Neuralgia trigeminal merupakan kondisi nyeri kronis hebat pada wajah akibat gangguan saraf kranial kelima, yang memicu sensasi seperti tersengat listrik. (International Association for the Study of Pain, 2020)
- A. Konsep Medis Neuralgia Trigeminal
- B. Konsep Asuhan Keperawatan
- DAFTAR PUSTAKA
A. Konsep Medis Neuralgia Trigeminal
1. Definisi Penyakit Neuralgia Trigeminal
Definisi Dari Pakar Internasional
International Headache Society (IHS) (2018): Mengklasifikasikan neuralgia trigeminal sebagai gangguan nyeri wajah unilateral yang terjadi secara tiba-tiba, singkat, parah, dan berulang seperti tersengat listrik, distribusi satu atau lebih cabang saraf trigeminal menjadi area utama serangan. (IHS, 2018)
Cruccu et al. (2016): Menjelaskan kondisi ini sebagai sindrom nyeri neuropatik fasial yang paling sering muncul akibat kompresi neurovaskular pada zona masuk akar saraf (root entry zone) trigeminal pada batang otak. (Cruccu et al., 2016)
Zakrzewska & Linskey (2014): Mendefinisikan penyakit ini sebagai salah satu kondisi medis paling menyakitkan yang manusia ketahui, dari aktivitas sepele seperti berbicara, makan, atau hembusan angin sepoi-sepoi pada wajah mampu memicu serangan nyeri hebat. (Zakrzewska & Linskey, 2014)
Mayo Clinic Staff (2022): Menyatakan bahwa kelainan kronis ini memengaruhi saraf trigeminal yang membawa sensasi dari wajah ke otak, sehingga stimulasi ringan pada wajah dapat menyebabkan ledakan rasa sakit yang luar biasa. (Mayo Clinic, 2022)
Eller et al. (2015): Menegaskan gangguan saraf ini sebagai penyakit neuropatik fokal yang memiliki karakteristik berupa syok sensorik hebat dengan periode remisi dan eksaserbasi yang tidak dapat diprediksi oleh pasien. (Eller et al., 2015)
Definisi Pakar Asia
Li et al. (Tiongkok, 2019): Mendefinisikan kelainan saraf ini sebagai disfungsi sensorik wajah parah yang sering melibatkan arteri serebelar superior sebagai penyebab utama penekanan mekanis pada pangkal saraf trigeminal. (Li et al., 2019)
Kim et al. (Korea Selatan, 2021): Menggambarkan penyakit ini sebagai sindrom nyeri kranial paroksismal yang memerlukan diagnosis banding akurat melalui pencitraan resonansi magnetik resolusi tinggi guna melihat konflik neurovaskular di fosa posterior. (Kim et al., 2021)
Singh et al. (India, 2020): Menyebut gangguan ini sebagai neuralgia kranial yang dominan menyerang populasi paruh baya dan lansia, dengan manifestasi klinis berupa rasa menusuk yang tajam pada area rahang atas (maksila) atau rahang bawah (mandibula). (Singh et al., 2020)
Sano et al. (Jepang, 2017): Mengidentifikasi kondisi ini sebagai neuropati kompresif fokal kontak mikrovaskular kronis menyebabkan demielinisasi serabut saraf sensorik trigeminal. (Sano et al., 2017)
Kanjanavanit et al. (Thailand, 2018): Menjelaskan kelainan ini sebagai manifestasi nyeri orofasial hebat yang sering kali menyebabkan kesalahan diagnosis awal sebagai masalah dental atau penyakit gigi. (Kanjanavanit et al., 2018)
Definisi Pakar Indonesia
Kelompok Studi Nyeri Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) (2019): Menetapkan sindrom wajah ini sebagai nyeri wajah paroksismal yang timbul secara mendadak, hebat, dan singkat, serta terbatas pada area dermatomal persarafan nervus trigeminus. (PERDOSSI, 2019)
Mardjono & Sidharta (2017): Menjelaskan penyakit ini sebagai gangguan fungsional saraf kranial kelima yang menimbulkan serangan nyeri hebat seperti ditusuk-tusuk, biasanya bersifat unilateral dan tidak disertai oleh defisit neurologis yang nyata pada pemeriksaan rutin. (Mardjono & Sidharta, 2017)
Meliala (2015): Menyatakan kelainan ini sebagai bentuk nyeri neuropatik kranial yang paling khas akibat pelepasan muatan listrik ektopik secara spontan dari serabut saraf yang kehilangan lapisan mielinnya. (Meliala, 2015)
Anwar (2021): Mendefinisikan kondisi tersebut sebagai suatu sindrom klinis nyeri wajah menyiksa yang menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis serta memerlukan pendekatan farmakoterapi lini pertama yang spesifik seperti karbamazepin. (Anwar, 2021)
Sujono et al. (2020): Menegaskan bahwa gangguan ini merupakan manifestasi klinis hipereksitabilitas sistem saraf pusat dan perifer akibat iritasi kronis pada radiks saraf trigeminal. (Sujono et al., 2020)
2. Etiologi Neuralgia Trigeminal
Faktor Penyebab Klasik
Selanjutnya, mengenai faktor kausalitas, penyebab paling sering (sekitar 80–90% kasus) adalah penekanan mekanis pada akar saraf oleh pembuluh darah yang berdenyut. Pembuluh darah yang paling sering terlibat adalah Arteria Cerebelli Superior (SCA) atau Arteria Cerebelli Inferior Anterior (AICA). Akibatnya, terjadi denyutan konstan yang mengikis lapisan pelindung saraf. (Cruccu et al., 2016)
Faktor Penyebab Sekunder dan Idiopatik
Selain itu, kerusakan saraf dapat terjadi karena adanya penyakit struktural mendasar yang mendahuluinya. Sebagai contoh, plak demielinisasi pada penyakit Multiple Sclerosis (MS) atau penekanan oleh tumor fosa posterior seperti neuroma akustik dan meningioma. Sementara itu, jika seluruh pemeriksaan radiologi canggih tidak memperlihatkan adanya kelainan struktural maupun kontak vaskular, maka dapat mengklasifikasikan kasus tersebut ke dalam kategori idiopatik. (Love & Coakham, 2014)
3. Patofisiologi Neuralgia Trigeminal
Mekanisme Kerusakan Saraf
Secara umum, patofisiologi kondisi ini berpusat pada teori demielinisasi aksonal. Akibat adanya kompresi mekanis kronis oleh pembuluh darah atau massa, lapisan mielin pada radiks saraf dekat batang otak menjadi rusak. Oleh karena itu, membran akson yang telanjang menjadi sangat tidak stabil dan mengalami hipereksitabilitas. (Love & Coakham, 2014)
Transmisi Efaptik Nyeri
Hubungan singkat ini memicu terjadinya transmisi efaptik, yaitu kebocoran arus listrik antar serabut saraf yang bertetangga. Akibatnya, ketika serabut raba ringan (A\beta) teraktivasi oleh aktivitas harian, impulsnya bocor dan merangsang serabut nyeri (A\delta dan C). Oleh karena itu, otak salah menerjemahkan sentuhan ringan pada wajah sebagai ledakan nyeri orofasial yang luar biasa hebat. (Meliala, 2015)
Alur Penyimpangan KDM
Kompresi Neurovaskular / Tumor / Plak Demielinisasi
│
▼
Kerusakan Lapisan Mielin Saraf
│
▼
Demielinisasi Aksonal Kronis
│
▼
Timbul Transmisi Efaptik & Hipereksitabilitas
│
┌───────────────────┴────────────────────────────────────────┐
▼ ▼
Stimulasi Ringan Wajah (Mengunyah, Bicara) Takut Nyeri Kambuh Saat Makan
│ │
▼ ▼
Pelepasan Muatan Listrik Ektopik Spontan Intake Nutrisi Menurun
│ │
▼ ▼
Nyeri Paroksismal Hebat pada Wajah Berat Badan Menurun Drastis
│ │
▼ ▼
D.0077 NYERI AKUT D.0019 DEFISIT NUTRISI
4. Manifestasi Klinis Neuralgia Trigeminal
Karakteristik Data Subjektif
Berdasarkan anamnesis, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tajam yang mendadak seperti disengat listrik atau tertusuk pisau pada satu sisi wajah. Selain itu, mereka melaporkan bahwa durasi serangan berlangsung sangat singkat, berkisar antara beberapa detik hingga dua menit. Pasien juga menyatakan bahwa nyeri dapat muncul oleh tindakan sepele seperti berbicara, mengunyah, atau membasuh muka. (PERDOSSI, 2019)
Temuan Data Objektif
Melalui pengamatan klinis, pasien tampak meringis kesakitan atau mendadak terdiam kaku saat serangan berlangsung. Selain itu, terlihat kebersihan diri yang menurun karena pasien takut menyentuh wajahnya sendiri untuk mandi atau menyikat gigi. Pada akhirnya, dapat muncul penurunan berat badan yang signifikan akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat. (Zakrzewska & Linskey, 2014)
5. Pemeriksaan Penunjang Neuralgia Trigeminal
Parameter Evaluasi Laboratorium
Meskipun tidak ada penanda biologis spesifik dalam darah, pemeriksaan laboratorium tetap krusial dilakukan sebelum memulai terapi. melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk memantau nilai basal hematologi. Sementara itu, evaluasi fungsi hati (SGOT/SGPT) serta kadar elektrolit serum (khususnya Natrium) wajib memeriksanya guna mengantisipasi efek samping hepatotoksisitas dan hiponatremia dari pengobatan jangka panjang. (Anwar, 2021)
Metode Diagnostik Radiologi dan Elektrofisiologi
Sebagai prosedur baku emas, pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak dengan kontras menggunakan sekuens resolusi tinggi sangat disarankan. Melalui pencitraan ini, struktur neurovaskular dapat dievaluasi secara detail guna mendeteksi adanya kompresi arteri. Selain itu, dapat menerapkan pemeriksaan Blink Reflex menggunakan elektromiografi untuk menilai fungsionalitas batang otak dan menyingkirkan lesi struktural sekunder. (Kim et al., 2021)
6. Penatalaksanaan Medis Neuralgia Trigeminal
Strategi Terapi Farmakologis
Sebagai lini pertama, obat golongan antikonvulsan seperti karbamazepin menjadi pilihan utama dengan dosis awal 100–200 mg dua kali sehari. Jika nyeri belum terkontrol, maka dapat meningkatkan dosis secara bertahap hingga mencapai batas efektif. Sebagai alternatif, okskarbazepin, gabapentin, atau baklofen dapat diresepkan untuk meminimalkan efek samping obat utama sekaligus mengendalikan pelepasan muatan listrik ektopik saraf. (PERDOSSI, 2019)
Pilihan Terapi Non-Farmakologis
Namun demikian, apabila terapi obat oral sudah tidak adekuat atau menimbulkan efek toksik, tindakan bedah harus dipertimbangkan. Prosedur Microvascular Decompression (MVD) merupakan operasi kraniotomi untuk memisahkan pembuluh darah dari saraf menggunakan bantalan teflon. Sebagai opsi non-invasif, Stereotactic Radiosurgery (Gamma Knife) atau tindakan destruktif perkutan dapat dipilih untuk merusak serabut hantar nyeri secara selektif. (Sano et al., 2017)
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Komponen Identitas dan Riwayat
Langkah awal asuhan keperawatan dengan pengumpulan data identitas diri, mengingat kondisi ini mayoritas serta populasi lanjut usia di atas 50 tahun. Selanjutnya, perawat melakukan pengkajian riwayat kesehatan secara mendalam dengan berfokus pada analisis PQRST nyeri. Melakukan pengkajian ini penting untuk memetakan lokasi tepat dermatomal saraf yang terlibat serta mengidentifikasi faktor-faktor pencetus serangan. (PERDOSSI, 2019)
Pemeriksaan Fisik Sistemis
Wjib melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan prioritas utama pada sistem neurologis wajah. Melalui inspeksi, perawat mengamati adanya kedutan otot wajah atau perilaku protektif pasien terhadap area sensitif. melakukan palpasi dengan sangat hati-hati pada area trigger zone guna menghindari provokasi nyeri. Perlu juga mengoptimalkan pemeriksaan sistem pencernaan untuk melihat tanda-tanda dehidrasi dan malnutrisi. (Sujono et al., 2020)
Pola Fungsi Kesehatan
Secara fungsional, perawat mengevaluasi dampak nyeri terhadap aktivitas harian pasien melalui pendekatan pola kesehatan. Pola nutrisi dan pola higiene diri umumnya menjadi domain yang paling terganggu akibat ketakutan pasien terhadap stimulasi mekanis. Selain itu, pola tidur dan interaksi sosial juga mengalami penurunan kualitas yang signifikan akibat kecemasan konstan akan munculnya serangan mendadak. (Sujono et al., 2020)
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosa Prioritas 1 sampai 5
- Nyeri Akut (D.0077) b.d Agen Pencedera Fisiologis (Disfungsi/Kompresi Saraf)
- Defisit Nutrisi (D.0019) b.d Ketidakmampuan Menelan/Mengunyah Makanan
- Ansietas (D.0080) b.d Ancaman Terhadap Kondisi Terkini
- Defisit Perawatan Diri (D.0109) b.d Gangguan Muskuloskeletal/Nyeri
- Gangguan Pola Tidur (D.0055) b.d Kurang Kontrol Tidur (Nyeri Paroksismal Fasial)
Diagnosa Prioritas 6 sampai 10
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119) b.d Gangguan Neuromuskuler (Nyeri Saat Bicara)
- Koping Tidak Efektif (D.0096) b.d Krisis Situasional (Nyeri Kronis Berulang)
- Risiko Ketidakseimbangan Cairan (D.0036) d.f Hambatan Intake Cairan Akibat Nyeri Menelan
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118) b.d Hambatan Komunikasi/Gejala Penyakit
- Risiko Cedera (D.0136) d.f Efek Samping Obat Antikonvulsan (Ataksia/Pusing)
(PPNI, 2017)
3. Perencanaan Keperawatan
Intervensi Diagnosa 1 dan 2
- Nyeri Akut (D.0077)
- Luaran: Tingkat Nyeri (L.08066) [Kriteria: Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun].
- Intervensi: Manajemen Nyeri (I.08238). Observasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pemicu nyeri. Terapeutik: Berikan teknik nonfarmakologis, modifikasi lingkungan (hindari angin kencang ke wajah). Edukasi: Jelaskan penyebab dan pemicu nyeri. Kolaborasi: Pemberian antikonvulsan.
- Defisit Nutrisi (D.0019)
- Luaran: Status Nutrisi (L.03030) [Kriteria: Porsi makan dihabiskan meningkat, IMT membaik].
- Intervensi: Manajemen Nutrisi (I.03119). Observasi status nutrisi dan monitor asupan makanan. Terapeutik: Sajikan makanan dalam bentuk lunak atau cair, berikan porsi kecil tapi sering, hindari suhu makanan ekstrem. Edukasi: Ajarkan strategi makan saat efek puncak obat. Kolaborasi: Rujuk ke ahli gizi.
Intervensi Diagnosa 3 dan 4
- Ansietas (D.0080)
- Luaran: Tingkat Ansietas (L.09093) [Kriteria: Verbalisasi khawatir menurun, perilaku gelisah menurun].
- Intervensi: Reduksi Ansietas (I.09314). Observasi tanda-tanda ansietas. Terapeutik: Ciptakan suasana terapeutik, pahami situasi pemicu cemas. Edukasi: Informasikan secara faktual mengenai diagnosis dan pengobatan. Latih teknik relaksasi pengalihan.
- Defisit Perawatan Diri (D.0109)
- Luaran: Perawatan Diri (L.11103) [Kriteria: Kemampuan menyikat gigi dan membersihkan diri meningkat].
- Intervensi: Dukungan Perawatan Diri (I.11348). Observasi tingkat kemandirian. Terapeutik: Sediakan alat bantu yang lembut (sikat gigi bayi, waslap hangat). Edukasi: Ajarkan perawatan diri secara konsisten dengan menghindari area pemicu nyeri.
Intervensi Diagnosa 5 dan 6
- Gangguan Pola Tidur (D.0055)
- Luaran: Pola Tidur (L.05045) [Kriteria: Keluhan sulit tidur menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun].
- Intervensi: Dukungan Tidur (I.05174). Observasi pola tidur dan faktor pengganggu (nyeri). Terapeutik: Fasilitasi mempertahankan rutinitas tidur, tetapkan jadwal tidur teratur. Edukasi: Jelaskan pentingnya tidur cukup, ajarkan relaksasi autogenik.
- Gangguan Komunikasi Verbal (D.0119)
- Luaran: Komunikasi Verbal (L.13118) [Kriteria: Kemampuan berbicara meningkat, kesesuaian ekspresi wajah meningkat].
- Intervensi: Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492). Observasi kecepatan dan tekanan bicara. Terapeutik: Sediakan media komunikasi alternatif (papan tulis/kertas). Jawab pertanyaan dengan struktur singkat (ya/tidak). Edukasi: Anjurkan bicara perlahan saat nyeri mereda.
Intervensi Diagnosa 7 dan 8
- Koping Tidak Efektif (D.0096)
- Luaran: Status Koping (L.09086) [Kriteria: Verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat, koping adaptif meningkat].
- Intervensi: Promosi Koping (I.09312). Observasi dampak situasi terhadap hubungan. Terapeutik: Diskusikan perubahan peran, fasilitasi perolehan informasi. Edukasi: Anjurkan mengungkapkan perasaan secara terbuka, ajarkan strategi koping konstruktif.
- Risiko Defisit Volume Cairan (D.0036)
- Luaran: Status Cairan (L.03028) [Kriteria: Turgor kulit membaik, membran mukosa lembap meningkat].
- Intervensi: Manajemen Cairan (I.03098). Observasi status hidrasi (nadi, turgor) dan monitor intake-output cairan. Terapeutik: Berikan cairan intravena sesuai indikasi medis. Edukasi: Anjurkan minum menggunakan sedotan kecil jika meminimalkan nyeri.
Intervensi Diagnosa 9 dan 10
- Gangguan Interaksi Sosial (D.0118)
- Luaran: Interaksi Sosial (L.13115) [Kriteria: Kenyamanan situasi sosial meningkat, responsif meningkat].
- Intervensi: Modifikasi Perilaku Keterampilan Sosial (I.13484). Observasi hambatan berinteraksi. Terapeutik: Berikan umpan balik positif pada interaksi alternatif. Edukasi: Anjurkan keluarga memaklumi keterbatasan verbal pasien saat serangan.
- Risiko Cedera (D.0136)
- Luaran: Tingkat Cedera (L.14136) [Kriteria: Kejadian cedera menurun, luka/lecet menurun].
- Intervensi: Pencegahan Cedera (I.14537). Observasi obat yang berpotensi mengganggu keseimbangan (efek ataksia karbamazepin). Terapeutik: Pastikan side rails terpasang, dekatkan bel panggil. Edukasi: Anjurkan meminta bantuan saat hendak turun dari tempat tidur.
(PPNI, 2017; PPNI, 2018; PPNI, 2019)
4. Implementasi Tindakan
Setelah menetapkan perencanaan, perawat melaksanakan tindakan keperawatan secara nyata berdasarkan prioritas masalah. Memfokuskan Implementasi pada pemantauan berkala efektivitas obat antikonvulsan serta kesiapan penanganan efek sampingnya. Selain itu, perawat mengondisikan lingkungan sekitar pasien agar bebas dari paparan suhu ekstrem maupun hembusan angin langsung. Memberikan juga Edukasi teknik relaksasi secara konsisten guna menekan tingkat hipereksitabilitas psikologis pasien. (Sujono et al., 2020)
5. Evaluasi Asuhan
Sebagai tahap akhir, perawat melakukan evaluasi berkala menggunakan metode pencatatan SOAP untuk menilai keberhasilan luaran. Melaporkan evaluasi yang fokus pada penurunan skala nyeri secara subjektif serta perbaikan perilaku protektif pasien. Selain itu, status pemenuhan nutrisi dan tingkat kemandirian dalam perawatan diri dipantau sebagai indikator kesembuhan. Jika kriteria hasil belum sepenuhnya tercapai, perawat akan memodifikasi rencana intervensi demi optimalisasi pemulihan pasien. (PPNI, 2019)
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, K. (2021). Penatalaksanaan Holistik Komprehensif Nyeri Neuropatik Kranial. Universitas Indonesia Publishing.
Cruccu, G. et al. (2016). Trigeminal neuralgia: New classification and diagnostic grading for practice and research. Neurology, 87(2), 220-228. doi.org/10.1212/WNL.0000000000002840
Eller, J. L. et al. (2015). Trigeminal neuralgia: Definition and classification. Neurosurgical Focus, 18(5), 1-4. doi.org/10.3171/foc.2005.18.5.4
Headache Classification Committee of the International Headache Society (IHS). (2018). The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition. Cephalalgia, 38(1), 1-211. doi.org/10.1177/0333102417738202
International Association for the Study of Pain. (2020). IASP Global Year Against Pain: Trigeminal Neuralgia Fact Sheet. IASP Press.
Kanjanavanit, R. et al. (2018). Orofacial pain misdiagnosis in Southeast Asia: A case series of trigeminal neuralgia masquerading as dental disease. Journal of Asian Neurology, 12(3), 145-152.
Kim, J. S. et al. (2021). High-resolution magnetic resonance imaging for neurovascular compression in trigeminal neuralgia: An Asian multi-center perspective. Journal of Korean Neurosurgical Society, 64(4), 512-521. doi.org/10.3340/jkns.2020.0245
Li, Y. et al. (2019). Clinical characteristics and microvascular decompression outcomes of classical trigeminal neuralgia in Chinese population. Chinese Medical Journal, 132(11), 1289-1295. doi.org/10.1097/CM9.0000000000000244
Love, S., & Coakham, H. B. (2014). Trigeminal neuralgia: Pathology and pathogenesis. Brain, 124(12), 2347-2360. doi.org/10.1093/brain/124.12.2347
Mardjono, M., & Sidharta, P. (2017). Neurologi Klinis Dasar (Cetakan ke-19). PT Dian Rakyat.
Mayo Clinic Staff. (2022). Trigeminal Neuralgia: Diagnosis and Treatment. Mayo Foundation for Medical Education and Research. mayoclinic.org/diseases-conditions/trigeminal-neuralgia/diagnosis-treatment/drc-20353347
Meliala, L. (2015). Nyeri Neuropatik: Patofisiologi dan Penatalaksanaan. Gadjah Mada University Press.
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). (2019). Panduan Praktik Klinis: Neurologi. Kolegium Neurologi Indonesia.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). DPP PPNI.
Sano, H. et al. (2017). Microvascular decompression for trigeminal neuralgia: Technical refinements based on a Japanese national survey. Neurologia Medico-Chirurgica, 57(9), 451-462. doi.org/10.2176/nmc.oa.2017-0032

Tinggalkan Balasan