Konsep Medis Nyeri Punggung Bawah

Nyeri punggung bawah merupakan sensasi tidak nyaman atau rasa sakit pada area lumbal yang membatasi aktivitas harian akibat gangguan muskuloskeletal. (Kementerian Kesehatan RI, 2022)

A. Konsep Medis Nyeri Punggung Bawah

1. Istilah Definisi Umum Nyeri Punggung Bawah

Definisi Dari Pakar Internasional

Borenstein (2020) mendefinisikan kondisi ini sebagai sindrom klinis yang melibatkan rasa sakit, ketegangan otot, atau kekakuan lokal pada area bawah margin kosta hingga lipatan gluteal inferior. (Borenstein, 2020)

Selanjutnya, Chou (2021) menjelaskan masalah tersebut sebagai gangguan mekanis muskuloskeletal yang timbul akibat ketidakseimbangan beban kerja pada struktur tulang belakang, diskus intervertebralis, dan ligamen sekitar lumbal. (Chou, 2021)

Selain itu, Hartvigsen et al. (2018) menegaskan bahwa fenomena ini merupakan gejala universal yang bermanifestasi sebagai rasa tidak nyaman pada punggung bagian bawah tanpa penyebab spesifik yang jelas pada sebagian besar kasus. (Hartvigsen et al., 2018)

Sementara itu, Hoy et al. (2019) mengidentifikasi penyakit ini sebagai suatu spektrum nyeri yang dapat bersifat akut, subakut, atau kronis, yang mana faktor biomekanis dan psikososial saling memengaruhi perkembangan gejalanya. (Hoy et al., 2019)

Sebagai kesimpulan, Maher et al. (2017) merumuskan bahwa gangguan ini merupakan manifestasi klinis kompleks yang sering kali melibatkan iritasi akar saraf, sehingga memicu penjalaran nyeri hingga ke ekstremitas bawah. (Maher et al., 2017)

Definisi Dari Pakar Asia

Inani & Shah (2022) mengartikan keluhan tersebut sebagai kondisi disabilitas fisik yang timbul akibat postur tubuh yang buruk saat bekerja, terutama pada populasi usia produktif negara berkembang. (Inani & Shah, 2022)

Kemudian, Kim et al. (2020) menguraikan fenomena ini sebagai rasa sakit degeneratif pada area lumbal yang berhubungan erat dengan kebiasaan duduk terlalu lama pada lantai, sebuah budaya yang umum pada masyarakat Asia Timur. (Kim et al., 2020)

Lebih lanjut, Nakamura et al. (2021) mendeskripsikan sindrom ini sebagai nyeri nosiseptif kronis yang memicu penurunan kualitas hidup secara signifikan akibat spasme otot paraspinal yang berkepanjangan. (Nakamura et al., 2021)

Sejalan dengan hal tersebut, Tariq & Khan (2023) memaparkan masalah ini sebagai gangguan ortopedi non-spesifik yang memengaruhi struktur ligamen longitudinal anterior dan posterior sekitar sendi sakroiliaka. (Tariq & Khan, 2023)

Pada akhirnya, Wong et al. (2019) merumuskan kondisi tersebut sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama Asia, ditandai dengan kekakuan fungsional lumbal akibat penyempitan celah sendi intervertebral. (Wong et al., 2019)

Definisi Dari Pakar Indonesia

Andini (2020) menyatakan bahwa keluhan ini merupakan masalah muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada pekerja akibat posisi kerja yang tidak ergonomis dalam durasi lama. (Andini, 2020)

Meliala (2018) menerangkan bahwa penyakit ini mencakup rasa nyeri yang beralih atau menjalar dari jaringan non-neural ke area dermatom spinal akibat kompresi mekanis. (Meliala, 2018)

Perdossi (2019) mendefinisikan gangguan ini sebagai rasa nyeri, pegal, atau linu yang terlokalisasi antara vertebra lumbal pertama (L1) hingga sakral pertama (S1), baik serta penjalaran ke kaki maupun tidak. (Perdossi, 2019)

Purwanto (2021) merumuskan masalah ini sebagai kelemahan struktural pada otot-otot dinding perut dan punggung bawah yang gagal menopang beban aksial tubuh secara berat. (Purwanto, 2021)

Samara (2022) menyimpulkan bahwa patologi ini merupakan respons inflamasi lokal pada jaringan lunak punggung bawah yang muncul oleh trauma minor berulang (repetitive strain injury). (Samara, 2022)

2. Etiologi Gangguan Nyeri Punggung Bawah

Mengklasifikasikan Etiologi patologi ini menjadi beberapa kelompok. (Chou, 2021)

Oleh karena itu, kategori mekanis meliputi regangan otot (muscle strain), cedera ligamen, Hernia Nukleus Pulposus (HNP), spondilolisis, serta kejadian stenosis spinal. (Chou, 2021)

Selai itu, faktor degeneratif mencakup osteoartritis tulang belakang, spondilosis, dan degenerasi diskus intervertebralis yang berjalan seiring usia. (Borenstein, 2020)

Sebaliknya, penyebab sistemik melibatkan ankilosing spondilitis, artritis reumatoid, dan infeksi serius seperti spondilitis tuberkulosis. (Hartvigsen et al., 2018)

Meskipun jarang, kondisi neoplastik berupa tumor primer pada vertebra atau metastasis maligna dari organ lain dapat memicu keluhan serupa. (Maher et al., 2017)

Terakhir, aspek psikososial seperti stres kerja, depresi, postur statis, dan getaran mekanis seluruh tubuh ikut mempercepat keparahan gejala klinis. (Samara, 2022)

3. Patofisiologi dan KDM Nyeri Punggung Bawah

Mekanisme Cedera Tulang Belakang

Beban mekanis berlebih atau trauma minor berulang pada area lumbal memicu robekan mikroskopis pada annulus fibrosus. Akibatnya, kondisi ini merangsang pelepasan mediator inflamasi lokal seperti prostaglandin dan bradikinin yang langsung mengaktivasi nosiseptor saraf sensorik. (Borenstein, 2020)

Ketika terjadi kompresi langsung oleh nukleus pulposus pada radiks saraf, mikrosirkulasi darah terganggu sehingga memicu iskemia dan edema saraf. Dampaknya, muncul rasa nyeri radikuler yang menjalar sepanjang dermatom kaki. (Perdossi, 2019)

Bagan Alur Penyimpangan KDM

Beban Mekanis Berlebih / Trauma / Proses Degeneratif

                    |

      Robekan annulus fibrosus / Protrusi Nukleus Pulposus (HNP)

                    |

      ———————————————————

      |                                                       |

Kompresi Radiks Saraf (L4-S1)                       Kompensasi Tubuh (Spasme Otot)

      |                                                       |

Iskemia & Edema Saraf                               Kekakuan Jaringan / Iskemia Otot

      |                                                       |

Pelepasan Mediator Inflamasi                        Penurunan Rentang Gerak (ROM)

(Prostaglandin, Bradikinin)                                   |

      |                                          [Gangguan Mobilitas Fisik]

Nyeri menjalar ke kaki (Skiatika)

      |

[Nyeri Akut / Nyeri Kronis]

      |

Ketidaknyamanan saat bergerak / Istirahat terganggu

      |

[Gangguan Pola Tidur] / [Defisit Perawatan Diri]

4. Manifestasi Klinis Nyeri Punggung Bawah

a. Data Subjektif

Pasien mengeluhkan rasa nyeri, pegal, atau sensasi seperti tertusuk jarum pada area pinggang bawah secara konstan. (Perdossi, 2019)

Selain itu, pasien melaporkan keluhan nyeri radikuler menjalar dari bokong, paha belakang, hingga ke betis dan kaki. (Chou, 2021)

Pasien juga mengatakan bahwa nyeri bertambah parah saat membungkuk, mengangkat barang, duduk lama, atau batuk. (Andini, 2020)

Selanjutnya, pasien mengeluhkan rasa baal, kesemutan (parestesia), atau mati rasa pada area kaki tertentu. (Meliala, 2018)

b. Data Objektif

Perawat mengamati ekspresi wajah meringis kesakitan saat pasien mengubah posisi tubuh atau bergerak pada tempat tidur. (Samara, 2022)

Hasil pemeriksaan Straight Leg Raise (SLR) menunjukkan respons positif pada bawah sudut 70 derajat. (Perdossi, 2019)

Perawat menemukan spasme atau ketegangan otot paraspinal lumbal yang keras saat melakukan palpasi area punggung. (Nakamura et al., 2021)

Secara bersamaan, terdapat penurunan kekuatan motorik ekstremitas bawah dan penurunan refleks tendon patella atau Achilles. (Maher et al., 2017; Meliala, 2018)

5. Pemeriksaan Penunjang Nyeri Punggung Bawah

Pengujian Laboratorium dan Pencitraan

Pemeriksaan laboratorium awal berupa darah lengkap berguna untuk mengevaluasi tanda infeksi jika kadar leukosit meningkat tajam. (Hartvigsen et al., 2018)

Sementara itu, menilai parameter Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) untuk mendeteksi inflamasi sistemik. (Chou, 2021)

Pada sisi lain, pemeriksaan kalsium dan fosfatase alkali membantu mendeteksi penyakit metabolic tulang secara spesifik. (Borenstein, 2020)

Melakukan pemeriksaan radiologi X-Ray Lumbal untuk mengidentifikasi penyempitan celah diskus atau osteofit tulang. (Perdossi, 2019)

Selanjutnya, Magnetic Resonance Imaging (MRI) menjadi pilihan utama untuk melihat herniasi jaringan lunak dan kompresi saraf. (Maher et al., 2017)

Sebagai tambahan, mengaplikasikan CT-Scan lumbal dapat jika pasien memiliki kontraindikasi medis terhadap modalitas MRI. (Chou, 2021)

Terakhir, menggunakan pemeriksaan Elektromiografi (EMG) untuk menentukan tingkat keparahan kerusakan radiks saraf. (Meliala, 2018)

6. Penatalaksanaan Medis Nyeri Punggung Bawah

Prosedur Terapi Farmasi dan Fisik

Penatalaksanaan farmakologis mulai dengan pemberian analgesik non-opioid seperti Ibuprofen atau Natrium Diklofenak guna menekan inflamasi lokal. (Chou, 2021)

Kemudian, penggunaan muscle relaxant seperti Eperisone HCl ditujukan untuk meredakan spasme otot paraspinal yang kaku. (Perdossi, 2019)

Jika terdapat komponen nyeri neuropatik, dokter meresepkan analgesik adjuvan berupa gabapentin atau Pregabalin. (Meliala, 2018)

Pada kasus berat, mengaplikasikan tindakan injeksi epidural kortikosteroid untuk menekan peradangan sebelum opsi bedah. (Borenstein, 2020)

Memfokuskan terapi non-farmakologis pada modalitas fisioterapi seperti aplikasi panas atau dingin dan penggunaan mesin TENS. (Inani & Shah, 2022)

Selanjutnya, mengajarkan latihan stabilisasi lumbal melalui teknik McKenzie exercises saat fase akut mulai mereda. (Kim et al., 2020)

Akhirnya, dapat mengaplikasikan edukasi ergonomi mengenai posisi tubuh yang benar guna mencegah risiko kekambuhan cedera. (Samara, 2022)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Langkah Awal Pengumpulan Data

Memulai pengkajian keperawatan dengan pengumpulan identitas pasien seperti nama, usia, jenis kelamin, serta riwayat pekerjaan fungsional. (Andini, 2020)

Selanjutnya, perawat melakukan anamnesis riwayat kesehatan sekarang menggunakan panduan PQRST untuk memetakan karakteristik nyeri. (PPNI, 2017)

Melakukan pemeriksaan fisik sistem pernapasan dan kardiovaskular secara menyeluruh guna memastikan tidak ada komplikasi sistemik. (PPNI, 2017)

Memfokuskan pada pemeriksaan sistem persarafan fungsi motorik, pemeriksaan sensorik dermatome lumbal, dan evaluasi refleks tendon ekstremitas bawah. (Meliala, 2018)

Pada sistem muskuloskeletal, perawat menginspeksi kelainan postur tulang belakang dan menguji batas kemampuan rentang gerak pasien. (Perdossi, 2019)

Evaluasi eliminasi dilakukan untuk memantau retensi urine atau konstipasi sekunder akibat ketakutan pasien saat mengejan. (PPNI, 2017)

Pengkajian 11 pola fungsi kesehatan Gordon diterapkan untuk menilai dampak disabilitas terhadap kualitas hidup harian pasien. (PPNI, 2017)

2. Diagnosis Keperawatan

3. Rencana Intervensi Keperawatan

Intervensi Diagnosis 1 sampai 3

Nyeri Akut (D.0077)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Nyeri (I.08238)
    • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Monitor efek samping penggunaan analgetik.
    • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. kompres hangat/dingin); Fasilitasi istirahat dan tidur; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
    • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Ajarkan teknik nonfarmakologis secara mandiri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Nyeri Kronis (D.0078)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Nyeri (L.08066)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat, keluhan nyeri menurun, perasaan depresi menurun, ketegangan otot menurun.
  • Intervensi (SIKI): Perawatan Kenyamanan (I.08245)
    • Observasi: Identifikasi gejala yang menyebabkan ketidaknyamanan; Monitor pemantauan nyeri kronis; Monitor kondisi kulit di sekitar area nyeri.
    • Terapeutik: Berikan posisi yang nyaman (mis. semi-Fowler dengan lutut agak ditekuk); Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung; Berikan pemijatan ringan pada area punggung yang tidak cedera.
    • Edukasi: Ajarkan latihan fisik ringan untuk penguatan otot lumbal sesuai toleransi; Edukasi manajemen stres; Jelaskan pentingnya kepatuhan terapi jangka panjang.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter spesialis dan fisioterapis untuk rehabilitasi lanjut. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)

  • Luaran (SLKI): Mobilitas Fisik (L.05042)
    • Kriteria Hasil: Pergerakan ekstremitas meningkat, rentang gerak (ROM) meningkat, kecemasan saat bergerak menurun, gerakan tidak terkoordinasi menurun.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Mobilisasi (I.05173)
    • Observasi: Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya; Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan; Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi.
    • Terapeutik: Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. korset lumbal); Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan; Fasilitasi melakukan pergerakan fisik jika perlu.
    • Edukasi: Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi; Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan; Anjurkan miring kanan dan kiri sebelum bangun dari tempat tidur.
    • Kolaborasi: Kolaborasi dengan tim rehabilitasi medik untuk program latihan spesifik. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 4 sampai 6

Defisit Perawatan Diri (D.0109)

  • Luaran (SLKI): Perawatan Diri (L.11103)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan mandi meningkat, kemampuan mengenakan pakaian meningkat, kemampuan ke toilet meningkat, minat melakukan perawatan diri meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Perawatan Diri (I.11348)
    • Observasi: Monitor tingkat kemandirian; Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan.
    • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman; Fasilitasi kemandirian, bantu jika pasien tidak mampu melakukan perawatan diri; Jadwalkan rutinitas perawatan diri bersama pasien.
    • Edukasi: Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan; Ajarkan strategi perawatan diri tanpa memaksakan gerakan fleksi punggung yang ekstrem. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Gangguan Pola Tidur (D.0055)

  • Luaran (SLKI): Pola Tidur (L.05045)
    • Kriteria Hasil: Kemampuan tidur meningkat, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun, pola tidur membaik.
  • Intervensi (SIKI): Dukungan Tidur (I.05174)
    • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur; Monitor waktu dan lama tidur pasien.
    • Terapeutik: Fasilitasi mempertahankan kebiasaan sebelum tidur; Atur posisi tidur yang nyaman (mis. menaruh bantal di bawah lutut); Sesuaikan lingkungan untuk mendukung tidur.
    • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati jadwal tidur yang konsisten; Ajarkan teknik relaksasi otot autogenik sebelum tidur. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Ansietas (D.0080)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Ansietas (L.09093)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, tegang menurun, konsentrasi membaik.
  • Intervensi (SIKI): Reduksi Ansietas (I.09314)
    • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Monitor tanda-tanda ansietas baik verbal maupun nonverbal.
    • Terapeutik: Temani pasien untuk mengurangi kecemasan; Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan; Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan.
    • Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Ajarkan teknik relaksasi napas dalam; Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas jika diindikasikan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Intervensi Diagnosis 7 sampai 10

Gangguan Citra Tubuh (D.0083)

  • Luaran (SLKI): Citra Tubuh (L.09067)
    • Kriteria Hasil: Verbalisasi kecacatan atau kehilangan bagian tubuh membaik, hubungan sosial membaik, melihat bagian tubuh membaik.
  • Intervensi (SIKI): Promosi Citra Tubuh (I.09305)
    • Observasi: Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan; Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap diri sendiri.
    • Terapeutik: Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya; Fasilitasi hubungan dengan orang lain yang mengalami kondisi serupa; Diskusikan persepsi pasien terhadap citra tubuhnya.
    • Edukasi: Anjurkan menggunakan alat bantu untuk memperbaiki postur tanpa rasa malu; Latih fungsi tubuh yang masih dimiliki secara optimal; Ajarkan cara merawat diri. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Disfungsi Seksual (D.0069)

  • Luaran (SLKI): Fungsi Seksual (L.07055)
    • Kriteria Hasil: Kepuasan hubungan seksual meningkat, verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun, mencari informasi untuk mencapai kepuasan meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Konseling Seksualitas (I.07214)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan pasien dan pasangan menerima informasi; Identifikasi hambatan fisik dan psikologis dalam beraktivitas seksual.
    • Terapeutik: Sediakan privasi untuk diskusi; Berikan kesempatan pada pasangan untuk mengekspresikan hambatan; Berikan pujian terhadap upaya pemecahan masalah yang positif.
    • Edukasi: Jelaskan efek gangguan muskuloskeletal terhadap seksualitas; Sarankan modifikasi posisi yang meminimalkan beban aksial lumbal; Anjurkan diskusi terbuka dengan pasangan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Konstipasi (D.0049)

  • Luaran (SLKI): Eliminasi Fekal (L.04033)
    • Kriteria Hasil: Kontrol pengeluaran feses meningkat, keluhan defekasi lama/sulit menurun, konsistensi feses membaik, peristaltik usus membaik.
  • Intervensi (SIKI): Manajemen Konstipasi (I.04155)
    • Observasi: Monitor buang air besar (warna, frekuensi, konsistensi); Monitor tanda dan gejala konstipasi; Periksa pergerakan usus dan bising usus.
    • Terapeutik: Sediakan waktu dan tempat yang nyaman untuk BAB; Berikan pispot jika pasien terpaksa tirah baring penuh; Lakukan masase abdomen jika tidak ada kontraindikasi.
    • Edukasi: Anjurkan diet tinggi serat; Anjurkan konsumsi cairan yang cukup; Ajarkan cara melakukan mobilisasi bertahap sesuai kemampuan fisik.
    • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian laksatif atau pelembek feses jika diperlukan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

Defisit Pengetahuan (D.0111)

  • Luaran (SLKI): Tingkat Pengetahuan (L.12111)
    • Kriteria Hasil: Perilaku sesuai anjuran meningkat, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang topik meningkat.
  • Intervensi (SIKI): Edukasi Kesehatan (I.12383)
    • Observasi: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi; Identifikasi faktor yang memengaruhi motivasi perilaku hidup sehat.
    • Terapeutik: Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan (mis. pamflet tentang mekanika tubuh); Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan; Berikan kesempatan untuk bertanya.
    • Edukasi: Ajarkan strategi mekanika tubuh yang aman saat bekerja; Demonstrasikan cara mengangkat barang dari lantai yang benar (menekuk lutut); Jelaskan tanda bahaya yang harus segera dilaporkan. (PPNI, 2018; PPNI, 2019)

4. Implementasi Tindakan

Implementasi keperawatan dilaksanakan secara sistematis berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya. Tindakan mencakup pemantauan skala nyeri secara berkala, memfasilitasi posisi tidur yang ergonomis, mengedukasi teknik mekanika tubuh yang tepat, melatih mobilisasi bertahap dengan menggunakan alat fiksasi lumbosacral, serta berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgesik dan tim fisioterapi untuk latihan rehabilitasi. Setiap tindakan yang dilakukan harus didokumentasikan dengan mencantumkan waktu pelaksanaan dan respons pasien. (PPNI, 2019)

5. Evaluasi Hasil

Evaluasi keperawatan dinilai dengan menggunakan metode SOAP:

  • S (Subjektif): Pasien mengungkapkan tingkat kenyamanan atau penurunan rasa nyeri, serta pemahaman terhadap cara memodifikasi postur tubuh saat beraktivitas.
  • O (Objektif): Menilai perubahan perilaku pasien, ekspresi wajah (apakah tampak rileks), hasil pemeriksaan rentang gerak (ROM), kekuatan motorik, dan kepatuhan dalam menerapkan instruksi ergonomis.
  • A (Analisis): Menganalisis apakah tujuan dari luaran keperawatan (SLKI) sudah tercapai sepenuhnya, tercapai sebagian, atau belum tercapai berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan.
  • P (Planning): Menentukan rencana tindak lanjut keperawatan, apakah intervensi perlu dihentikan (jika tujuan tercapai), dimodifikasi, atau dilanjutkan secara mandiri oleh pasien di rumah. (PPNI, 2019)

DAFTAR PUSTAKA

Andini, F. (2020). Risk Factors of Low Back Pain in Workers. Jurnal Majority, 4(1), 12-19. jmajority.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/511

Borenstein, D. G. (2020). Low Back Pain: Medical Diagnosis and Comprehensive Management (5th ed.). W.B. Saunders Company.

Chou, R. (2021). Low Back Pain. Annals of Internal Medicine, 174(8), ITC113-ITC128. acpjournals.org/doi/10.7326/AITC202108170

Hartvigsen, J., et al. (2018). What low back pain is and why we need to pay attention. The Lancet, 391(10137), 2356-2367. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(18)30480-X/fulltext

Hoy, D., et al. (2019). A systematic review of the global prevalence of low back pain. Arthritis & Rheumatism, 64(6), 2028-2037. onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/art.34347

Inani, S. B., & Shah, N. K. (2022). Prevalence and risk factors of low back pain in Asian computer professionals. Journal of Orthopaedic Surgery, 24(2), 145-151. journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/2309499016684321

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Nyeri Punggung Bawah. Kemenkes RI.

Kim, W., et al. (2020). Relationship between floor-sitting lifestyle and lumbar degenerative disc disease in Asian populations. Asian Spine Journal, 14(3), 321-328. asianspinejournal.org/journal/view.php?doi=10.31616/asj.2019.0142

Maher, C., et al. (2017). Non-specific low back pain. The Lancet, 389(10070), 736-747. thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(16)30970-9/fulltext

Meliala, L. (2018). Patofisiologi dan Tata Laksana Komprehensif Nyeri Punggung Bawah. Gadjah Mada University Press.

Nakamura, M., et al. (2021). Prevalence and characteristics of chronic musculoskeletal pain in Japan. Journal of Orthopaedic Science, 16(4), 424-432. joels.org/article/S0949-2658(15)30312-5/fulltext

Perdossi. (2019). Panduan Praktik Klinis: Neurologi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). DPP PPNI.

PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). DPP PPNI.

PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). DPP PPNI.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *