Cerebral Palsy merupakan sekelompok gangguan perkembangan gerakan dan postur tubuh permanen yang memicu keterbatasan aktivitas akibat lesi non-progresif pada otak janin atau bayi. (WHO, 2022)
- A. KONSEP MEDIS CEREBRAL PALSY
- B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Rumus Skor Skala Ashworth Modifikasi untuk Derajat Spastisitas Otot (Dapat Disalin Langsung ke Word)
- DAFTAR PUSTAKA
A. KONSEP MEDIS CEREBRAL PALSY
1. Definisi Cerebral Palsy
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (WHO) mendefinisikan kelainan ini sebagai gangguan payung non-progresif pada sistem saraf pusat yang merusak kendali motorik, postur tubuh, dan koordinasi gerakan sejak masa perkembangan awal anak. (WHO, 2022)
Selanjutnya, Rosenbaum dkk. merumuskan kelainan neurologis ini sebagai sekelompok gangguan permanen pada perkembangan gerakan dan postur tubuh yang menyebabkan keterbatasan aktivitas, yang mana atribusinya merujuk pada gangguan non-progresif yang terjadi pada otak janin atau bayi yang sedang berkembang. (Rosenbaum dkk., 2017)
Selain tu, Bax dkk. menjelaskan status klinis ini sebagai gangguan fungsi motorik sekunder akibat cedera serebral prenatal, perinatal, atau postnatal dini yang kerap muncul dengan gangguan sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi, dan perilaku. (Bax dkk., 2019)
Sementara itu, Graham dkk. memaknai fenomena neurodisabilitas ini sebagai sindrom klinis heterogen yang memerlukan identifikasi dini berbasis neuroimaging guna mengoptimalkan sirkuit plastisitas otak anak. (Graham dkk., 2021)
Kemudian, McIntyre dkk. menyimpulkan kondisi medis tersebut sebagai cacat fisik masa kanak-kanak yang paling umum dengan etiologi multifaktorial yang memengaruhi perkembangan jalur kortikospinal sepanjang hidup pasien. (McIntyre dkk., 2022)
Definisi Pakar Asia
Giri dkk. mengartikan masalah neurologis ini pada kawasan Asia Selatan sebagai kelainan kongenital atau yang mendominasi angka kejadian disabilitas fisik anak dengan tantangan rehabilitasi yang kompleks. (Giri dkk., 2019)
Oleh karena itu, Zhang dkk. menegaskan bahwa karakteristik esensial kelainan ini pada populasi pada Asia Timur melibatkan tingginya korelasi antara kejadian iskemia ensefalopati neonatus dan kemunculan tipe spastik kuadriplegia. (Zhang dkk., 2021)
Lalu, Park dkk. mengategorikan kelainan motorik terpusat ini sebagai faktor pencetus utama terjadinya dislokasi sendi panggul berulang akibat ketidakseimbangan tonus otot spastik yang persisten pada balita. (Park dkk., 2020)
Sebaliknya, Al-Sallami menjelaskan bahwa gangguan persarafan ini pada wilayah Timur Tengah memerlukan penanganan integratif yang berfokus pada deteksi komorbiditas epilepsi guna meminimalkan defisit kognitif lanjut. (Al-Sallami, 2023)
Seterusnya, Hock dkk. menguraikan variasi klinis kelainan ini pada Asia Tenggara sebagai hambatan mobilitas fungsional yang memerlukan mobilisasi multi-profesional konvensional guna mencegah kontraktur sendi permanen sejak usia dini. (Hock dkk., 2022)
Definisi Pakar Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan sindrom ini sebagai kerusakan jaringan otak non-progresif pada masa perkembangan yang mengakibatkan gangguan fungsi motorik, postur, serta keseimbangan tubuh anak. (Kemenkes RI, 2023)
Selain itu, Soetjiningsih menerangkan bahwa kelainan ini merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, yang penyebabnya karena adanya kerusakan atau lesi pada sel-sel motorik dalam susunan saraf pusat yang sedang berkembang. (Soetjiningsih, 2018)
Dengan demikian, Wiguna menguraikan gangguan neuroperkembangan ini sebagai manifestasi klinis dari kegagalan maturasi fungsional jalur motorik luhur yang membatasi kapasitas adaptasi psikomotor anak secara kronis. (Wiguna, 2021)
Bahkan, Judarwanto memaparkan bahwa gangguan perkembangan motorik sistemik ini melibatkan malnutrisi sekunder akibat disfungsi oromotor yang memperparah keterlambatan pertumbuhan linier anak penderita. (Judarwanto, 2020)
Akhirnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengartikan kondisi klinis ini sebagai kelainan postur dan motorik persisten akibat cedera otak masa awal yang memerlukan tata laksana komprehensif berbasis tingkat kemampuan fungsional anak. (IDAI, 2021)
2. Etiologi Cerebral Palsy
Faktor Prenatal (Masa Kehamilan)
Penyebab utama gangguan fungsional yang terdominasi oleh peristiwa yang merusak jaringan otak selama masa kehamilan. Sementara itu, infeksi intrauterin seperti korioamnionitis, TORCH, dan paparan zat toksik mengganggu proses migrasi saraf janin. Selanjutnya, kondisi iskemia plasenta yang memicu hambatan pertumbuhan janin intrauterin serta malformasi kongenital struktur otak menjadi faktor risiko prenatal utama yang melemahkan stabilitas vaskular serebral. (Graham dkk., 2021)
Faktor Perinatal (Masa Persalinan)
Selanjutnya, etiologi sekunder yang mencakup periode persalinan hingga neonatus dini melibatkan cedera asfiksia lahir yang memicu ensefalopati iskemik hipoksik. Oleh karena terjadi robekan pembuluh darah akibat trauma persalinan atau partus lama, risiko perdarahan intraventrikular pada bayi prematur meningkat secara signifikan. Kemudian, kejadian ketuban pecah dini serta infeksi bakteri sistemik melahirkan kondisi sepsis neonatorum yang merusak sawar darah otak janin. Kejadian ikterus neonatorum berat akibat penumpukan bilirubin indirek pada ganglia basalis juga melandasi kemunculan tipe diskinetik. (McIntyre dkk., 2022)
Faktor Postnatal (Pasca Persalinan)
Sementara itu, etiologi postnatal mencakup kerusakan otak yang terjadi setelah proses kelahiran hingga usia dua tahun awal kehidupan anak. Kejadian infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis bakterialis dan ensefalitis virus secara destruktif merusak lapisan sel korteks serebri secara permanen. Sementara itu, trauma kepala akibat kecelakaan atau kekerasan fisik pada anak memicu perdarahan intrakranial dan edema serebral difus. Kondisi hipoksia berat yang penyebabnya oleh tenggelam, henti napas, atau sumbatan jalan napas kronis mempercepat apoptosis massal neuron pada sirkuit motorik. (Rosenbaum dkk., 2017)
3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Mekanisme Cedera Serebral Primer
Pada awal mulanya, adanya cedera hipoksia iskemik, infeksi, atau trauma pada otak yang sedang berkembang memicu pelepasan asam amino eksitotoksik seperti glutamat dalam jumlah masif. Akibatnya, terjadi influks kalsium intraseluler secara berlebihan yang mengaktifkan enzim klastik perusak sel saraf pusat. Fenomena ini menghancurkan oligodendrosit imatur pada area periventrikular, sehingga menimbulkan kondisi leukomalasia periventrikular. Kerusakan seluler pada traktus kortikospinal luhur ini menghentikan transmisi sinyal inhibisi fungsional menuju neuron motorik bawah pada medula spinalis. (Rosenbaum dkk., 2017)
Gangguan Regulasi Tonus Otot
Oleh karena hilangnya kontrol inhibisi dari korteks motorik primer, lengkung refleks regang otot bawah menjadi hiperaktif tanpa kendali sistemik. Keadaan ini memicu pelepasan neurotransmiter asetilkolin yang terus-menerus pada taut neuromuskular, sehingga menciptakan kondisi spastisitas atau rigiditas otot skeletal. Ketidakseimbangan tonus otot antara kelompok otot agonis dan antagonis memicu pemendekan serat otot secara kronis. Sementara itu, gangguan pada sirkuit ganglia basalis atau serebelum mengacaukan regulasi koordinasi gerakan volunter, yang memicu kemunculan gerakan involunter atetosis atau ataksia. (Bax dkk., 2019)
Manifestasi Defisit Neuromuskular
Akibatnya, spastisitas otot yang menetap menyebabkan kekakuan sendi ekstremitas, mengganggu pola jalan silang, dan memicu dislokasi sendi panggul sekunder. Kelemahan pada otot-otot wajah dan organ artikulasi memicu disfungsi oromotor, yang mengacaukan mekanisme refleks menelan dan memicu pengeluaran air liur berlebih. Defisit neurologis ini juga sering kali meluas ke area korteks sekitarnya, sehingga mengganggu fungsi kognitif adaptif, memicu letupan muatan listrik abnormal berupa kejang epilepsi, dan menurunkan ketajaman fungsi sensorik penglihatan serta pendengaran anak. (Soetjiningsih, 2018)
Pathway KDM
Prenatal (Infeksi TORCH) / Perinatal (Asfiksia, Prematuritas) / Postnatal (Trauma, Meningitis)
│
├──► Lesi Non-Progresif pada Otak yang Sedang Berkembang (Destruksi Neuron)
│
├──► Kerusakan Traktus Kortikospinal / Korteks Motorik Primer
│ │
│ ├──► Hilangnya Sinyal Inhibisi Luhur ke Motor Neuron Bawah
│ │ │
│ │ ├──► Hiperaktivitas Refleks Regang Otot ──► Spastisitas / Rigiditas Muskular
│ │ │ │
│ │ │ ├──► Kontraktur Sendi & Kekakuan Ekstremitas ──► **Gangguan Mobilitas Fisik**
│ │ │ │
│ │ │ └──► Kelemahan Kontrol Postur & Keseimbangan ──► **Gangguan Tumbuh Kembang**
│ │ │
│ │ └──► Disfungsi Otot Oromotor (Fasial, Lidah, Faring)
│ │ │
│ │ ├──► Kegagalan Refleks Menelan & Mengunyah ──► **Defisit Nutrisi**
│ │ │
│ │ └──► Keterbatasan Gerak Lidah & Palatum ──► **Gangguan Komunikasi Verbal**
│ │
│ └──► Perluasan Lesi ke Korteks Serebri Sekitar & Sensorik
│ │
│ ├──► Disregulasi Elektrikal Otak Serebral ──► Risiko Cedera / Kejang
│ │
│ └──► Hambatan Fungsi Kognitif & Memori ──► **Gangguan Interaksi Sosial**
4. Manifestasi Klinis Cerebral Palsy
a. Data Subjektif
- Orang tua mengeluhkan tubuh anak terasa sangat kaku saat digendong, dimandikan, atau saat dipasangkan pakaian harian.
- Ibu melaporkan anak belum bisa menegakkan kepala, berguling, atau duduk mandiri meskipun usianya sudah melewati batas normal tonggak perkembangan.
- Pengasuh menyatakan anak selalu tersedak saat diberikan susu atau MPASI dan kesulitan mengunyah makanan bertekstur padat.
- Keluarga mengeluhkan anak belum mampu memproduksi kata bermakna dan kesulitan mengekspresikan keinginan fungsionalnya secara verbal.
- Orang tua mengeluhkan anak sering mengalami kejang mendadak dengan pola sentakan otot berulang pada satu atau kedua sisi tubuh. (IDAI, 2021)
b. Data Objektif
- Pemeriksaan fisik menunjukkan peningkatan tonus otot ekstremitas ekstrem, hiperefleksia fisiologis (refleks tendon dalam +3 atau +4), dan klonus positif.
- Hasil inspeksi pola jalan mendeteksi postur khas berupa scissoring gait (berjalan menyilang seperti gunting) atau toe walking (berjalan jinjit).
- Palpasi pada persendian ekstremitas atas dan bawah menunjukkan adanya tahanan kuat terhadap gerakan pasif.
- Inspeksi area wajah memperlihatkan ketidakmampuan penutupan bibir sempurna, pengeluaran air liur berlebih, dan strabismus pada kedua mata.
- Evaluasi refleks primitif membuktikan menetapnya refleks Moro, Asymmetric Tonic Neck Reflex (ATNR), dan refleks Babinski positif di atas usia satu tahun. (Kemenkes RI, 2023)
5. Pemeriksaan Penunjang Cerebral Palsy
a. Pemeriksaan Laboratorium
Langkah awal pengujian yaitu mengarahkan laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan metabolik bawaan atau penyakit degeneratif saraf melalui analisis profil asam amino plasma. Selanjutnya, melakukan pemeriksaan skrining infeksi kongenital dengan mengukur kadar antibodi spesifik IgM dan IgG TORCH dalam serum darah tepi bayi. Melakukan pemeriksaan kadar elektrolit serum, fungsi ginjal, dan fungsi hati rutin, diikuti pemantauan kadar obat antiepilepsi dalam darah untuk memastikan efektivitas terapi fungsional. (IDAI, 2021)
b. Pemeriksaan Radiologi
Sementara itu, pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak bertindak sebagai baku emas modalitas radiologis untuk mengidentifikasi lokasi anatomis dan luas lesi serebral primer. Mengerjakan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala melalui ubun-ubun besar pada neonatus prematur guna mendeteksi perdarahan intraventrikular atau leukomalasia periventrikular secara dini. Dapat memilih CT scan kepala sebagai alternatif darurat untuk melihat adanya kalsifikasi intrakranial akibat infeksi kongenital kronis. (Graham dkk., 2021)
c. Pemeriksaan Lain
Akhirnya, wajib mengerjakan pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) jika terdapat karena adanya manifestasi klinis kejang untuk memetakan fokus epileptogenik dan menentukan tipe bangkitan kejang. Selanjutnya, menjalankan pemeriksaan fungsional pendengaran objektif berbasis Evoked Otoacoustic Emissions (OAE) dan Brainstem Auditory Evoked Response (BAER) guna mengidentifikasi ketulian sensorineural. Menilai secara terstruktur evaluasi kemampuan mobilitas fungsional motorik menggunakan instrumen baku Gross Motor Function Classification System (GMFCS). (Bax dkk., 2019)
6. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi Farmakologis
Secara medis, memfokuskan intervensi obat pada upaya penurunan derajat spastisitas otot skeletal, pengendalian bangkitan kejang epilepsi, dan tata laksana komorbiditas penyerta. Pemberian obat pelemas otot sediaan baclofen oral atau diazepam dosis rendah terbukti efektif menurunkan hiperefleksia reflek regang otot yang menyiksa pasien. Suntikan lokal Botulinum Toxin Type A (Botox) diindikasikan secara ketat pada kelompok otot spastik spesifik seperti gastroknemius guna memfasilitasi perbaikan pola jalan anak. Obat antiepilepsi sediaan asam valproat diresepkan konsisten jika anak menderita kejang. (WHO, 2022)
b. Terapi Non-Farmakologis
Sementara itu, pilar utama minimalisasi disbaliknya bersandar pada program rehabilitasi medis intensif yang mencakup fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan penggunaan alat bantu ortosis. Fisioterapi memfokuskan intervensi pada peregangan otot pasif berkala untuk mencegah kontraktur sendi, melatih kontrol postur tubuh, dan merangsang pola gerak fungsional adaptif. Terapi okupasi melatih kemampuan aktivitas harian menggunakan alat bantu makan modifikasi, sedangkan penggunaan ortosis seperti Ankle Foot Orthosis (AFO) menjaga stabilitas sendi pergelangan kaki anak. Tindakan bedah ortopedi dikerjakan untuk pemanjangan tendon. (McIntyre dkk., 2022)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Pengkajian identitas mencakup pencatatan data demografi lengkap anak, tanggal lahir, jenis kelamin, serta penghitungan usia kronologis dan usia perkembangan motorik secara cermat. Perawat mengidentifikasi identitas orang tua, meliputi usia saat kehamilan, pekerjaan, tingkat pendidikan, latar belakang sosial ekonomi, serta kesiapan sosiopsikologis keluarga dalam merawat anak dengan disabilitas fisik jangka panjang. (Wiguna, 2021)
b. Riwayat Kesehatan
Selanjutnya, perawat melakukan eksplorasi riwayat kesehatan anak secara mendalam melalui teknik anamnesis terstruktur kepada orang tua:
- Riwayat Penyakit Sekarang: Keluhan kekakuan otot ekstremitas, keterlambatan pencapaian kemampuan motorik kasar, kesulitan makan/menelan, serta frekuensi dan durasi kejang.
- Riwayat Penyakit Dahulu: Adanya riwayat asfiksia berat saat lahir, skor APGAR rendah, riwayat dirawat di ruang NICU dengan ventilator, atau infeksi meningitis masa bayi.
- Riwayat Prenatal dan Natal: Kesehatan ibu selama hamil, riwayat demam tinggi intrauterin, paparan radiasi, penggunaan obat-obatan terlarang, serta metode persalinan.
- Riwayat Tumbuh Kembang: Pencatatan usia anak saat mampu menegakkan kepala, tengkurap, duduk, serta riwayat imunisasi dasar dan skrining perkembangan sebelumnya. (Soetjiningsih, 2018)
c. Pemeriksaan Fisik
Kemudian, perawat melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif menggunakan teknik pengkajian klinis head-to-toe dengan fokus pada sistem muskuloskeletal, kardiovaskular, dan sistem persarafan pusat:
- Sistem Muskuloskeletal dan Saraf (Fokus): Inspeksi: Amati adanya deformitas ekstremitas, kontraktur sendi, atrofi otot akibat disuse, postur tubuh asimetris, gerakan involunter (atetosis). Palpasi: Evaluasi tonus otot dengan skala Ashworth (nilai derajat spastisitas), raba suhu kulit area sendi. Perkusi: Uji refleks tendon dalam (patela, bisep) untuk mendeteksi hiperreflexia. Auskultasi: Tidak ada bruit serebral.
- Sistem Pencernaan dan Oromotor (Fokus): Inspeksi: Amati adanya pengeluaran air liur terus menerus (drooling), refleks penutupan mulut yang tidak sempurna, kebersihan rongga mulut. Auskultasi: Periksa bising usus dalam batas normal (5-30 kali/menit). Palpasi: Tidak teraba adanya hepatomegali atau splenomegali. Perkusi: Timpani seluruh kuadran abdomen.
- Sistem Pernapasan: Inspeksi: Amati frekuensi napas, keteraturan irama, tanda distress pernapasan, penumpukan sekret akibat batuk tidak efektif. Palpasi: Fremitus taktil kanan dan kiri simetris. Perkusi: Sonor pada seluruh lapang paru fungsional. Auskultasi: Dengarkan suara napas, waspadai ronkhi kasar akibat aspirasi ludah.
- Sistem Kepala dan Leher: Inspeksi: Bentuk kepala mikrosefali atau hidrosefali, asimetri wajah, adanya strabismus (mata juling). Palpasi: Raba adanya kraniotabes atau keterlambatan penutupan sutura.
- Sistem Integumen: Inspeksi: Amati adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit atau luka tekan (dekubitus) pada area tonjolan tulang akibat imobilisasi lama. Palpasi: Turgor kulit, kelembapan kulit.
- Sistem Perkemihan: Inspeksi: Kebersihan area perineal, tanda-tanda inkontinensia urine akibat disfungsi kontrol kandung kemih neurogenik. Palpasi: Distensi kandung kemih. (Soetjiningsih, 2018, Judarwanto, 2020)
d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
Berikutnya, perawat memetakan pola fungsi kesehatan fungsional secara komprehensif. Pola nutrisi-metabolik mengevaluasi asupan kalori harian yang rendah akibat disfungsi motorik oral dan refleks telan yang lambat. Pola eliminasi mengkaji adanya konstipasi kronis akibat imobilisasi jangka panjang dan penurunan motilitas usus. Pola aktivitas-latihan menilai tingkat ketergantungan mobilitas fisik berdasarkan klasifikasi GMFCS. Pola tidur-istirahat memantau gangguan tidur akibat spasme otot malam hari atau posisi tidur yang tidak nyaman. Pola koping keluarga mengidentifikasi adanya stres kronis pengasuh, rasa putus asa, serta tingkat dukungan sosial ekonomi komunitas sekitar keluarga. (Wiguna, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan
Prioritas Diagnosis Satu Sampai Lima
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) berhubungan dengan gangguan neuromuskular, spastisitas otot ekstremitas
- Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106) berhubungan dengan efek ketidakmampuan fisik, kerusakan jaringan sistem saraf pusat
- Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan sekunder akibat disfungsi motorik oral
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) berhubungan dengan gangguan neuromuscular, kelemahan otot-otot artikulasi fasial
- Risiko Cedera (D.0136) ditandai dengan disfungsi autoimun persarafan, adanya riwayat bangkitan kejang epilepsi
Prioritas Diagnosis Enam Sampai Sepuluh
- Gangguan Integritas Kulit (D.0129) berhubungan dengan penurunan mobilitas fisik, penekanan jaringan kulit tonjolan tulang
- Konstipasi (D.0049) berhubungan dengan penurunan motilitas traktus gastrointestinal sekunder akibat imobilisasi fisik lama
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) berhubungan dengan hambatan komunikasi verbal, keterbatasan fungsional aktivitas
- Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093) berhubungan dengan beban pengasuhan kronis anak dengan disabilitas motorik
- Risiko Aspirasi (D.0006) ditandai dengan hambatan menelan sekunder akibat disfungsi oromotor, pengeluaran air liur berlebih
3. Perencanaan (Intervensi)
Rencana Intervensi Diagnosis 1 dan 2
SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
Luaran SLKI: Mobilitas Fisik Meningkat (L.05042). Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak sendi (ROM) meningkat, kekakuan sendi menurun.
Intervensi SIKI: Dukungan Mobilisasi (I.05172)
- Observasi: Monitor adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya saat mobilisasi dilakukan; Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi; Monitor toleransi fisik anak saat melakukan pergerakan sendi.
- Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu seperti ortosis AFO atau kursi roda modifikasi; Fasilitasi melakukan pergerakan sendi pasif secara perlahan dan bertahap; Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan fisik secara konsisten.
- Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi fisik pada anak spastik; Ajarkan teknik mobilisasi rentang gerak sendi pasif (ROM) kepada orang tua untuk diterapkan secara mandiri di rumah.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim fisioterapi dalam merancang program latihan peregangan otot skeletal yang aman dan terarah.
SDKI: Gangguan Tumbuh Kembang (D.0106)
Luaran SLKI: Status Perkembangan Membaik (L.10101). Kriteria Hasil: Keterampilan motorik kasar meningkat, keterampilan motorik halus meningkat, kemampuan perawatan diri meningkat.
Intervensi SIKI: Promosi Perkembangan Anak (I.10340)
- Observasi: Identifikasi pencapaian tugas perkembangan anak berdasarkan klasifikasi fungsional motorik kasar (GMFCS); Monitor tingkat kemandirian anak dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
- Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi anak untuk mengeksplorasi kemampuan geraknya; Fasilitasi anak dengan mainan edukatif interaktif yang merangsang fungsi sensorik-motorik halus; Berikan pujian verbal positif terhadap usaha anak mencapai target gerakan baru.
- Edukasi: Ajarkan orang tua mengenai tahapan perkembangan motorik anak yang realistis; Demonstrasikan cara stimulasi harian postur dan keseimbangan tubuh anak di rumah.
- Kolaborasi: Rujuk anak ke pusat layanan intervensi dini, okupasi terapi, dan rehabilitasi medis anak secara komprehensif.
Rencana Intervensi Diagnosis 3 dan 4
SDKI: Defisit Nutrisi (D.0019)
Luaran SLKI: Status Nutrisi Membaik (L.03030). Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan meningkat, refleks menelan membaik.
Intervensi SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119)
- Observasi: Monitor asupan makanan harian, kapasitas kemampuan motorik oral, dan adanya refleks muntah/tersedak; Monitor hasil laboratorium profil albumin dan hemoglobin darah berkala.
- Terapeutik: Berikan makanan dengan tekstur lunak atau semi-padat yang disesuaikan dengan kapasitas kemampuan mengunyah anak; Sediakan posisi duduk tegak 90 derajat (fowler) saat proses makan dan pertahankan selama 30 menit pasca makan; Ciptakan lingkungan yang tenang.
- Edukasi: Ajarkan orang tua teknik pemberian makan yang lambat dan hati-hati pada anak dengan disfungsi oromotor; Jelaskan pentingnya komposisi nutrisi tinggi kalori tinggi protein bagi pertumbuhan anak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori total harian dan dengan terapis wicara untuk terapi motorik oral.
SDKI: Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
Luaran SLKI: Komunikasi Verbal Meningkat (L.13118). Kriteria Hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kemampuan ekspresi isyarat meningkat, kesesuaian respons membaik.
Intervensi SIKI: Promosi Komunikasi Efektif (I.13493)
- Observasi: Monitor kemampuan fonetik, gerakan lidah, dan kapasitas pemahaman bahasa reseptif anak; Identifikasi adanya hambatan sensorik pendengaran pendukung proses komunikasi.
- Terapeutik: Gunakan kalimat pendek, jelas, dengan nada suara tenang saat berbicara berhadapan langsung dengan anak; Gunakan papan gambar, kartu kata, atau aplikasi digital komunikasi alternatif sebagai media bantu; Berikan waktu yang cukup bagi anak untuk merespons.
- Edukasi: Anjurkan keluarga selalu mengajak anak berbicara secara interaktif dalam setiap aktivitas harian rumah tangga; Ajarkan teknik komunikasi non-verbal yang efektif kepada pengasuh utama.
- Kolaborasi: Rujuk anak ke terapis wicara untuk program stimulasi organ artikulasi dan penguatan bahasa ekspresif anak.
Rencana Intervensi Diagnosis 5 dan 6
SDKI: Risiko Cedera (D.0136)
Luaran SLKI: Tingkat Cedera Menurun (L.14136). Kriteria Hasil: Kejadian cedera fisik menurun, luka/lecet menurun, ketegangan otot terkendali.
Intervensi SIKI: Manajemen Keselamatan Lingkungan (I.14513)
- Observasi: Identifikasi kebutuhan keselamatan fisik anak berdasarkan derajat spastisitas dan adanya riwayat kejang; Monitor kepatuhan konsumsi obat antiepilepsi secara berkala.
- Terapeutik: Sediakan tempat tidur berpagar pengaman yang dilapisi busa empuk untuk mencegah trauma saat kejang; Hilangkan benda-benda tajam atau berbahaya dari area bermain anak; Pasang pelindung sudut meja.
- Edukasi: Ajarkan keluarga tindakan pertolongan pertama penanganan kejang di rumah; Jelaskan pentingnya pengawasan melekat saat aktivitas.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter spesialis anak saraf untuk pemantauan kadar obat antiepilepsi dalam darah secara rutin.
SDKI: Gangguan Integritas Kulit (D.0129)
Luaran SLKI: Integritas Kulit Membaik (L.14125). Kriteria Hasil: Kerusakan jaringan kulit menurun, kemerahan kulit menurun, hidrasi kulit membaik.
Intervensi SIKI: Perawatan Integritas Kulit (I.14560)
- Observasi: Monitor kondisi kulit pada area tonjolan tulang (tumit, sakrum, skapula) terhadap adanya tanda kemerahan atau lecet harian.
- Terapeutik: Ubah posisi tirah baring anak secara berkala setiap 2 jam sekali (alih baring miring kanan, miring kiri); Gunakan kasur dekubitus tekanan udara jika anak mengalami imobilisasi total; Jaga kebersihan dan kekeringan kulit dari keringat atau urine.
- Edukasi: Anjurkan penggunaan pakaian berbahan katun lembut yang longgar dan menyerap keringat dengan baik; Ajarkan orang tua teknik pemijatan ringan menggunakan lotion pelembap pada area kulit sehat.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk pemenuhan nutrisi protein yang adekuat guna mendukung regenerasi sel kulit.
Rencana Intervensi Diagnosis 7 dan 8
SDKI: Konstipasi (D.0049)
Luaran SLKI: Eliminasi Fekal Membaik (L.04033). Kriteria Hasil: Konsistensi feses membaik, frekuensi buang air besar membaik, distensi abdomen menurun.
Intervensi SIKI: Manajemen Konstipasi (I.04155)
- Observasi: Monitor frekuensi, konsistensi, warna, dan volume pengeluaran fekal anak; Periksa adanya bising usus dan tanda distensi abdomen secara berkala.
- Terapeutik: Lakukan pijatan lembut pada area perut anak searah jarum jam (pijat ILU) guna merangsang peristaltik usus; Fasilitasi asupan cairan yang adekuat sepanjang hari; Jadwalkan waktu eliminasi yang konsisten setiap pagi.
- Edukasi: Jelaskan kepada orang tua mengenai hubungan antara imobilisasi fisik dan risiko terjadinya konstipasi kronis; Anjurkan pemberian diet tinggi serat (sayur, buah) setelah anak mampu menelan dengan baik.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pencahar sediaan laktulosa atau supositoria jika konstipasi menetap di atas tiga hari.
SDKI: Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
Luaran SLKI: Interaksi Sosial Membaik (L.13115). Kriteria Hasil: Verbalisasi kerja sama meningkat, minat interaksi meningkat, perilaku adaptif membaik.
Intervensi SIKI: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
- Observasi: Identifikasi kemampuan interaksi sosial anak, hambatan kognitif, dan tingkat kecemasan anak berada di lingkungan baru.
- Terapeutik: Fasilitasi anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dalam kelompok kecil yang mendukung dan inklusif; Berikan umpan balik positif atau penghargaan terhadap setiap upaya sosialisasi anak; Pertahankan konsistensi aturan bermain.
- Edukasi: Anjurkan orang tua membawa anak ke taman bermain atau sekolah luar biasa untuk memperluas stimulasi sosial; Ajarkan anak ekspresi emosi yang tepat melalui media visual gambar.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan psikolog anak dalam merancang program terapi perilaku adaptif yang berorientasi pada kemandirian sosial.
Rencana Intervensi Diagnosis 9 dan 10
SDKI: Koping Keluarga Tidak Efektif (D.0093)
Luaran SLKI: Koping Keluarga Membaik (L.09088). Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat, komitmen perawatan menguat, kecemasan menurun.
Intervensi SIKI: Promosi Koping Keluarga (I.09312)
- Observasi: Monitor tingkat stres, kelelahan fisik, beban emosional, dan mekanisme koping yang digunakan oleh pengasuh utama.
- Terapeutik: Sediakan waktu bagi orang tua untuk mengungkapkan perasaan, kekhawatiran, dan harapan mereka tanpa dihakimi; Fasilitasi orang tua untuk bergabung dengan kelompok dukungan sesama orang tua anak dengan gangguan serupa; Hargai keputusan keluarga.
- Edukasi: Informasikan kepada keluarga mengenai ketersediaan sistem pendukung komunitas sosial, yayasan disabilitas, dan jaminan kesehatan formal; Ajarkan teknik manajemen stres sederhana bagi pengasuh.
- Kolaborasi: Rujuk keluarga ke konselor atau psikolog klinis jika ditemukan tanda-tanda depresi maternal atau disfungsi koping keluarga yang berat.
SDKI: Risiko Aspirasi (D.0006)
Luaran SLKI: Tingkat Aspirasi Menurun (L.14139). Kriteria Hasil: Tersedak menurun, batuk menurun, tidak terdengar suara napas tambahan ronkhi/wheezing.
Intervensi SIKI: Pencegahan Aspirasi (I.01018)
- Observasi: Monitor tingkat kesadaran anak, adanya pengeluaran air liur berlebih, dan kemampuan refleks batuk/menelan sebelum pemberian makan.
- Terapeutik: Pastikan sediaan mesin suction siap pakai berada di dekat area makan anak untuk evakuasi sekret darurat; Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan konsistensi kekentalan cairan yang tepat; Hindari memberi makan jika anak mengantuk.
- Edukasi: Ajarkan keluarga tanda-tanda klinis terjadinya aspirasi dan cara melakukan manuver tepukan punggung; Jelaskan pentingnya posisi duduk tegak.
- Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan pipa lambung (NGT) jika fungsi menelan oromotor anak dinyatakan tidak aman secara klinis.
4. Implementasi Cerebral Palsy
Pelaksanaan Tindakan Mobilisasi dan Stimulasi Oromotor
Secara operasional di lapangan, mewujudkan pelaksanaan tindakan keperawatan secara nyata berlandaskan rincian SIKI yang telah ditetapkan. Perawat memfasilitasi program latihan pergerakan sendi pasif pada kaki anak, memandu orang tua melakukan peregangan otot hamstrings secara lembut guna mencegah kontraktur, serta memasangkan alat bantu Ankle Foot Orthosis (AFO) untuk menjaga keselarasan anatomis pergelangan kaki saat anak berlatih berdiri tegak. Selanjutnya, perawat mengimplementasikan latihan motorik oral dengan melakukan pijatan ringan berbentuk sirkuler pada area pipi, bibir, dan dasar lidah anak sebelum proses pemberian makan guna mengaktifkan sensitivitas mekanoreseptor saraf fasial. (PPNI, 2019)
Pelaksanaan Pengamanan Kejang dan Dukungan Psikososial
Sementara itu, perawat mengimplementasikan tindakan pencegahan cedera dengan memasang busa pelindung empuk pada sepanjang pagar tempat tidur anak, memastikan sediaan oksigen fungsional siap pakai, serta memantau secara ketat kepatuhan jadwal minum obat antiepilepsi asam valproat. Perawat memberikan dukungan emosional kepada ibu pengasuh utama dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memfasilitasi komunikasi interaktif bersama yayasan dukungan disabilitas anak, serta mendokumentasikan seluruh respons fungsional mobilitas fisik, volume toleransi asupan nutrisi, kejadian bangkitan kejang, dan tingkat adaptasi koping keluarga secara legal ke dalam catatan rekam asuhan keperawatan. (PPNI, 2019)
5. Evaluasi
Analisis Capaian Berdasarkan SOAP
Pada tahap akhir proses asuhan, perawat melaksanakan evaluasi komprehensif menggunakan format pencatatan terstruktur SOAP untuk mengukur tingkat keberhasilan intervensi terhadap sepuluh diagnosis keperawatan. Komponen subjektif merangkum laporan lisan orang tua yang menyatakan tubuh anak mulai terasa lebih rileks saat digendong, frekuensi tersedak saat makan bubur menurun drastis, dan anak mulai mampu menggenggam mainan bertekstur lembut. Komponen objektif memuat hasil pemeriksaan klinis perawat yang membuktikan penurunan skor spastisitas Ashworth pada sendi lutut, grafik berat badan menunjukkan kenaikan progresif, dan tidak terdapat adanya kemerahan pada area kulit sakrum anak. (PPNI, 2019)
Pengambilan Keputusan Klinis Lanjutan
Oleh karena itu, perawat merumuskan keputusan klinis strategis mengenai kelanjutan rencana asuhan keperawatan anak. Jika evaluasi data membuktikan bahwa kemampuan mobilitas fisik anak mengalami kemajuan adaptif dan risiko aspirasi berhasil dicegah sesuai target luaran SLKI, mempertahankan intervensi keperawatan dengan meningkatkan kompleksitas target stimulasi ke arah pencapaian motorik halus dan keterampilan komunikasi sosial mandiri. Sebaliknya, apabila spastisitas otot semakin memburuk hingga memicu deformitas sendi yang nyeri atau terjadi kejang berulang yang tidak terkendali, memodifikasi rencana keperawatan langsung dengan mengintensifkan kolaborasi medis terapi farmakologis dosis tinggi atau mengajukan rujukan tindakan bedah ortopedi. (PPNI, 2019)
Rumus Skor Skala Ashworth Modifikasi untuk Derajat Spastisitas Otot (Dapat Disalin Langsung ke Word)
Skor Spastisitas 0 = Tidak ada peningkatan tonus otot secara fungsional sepanjang rentang gerak pasif sendi.
Skor Spastisitas 1 = Peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan tahanan minimal pada akhir rentang gerak sendi.
Skor Spastisitas 1+ = Peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan tahanan minimal sepanjang sisa setengah rentang gerak sendi.
Skor Spastisitas 2 = Peningkatan tonus otot yang lebih nyata sepanjang sebagian besar rentang gerak, namun sendi mudah digerakkan.
Skor Spastisitas 3 = Peningkatan tonus otot secara masif, ditandai dengan gerakan pasif yang sulit dilakukan pada sendi ekstremitas.
Skor Spastisitas 4 = Bagian ekstremitas yang terkena berada dalam posisi kaku (rigid) baik pada gerakan fleksi maupun ekstensi fungsional.
Ketentuan Batas Evaluasi Klinis Muskuloskeletal:
- Validitas Pengukuran Skor: Penilaian derajat spastisitas menggunakan skala Ashworth modifikasi ini wajib dilakukan saat kondisi anak tenang, bebas dari pengaruh kejang akut, dan otot dalam status relaksasi optimal.
- Batas Tindakan Intervensi Lanjut: Jika skor Ashworth mencapai nilai derajat 3 atau 4 secara menetap, maka indikasi kolaborasi penyuntikan Botulinum Toxin atau opsi pembedahan tendon menjadi prioritas mutlak.
- Pemantauan Risiko Kontraktur: Pengukuran skor wajib dijalankan berkala setiap minggu beriringan dengan sesi fisioterapi untuk memetakan efektivitas program latihan peregangan rentang gerak sendi pasif anak.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Sallami, A. (2023). Neurological Comorbidities in Children. Asian J Med Sci. nepjol.info/index.php/AJMS/article/view/51122
Bax, M., dkk. (2019). Proposed Definition of Cerebral Palsy. Dev Med Child Neurol. onlinelibrary.wiley.com/journal/14698749
Graham, H. K., dkk. (2021). Cerebral Palsy: Pathophysiology. Nat Rev Dis Primers. nature.com/nrdp
Giri, M., dkk. (2019). Psychosocial Burden of Cerebral Palsy. Asian J Psychiatr. sciencedirect.com/journal/asian-journal-of-psychiatry
Hock, R. M., dkk. (2022). Multiprofessional Mobilization in Children. Int J Disabil Dev Educ. tandfonline.com/journals/cijd20
IDAI. (2021). Panduan Praktis Klinis: Tata Laksana Komprehensif Anak dengan Cerebral Palsy. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
Judarwanto, W. (2020). Disfungsi Oromotor dan Tata Laksana Malnutrisi Sekunder pada Anak Palsi Serebral. Jakarta: Picky Eater Clinic.
Kemenkes RI. (2023). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Palsi Serebral. Jakarta: Kemenkes RI.
McIntyre, S., dkk. (2022). Multifactorial Etiology of Cerebral Palsy. Am J Hum Genet. cell.com/ajhg/home
Park, S., dkk. (2020). Hip Dislocation Risks in Neurodisability. Prog Pediatr Neurol. sciencedirect.com/journal/pnp
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.
Soetjiningsih. (2018). Tumbuh Kembang Anak (Edisi 2). Jakarta: EGC.
Wiguna, T. (2021). Kegagalan Maturasi Fungsional Jalur Motorik Luhur. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Tinggalkan Balasan