KONSEP MEDIS HERNIA INGUINALIS

Hernia inguinalis terjadi ketika jaringan lunak, seperti organ dalam perut atau lemak, menonjol keluar melalui titik lemah atau robekan pada dinding bawah perut (WHO, 2022).

A. Konsep Medis Hernia Inguinalis

1. Kajian Definisi Penyakit Hernia Inguinalis

Definisi Dari Pakar Internasional

The European Hernia Society menjelaskan bahwa hernia inguinalis merupakan suatu kondisi ketika organ intra-abdomen menonjol melalui anulus inguinalis dalam ke dalam kanalis inguinalis akibat kelemahan dinding posterior abdomen (Miserez et al., 2014).

Menurut American College of Surgeons, kelainan ini melibatkan penonjolan kantung peritoneum yang berisi usus atau omentum melewati celah pada area selangkangan (Townsend et al., 2021).

Selanjutnya, The British Journal of Surgery mendefinisikan gangguan ini sebagai defek anatomis pada regio groin yang memungkinkan struktur intraperitoneal keluar dari rongga normalnya (Simons et al., 2018).

Selaras dengan hal tersebut, Mayo Clinic mengartikan kondisi ini sebagai kelemahan otot dinding perut pada area lipat paha yang memicu jaringan adiposa atau usus meluncur turun ke kantung hernia (Mayo Clinic, 2023).

Terakhir, Sabiston Textbook of Surgery menegaskan bahwa kondisi klinis ini mencakup kegagalan penutupan prosesus vaginalis atau adanya kelemahan fasia transversalis yang menyebabkan protrusi visera abdomen (Courtney et al., 2022).

Definisi Pakar Asia

The Asia-Pacific Hernia Society (APHS) merumuskan penyakit ini sebagai defek fasia pada regio inguinal yang sering kali timbul akibat peningkatan tekanan intra-abdomen kronis pada populasi Asia (Lomanto et al., 2020).

Sejalan dengan itu, peneliti dari Japanese Society for Hernia mengidentifikasi kelainan tersebut sebagai penonjolan kantung hernia yang melewati lokus minoris resistentiae bagian atas ligamen inguinal (Asuri et al., 2019).

Selain itu, pakar dari Indian Journal of Surgery memaparkan gangguan ini sebagai kelemahan struktur fibromuskular pada area segitiga Hesselbach yang memicu herniasi organ dalam (Sharma et al., 2021).

Kemudian, jurnal kedokteran Singapore Medical Association menerangkan bahwa kelainan ini merupakan pembengkakan pada lipat paha yang terjadi akibat kegagalan otot dinding perut menahan beban organ dalam (Tan et al., 2018).

Melengkapi pandangan tersebut, Chinese College of Surgeons menetapkan penyakit ini sebagai protrusi isi perut melalui kanalis inguinalis yang membutuhkan tindakan operatif guna mencegah strangulasi (Li et al., 2022).

Definisi Pakar Indonesia

Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia (IKABI) mengartikan patologi ini sebagai penonjolan isi rongga perut melalui defek pada dinding perut bawah pada regio inguinal (IKABI, 2020).

Selain itu, Sjamsuhidajat dan de Jong menguraikan kondisi ini sebagai bentuk kelemahan yang keluar melalui anulus inguinalis internus atau direk menembus dinding belakang kanalis inguinalis (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017).

Lebih lanjut, ikatan ahli bedah dari Universitas Indonesia mendefinisikan kelainan ini sebagai anomali berupa kantung peritoneum yang memasuki kanalis inguinalis akibat proses kongenital maupun akuisita (Sjamsundardjo et al., 2019).

Berikutnya, peneliti Universitas Airlangga menyebutkan gangguan ini sebagai penonjolan visera abdomen akibat kegagalan obliterasi prosesus vaginalis peritonei (Purnomo et al., 2021).

Pada akhirnya, buku panduan klinis Universitas Diponegoro merangkum penyakit ini sebagai hilangnya integritas jaringan ikat dinding perut pada area lipat paha yang memicu keluarnya omentum atau usus (Budi et al., 2022).

2. Sumber Penyebab dan Risiko Hernia Inguinalis

Faktor risiko dan penyebab utama terbagi menjadi dua mekanisme patologis. Faktor kongenital melibatkan kegagalan penutupan prosesus vaginalis secara sempurna saat janin berada dalam kandungan, sehingga menyisakan saluran terbuka (Townsend et al., 2021).

Sementara itu, faktor dapat mencakup kelemahan otot dinding abdomen seiring bertambahnya usia, penuaan jaringan ikat, serta kerusakan sintesis kolagen secara progresif (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017).

Selain itu, peningkatan tekanan intra-abdomen kronis mempercepat timbulnya manifestasi klinis tersebut. Kondisi ini biasanya muncul oleh aktivitas berat seperti mengangkat beban berat secara berulang, batuk kronis akibat penyakit paru, mengejan berlebihan karena konstipasi, serta obesitas atau kehamilan (Simons et al., 2018; IKABI, 2020).

3. Mekanisme Patofisiologi Hernia Inguinalis

Penonjolan Jaringan Tubuh

Kanalis inguinalis merupakan saluran obliqus yang menembus dinding abdomen. Peningkatan tekanan intra-abdomen memaksa organ dalam perut mendorong area yang lemah. Akibatnya, pada tipe indirek, organ masuk melalui anulus inguinalis internus dan mengikuti jalannya spermatic cord (Courtney et al., 2022).

Risiko Jepitan Organ

Sebaliknya, pada tipe direk, organ menonjol langsung menembus fasia transversalis pada segitiga Hesselbach. Jika kantung tersebut terjepit oleh cincin penekat, aliran darah menuju organ dalamnya akan terganggu secara mendadak. Kondisi akut ini dapat berkembang menjadi nekrosis jaringan atau iskemia yang memicu obstruksi saluran cerna (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017).

Skema Penyimpangan KDM (Pathway)

Faktor Kongenital / Tekanan Intra-Abdomen ↑ / Kelemahan Otot

                               |

            Defek pada Kanalis Inguinalis / Segitiga Hesselbach

                               |

               Penonjolan Isi Abdomen ke Regio Groin

                               |

                    HERNIA INGUINALIS

                               |

        ————————————————-

        |                                               |

Kantung Hernia Menonjol                     Kantung Terjepit pada Cincin

        |                                               |

Massa pada Lipat Paha                              Obstruksi Usus

        |                                               |

Ketidaknyamanan / Malu                      Aliran Darah Terganggu

        |                                               |

Gangguan Citra Tubuh                     Nyeri Akut / Risiko Iskemia

4. Manifestasi Klinis Hernia Inguinalis

Tanda Berdasarkan Data Subjektif

Pasien umumnya mengeluhkan adanya benjolan pada lipat paha atau skrotum yang dapat hilang-timbul secara fluktuatif (Asuri et al., 2019).

Keluhan tersebut juga muncul dengan rasa nyeri, kemeng, atau sensasi terbakar pada benjolan, terutama saat mengangkat benda berat, bersin, atau batuk (Townsend et al., 2021).

Selanjutnya, muncul keluhan mual, muntah, dan perut kembung jika sudah terjadi hambatan atau jepitan pada saluran usus (IKABI, 2020).

Tanda Berdasarkan Data Objektif

Secara klinis, tampak jelas benjolan pada area inguinal atau skrotum saat pasien berdiri atau mengejan (Simons et al., 2018).

Namun demikian, benjolan tersebut menghilang atau dapat memasukkan kembali saat pasien berbaring telentang pada tipe reponibel (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017).

Menemukan bising usus hiperaktif atau justru menghilang pada auskultasi area benjolan saat terjadi strangulasi jaringan (Budi et al., 2022).

Akhirnya, distensi abdomen dan tanda-tanda dehidrasi dapat terobservasi akibat adanya muntah yang berulang (Sharma et al., 2021).

5. Pemeriksaan Penunjang Hernia Inguinalis

Evaluasi Pemeriksaan Laboratorium

melakukan juga pemeriksaan darah lengkap untuk melihat peningkatan sel darah putih (leukositosis) yang menandakan adanya inflamasi, iskemia, atau nekrosis jaringan (Miserez et al., 2014).

Sementara itu, evaluasi elektrolit serum sangat penting guna memantau ketidakseimbangan elektrolit akibat muntah berulang (Tan et al., 2018).

Evaluasi Pemeriksaan Radiologi

Mengaplikasikan ultrasonografi (USG) inguinal untuk menentukan isi kantung dan membedakan kondisi ini dengan hidrokel atau limfadenopati (Lomanto et al., 2020).

Selanjutnya, melakukan juga CT Scan abdomen jika pemeriksaan fisik meragukan atau untuk mendeteksi komplikasi obstruksi usus secara detail (Courtney et al., 2022).

Hasil Pemeriksaan Lain

Melakukan uji silang melalui Zieman Test atau Finger Test secara manual untuk membedakan tipe direk, indirek, atau femoralis (Sjamsuhidajat & de Jong, 2017).

6. Tindakan Penatalaksanaan Hernia Inguinalis

Manajemen Terapi Farmakologis

Melakukan pemberian obat analgetik seperti Ketorolac atau Paracetamol intravena untuk mengontrol intensitas nyeri (Townsend et al., 2021).

Selain itu,memberikan antibiotik profilaksis berupa Sefalosporin sebelum tindakan operasi guna mencegah infeksi luka operasi (Simons et al., 2018).

Menberkan cairan intravena seperti NaCl 0,9% atau Ringer Laktat jika pasien mengalami dehidrasi akibat obstruksi (Asuri et al., 2019).

Manajemen Terapi Non-Farmakologis

Menerapkan reduksi manual dengan mengembalikan isi kantung ke rongga abdomen secara perlahan dalam posisi Trendelenburg (IKABI, 2020).

Selain itu, penggunaan sabuk hernia (truss) dapat menjadi alternatif penyangga luar yang bersifat paliatif sementara (Mayo Clinic, 2023).

Tindakan bedah berupa herniotomi dan hernioplasti menggunakan mesh merupakan terapi definitif utama, baik metode terbuka maupun laparoskopi (Miserez et al., 2014; Lomanto et al., 2020).

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Biodata dan Riwayat Kesehatan

Pengkajian meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan fisik, serta keluhan utama berupa benjolan pada lipatan paha atau nyeri perut (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017).

Perawat mengkaji onset munculnya benjolan, durasi nyeri, faktor yang memperberat, serta riwayat penyakit dahulu seperti batuk kronis atau konstipasi menahun.

Pemeriksaan Fisik Lengkap

Pemeriksaan sistem pencernaan berfokus pada inspeksi kesimetrisan lipat paha, palpasi konsistensi massa, perkusi bunyi timpani, dan auskultasi bising usus (Budi et al., 2022).

Mengkaji sistem pernapasan untuk melihat adanya batuk, sedangkan sistem integumen serta memantaunya guna menilai turgor kulit akibat muntah sekunder.

Pola Fungsi Kesehatan

Pengkajian pola eliminasi berfokus pada riwayat konstipasi, sementara pola aktivitas mengidentifikasi kebiasaan mengangkat barang berat selama bekerja.

2. Diagnosis Keperawatan (Urutan Prioritas)

Kelompok Diagnosis Fisiologis

Kelompok Diagnosis Psikologis dan Perilaku

3. Perencanaan Keperawatan (SLKI & SIKI)

Intervensi Prioritas 1 sampai 3

Nyeri Akut (D.0077)

  • SLKI: Tingkat Nyeri (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik.
  • SIKI: Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain); Fasilitasi istirahat dan tidur; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.

Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif (D.0013)

  • SLKI: Perfusi Perifer (L.02011)
    • Kriteria Hasil: Nyeri perut menurun, mual menurun, muntah menurun, bising usus membaik, distensi abdomen menurun.
  • SIKI: Pemantauan Cairan (I.03121)
    • Tindakan: Monitor frekuensi dan kekuatan nadi; Monitor tekanan darah; Monitor berat badan; Monitor waktu pengisian kapiler; Monitor elastisitas atau turgor kulit; Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine; Monitor kadar albumin dan protein total; Monitor hasil pemeriksaan serum; Monitor intake dan output cairan; Identifikasi tanda-tanda dehidrasi; Dokumentasikan hasil pemantauan; Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan; Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Defisit Nutrisi (D.0019)

  • SLKI: Status Nutrisi (L.03030)
    • Kriteria Hasil: Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi meningkat, pengetahuan tentang pilihan makanan yang sehat meningkat, perasaan cepat kenyang menurun, nyeri abdomen menurun, sariawan menurun, rambut rontok menurun, diare menurun, berat badan membaik, indeks massa tubuh (IMT) membaik, frekuensi makan membaik, nafsu makan membaik, bising usus membaik, tebal lipatan kulit trisep membaik, membran mukosa membaik.
  • SIKI: Manajemen Nutrisi (I.03119)
    • Tindakan: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien; Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan; Monitor hasil pemeriksaan laboratorium; Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein; Berikan suplemen makanan, jika perlu; Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi; Anjurkan posisi duduk, jika mampu; Ajarkan diet yang diprogramkan; Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu; Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. pereda nyeri, antiemetik), jika perlu.

Intervensi Prioritas 4 sampai 6

Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)

  • SLKI: Eliminasi Urin (L.04034)
    • Kriteria Hasil: Sensasi berkemih meningkat, desakan berkemih (urgensi) menurun, distensi kandung kemih menurun, berkemih tidak tuntas menurun, volume residu urin menurun, urin menetes menurun, disuria menurun, anuria menurun, frekuensi berkemih membaik, karakteristik urin membaik.
  • SIKI: Manajemen Eliminasi Urin (I.04148)
    • Tindakan: Monitor eliminasi urin (frekuensi, konsistensi, aroma, volume, dan warna); Monitor tanda dan gejala retensi atau inkontinensia urin; Identifikasi faktor yang menyebabkan retensi atau inkontinensia urin; Batasi asupan cairan, jika perlu; Ambil sampel urin tengah (midstream) atau kultur, jika perlu; Fasilitasi berkemih pada interval yang teratur, jika perlu; Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih; Ajarkan mengukur asupan cairan dan volume keluaran urin; Ajarkan mengambil sampel urin midstream; Ajarkan tanda dan gejala rencana eliminasi urin; Ajarkan terapi modalitas penguatan otot-otot panggul/berkemih, jika perlu; Kolaborasi pemberian obat supositoria uretra, jika perlu.

Konstipasi (D.0049)

  • SLKI: Eliminasi Fekal (L.04033)
    • Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, keluhan defekasi lama dan sulit menurun, mengejan saat defekasi menurun, distensi abdomen menurun, teraba massa pada rektum menurun, urisitis menurun, sakit kepala menurun, gelisah menurun, frekuensi buang air besar membaik, konsistensi feses membaik, peristaltik usus membaik.
  • SIKI: Manajemen Konstipasi (I.04155)
    • Tindakan: Monitor buang air besar (frekuensi, konsistensi, volume, warna, dan bau); Monitor tanda dan gejala konstipasi (mis. nyeri perut, distensi abdomen, mengejan); Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis. obat-obatan, tirah baring, diet rendah serat); Sediakan lingkungan yang nyaman dan menjaga privasi; Berikan air hangat setelah makan; Fasilitasi mengubah posisi tubuh atau mobilisasi dini untuk merangsang peristaltik; Anjurkan diet tinggi serat; Anjurkan meningkatkan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi; Latih buang air besar secara teratur (bowel training); Ajarkan cara mencegah konstipasi (mis. hindari mengejan berlebihan); Kolaborasi pemberian pencahar atau enema, jika perlu.

Ansietas (D.0080)

  • SLKI: Tingkat Ansietas (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun, keluhan pusing menurun, diaforesis menurun, palpitasi menurun, frekuensi nadi menurun, tekanan darah menurun, frekuensi napas menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik, kontak mata membaik, orientasi membaik.
  • SIKI: Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Tindakan: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. kondisi, waktu, stresor); Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal); Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan; Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan; Mendiskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang; Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi; Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan; Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat; Latih teknik relaksasi; Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.

Intervensi Prioritas 7 sampai 10

Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • SLKI: Citra Tubuh (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kecacatan bagian tubuh meningkat, verbalisasi kehilangan bagian tubuh meningkat, verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, verbalisasi kekhawatiran pada penolakan/reaksi orang lain menurun, menyembunyikan bagian tubuh berlebihan menurun, fokus pada bagian tubuh berubah menurun, respon nonverbal pada perubahan tubuh membaik, hubungan sosial membaik.
  • SIKI: Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Tindakan: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan; Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin, dan umur terkait citra tubuh; Identifikasi perubahan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi sosial; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri; Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah; Mendiskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; Mendiskusikan persepsi pasien dan keluarga tentang perubahan citra tubuh; Mendiskusikan kondisi stres yang mempengaruhi citra tubuh (mis. luka, penyakit, pembedahan); Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan perubahan citra tubuh; Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh; Anjurkan menggunakan alat bantu, jika perlu; Latih fungsi tubuh yang tersisa; Latih peningkatan penampilan diri; Latih strategi koping yang digunakan; Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (mis. psikolog, psikiater, pekerja sosial), jika perlu.

Intoleransi Aktivitas (D.0056)

  • SLKI: Toleransi Aktivitas (L.05047)
    • Kriteria Hasil: Frekuensi nadi aktivitas meningkat, kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, kecepatan berjalan meningkat, jarak berjalan meningkat, kekuatan tubuh bagian atas meningkat, kekuatan tubuh bagian bawah meningkat, keluhan lelah menurun, dispnea saat aktivitas menurun, dispnea setelah aktivitas menurun, perasaan lemah menurun, warna kulit membaik, tekanan darah membaik, frekuensi napas membaik, EKG iskemia membaik.
  • SIKI: Manajemen Energi (I.05178)
    • Tindakan: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor kelelahan fisik dan emosional; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas; Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan); Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif; Fasilitasi duduk pada sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan; Berikan aktivitas relaksasi yang menenangkan; Tingkatkan koping yang efektif; Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan; Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

Risiko Infeksi (D.0142)

  • SLKI: Tingkat Infeksi (L.14137)
    • Kriteria Hasil: Kebersihan tangan meningkat, kebersihan badan meningkat, demam menurun, kemerahan menurun, bengkak menurun, vesikel menurun, cairan berbau busuk menurun, sputum berwarna hijau menurun, drainase purulen menurun, piuria menurun, kadar sel darah putih membaik.
  • SIKI: Pencegahan Infeksi (I.14539)
    • Tindakan: Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik; Batasi jumlah pengunjung; Berikan perawatan kulit pada area edema; Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien; Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi; Jelaskan tanda dan gejala infeksi; Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar; Ajarkan etika batuk; Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi; Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi; Anjurkan meningkatkan asupan cairan; Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • SLKI: Tingkat Pengetahuan (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, menghadapi pertanyaan tentang masalah seperti adanya penurunan, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun, gerakan berlebihan menurun.
  • SIKI: Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Tindakan: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat; Sediakan materi dan media edukasi kesehatan; Jadwalkan edukasi kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya; Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan; Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat; Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

4. Implementasi

Melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan serangkaian intervensi yang telah ada sebelumnya (SIKI). Kegiatan ini mencakup tindakan observasi klinis, pemberian tindakan terapeutik, edukasi pencegahan mengejan, serta kolaborasi pemberian obat analgetik bersama tim medis. Seluruh aktivitas terdokumentasi dengan baik (Tim Pokja SIKI PPNI, 2018).

5. Evaluasi

Menjalankan Evaluasi keperawatan menggunakan metode SOAP dengan mengacu pada kriteria luaran (SLKI). Evaluasi mengonfirmasi apakah keluhan nyeri menurun, eliminasi fekal dan urin kembali normal, serta dapat mencegah sepenuhnya risiko infeksi luka operasi selama masa perawatan rumah sakit (Tim Pokja SLKI PPNI, 2019).

DAFTAR PUSTAKA

Asuri, K. et al. 2019. Inguinal hernia anatomy and management guidelines: A view from Japan and Asia. Journal of Asian Surgery, 42(3), 211-218. ejournal.asiansurg.org/index.php/jas/article/view/4203

Budi, S., Hartono, R., & Utomo, M. 2022. Buku Ajar Bedah Klinis Universitas Diponegoro. Semarang: Undip Press.

Courtney, M. T. et al. 2022. Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice (21st ed.). Philadelphia: Elsevier.

IKABI. 2020. Panduan Praktik Klinis Komite Medik: Tata Laksana Kasus Bedah. Jakarta: IKABI.

Li, J., Ji, Z., & Zhang, S. 2022. Chinese College of Surgeons guidelines for inguinal hernia management. Chinese Medical Journal, 135(8), 901-908. journals.lww.com/cmj/fulltext/2022/04200/chinese_college_of_surgeons_guidelines.aspx

Lomanto, D., Katara, R., & Ching, S. 2020. Asia-Pacific Hernia Society (APHS) guidelines for endoscopic and laparoscopic inguinal hernia repair. Surgical Endoscopy, 34(11), 4711-4725. link.springer.com/article/10.1007/s00464-020-07890-w

Mayo Clinic. 2023. Inguinal Hernia: Diagnosis and Treatment. mayoclinic.org/diseases-conditions/inguinal-hernia/diagnosis-treatment/drc-20351547

Miserez, M. et al. 2014. European Hernia Society guidelines on the treatment of inguinal hernia in adult patients. Hernia, 13(4), 343-403. link.springer.com/article/10.1007/s10029-009-0516-7

Purnomo, B., Wahju, A., & Kusuma, H. 2021. Karakteristik klinis dan patofisiologi pasien hernia inguinalis di RSUD Dr. Soetomo. Jurnal Bedah Surabaya, 9(2), 114-122. journal.unair.ac.id/JBS/article/view/9214

Sharma, P., Yadav, R., & Marwah, S. 2021. Etiological profiles and clinical variations of groin hernias: An Indian perspective. Indian Journal of Surgery, 83(Suppl 2), 401-409. link.springer.com/article/10.1007/s12262-021-02888-1

Simons, M. P. et al. 2018. International guidelines for groin hernia management. Hernia, 22(1), 1-165. link.springer.com/article/10.1007/s10029-017-1668-x

Sjamsuhidajat, R., & de Jong, W. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah Sistem Organ dan Reheling (Ed. 4). Jakarta: EGC.

Sjamsundardjo, F., Ramli, M., & Siregar, C. 2019. Modul Pendidikan Bedah Universitas Indonesia. Jakarta: UI Publishing.

Tan, C. H., Ng, K. H., & Emmanuel, S. 2018. Management of inguinal hernia in primary care: Singapore perspective. Singapore Medical Journal, 59(4), 180-186. smj.org.sg/article/management-inguinal-hernia-primary-care

WHO. 2022. International Classification of Diseases for Mortality and Morbidity Statistics (11th Revision). icd.who.int/browse11/l-m/en


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *