Definisi Ilmiah Hipovolemia
Hipovolemia secara ilmiah didefinisikan sebagai kondisi penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular akibat kehilangan cairan aktif, kegagalan mekanisme regulasi, atau perpindahan cairan ke ruang ketiga. Secara patofisiologis, penurunan volume darah sirkulasi menyebabkan penurunan arus balik vena (venous return), yang kemudian menurunkan curah jantung dan tekanan darah sistemik. Hal ini memicu aktivasi sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron untuk mempertahankan Perfusi Perifer. Luaran Status Cairan (L.03028) yang optimal ditandai dengan turgor kulit yang elastis, membran mukosa lembap, serta Keseimbangan Elektrolit yang terjaga guna mendukung proses Penyembuhan Luka dan fungsi seluler secara menyeluruh
Tabel Integrasi SLKI dan SIKI: Hipovolemia
| Diagnosa | Luaran Utama (SLKI) | Luaran Tambahan (SLKI) | Intervensi Terkait (SIKI) |
| Hipovolemia | Status Cairan (L.03028) | Integritas Kulit dan Jaringan, Keseimbangan Asam-Basa, Keseimbangan Cairan, Keseimbangan Elektrolit, Penyembuhan Luka, Perfusi Perifer, Status Nutrisi, Termoregulasi, Tingkat Perdarahan | 1. Manajemen Hipovolemia (I.03116) 2. Manajemen Syok Hipovolemik (I.02048) 3. Pemantauan Cairan (I.03121) |
Rincian Intervensi SIKI (OTEK)
Berikut adalah rincian tindakan intervensi untuk mengatasi defisit volume cairan intravaskular:
1. Manajemen Hipovolemia (I.03116)
- Observasi: Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun); monitor intake dan output cairan.
- Terapeutik: Hitung kebutuhan cairan; berikan posisi modified Trendelenburg; berikan asupan cairan oral.
- Edukasi: Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral; anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis. NaCl, RL); kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis. glukosa 5%, NaCl 0,45%); kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. albumin, Plasmanate); kolaborasi pemberian produk darah jika terdapat Tingkat Perdarahan.
2. Manajemen Syok Hipovolemik (I.02048)
- Observasi: Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP); monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit, CRT); monitor tingkat kesadaran dan respons pupil.
- Terapeutik: Pertahankan jalan napas paten; berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi >94%; pasang jalur IV berukuran besar (mis. nomor 14 atau 16); ambil sampel darah untuk pemeriksaan AGD guna memantau Keseimbangan Asam-Basa.
- Edukasi: Jelaskan penyebab syok dan prosedur tindakan darurat kepada keluarga pasien.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid 20 mL/kgBB pada anak atau 1-2 L pada dewasa; kolaborasi pemberian vasopresor jika hipotensi menetap setelah rehidrasi.
3. Pemantauan Cairan (I.03121)
- Observasi: Monitor frekuensi dan kekuatan nadi; monitor frekuensi napas; monitor tekanan darah; monitor waktu pengisian kapiler (CRT) untuk menilai Perfusi Perifer; monitor jumlah, warna, dan berat jenis urine.
- Terapeutik: Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien; dokumentasikan hasil pemantauan secara akurat.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; informasikan hasil pemantauan jika perlu.
- Kolaborasi: Tidak ada tindakan spesifik, namun hasil pantauan digunakan sebagai dasar penyesuaian dosis terapi cairan oleh tim medis.
Literatur
- PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.
- PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI.


Tinggalkan Balasan