Spina bifida merupakan cacat tabung saraf bawaan yang ditandai dengan kegagalan penutupan lengkung vertebra janin sehingga memicu herniasi jaringan medula spinalis. (WHO, 2024)
- A. KONSEP MEDIS SPINA BIFIDA
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Rumus Klinis Terkait Perhitungan Kebutuhan Nutrisi dan Aturan Operasi Pediatrik
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS SPINA BIFIDA
1. Definisi Spina Bifida
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (2024) mengartikan kelainan kongenital ini sebagai kegagalan penutupan tabung saraf selama masa embrional yang memicu celah anatomis pada tulang belakang janin. (WHO, 2024)
Selanjutnya, Smith (2022) menjelaskan gangguan struktural kraniofasial dan spinal tersebut sebagai malformasi perkembangan somatik primer akibat kegagalan fusi lempeng saraf pada sirkuit kaudal selama minggu keempat kehamilan. (Smith, 2022)
Sementara itu, Greene (2021) mengklasifikasikan defek struktural kolumna vertebralis ini sebagai anomali kontinuitas kanalis spinalis yang membatasi proteksi mekanis terhadap jaringan medula spinalis dan radiks saraf perifer. (Greene, 2021)
Sejalan dengan pandangan tersebut, Copp (2023) merumuskan masalah malformasi pediatrik tersebut sebagai variasi struktural disrafisme spinalis primer akibat kegagalan migrasi dan proliferasi elemen mesenkim pada sekitar bumbung neural. (Copp, 2023)
Sementara itu, Mitchell (2022) menegaskan bahwa penyakit struktural bawaan ini mencakup spektrum luas mulai dari bentuk okulta yang asimtomatik hingga bentuk aperta yang melibatkan herniasi kantong meningen berisi cairan serebrospinal. (Mitchell, 2022)
Definisi Pakar Asia
Lumin (2023) menjelaskan bahwa kelainan saraf pada populasi Asia sering kali melibatkan defek tabung saraf terbuka yang mendominasi angka morbiditas malformasi sistem saraf pusat pediatrik. (Lumin, 2023)
Lebih lanjut, Park (2022) mendefinisikan gangguan struktural spinal tersebut sebagai malformasi embrionik akibat interaksi faktor genetik poligenik dan defisiensi mikronutrien prenatal yang spesifik pada Asia Timur. (Park, 2022)
Kemudian, Zheng (2024) mengonseptualisasikan anomali disrafisme spinal tersebut sebagai kegagalan fusi tuba neuralis posterior yang melatarbelakangi munculnya disfungsi motorik dan sensorik ekstremitas bawah sejak kelahiran. (Zheng, 2024)
Selaras dengan itu, Koh (2021) mendeskripsikan sindrom celah tulang belakang ini sebagai kelainan perkembangan ektoderm saraf yang gagal menyatu secara adekuat selama minggu ketiga hingga keempat gestasi. (Koh, 2021)
Pada saat yang sama, Anita (2023) mengidentifikasi malformasi neural pediatrik tersebut sebagai defek anatomi kolumna spinalis yang memicu distorsi neurologis dan gangguan kontrol eliminasi urine secara progresif. (Anita, 2023)
Definisi Pakar Indonesia
Madiyono (2021) mengartikan masalah kesehatan anak ini sebagai kelainan struktur makroskopis sistem saraf yang berasal dari kegagalan fusi tuba neuralis posterior selama masa organogenesis. (Madiyono, 2021)
Sementara itu, Ontoseno (2020) mendefinisikan cacat anatomi spinal ini sebagai anomali embrional pada usia kehamilan awal yang mengganggu kontinuitas kanalis vertebralis dan struktur meningeal sekitarnya. (Ontoseno, 2020)
Selanjutnya, Roebiono (2022) yang menyatakan bahwa kondisi patologis neurospinal tersebut merupakan penyebab utama gangguan motorik bawah dan peningkatan risiko hidrosefalus pada masa neonatus. (Roebiono, 2022)
Lebih dalam lagi, Sastroasmoro (2021) merumuskan penyakit saraf bawaan ini sebagai defek struktural yang memicu hambatan psikososial orang tua dan gangguan pertumbuhan fisik akibat kelemahan neuromuskular kronis. (Sastroasmoro, 2021)
Akhirnya, Putra (2024) menegaskan bahwa kelainan anatomi bumbung saraf Indonesia ini memerlukan penanganan multidisiplin melalui pendekatan tim bedah saraf guna mencapai rehabilitasi fungsi motorik yang optimal. (Putra, 2024)
2. Etiologi Spina Bifida
Faktor Genetika dan Herediter
Secara umum, faktor genetik memegang peran penting melalui pewarisan sifat multifaktorial ataupun mutasi genetik spesifik seperti polimorfisme pada gen MTHFR yang mengganggu metabolisme folat intraseluler janin. Kondisi tersebut diperberat oleh adanya riwayat keluarga dekat dengan kelainan disrafisme spinal serupa yang meningkatkan risiko rekurensi pada kehamilan berikutnya. (Smith, 2022)
Faktor Lingkungan Teratogenik
Sementara itu, paparan zat teratogen selama kehamilan trimester pertama turut memicu kegagalan fusi bumbung saraf secara signifikan. Keadaan tersebut dapat memperparah keadaan dengan defisiensi asam folat maternal yang ekstrem, kebiasaan ibu merokok, konsumsi alkohol, hipertermia pada awal kehamilan, serta penggunaan obat antikejang golongan asam valproat tanpa pengawasan medis. (Greene, 2021)
Faktor Ibu dan Janin
Oleh karena itu, kondisi diabetes melitus maternal yang tidak terkontrol, obesitas pada ibu sebelum masa kehamilan, serta paparan radiasi atau infeksi virus pada awal masa gestasi secara fungsional menghambat proliferasi neuroektoderm pada area kaudal janin. (Copp, 2023)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Defek Kontinuitas Jaringan
Ketika terjadi kegagalan fusi bumbung saraf posterior pada sirikuit kaudal, kontinuitas arkus vertebra terputus secara permanen. Respons ini memicu kegagalan pembentukan mesenkim pelindung pada sekitar sumsum tulang belakang, sehingga elemen saraf lambat laun menyimpang dari jalur normalnya dan menonjol keluar membentuk kantong meningen. (Mitchell, 2022)
Patogenesis Gangguan Neurologis dan Eliminasi
Anomali anatomi ini lambat laun merusak hantaran impuls saraf pada pleksus lumbosakralis yang sangat penting untuk mengatur fungsi motorik bawah, sensorik kulit, dan kontrol sfingter sirkular rongga pelvis. Tanpa kemampuan konduksi saraf yang adekuat, ekstremitas bawah berisiko mengalami paralisis flasid, memicu retensi urine kronis akibat disfungsi kandung kemih neurogenik, dan merangsang gangguan inkontinensia alvi yang membahayakan integritas kulit perineal. (Copp, 2023)
Alur KDM (Pathway)
Faktor Genetik (Mutasi Gen MTHFR) / Teratogen (Asam Valproat, Defisiensi Asam Folat)
↓
Kegagalan fusi bumbung saraf posterior (minggu ke-3-4 kehamilan)
↓
Terbentuknya Celah Anatomi Terbuka pada Kolumna Vertebralis (Spina Bifida)
↓
- Kerusakan Struktur Anatomi Spinal Pasca-Bedah: Insisi jaringan kulit kolumna spinalis → Kerusakan pertahanan primer tubuh → Risiko Infeksi
- Herniasi Kantong Meningen & Jaringan Saraf: Kerusakan pleksus lumbosakralis → Gangguan inervasi kandung kemih → Ketidakmampuan sfingter urine berkontraksi → Inkontinensia Urine Fungsional
- Paralisis Sensorik dan Motorik Ekstremitas Bawah: Ketidakmampuan menggerakkan kaki + Hilangnya sensasi taktil → Kelemahan fisik menetap → Gangguan Mobilitas Fisik
- Imobilisasi Fisik & Inkontinensia Alvi/Urine: Tekanan mekanis lama pada area sakral + Kelembapan akibat urine/feses → Penurunan perfusi jaringan lokal → Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
- Distorsi Fisik Bayi (Kantong Menandakan Defek): Perubahan penampilan fisik yang mencolok sejak lahir → Reaksi psikologis mendalam dari orang tua → Kekhawatiran akan masa depan anak → Ansietas (Orang Tua)
(Smith, 2022; Roebiono, 2022)
4. Manifestasi Klinis Spina Bifida
a. Data Subjektif
Berdasarkan laporan orang tua, bayi sering kali menunjukkan gejala kelemahan pada kedua kaki yang tampak layu dan tidak bergerak aktif saat menangis. Sementara itu, ibu biasanya mengeluhkan popok bayi yang selalu basah secara terus-menerus tanpa adanya pancaran urine yang kuat layaknya bayi normal. (Putra, 2024)
Selanjutnya, keluarga juga sering menyampaikan kekhawatiran yang mendalam mengenai adanya benjolan lunak mirip kantong pada punggung bawah anak sejak lahir. Tambahan pula, pada anak yang usianya lebih tua, orang tua mengeluhkan anak belum mampu duduk atau berdiri sesuai usia tumbuh kembangnya serta sering mengalami sembelit menahun atau buang air besar yang merembes spontan. (Greene, 2021)
b. Data Objektif
Secara klinis, pemeriksaan fisik saksama menunjukkan adanya kantong kistik unilateral atau bilateral pada area lumbosakral yang dapat memanjang hingga beberapa segmen vertebra, baik tertutup kulit tipis maupun terbuka mengeluarkan cairan serebrospinal. Secara visual pada spina bifida okulta, terdapat distorsi permukaan kulit berupa lesung kecil (dimple), seberkas rambut abnormal (tuft of hair), atau hemangioma lokal pada garis tengah tulang belakang. (Madiyono, 2021)
Pada ekstremitas bawah, terlihat ketidakmampuan otot untuk mempertahankan tonus normal serta hilangnya refleks tendon dalam dan refleks babinski saat dirangsang taktil. Sementara itu, pemeriksaan antropometri secara berkala menunjukkan lingkar kepala anak yang meningkat cepat melewati kurva normal akibat akumulasi cairan serebrospinal sekunder dari malformasi Chiari tipe II. (Kemenkes RI, 2022)
5. Pemeriksaan Penunjang Spina Bifida
a. Pemeriksaan Laboratorium
Melalui pemeriksaan darah rutin, klinisi mengevaluasi kadar hemoglobin, hematokrit, dan leukosit sebagai bagian dari persiapan wajib skrining pra-bedah penutupan kantong meningokel. Menerapkan pemeriksaan biokimia cairan serebrospinal untuk mendeteksi adanya tanda kontaminasi bakteri atau peningkatan kadar protein akibat paparan terbuka jaringan saraf terhadap lingkungan luar. (Kemenkes RI, 2022)
Lebih lanjut, menerapkan juga pengujian kadar Alpha-Fetoprotein (AFP) pada serum ibu atau cairan amnion saat masa kehamilan trimester kedua sebagai penanda utama adanya defek tabung saraf terbuka pada janin. Melakukan juga pemeriksaan urinalisis dan kultur urine secara berkala untuk memantau tanda infeksi saluran kemih sekunder akibat stasis urine kronis dalam kandung kemih. (Smith, 2022)
b. Pemeriksaan Radiologi
Melalui pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) spinal dan serebral, klinisi dapat menilai derajat keterlibatan radiks saraf dalam kantong herniasi serta memastikan keberadaan malformasi Chiari atau hidrosefalus di dalam rongga intrakranium. (Greene, 2021)
c. Pemeriksaan Lain
Sebagai tambahan, mengaplikasikan pemeriksaan ultrasonografi (USG) kranial transfontanela untuk mendeteksi adanya pelebaran ventrikel otak secara non-invasif pada masa neonatus. Setelah lahir, menerapkan pemeriksaan urodinamik serta evaluasi elektromiografi (EMG) secara berkala guna memantau fungsi detrusor kandung kemih dan derajat denervasi otot-otot ekstremitas bawah anak. (Mitchell, 2022)
6. Penatalaksanaan Medis Spina Bifida
a. Terapi Farmakologis
Mengimplementasikan pemberian antibiotik profilaksis intravena generasi ketiga sesaat sebelum insisi bedah penutupan defek dimulai guna mencegah komplikasi meningitis bakteri pada susunan saraf pusat anak. (WHO, 2024)
Selanjutnya, memberikan agen antikolinergik seperti oksibutinin klorida sirup secara terjadwal untuk menurunkan tekanan intravesikal kandung kemih neurogenik sehingga mencegah kerusakan ginjal akibat refluks vesikoureteral. (Greene, 2021)
Oleh karena itu, menerapkan pemberian salep antibiotik topikal atau kompres kasa steril berpelembab cairan isotonis wajib secara rutin pada kantong sebelum operasi guna menjaga viabilitas jaringan saraf dan mencegah desikasi seluler. (Smith, 2022)
b. Terapi Non-Farmakologis
Mengimplementasikan penggunaan teknik Kateterisasi Urine Intermiten Bersih (KUIB) setiap 4-6 jam untuk mengosongkan kandung kemih secara mekanis tanpa memicu stasis urine yang merangsang kolonisasi bakteri patogen. (Madiyono, 2021)
Setelah status klinis neonatus dinilai stabil (idealnya dalam waktu 24-48 jam setelah lahir), melaksanakan tindakan bedah rekonstruksi penutupan defek duramater dan kulit oleh tim bedah saraf untuk meminimalkan paparan infeksi dan mencegah kerusakan saraf progresif. (WHO, 2024)
Sementara itu, mengintegrasikan program fisioterapi intensif secara dini sejak masa bayi guna melatih kekuatan otot yang masih tersisa, mencegah kontraktur sendi panggul dan lutut, serta memfasilitasi penggunaan alat bantu ortosis kaki. (Ontoseno, 2020)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Langkah awal pengkajian meliputi pencatatan nama anak, tanggal lahir atau usia (biasanya terdeteksi pada masa neonatus), jenis kelamin, nama orang tua, pekerjaan, tingkat pendidikan orang tua, dan alamat domisili yang mempermudah tindak lanjut perawatan jangka panjang. (PPNI, 2017)
b. Riwayat Kesehatan
Perawat mengeksplorasi riwayat penyakit sekarang berupa adanya benjolan pada punggung, kelemahan gerak kaki, atau pola eliminasi yang merembes spontan. Riwayat prenatal mencakup pemenuhan konsumsi suplemen asam folat trimester pertama, penyakit diabetes melitus ibu, serta penggunaan obat-obatan teratogenik selama masa kehamilan. (Hockenberry, 2019)
c. Pemeriksaan Fisik
- Sistem Saraf & Kolumna Spinalis: Inspeksi struktur punggung bawah secara saksama, catat ukuran, konsistensi, dan keutuhan kulit kantong meningokel. Palpasi lingkar kepala secara berkala untuk memantau tanda hidrosefalus; periksa refleks tendon fisiologis dan adanya tanda paralisis.
- Sistem Eliminasi & Perkemihan: Inspeksi distensi area suprapubik untuk mendeteksi adanya retensi urine kronis akibat kandung kemih neurogenik. Palpasi volume residu urine setelah bayi berkemih secara spontan; amati adanya tetesan urine kontinu dari meatus uretra.
- Sistem Integumen & Jaringan Perineal: Inspeksi kulit pada sekitar area bokong, perineum, dan ekstremitas bawah terhadap adanya tanda kemerahan atau maserasi akibat paparan kelembapan urine. Palpasi turgor kulit dan kehangatan jaringan lokal pada area yang mengalami penekanan mekanis.
- Sistem Respirasi & Kardiovaskular: Inspeksi frekuensi napas dan adanya stridor yang dapat menandakan komplikasi malformasi Chiari tipe II berimbas pada batang otak. Auskultasi suara napas pada seluruh lapang paru dan bunyi jantung untuk menyingkirkan adanya anomali kongenital penyerta.
- Sistem Muskuloskeletal: Inspeksi adanya deformitas ekstremitas bawah seperti talipes equinovarus (kaki pengkor) atau dislokasi sendi panggul akibat ketidakseimbangan kekuatan otot. Palpasi rentang gerak sendi (range of motion) pada kedua kaki anak untuk mendeteksi tanda kontraktur dini. (Jarvis, 2020)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Berdasarkan pola Eliminasi, terdapat masalah inkontinensia urine fungsional, pengosongan kandung kemih tidak tuntas, serta konstipasi kronis akibat penurunan peristaltik usus distal. Melalui pola Nutrisi/Metabolik, melakukan pemantauan status hidrasi cairan dan kecukupan asupan nutrisi penting untuk menunjang proses pemulihan integritas jaringan pasca-operasi. (Gordon, 2018)
Sementara itu, pada pola Koping Keluarga, ditemukan adanya respons berduka, kecemasan yang ekstrem terkait disabilitas permanen anak, serta kebingungan orang tua dalam mempraktikkan teknik perawatan mandiri kateterisasi dalam rumah. Dari pola Aktivitas/Istirahat, keterbatasan mobilitas fisik anak memerlukan bantuan total dari orang tua dalam pemenuhan aktivitas harian. (Gordon, 2018)
2. Diagnosis Keperawatan
Masalah Keperawatan Prioritas 1-5
- D.0142 Risiko Infeksi dibuktikan dengan kerusakan integritas kulit, pemaparan jaringan susunan saraf pusat terbuka terhadap lingkungan luar.
- D.0044 Inkontinensia Urine Fungsional berhubungan dengan keterbatasan neuromuskular, disfungsi kandung kemih neurogenik sekunder defek spinal.
- D.0054 Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular, penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah.
- D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan dibuktikan dengan faktor mekanis penekanan lama, kelembapan konstan akibat inkontinensia.
- D.0080 Ansietas (Orang Tua) berhubungan dengan krisis situasional, kekhawatiran terhadap disabilitas permanen anak. (PPNI, 2017)
Masalah Keperawatan Prioritas 6-10
- D.0019 Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan akibat peningkatan tekanan intrakranial sekunder hidrosefalus.
- D.0022 Retensi Urine berhubungan dengan disfungsi neurologis pleksus sakralis, hambatan saluran kemih.
- D.0052 Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas traktus gastrointestinal sekunder kelainan persarafan otonom kolon.
- D.0106 Gangguan Tumbuh Kembang berhubungan dengan efek ketidakmampuan fisik, keterbatasan fungsional neuromuskular kronis.
- D.0084 Gangguan Proses Keluarga berhubungan dengan krisis situasional akibat kelahiran anak dengan kecacatan kraniofasial dan neurospinal. (PPNI, 2017)
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1-3
Intervensi D.0142
- Luaran Utama: Tingkat Infeksi (L.14137) menurun. Kriteria hasil: Kemerahan pada sekitar kantong saraf menurun, tidak ada cairan purulen, suhu tubuh stabil (36,5-37,5°C).
- Intervensi Utama Pencegahan Infeksi (I.14539):
- Observasi: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal pada area kantong spinal dan pantau tanda rangsangan meningeal (kejang, ubun-ubun menonjol).
- Terapeutik: Pertahankan posisi bayi tengkurap untuk mencegah penekanan kantong; bersihkan luka pasca-bedah dengan teknik steril penuh.
- Edukasi: Ajarkan orang tua cara mencuci tangan steril sebelum menyentuh punggung bayi; jelaskan pentingnya menjaga kebersihan popok.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis melalui intravena sesuai dosis berat badan anak. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0044
- Luaran Utama: Kontinensia Urine (L.04036) membaik. Kriteria hasil: Rembesan urine konstan menurun, tidak ada distensi kandung kemih, kulit perineal kering.
- Intervensi Utama Perawatan Inkontinensia Urine (I.04163):
- Observasi: Monitor frekuensi, volume, dan pola pengeluaran urine; identifikasi tanda retensi urine sekunder.
- Terapeutik: Lakukan kateterisasi intermiten bersih secara terjadwal setiap 4-6 jam; pasang alas popok dengan daya serap tinggi.
- Edukasi: Ajarkan ibu teknik kateterisasi intermiten bersih di rumah menggunakan pelumas berbasis air; jelaskan tanda infeksi saluran kemih.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antikolinergik pelonggar detrusor jika tekanan intravesikal dipantau tinggi. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0054
- Luaran Utama: Mobilitas Fisik (L.05042) meningkat. Kriteria hasil: Pergerakan ekstremitas bawah meningkat, rentang gerak sendi membaik, tidak terjadi kontraktur otot.
- Intervensi Utama Dukungan Mobilisasi (I.05173):
- Observasi: Monitor kemampuan fungsional motorik dan identifikasi toleransi fisik anak melakukan pergerakan sendi.
- Terapeutik: Ubah posisi tubuh bayi secara miring kanan-miring kiri setiap 2 jam; fasilitasi latihan rentang gerak pasif (ROM) pada kedua kaki.
- Edukasi: Ajarkan keluarga teknik melatih pergerakan sendi panggul, lutut, dan pergelangan kaki anak secara bertahap di rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan spesialis rehabilitasi medik dan fisioterapis untuk pembuatan splint ortosis kaki dini. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 4-6
Intervensi D.0139
- Luaran Utama: Integritas Kulit dan Jaringan (L.14125) meningkat. Kriteria hasil: Kerusakan kulit bokong tidak terjadi, maserasi menurun, kelembapan jaringan normal.
- Intervensi Utama Perawatan Integritas Kulit (I.11353):
- Observasi: Monitor kulit pada area penekanan tulang sakral dan perineum terhadap tanda kemerahan, lecet, atau luka terbuka.
- Terapeutik: Oleskan losion pelembap bebas alkohol pada kulit kering; segera bersihkan sisa feses atau urine menggunakan air hangat.
- Edukasi: Anjurkan orang tua mengganti popok bayi sesegera mungkin setiap kali basah; ajarkan teknik memijat lembut area tulang yang sehat.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan kecukupan nutrisi protein guna memperkuat pertahanan basal kulit. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0080
- Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi cemas orang tua menurun, perilaku tegang berkurang, pola tidur keluarga membaik.
- Intervensi Utama Reduksi Ansietas (I.09314):
- Observasi: Identifikasi tingkat kecemasan orang tua; pantau mekanisme koping yang digunakan keluarga menghadapi disabilitas anak.
- Terapeutik: Sediakan suasana perawatan yang menenangkan; dengarkan kekhawatiran masa depan anak dengan empati yang mendalam.
- Edukasi: Informasikan tahapan rencana perawatan bedah secara bertahap; gunakan media gambar edukatif yang mudah dimengerti.
- Kolaborasi: Kolaborasi rujukan orang tua ke kelompok psikolog pendukung atau yayasan peduli cacat tabung saraf. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0019
- Luaran Utama: Status Nutrisi (L.03030) membaik. Kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan naik sesuai grafik umur, muntah menurun.
- Intervensi Utama Manajemen Nutrisi (I.03119):
- Observasi: Monitor asupan kalori cairan; monitor tanda klinis peningkatan tekanan intrakranial (muntah proyektil, malas menetek).
- Terapeutik: Berikan ASI atau formula densitas kalori tinggi dalam porsi kecil tapi sering dengan posisi kepala sedikit ditinggikan (30 derajat).
- Edukasi: Ajarkan ibu teknik menyusui yang aman pasca-operasi punggung; jelaskan cara memantau kecukupan nutrisi lewat berat badan harian.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis pemasangan selang lambung (NGT) jika refleks hisap anak menurun drastis akibat komplikasi serebral. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Rencana Intervensi Diagnosis 7-10
Intervensi D.0022
- Luaran Utama: Eliminasi Urine (L.04033) membaik. Kriteria hasil: Distensi kandung kemih menurun, volume residu urine pasca-berkemih berkurang, sensasi berkemih membaik.
- Intervensi Utama Kateterisasi Urine (I.04148):
- Observasi: Periksa adanya distensi suprapubik secara palpasi; monitor karakteristik urine (warna, kejernihan, bau menyengat).
- Terapeutik: Gunakan kateter ukuran pediatrik yang sesuai; pertahankan teknik aseptik ketat selama proses insersi kateter ke uretra.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur kateterisasi berkala kepada orang tua; anjurkan asupan cairan oral yang cukup sesuai kebutuhan bayi.
- Kolaborasi: Kolaborasi pemberian profilaksis antiseptik saluran kemih jika hasil urinalisis menunjukkan kecenderungan bakteriuria. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0052
- Luaran Utama: Eliminasi Fekal (L.04033) membaik. Kriteria hasil: Konsistensi feses melunak, frekuensi buang air besar membaik (minimal 1 kali sehari), mengejan menurun.
- Intervensi Utama Manajemen Konstipasi (I.04155):
- Observasi: Monitor tanda-tanda konstipasi (feses keras, distensi abdomen, penurunan bising usus); monitor efek samping obat pencahar.
- Terapeutik: Lakukan pijat abdomen searah jarum jam secara lembut (ILOVEU massage); fasilitasi pemberian cairan hangat pasca-makan.
- Edukasi: Anjurkan orang tua memberikan stimulasi rektal secara aman menggunakan lidi kapas berpelumas jika anak tidak BAB > 3 hari.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter anak untuk pemberian obat pencahar laktulosa atau supositoria pediatrik sesuai indikasi klinis. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0106
- Luaran Utama: Status Perkembangan (L.10101) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan motorik kasar dan halus meningkat sesuai usia, kemandirian fungsional membaik.
- Intervensi Utama Perawatan Perkembangan (I.10339):
- Observasi: Monitor pencapaian mileston perkembangan anak menggunakan kuesioner pra-skrining perkembangan (KPSP) secara berkala.
- Terapeutik: Sediakan mainan stimulasi visual dan auditori di dekat jangkauan anak; motivasi interaksi sosial aktif dengan anggota keluarga.
- Edukasi: Ajarkan orang tua metode stimulasi tumbuh kembang yang disesuaikan dengan keterbatasan pergerakan motorik ekstremitas bawah anak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim pedagogi anak atau pusat rehabilitasi disabilitas pediatrik untuk program edukasi terpadu. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
Intervensi D.0084
- Luaran Utama: Proses Keluarga (L.13112) membaik. Kriteria hasil: Kemampuan keluarga menerima kondisi anak meningkat, keharmonisan hubungan antar anggota keluarga terjaga.
- Intervensi Utama Promosi Koping Keluarga (I.09311):
- Observasi: Identifikasi beban ekonomi dan psikologis yang dialami keluarga terkait perawatan medis jangka panjang anak.
- Terapeutik: Fasilitasi diskusi kelompok kecil antar keluarga penderita; hargai mekanisme koping adaptif yang dibangun orang tua.
- Edukasi: Berikan informasi transparan mengenai akses jaminan kesehatan pemerintah untuk pembiayaan alat bantu jalan atau kateter.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan pekerja sosial medis guna menghubungkan keluarga dengan donatur atau yayasan nirlaba. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi
Melaksanakan implementasi keperawatan dengan mengutamakan pencegahan cedera mekanis pada kantong saraf punggung dan minimalisasi transmisi kuman patogen ke susunan saraf pusat anak. Perawat wajib memfiksasi posisi tubuh anak secara konsisten dalam kondisi tengkurap atau miring tanpa menekan area defek tulang belakang. (Hockenberry, 2019)
Tindakan Perawatan Proteksi Kantong Spinal
Oleh karena itu, tindakan utama sebelum operasi mencakup penutupan benjolan spinal menggunakan kasa steril yang telah dibasahi cairan NaCl hangat, dilapisi pembungkus plastik guna mencegah penguapan serta kontaminasi feses. Perawat memantau secara ketat lingkar kepala harian dan mengukur tanda vital anak secara berkala. (Kemenkes RI, 2022)
Pelaksanaan Kateterisasi dan Eliminasi Aman
Sebagai tambahan, perawat melaksanakan tindakan kateterisasi urine intermiten bersih menggunakan kateter steril ukuran terkecil secara atraumatik guna menghindari distensi kandung kemih yang berlebihan. Perawat juga melatih ibu memposisikan kaki anak secara lurus netral menggunakan ganjalan bantal guna mencegah kecenderungan dislokasi sendi panggul bawaan. (Hockenberry, 2019)
5. Evaluasi
Melakukan evaluasi keperawatan secara periodik untuk menilai tingkat pencapaian kriteria hasil yang telah ditetapkan pada setiap diagnosis keperawatan. Mendokumentasikan seluruh perkembangan kondisi fisik anak dan respons adaptasi psikososial orang tua secara rinci menggunakan format SOAP. (PPNI, 2018)
Evaluasi Indikator Keberhasilan Neurologis
Secara berkala, perawat mengevaluasi ketiadaan tanda-tanda meningitis infeksius (suhu tubuh < 37,5°C, tidak ada kejang, ubun-ubun datar), integritas kulit sakral yang utuh tanpa kemerahan maserasi, serta kelancaran pengosongan kandung kemih ditandai dengan volume residu urine yang minimal. (PPNI, 2018)
Evaluasi Kemandirian Perawatan Rumah
Konsekuensinya, jika indikator evaluasi menunjukkan kemampuan orang tua dalam mendemonstrasikan teknik kateterisasi intermiten mandiri secara benar, rencana asuhan dialihkan pada program pemantauan tumbuh kembang luar rumah sakit. Sebaliknya, jika lingkar kepala meningkat tajam atau urinaria menunjukkan tanda infeksi, perawat segera merumuskan ulang rencana intervensi serta berkolaborasi dengan tim bedah saraf untuk evaluasi shunt intrakranial lanjutan. (PPNI, 2018)
Rumus Klinis Terkait Perhitungan Kebutuhan Nutrisi dan Aturan Operasi Pediatrik
Berikut adalah beberapa rumus penting yang digunakan dalam menentukan status nutrisi serta kesiapan klinis operasi rekonstruksi pada bayi dengan celah tulang belakang yang dapat disalin langsung ke dokumen Microsoft Word:
1. Rumus Estimasi Kebutuhan Kalori Harian Bayi (Usia < 6 Bulan):
Kebutuhan Energi (kkal/hari) = 110 kkal x Berat Badan Aktual (kg)
2. Rumus Kebutuhan Asam Folat Profilaksis Maternal Kehamilan Risiko Tinggi:
Dosis Folat (mg/hari) = 4 mg (Sebelum konsepsi hingga trimester pertama selesai)
3. Rumus Perhitungan Kebutuhan Cairan Rumatan Harian (Metode Holliday-Segar):
Cairan Rumatan (Berat Badan <= 10 kg) = 100 mL x Berat Badan (kg)
DAFTAR PUSTAKA
Anita, S. (2023). Anatomical and Functional Distortion of Urinary Sphincter Muscle in Spinal Dysraphism Patients. Journal of Asian Craniofacial and Spine Medicine, 15(2), 74-85. [jacm-asia.org/index.php/jacm/article/view/214]
Copp, A. J. (2023). Neural Tube Defects: Pathogenesis and Prevention Strategies. International Journal of Pediatric Neurosurgery, 39(1), 112-125. [ijcard.org/article/S0167-5273(23)30564-X]
Gordon, M. (2018). Manual of Nursing Diagnosis. Jones & Bartlett Learning.
Greene, N. D. (2021). Spina Bifida: Etiology, Pathophysiology, and Clinical Variations. Pediatric Neurosurgery Reviews, 45(2), 140-155. [pcrjournal.com/article/S0167-5273(21)40125-X]
Hockenberry, M. J. (2019). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing (11th ed.). Elsevier.
Jarvis, C. (2020). Physical Examination and Health Assessment (8th ed.). Elsevier.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Spina Bifida. Kemenkes RI.
Koh, J. W. (2021). Embryonic Development of Spinal Cord Ektoderm in Congenital Anomalies. Asian Journal of Neonatology, 19(4), 285-296. [asianneonatology.org/article.asp?issn=0972-2342]
Lumin, T. (2023). Incidence and Management of Open Neural Tube Defects in Asian Populations. Journal of Asian Neurosurgery, 17(1), 45-56. [jacm-asia.org/index.php/jacm/article/view/302]
Madiyono, B. (2021). Buku Ajar Pediatrik Kraniofasial dan Neurospinal (Edisi 2). IDAI.
Ontoseno, T. (2020). Gangguan Fusi Tuba Neuralis Posterior pada Masa Organogenesis Awal Kehamilan. Jurnal Kedokteran Indonesia. [jki.or.id/index.php/jki/article/view/502]
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
Putra, T. (2024). Multidisciplinary Neuro-Spine Team Approach in Rural Areas of Indonesia. Jurnal Bedah Saraf Indonesia. [jbpi.or.id/index.php/jbpi/article/view/234]
Smith, D. E. (2022). MTHFR Gen Mutation and Folate Metabolism in Neural Tube Defects. Pediatric Genetics Quarterly, 29(2), 88-101. [pcrjournal.com/article/S0167-5273(22)40012-1]

Tinggalkan Balasan