Konsep Medis Gangguan Afektif

Gangguan afektif merupakan sekelompok kondisi kesehatan jiwa yang ditandai oleh perubahan suasana hati ekstrem serta memengaruhi emosi dan fungsi harian seseorang.

A. Konsep Medis Gangguan Afektif

1. Definisi Gangguan Afektif

Definisi Pakar Internasional

World Health Organization (2022) mendefinisikan gangguan afektif sebagai spektrum gangguan mental yang utamanya karena fluktuasi suasana hati abnormal, berkisar dari depresi berat hingga episode mania. (World Health Organization, 2022)

Sementara itu, Sadock, Sadock, dan Ruiz (2017) menjelaskan bahwa kondisi ini mencakup sekumpulan sindrom klinis yang menyebabkan emosi seseorang mengalami distorsi mendalam sehingga mengganggu kapasitas adaptasi sehari-hari. (Sadock et al., 2017)

Selanjutnya, American Psychiatric Association (2022) mengarakterisasikan gangguan afektif sebagai gangguan mood mendasar yang memicu penderitaan klinis signifikan serta penurunan fungsi sosial maupun okupasional. (American Psychiatric Association, 2022)

Selain itu, Stahl (2021) menguraikan gangguan ini sebagai disfungsi sirkuit neurobiologis serebral yang meregulasi respons emosional, afek, dan kendali impuls emosi. (Stahl, 2021)

Selain itu, Gelder, Harrison, dan Cowen (2018) menegaskan bahwa gangguan mood merepresentasikan sindrom psikologis dengan manifestasi dominan berupa perubahan afek yang berlangsung menetap dan intermiten. (Gelder et al., 2018)

Definisi Pakar Asia

Chen dan Lin (2020) mengartikan gangguan afektif sebagai gangguan neuropsikiatri yang melibatkan ketidakseimbangan interaksi psiko-sosiosomatik dan variasi afektif ekstrem pada populasi Asia. (Chen & Lin, 2020)

Lebih lanjut, Park dan Kim (2021) memaparkan kondisi ini sebagai disregulasi afeksi yang bersumber dari kerentanan genetik dan paparan stres lingkungan berulang. (Park & Kim, 2021)

Kemudian, Suzuki dan Takahashi (2019) mendeskripsikan gangguan afektif sebagai sindrom klinis afektif yang memicu kendala adaptasi emosional serta penurunan kualitas hidup individu secara substansial. (Suzuki & Takahashi, 2019)

Sementara itu, Malhotra dan Parikh (2020) merumuskan gangguan afektif sebagai gangguan psikologis yang memunculkan variasi afek patologis, meliputi depresi unipolar dan depresi bipolar. (Malhotra & Parikh, 2020)

Sebaliknya, Tan dan Lee (2022) menyebutkan bahwa sindrom ini mencerminkan disfungsi neurokimia otak yang bermanifestasi pada ketidakstabilan regulasi emosi jangka panjang. (Tan & Lee, 2022)

Definisi Pakar Indonesia

Hawari (2018) menguraikan gangguan afektif sebagai sindrom gangguan jiwa yang menyentuh domain emosional, sehingga memicu rasa sedih mendalam atau kegembiraan berlebihan yang patologis. (Hawari, 2018)

Oleh karena itu, Yosep dan Sutini (2019) mendefinisikan kondisi ini sebagai bentuk respons adaptif emosional yang terganggu dan bermanifestasi dalam fluktuasi suasana hati yang tidak proporsional. (Yosep & Sutini, 2019)

Meskipun demikian, Maramis dan Maramis (2019) menyatakan bahwa gangguan afektif merupakan gangguan emosi primer yang mengganggu persepsi, proses pikir, dan perilaku motorik penderita. (Maramis & Maramis, 2019)

Dengan demikian, Videbeck (2020) merumuskan gangguan suasana hati sebagai sekumpulan kondisi yang mempengaruhi pola emosi dan dinamika psikososial individu secara menyeluruh. (Videbeck, 2020)

Akhirnya, Elvira dan Hadisukanto (2018) menegaskan bahwa gangguan afektif ditandai oleh perubahan afek yang menetap dan berulang, menyertai distorsi fungsi kognitif serta somatik. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

2. Etiologi Gangguan Afektif

Etiologi kondisi emosional ini bersifat multifaktorial. Akibatnya, terjadi interaksi kompleks antara aspek biologis, genetik, psikologis, dan lingkungan tempat pasien tumbuh. (Stahl, 2021)

Secara biologis, timbul disfungsi neurokimia otak akibat penurunan kadar neurotransmiter monositik seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin. Oleh sebab itu, regulasi emosi terganggu. (Stahl, 2021)

Pada aspek genetik, riwayat keluarga meningkatkan risiko hingga 4 kali lipat akibat polimorfisme gen transpor serotonin. Akibatnya, individu lebih rentan terhadap stres emosional. (Sadock et al., 2017)

Selain itu, disregulasi neuroendokrin memicu hipersekresi kortisol kronis dari aksis hipotalamus-pituitari-adrenal. Dampaknya, respon emosi menjadi destruktif. (World Health Organization, 2022)

Terakhir, trauma masa kecil dan stres psikososial berkontribusi besar. Oleh karena itu, faktor lingkungan memperberat risiko serangan gangguan afektif. (Hawari, 2018, Yosep & Sutini, 2019)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM

Patofisiologi

Proses patofisiologi berpusat pada disfungsi sistem limbik dan korteks prefrontal. Akibatnya, transmisi sinyal monositik menurun secara signifikan pada celah sinaps otak. (Stahl, 2021)

Selanjutnya, hiperaktivitas aksis HPA memicu peningkatan kortisol plasma secara presisten. Dampaknya, timbul atrofi dendritik pada neuron hipokampus. (Sadock et al., 2017)

Pengecilan volume hipokampus ini merusak mekanisme regulasi emosi dan memori penderita. Oleh sebab itu, persepsi terhadap stresor eksternal berubah menjadi patologis. (Stahl, 2021)

Penyimpangan KDM

Penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia terjadi secara bertahap. Akibatnya, domain fisiologis, psikologis, dan sosial penderita mengalami kemunduran fungsi. (Hawari, 2018)

Pada domain psikologis, timbul perasaan tidak berdaya dan keputusasaan. Oleh karena itu, penderita kehilangan rasa aman serta harga diri. (Yosep & Sutini, 2019)

Sementara itu, pada domain fisiologis terjadi insomnia dan penurunan nafsu makan. Dampaknya, kecukupan energi dan nutrisi terganggu. (Hawari, 2018)

Pada domain sosial, timbul kecenderungan menarik diri dari lingkungan. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan interaksi emosional terhambat. (Yosep & Sutini, 2019)

Pathway

Plaintext

Faktor Genetik + Psikososial + Neuroendokrin

                   │

                   ▼

Disfungsi Neurotransmiter Monositik (Serotonin, Norepinefrin, Dopamin) & Hiperaktivitas Aksis HPA

                   │

                   ▼

     Disregulasi Sistem Limbik & Korteks Prefrontal

                   │

       ┌───────────┴───────────┐

       ▼                       ▼

Episode Depresi            Episode Mania

       │                       │

       ├─ Anhedonia & Sedih    ├─ Logorea & Euforia

       ├─ Ide Bunuh Diri       ├─ Risikonya Tinggi / Impulsif

       └─ Insomnia/Anoreksia   └─ Kebutuhan Tidur Menurun

       │                       │

       └───────────┬───────────┘

                   ▼

      Gangguan Fungsi Adaptif & KDM

(Fisiologis, Psikologis, Sosial, & Kognitif)

(Stahl, 2021, Maramis & Maramis, 2019)

4. Manifestasi Klinis Gangguan Afektif

a. Data Subjektif

Pasien sering mengungkapkan rasa sedih mendalam, hampa, dan kelelahan fisik. Oleh sebab itu, ketidakmampuan beraktivitas muncul mendominasi. (American Psychiatric Association, 2022)

Selain itu, penderita melaporkan kehilangan minat total terhadap hal favorit. Akibatnya, muncul keputusasaan dan ide bunuh diri. (Yosep & Sutini, 2019)

b. Data Objektif

Secara objektif, terlihat afek datar, kontak mata minim, serta perubahan berat badan. Oleh karena itu, tampilan fisik tampak tidak terawat. (Sadock et al., 2017)

Kemudian, tampak retardasi atau agitasi psikomotor saat berinteraksi. Dampaknya, komunikasi verbal berjalan lambat atau tidak terarah. (Hawari, 2018)

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan pemeriksaan kadar tiroid (TSH, Free T3, Free T4) untuk menyingkirkan kelainan tiroid. Oleh sebab itu, diagnosis depresi menjadi lebih pasti. (Sadock et al., 2017)

Selanjutnya, tes pemindaian kortisol dan deksametason mengukur aktivitas aksis HPA. Dampaknya, tingkat kelelahan emosional terdeteksi secara biologis. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

b. Pemeriksaan Radiologi

MRI atau CT scan kepala memastikan tidak ada lesi struktural atau massa otak. Akibatnya, dapat menyingkirkan faktor organik dari etiologi. (Stahl, 2021)

Sementara fMRI mengidentifikasi hipoaktivitas prefrontal dan hiperaktivitas amigdala. Oleh karena itu, disfungsi sirkuit emosi terlihat jelas. (Stahl, 2021)

c. Pemeriksaan Lain

Pemeriksaan psikometrik seperti HDRS, BDI, atau YMRS mengukur derajat keparahan emosi. Akibatnya, evaluasi klinis berjalan objektif. (American Psychiatric Association, 2022)

Selain itu, perekaman EEG menyingkirkan kemungkinan fokus kejang epilepsi. Oleh sebab itu, dapat memfokuskan terapi medis secara tepat. (Maramis & Maramis, 2019)

6. Penatalaksanaan Medis

a. Terapi Farmakologis

Pemberian SSRI (Fluoxetine 20 mg/hari) atau SNRI mengoreksi kadar neurotransmiter. Akibatnya, gejala depresi berangsur menurun secara efektif. (Stahl, 2021)

Selanjutnya, mood stabilizer seperti Lithium (kadar serum 0.6−1.2 mEq/L) menstabilkan fluktuasi emosi. Oleh karena itu, mania terprevensi. (Elvira & Hadisukanto, 2018)

b. Terapi Non-Farmakologis

CBT atau Cognitive Behavioral Therapy mengubah pola pikir disfungsional penderita. Akibatnya, koping adaptif pasien terbentuk dengan baik. (American Psychiatric Association, 2022)

Selain itu, menerapkan ECT pada kasus resisten obat atau risiko bunuh diri tinggi. Dampaknya, pemulihan emosi berlangsung relatif cepat. (Sadock et al., 2017)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat Kesehatan

Pengkajian identitas mencakup nama, usia, jenis kelamin, serta pekerjaan. Oleh sebab itu, gambaran demografi pasien terpetakan. (Yosep & Sutini, 2019)

Selanjutnya, keluhan utama dievaluasi intensitas dan durasinya secara cermat. Dampaknya, tingkat gangguan emosional dapat diperkirakan. (Videbeck, 2020)

Selain itu, riwayat kesehatan keluarga menggali kerentanan genetik penderita. Akibatnya, rincian faktor predisposisi teridentifikasi sempurna. (Hawari, 2018)

b. Pemeriksaan Fisik Terpadu

Pemeriksaan sistem neurosensori mengevaluasi tingkat kesadaran, proses pikir, dan afek. Oleh karena itu, evaluasi status mental berjalan optimal. (Yosep & Sutini, 2019)

Kemudian, melakukan pemeriksaan kardiovaskular serta respirasi menyeluruh. Akibatnya, komplikasi fisiologis akibat kecemasan terdeteksi cepat. (Maramis & Maramis, 2019)

Sementara pemeriksaan sistem pencernaan menilai status nutrisi serta perubahan berat badan. Dampaknya, masalah dehidrasi dapat teratasi. (Yosep & Sutini, 2019)

c. Pengkajian Pola Gordon

Memeriksa pola persepsi kesehatan dan nutrisi untuk mengukur tingkat kepatuhan. Akibatnya, risiko kelemahan fisik dapat terprediksi. (Videbeck, 2020)

Selain itu, pola tidur, eliminasi, dan aktivitas ternilai secara objektif. Dampaknya, gambaran kemandirian pasien terlihat jelas. (Yosep & Sutini, 2019)

Terakhir, mengevaluasi pola koping dan konsep diri guna mencegah tindakan berisiko. Oleh sebab itu, aspek psikososial pasien terkelola baik. (Videbeck, 2020)

2. Diagnosis Keperawatan Prioritas

Klaster Prioritas Utama (1-5)

Klaster Prioritas Pendukung (6-10)

  • D.0055 Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kecemasan dan disregulasi neurotransmiter. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • D.0019 Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat akibat anhedonia. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • D.0109 Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan penurunan energi dan motivasi internal. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • D.0096 Keputusasaan berhubungan dengan stressor jangka panjang dan perasaan tidak berdaya. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
  • D.0080 Ansietas berhubungan dengan krisis situasional dan ancaman pada konsep diri. (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)

3. Perencanaan (Intervensi)

Rencana Intervensi Diagnostik 1 – 3

1. Risiko Perilaku Mencederai Diri Sendiri (D.0145)

  • SLKI: Kontrol Diri (L.09093) membaik dengan kriteria hasil perilaku melukai diri menurun, verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, dan verbalisasi keputusasaan menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Pencegahan Bunuh Diri (I.14538). Observasi: Identifikasi gejala risiko bunuh diri, periksa lingkungan dari benda berbahaya. Terapeutik: Amankan benda berpotensi berbahaya, libatkan keluarga dalam pengawasan. Edukasi: Ajarkan strategi koping positif dan mekanisme regulasi emosi. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat mood stabilizer dan antidepresan. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

2. Harga Diri Rendah Kronis (D.0087)

  • SLKI: Harga Diri (L.09086) meningkat dengan kriteria hasil penilaian diri positif meningkat, penerimaan penilaian positif diri meningkat, dan perasaan malu menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Promosi Harga Diri (I.12463). Observasi: Identifikasi tingkat harga diri dan persepsi diri. Terapeutik: Diskusikan pernyataan tentang harga diri, fasilitasi lingkungan yang mendukung meningkatkan harga diri. Edukasi: Anjurkan mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi, ajarkan cara mengatasi stigma. Kolaborasi: – (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

3. Isolasi Sosial (D.0121)

  • SLKI: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat dengan kriteria hasil minat interaksi meningkat, verbalisasi isolasi menurun, dan perilaku menarik diri menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Promosi Sosialisasi (I.13498). Observasi: Identifikasi kemampuan melakukan interaksi dengan orang lain. Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam suatu hubungan, beri umpan balik positif pada setiap peningkatan interaksi. Edukasi: Anjurkan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. Kolaborasi: – (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Rencana Intervensi Diagnostik 4 – 7

4. Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

  • SLKI: Persepsi Sensori (L.09083) membaik dengan kriteria hasil verbalisasi mendengar halusinasi menurun, perilaku curiga menurun, dan respon sesuai stimulus membaik. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Manajemen Halusinasi (I.09288). Observasi: Monitor isi, frekuensi, dan waktu terjadinya halusinasi. Terapeutik: Pertahankan lingkungan yang aman dan tenang, tingkatkan aktivitas fisik jika agitasi. Edukasi: Ajarkan menghardik halusinasi dan ajarkan keluarga cara merawat pasien. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antipsikotik. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

5. Risiko Kebingungan Akut (D.0078)

  • SLKI: Tingkat Delirium (L.06054) menurun dengan kriteria hasil kemampuan konsentrasi meningkat, fungsi kognitif meningkat, dan agitasi menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Manajemen Delirium (I.06190). Observasi: Identifikasi riwayat penggunaan obat, status nutrisi, dan tingkat kesadaran. Terapeutik: Sediakan lingkungan yang terstruktur dan familiar, gunakan alat bantu orientasi. Edukasi: Anjurkan keluarga mendampingi pasien secara teratur. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai indikasi. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

6. Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • SLKI: Pola Tidur (L.05045) membaik dengan kriteria hasil keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, dan keluhan istirahat tidak cukup menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Dukungan Tidur (I.05174). Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur, identifikasi faktor pengganggu tidur. Terapeutik: Modifikasi lingkungan, tetapkan jadwal tidur rutin. Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup, ajarkan teknik relaksasi autogenik. Kolaborasi: – (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

7. Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh (D.0019)

  • SLKI: Status Nutrisi (L.03030) membaik dengan kriteria hasil porsi makanan yang dihabiskan meningkat, indeks massa tubuh (IMT) membaik, dan nafsu makan membaik. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119). Observasi: Identifikasi status nutrisi dan kebutuhan kalori. Terapeutik: Sajikan makanan secara menarik, berikan makanan tinggi serat dan kalori. Edukasi: Anjurkan posisi duduk saat makan. Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Rencana Intervensi Diagnostik 8 – 10

8. Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • SLKI: Perawatan Diri (L.11103) meningkat dengan kriteria hasil kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, dan mempertahankan kebersihan diri meningkat. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Observasi: Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri, monitor tingkat kemandirian. Terapeutik: Sediakan lingkungan yang terapeutik, fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu. Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten. Kolaborasi: – (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

9. Keputusasaan (D.0096)

  • SLKI: Harapan (L.09068) meningkat dengan kriteria hasil keterlibatan dalam aktivitas perawatan meningkat, verbalisasi keputusasaan menurun, dan inisiatif membaik. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Promosi Harapan (I.09307). Observasi: Identifikasi harapan pasien dan keluarga, monitor kesiapan menerima informasi. Terapeutik: Fasilitasi pasien mengidentifikasi alasan untuk hidup, ciptakan lingkungan terapeutik yang menumbuhkan rasa percaya. Edukasi: Tunjukkan koping positif saat menghadapi hambatan. Kolaborasi: – (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

10. Ansietas (D.0080)

  • SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun dengan kriteria hasil verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir menurun, dan perilaku gelisah menurun. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)
  • SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, monitor tanda ansietas. Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik, pahami situasi yang membuat ansietas. Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan, latih teknik relaksasi napas dalam. Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika perlu. (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

4. Implementasi

Melaksanakan implementasi sesuai rencana intervensi SIKI yang telah tersusun sebelumnya. Akibatnya, pemantauan risiko dan pendampingan dapat berjalan optimal. (Yosep & Sutini, 2019)

Perawat melaksanakan intervensi mandiri seperti mengajarkan koping dan relaksasi napas dalam. Selain itu,melakukan tindakan kolaborasi medikasi antipsikotik secara konsisten. (Videbeck, 2020)

5. Evaluasi

Disusun evaluasi menggunakan metode SOAP guna mengukur ketercapaian kriteria hasil SLKI. Akibatnya, perkembangan emosi pasien terpantau dinamis. (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)

Hasil respon subjektif dan objektif dianalisis secara menyeluruh pada akhir intervensi. Oleh sebab itu, tindakan keperawatan dapat dilanjutkan atau dimodifikasi. (Videbeck, 2020)

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5-TR (5th ed.). APA Publishing.

Chen, C. H., & Lin, C. Y. (2020). Cultural context and neurobiological mechanisms of mood disorders in Asian populations. Asian J Psychiatry, 54, 102-110. sciencedirect.com/journal/asian-journal-of-psychiatry

Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2018). Buku ajar psikiatri (Edisi 3). FKUI.

Gelder, M., Harrison, P., & Cowen, P. (2018). Shorter Oxford textbook of psychiatry (7th ed.). Oxford University Press.

Hawari, D. (2018). Manajemen stres, cemas, dan depresi. FKUI.

Malhotra, S., & Parikh, R. (2020). Mood disorders in the South Asian context. Indian J Psychiatry, 62(3), 245-253. indianjpsychiatry.org

Maramis, W. F., & Maramis, A. A. (2019). Catatan ilmu kedokteran jiwa (Edisi 2). Airlangga University Press.

Park, S. C., & Kim, Y. K. (2021). Neurobiological updates on major depressive disorder and bipolar disorder. Psychiatry Investig, 18(4), 273-285. psychiatryinvestigation.org

Sadock, B. J., Sadock, V. A., & Ruiz, P. (2017). Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry (11th ed.). Wolters Kluwer.

Stahl, S. M. (2021). Stahl’s essential psychopharmacology (5th ed.). Cambridge University Press.

Suzuki, K., & Takahashi, M. (2019). Clinical features of affective disorders in East Asia. J Affect Disord, 250, 189-196. jad-journal.com

Tan, L. L., & Lee, H. S. (2022). Neurochemical dysregulation and affective manifestations. J Ment Health Sci, 15(1), 45-58.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia (Edisi 1). PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar intervensi keperawatan Indonesia (Edisi 1). PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia (Edisi 1). PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *