KONSEP MEDIS PADA NEURALGIA

Neuralgia merupakan keadaan nyeri hebat yang bersifat tajam, menusuk, atau seperti tersengat aliran listrik sepanjang jalur satu atau beberapa saraf akibat gangguan fungsi saraf.

A. Konsep Medis Neuralgia

1. Definisi pada Neuralgia

Definisi Dari Pakar Internasional

Merskey dan Bogduk (1994) mendefinisikan gangguan ini sebagai rasa nyeri yang bersumber dari daerah persarafan satu atau beberapa saraf yang umumnya bermanifestasi secara paroksimal. (Merskey & Bogduk, 1994)

Selanjutnya, International Association for the Study of Pain / IASP (2011) menjelaskan kondisi ini sebagai nyeri yang timbul akibat lesi atau penyakit somatosensoris primer yang memicu hipereksitabilitas jalur saraf aferen. (IASP, 2011)

Selain itu, Cruccu et al. (2016) menguraikan masalah saraf kranial, khususnya trigeminal, sebagai nyeri fasial unilateral yang singkat seperti tersengat listrik dengan onset dan terminasi mendadak. (Cruccu et al., 2016)

Lebih lanjut, Finnerup et al. (2021) mengonfirmasi bahwa fenomena tersebut merepresentasikan gangguan neuropatik spesifik pada pasien merasakan nyeri hebat akibat cedera mekanis, iskemia, atau kompresi pada akson saraf. (Finnerup et al., 2021)

Akhirnya, Bennett (2023) menegaskan bahwa kelainan ini melibatkan transmisi sinyal nyeri abnormal secara spontan tanpa adanya stimulus eksternal yang memadai akibat kerusakan selubung mielin saraf. (Bennett, 2023)

Definisi Pakar Asia

Kim et al. (2015) mendeskripsikan sindrom ini sebagai gangguan neurogenik paroksismal yang sering menyerang populasi lansia akibat proses degenerasi vaskular yang menekan akar saraf. (Kim et al., 2015)

Hubungan dengan hal itu, Li dan Zhang (2018) merumuskan masalah ini sebagai manifestasi gangguan aliran energi (Qi) dan darah yang memicu hipersensitivitas nosiseptor perifer pada area wajah atau interkostal. (Li & Zhang, 2018)

Secara bersamaan, Park et al. (2020) mendefinisikan gangguan tersebut sebagai nyeri neuropatik fokal yang menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis melalui mekanisme penembakan saraf (neuronal firing) yang sinkron dan abnormal. (Park et al., 2020)

Oleh karena itu, Sano (2022) mengidentifikasi patologi ini sebagai manifestasi klinis dari kontak neurovaskular abnormal yang menghasilkan sinkapsis artifisial sepanjang serabut saraf sensorik. (Sano, 2022)

Sebagai tambahan, Chaudhary et al. (2024) mengartikan kondisi klinis ini sebagai respons nyeri neuropatik kronis akibat inflamasi pasca-infeksi virus atau kompresi mekanis kronis pada ganglia saraf perifer. (Chaudhary et al., 2024)

Definisi Pakar Indonesia

Meliala (2007) mengartikan gangguan ini sebagai nyeri tajam yang polanya mengikuti distribusi dermatom saraf tertentu akibat lesi aparatus sensorik perifer. (Meliala, 2007)

Berkaitan dengan itu, Sidharta (2010) mengonseptualisasikan kondisi tersebut sebagai nyeri paroksismal yang terasa seperti tusukan hebat sepanjang percabangan saraf perifer tanpa adanya gangguan motorik yang nyata. (Sidharta, 2010)

Sejalan dengan pandangan tersebut, Purba (2015) merumuskan penyakit ini sebagai bentuk nyeri neuropatik lokal yang bersumber dari hipereksitabilitas membran aksonal setelah hilangnya isolasi mielin normal. (Purba, 2015)

Dengan demikian, Anam (2019) mengemukakan bahwa masalah ini mencakup keluhan nyeri hebat yang terjadi akibat cedera mekanis atau jepitan akar saraf oleh pembuluh darah pada sekitarnya. (Anam, 2019)

Pada akhirnya, Perdossi (2021) menetapkan kondisi ini sebagai gangguan nyeri fokal tajam berulang yang timbul pada area persarafan sensorik tertentu akibat disfungsi atau lesi sistem saraf. (Perdossi, 2021)

2. Etiologi Neuralgia

Penyebab utama gangguan ini meliputi beberapa faktor mekanis, infeksi, dan sistemik. Pertama, kompresi vaskular terjadi akibat penekanan akar saraf oleh pembuluh darah (arteri atau vena) sekitarnya yang mengalami elongasi atau ektasia. (Cruccu et al., 2016)

Kedua, infeksi virus berupa reaktivasi virus Varicella Zoster merusak ganglia dorsal saraf dan memicu nyeri pasca-herpes. Ketiga, trauma mekanis yang mencakup cedera langsung, tindakan bedah, atau penekanan tumor pada struktur saraf perifer ikut berkontribusi. (Finnerup et al., 2021; Bennett, 2023)

Keempat, penyakit demielinisasi seperti Multiple Sclerosis merusak lapisan pelindung mielin pada sistem saraf. Kelima, faktor metabolik berupa neuropati diabetik kronis memicu iskemia mikrovaskular pada serabut saraf. (Perdossi, 2021; Meliala, 2007)

3. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Neuralgia

Mekanisme Kerusakan Saraf

Proses patofisiologi berpusat pada demielinisasi serabut saraf perifer pada area kompresi atau cedera. Akibatnya, kehilangan lapisan mielin menyebabkan membran aksonal yang telanjang menjadi sangat sensitif terhadap regangan mekanis dan stimulasi kimiawi. Oleh karena itu, fenomena ini memicu generasi impuls ektopik spontan dan transmisi efeptik (kebocoran sinyal listrik antar akson yang berdekatan). (Purba, 2015)

Selanjutnya, sentuhan ringan (non-noksius) dapat mengaktifkan serabut saraf A-beta yang kemudian melompati sinyal ke serabut C nosiseptif. Oleh sebab itu, kondisi ini memicu nyeri hebat yang dirasakan sebagai alodinia. Secara sentral, bombardir input nosiseptif yang konstan ke kornu dorsalis medula spinalis menyebabkan sensitisasi sentral yang memanifestasikan nyeri paroksismal kronis. (Park et al., 2020)

Skema Penyimpangan KDM

Kompresi Mekanis / Infeksi Virus / Demielinisasi

       │

       ▼

Kerusakan Selubung Mielin Saraf (Demielinisasi)

       │

       ├──────────────────────────────────────────────┐

       ▼                                              ▼

Akson Telanjang & Hipereksitabel            Nyeri Kronis Paroksismal

       │                                              │

       ▼                                              ▼

Transmisi Efeptik & Impuls Ektopik          Ketidaknyamanan saat Mengunyah/Bicara

       │                                              │

       ▼                                              ▼

  Nyeri Kronis                                Defisit Nutrisi

       │

       ├──────────────────────────────────────────────┐

       ▼                                              ▼

Ketakutan terhadap Serangan Nyeri Mendadak     Gangguan Pola Tidur akibat Nyeri

       │                                              │

       ▼                                              ▼

   Ansietas                                 Gangguan Pola Tidur

4. Manifestasi Klinis Neuralgia

a. Data Subjektif

  • Pasien mengeluh nyeri tajam, menusuk, menyengat, atau seperti terbakar yang datang mendadak (paroksismal). (IASP, 2011)
  • Selain itu, pasien melaporkan adanya area pemicu (trigger zone) pada sentuhan halus atau angin dapat memicu nyeri hebat. (Cruccu et al., 2016)
  • Bahkan, pasien menyatakan rasa takut dan cemas yang konstan terhadap munculnya serangan nyeri berikutnya. (Perdossi, 2021)

b. Data Objektif

  • Pasien tampak meringis, memegangi area nyeri, atau melindungi area wajah/tubuh tertentu. (Meliala, 2007)
  • Selain itu, respons alodinia positif saat pemeriksaan palpasi ringan menggunakan kapas pada area dermatom. (Finnerup et al., 2021)
  • Terlebih lagi, terdapat penurunan berat badan yang signifikan akibat ketakutan pasien untuk mengunyah atau menelan makanan. (Anam, 2019)

5. Pemeriksaan Penunjang Neuralgia

a. Pemeriksaan Laboratorium

  • Pemeriksaan Darah Lengkap bertujuan untuk menilai tanda-tanda infeksi sistemik akut yang memicu neuritis. (Chaudhary et al., 2024)
  • Sementara itu, kadar Gula Darah (Puasa/2 Jam PP/HbA1c) berguna untuk mengevaluasi adanya neuropati diabetik mendasar yang memperberat kondisi. (Meliala, 2007)

b. Pemeriksaan Radiologi

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) Otak/Spinal dengan Kontras berfungsi mengidentifikasi adanya kompresi neurovaskular atau plak demielinisasi. (Cruccu et al., 2016)
  • Kemudian, Magnetic Resonance Angiography (MRA) memvisualisasikan secara detail hubungan anatomi antara pembuluh darah abnormal dan akar saraf yang terkompresi. (Sano, 2022)

c. Pemeriksaan Lain

  • Melakukan Electromyography (EMG) dan Nerve Conduction Study (NCS) untuk menilai kecepatan hantar saraf dan mendeteksi adanya kerusakan aksonal atau demielinisasi perifer. (Purba, 2015)

6. Penatalaksanaan Medis Pada Neuralgia

a. Terapi Farmakologis

Dapat meningkatkan Antikonvulsan berupa Karbamazepin (dosis awal 200 mg/hari, bertahap) atau Okskarbazepin untuk menstabilkan membran sel saraf yang hipereksitabel. (Cruccu et al., 2016)

  • Sebagai alternatif, Gabapentinoid (Gabapentin atau Pregabalin) menjadi lini kedua untuk menghambat subunit alfa-2-delta dari saluran kalsium dependen voltase. (Finnerup et al., 2021)
  • Berikutnya, memberikan analgesik adjuvan seperti Antidepresan Trisiklik (Amitriptilin) untuk meningkatkan jalur inhibisi nyeri desenden di sistem saraf pusat. (Meliala, 2007)

b. Terapi Non-Farmakologis

  • Intervensi bedah mikrovaskular (Microvascular Decompression / MVD) memisahkan pembuluh darah yang menekan akar saraf menggunakan bantalan teflon. (Sano, 2022)
  • Di sisi lain, ablasi radiofrekuensi atau Rhizotomy merusak serabut saraf penghantar nyeri secara selektif untuk menghentikan transmisi sinyal. (Park et al., 2020)
  • Akhirnya, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) diterapkan untuk memodulasi gerbang nyeri pada medula spinalis. (Purba, 2015)

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas dan Riwayat Kesehatan

  • Pengkajian identitas meliputi nama, umur (sering terjadi pada usia >50 tahun), jenis kelamin, pekerjaan yang berisiko mengalami trauma berulang, dan alamat. (Perdossi, 2021)
  • Selanjutnya, keluhan utama biasanya berupa nyeri hebat yang tajam dan mendadak pada area tubuh tertentu (wajah, interkostal, atau ekstremitas). (Meliala, 2007)
  • Kemudian, riwayat kesehatan sekarang berfokus pada karakteristik nyeri dengan metode PQRST (Pemicu, Kualitas, Region, Skala, Waktu durasi serangan). (Sidharta, 2010)
  • Akhirnya, riwayat kesehatan dahulu mencari adanya infeksi Herpes Zoster, diabetes melitus, trauma fisik, atau penyakit autoimun. (Anam, 2019)

b. Pemeriksaan Fisik Sistemis

  • Sistem Persarafan (Fokus): Inspeksi ekspresi wajah (meringis, asimetri saat serangan). Palpasi area dermatom menggunakan kapas halus untuk menguji alodinia. Hindari perkusi keras pada area pemicu nyeri. (Cruccu et al., 2016; Purba, 2015)
  • Sementara itu, pada sistem pencernaan dilakukan inspeksi rongga mulut dan mukosa. Pasien sering kali menghindari kebersihan mulut dan makan, memicu stomatitis atau tanda malnutrisi. (Anam, 2019)
  • Selanjutnya, auskultasi sistem kardiovaskular menunjukkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah akibat respons simpatis terhadap nyeri akut paroksismal. (Sidharta, 2010)
  • Terakhir, inspeksi sistem integumen menilai adanya bekas lesi vesikel yang telah menyembuh (sikatriks) pada kasus pasca-herpes. (Finnerup et al., 2021)

c. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola Nutrisi/Metabolik: Terjadi penurunan asupan makanan secara drastis akibat takut memicu serangan nyeri saat mengunyah. (Anam, 2019)
  • Di samping itu, pola tidur/istirahat terganggu akibat kesulitan tidur atau sering terbangun karena serangan nyeri mendadak di malam hari. (Park et al., 2020)
  • Oleh karena itu, pola koping/toleransi stres menunjukkan tingkat ansietas yang tinggi dan keputusasaan karena sifat nyeri yang kronis serta tidak dapat diprediksi. (Perdossi, 2021)

2. Diagnosis Keperawatan

Berikut adalah daftar diagnosis keperawatan yang disusun berdasarkan prioritas masalah:

3. Perencanaan (Intervensi)

Intervensi Prioritas 1 s.d. 3

  • Nyeri Kronis (D.0078)
    • Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) menurun (Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, kesulitan tidur menurun, frekuensi nadi membaik).
    • Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238)
      • Observasi: Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri; Identifikasi skala nyeri; Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.
      • Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri; Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri; Fasilitasi istirahat dan tidur.
      • Edukasi: Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri; Jelaskan strategi meredakan nyeri; Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian analgetik atau antikonvulsan, jika perlu.
  • Defisit Nutrisi (D.0019)
    • Luaran: Status Nutrisi (L.03030) membaik (Porsi makanan yang dihabiskan meningkat, berat badan membaik, indeks massa tubuh membaik, frekuensi makan membaik, nafsu makan membaik).
    • Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119)
      • Observasi: Identifikasi status nutrisi; Identifikasi alergi dan intoleransi makanan; Identifikasi makanan yang disukai; Monitor asupan makanan; Monitor berat badan.
      • Terapeutik: Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu; Fasilitasi menentukan pedoman diet; Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai; Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein dalam bentuk lunak.
      • Edukasi: Anjurkan posisi duduk, jika mampu; Ajarkan diet yang diprogramkan.
      • Kolaborasi: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.
  • Gangguan Pola Tidur (D.0055)
    • Luaran: Pola Tidur (L.05045) membaik (Kemampuan beraktivitas meningkat, keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terbangun menurun, keluhan tidak segar saat bangun menurun).
    • Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174)
      • Observasi: Identifikasi pola aktivitas dan tidur; Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis); Monitor amalan tidur dan waktu tidur.
      • Terapeutik: Modifikasi lingkungan (mis. pencahayaan, kebisingan, suhu, tempat tidur); Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur; Tetapkan jadwal tidur rutin.
      • Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit; Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur; Anjurkan menghindari makanan/minuman yang mengganggu tidur sebelum tidur.

Intervensi Prioritas 4 s.d. 6

  • Ansietas (D.0080)
    • Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) menurun (Verbalisasi kebingungan menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, perilaku gelisah menurun, perilaku tegang menurun).
    • Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314)
      • Observasi: Identifikasi saat tingkat ansietas berubah; Identifikasi kemampuan mengambil keputusan; Monitor tanda-tanda ansietas.
      • Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan; Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan; Pahami situasi yang membuat ansietas; Dengarkan dengan penuh perhatian.
      • Edukasi: Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami; Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis; Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien; Latih teknik relaksasi.
      • Kolaborasi: Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.
  • Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
    • Luaran: Status Kenyamanan (L.08064) meningkat (Kesejahteraan fisik meningkat, rileks meningkat, keluhan tidak nyaman menurun, gelisah menurun, merintih menurun).
    • Intervensi: Terapi Relaksasi (I.09326)
      • Observasi: Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif; Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan; Monitor respons terhadap terapi relaksasi.
      • Terapeutik: Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang yang nyaman, jika memungkinkan; Gunakan pakaian longgar; Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama.
      • Edukasi: Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia; Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih; Anjurkan mengambil posisi nyaman; Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi.
  • Defisit Perawatan Diri (D.0109)
    • Luaran: Perawatan Diri (L.11103) meningkat (Kemampuan mandi meningkat, kemandirian perawatan mulut meningkat, kemampuan makan meningkat, mempertahankan kebersihan diri meningkat).
    • Intervensi: Dukungan Perawatan Diri: Mandi (I.11348)
      • Observasi: Identifikasi usia dan budaya dalam membantu kebersihan diri; Identifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan; Monitor kebersihan tubuh dan kemampuan perawatan diri.
      • Terapeutik: Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman; Fasilitasi mandi dengan suhu air yang nyaman; Fasilitasi menggosok gigi secara perlahan agar tidak memicu nyeri area wajah; Pertahankan kebiasaan kebersihan diri.
      • Edukasi: Jelaskan manfaat mandi dan dampak tidak mandi terhadap kesehatan; Ajarkan perawatan diri secara mandiri sesuai kemampuan.

Intervensi Prioritas 7 s.d. 10

  • Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
    • Luaran: Interaksi Sosial (L.13115) membaik (Verbalisasi kenyamanan berinteraksi dengan orang lain meningkat, perilaku sesuai usia membaik, responsif terhadap orang lain meningkat).
    • Intervensi: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484)
      • Observasi: Identifikasi fokus pelatihan keterampilan sosial; Monitor kemajuan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi tanpa memicu serangan nyeri.
      • Terapeutik: Motivasi untuk berkomunikasi secara perlahan atau menggunakan media alternatif (tulis/digital) jika berbicara memicu nyeri; Berikan umpan balik positif terhadap kemampuan bersosialisasi.
      • Edukasi: Edukasi keluarga mengenai pentingnya dukungan komunikasi non-verbal; Anjurkan pasien mengekspresikan perasaan secara bertahap.
  • Isolasi Sosial (D.0121)
    • Luaran: Keterlibatan Sosial (L.13116) meningkat (Verbalisasi isolasi sosial menurun, verbalisasi perasaan berbeda dengan orang lain menurun, minat berinteraksi meningkat).
    • Intervensi: Promosi Sosialisasi (I.13498)
      • Observasi: Identifikasi kemampuan berinteraksi dengan orang lain; Identifikasi hambatan berinteraksi (ketakutan serangan nyeri di depan umum).
      • Terapeutik: Motivasi meningkatkan keterlibatan dalam hubungan yang sudah ada; Berikan kesempatan untuk mengeksplorasi alasan isolasi diri.
      • Edukasi: Anjurkan berinteraksi secara bertahap; Anjurkan ikut serta dalam aktivitas kelompok kecil yang tidak membutuhkan banyak aktivitas fisik/bicara berat.
  • Keletihan (D.0057)
    • Luaran: Tingkat Keletihan (L.05046) menurun (Verbalisasi lesu menurun, verbalisasi lelah menurun, tenaga meningkat, gangguan tidur menurun).
    • Intervensi: Manajemen Energi (I.05178)
      • Observasi: Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan; Monitor pola dan jam tidur; Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas.
      • Terapeutik: Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan); Fasilitasi duduk di tempat tidur atau ambulasi fisik secara bertahap.
      • Edukasi: Anjurkan tirah baring; Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap; Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan akibat nyeri kronis.
  • Risiko Ketidakberdayaan (D.0102)
    • Luaran: Keberdayaan (L.09071) meningkat (Pernyataan mampu melaksanakan aktivitas meningkat, partisipasi dalam pengambilan keputusan meningkat, perasaan dihormati meningkat).
    • Intervensi: Promosi Koping (I.09312)
      • Observasi: Identifikasi pemahaman proses penyakit; Identifikasi pengaruh budaya dan nilai terhadap pandangan penyakit; Monitor respons adaptif dan maladaptif.
      • Terapeutik: Hargai pemahaman pasien tentang kondisi dirinya; Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan dari tim medis; Dukungan keterlibatan keluarga dalam perawatan.
      • Edukasi: Informasikan perkembangan kondisi secara realistik; Ajarkan cara mengidentifikasi sistem pendukung yang tersedia.

4. Implementasi

Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana intervensi yang telah disusun (SIKI). Dalam hal ini, kegiatan meliputi tindakan observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. Perawat mendokumentasikan setiap tindakan secara akurat, mencakup waktu pelaksanaan, respons subjektif dan objektif pasien terhadap intervensi.

5. Evaluasi

Evaluasi dijalankan menggunakan metode deskriptif SOAP untuk menilai keberhasilan luaran (SLKI) pada setiap diagnosis keperawatan. Dengan demikian, hasil evaluasi ini menentukan apakah intervensi perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan karena masalah telah teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anam, K. (2019). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Bennett, G. J. (2023). Neuropathic Pain: Mechanisms and Pathophysiology. Journal of Pain Research, 16(2), 145-158. dovepress.com/journal-of-pain-research-journal

Chaudhary, S., et al. (2024). Cranial Neuralgias: Diagnosis and Management Strategies in South Asia. Asian Journal of Neurosurgery, 19(1), 34-45. thieme.com/asian-journal-of-neurosurgery

Cruccu, G., et al. (2016). Trigeminal Neuralgia: New Classification and Diagnostic Criteria. Neurology, 87(2), 220-228. neurology.org/journal

Finnerup, N. B., et al. (2021). Neuropathic Pain: From Mechanisms to Treatment. The Lancet Neurology, 20(4), 290-301. thelancet.com/journals/laneur

International Association for the Study of Pain (IASP). (2011). Classification of Chronic Pain: Descriptions of Chronic Pain Syndromes. Seattle: IASP Press.

Kim, J. S., et al. (2015). Epidemiological and Clinical Characteristics of Neuralgia in Korean Elders. Journal of Korean Medical Science, 30(5), 612-619. jkms.org

Li, X., & Zhang, Y. (2018). Neurovascular Compression Syndromes: An Asian Perspective. Chinese Medical Journal, 131(12), 1420-1428. lww.com/cmj

Meliala, L. (2007). Nyeri Neuropatik: Patofisiologi dan Penatalaksanaan. Yogyakarta: Badan Penerbit Gadjah Mada.

Merskey, H., & Bogduk, N. (1994). Classification of Chronic Pain: Definitions of Pain Terms (2nd ed.). Seattle: IASP Press.

Park, H. J., et al. (2020). Microvascular Decompression versus Radiofrequency Rhizotomy for Trigeminal Neuralgia. World Neurosurgery, 138, e450-e459. worldneurosurgery.org

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi). (2021). Panduan Praktik Klinis Neurologi. Jakarta: Pengurus Besar Perdossi.

Purba, J. S. (2015). Patofisiologi Nyeri dan Strategi Manajemen Terapi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sano, K. (2022). Pathogenesis and Surgical Management of Cranial Neuralgias. Neurologia Medico-Chirurgica, 62(3), 115-125. jstage.jst.go.jp/browse/nmc

Sidharta, P. (2010). Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Jakarta: Dian Rakyat.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *