Kista ovarium merupakan kantong berisi cairan atau materi semipadat yang tumbuh secara abnormal dalam ovarium atau pada permukaannya.
- A. KONSEP MEDIS KISTA OVARIUM
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS KISTA OVARIUM
1. Terminologi Penyakit Kista ovarium
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) merumuskan kelainan ginekologi sistemik ini sebagai akumulasi cairan abnormal yang dikelilingi oleh dinding kapsul pada jaringan adneksa wanita (WHO, 2023).
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menetapkan kantong patologis ini sebagai struktur kistik intrapanggul dengan diameter melebihi tiga sentimeter yang berasal dari folikel (ACOG, 2024).
Berek menjelaskan massa adneksa jinak ini sebagai gangguan proliferasi seluler organ reproduksi yang dapat bersifat fungsional maupun neoplastik bergantung pada asal jaringan epitelnya (Berek, 2020).
Hoffman dkk. mendeskripsikan kondisi patologis ini sebagai pembesaran kelenjar adneksa akibat kegagalan resolusi folikel de Graaf selama siklus menstruasi berlangsung (Hoffman dkk., 2022).
Fritz merumuskan gangguan selular ini sebagai lesi kistik intrapanggul yang memicu penekanan mekanis pada organ sekitar serta berpotensi mengalami torsi akut (Fritz, 2021).
Definisi Pakar Asia
Harada dkk. mendefinisikan kelainan tumor jinak ini sebagai retensi cairan intrapanggul progresif yang menginduksi ketidakseimbangan sekresi hormon steroid seks pada wanita usia reproduksi (Harada dkk., 2021).
Tanmahasamut dkk. mengategorikan gangguan struktur adneksa ini sebagai penyebab utama tindakan laparoskopi darurat akibat ruptur dinding kantong yang memicu perdarahan intraperitoneal (Tanmahasamut dkk., 2022).
Kim dkk. menguraikan lesi ektopik ini sebagai kavitasi abnormal yang memiliki resistensi tinggi terhadap proses apoptosis seluler folikular normal (Kim dkk., 2023).
Chao dkk. mengonseptualisasikan kondisi neoplastik epitel ini sebagai pertumbuhan massa kistik yang dimediasi oleh ekspresi reseptor gonadotropin berlebih dari dalam stroma panggul (Chao dkk., 2021).
Saito menyatakan bahwa penyakit degeneratif ini merupakan lesi kistik makroskopis yang mengubah arsitektur vaskularisasi adneksa sehingga memicu iskemia jaringan (Saito, 2022).
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merumuskan gangguan ginekologi ini sebagai pembentukan kantong berisi cairan dari dalam atau pada permukaan adneksa yang bersifat fungsional atau patologis (Kemenkes RI, 2023).
Prawirohardjo menjelaskan kelainan sistem reproduksi ini sebagai suatu tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan yang paling sering terdapat pada organ adneksa wanita (Prawirohardjo, 2020).
Anwar mendefinisikan kejadian patologis ini sebagai pembesaran neoplastik atau non-neoplastik yang penyebabnya oleh akumulasi sekresi cairan intrakapsular atau retensi produk darah (Anwar, 2021).
Hendarto mengonseptualisasikan peristiwa selular ini sebagai massa kistik panggul yang mengganggu fungsi ovulasi normal dan menurunkan kualitas vaskularisasi parenkim sehat (Hendarto, 2022).
Suparman menegaskan bahwa kondisi klinis progresif tersebut merupakan gangguan proliferasi seluler yang mana ekspansi volume sangat bergantung pada stimulasi hormon gonadotropin yang persisten (Suparman, 2021).
2. Etiologi Patologis
Faktor Penyebab Utama
Terjadinya pertumbuhan kantong kistik melibatkan mekanisme multifaktorial yang mencakup disfungsi aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium, kegagalan ovulasi, dan inflamasi lokal. Kegagalan folikel de Graaf untuk ruptur menempati posisi utama, yang mana cairan folikular terus berakumulasi secara abnormal. Oleh karena itu, sel-sel granulosa terus membelah akibat stimulasi hormon pelutein yang tidak adekuat dalam memicu ovulasi normal. (Berek, 2020, Kemenkes RI, 2023)
Faktor Risiko Sistemik
Selanjutnya, teori metaplasia selomik menjelaskan bahwa sel-sel epitel permukaan mengalami transformasi menjadi jaringan kistik neoplastik akibat paparan polutan lingkungan atau inflamasi panggul kronis. Faktor herediter melalui mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 meningkatkan risiko kejadian tumor kistik neoplastik secara signifikan. Akhirnya, gangguan regulasi apoptosis seluler lokal memfasilitasi kelangsungan hidup dan ekspansi volume tanpa adanya resolusi spontan. (Hoffman dkk., 2022, Prawirohardjo, 2020)
3. Alur Patofisiologi
Mekanisme Ekspansi Cairan
Proses patologis berpusat pada sifat dinding kantong yang tetap memproduksi cairan serosa, musin, atau darah secara kontinu dari dalam rongga adneksa. Memasuki fase proliferasi seluler yang tidak terkendali, massa mengalami peningkatan volume intraovarium, sehingga mendistorsi arsitektur korteks sehat pada sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan penekanan mekanis kronis karena akumulasi volume memicu peregangan kapsul yang kaya akan serabut saraf sensoris panggul. (Harada dkk., 2021, Anwar, 2021)
Pembentukan Komplikasi Torsi
Disfungsi struktural ini memicu peningkatan berat massa sehingga mempermudah terjadinya rotasi adneksa pada pedikel vaskularnya sendiri secara mendadak. Kemudian, penyumbatan aliran darah balik vena terjadi akibat torsi adneksa tersebut yang memicu kongesti jaringan, iskemia, hingga nekrosis luas. Stimulasi mekanis pada organ sekitar seperti kandung kemih menghasilkan gangguan eliminasi. Akhirnya, ruptur dinding dapat melepaskan cairan iritatif ke rongga peritoneum sehingga memicu peritonitis akut. (Fritz, 2021, Hendarto, 2022)
Penyimpangan KDM
Disfungsi Aksis Hipotalamus-Hipofisis / Kegagalan Ovulasi / Mutasi Genetik
│
Akumulasi Cairan Intrafolikular / Proliferasi Epitel
│
Massa Kista Ovarium
│
─────────────────────────────────────────────────────────────────────────
│ │ │
Pembesaran Massa & Regangan Penekanan Mekanis pada Organ Rotasi Massa pada Pedikel
Kapsul Ovarium Kronis Intrapanggul (Vesika Urinaria) Vaskular (Torsi Adneksa)
│ │ │
▼ ▼ ▼
Iritasi Serabut Saraf Kapasitas Kandung Kemih Oklusi Vena & Iskemia
Sensoris Panggul Menurun Secara Mekanis Jaringan Ovarium Akut
│ │ │
▼ ▼ ▼
[Nyeri Kronis] [Gangguan Eliminasi Urine] [Nyeri Akut]
(Berek, 2020, Prawirohardjo, 2020, Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
4. Manifestasi Klinis Kista ovarium
a. Data Subjektif
Pasien melaporkan terjadinya nyeri perut bawah yang menetap, rasa penuh atau begah pada panggul, serta dispareunia saat melakukan aktivitas seksual. Sebelum menstruasi tiba, pasien sering mengeluhkan kram perut hebat yang menjalar hingga ke punggung akibat peregangan kapsul. Pasien menyampaikan keluhan berupa sering berkemih (polakisuria) karena penekanan massa pada kandung kemih. Sementara itu, pasien menyatakan perasaan cemas karena perutnya tampak semakin membesar menyerupai wanita hamil. (ACOG, 2024, Tanmahasamut dkk., 2022)
b. Data Objektif
Tampak ekspresi wajah meringis kesakitan dan posisi tubuh protektif menahan nyeri saat area kuadran bawah abdomen pada saat palpasi. Pemeriksaan palpasi abdomen menunjukkan adanya massa padat-kistik yang berbatas tegas, bergerak atau terfiksasi, serta nyeri tekan positif. Terdapat adanya lingkar perut yang meningkat nyata pada pengukuran antropometri jika volume cairan telah melebihi satu liter. (Kemenkes RI, 2023, Prawirohardjo, 2020)
5. Pemeriksaan Penunjang
Evaluasi Laboratorium Dan Radiologi
Pemeriksaan penanda tumor serum Cancer Antigen 125 (CA-125) memperlihatkan peningkatan kadar yang signifikan pada jenis neoplastik epitel ganas. Selanjutnya, melakukan pemeriksaan Ultrasonografi Transvaginal (USG-TV) sebagai modalitas lini pertama untuk mengidentifikasi diameter, ketebalan dinding, serta keberadaan septasi internal. Mengerjakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) guna membedakan komponen jaringan lunak, cairan, atau lemak dari dalam massa dermoid. Oleh karena itu, modalitas radiologi ini memegang peranan krusial dalam menyingkirkan tanda keganasan panggul. (ACOG, 2024, Kemenkes RI, 2023)
Prosedur Diagnostik Invasif
Pemeriksaan laparoskopi eksplorasi dilakukan secara langsung untuk menilai visualisasi makroskopis dinding kapsul dan melakukan pungsi cairan jika diperlukan. Pemeriksaan histopatologi terhadap spesimen jaringan potong beku (frozen section) memastikan jenis sel guna menegakkan diagnosis definitif antara tipe jinak atau ganas. (Berek, 2020, Kemenkes RI, 2023)
6. Penatalaksanaan Medis
Protokol Terapi Farmakologis
Pemberian obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ketorolak atau asam mefenamat menjadi lini pertama untuk meredakan nyeri akut akibat regangan kapsul. Selanjutnya, terapi hormonal berupa kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah diberikan untuk menekan sekresi gonadotropin sehingga mencegah pembentukan massa fungsional baru. Penggunaan analog GnRH dipertimbangkan pada kasus tipe endometriosis guna menginduksi hipoestrogenisme yang memicu penciutan volume secara bertahap. (ACOG, 2024, Hoffman dkk., 2022)
Protokol Terapi Non-Farmakologis
Tindakan pembedahan kistektomi via laparoskopi diaplikasikan untuk mengangkat seluruh dinding kapsul dengan tetap mempertahankan jaringan korteks yang sehat. Pemberian edukasi pembatasan aktivitas fisik mendadak dikerjakan kontinu guna menghindari risiko torsi adneksa pada massa berukuran besar. Pembedahan radikal berupa ooforektomi unilateral dilaksanakan jika jaringan telah mengalami nekrosis total akibat torsi terabaikan. Akhirnya, pemantauan berkala (expectant management) via USG diulang setiap tiga siklus menstruasi jika massa teridentifikasi sebagai tipe fungsional berukuran kurang dari lima sentimeter. (Berek, 2020, Hendarto, 2022)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
Anamnesis Riwayat Kesehatan
Pencatatan data identitas mencakup nama, usia reproduksi, status pernikahan, serta onset pembesaran lingkar perut yang dialami oleh pasien. Perawat mengidentifikasi karakteristik nyeri meliputi lokasi, durasi, faktor pemberat, serta adanya riwayat nyeri mendadak yang menandakan ruptur atau torsi. Riwayat menstruasi seperti keteraturan siklus, durasi, dan volume darah haid ditelaah mendalam bersama dengan riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal. (Anwar, 2021, Tarigan, 2021)
Evaluasi Fisik Semua Sistem
Perawat menginspeksi simetrisitas abdomen, mengukur tanda-tanda vital, serta melakukan perkusi abdomen untuk mendeteksi adanya area redup pada massa kistik. Palpasi bimanual abdomen bawah mendeteksi batas massa, mobilitas, konsistensi tegang, serta adanya tanda akut abdomen berupa nyeri lepas tekan. Pemeriksaan sistem tubuh lain dipastikan tetap diperiksa termasuk status kardiovaskular untuk memantau tanda syok hipovolemik sekunder jika terjadi ruptur masif. (Black & Hawks, 2019, Utami, 2021)
Analisis Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi kesehatan menunjukkan kecemasan akan prosedur pembedahan eksisi organ reproduksi serta ketakutan terhadap diagnosis keganasan. Pola nutrisi-metabolik ditandai dengan keluhan cepat kenyang, mual, atau rasa penuh di ulu hati akibat desakan massa ke sefalad. Selanjutnya, pola eliminasi terganggu berupa frekuensi berkemih yang meningkat atau konstipasi akibat penekanan mekanis pada rektosigmoid intraabdomen. Akhirnya, pola seksualitas-reproduksi mengalami hambatan nyata akibat ketidaknyamanan panggul kronis saat melakukan koitus bersama pasangan. (Smeltzer & Bare, 2020, Tarigan, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis Ginekologi 1-5
- D.0077 Nyeri Akut b.d. agen pencedera fisiologis d.d. mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, frekuensi nadi meningkat.
- D.0078 Nyeri Kronis b.d. penekanan eksesif massa tumor d.d. mengeluh nyeri, merasa depresi, kemampuan beraktivitas terganggu.
- D.0080 Ansietas b.d. krisis situasional d.d. merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, tampak tegang.
- D.0055 Gangguan Pola Tidur b.d. kurang kontrol tidur d.d. mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak puas tidur.
- D.0069 Disfungsi Seksual b.d. perubahan fungsi/struktur tubuh d.d. mengeluh aktivitas seksual berubah, mengeluh ekspektasi seksual berubah.
Prioritas Diagnosis Ginekologi 6-10
- D.0019 Defisit Nutrisi b.d. faktor psikologis (nyeri/mual) d.d. berat badan menurun, nafsu makan menurun, bising usus hiperaktif.
- D.0052 Konstipasi b.d. kompresi mekanis rektum d.d. defekasi kurang dari 3 kali seminggu, pengeluaran feses lama atau sulit.
- D.0040 Gangguan Eliminasi Urine b.d. infiltrasi kandung kemih d.d. desakan berkemih, disuria, sering berkemih.
- D.0074 Gangguan Rasa Nyaman b.d. gejala penyakit d.d. mengeluh tidak nyaman, mengeluh perut kembung, tampak merintih.
- D.0111 Defisit Pengetahuan b.d. kurang terpapar informasi d.d. menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan persepsi yang keliru. (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017)
3. Perencanaan Intervensi
Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
Intervensi Nyeri Akut (D.0077)
Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik. Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238) Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; monitor efek samping penggunaan analgetik. Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (kompres hangat abdomen bawah); fasilitasi istirbah dan tidur. Etablisemen Edukasi: Jelaskan strategi meredakan nyeri; anjurkan memonitor nyeri secara mandiri; ajarkan teknik nonfarmakologis. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
Intervensi Nyeri Kronis (D.0078)
Luaran Utama: Tingkat Nyeri Menurun (L.08066) Kriteria Hasil: Keluhan nyeri panggul menurun, perasaan depresi menurun, kemampuan beraktivitas meningkat. Intervensi Utama: Manajemen Nyeri Kronis (I.08242) Observasi: Identifikasi karakteristik nyeri; monitor efek samping penggunaan analgetik; monitor kepatuhan menjalani program pengobatan. Terapeutik: Fasilitasi mengubah amfiteater nyeri melalui teknik distraksi dan relaksasi; pertimbangkan penggunaan stimulasi saraf listrik transkutan. Edukasi: Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri menggunakan pain diary; anjurkan menggunakan obat analgetik secara tepat. Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi supresi hormonal.
Intervensi Ansietas (D.0080)
Luaran Utama: Tingkat Ansietas Menurun (L.09093) Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi wajah menurun, perilaku tegang menurun, konsentrasi membaik. Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314) Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; monitor tanda ansietas (verbal dan nonverbal). Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; temani pasien untuk mengurangi kecemasan; gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Edukasi: Jelaskan prosedur termasuk sensasi yang mungkin dialami selama pengobatan; anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
Intervensi Gangguan Pola Tidur (D.0055)
Luaran Utama: Pola Tidur Membaik (L.05045) Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar menurun. Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174) Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; identifikasi faktor pengganggu tidur (nyeri, kecemasan). Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu); tetapkan jadwal tidur rutin; lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan. Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; anjurkan menepati waktu tidur; ajarkan relaksasi otot autogenik sebelum tidur. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat pereda nyeri sebelum tidur.
Intervensi Disfungsi Seksual (D.0069)
Luaran Utama: Fungsi Seksual Membaik (L.07055) Kriteria Hasil: Verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, kepuasan hubungan seksual meningkat. Intervensi Utama: Konseling Seksualitas (I.07214) Observasi: Identifikasi efek gangguan kesehatan terhadap seksualitas; identifikasi tingkat pengetahuan tentang seksualitas. Terapeutik: Fasilitasi komunikasi antara pasien dan pasangan; sediakan lingkungan yang privasi dan nyaman. Edukasi: Jelaskan modifikasi aktivitas seksual untuk meminimalkan dispareunia; jelaskan pentingnya kontinuitas keintiman non-koitus. Kolaborasi: Rujuk ke spesialis reproduksi atau konselor seks, jika perlu.
Intervensi Defisit Nutrisi (D.0019)
Luaran Utama: Status Nutrisi Membaik (L.03030) Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, mual muntah menurun. Intervensi Utama: Manajemen Nutrisi (I.03119) Observasi: Identifikasi status nutrisi; monitor asupan makanan; monitor berat badan; monitor hasil laboratorium (albumin). Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik dan dalam suhu hangat; berikan makanan porsi kecil tapi sering; fasilitasi kebersihan mulut sebelum makan. Edukasi: Anjurkan diet yang diprogramkan; ajarkan manajemen mual pasca aktivitas. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (antiemetik), jika perlu.
Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
Intervensi Konstipasi (D.0052)
Luaran Utama: Eliminasi Fekal Membaik (L.04033) Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, keluhan defekasi lama/sulit menurun. Intervensi Utama: Manajemen Konstipasi (I.04155) Observasi: Monitor tanda dan gejala konstipasi; periksa pergerakan usus, karakteristik feses. Terapeutik: Fasilitasi mobilisasi fisik sesuai kemampuan; sediakan waktu yang cukup untuk eliminasi; lakukan masase abdomen jika diperlukan. Edukasi: Anjurkan konsumsi makanan tinggi serat; anjurkan meningkatkan asupan cairan; ajarkan teknik mengejan yang benar. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian laksatif atau pelunak feses, jika perlu.
Intervensi Gangguan Eliminasi Urine (D.0040)
Luaran Utama: Eliminasi Urine Membaik (L.04034) Kriteria Hasil: Sensasi berkemih membaik, disuria menurun, frekuensi berkemih membaik. Intervensi Utama: Manajemen Eliminasi Urine (I.04152) Observasi: Monitor eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, volume, dan warna; monitor tanda infeksi saluran kemih. Terapeutik: Catat waktu-waktu eliminasi urine; batasi asupan cairan mendekati waktu tidur; fasilitasi berkemih secara teratur. Edukasi: Ajarkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih; anjurkan minum cukup; ajarkan teknik latihan otot panggul (kegel). Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antispasmodik kandung kemih, jika perlu.
Intervensi Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
Luaran Utama: Status Kenyamanan Meningkat (L.08064) Kriteria Hasil: Keluhan tidak nyaman menurun, perut kembung menurun, gelisah menurun. Intervensi Utama: Pengaturan Posisi (I.01019) Observasi: Monitor status hemodinamik sebelum melakukan pengaturan posisi; monitor keselarasan tubuh. Terapeutik: Atur posisi tubuh fleksi panggul (posisi fowler atau semi-fowler) untuk kenyamanan abdominal; topang bagian tubuh yang cedera dengan bantal. Edukasi: Ajarkan pasien melakukan perubahan posisi secara mandiri dan perlahan; informasikan tujuan pengaturan posisi. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiflatulen untuk mengatasi kembung, jika perlu.
Intervensi Defisit Pengetahuan (D.0111)
Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan Meningkat (L.12111) Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pemahaman masalah meningkat, persepsi keliru menurun. Intervensi Utama: Edukasi Proses Penyakit (I.12444) Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; identifikasi faktor psikologis yang menghambat edukasi. Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi (leaflet); jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; berikan kesempatan bertanya. Edukasi: Jelaskan patofisiologi penyakit, tanda dan gejala, serta pilihan penatalaksanaan; jelaskan kemungkinan komplikasi. Kolaborasi: Fasilitasi rujukan ke kelompok pendukung pasien ginekologi. (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
4. Implementasi Keperawatan
Manajemen Klinis Dan Perawatan
Implementasi keperawatan dilaksanakan secara cermat dan terjadwal mengingat gangguan ginekologi kronis ini memerlukan adaptasi jangka panjang. Pada fase pemeliharaan, perawat melakukan pemantauan intensitas nyeri multidimensi, mengajarkan teknik manajemen stres, serta memfasilitasi hidroterapi hangat pada kuadran bawah abdomen. Tindakan pengawasan kepatuhan terapi hormonal dijalankan secara konsisten guna memastikan penekanan ukuran berjalan optimal tanpa jeda konsumsi obat. (Black & Hawks, 2019, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
Prosedur Kolaboratif Perioperatif
Selanjutnya, perawat memfasilitasi persiapan psikososial dan fisik pasien yang akan menjalani laparoskopi kistektomi atau ooforektomi radikal. Persiapan pra-bedah elektif meliputi edukasi teknik mobilisasi dini, latihan napas dalam, pencukuran area operasi panggul, serta koordinasi dengan unit kamar operasi diselesaikan secara holistik demi menjamin kelancaran penanganan klinis terpadu. (Kemenkes RI, 2023, Tim Pokja SIKI PPNI, 2018)
5. Evaluasi Keperawatan
Pencatatan SOAP Perkembangan
Evaluasi keperawatan dirumuskan untuk mengukur pencapaian kontrol nyeri dan adaptasi reproduksi pasien menggunakan struktur perkembangan SOAP. Secara subjektif, pasien menyatakan intensitas nyeri perut bawah menurun dari skala berat menjadi ringan serta kecemasan mengenai prosedur pembedahan mulai terkontrol. Secara objektif, ekspresi wajah tampak rileks, abdominal tegang menurun, tanda vital stabil, kepatuhan minum obat tercapai 100 persen, dan pola eliminasi kembali normal. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
Penyusunan Rencana Tindak Lanjut
Kemudian, berdasarkan analisis data evaluasi, masalah keperawatan nyeri akut dan nyeri kronis dinyatakan teratasi penuh atau mengalami perbaikan signifikan. Perawat menyusun rencana tindak lanjut berupa pemantauan tanda komplikasi pascabedah seperti perdarahan internal atau tanda infeksi luka operasi. Akhirnya, program edukasi pembatasan aktivitas fisik berat dan jadwal kunjungan kontrol ultrasonografi ulangan tetap diteruskan guna mendukung pemulihan kesehatan penderita. (Smeltzer & Bare, 2020, Tim Pokja SLKI PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
ACOG. (2024). Management of Adnexal Masses. Obstet Gynecol, 143(2), e34–e48. doi.org/10.1097/AOG.0000000000005512
Anwar, R. (2021). Panduan Ginekologi Remaja dan Reproduksi. Subfungsional Imunologi Kencana.
Berek, J. S. (2020). Berek & Novak’s Gynecology. Wolters Kluwer.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2019). Medical-Surgical Nursing. Elsevier.
Chao, X. et al. (2021). Gonadotropin receptors in ovarian cysts. J Steroid Biochem Mol Biol, 208, 105813. doi.org/10.1016/j.jsbmb.2021.105813
Fritz, M. A. (2021). Clinical Gynecology. N Engl J Med, 362(25), 2389–2398. doi.org/10.1056/NEJMcp1000274
Harada, T. et al. (2021). Steroidogenesis in ovarian pathology. J Obstet Gynaecol Res, 47(4), 1234–1242. doi.org/10.1111/jog.14670
Hendarto, H. (2022). Infertilitas pada Gangguan Ovarium. Airlangga University Press.
Hoffman, B. L. et al. (2022). Williams Gynecology. McGraw-Hill.
Kemenkes RI. (2023). PNPK Tata Laksana Massa Adneksa. Kemenkes RI.
Kim, J. H. et al. (2023). Apoptosis resistance in follicular cysts. Mol Hum Reprod, 29(3), gaad005. doi.org/10.1093/molehr/gaad005
Prawirohardjo, S. (2020). Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saito, S. (2022). Vascularization of ovarian tumors. Am J Reprod Immunol, 87(2), e13501. doi.org/10.1111/aji.13501
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2020). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Wolters Kluwer.
Tanmahasamut, C. et al. (2022). Ruptured ovarian cysts in Asian populations. Int J Gynaecol Obstet, 156(1), 112–119. doi.org/10.1002/ijgo.13780

Tinggalkan Balasan