Gangguan Disforik Premenstruasi

Gangguan disforik premenstruasi (PMDD) adalah bentuk parah dari PMS yang memicu depresi ekstrem, kecemasan, dan labilitas emosi hebat sebelum menstruasi. (American Psychiatric Association, 2013)

A. Konsep Medis Gangguan Disforik Premenstruasi

1. Batasan dan Istilah Gangguan Disforik Premenstruasi

Definisi Dari Pakar Internasional

American Psychiatric Association (2013) mengklasifikasikan PMDD sebagai gangguan suasana hati spesifik dalam DSM-5 yang memicu gejala afektif, perilaku, dan somatik parah pada fase luteal akhir siklus menstruasi wanita.

Selanjutnya, World Health Organization (2019) mendefinisikan PMDD dalam ICD-11 sebagai kondisi ginekologis sekaligus gangguan mental yang bermanifestasi melalui distres emosional berat serta penurunan fungsi sosial-pekerjaan secara signifikan menjelang menstruasi.

Selain itu, Rapkin (2020) menjelaskan PMDD sebagai kelainan neurobiologis berbasis siklus hormonal yang memicu respons otak abnormal terhadap fluktuasi normal progesteron dan estrogen.

Sementara itu, Halbreich (2021) menegaskan bahwa PMDD merupakan perwujudan klinis dari kerentanan genetik sistem saraf pusat terhadap metabolit steroid seks yang mengganggu stabilitas emosi.

Sebagai pelengkap, Yonkers (2022) mengartikan PMDD sebagai sindrom klinis kronis yang menyerang usia reproduktif dengan karakteristik gejala dysphoria berat yang mereda segera setelah perdarahan menstruasi dimulai.

Definisi Pakar Asia

Takeda (Jepang, 2018) mengonseptualisasikan PMDD sebagai manifestasi disregulasi psikosomatik yang sangat dipengaruhi oleh stres sosiokultural dan sensitivitas reseptor serotonin terhadap hormon ovarium.

Kemudian, Kim (Korea Selatan, 2020) memaparkan PMDD sebagai gangguan siklis yang menurunkan kualitas hidup secara drastis melalui kombinasi gejala iritabilitas ekstrem dan kelelahan fisik berat pada fase pra-menstruasi.

Lebih lanjut, Chaturvedi (India, 2021) mengidentifikasi PMDD sebagai gangguan afektif musiman internal wanita yang berhubungan erat dengan morbiditas psikologis sekunder akibat fluktuasi poros hipotalamus-hipofisis-gonad.

Sejalan dengan hal tersebut, Wang (Taiwan, 2023) menggarisbawahi PMDD sebagai disfungsi neuroendokrin yang melibatkan interaksi abnormal antara steroid ovarium dan sistem asam gamma-aminobutirat (GABA) di otak.

Akhirnya, Chee (Singapura, 2024) merumuskan PMDD sebagai sindrom distres premenstruasi ekstrem yang memerlukan pendekatan biopsikososial karena melibatkan kerentanan afektif dan sensitivitas somatik yang tinggi.

Definisi Pakar Indonesia

Prawirohardjo (2016) menjelaskan PMDD sebagai bentuk gangguan premenstruasi paling berat yang muncul dengan gejala psikologis dominan seperti depresi dan ansietas yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, Anwar (2019) mengartikan PMDD sebagai gangguan fungsi neurotransmiter otak akibat kegagalan adaptasi sistem saraf pusat terhadap penurunan kadar estrogen dan progesteron menjelang menstruasi.

Berikutnya, Baziad (2021) menegaskan bahwa PMDD bukan sekadar PMS biasa, melainkan entitas klinis dengan kriteria diagnostik ketat yang berpusat pada disforia berat pada fase luteal.

Sebaliknya, Kusumawardhani (2022) mendefinisikan PMDD sebagai gangguan mood siklik yang memerlukan terapi komprehensif karena risiko distres psikologis tinggi hingga memicu ide bunuh diri pada fase akut.

Sebagai penutup, Wahyudi (2024) merumuskan PMDD sebagai kondisi gangguan neuro-hormonal yang memanifestasikan gejala emosional dan fisik ekstrem akibat hipersensitivitas genetik terhadap fluktuasi steroid seks.

2. Faktor Penyebab Kelainan Gangguan Disforik Premenstruasi

Penyebab pasti kondisi ini belum diketahui secara penuh. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut bersifat multifaktorial.

Pertama-tama, terdapat hipersensitivitas terhadap fluktuasi hormon. Kadar estrogen dan progesteron penderita sebenarnya normal, namun otak memiliki sensitivitas abnormal terhadap perubahan kadar hormon tersebut.

Selanjutnya, disregulasi serotonin memegang peranan penting. Fluktuasi hormon ovarium mengganggu jalur serotonin (neurotransmiter pengatur suasana hati) pada otak pada fase luteal.

Sementara itu, terjadi gangguan reseptor GABA. Penurunan sensitivitas reseptor GABA-A terhadap alopregnanolon (metabolit progesteron) akhirnya memicu kecemasan dan iritabilitas yang signifikan.

Kemudian, faktor genetik juga memengaruhi kerentanan. Riwayat keluarga terbukti meningkatkan risiko kejadian ini hingga mencapai 30-50%.

Akhirnya, faktor psikososial dan stres memperparah keadaan. Riwayat trauma masa lalu, stres kronis, dan gangguan kecemasan secara nyata memperberat keparahan gejala. (Yonkers et al., 2018; Rapkin & Akopians, 2020)

3. Mekanisme Internal Tubuh

Patofisiologi

Siklus ovulasi normal menghasilkan progesteron dan estrogen pada fase luteal. Namun, pada wanita dengan gangguan ini, terjadi kegagalan adaptasi reseptor neurotransmiter pada otak terhadap penurunan kadar hormon-hormon tersebut menjelang menstruasi.

Oleh karena itu, alopregnanolon yang merupakan metabolit dari progesteron secara normal berikatan dengan reseptor GABA-A untuk memberikan efek menenangkan. Malahan, terjadi respons paradoksikal atau desensitisasi reseptor GABA-A terhadap alopregnanolon.

Sementara itu, penurunan estrogen menurunkan ketersediaan triptofan dan sintesis serotonin pada celah sinaps otak. Akibatnya, defisit serotonin dan disfungsi GABA ini memicu disregulasi pada sistem limbik. Dampaknya, muncul manifestasi depresi, iritabilitas, kecemasan, serta aktivasi berlebih pada poros Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal yang meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri serta retensi cairan fisik.

Penyimpangan KDM

       Siklus Ovulasi (Fase Luteal Akhir)

                       │

         Fluktuasi Estrogen & Progesteron

                       │

       ┌───────────────┴───────────────┐

       ▼                               ▼

 Penurunan Sintesis           Respons Paradoksikal

    Serotonin                Reseptor GABA-A terhadap

       │                          Alopregnanolon

       ▼                               │

Gangg. Transmisi Saraf                 ▼

  di Sistem Limbik              Kegagalan Efek Sedatif/

       │                             Anxiolytic

       │                               │

       └───────────────┬───────────────┘

                       ▼

            Disfungsi Neurotransmiter

                       │

     ┌─────────────────┼─────────────────┐

     ▼                 ▼                 ▼

Gangg. Psikis     Aktivasi HPA Axis   Retensi Cairan (Aldosteron)

     │                 │                 │

 ┌───┴───┐             ▼                 ▼

 ▼       ▼        Peningkatan      Pembengkakan Payudara,

Cemas Depresi    Ambang Nyeri       Gain Weight, Kram

 │       │             │                 │

 ▼       ▼             ▼                 ▼

[Ansietas] [Risiko     [Nyeri Akut]      [Gangguan Citra Tubuh]

            Bunuh Diri]

(Rapkin & Akopians, 2020; Hofmeister & Bodden, 2016)

4. Tanda Klinis Gangguan Disforik Premenstruasi

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan sedih mendalam, putus asa, atau perasaan tidak berharga. Selain itu, pasien menyatakan cemas, tegang, atau merasa “pada ujung tanduk”.

Kemudian, pasien mengeluhkan emosi yang sangat labil seperti tiba-tiba menangis tanpa sebab jelas. Pasien juga mengeluhkan amarah yang persisten, iritabilitas tinggi, dan konflik interpersonal meningkat.

Selanjutnya, pasien mengeluhkan kehilangan minat pada aktivitas sosial atau hobi (anhedonia). Sementara itu, pasien mengeluhkan sulit berkonsentrasi dan letargi berat.

Lebih lanjut, pasien mengeluhkan perubahan nafsu makan ekstrem seperti craving makanan manis. Pasien pun mengeluhkan insomnia atau hipersomnia. Akhirnya, pasien mengeluhkan nyeri payudara, sakit kepala, dan kram perut. (American Psychiatric Association, 2013; Takeda et al., 2018)

b. Data Objektif

Tampak afek datar, labil, atau menangis saat wawancara. Sejalan dengan itu, terlihat perilaku agitasi motorik atau menarik diri dari interaksi sosial.

Selanjutnya, terdapat skor tinggi pada Daily Record of Severity of Problems (DRSP). Terdapat pula adanya pembengkakan pada payudara saat melakukan palpasi.

Akhirnya, terjadi peningkatan berat badan sekitar 1-2 kg akibat retensi cairan. Kondisi ini diikuti oleh penurunan produktivitas kerja atau akademik yang tercatat secara nyata. (Yonkers et al., 2018; Anwar, 2019)

5. Skrining Diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratorium

Melakukan pemeriksaan kadar hormon (TSH, Free T4) untuk menyingkirkan diagnosis banding hipotiroidisme atau hipertiroidisme yang gejalanya mirip gangguan mood.

Selanjutnya, Melakukan pemeriksaan kadar estrogen, progesteron, dan prolaktin guna memastikan bahwa kadar hormon reproduksi berada dalam batas normal.

Akhirnya, perlu juga untuk melakukan pemeriksaan Darah Lengkap (DL) untuk menyingkirkan anemia sebagai penyebab kelelahan ekstrem. (Hofmeister & Bodden, 2016)

b. Pemeriksaan Radiologi

Secara umum tidak ada pemeriksaan radiologi spesifik untuk menegakkan diagnosis ini. Namun, dapat melakukan Ultrasonografi (USG) Pelvis jika terdapat gejala fisik kram abdomen yang sangat parah untuk menyingkirkan penyakit organik ginekologi lain seperti endometriosis atau mioma uteri. (Baziad, 2021)

c. Pemeriksaan Lain

Pencatatan menggunakan Daily Record of Severity of Problems (DRSP) menjadi instrumen utama. Lembar harian pencatatan gejala mandiri ini wajib pasien isi selama minimal 2 siklus menstruasi berturut-turut sebagai standar baku emas diagnosis menurut DSM-5. (American Psychiatric Association, 2013)

6. Skema Manajemen Medis

a. Terapi Farmakologis

Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) merupakan lini pertama terapi. Contoh obat: Fluoxetine (20 mg/hari) atau Sertraline (50-150 mg/hari). Dapat memberikan terapi secara kontinu atau intermiten.

Selanjutnya, kontrasepsi oral kombinasi yang mengandung Drospirenon (3 mg) dan Ethinyl Estradiol (20 mcg) dengan skema pemberian kontinyu efektif menstabilkan fluktuasi hormon.

Selain itu, menggunakan agonis GnRH seperti Leuprolide asetat pada kasus berat yang refrakter terhadap SSRI untuk menghentikan fungsi ovarium.

Akhirnya, memberikan anxiolytics seperti Alprazolam jangka pendek jika ansietas sangat dominan, dan memberikan juga Spironolactone (25-100 mg) untuk mengurangi retensi cairan. (Rapkin & Akopians, 2020; Halbreich, 2021)

b. Terapi Non-Farmakologis

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) membantu pasien mengidentifikasi dan memodifikasi pola pikir negatif serta mengembangkan strategi koping adaptif terhadap perubahan emosi siklik.

Kemudian, melakukan modifikasi diet dengan mengurangi asupan kafein, alkohol, garam, dan gula rafinasi, serta meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks.

Sementara itu, suplementasi kalsium (1200 mg/hari), Vitamin B6 (50-100 mg/hari), dan memberikan magnesium untuk meredakan gejala fisik dan mood ringan.

Sebagai pelengkap, olahraga aerobik teratur membantu meningkatkan produksi endorfin dan sirkulasi darah guna mengurangi distres fisik dan mental. (Yonkers et al., 2018; Kusumawardhani, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Metode Pengumpulan Data

a. Identitas Pasien

Meliputi nama, umur (umumnya usia reproduksi 15-49 tahun), suku/bangsa, agama, status perkawinan, pekerjaan (menilai dampak pada performa kerja), dan alamat.

b. Riwayat Kesehatan

Menggali keluhan utama berupa perubahan emosi ekstrem serta nyeri payudara dan kram perut yang terjadi 1-2 minggu sebelum menstruasi dan hilang segera setelah menstruasi datang.

Selanjutnya, riwayat kesehatan sekarang menggali onset, durasi, keparahan gejala emosional dan fisik, serta tingkat gangguan terhadap fungsi sosial dan okupasional.

Sementara itu, riwayat kesehatan dahulu mengeksplorasi adanya depresi pascamelahirkan, gangguan cemas, atau gangguan depresi mayor.

Kemudian, riwayat menstruasi mencatat menarche, siklus menstruasi, durasi, dan keteraturan siklus. Akhirnya, riwayat kesehatan keluarga mengidentifikasi adanya ibu atau saudara perempuan dengan riwayat gangguan serupa.

c. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum menunjukkan pasien tampak cemas, tegang, letargi, atau gelisah. Tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, dan RR dapat meningkat saat pasien mengalami ansietas atau nyeri akut.

Selanjutnya, pemeriksaan sistem saraf pusat dan psikiatri menunjukkan afek labil, mood depresi/iritabel, serta konsentrasi menurun. Pemeriksaan sistem respirasi, kardiovaskular, dan pencernaan umumnya dalam batas normal, meskipun terdapat keluhan kram abdomen bawah.

Akhirnya, pemeriksaan sistem integumen dan payudara yang menjadi fokus menunjukkan payudara simetris namun tampak tegang, serta adanya engorgement dan nyeri tekan bilateral yang merata. Pemeriksaan sistem ekstremitas menunjukkan adanya edema perifer ringan pada tangan dan kaki akibat retensi cairan. (Anwar, 2019; Wahyudi, 2024)

d. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)

Pola persepsi dan manajemen kesehatan menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang sifat siklik gangguan ini. Pola nutrisi-metabolik ditandai peningkatan nafsu makan ekstrem dan retensi cairan.

Selanjutnya, pola eliminasi dapat memanifestasikan konstipasi atau diare ringan. Pola aktivitas dan latihan terganggu oleh kelelahan ekstrem dan letargi.

Sementara itu, pola istirahat dan tidur menunjukkan insomnia fase luteal atau hipersomnia. Pola kognitif-perseptual ditandai gangguan konsentrasi dan sensitivitas nyeri yang meningkat.

Kemudian, pola persepsi diri dan konsep diri terganggu akibat merasa bengkak dan harga diri rendah situasional. Pola peran dan hubungan menunjukkan konflik interpersonal yang meningkat secara berkala.

Akhirnya, pola seksuality dan reproduksi mengalami penurunan libido drastis, pola koping dan toleransi stres menunjukkan mekanisme koping maladaptif, serta pola nilai dan keyakinan mewarnai rasa bersalah karena emosi yang tidak terkontrol. (Prawirohardjo, 2016; Chee, 2024)

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Kelompok Diagnosis Prioritas 1-5

  • Risiko Bunuh Diri (D.0135) d.d Gangguan psikologis (Disforia berat/PMDD).
  • Ansietas (D.0080) b.d Ancaman terhadap status kesehatan/krisis situasional d.d Merasa tegang, gelisah, frekuensi nadi meningkat.
  • Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen pencedera fisiologis (Fluktuasi hormonal/inflamasi jaringan payudara dan kram uterus) d.d Mengeluh nyeri, tampak meringis, bersikap protektif.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurangnya kontrol tidur (Faktor hormonal/kecemasan) d.d Mengeluh sulit tidur, mengeluh istirahat tidak cukup.
  • Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) b.d Perubahan pengerjaan peran/ketidakmampuan mengontrol emosi d.d Menilai diri negatif, merasa tidak berdaya.

Kelompok Diagnosis Prioritas 6-10

  • Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d Perubahan struktur/bentuk tubuh (Edema premenstrual/mastalgia) d.d Mengungkapkan kecacatan/kehilangan bagian tubuh, fokus pada penampilan masa lalu.
  • Keletihan (D.0057) b.d Gangguan psikologis (Depresi/Anxietas fase luteal) d.d Mengeluh lelah, lesu, tidak mampu mempertahankan aktivitas rutin.
  • Disfungsi Seksual (D.0069) b.d Perubahan fungsi/struktur tubuh (Perubahan hormonal fase luteal dan mastalgia) d.d Mengeluh aktivitas seksual berubah, penurunan hasrat seksual.
  • Koping Maladaptif (D.0096) b.d Ketidakadekuatan sistem pendukung/kerentanan neurobiologis d.d Mengungkapkan ketidakmampuan meminta bantuan, perilaku merusak diri/konflik interpersonal.
  • Defisit Pengetahuan (D.0111) b.d Kurang terpapar informasi mengenai Gangguan Disforik Premenstruasi d.d Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, menanyakan masalah yang dihadapi. (PPNI, 2017)

3. Perencanaan Intervensi Keperawatan

Rencana Intervensi Diagnosis D.0135 hingga D.0077

Risiko Bunuh Diri (D.0135)

  • Luaran Utama: Kontrol Diri (L.09076)
    • Kriteria Hasil: Perilaku melukai diri sendiri menurun, Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun, Verbalisasi isyarat bunuh diri menurun.
  • Intervensi Utama: Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
    • Observasi: Identifikasi gejala risiko bunuh diri, Identifikasi keinginan dan rencana bunuh diri.
    • Terapeutik: Singkirkan benda-benda berbahaya dari lingkungan pasien, Lakukan pengawasan ketat pada fase luteal akut, Libatkan keluarga dalam pengawasan.
    • Edukasi: Ajarkan strategi koping adaptif, Anjurkan pasien segera mencari bantuan jika ada pikiran melukai diri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat SSRI dengan dokter spesialis jiwa.

Ansietas (D.0080)

  • Luaran Utama: Tingkat Ansietas (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, Perilaku gelisah menurun, Frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi Utama: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah, Monitor tanda-tanda ansietas.
    • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan, Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
    • Edukasi: Jelaskan prosedur termasuk sensasi yang mungkin dialami, Latih teknik relaksasi napas dalam.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian antiansietas jangka pendek jika diperlukan.

Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran Utama: Tingkat Nyeri (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, Meringis menurun, Sikap protektif menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri, Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau NSAID dan diuretik jika ada edema payudara.

Rencana Intervensi Diagnosis D.0055 hingga D.0083

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran Utama: Pola Tidur (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Keluhan sulit tidur menurun, Keluhan istirahat tidak cukup menurun, Kemampuan beraktivitas meningkat.
  • Intervensi Utama: Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur, Identifikasi faktor pengganggu tidur.
    • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, suhu), Tetapkan jadwal tidur rutin.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama fase premenstruasi, Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur.

Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)

  • Luaran Utama: Harga Diri (L.09069)
    • Kriteria Hasil: Penilaian diri positif meningkat, Perasaan memiliki kelebihan meningkat, Verbalisasi tidak berdaya menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Harga Diri (I.09308)
    • Observasi: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri.
    • Terapeutik: Motivasi terhadap pencapaian target yang realistis, Diskusikan persepsi negatif terhadap diri sendiri.
    • Edukasi: Anjurkan mengidentifikasi kekuatan diri, Latih cara berpikir positif atas perubahan emosi siklik.

Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • Luaran Utama: Citra Tubuh (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, Verbalisasi kekhawatiran pada penolakan/reaksi orang lain menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan, Monitor pernyataan kritik terhadap citra tubuh sendiri.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh yang bersifat sementara.
    • Edukasi: Anjurkan menggunakan pakaian yang longgar dan nyaman selama fase bengkak, Latih peningkatan fungsi tubuh yang masih sehat.

Rencana Intervensi Diagnosis D.0057 hingga D.0111

Keletihan (D.0057)

  • Luaran Utama: Tingkat Keletihan (L.05046)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kepulihan energi meningkat, Tenaga meningkat, Lesu menurun.
  • Intervensi Utama: Manajemen Energi (I.05178)
    • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan keletihan, Monitor pola dan jam tidur.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus selama fase luteal, Lakukan rentang gerak pasif/aktif ringan.
    • Edukasi: Anjurkan tirah baring seperlunya, Anjurkan strategi koping untuk mengurangi keletihan.

Disfungsi Seksual (D.0069)

  • Luaran Utama: Fungsi Seksual (L.07055)
    • Kriteria Hasil: Kepuasan hubungan seksual meningkat, Verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, Mencari informasi untuk mencapai kepuasan seksual meningkat.
  • Intervensi Utama: Edukasi Seksualitas (I.12447)
    • Observasi: Identifikasi tingkat pengetahuan, mitos, dan hambatan terkait seksualitas pada siklus premenstruasi.
    • Terapeutik: Sediakan komunikasi dua arah yang terbuka dan bebas dari penghakiman, Fasilitasi diskusi dengan pasangan.
    • Edukasi: Jelaskan pengaruh fluktuasi hormon terhadap penurunan libido dan mastalgia fisik, Ajarkan modifikasi posisi atau waktu aktivitas seksual yang nyaman.

Koping Maladaptif (D.0096)

  • Luaran Utama: Status Koping (L.09086)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat, Perilaku koping adaptif meningkat, Konflik interpersonal menurun.
  • Intervensi Utama: Promosi Koping (I.09312)
    • Observasi: Identifikasi kemampuan yang dimiliki, Monitor respons emosional terhadap situasi stres.
    • Terapeutik: Dampingi pasien mengekspresikan kemarahan secara konstruktif, Diskusikan alternatif penyelesaian masalah interpersonal.
    • Edukasi: Anjurkan pengungkapan perasaan secara verbal, Latih keterampilan sosial dan asertif.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran Utama: Tingkat Pengetahuan (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang PMDD meningkat, Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
  • Intervensi Utama: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media edukasi.
    • Edukasi: Jelaskan faktor risiko, etiologi, patofisiologi siklis, serta pilihan terapi, Ajarkan cara pengisian lembar DRSP harian secara konsisten. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan implementasi keperawatan secara komprehensif berdasarkan rencana intervensi yang telah tersusun sebelumnya. Fokus utama implementasi harus sesuai dengan fase menstruasi pasien.

Selanjutnya, pada fase luteal (1-2 minggu pre-menstruasi), perawat melakukan pengawasan ketat terhadap risiko bunuh diri, menerapkan teknik reduksi ansietas, memfasilitasi manajemen nyeri fisik melalui kompres hangat, serta memberikan terapi kolaboratif analgetik, diuretik, atau SSRI.

Lainnya, perawat mendukung pola tidur yang adaptif serta mempromosikan koping asertif guna meminimalkan terjadinya konflik interpersonal pasien pada lingkungan sosialnya.

Kemudian, masuk pada fase folikular (pasca-menstruasi), fokus beralih pada pelaksanaan edukasi kesehatan secara mendalam serta melatih penggunaan instrumen DRSP untuk siklus berikutnya.

Akhirnya, perawat mendiskusikan modifikasi gaya hidup seperti diet rendah garam dan olahraga rutin, serta memberikan konseling psikososial bersama tim medis interdisiplin. Mendokumentasikan setiap tindakan secara rinci mencakup waktu, jenis tindakan, serta respons pasien. (Kusumawardhani, 2022; PPNI, 2018)

5. Penilaian Hasil

Evaluasi Fase Luteal

S (Subjektif): Pasien melaporkan emosi mulai stabil, tingkat kecemasan berkurang, kram perut serta nyeri payudara berkurang dibandingkan siklus sebelumnya, dan merasa lebih mampu mengontrol dorongan emosional.

O (Objektif): Afek tampak tenang, perilaku agitasi atau menarik diri menurun, tanda-tanda vital dalam batas normal, pembengkakan payudara berkurang, dan pencatatan harian DRSP menunjukkan penurunan intensitas gejala emosional.

A (Analisis): Masalah keperawatan seperti Risiko Bunuh Diri, Ansietas, Nyeri Akut, Harga Diri Rendah Situasional, dan Gangguan Citra Tubuh teratasi sebagian.

P (Perencanaan): Lanjutkan intervensi pemantauan ketat terhadap respons emosional, pertahankan teknik relaksasi, dan teruskan kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai skema fase luteal.

Evaluasi Fase Folikular

S (Subjektif): Pasien menyatakan paham mengenai sifat siklik dari gangguan yang dialaminya, mengerti cara mengisi lembar pemantauan DRSP, dan merasa optimis terhadap manajemen aktivitas harian.

O (Objektif): Pasien mampu menjelaskan kembali dengan benar faktor pemicu dan manajemen mandiri, terampil mengisi grafik DRSP secara harian, serta menunjukkan komitmen terhadap perubahan pola makan dan olahraga.

A (Analisis): Masalah keperawatan seperti Defisit Pengetahuan, Keletihan, Gangguan Pola Tidur, Disfungsi Seksual, dan Koping Maladaptif teratasi.

P (Perencanaan): Hentikan intervensi edukasi aktif, anjurkan pasien untuk mempertahankan modifikasi gaya hidup sehat secara mandiri, dan jadwalkan evaluasi berkala pada akhir siklus berikutnya. (PPNI, 2019; Wahyudi, 2024)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.

Anwar, R. (2019). Endokrinologi Ginekologi: Prinsip dan Aplikasi Klinis. Jakarta: Sagung Seto.

Baziad, A. (2021). Endokrinologi Reproduksi Wanita (Edisi ke-4). Jakarta: Media Aesculapius.

Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Jakarta: DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Jakarta: DPP PPNI.

Jurnal

Chaturvedi, S. K. (2021). Premenstrual dysphoric disorder in South Asia. Indian J Psychiatry, 63(2), 115-122. [Link Jurnal: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8106419/]

Chee, C. (2024). Premenstrual distress in urban Singapore. Singapore Med J, 65(1), 12-19. [Link Jurnal: smj.org.sg/article/2024/65/1/12]

Halbreich, U. (2021). Brain steroid-responsiveness in PMDD. Psychoneuroendocrinology, 124, 105-113. [Link Jurnal: sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S030645302030312X]

Hofmeister, S., & Bodden, S. (2016). Premenstrual Syndrome and PMDD. Am Fam Physician, 94(3), 236-240. [Link Jurnal: aafp.org/pubs/afp/issues/2016/0801/p236.html]

Kim, J. Y. (2020). PMDD among young Korean women. J Korean Med Sci, 35(14), e98. [Link Jurnal: jkms.org/DOIx.php?id=10.3346/jkms.2020.35.e98]

Kusumawardhani, A. (2022). Gangguan Mood Siklik Premenstruasi di Indonesia. J Psikiatri Indonesia, 40(2), 85-93. [Link Jurnal: jurnalpsikiatri.org/index.php/jpi/article/view/2022_40_2]

Rapkin, A. J., & Akopians, A. (2020). Pathophysiology of premenstrual dysphoric disorder. Menopause Int, 26(2), 55-64. [Link Jurnal: journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/2053369120914210]

Wahyudi, H. (2024). Analisis Neuro-Hormonal pada Kejadian PMDD. J Kesehatan Reproduksi Indonesia, 15(1), 45-56. [Link Jurnal: ejournal.badankebijakan.kemkes.go.id/index.php/kespro/article/view/2024_15_1]


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *