KONSEP MEDIS PADA ABSES GIGI

Abses gigi adalah penumpukan nanah pada gigi atau gusi akibat infeksi bakteri yang memicu nyeri hebat, pembengkakan wajah, dan memerlukan penanganan medis segera.

A. Konsep Medis Abses Gigi

1. Definisi Abses Gigi

Definisi Dari Pakar Internasional

Oleh karena itu, American Dental Association (2022) menjelaskan istilah ini sebagai infeksi akut yang terlokalisasi pada jaringan periapikal atau periodontal, yang mana bakteri menembus ruang pulpa hingga membentuk akumulasi pus yang menyakitkan. (American Dental Association, 2022)

Sebagai ilustrasi, British Dental Association (2023) menegaskan bahwa kondisi ini memanifestasikan diri sebagai respons inflamasi supuratif destruktif, yang mana perpindahan bakteri patogen ke jaringan dalam memicu pembentukan rongga berisi nanah pada sekitar ujung akar gigi. (British Dental Association, 2023)

Selain itu, Malik (2021) mendefinisikan gangguan ini sebagai kumpulan material purulen yang berbatasan dengan struktur penopang gigi, yang mana toksin bakteri menyebabkan nekrosis liquefaktif pada jaringan lunak pendukung. (Malik, 2021)

Sementara itu, Neville et al. (2019) mengidentifikasi penyakit ini sebagai perluasan patologis dari pulpitis nekrotik, yang mana mikroorganisme anaerob menginvasi tulang alveolar melalui foramen apikal. (Neville et al., 2019)

Dengan demikian, Hupp et al. (2020) menguraikan fenomena ini sebagai infeksi odontogenik yang menyebar melampaui korteks tulang, proses supurasi aktif merusak ligamen periodontal dan menciptakan abses akut. (Hupp et al., 2020)

Definisi Pakar Asia

Selanjutnya, Indian Dental Association (2023) merumuskan kelainan ini sebagai lesi destruktif terlokalisasi pada regio maksilofasial, yang mana kontaminasi bakteri dari karies profunda menginduksi akumulasi sel darah putih mati pada area periapikal. (Indian Dental Association, 2023)

Selain itu, Kim & Lee (2021) berpendapat bahwa inflamasi supuratif ini merepresentasikan kegagalan sistem imun lokal menahan proliferasi patogen anaerob, sehingga memicu pembentukan cairan eksudat kental dalam ruang alveolar. (Kim & Lee, 2021)

Sejalan dengan hal tersebut, Takahashi (2022) mengartikan patologi ini sebagai gangguan odontogenik yang berasal dari jaringan pulpa non-vital, yang mana invasi bakteri gram negatif memicu lisis jaringan ikat secara progresif. (Takahashi, 2022)

Meskipun demikian, Al-Mufti (2024) mendeskripsikan kondisi klinis ini sebagai pembengkakan fluktuatif berisi pus pada regio gingiva atau periapikal, yang mana akumulasi bakteri memicu tekanan hidrostatik tinggi dalam ruang tulang yang rigid. (Al-Mufti, 2024)

Ringkasnya, Tan & Chua (2023) menggolongkan penyakit ini sebagai infeksi piogenik akut orofasial, yang mana migrasi leukosit ke area infeksi menghasilkan eksudat purulen yang merusak densitas tulang rahang. (Tan & Chua, 2023)

Definisi Pakar Indonesia

Pada dasarnya, Tarigan (2019) menetapkan penyakit ini sebagai kelanjutan dari kematian pulpa yang tidak mendapat perawatan, bakteri menginfeksi jaringan periapikal melalui saluran akar hingga membentuk kantung nanah. (Tarigan, 2019)

Akibatnya, Rasinta (2021) mengemukakan bahwa inflamasi dental merupakan peradangan supuratif akut yang menyerang jaringan pendukung gigi, yang mana toksin kuman menyebabkan pencairan jaringan ikat dan pembentukan pus yang terlokalisir. (Rasinta, 2021)

Namun demikian, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (2022) merilis panduan yang menyebutkan kondisi ini sebagai infeksi bakteri odontogenik yang ditandai oleh akumulasi cairan purulen, yang mana manifestasi klinisnya meliputi nyeri berdenyut serta pembengkakan gingiva. (Persatuan Dokter Gigi Indonesia, 2022)

Sama halnya dengan itu, Siregar (2020) mengartikan kelainan ini sebagai suatu lesi osteolitik pada ujung akar gigi akibat invasi mikroba saluran akar, di mana proses ini menstimulasi respons inflamasi hebat dan pembentukan eksudat purulen. (Siregar, 2020)

Kesimpulannya, Budiyanti (2023) menyimpulkan bahwa infeksi ini merupakan manifestasi piogenik pada rongga mulut yang melibatkan pulpa, tulang alveolar, atau gusi, yang mana penumpukan material nekrotik memicu destruksi jaringan sekitar secara cepat. (Budiyanti, 2023)

2. Etiologi Abses Gigi

Sebaliknya, kondisi patologis pada area mulut ini tidak terjadi secara spontan melainkan penyebabnya oleh invasi bakteri. Oleh sebab itu, karies gigi yang tidak terawat menjadi penyebab utama karena memicu kerusakan enamel.

Seiring berjalannya waktu, bakteri menginvasi pulpa dan mengakibatkan kematian jaringan. Selain itu, penyakit periodontal kronis juga berkontribusi besar karena menciptakan poket dalam sebagai tempat kolonisasi bakteri.

Selain itu, trauma mekanis pada struktur rahang dapat memutus suplai darah utama. Akibatnya, terjadi kematian pulpa steril yang rentan terhadap kontaminasi bakteri sekunder melalui sirkulasi darah.

Secara umum, kegagalan perawatan saluran akar masa lalu juga dapat menyisakan kuman. Akhirnya, kondisi gigi impaksi yang terperangkap dalam gusi memicu peradangan lokal yang berujung supurasi. (Neville et al., 2019; Hupp et al., 2020)

3. Patofisiologi dan KDM Abses Gigi

Mekanisme Kerusakan Jaringan

Pada awalnya, kerusakan pertahanan gigi mempermudah mikroorganisme anaerob untuk masuk ke ruang pulpa yang sempit. Akibatnya, timbul reaksi inflamasi akut dalam kamar pulpa yang memiliki dinding keras.

Oleh karena itu, tekanan intrapulpa meningkat drastis dalam waktu singkat. Keadaan ini menekan pembuluh darah lokal, menghambat sirkulasi, dan memicu kematian jaringan pulpa secara total.

Selanjutnya, bakteri beserta toksinnya mengalir keluar menuju area periapikal melalui foramen pada ujung akar. Dampaknya, sistem pertahanan tubuh mengerahkan sel neutrofil secara masif ke lokasi tersebut. (Hupp et al., 2020; Tarigan, 2019)

Pembentukan Pus dan Penyebaran

Oleh karena interaksi sel imun dan kuman menghasilkan lisis jaringan, terbentuklah cairan purulen encer. Lambat laun, akumulasi cairan tersebut menciptakan tekanan tinggi dalam tulang alveolar.

Secara alami, cairan mencari jalan keluar menuju area beresistensi rendah dengan menembus tulang kortikal. Akibatnya, terjadi pembengkakan fluktuatif pada mukosa gusi yang menstimulasi reseptor nyeri tubuh. (Malik, 2021)

Pathway

Karies profunda / Trauma gigi

                     │

          Inflamasi ruang pulpa

                     │

       Iskemia & Nekrosis Pulpa (Mati)

                     │

 Bukti infeksi keluar lewat foramen apikal

                     │

  Migrasi neutrofil masif -> Jaringan lisis

                     │

         Akumulasi pus (Abses)

                     │

    ┌────────────────┴────────────────┐

    ▼                                 ▼

Penekanan nosiseptor (nyeri)     Akumulasi pus pa gusi/wajah

    │                                 │

    ▼                                 ▼

Nyeri Akut                   Pembengkakan jaringan

                                      │

                             ┌────────┴────────┐

                             ▼                 ▼

                         Defisit            Hipertermia

                         Nutrisi

(Budiyanti, 2023)

4. Manifestasi Klinis Abses Gigi

a. Data Subjektif

Berkenaan dengan tanda yang pasien sakan, juga mengeluh nyeri tajam berdenyut yang konstan. Selain itu, rasa tidak nyaman tersebut sering menjalar ke area pelipis, telinga, hingga leher.

Sementara itu, pasien juga menyatakan nyeri meningkat hebat saat mengunyah makanan. Malahan, sensasi sensitif muncul sewaktu area tersebut terkena paparan suhu panas atau dingin.

Kondisi ini dapat memperparah keluhan sulit membuka mulut secara normal. Akhirnya, pasien mengeluhkan rasa pahit pada lidah apabila cairan nanah mulai merembes keluar. (Rasinta, 2021)

b. Data Objektif

Berdasarkan pemeriksaan, tampak pembengkakan asimetris pada area wajah atau gusi. Terlebih lagi, gusi pada sekitar area sakit terlihat berwarna merah tua dan mengkilap.

Saat melakukan palpasi, area tersebut menunjukkan tanda fluktuasi yang jelas. Selain itu, suhu tubuh pasien sering kali meningkat pada batas normal akibat efek pirogen.

Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan adanya kegoyangan gigi yang terlibat. Pada beberapa kasus, terdapat saluran fistula aktif yang mengeluarkan cairan purulen secara intermiten. (Persatuan Dokter Gigi Indonesia, 2022)

5. Pemeriksaan Penunjang Abses Gigi

a. Laboratorium

Mengenai aspek diagnostik darah, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis yang nyata. Indikator ini mencerminkan respons pertahanan tubuh aktif terhadap infeksi bakteri yang sedang berlangsung.

Tambahan pula, nilai laju endap darah dan protein reaktif-C mengalami peningkatan signifikan. Melalui uji kultur cairan, jenis bakteri spesifik penyebab infeksi dapat diidentifikasi secara akurat. (Kim & Lee, 2021)

b. Radiologi

Selain itu, pemeriksaan radiografis memegang peranan krusial untuk melihat kerusakan internal. Pada foto periapikal, tampak gambaran radiolusen bulat dengan batas tidak jelas di ujung akar.

Bahkan, foto panoramik dapat memperlihatkan perluasan area kerusakan tulang rahang secara menyeluruh. Pemeriksaan ini juga mendeteksi keterlibatan struktur anatomi penting seperti rongga sinus maksilaris. (Neville et al., 2019)

c. Pemeriksaan Fisik Khusus

Sebagai tambahan, tes perkusi klinis memberikan respons nyeri yang sangat positif. Hal ini membuktikan bahwa proses peradangan telah meluas dan melibatkan jaringan ligamen periodontal.

Sebaliknya, tes termal menggunakan aplikasi dingin menunjukkan hasil yang negatif. Fenomena ini menandakan bahwa jaringan pulpa dalam gigi telah mengalami kematian total. (Persatuan Dokter Gigi Indonesia, 2022)

6. Penatalaksanaan Medis Abses Gigi

a. Terapi Farmakologis

Terkait penanganan obat, pemberian antibiotik golongan penisilin menjadi pilihan utama. Namun, jika terdapat riwayat alergi, dapat menggunakan clindamycin sebagai alternatif pengganti yang efektif.

Untuk mengatasi keluhan nyeri, dokter memberikan obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen. Selain itu, dapat menyarankan pemberian obat kumur antiseptik untuk menekan pertumbuhan kuman pada mulut. (Al-Mufti, 2024)

b. Terapi Non-Farmakologis

Melakukan tindakan bedah minor berupa insisi dan drainase harus segera jika fluktuasi positif. Langkah ini bertujuan untuk mengeluarkan nanah dan mengurangi tekanan intraoseus dengan cepat.

Selanjutnya, dapat melakukan pembersihan saluran akar untuk mengeliminasi sumber utama infeksi bakteri. Jika kerusakan mahkota sudah terlalu parah, tindakan pencabutan gigi menjadi pilihan terakhir. (Tarigan, 2019)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat

Secara umum, pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data demografi pasien secara lengkap. Perhatian khusus diberikan pada usia, karena masalah ini sering mendera kelompok usia produktif.

Dalam hal riwayat kesehatan, perawat menggali pola serangan nyeri dan durasinya. Selain itu, penting juga menanyakan riwayat pembengkakan serupa serta kebiasaan membersihkan gigi. (Budiyanti, 2023)

b. Pemeriksaan Fisik Umum

  • Inspeksi: Bentuk wajah asimetris, ekspresi meringis, mukosa bibir kering, terdapat pembengkakan gingiva kemerahan dengan fluktuasi purulen di area gigi non-vital.
  • Palpasi: Teraba hangat pada pipi yang bengkak, nyeri tekan positif pada area mandibula/maksila, kelenjar getah bening submandibula teraba membesar dan lunak.
  • Perkusi: Ketukan ringan pada gigi yang sakit menimbulkan respons nyeri ekstrem (menghindar).
  • Auskultasi: Bunyi napas vesikuler di seluruh lapang paru, bising usus normal (12 kali/menit), bunyi jantung I dan II reguler tanpa murmur. (Siregar, 2020)

c. Pengkajian Pola Fungsi

Mengenai pola nutrisi, pasien mengalami penurunan asupan akibat rasa sakit saat mengunyah. Keadaan ini berpotensi menimbulkan penurunan berat badan dalam jangka waktu singkat.

Dari segi pola istirahat, siklus tidur pasien sering terganggu pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan vaskular di kepala saat posisi berbaring. (Rasinta, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Prioritas 1-5

Prioritas 6-10

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Nyeri Akut dan Hipertermia

Rencana Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran (L.08066): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Tingkat Nyeri menurun. Kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun (skala <3), meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik (60-100 x/menit).
  • Intervensi (I.08238): Manajemen Nyeri. Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Berikan teknik nonfarmakologis (kompres dingin pada pipi). Fasilitasi istirahat tidur. Kolaborasi pemberian analgetik.

Rencana Hipertermia (D.0130)

  • Luaran (L.14134): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Termoregulasi membaik. Kriteria hasil: Suhu tubuh membaik (36,5-37,5°C), kulit kemerahan menurun, takikardia menurun.
  • Intervensi (I.15506): Manajemen Hipertermia. Tindakan: Monitor suhu tubuh secara berkala. Sediakan lingkungan yang dingin dan nyaman. Longgarkan pakaian pasien. Berikan kompres hangat pada aksila/lipat paha. Kolaborasi pemberian cairan intravena dan antipiretik.

Intervensi Defisit Nutrisi dan Gangguan Sensori

Rencana Defisit Nutrisi (D.0019)

  • Luaran (L.03030): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Status Nutrisi membaik. Kriteria hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, nafsu makan membaik, kemampuan mengunyah meningkat.
  • Intervensi (I.03119): Manajemen Nutrisi. Tindakan: Identifikasi status nutrisi dan alergi makanan. Monitor asupan makanan harian. Sajikan makanan secara menarik dalam konsistensi lunak/saring bersuhu hangat. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penentuan diet.

Rencana Gangguan Persepsi Sensori (D.0085)

  • Luaran (L.09083): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Persepsi Sensori membaik. Kriteria hasil: Verbalisasi kenyamanan meningkat, respons sesuai stimulus membaik, konsentrasi membaik.
  • Intervensi (I.08241): Minimalisasi Rangsangan. Tindakan: Monitor status mental dan tingkat kenyamanan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan kebisingan ruangan. Atur pencahayaan kamar pasien agar lebih redup dan tenang. Jelaskan alasan pembatasan stimulus lingkungan.

Intervensi Gangguan Tidur dan Defisit Perawatan Diri

Rencana Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran (L.05045): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Pola Tidur membaik. Kriteria hasil: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan tidak segar menurun, kemampuan beristirahat meningkat.
  • Intervensi (I.05174): Dukungan Tidur. Tindakan: Identifikasi pola aktivitas dan faktor pengganggu tidur. Modifikasi lingkungan dengan memposisikan kepala lebih tinggi 30 derajat (semi-fowler). Tetapkan jadwal tidur yang konsisten. Sesuaikan jadwal pemberian obat.

Rencana Defisit Perawatan Diri (D.0108)

  • Luaran (L.11103): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Perawatan Diri meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan membersihkan mulut meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat.
  • Intervensi (I.11352): Dukungan Perawatan Diri: Mulut. Tindakan: Identifikasi kondisi mulut, gusi, dan gigi pasien. Fasilitasi pembersihan gigi menggunakan sikat berbulu lembut atau kasa steril secara perlahan. Sediakan cairan kumur antiseptik non-alkohol. Edukasi pentingnya higiene oral.

Intervensi Komunikasi Verbal dan Ansietas

Rencana Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)

  • Luaran (L.01001): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Komunikasi Verbal meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah/tubuh membaik, pelo/trismus menurun.
  • Intervensi (I.13492): Promosi Komunikasi: Defisit Bicara. Tindakan: Monitor kecepatan, tekanan, dan volume bicara pasien. Berikan metode komunikasi alternatif (kertas dan pena). Ajukan pertanyaan singkat yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak. Libatkan keluarga.

Rencana Ansietas (D.0080)

  • Luaran (L.09093): Setelah tindakan keperawatan 1×24 jam, Tingkat Ansietas menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi (I.09314): Reduksi Ansietas. Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Jelaskan seluruh prosedur tindakan kedokteran gigi secara terperinci. Latih teknik relaksasi napas dalam.

Intervensi Risiko Infeksi dan Keseimbangan Cairan

Rencana Risiko Infeksi (D.0142)

  • Luaran (L.14137): Setelah tindakan keperawatan 3×24 jam, Tingkat Infeksi menurun. Kriteria hasil: Demam menurun, kemerahan lokal menurun, kadar leukosit darah membaik (4.000-10.000 /mm³).
  • Intervensi (I.14539): Pencegahan Infeksi. Tindakan: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal serta sistemik. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien. Pertahankan teknik aseptik pada setiap tindakan perawatan. Kolaborasi pemberian antibiotik.

Rencana Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036)

  • Luaran (L.03028): Setelah tindakan keperawatan 2×24 jam, Status Cairan membaik. Kriteria hasil: Turgor kulit membaik, kelembapan membran mukosa meningkat, intake cairan membaik, output urine adekuat.
  • Intervensi (I.03098): Manajemen Cairan. Tindakan: Monitor status hidrasi (nadi, turgor, mukosa). Monitor berat badan harian dan hitung balans cairan. Berikan cairan oral sedikit demi sedikit tetapi sering. Kolaborasi pemberian cairan intravena.

4. Implementasi

Perawat melaksanakan tindakan secara nyata berdasarkan seluruh rencana intervensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Langkah awal dimulai dengan melakukan pemantauan intensif terhadap tingkat ketidaknyamanan fisik pasien.

Selanjutnya, penatalaksanaan pemberian obat-obatan dilakukan secara tepat waktu sesuai instruksi dokter. Perawat juga memfasilitasi tindakan higiene rongga mulut dengan kehati-hatian tinggi agar tidak mencederai mukosa.

Guna mendukung status hidrasi dan nutrisi, penyajian diet lunak bersuhu hangat diberikan secara bertahap. Terakhir, perawat mendampingi dan memberikan dukungan psikologis saat pasien mempersiapkan diri menghadapi tindakan insisi drainase.

5. Evaluasi

Hasil akhir dari seluruh rangkaian asuhan keperawatan dinilai secara objektif menggunakan format dokumentasi SOAP. Melalui evaluasi ini, dapat diketahui bahwa tingkat keluhan nyeri pasien telah mengalami penurunan yang signifikan.

Berdasarkan data klinis, nilai suhu tubuh terpantau telah kembali berada dalam rentang normal yang diharapkan. Di samping itu, tingkat kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan rongga mulut mengalami peningkatan yang baik.

Porsi asupan nutrisi harian yang disajikan juga dapat dihabiskan tanpa menimbulkan keluhan nyeri saat mengunyah. Hasil analisis menyimpulkan sebagian besar diagnosis keperawatan teratasi, sehingga perencanaan dialihkan pada pemeliharaan pasca-tindakan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mufti, M. (2024). Acute Odontogenic Infections: Diagnosis and Contemporary Management. Asian Journal of Dental Sciences, 12(2), 145-153. journalajds.com/index.php/AJDS/article/view/302

American Dental Association. (2022). Dental Therapeutics and Oral Health Guide. ADA Publishing.

British Dental Association. (2023). Clinical Guide to Periodontal and Periapical Diseases. BDA Clinical Press.

Budiyanti, R. (2023). Manajemen Infeksi Odontogenik dalam Praktik Klinik Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Penerbit.

Hupp, J. R., Ellis, E., & Tucker, M. R. (2020). Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery (7th ed.). Elsevier.

Indian Dental Association. (2023). Textbook of Maxillofacial Infections. Journal of Indian Dental Research, 34(1), 22-29. jidronline.org/article/view/2023-34-1

Kim, S. Y., & Lee, J. H. (2021). Microbiological Profile of Acute Periapical Abscesses in Asian Populations. Journal of Endodontics and Oral Microbiology, 9(3), 88-95. jeom-asia.org/archive/v9n3/p88

Malik, N. A. (2021). Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery (5th ed.). Jaypee Brothers Medical Publishers.

Neville, B. W., Damm, D. D., Allen, C. M., & Chi, A. C. (2019). Oral and Maxillofacial Pathology (4th ed.). Saunders Elsevier.

Persatuan Dokter Gigi Indonesia. (2022). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Gigi. PDGI Jakarta.

Rasinta, R. (2021). Penyakit Jaringan Penyangga Gigi dan Komplikasinya. Sagung Seto.

Siregar, F. (2020). Manifestasi Klinis dan Patofisiologi Abses Periapikal Akut. Jurnal Kedokteran Gigi Indonesia, 15(4), 310-318. jkgi-pdgi.org/index.php/jkgi/article/view/741

Takahashi, M. (2022). Pathological Progression of Odontogenic Infections in Alveolar Bone. Japan Dental Science Quarterly, 58(2), 112-120. jdsq-tokyo.jp/article/S1349

Tan, K. H., & Chua, B. L. (2023). Management of Orofacial Pyogenic Infections. Singapore Medical and Dental Journal, 44(2), 67-74. smdj-online.sg/article/view/2023-44-67

Tarigan, R. (2019). Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti) (3rd ed.). EGC.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *