Arthritis merupakan inflamasi persendian yang menimbulkan nyeri, kekakuan, dan keterbatasan gerak, yang berpotensi memicu kerusakan sendi permanen serta menurunkan kualitas hidup penderitanya.
- A. Konsep Medis Arthritis
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Arthritis
1. Definisi Penyakit Arthritis
Definisi Dari Pakar Internasional
World Health Organization (2021) menjelaskan bahwa arthritis mencakup lebih dari 100 kondisi klinis yang memengaruhi sistem muskuloskeletal, inflamasi pada satu atau lebih sendi menjadi karakteristik utamanya.
Selanjutnya, American College of Rheumatology (2022) menegaskan bahwa kondisi ini merupakan manifestasi peradangan sendi yang menimbulkan gejala kardinal seperti nyeri, pembengkakan, dan kekakuan yang membatasi mobilitas fisik pasien.
Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (2023). Mendefinisikan gangguan tersebut sebagai istilah payung untuk sekelompok penyakit kronis yang menyerang persendian dan jaringan sekitarnya, dengan osteoarthritis sebagai jenis yang paling sering terjadi.
Kemudian, para ahli di Mayo Clinic (2023) mengidentifikasi fenomena ini sebagai pembengkakan dan nyeri tekan pada satu atau lebih persendian yang cenderung memburuk seiring bertambahnya usia seseorang.
Sementara itu, Smeltzer & Bare (2020) mendeskripsikan penyakit ini sebagai gangguan inflamasi non-spesifik pada sendi yang menyebabkan degenerasi kartilago, hipertrofi tulang, dan perubahan pada membran sinovial.
(WHO, 2021, ACR, 2022, CDC, 2023, Mayo Clinic, 2023, Smeltzer & Bare, 2020)
Definisi Pakar Asia
Asia Pacific League of Associations for Rheumatology (2021) merumuskan gangguan kronis ini sebagai penyakit sistemik yang menyerang sendi perifer, ditandai dengan sinovitis inflamasi persisten yang merusak tulang rawan artikular.
Lebih lanjut, Japanese Orthopaedic Association (2022) mengonseptualisasikan masalah fungsional ini sebagai sindrom klinis yang melibatkan destruksi progresif komponen sendi akibat proses mekanis, penuaan, maupun respons autoimun.
Oleh karena itu, Chinese Medical Association (2023) mengartikan patologi tersebut sebagai kelainan fungsional dan struktural sendi yang memicu rasa sakit ekstrem serta deformitas anatomis pada populasi lanjut usia.
Sejalan dengan hal tersebut, Korean College of Rheumatology (2022) mengklasifikasikan kondisi patologis ini sebagai gangguan inflamasi kronis yang memicu proliferasi jaringan sinovial dan pembentukan pannus yang mengikis matriks tulang.
Akhirnya, Indian Rheumatology Association (2021) memaparkan masalah kesehatan ini sebagai manifestasi klinis dari gangguan muskuloskeletal yang heterogen, dengan ciri nyeri sendi, hambatan fungsional, dan penurunan produktivitas.
(APLAR, 2021, JOA, 2022, CMA, 2023, KCR, 2022, IRA, 2021)
Definisi Pakar Indonesia
Perhimpunan Reumatologi Indonesia (2020) menetapkan penyakit muskuloskeletal ini sebagai penyakit inflamasi sendi menahun yang timbul akibat gangguan sistem imun atau proses degeneratif fusi tulang.
Selain itu, Soeroso dkk. (2021) menguraikan gangguan sendi ini sebagai penyakit degeneratif yang terjadi robekan dan keausan tulang rawan secara progresif serta pembentukan osteofit.
Tambahan pula, Sudoyo dkk. (2020) merumuskan kondisi klinis ini sebagai peradangan sendi yang bermanifestasi lokal namun memiliki dampak sistemik meluas, termasuk kelelahan kronis dan gangguan vaskular.
Meskipun demikian, Nurarif & Kusuma (2020) mengartikan kelainan sendi ini sebagai kumpulan sindrom nyeri muskuloskeletal yang muncul dengan inflamasi, pembengkakan, dan keterbatasan rentang gerak.
Sebagai penegas, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) mendefinisikan gangguan sendi kronis tersebut sebagai dampak dari penipisan rawan sendi yang menyebabkan gesekan antartulang, menimbulkan rasa nyeri, dan menghambat aktivitas sehari-hari.
(IRA-Indo, 2020, Soeroso dkk., 2021, Sudoyo dkk., 2020, Nurarif & Kusuma, 2020, Kemenkes RI,
2022)
2. Etiologi Persendian Arthritis
Penyebab utama dari gangguan persendian ini bervariasi tergantung pada klasifikasi klinisnya. Faktor biologis memainkan peran besar melalui penuaan yang memicu penurunan elastisitas tulang rawan, yang lazim yang terdapat pada osteoarthritis.
Selain itu, gangguan imunologi berupa respons autoimun menyebabkan tubuh menyerang membran sinovialnya sendiri pada kasus rheumatoid. Selain itu, gangguan metabolik seperti akumulasi kristal monosodium urat akibat hiperurisemia memicu peradangan akut pada gout.
Oleh karena itu, faktor risiko tambahan seperti obesitas dapat meningkatkan beban mekanis sendi, yang memperparah trauma fisik berulang, infeksi bakteri, serta faktor genetik.
(Brunner & Suddarth, 2021, Price & Wilson, 2020)
3. Patofisiologi Kerusakan Jaringan Arthritis
Patofisiologi kelainan ini mulai mengalami kerusakan mekanis atau reaksi autoimun pada sendi.
Akibatnya, pada rheumatoid, sistem imun menghasilkan faktor reumatoid yang menyerang membran sinovial, memicu sinovitis.
Selanjutnya, inflamasi ini merangsang pelepasan sitokin proinflamasi yang menginduksi proliferasi sel sinovial membentuk pannus. Oleh karena itu, pannus menginvasi dan mengikis rawan sendi serta tulang subkondral.
Sementara itu, pada osteoarthritis, terjadi ketidakseimbangan antara degradasi dan sintesis matriks tulang rawan oleh kondrosit, menyebabkan erosi rawan sendi, penyempitan celah sendi, dan pembentukan osteofit.
Skema Penyimpangan KDM
Kerusakan struktur ini memicu pelepasan mediator kimia seperti prostaglandin dan histamin, menstimulasi nosiseptor, dan menghasilkan sensasi nyeri hebat.
Oleh sebab itu, kerusakan struktural sendi ini membatasi pergerakan, menyebabkan atrofi otot, kekakuan sendi, hingga perubahan gaya berjalan yang mengganggu kemandirian fungsional.
Faktor Predisposisi (Usia, Genetik, Obesitas, Autoimun)
│
▼
Kerusakan Rawan Sendi / Sinovitis
│
┌───────────────┴───────────────┐
▼ ▼
Kerusakan Struktur Sendi Pelepasan Mediator Kimia
(Osteofit, Erosi Kartilago) (Prostaglandin, Bradikinin)
│ │
├─────────────────────────┐ ▼
▼ ▼ Nyeri Radiks Saraf
Kekakuan Sendi Deformitas Sendi │
│ │ ▼
▼ ▼ Nyeri Kronis
Gangguan Mobilitas Gangguan Citra Tubuh
Fisik
(Silbernagl & Lang, 2021, Price & Wilson, 2020)
4. Manifestasi Klinis Pasien Arthritis
a. Data Subjektif
Pasien mengeluh nyeri sendi yang menusuk atau ngilu. Selain itu, skala nyeri biasanya meningkat saat beraktivitas atau saat pagi hari.
Selanjutnya, pasien melaporkan kekakuan sendi pada pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit.
Kemudian, pasien mengeluhkan cepat lelah, lemas, dan keterbatasan dalam melakukan perawatan diri.
(Smeltzer & Bare, 2020)
b. Data Objektif
Tampak pembengkakan, kemerahan, dan teraba hangat pada area sendi yang terkena. Selain itu, adanya deformitas sendi yang jelas terlihat seperti swan-neck pada tangan atau lutut varum.
Lebih lanjut, terdengar suara krepitasi saat menggerakkan sendi secara pasif atau aktif. Akhirnya, muncul penurunan rentang gerak yang signifikan saat melakukan pemeriksaan fisik fungsional.
(Brunner & Suddarth, 2021)
5. Pemeriksaan Penunjang Medis Arthritis
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Rheumatoid Factor dan Anti-CCP menunjukkan hasil positif pada jenis rheumatoid.
Selain itu, Laju Endap Darah dan C-Reactive Protein mengalami peningkatan bermakna yang mengindikasikan adanya inflamasi sistemik aktif.
Sementara itu, kadar asam urat serum mengalami peningkatan lebih dari 7 miligram per desiliter pada kasus gout. Terakhir, analisis cairan sinovial menunjukkan peningkatan leukosit dan adanya kristal urat.
(Chernecky & Berger, 2020)
b. Pemeriksaan Radiologi
Foto polos sendi memperlihatkan penyempitan celah sendi, pembentukan osteofit, erosi tulang marginal, atau osteoporosis periartikular.
Selanjutnya, pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging berguna mendeteksi tanda dini sinovitis, efusi sendi, dan erosi tulang yang belum terlihat jelas pada pemeriksaan X-ray konvensional.
(Grainger & Allison, 2021)
c. Pemeriksaan Lain
Melakukan Artroskopi untuk visualisasi langsung ke dalam rongga sendi guna mengevaluasi tingkat kerusakan internal kartilago.
Selain itu, dapat menggunakan Densitometri Tulang atau DEXA Scan untuk menilai kepadatan massa tulang akibat imobilisasi sekunder.
(Grainger & Allison, 2021)
6. Penatalaksanaan Klinis Arthritis
a. Terapi Farmakologis
Pemberian Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs seperti Ibuprofen atau Meloxicam efektif untuk meredakan nyeri dan menekan peradangan.
Selanjutnya, memberikan analgetik seperti Parasetamol atau Tramadol jika nyeri tidak merespons obat antiinflamasi nonsteroid.
Kemudian, menggunakan Kortikosteroid sebagai agen antiinflamasi kuat selama fase akut. Terakhir, meresepkan Disease-Modifying Antirheumatic Drugs untuk menghambat progresi penyakit autoimun.
(Katzung, 2021)
b. Terapi Non-Farmakologis
Penerapan fisioterapi melalui latihan rentang gerak aktif maupun pasif secara teratur sangat penting untuk penguatan otot pada sekitar sendi.
Selain itu, pemberian kompres hangat efektif mengurangi kekakuan, sedangkan kompres dingin meredakan nyeri akut.
Oleh karena itu, manajemen berat badan melalui program diet terstruktur wajib diimplementasikan untuk mengurangi beban mekanis pada sendi penopang tubuh.
(Black & Hawks, 2020)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Fungsional
a. Identitas Pasien
Pengkajian identitas meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan alamat. Risiko meningkat secara signifikan pada lansia, jenis kelamin wanita pada tipe reumatoid, dan pria pada tipe gout.(Doenges dkk., 2022)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama biasanya berupa nyeri sendi hebat, kekakuan, atau bengkak. Mengkaji riwayat Kesehatan sekarang menggunakan metode PQRST untuk mengidentifikasi karakteristik nyeri secara mendalam.
Selanjutnya, perawat perlu mengeksplorasi riwayat kesehatan dahulu seperti trauma sendi atau obesitas, serta riwayat penyakit serupa dalam hubungan keluarga.(Doenges dkk., 2022)
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan sistem muskuloskeletal merupakan fokus utama pengkajian fisik. Perawat melakukan inspeksi simetrisitas sendi, deformitas, eritema, atrofi otot, dan pola jalan pasien.
Selanjutnya, melakukan palpasi untuk menilai nyeri tekan, suhu lokal, dan efusi sendi. Langkah mengaplikasikan perkusi pada tulang ekstremitas untuk menilai nyeri ketok.
Terakhir, melakukan auskultasi untuk mendengarkan adanya suara krepitasi saat sendi bergerak.
Pemeriksaan sistem tubuh lain seperti kardiovaskular, pernapasan, pencernaan, dan melakukan integument tetap secara komprehensif. (Bickley, 2021)
d. Pengkajian Pola Gordon
Pengkajian ini mencakup pola persepsi dan manajemen kesehatan untuk melihat kepatuhan pengobatan. Selanjutnya, mengkaji pola nutrisi untuk mengidentifikasi riwayat diet tinggi purin atau obesitas.
Pola eliminasi berfokus pada hambatan eliminasi akibat kekakuan fisik. Akhirnya, pola aktivitas dan latihan menilai tingkat keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. (Potter & Perry, 2021)
2. Diagnosis Keperawatan Utama
Komponen Diagnosis Keperawatan (1-5)
- Nyeri Kronis (D.0078) berhubungan dengan kondisi muskuloskeletal kronis.
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054) berhubungan dengan kekakuan sendi dan kerusakan struktur sendi.
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083) berhubungan dengan perubahan struktur dan bentuk tubuh akibat deformitas.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal dan kelemahan fisik.
- Intoleransi Aktivitas (D.0056) berhubungan dengan kelemahan umum dan imobilisasi fisik.
(PPNI, 2017)
Komponen Diagnosis Keperawatan (6-10)
- Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan (D.0112) dibuktikan dengan pilihan hidup sehari-hari tepat untuk memenuhi tujuan program kesehatan.
- Defisit Pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai perawatan persendian.
- Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional dan ancaman terhadap status kesehatan kronis.
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087) berhubungan dengan gangguan gambaran diri dan kehilangan fungsi peran.
- Risiko Cedera (D.0136) dibuktikan dengan hambatan mobilitas dan ketidakstabilan struktur sendi.
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan Tindakan Keperawatan
Intervensi Nyeri Kronis dan Mobilitas Fisik (1-2)
- Nyeri Kronis (D.0078)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066) menurun. Kriteria hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238). Tindakan: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres hangat/dingin). Fasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat. Kolaborasi pemberian analgetik atau NSAID sesuai indikasi medis.
- Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Mobilitas Fisik (L.05042) meningkat. Kriteria hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kaku sendi menurun, gerakan tidak terkoordinasi menurun, kelemahan fisik menurun.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173). Tindakan: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi. Fasilitasi melakukan pergerakan dengan alat bantu jika perlu. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, ajarkan ROM aktif atau pasif secara bertahap.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Intervensi Citra Tubuh dan Defisit Perawatan Diri (3-4)
- Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Citra Tubuh (L.09067) meningkat. Kriteria hasil: Verbalisasi perasaan negatif tentang perubahan tubuh menurun, hubungan sosial membaik, verbalisasi keputusasaan menurun, melihat bagian tubuh membaik.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Promosi Citra Tubuh (I.09305). Tindakan: mendiskusikan perubahan tubuh dan fungsinya akibat deformitas. Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yang berubah. Latih fungsi tubuh yang masih dapat digunakan secara optimal. Bantu pasien mengidentifikasi tindakan yang dapat meningkatkan penampilan fisik.
- Defisit Perawatan Diri (D.0108)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Perawatan Diri (L.11103) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan makan meningkat, kemampuan ke toilet meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Tindakan: Monitor tingkat kemandirian pasien dalam pemenuhan ADL. Sediakan lingkungan yang terapeutik, nyaman, dan aman. Fasilitasi kemandirian, bantu jika pasien benar-benar tidak mampu melakukan aktivitas secara mandiri. Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan fisik.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Intervensi Intoleransi Aktivitas dan Manajemen Kesehatan (5-6)
- Intoleransi Aktivitas (D.0056)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Toneransi Aktivitas (L.05047) meningkat. Kriteria hasil: Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat, perasaan lemah menurun, saturasi oksigen setelah aktivitas meningkat, keluhan lelah menurun.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Energi (I.05178). Tindakan: Monitor kelelahan fisik dan emosional pada pasien. Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus. Latih rentang gerak secara bertahap pada periode bebas nyeri. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat secara seimbang.
- Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan (D.0112)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Manajemen Kesehatan (L.12104) meningkat. Kriteria hasil: Melakukan tindakan untuk mengurangi faktor risiko meningkat, menerapkan program perawatan meningkat, aktivitas hidup sehari-hari memenuhi tujuan kesehatan meningkat.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383). Tindakan: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan bersama. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Intervensi Defisit Pengetahuan dan Ansietas (7-8)
- Defisit Pengetahuan (D.0111)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Tingkat Pengetahuan (L.12111) meningkat. Kriteria hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi pemahaman tentang penyakit meningkat, perilaku keliru menurun, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Edukasi Proses Penyakit (I.12444). Tindakan: Jelaskan patofisiologi penyakit dan tanda gejala yang ditimbulkan. Jelaskan kemungkinan penyebab dan program pengobatan. Informasikan kondisi pasien saat ini kepada keluarga.
- Ansietas (D.0080)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093) menurun. Kriteria hasil: Verbalisasi kebingungan menurun, perilaku gelisah menurun, ketegangan fisik menurun, konsentrasi membaik.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314). Tindakan: Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Pahami situasi yang membuat pasien mengalami ansietas. Latih teknik relaksasi napas dalam untuk meredakan ketegangan psikologis.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
Intervensi Harga Diri Rendah dan Risiko Cedera (9-10)
- Harga Diri Rendah Situasional (D.0087)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Harga Diri (L.09069) meningkat. Kriteria hasil: Verbalisasi penerimaan diri meningkat, perasaan tidak mampu menurun, penilaian diri positif meningkat, postur tubuh menampakkan wajah membaik.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Promosi Harga Diri (I.09308). Tindakan: Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri. Diskusikan persepsi negatif terhadap diri sendiri. Berikan penguatan positif atas keberhasilan yang dicapai pasien selama perawatan.
- Risiko Cedera (D.0136)
- Tujuan & Kriteria Hasil (SLKI): Tingkat Cedera (L.14136) menurun. Kriteria hasil: Kejadian cedera menurun, luka atau lecet akibat jatuh menurun, ketegangan otot menurun, fraktur menurun.
- Intervensi Keperawatan (SIKI): Pencegahan Jatuh (I.14540). Tindakan: Identifikasi faktor risiko jatuh (mis. lingkungan rumah yang licin). Pastikan bel atau alat bantu jalan berada dalam jangkauan pasien. Atur pencahayaan ruangan yang adekuat. Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin saat mobilisasi.
(PPNI, 2018, PPNI, 2019)
4. Implementasi Tindakan
Melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan perencanaan yang telah tersusun sebelumnya. Langkah nyata meliputi melakukan pengkajian nyeri komprehensif, memberikan kompres hangat secara berkala, memandu latihan Range of Motion secara bertahap, memposisikan sendi senyaman mungkin, mengedukasi pasien mengenai penggunaan alat bantu jalan, serta memfasilitasi kemandirian pasien dalam merawat diri guna mencegah ketergantungan penuh.
Oleh karena itu, mendokumentasikan seluruh aktivitas dengan akurat mengenai waktu tindakan dan respon objektif pasien. (Potter & Perry, 2021)
5. Evaluasi Hasil
Melakukan evaluasi menggunakan format SOAP yang mengacu pada kriteria hasil dalam SLKI.
Pada komponen subjektif, pasien melaporkan keluhan nyeri berkurang, kekakuan pada pagi hari memendek durasinya, dan merasa lebih percaya diri.
Sementara itu, pada komponen objektif, pembengkakan sendi tampak berkurang, rentang Gerak pasien meningkat, krepitasi berkurang, dan dapai melakukan aktivitas mandiri dengan bantuan minimal.
Dengan demikian, perawat dapat menyimpulkan status masalah teratasi sebagian atau seluruhnya untuk menentukan kelanjutan rencana tindakan.(Potter & Perry, 2021)
DAFTAR PUSTAKA
Bickley, L. S. (2021). Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2020). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes (9th ed.). Elsevier.
Brunner, & Suddarth. (2021). Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.
Chernecky, C. C., & Berger, B. J. (2020). Laboratory Tests and Diagnostic Procedures (7th ed.). Saunders.
Doenges, M. E., dkk. (2022). Nurse’s Pocket Guide: Diagnoses, Prioritized Interventions and Rationales (16th ed.). F.A. Davis Company.
Grainger, R. G., & Allison, D. J. (2021). Diagnostic Radiology: A Textbook of Medical Imaging (7th ed.). Churchill Livingstone.
Katzung, B. G. (2021). Basic & Clinical Pharmacology (15th ed.). McGraw-Hill.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2020). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Mediaction.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). Elsevier.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.
Price, S. A., & Wilson, L. M. (2020). Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes (7th ed.). Mosby.
Silbernagl, S., & Lang, F. (2021). Color Atlas of Pathophysiology (4th ed.). Thieme.
Sudoyo, A. W., dkk. (2020). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid VI). InternaPublishing.

Tinggalkan Balasan