkungan atau kegagalan internal. Videbeck menggarisbawahi bahwa risiko ini sangat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap peristiwa kehidupan, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
B. Faktor Risiko (Etiologi)
Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor multidimensi yang dapat melemahkan konsep diri individu:
- Gangguan Psikiatrik Riwayat depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian yang memengaruhi cara pandang subjektif terhadap diri sendiri secara mendalam.
- Kegagalan Berulang Akumulasi dari kegagalan dalam mencapai target hidup, performa akademik yang rendah, atau kegagalan dalam menjalankan peran sosial yang diharapkan.
- Ketidakadekuatan Pemahaman Kurangnya pengetahuan tentang strategi koping yang efektif dan ketidakmampuan mengidentifikasi kekuatan internal saat menghadapi stresor.
- Faktor Bio-Psiko-Sosial Riwayat pengabaian atau kekerasan di masa kecil, terpapar penolakan sosial secara terus-menerus, serta kurangnya dukungan emosional dari sistem pendukung (support system) primer.
- Kondisi Fisik Perubahan penampilan tubuh akibat prosedur medis, cacat bawaan, atau kehilangan fungsi organ yang secara langsung memengaruhi citra diri (body image).
C. Manifestasi Klinis (tanda dan gejala)
Tanda dan Gejala Mayor
Subjektif:
- Menilai diri negatif (mis. tidak berguna, tidak tertolong).
- Merasa malu atau bersalah.
- Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri.
Objektif:
- Enggan mencoba hal baru.
- Berjalan menunduk.
- Postur tubuh layu.
Tanda dan Gejala Minor
Subjektif:
- Merasa sulit berkonsentrasi.
- Mengungkapkan keputusasaan.
Objektif:
- Kontak mata kurang.
- Lesu dan tidak bergairah.
- Berbicara pelan dan lirih.
- Pasif.
- Perilaku tidak asertif.
- Mencari penguatan secara berlebihan.
D. Kondisi Klinis Terkait
Beberapa kondisi yang memperbesar risiko munculnya diagnosis ini meliputi:
- Penyakit kronis atau terminal (misalnya kanker atau HIV/AIDS).
- Gangguan stres pascatrauma (PTSD).
- Penyalahgunaan zat atau ketergantungan obat.
- Kehilangan pekerjaan, kebangkrutan, atau penurunan status sosial secara mendadak.
D. Luaran Keperawatan (SLKI)
Fokus utama dari intervensi adalah mencapai Harga Diri Meningkat (L.09069). Kriteria keberhasilan yang ditetapkan meliputi:
- Peningkatan penilaian diri positif.
- Peningkatan perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan.
- Peningkatan minat mencoba hal baru dan pengambilan keputusan.
- Penurunan perilaku pasif, rasa malu yang berlebihan, dan keinginan untuk menarik diri.
E. Intervensi Keperawatan (SIKI)
Strategi pencegahan dan penanganan didasarkan pada pengembangan mekanisme koping dan penguatan konsep diri:
- Promosi Harga Diri (I.09308)
- Mengidentifikasi pengaruh budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap pembentukan harga diri.
- Memotivasi individu untuk mengidentifikasi kekuatan diri dan aspek positif yang masih dimiliki.
- Memfasilitasi lingkungan yang aman dan mendukung peningkatan kepercayaan diri.
- Memberikan penguatan (reinforcement) positif atas keberhasilan kecil atau upaya yang telah dicapai.
2. Manajemen Perilaku (I.12463)
- Membantu individu mengidentifikasi strategi koping yang adaptif terhadap situasi sulit.
- Meningkatkan kesadaran individu akan pola pikir negatif atau distorsi kognitif yang memengaruhi realita.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5®). Arlington: American Psychiatric Publishing.
NANDA International. (2021). Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2021-2023. Oxford: Wiley-Blackwell.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
Stuart, G. W. (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby.
Townsend, M. C., & Morgan, K. I. (2017). Psychiatric Mental Health Nursing: Concepts of Care in Evidence-Based Practice. Philadelphia: F.A. Davis Company.
Videbeck, S. L. (2020). Psychiatric-Mental Health Nursing. Philadelphia: Wolters Kluwer.


Tinggalkan Balasan