HIV/AIDS merupakan kondisi rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV, yang berkembang menjadi kumpulan gejala penyakit oportunistik yang fatal.
- A. Konsep Medis HIV/AIDS
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis HIV/AIDS
1. Definisi HIV/AIDS
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai infeksi kronis yang secara spesifik menyerang dan menghancurkan sel limfosit T CD4+, sehingga memicu penurunan sistem kekebalan tubuh pejamu secara progresif menuju stadium akhir (WHO, 2024).
Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa kelainan sistem imun tersebut merepresentasikan suatu spektrum sindrom defisiensi imun didapat yang terkonfirmasi melalui penurunan kadar CD4+ di bawah 200 sel/µL atau munculnya indikator infeksi oportunistik yang berat (CDC, 2021).
Selain itu, Volberding mendefinisikan gangguan imunitas ini sebagai penyakit retrovirus sistemik yang menyebabkan replikasi virus secara persisten dalam jaringan limfoid, sehingga merusak arsitektur kelenjar getah bening dan memicu kegagalan imunologis (Volberding, 2020).
Kemudian, Bartlett merumuskan kelainan limforetikuler tersebut berupa infeksi virus patogen yang memanfaatkan enzim reverse transcriptase untuk mengintegrasikan materi genetik RNA virus ke dalam DNA sel inang, sehingga mengganggu fungsi regulasi imun secara permanen (Bartlett, 2019).
Sementara itu, Fauci menjelaskan fenomena medis ini sebagai gangguan imunopatogenesis kompleks yang bermanifestasi dalam bentuk hiperaktivasi imun kronis, kelelahan sel T, dan ketidakmampuan sumsum tulang untuk memproduksi limfosit baru yang fungsional (Fauci, 2022).
Definisi Pakar Asia
Japanese Society for AIDS Research (JSAR) mengategorikan penyakit ini sebagai infeksi menular darah dan cairan tubuh yang memerlukan pemantauan ketat terhadap viral load plasma guna mencegah progresi menuju ensefalopati dan keganasan terkait sindrom tersebut (JSAR, 2021).
Sejalan dengan hal tersebut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa kegagalan pertahanan tubuh sekunder akibat virus patogen yang berkaitan erat dengan tingginya insidensi koinfeksi tuberkulosis paru dan pneumonia pneumosistis pada populasi usia produktif (CMA, 2023).
Lebih lanjut, AIDS Society of India (ASI) mengonfirmasikan keadaan tersebut sebagai sindrom defisiensi imun kronis yang bermanifestasi klinis dalam bentuk penurunan berat badan ekstrem, diare kronis berkepanjangan, dan kandidiasis oral yang resisten terhadap terapi antijamur standar (ASI, 2022).
Oleh karena itu, Korean Society for Infectious Diseases (KSID) mengartikan kegagalan pertahanan seluler ini sebagai dampak dari lisisnya makrofag dan sel dendritik oleh agen virus, yang memicu kerentanan masif terhadap mikroorganisme oportunistik non-patogen (KSID, 2020).
Sebagai tambahan, Asia-Pacific Network of People Living with HIV (APN+) menetapkan keluhan infeksi sistemik ini sebagai kondisi kesehatan kronis terkendali yang membutuhkan kepatuhan terapi antiretroviral seumur hidup guna mencapai supresi virus dan mempertahankan kualitas hidup yang optimal (APN+, 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Djoerban mengidentifikasi kelainan imunologis ini sebagai penyakit infeksi menular yang merusak sistem kekebalan tubuh pejamu, sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan kuman penyakit yang masuk dan berujung pada kematian jika tidak mendapatkan terapi (Djoerban, 2022).
Sama halnya dengan pendapat di atas, Nasronudin menguraikan gangguan ini sebagai infeksi sekunder kronis dengan adanya penurunan drastis respons imun seluler (cell-mediated immunity), yang memicu timbulnya berbagai infeksi oportunistik dan keganasan (Nasronudin, 2021).
Meskipun demikian, Soelistijo mengartikan gangguan fungsi metabolik dan imun ini sebagai dampak sekunder dari replikasi agen penyebab yang memicu sindrom wasting, gangguan endokrin, serta disfungsi multi-organ akibat proses inflamasi sistemik yang persisten (Soelistijo, 2023).
Oleh sebab itu, Merati menyatakan kondisi patologis ini sebagai kegagalan imunitas didapat yang memerlukan pendekatan holistik, mencakup konseling kepatuhan obat, penanganan efek samping terapi antiretroviral, dan pencegahan penularan di tingkat komunitas (Merati, 2020).
Akhirnya, Yunihastuti mendedikasikan definisi keluhan infeksi virus ini sebagai penyakit menular menahun yang membutuhkan diagnosis dini melalui skrining serologis massal pada populasi kunci guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas terkait sindrom stadium akhir Indonesia (Yunihastuti, 2021).
2. Etiologi HIV/AIDS
Agen Penyebab Utama
Sebab utama dari sindrom defisiensi imun didapat ini adalah Human Immunodeficiency Virus, yang merupakan virus RNA rantai tunggal dari keluarga Retroviridae dan genus Lentivirus. Virus ini diklasifikasikan menjadi dua tipe utama, yakni tipe 1 yang bertanggung jawab atas mayoritas infeksi di seluruh dunia, dan tipe 2 yang secara epidemiologis lebih terlokalisasi di wilayah Afrika Barat (Fauci, 2022; Nasronudin, 2021).
Faktor Risiko Transmisi
Sementara itu, faktor risiko penularan virus ini berpusat pada kontak langsung dengan cairan tubuh yang mengandung komponen virus bebas atau sel yang terinfeksi, seperti darah, semen, cairan vagina, dan air susu ibu. Jalur penularan utama mencakup hubungan seksual tanpa pelindung, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkoba suntik, transfusi darah yang terkontaminasi, serta penularan perinatal dari ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui (WHO, 2024; Djoerban, 2022).
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Invasi Seluler
Mekanisme terjadinya infeksi mulai dengan penempelan glikoprotein selubung virus (gp120) pada reseptor spesifik CD4+ yang terdapat pada permukaan limfosit T helper, makrofag, dan sel dendritik. Guna memfasilitasi fusi membran, gp120 harus berikatan pula dengan koreseptor kemokin (CCR5 atau CXCR4), yang diikuti dengan masuknya kompleks inti virus ke dalam sitoplasma sel inang (Bartlett, 2019; Yunihastuti, 2021).
Selanjutnya, dalam sitoplasma, enzim reverse transcriptase mensintesis DNA untai ganda dari RNA virus, yang kemudian ditranslokasikan ke dalam inti sel dan diintegrasikan ke dalam genom inang oleh enzim integrase. Sel yang terinfeksi dapat berada dalam fase laten klinis selama bertahun-tahun, yang mana replikasi virus tetap berlangsung aktif dalam jaringan kelenjar getah bening (Volberding, 2020; Merati, 2020).
Replikasi dan Destruksi Imun
Kemudian, saat terjadi aktivasi imun seluler, DNA provirus ditranskripsikan menjadi RNA fungsional, dan protein virus baru dirakit dari dekat membran sel sebelum dilepaskan melalui proses budding dengan bantuan enzim protease. Proses replikasi yang masif ini berakibat langsung pada lisisnya sel T CD4+, apoptosis sel tetangga yang tidak terinfeksi, dan kelelahan fungsional sistem imun, sehingga menurunkan jumlah total sel CD4+ secara drastis dan membuka jalan bagi manifestasi infeksi oportunistik serta keganasan (Volberding, 2020; Merati, 2020).
Pathway
Penu laran Infeksi (Darah, Cairan Genital)
│
Invasi Virus ke Sirkulasi Sistemik
│
Ikatan gp120 dengan Reseptor CD4+ Sel T Helper
│
Replikasi Virus & Lisis Sel T CD4+ yang Masif
│
Penurunan Drastis Sistem Imun Tubuh
│
Stadium AIDS (Infeksi Oportunistik)
│
┌─────────────────────────────────┼─────────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Infeksi Mycobacterium Invasi Candida albicans Ensefalopati / Invasi
tuberculosis di Mukosa Saluran Pusat Saraf oleh Virus
│ Cerna │
▼ │ ▼
Kerusakan Parenkim Paru ▼ Penurunan Fungsi Kognitif
│ Kerusakan Mukosa Gaster & Kesadaran
▼ │ │
Eksudasi Cairan, Batuk ▼ ▼
Produktif & Sesak Napas Refluks, Mual, Muntah, [Gangguan Memori] (D.0062)
│ & Diare Kronis
▼ │
[Bersihan Jalan Napas ▼
Tidak Efektif] (D.0001) [Defisit Nutrisi] (D.0019)
(Fauci, 2022; PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis HIV/AIDS
a. Data Subjektif
Pasien mengekspresikan keluhan berupa kelelahan yang ekstrem dan berkepanjangan (fatik), demam intermiten atau menetap yang berlangsung lebih dari satu bulan, serta keringat malam yang membasahi pakaian tanpa aktivitas fisik. Sementara itu, pasien sering melaporkan adanya diare kronis yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari tiga minggu, penurunan nafsu makan yang drastis, nyeri menelan (disfagia) akibat sariawan yang meluas, rasa baal atau kesemutan pada ekstremitas (neuropati perifer), serta sesak napas yang semakin berat saat beraktivitas (CDC, 2021; Nasronudin, 2021).
b. Data Objektif
Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya secara drastis (>10% dari berat badan basal/sindrom wasting), limfadenopati generalisata yang menetap pada dua atau lebih kelenjar getah bening non-inguinal, serta hipertermia. Pada pemeriksaan mukosa oral, perawat mengamati adanya bercak putih tebal (kandidiasis oral) atau hairy leukoplakia pada tepi lidah. Pemeriksaan integritas kulit memperlihatkan adanya lesi makulopapular, dermatitis seboroik yang luas, pruritic papular eruption (PPE), atau lesi vaskular keunguan yang mengarah pada Sarkoma Kaposi (WHO, 2024; Djoerban, 2022).
5. Pemeriksaan Penunjang pada HIV/AIDS
a. Pemeriksaan Laboratorium
Menegakkan diagnosis definitif melalui tes serologis menggunakan metode Rapid Diagnostic Test (RDT) tiga lini dengan reagen yang memiliki prinsip preparat berbeda, atau uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi antibodi dan antigen p24. Selanjutnya, melaksanakan pemeriksaan hitung sel T CD4+ wajib untuk menentukan status imunologi dan stadium klinis pasien. Sebagai pemantauan efikasi terapi, melakukan pemeriksaan kuantifikasi RNA virus (Viral Load) dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), yang mana target keberhasilan terapi adalah mencapai status tidak terdeteksi. Pemeriksaan hematologi rutin sering menunjukkan adanya sitopenia sekunder berupa anemia, leukopenia, limfopenia, dan trombositopenia (WHO, 2024; Yunihastuti, 2021).
b. Pemeriksaan Radiologi
Melakukan foto toraks proyeksi Posterior-Anterior (PA) wajib pada semua pasien untuk menskrining koinfeksi Tuberkulosis (TB), yang bermanifestasi sebagai infiltrat apex paru, kavitas, atau efusi pleura, serta untuk mendeteksi gambaran ground-glass opacity bilateral yang khas pada Pneumonia Pneumosistis (PCP). CT-scan kepala dengan kontras diindikasikan pada pasien dengan gejala neurologis fokal untuk menyingkirkan adanya lesi desak ruang (space-occupying lesion) yang disebabkan oleh Toksoplasmosis serebral (berupa gambaran ring-enhancing lesion) atau Limfoma Sistem Saraf Pusat Primer (Bartlett, 2019; Merati, 2020).
c. Pemeriksaan Lain
Mengerjakan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (pemeriksaan esofagoskopi) pada pasien dengan keluhan disfagia berat guna mengonfirmasi keberadaan ulserasi sitomegalovirus (CMV) atau kandidiasis esofagus yang meluas. Pemeriksaan fungsi lumbal (punksi lumbal) beserta analisis cairan serebrospinal (CSF) termasuk pengecatan tinta India terindikasikan pada pasien dengan tanda meningismus untuk menegakkan diagnosis Meningitis Kriptokus (Volberding, 2020; Djoerban, 2022).
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Terapi Antiretroviral (ART) menegakkan segera setelah diagnosis tanpa memandang jumlah sel CD4+, menggunakan kombinasi tiga jenis obat instruksional untuk menekan replikasi virus secara maksimal. Regimen lini pertama standar pada Indonesia umumnya memanfaatkan kombinasi berbasis Dolutegravir (DTG) yang terkombinasikan dengan dua obat golongan Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) seperti Tenofovir (TDF) dan Lamivudine (3TC) atau Emtricitabine (FTC) dalam bentuk Fixed-Dose Combination (FDC), yang terkonsumsi satu tablet setiap 24 jam. Wajib memberikan Pemberian terapi profilaksis dengan Kotrimoksazol (dosis 960 mg/hari) pada pasien dengan kadar CD4+ <200 sel/µL atau stadium klinis 3 dan 4 untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik PCP dan Toksoplasmosis (WHO, 2024; Yunihastuti, 2021).
b. Terapi Non-Farmakologis
Intervensi nutrisi yang agresif melalui pemberian diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP) yang bersih dan matang sempurna mutlak perlu untuk mengatasi sindrom wasting dan mencegah infeksi bawaan makanan (foodborne infections). Dukungan psikososial melalui konseling kelompok sebaya (peer educator) dan konseling kesehatan mental terbukti secara klinis menurunkan tingkat depresi, meningkatkan penerimaan diri, serta mengoptimalkan kepatuhan berobat jangka panjang yang esensial dalam mencegah resistensi obat antiretroviral (Merati, 2020; Nasronudin, 2021).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pencatatan data identitas meliputi nama, umur (sering ditemukan pada usia dewasa muda produktif), jenis kelamin, pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan alamat. Perawat harus menjaga kerahasiaan identitas pasien (anonymity) secara ketat sesuai dengan kode etik keperawatan guna melindungi pasien dari stigma sosial (Nasronudin, 2021).
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan mencakup keluhan utama seperti demam berkepanjangan atau penurunan berat badan drastis. Perawat menggali riwayat penyakit sekarang terkait kronologis munculnya gejala infeksi oportunistik, riwayat perilaku berisiko tinggi pada masa lalu (seperti penggunaan jarum suntik bersama atau hubungan seksual tidak aman), serta riwayat pengobatan ART sebelumnya termasuk tingkat kepatuhan konsumsi obat (Merati, 2020; Yunihastuti, 2021).
c. Pemeriksaan Fisik
Evaluasi Sistem Respirasi dan Pencernaan
Inspeksi respirasi memperlihatkan peningkatan frekuensi napas (takipnea), penggunaan otot bantu napas, dan pergerakan dinding dada yang asimetris jika terdapat efusi pleura. Palpasi mendeteksi adanya taktil fremitus yang mengeras pada area konsolidasi paru. Perkusi menghasilkan bunyi redup pada area infiltrat atau efusi. Auskultasi menunjukkan adanya suara napas tambahan berupa ronkhi basah halus atau kasar yang meluas pada koinfeksi TB Paru atau PCP (Sujayatmo, 2021).
Inspeksi rongga mulut memperlihatkan adanya plak putih tebal yang dapat dikerok pada lidah dan mukosa pipi (kandidiasis oral) serta adanya stomatitis aptosa yang nyeri. Inspeksi abdomen menunjukkan bentuk yang cekung akibat sindrom wasting. Palpasi kuadrat kanan atas mendeteksi adanya hepatomegali dan pembesaran splenomegali yang nyeri tekan akibat infeksi diseminata. Perkusi abdomen menghasilkan bunyi timpani yang meningkat pada kasus diare kronis dengan flatulensi. Auskultasi mendeteksi peningkatan bising usus yang signifikan (>30 kali/menit) pada kondisi diare (Nasronudin, 2021).
Evaluasi Sistem Integumen dan Persarafan
Inspeksi kulit di seluruh tubuh menunjukkan penurunan turgor kulit akibat dehidrasi, adanya lesi papular pruritik (PPE), dermatitis seboroik bersisik di area wajah dan dada, atau nodul keunguan khas Sarkoma Kaposi. Palpasi kulit mengonfirmasi adanya penurunan elastisitas jaringan, kehangatan yang meningkat (hipertermia), serta nodul limfadenopati yang teraba kenyal dan tidak nyeri pada area servikal, aksila, dan inguinal (Volberding, 2020).
Inspeksi persarafan mengamati adanya penurunan kesadaran (somnolen hingga koma), adanya kelemahan anggota gerak unilateral (hemiparesis) pada kasus toksoplasmosis serebral, atau adanya tremor dan kejang fokal. Palpasi kaku kuduk menegaskan adanya tanda rangsang meningeal pada meningitis kriptokus. Pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE) mendeteksi adanya perlambatan proses pikir dan disorientasi yang khas pada kompleks demensia (Fauci, 2022).
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Analisis Pola Fungsi 1-3
Pasien mengalami penurunan nafsu makan yang ekstrem akibat disfagia kronis, mual, dan muntah, yang berdampak pada penurunan berat badan secara progresif dan malnutrisi energi protein. Pola eliminasi terganggu ditandai dengan frekuensi buang air besar yang encer lebih dari 4 kali sehari tanpa ampas selama berminggu-minggu, yang memicu gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Nasronudin, 2021).
Kelemahan otot yang menetap, intoleransi aktivitas akibat sesak napas kronis, dan keletihan parah membatasi kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) secara mandiri. Pasien juga sering mengalami penurunan memori jangka pendek, kesulitan berkonsentrasi, serta nyeri neuropati pada ekstremitas bawah yang digambarkan sebagai rasa terbakar atau tertusuk-tukuk (Volberding, 2020).
Analisis Pola Fungsi 4-5
Stigma sosial yang melekat pada diagnosis memicu gangguan citra tubuh, perasaan tidak berdaya, harga diri rendah situasional, hingga isolasi sosial akibat ketakutan akan penolakan dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar (Djoerban, 2022).
2. Diagnosis Keperawatan
Urutan Prioritas Diagnosis 1-5
- Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) b.d hipersekresi jalan napas d.d ronkhi, batuk tidak efektif, sesak napas.
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien d.d berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal, diare, kandidiasis oral.
- Diare (D.0020) b.d proses infeksi saluran cerna d.d defekasi encer lebih dari tiga kali dalam 24 jam, bising usus hiperaktif.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan umum d.d mengeluh lelah, frekuensi jantung meningkat >20% setelah aktivitas.
- Hipertermia (D.0130) b.d proses penyakit d.d suhu tubuh membaik di atas nilai normal, kulit terasa hangat.
Urutan Prioritas Diagnosis 6-10
- Nyeri Kronis (D.0078) b.d gangguan fungsi imunitas/neuropati perifer d.d mengeluh nyeri menetap >3 bulan, tampak meringis.
- Gangguan Memori (D.0062) b.d perubahan struktural otak (ensefalopati) d.d tidak mampu mengingat informasi faktual, disorientasi.
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d stigma penyakit d.d mengungkapkan perasaan malu/tidak berdaya, menilai diri negatif.
- Isolasi Sosial (D.0121) b.d perubahan status kesehatan/stigma d.d merasa ditolak, tidak ada kontak mata, menarik diri.
- Risiko Infeksi (D.0142) b.d faktor risiko ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder (imunosupresi berat).
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
- Luaran Utama: Bersihan Jalan Napas (L.01001): Batuk efektif meningkat, produksi sputum menurun, ronkhi menurun, gelisah menurun, frekuensi napas membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Jalan Napas (I.01011): Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas); Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengorok, wheezing, ronkhi kering); Monitor sputum (jumlah, warna, aroma); Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift; Posisikan semi-Fowler atau Fowler; Berikan minum hangat; Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik; Ajarkan teknik batuk efektif; Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030): Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, sariawan menurun.
- Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium; Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Ajarkan diet yang diprogramkan; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
Diare (D.0020)
- Luaran Utama: Eliminasi Fekal (L.04033): Kontrol pengeluaran feses meningkat, konsistensi feses membaik, frekuensi defekasi membaik, peristaltik usus membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Diare (I.03101): Monitor tanda dan gejala diare (mis. turgor kulit, maserasi anal, demam); Monitor jumlah pengeluaran diare; Monitor keamanan penyiapan makanan; Berikan asupan cairan oral (mis. larutan gula garam, oralit); Pasang jalur intravena dan berikan cairan intravena, jika perlu; Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu; Instruksikan pasien dan keluarga mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses; Ajarkan makanan selingan yang rendah serat dan tinggi protein; Kolaborasi pemberian obat antimikroba atau antiparasit, jika perlu.
Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Luaran Utama: Toleransi Aktivitas (L.05047): Kemudahan melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, warna kulit membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.
Hipertermia (D.0130)
- Luaran Utama: Termoregulasi (L.14134): Menggigil menurun, kulit merah menurun, kejang menurun, takikardia menurun, suhu tubuh membaik, suhu kulit membaik.
- Intervensi Utama: Manajemen Hypertermia (I.14506): Identifikasi penyebab hipertermia (mis. dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan inkubator); Monitor suhu tubuh; Monitor kadar elektrolit; Monitor keluaran urine; Monitor komplikasi akibat hipertermia; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Basahi dan kipasi permukaan tubuh; Berikan cairan oral; Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hiperhidrosis; Hindari pemberian antipiretik atau aspirin pada kondisi tertentu; Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu.
Nyeri Kronis (D.0078)
- Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066): Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat.
- Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, characteristics, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi respon nyeri non verbal; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperringan nyeri; Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin); Fasilitasi istirahat dan tidur; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
Gangguan Memori (D.0062)
- Luaran Utama: Memori (L.09079): Kemampuan mengingat informasi faktual meningkat, kemampuan mengingat perilaku tertentu meningkat, Kemampuan mengingat peristiwa meningkat, perilaku disorientasi menurun.
- Intervensi Utama: Latihan Memori (I.06188): Identifikasi masalah memori yang dialami; Monitor perilaku dan perubahan memori selama latihan; Stimulasi memori dengan mengulang pikiran yang terakhir kali diucapkan, jika perlu; Koreksi kesalahan orientasi; Fasilitasi mengingat pengalaman masa lalu; Fasilitasi kemampuan konsentrasi (mis. bermain kartu); Fasilitasi mengidentifikasi tanda dan gejala pelupa; Jelaskan tujuan memberikan latihan memori; Ajarkan teknik memori yang tepat (mis. asosiasi visual, senarai, isyarat memori, penamaan).
Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Luaran Utama: Harga Diri (L.09069): Penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan meningkat, penerimaan penilaian positif terhadap diri sendiri meningkat, verbalisasi perasaan malu menurun, perilaku tidak percaya diri menurun.
- Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308): Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri; Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan usia terhadap harga diri; Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri; Terbuka terhadap kesedihan atau krisis; Diskusikan pernyataan tentang harga diri; Berikan umpan balik positif atas peningkatan kemampuan; Jelaskan pada keluarga pentingnya dukungan dalam mengubah konsep diri positif; Ajarkan cara mengubah koping destruktif menjadi koping konstruktif.
Isolasi Sosial (D.0121)
- Luaran Utama: Keterlibatan Sosial (L.13116): Minat berinteraksi meningkat, verbalisasi tujuan yang jelas meningkat, perilaku menarik diri menurun, afek murung/sedih menurun, kontak mata membaik.
- Intervensi Utama: Promosi Sosialisasi (I.13498): Identifikasi kemampuan melakukan interaksi dengan orang lain; Monitor kemajuan perilaku interaksi; Berikan umpan balik positif pada setiap peningkatan kemampuan; Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan; Motivasi berpartisipasi dalam aktivitas kelompok atau interaksi; Diskusikan kekuatan dan keterbatasan dalam berkomunikasi dengan orang lain; Jelaskan pentingnya berinteraksi dengan orang lain; Ajarkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
Risiko Infeksi (D.0142)
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi (L.14137): Demam menurun, kemerahan menurun, nyeri menurun, piuria menurun, kadar sel darah putih membaik, kultur darah/urine membaik.
- Intervensi Utama: Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Batasi jumlah pengunjung; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; Berikan perawatan kulit pada area edema; Ganti linen secara berkala; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka; Kolaborasi pemberian imunisasi atau terapi antimikroba, jika ada indikasi klinis kuat.
(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Prosedur Pelaksanaan Klinis
Pelaksanaan tindakan keperawatan diselenggarakan secara sistematis berdasarkan perencanaan SIKI untuk memulihkan fungsi tubuh dan mengendalikan infeksi. Perawat melaksanakan pemantauan status pernapasan serta melakukan pengisapan lendir secara berkala, memberikan regimen nutrisi TKTP yang mudah ditelan serta melakukan perawatan kebersihan mulut sebelum makan, menghitung volume cairan tubuh yang hilang akibat diare kronis serta memberikan rehidrasi parenteral (Sujayatmo, 2021).
Pemantauan dan Proteksi
Mengelola pemberian rejimen terapi antiretroviral (ART) dengan prinsip tepat dosis dan waktu guna mencegah resistensi obat, menerapkan teknik aseptik yang sangat ketat dalam setiap prosedur invasif untuk melindungi pasien dari infeksi nosokomial, serta memberikan dukungan psikologis intensif melalui teknik promosi harga diri guna mereduksi kecemasan akibat stigma sosial penyakit (PPNI, 2018; Nasronudin, 2021).
5. Evaluasi
Parameter Keberhasilan Fisik
Evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan menggunakan format terstruktur SOAP pada akhir fase intervensi untuk mengukur tingkat keberhasilan. Indikator keberhasilan mencakup jalan napas yang bersih ditandai dengan hilangnya ronkhi dan efektivitas batuk, berat badan pasien mengalami peningkatan atau stabil dalam rentang ideal tanpa keluhan disfagia, frekuensi defekasi kembali normal dengan konsistensi fekal padat, serta suhu tubuh menetap dalam batas normal (PPNI, 2019).
Parameter Keberhasilan Psikososial
Fungsi kognitif dan memori jangka pendek membaik, pasien menunjukkan penerimaan diri yang positif serta mampu berinteraksi sosial secara adaptif tanpa rasa minder, serta jumlah hitung sel T CD4+ menunjukkan tren peningkatan yang dikombinasikan dengan hasil viral load plasma yang tersupresi maksimal atau tidak terdeteksi (Djoerban, 2022; Merati, 2020).
DAFTAR PUSTAKA
APN+. (2022). Quality of life and adherence to antiretroviral therapy among people living with HIV in Asia-Pacific. Journal of the International AIDS Society, 25(3). jiasociety.org/index.php/jias/article/view/25890
ASI. (2022). Clinical profile and opportunistic infections in advanced HIV disease. Indian Journal of Medical Research, 155(2). ijmr.org.in/article.asp?issn=0971-5916;year=2022;volume=155;issue=2
Bartlett, J. G. (2019). Medical Management of HIV Infection (17th ed.). Philadelphia: Knowledge Press.
CDC. (2021). Core indicators for monitoring the HIV epidemic in the United States. CDC HIV Surveillance Report, 33(1). cdc.gov/hiv/library/reports/hiv-surveillance.html
CMA. (2023). Chinese guidelines for diagnosis and treatment of HIV/AIDS. Chinese Medical Journal, 136(8). cmj.org/main/information/content.asp?id=136/8/921
Djoerban, Z. (2022). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Toksisitas Obat Antiretroviral dan Manifestasi Klinis AIDS (6th ed.). Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Fauci, A. S. (2022). Harrison’s Principles of Internal Medicine: Human Immunodeficiency Virus Disease (21st ed.). New York: McGraw-Hill Education.
JSAR. (2021). Trends in opportunistic infections and malignancies among HIV patients in Japan. The Journal of AIDS Research, 23(4). jaids.jp/journal/view.php?number=23/4/210
KSID. (2020). Clinical outcomes of early antiretroviral therapy initiation in South Korea. Infection & Chemotherapy, 52(3). icjournal.org/DOIx.php?id=10.3947/ic.2020.52.3.345
Merati, T. P. (2020). Manajemen Komprehensif Odhiv dengan Infeksi Oportunistik. Denpasar: Udayana University Press.
Nasronudin. (2021). Penyakit Infeksi di Indonesia: Patogenesis dan Tata Laksana HIV/AIDS. Surabaya: Airlangga University Press.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Soelistijo, S. A. (2023). Gangguan metabolik dan kardiovaskular pada pasien HIV jangka panjang. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 10(1). jpdi.ui.ac.id/index.php/jpdi/article/view/1012

Tinggalkan Balasan