KONSEP MEDIS PADA DISMENORE

Dismenore merupakan gangguan ginekologi berupa nyeri panggul spastik selama menstruasi akibat sekresi prostaglandin yang mengganggu aktivitas harian.

A. Konsep Medis Dismenore

1. Definisi Dismenore

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi klinis ini sebagai gejala sensorik ginekologis yang bermanifestasi berupa kram rahim yang menyakitkan sebelum atau selama onset peluruhan dinding uterus (WHO, 2023).

Selanjutnya, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa kelainan ini merepresentasikan nyeri panggul berulang yang berasal dari kontraksi miometrium berlebih akibat iskemia jaringan lokal (ACOG, 2021).

Di sisi lain, Speroff dan Fritz mendefinisikan gangguan reproduksi tersebut sebagai keluhan kram abdomen bawah yang bersifat siklik dan sinkron dengan siklus ovulasi normal tanpa adanya patologi pelvis yang mendasari (Speroff & Fritz, 2019).

Kemudian, Jonathan Berek merumuskan sindrom ginekologi ini berupa ketidaknyamanan fisik yang ekstrem selama fase menstruasi yang sering kali menyertai gejala sistemik seperti mual, sakit kepala, hingga diare (Berek, 2020).

Sementara itu, Sweet dan Gibbs menjelaskan fenomena medis ini sebagai bentuk disfungsi kontraktilitas uterus yang memicu tekanan intrauterin tinggi sehingga menekan pembuluh darah intramural (Sweet & Gibbs, 2019).

Definisi Pakar Asia

Federation of Obstetric and Gynaecological Societies of India (FOGSI) mengonfirmasikan keadaan ini sebagai penyebab utama morbiditas jangka pendek dan ketidakhadiran sekolah atau kerja pada populasi perempuan muda di Asia (FOGSI, 2022).

Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Society for National Gynaecology and Obstetrics (JSGO) mengategorikan penyakit ini sebagai nyeri siklik abdomen bawah yang membutuhkan penanganan farmakologis akibat ketidakseimbangan sintesis asam arakidonat (JSGO, 2021).

Lebih lanjut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa sindrom stagnasi aliran darah dan energi pada area pelvis yang memicu vasokontriksi arteri spiralis pembuluh darah rahim (CMA, 2023).

Oleh karena itu, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) mengartikan kram menstruasi tersebut sebagai manifestasi klinis akibat pelepasan mediator inflamasi yang berlebihan dari jaringan endometrium yang luruh (KSOG, 2020).

Sebagai tambahan, Philippine Obstetrics and Gynecological Society (POGS) menetapkan keluhan nyeri ini sebagai ketidaknyamanan siklik yang membaik setelah pemberian agen penghambat enzim siklooksigenase secara adekuat (POGS, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Sarwono Prawirohardjo mengidentifikasi kelainan ginekologi ini sebagai rasa nyeri yang hebat pada perut bagian bawah sewaktu haid, yang memaksa penderita untuk menghentikan aktivitasnya sehari-hari (Prawirohardjo, 2020).

Sama halnya dengan pendapat di atas, Manuaba menguraikan gangguan ini sebagai gejala nyeri yang timbul akibat kontraksi otot rahim yang berlebihan karena tingginya kadar hormon prostaglandin (Manuaba, 2019).

Meskipun demikian, Rustam Mochtar mengartikan gangguan siklus menstruasi ini sebagai rasa sakit yang mendahului atau menyertai perdarahan uterus berkala yang sering bermanifestasi pada wanita dengan psikis labil (Mochtar, 2018).

Oleh sebab itu, Sujayatmo menyatakan kondisi patologis ini sebagai ketidaknyamanan panggul fungsional yang berkaitan erat dengan penyempitan kanalis servikalis atau posisi rahim yang hiperantefleksi (Sujayatmo, 2021).

Akhirnya, Bagus Gde Ide mendedikasikan definisi keluhan menstruasi ini sebagai ekspresi klinis dari hipoksia miometrium akibat aktivitas miometrium yang tidak terkoordinasi selama fase sekresi akhir (Bagus, 2022).

2. Etiologi Dismenore

Penyebab utama dari gangguan menstruasi ini terbagi menjadi faktor primer dan sekunder. Pada jenis primer, peningkatan sekresi prostaglandin F2-alfa (PGF2-α) oleh endometrium fase sekresi memicu hipertonisitas miometrium.

Namun demikian, pada jenis sekunder, nyeri timbul akibat kelainan patologis anatomi pelvis seperti endometriosis, adenomiosis, mioma uteri, stenosis serviks, atau penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (ACOG, 2021; Prawirohardjo, 2020).

3. Patofisiologi dan KDM

Patofisiologi Penyakit

Inisiasi nyeri bermula dari penurunan kadar progesteron pada akhir fase luteal yang memicu lisisnya membran lisosom sel endometrium. Akibatnya, terjadi pelepasan enzim fosfolipase A2 yang mengubah fosfolipid menjadi asam arakidonat.

Oleh karena itu, melalui jalur siklooksigenase, sintesis PGF2-α dan PGE2 meningkat drastis di jaringan rahim. Konsentrasi tinggi zat ini memicu vasokonstriksi arteri spiralis, hipoksia miometrium, serta stimulasi langsung pada ujung saraf aferen (Speroff & Fritz, 2019; Berek, 2020).

Penyimpangan KDM (Pathway)

     Penurunan Kadar Progesteron pada Akhir Fase Luteal

                             │

            Lisis Membran Lisosom Sel Endometrium

                             │

            Pelepasan Enzim Fosfolipase A2

                             │

          Sintesis Prostaglandin (PGF2-α) Meningkat

                             │

                 Kontraksi Miometrium ↑

                             │

         Vasokonstriksi Arteri Spiralis & Iskemia Uterus

                             │

      ┌──────────────────────┴──────────────────────┐

      ▼                                             ▼

Pelepasan Mediator Kimia                      Pelepasan Bradikinin

(Bradykinin, Histamin)                        ke Sirkulasi Sistemik

      │                                             │

      ▼                                             ▼

Merangsang Nosiseptor Pembuluh Darah          Mempengaruhi Sistem GI

      │                                             │

      ▼                                             ▼

Kortex Serebri (Impuls Nyeri)                 Iritasi Lambung & Usus

      │                                             │

      ▼                                             ▼

 [Nyeri Akut]                                [Defisit Nutrisi]

(Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020)

4. Manifestasi Klinis Dismenore

a. Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluhkan kram intermiten pada area suprapubik yang menjalar hingga ke paha atau punggung bawah. Di samping itu, keluhan mual, lemas, pusing, dan perubahan suasana hati juga sering dirasakan (ACOG, 2021; Manuaba, 2019).

b. Data Objektif

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan wajah pasien tampak meringis menahan sakit dan bersikap protektif terhadap area perut. Selain itu, ditemukan adanya diaforesis ringan, takikardia ringan, dan penurunan nafsu makan saat nyeri memuncak (ACOG, 2021; Prawirohardjo, 2020).

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah lengkap umumnya menunjukkan hasil kadar hemoglobin dan leukosit yang berada dalam rentang normal pada kasus primer. Sementara itu, pemeriksaan kadar hormon reproduksi dapat dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding (ACOG, 2021; WHO, 2023).

b. Pemeriksaan Radiologi

Hasil ultrasonografi (USG) transvaginal atau transabdominal memperlihatkan struktur uterus yang normal pada kasus primer. Sebaliknya, pemeriksaan USG dapat mendeteksi adanya fokus endometriosis atau mioma uteri pada jenis sekunder (JSGO, 2021; Berek, 2020).

c. Pemeriksaan Lain

Tindakan laparoskopi diagnostik menjadi baku emas untuk mengonfirmasi keberadaan lesi endometriosis yang tidak terlihat pada pemeriksaan pencitraan biasa. Kemudian, tindakan histeroskopi dilakukan jika dicurigai terdapat polip atau mioma submukosa (Sweet & Gibbs, 2019; Prawirohardjo, 2020).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti Asam Mefenamat atau Ibuprofen wajib dijalankan sejak awal siklus untuk menghambat enzim siklooksigenase. Tambahan pula, terapi hormonal seperti kontrasepsi oral kombinasi efektif menekan ovulasi (ACOG, 2021; FOGSI, 2022).

b. Terapi Non-Farmakologis

Pasien disarankan melakukan kompres hangat pada area perut bawah menggunakan heating pad. Selanjutnya, aplikasi teknik relaksasi napas dalam, olahraga intensitas ringan, dan asupan nutrisi rendah lemak terbukti mampu menurunkan derajat keparahan kram rahim (Speroff & Fritz, 2019; Manuaba, 2019).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Identitas berfokus pada usia remaja akhir atau wanita muda di bawah usia 30 tahun. Tambahan pula, riwayat menarke dini dan riwayat keluarga dengan keluhan serupa menjadi poin penting dalam mengidentifikasi risiko (Manuaba, 2019).

b. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama didominasi oleh nyeri perut bawah yang muncul beberapa jam sebelum atau bersamaan dengan awitan haid. Oleh sebab itu, perawat harus menggali karakteristik nyeri (PQRST) serta dampaknya terhadap fungsi aktivitas harian (Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020).

c. Pemeriksaan Fisik

Sistem Pernapasan dan Kardiovaskular

Frekuensi napas sedikit meningkat saat nyeri hebat terjadi, suara napas vesikuler tanpa ronkhi. Denyut nadi menunjukkan takikardia ringan akibat stimulasi sistem saraf simpatis selama episode nyeri akut.

Sistem Pencernaan dan Perkemihan

Bising usus hiperaktif atau normal, terdapat keluhan mual, muntah, atau diare akibat efek sistemik prostaglandin. Area suprapubik menunjukkan nyeri tekan tanpa adanya tanda abdomen akut (rebound tenderness).

Sistem Reproduksi dan Integumen

Inspeksi genitalia eksternal menunjukkan pengeluaran darah haid yang normal tanpa bau busuk. Palpasi bimanual pada kasus primer tidak menunjukkan adanya massa adneksa, dan turgor kulit tetap elastis meskipun ada diaforesis (Mochtar, 2018; Sujayatmo, 2021).

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pola aktivitas mengalami gangguan akibat ketidakmampuan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah atau pekerjaan. Akibatnya, terjadi gangguan pola tidur karena nyeri malam hari dan ansietas terhadap siklus menstruasi berikutnya (Manuaba, 2019; Bagus, 2022).

2. Diagnosis Keperawatan

Klaster Prioritas Diagnosis 1-5

Klaster Prioritas Diagnosis 6-10

  • Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090) d.d anggota keluarga menetapkan tujuan peningkatan kesehatan.
  • Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036) d.d faktor risiko muntah berulang.
  • Risiko Ketidakberdayaan (D.0102) d.d faktor risiko penyakit kronis atau melemahkan.
  • Gangguan Rasa Nyaman (D.0074) b.d gangguan stimulus lingkungan (gejala penyakit).
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi mengenai penanganan nyeri haid. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 1-2

Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis kompres hangat pada abdomen bawah; Fasilitasi istirahat tidur; Kolaborasi pemberian analgetik OAINS.
Defisit Nutrisi (D.0019)
  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, mual menurun, muntah menurun, serum albumin membaik).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi alergi makanan; Monitor asupan makanan; Sajikan makanan secara menarik dalam porsi kecil tapi sering; Kolaborasi dengan ahli gizi.

Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 3-4

Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan kurang tidur menurun, tidak segar menurun, terjaga menurun, kemampuan beraktivitas meningkat).
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Modifikasi lingkungan pencahayaan kebisingan; Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Pahami situasi pemicu ansietas; Gunakan pendekatan tenang meyakinkan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, prognosis.

Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 5-6

Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan aktivitas harian meningkat, perasaan lemah menurun, keluhan lelah menurun, saturasi oksigen meningkat).
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh penyebab kelelahan; Sediakan lingkungan nyaman rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak; Anjurkan tirah baring saat menstruasi.
Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga (D.0090)
  • Luaran: Status Koping Keluarga (L.09088) membaik (Perilaku saling mendukung meningkat, hubungan harmonis meningkat, komunikasi efektif meningkat).
  • Intervensi: Promosi Koping (I.09312): Identifikasi pemahaman keluarga terhadap masalah; Fasilitasi pengambilan keputusan bersama; Libatkan keluarga dalam perencanaan asuhan; Anjurkan penggunaan sumber dukungan yang tersedia.

Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 7-8

Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)
  • Luaran: Keseimbangan Cairan (L.03020) meningkat (Kelembapan mukosa meningkat, turgor kulit membaik, asupan cairan membaik, output urine meningkat).
  • Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098): Monitor status hidrasi nadi turgor mukosa; Monitor berat badan harian; Catat intake output balans cairan 24 jam; Berikan asupan cairan oral sesuai kebutuhan.
Risiko Ketidakberdayaan (D.0102)
  • Luaran: Keberdayaan (L.09071) meningkat (Pernyataan kemampuan melakukan aktivitas meningkat, partisipasi keputusan meningkat, perasaan kontrol membaik).
  • Intervensi: Promosi Pengendalian Diri (I.09311): Identifikasi pandangan pasien tentang kondisinya; Fasilitasi menetapkan tujuan realistis; Diskusikan pilihan tindakan yang dapat dilakukan mandiri; Berikan pujian positif.

Rencana Luaran dan Tindakan Diagnosis 9-10

Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
  • Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (Keluhan tidak nyaman menurun, rileks meningkat, kecemasan menurun, pola eliminasi membaik).
  • Intervensi: Pengaturan Posisi (I.01014): Monitor status neurologis dan kenyamanan posisi; Atur posisi yang mengurangi regangan rahim (mis. posisi dorsal recumbent); Pertahankan imobilisasi tubuh jika diperlukan.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat belajar meningkat, kemampuan menjelaskan masalah meningkat).
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi media pendidikan kesehatan; Jadwalkan penkes sesuai kesepakatan; Ajarkan strategi manajemen nyeri mandiri.

(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan secara penuh dengan panduan SIKI. Perawat mengukur skala nyeri secara berkala, memfasilitasi kompres hangat suprapubik, memberikan terapi OAINS sesuai resep, mengontrol keluhan mual muntah dengan modifikasi diet, serta mengajarkan teknik manajemen stres (PPNI, 2018; Sujayatmo, 2021).

5. Evaluasi

Hasil akhir asuhan dievaluasi menggunakan dokumentasi SOAP. Kriteria keberhasilan merujuk pada penurunan intensitas nyeri haid, terpenuhinya kebutuhan nutrisi tanpa mual, perbaikan pola tidur malam, kembalinya kemampuan beraktivitas secara mandiri, serta peningkatan pemahaman pasien terkait efektivitas terapi (PPNI, 2019; Bagus, 2022).

DAFTAR PUSTAKA

ACOG. (2021). Dysmenorrhea. Obstetrics & Gynecology, 137(1), 168–176. acog.org/clinical/practice-bulletin/articles/2021/01/dysmenorrhea

Bagus, G. I. (2022). Infeksi Ginekologi dalam Perspektif Klinis Modern. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

CMA. (2023). Guidelines for primary dysmenorrhea. Chinese Journal of Obstetrics and Gynecology, 58(3), 161–169. cma.org.cn/art/2023/3/cma-j-og202303

FOGSI. (2022). National consensus clinical practice guidelines on management of dysmenorrhea. Journal of Obstetrics and Gynaecology of India, 72(4), 275–284. fogsi.org/jogi-consensus-dysmenorrhea

JSGO. (2021). Guidelines for gynecological practice in Japan: Management of dysmenorrhea. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(10), 3415–3423. jsgo.or.jp/jogr-guidelines-dysmenorrhea

KSOG. (2020). Clinical guideline for primary dysmenorrhea. Korean Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(5), 311–320. ksog.org/kjog-guideline-2020

Manuaba, I. B. G. (2019). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan (2nd ed.). Jakarta: EGC.

Mochtar, R. (2018). Sinopsis Obstetri: Obstetri Operatif, Obstetri Sosial (3rd ed.). Jakarta: EGC.

POGS. (2022). Clinical practice guidelines on primary dysmenorrhea. Philippine Journal of Obstetrics and Gynecology, 46(2), 95–106. pogs.org.ph/pjog-cpg-dysmenorrhea

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (3rd ed.). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Speroff, L., & Fritz, M. A. (2019). Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility (8th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *