KONSEP MEDIS PENYAKIT RADANG PANGGUL

Penyakit Radang Panggul merupakan infeksi saluran reproduksi wanita bagian atas yang menyerang rahim, tuba falopi, dan ovarium, yang sering kali memicu nyeri panggul kronis serta risiko infertilitas.

A. Konsep Medis Penyakit Radang Panggul

1. Definisi Penyakit Radang Panggul

Definisi Dari Pakar Internasional

World Health Organization (WHO) mengonseptualisasikan kondisi ini sebagai sindrom klinis yang terjadi akibat penyebaran mikroorganisme secara asenden dari vagina dan serviks ke saluran reproduksi bagian atas (WHO, 2023).

Selanjutnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa penyakit ini merepresentasikan inflamasi akut pada traktus genitalis atas wanita yang mencakup kombinasi endometritis, salpingitis, abses tuba-ovarium, dan peritonitis panggul (CDC, 2021).

Di sisi lain, Sweet dan Gibbs mendefinisikan kelainan tersebut sebagai infeksi polimikroba yang menyerang mukosa tuba falopi dan struktur panggul sekitarnya, sehingga berpotensi merusak arsitektur silia saluran reproduksi (Sweet & Gibbs, 2019).

Kemudian, Jonathan Berek merumuskan gangguan ini berupa penyakit infeksius yang timbul akibat migrasi bakteri patogen dari saluran kemih bawah menuju endometrium dan miometrium wanita usia reproduktif (Berek, 2020).

Sementara itu, Fritz dan Speroff menjelaskan fenomena klinis ini sebagai sebuah spektrum inflamasi yang merusak jaringan parenkim ovarium serta saluran telur, yang mempercepat pembentukan jaringan parut fibrotik (Fritz & Speroff, 2018).

Definisi Pakar Asia

Federation of Obstetric and Gynaecological Societies of India (FOGSI) mengonfirmasikan keadaan ini sebagai infeksi panggul yang didominasi oleh bakteri menular seksual yang memicu morbiditas reproduksi jangka panjang pada wanita usia subur (FOGSI, 2022).

Sejalan dengan hal tersebut, Japanese Society for National Gynaecology and Obstetrics (JSGO) mengategorikan penyakit ini sebagai respons inflamasi pelvis akut yang bermanifestasi akibat translokasi bakteri endoserviks ke rongga peritoneum melalui ostium tuba (JSGO, 2021).

Lebih lanjut, Chinese Medical Association (CMA) mendeskripsikan patologi ini berupa sindrom infeksi genitalia interna yang memicu perlengketan organ panggul akibat paparan patogen obligat maupun fakultatif (CMA, 2023).

Oleh karena itu, Korean Society of Obstetrics and Gynecology (KSOG) mengartikan sindrom tersebut sebagai penyakit inflamasi panggul yang menginduksi kerusakan struktural pada aparatus reproduksi akibat multiplikasi agen infeksius non-spesifik (KSOG, 2020).

Sebagai tambahan, Philippine Obstetrics and Gynecological Society (POGS) menetapkan kondisi klinis ini sebagai gangguan peradangan yang melibatkan endometrium dan miometrium dengan manifestasi klinis utama berupa nyeri goyang serviks saat pemeriksaan bimanual (POGS, 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Sarwono Prawirohardjo mengidentifikasi kelainan ini sebagai suatu infeksi saluran genital atas yang terjadi ketika barier pertahanan serviks mengalami kegagalan, sehingga kuman patogen dapat menginvasi kavum uteri hingga adneksa (Prawirohardjo, 2020).

Sama halnya dengan pendapat di atas, Manuaba menguraikan kelainan ini sebagai radang akut atau kronis pada jaringan parametrium dan peritoneum yang umumnya berasal dari komplikasi infeksi menular seksual atau tindakan medis manipulatif (Manuaba, 2019).

Meskipun demikian, Rustam Mochtar mengartikan gangguan reproduksi ini sebagai peradangan adneksa yang meliputi salpingo-ooforitis yang menimbulkan eksudat purulen di dalam rongga panggul wanita (Mochtar, 2018).

Oleh sebab itu, Sujayatmo menyatakan kondisi patologis ini sebagai infeksi sekunder pada genitalia internal wanita yang dipicu oleh higienitas personal yang buruk atau penyebaran hematogen dari fokus infeksi organ abdomen lain (Sujayatmo, 2021).

Akhirnya, Bagus Gde Ide mendedikasikan definisi kondisi ini sebagai suatu sindrom klinik akibat invasi bakteri ascendens yang menyerang sistem reproduksi wanita dan memicu kerusakan fungsional organ reproduksi (Bagus, 2022).

2. Etiologi Penyakit Radang Panggul

Penyebab utama dari gangguan ini bersifat polimikroba dengan keterlibatan patogen menular seksual. Mikroorganisme seperti Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis menjadi pemicu tersering kerusakan jaringan pelvis.

Namun demikian, bakteri anaerob obligat seperti Gardnerella vaginalis dan Peptostreptococcus juga sering menginvasi traktus genitalis bagian atas saat barier pertahanan serviks melemah (CDC, 2021; Prawirohardjo, 2020).

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Patofisiologi Penyakit

Inisiasi peradangan bermula dari kolonisasi bakteri pada vagina yang naik ke atas. Akibatnya, terjadi invasi mukosa endometrium yang menyebar secara cepat menuju tuba falopi.

Oleh karena itu, respon imun lokal memicu edema masif dan pembentukan eksudat purulen. Keadaan ini berisiko menimbulkan sumbatan tuba hingga pembentukan abses pelvis (Sweet & Gibbs, 2019; Berek, 2020).

Penyimpangan KDM (Pathway)

Invasi Bakteri (N. gonorrhoeae, C. trachomatis) di Vagina/Serviks

                            │

              Migrasi Ascendens ke Uterus & Tuba

                            │

               Reaksi Inflamasi/Peradangan

      ┌─────────────────────┴──────────────────────┐

      ▼                                            ▼

Kerusakan Jaringan & Saraf                    Eksudat Purulen & Edema

      │                                            │

Pelepasan Mediator Kimia                      Penyumbatan Tuba Falopi

(Bradikinin, Prostaglandin)                        │

      │                                   ┌────────┴────────┐

      ▼                                   ▼                 ▼

Merangsang Nosiseptor             Kovum Uteri Penuh    Akumulasi Pus

      │                           Cairan Purulen            │

      ▼                                   │                 ▼

Kortex Serebri                     Keputihan Berbau   Pelepasan Pirogen

      │                                   │                 │

      ▼                                   ▼                 ▼

[Nyeri Akut]                       [Risiko Infeksi]   Set Point Hipotalamus ↑

                                                            │

                                                            ▼

                                                       [Hipertermia]

(Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020)

4. Manifestasi Klinis Penyakit Radang Panggul

a. Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluhkan nyeri hebat pada area abdomen bawah. Di samping itu, keluhan dispareunia dan disuria juga sering dirasakan mengganggu aktivitas seksual serta eliminasi (CDC, 2021; Manuaba, 2019).

b. Data Objektif

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan suhu tubuh di atas 38°C. Selain itu, ditemukan adanya nyeri goyang serviks yang ekstrem saat dilakukan pemeriksaan bimanual ginekologi (CDC, 2021; Prawirohardjo, 2020).

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan sediaan basah sekret vagina menunjukkan peningkatan sel leukosit secara signifikan. Sementara itu, parameter inflamasi sistemik seperti LED dan CRP juga menunjukkan hasil yang meningkat (CDC, 2021; WHO, 2023).

b. Pemeriksaan Radiologi

Hasil USG transvaginal memperlihatkan adanya penebalan dinding tuba atau gambaran hidrosalping. Sebaliknya, pemeriksaan MRI dapat digunakan untuk evaluasi massa abses yang lebih detail (JSGO, 2021; Berek, 2020).

c. Pemeriksaan Lain

Tindakan laparoskopi diagnostik menjadi baku emas untuk melihat visualisasi edema adneksa secara langsung. Kemudian, tindakan biopsi endometrium dapat menegaskan adanya sel inflamasi kronis (Sweet & Gibbs, 2019; Prawirohardjo, 2020).

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian antibiotik kombinasi dosis tinggi seperti Ceftriaxone intramuskular dan Doxycycline oral wajib dijalankan. Tambahan pula, pemberian analgetik antiinflamasi non-steroid efektif meredakan intensitas nyeri (CDC, 2021; FOGSI, 2022).

b. Terapi Non-Farmakologis

Pasien disarankan menjalani tirah baring total dengan posisi semi-fowler. Selanjutnya, aplikasi kompres hangat abdomen bawah dapat membantu memperlancar vaskularisasi lokal dan menurunkan spasme (Sweet & Gibbs, 2019; Manuaba, 2019).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas Pasien

Identitas berfokus pada usia reproduktif wanita antara 15 hingga 44 tahun. Tambahan pula, status pernikahan dan perilaku higienitas menjadi poin penting dalam mengidentifikasi kerentanan transmisi kuman patogen (Manuaba, 2019).

b. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama didominasi oleh nyeri panggul hebat yang bersifat akut. Oleh sebab itu, perawat harus menggali riwayat infeksi menular seksual terdahulu serta riwayat penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (Berek, 2020; Prawirohardjo, 2020).

c. Pemeriksaan Fisik

Sistem Pernapasan dan Kardiovaskular

Frekuensi napas meningkat akibat respons nyeri, suara napas vesikuler. Denyut nadi mengalami takikardia ringan akibat pengaruh peningkatan suhu inti tubuh.

Sistem Pencernaan dan Perkemihan

Bising usus normal, namun terdapat mual akibat nyeri. Area suprapubik menunjukkan nyeri tekan masif yang disertai distensi atau rasa terbakar saat berkemih.

Sistem Reproduksi dan Integumen

Inspeksi menunjukkan sekret vagina purulen hijau kekuningan berbau menyengat. Palpasi adneksa bilateral menimbulkan nyeri hebat dan terdapat peningkatan suhu lokal kulit abdomen bawah (Mochtar, 2018; Sujayatmo, 2021).

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

Pola eliminasi mengalami gangguan akibat nyeri saat berkemih atau defekasi. Akibatnya, terjadi disfungsi seksual karena dispareunia dan peningkatan ansietas terhadap ancaman infertilitas masa depan (Manuaba, 2019; Bagus, 2022).

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas Diagnosis 1 sampai 5

Prioritas Diagnosis 6 sampai 10

  • Intoleransi Aktivitas (D.0056) b.d kelemahan umum sekunder inflamasi.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d kurangnya kontrol tidur akibat nyeri.
  • Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036) d.d faktor risiko diaforesis.
  • Defisit Nutrisi (D.0019) b.d ketidakmampuan mencerna makanan (mual).
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d kurang terpapar informasi kesehatan. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Diagnosis 1 dan 2

Nyeri Akut (D.0077)
  • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun).
  • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238): Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis kompres hangat; Fasilitasi istirahat tidur; Kolaborasi pemberian analgetik.
Hipertermia (D.0130)
  • Luaran: Termoregulasi (L.14134) membaik (Suhu tubuh membaik 36.5-37.5°C, kulit kemerahan menurun, takikardia menurun).
  • Intervensi: Manajemen Hipertermia (I.15506): Monitor suhu tubuh; Longgarkan atau lepaskan pakaian; Sediakan lingkungan yang dingin; Berikan cairan oral; Kolaborasi pemberian antipiretik dan antibiotik.

Intervensi Diagnosis 3 dan 4

Risiko Infeksi (D.0142)
  • Luaran: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun (Demam menurun, kultur sekret vagina membaik, kadar leukosit membaik).
  • Intervensi: Pencegahan Infeksi (I.14539): Monitor tanda gejala infeksi lokal sistemik; Cuci tangan sebelum sesudah kontak dengan pasien; Pertahankan teknik aseptik; Jelaskan tanda gejala infeksi.
Disfungsi Seksual (D.0069)
  • Luaran: Fungsi Seksual (L.07055) membaik (Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi ekspektasi seksual membaik).
  • Intervensi: Edukasi Seksualitas (I.12447): Identifikasi tingkat pengetahuan, mitos, persepsi seksualitas; Sediakan materi media edukasi anatomi fisiologi sistem reproduksi; Jelaskan efek penyakit terhadap seksualitas.

Intervensi Diagnosis 5 dan 6

Ansietas (D.0080)
  • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun).
  • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314): Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Pahami situasi pemicu ansietas; Gunakan pendekatan tenang meyakinkan; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, prognosis.
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
  • Luaran: Toleransi Aktivitas (L.05047) meningkat (Kemudahan aktivitas harian meningkat, perasaan lemah menurun).
  • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178): Identifikasi gangguan fungsi tubuh penyebab kelelahan; Sediakan lingkungan nyaman rendah stimulus; Lakukan latihan rentang gerak; Anjurkan tirah baring.

Intervensi Diagnosis 7 dan 8

Gangguan Pola Tidur (D.0055)
  • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Keluhan kurang tidur menurun, tidak segar menurun).
  • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174): Identifikasi pola aktivitas tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Modifikasi lingkungan pencahayaan kebisingan; Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.
Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)
  • Luaran: Keseimbangan Cairan (L.03020) meningkat (Kelembapan mukosa meningkat, turgor kulit membaik, asupan cairan membaik).
  • Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098): Monitor status hidrasi nadi turgor mukosa; Monitor berat badan harian; Catat intake output balans cairan 24 jam; Berikan asupan cairan sesuai kebutuhan.

Intervensi Diagnosis 9 dan 10

Defisit Nutrisi (D.0019)
  • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, mual menurun).
  • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119): Identifikasi status nutrisi alergi makanan; Monitor asupan makanan; Sajikan makanan secara menarik suhu sesuai; Kolaborasi dengan ahli gizi.
Defisit Pengetahuan (D.0111)
  • Luaran: Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat (Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat belajar meningkat).
  • Intervensi: Edukasi Kesehatan (I.12383): Identifikasi kesiapan kemampuan menerima informasi; Sediakan materi media pendidikan kesehatan; Jadwalkan penkes sesuai kesepakatan; Ajarkan strategi PHBS.

(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan secara penuh dengan panduan SIKI. Perawat melakukan pemantauan TTV, memberikan kombinasi antibiotik parenteral, melakukan kompres hangat, serta memberikan konseling adaptif terkait kecemasan sterilitas (PPNI, 2018; Sujayatmo, 2021).

5. Evaluasi

Hasil akhir asuhan dievaluasi menggunakan dokumentasi SOAP. Kriteria keberhasilan merujuk pada penurunan skala nyeri, normalisasi suhu tubuh, pemulihan pola eliminasi, serta kesiapan pasien dalam melakukan perawatan mandiri pasca-perawatan (PPNI, 2019; Bagus, 2022).

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, G. I. (2022). Infeksi Ginekologi dalam Perspektif Klinis Modern. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology (16th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

CDC. (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines: Pelvic Inflammatory Disease. MMWR, 70(4), 1–17. cdc.gov/mmwr/volumes/70/rr/rr7004a1.htm

CMA. (2023). Guidelines for the diagnosis and management of pelvic inflammatory disease. Chinese Journal of Obstetrics and Gynecology, 58(2), 81–89. cma.org.cn/art/2023/2/cma-j-og202302

FOGSI. (2022). National consensus clinical practice guidelines on management of PID. Journal of Obstetrics and Gynaecology of India, 72(3), 185–194. fogsi.org/jogi-consensus-pid

Fritz, M. A., & Speroff, L. (2018). Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility (8th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

JSGO. (2021). Guidelines for gynecological practice in Japan: Management of PID. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(9), 2995–3003. jsgo.or.jp/jogr-guidelines-pid

KSOG. (2020). Clinical guideline for pelvic inflammatory disease. Korean Journal of Obstetrics & Gynecology, 63(4), 215–224. ksog.org/kjog-guideline-2020

Manuaba, I. B. G. (2019). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan (2nd ed.). Jakarta: EGC.

Mochtar, R. (2018). Sinopsis Obstetri: Obstetri Operatif, Obstetri Sosial (3rd ed.). Jakarta: EGC.

POGS. (2022). Clinical practice guidelines on pelvic inflammatory disease. Philippine Journal of Obstetrics and Gynecology, 46(1), 45–56. pogs.org.ph/pjog-cpg-pid

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.

Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan (3rd ed.). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *